Senin, 31 Oktober 2011

SINAKSARION (Kisah Orang Kudus): St. Athanasios Sang Igumen dari Meteora (1310 – 1383)

Oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Apabila para rahub ditanya, apa sebab mereka mendaki gunung-gunung yang terjal di Yunani? Jawabnya tidak bisa tidak adalah karena di atas gunung yang terjal itu mereka merasa lebih sekat dengan Allah. Bukit-bukit terjal di Yunani mengandaikan tidak hanya Kenaikan ke Sorga, tetapi merupakan tempat perteduhan rohani, dimana para rahib berusaha memotong-motong batu karang yang terjal dan menghasilkan monasteri-monasteri tempat perteduhan rohani yang mengagumkan di dunia.

Tempat yang paling terkenal itu diantaranya biara Gunung Athos, tetapi biara ini tidak bisa dibandingkan dengan kehebatan dan kemegahan biara Meteora – satu tempat perteduhan rohani – yang dirancang oleh seorang rahib yang bersemangat tinggi. Nama rahib itu adalah St. Athanasios dari Meteora.

Kemasyhuran Gunung Athos karena bangunan-bangunannya yang besar dan asal-usulnya yang sudah ribuan tahun yang lampau dan bukan karena tempat yang memiliki nilai-nilai bersejarah. Biara Meteora terkenal karena merupakan satu tempat bersejarah dan susunan bangunannya lebih dari yang lain. Perpustakaannya berisi karya-karya tulis Gereja yang lebih besar dari benteng-benteng Kekristenan yang lain, dengan perkecualian dari vatikan dan perpustakaan dari biara St. Katerina di Sinai.

Monasteri Agia Triada (Tritunggal Kudus) di Meteora, Yunani

Monasteri Agios Stefanos (St. Stefanus), salah satu biara di Meteora

Beberapa dari bagian-bagian yang paling megah dari biara Meteora tidak dapat dicapai dengan mendaki, tetapi hanya bisa dicapai lewat kerekan di dalam satu keranjang.

Biara Meteora ada karena seorang biarawan yang namanya Athanasios yang dilahirkan di Neopatras (Lamia), Yunani, pda tahun 1310. Ibunya meninggal waktu melahirkan dia dan tidak lama sesudahnya ayahnyapun meninggal. Sebagai akibatnya dari hal ini, ia dipelihara dari masa bayinya oleh seorang pamannya yang mengatur pendidikannya dan memberanikan tekadnya dalam rencananya untuk hidup mengabdi bagi Gereja.

Terpaksa melarikan diri karena penyerbuan orang-orang Barbar, ia pergi ke Tessalonika dimana ia belajar filsafat dan teologi sampai tingkatan sarjana yang melayakkan dia untuk suatu tugas di Kantor Sekretaris Kerajaan, suatu tugas yang cepat membosankan karena tidak cocok dengan bidang studinya.

Ia tinggalkan Tessalonika ke pulau Kreta dengan singgah sebentar di Gunung Athos, Gunung Kudus. Ia tinggal cukup lama dan melihat bahwa karya kehidupannya ada di Kebiaraan. Sesudah beberapa tahun di Kreta, ia kembali ke Gunung Athos, dimana ia menerima kehidupan biara yang sudah ia cita-citakan dengan sabar.

Akhirnya ia menjadi seorang rahib dengan nama Athanasios. Kedamai-sentosaan hidup monastery dikacaukan oleh kaum Barbar pengembara yang mengepung biara dan menyusahkan para rahib itu. Kepungan ini silih berganti oleh kelompok-kelompok Barbar yang lain.

St. Athanasios, Sang Igumen dari Meteora (1310 – 1383)


Kepungan-kepungan ini membuat Athanasios berpikir sendiri bahwa perlu ada satu tempat di sana, dimana para rahib bisa terjamin keberadaannya yang penuh damai, dan ia tinggalkan Gunung Athos dengan rahib-rahib dan mencari satu tempat yang tenang. Mereka tiba di Thessaly dan tidak lama kemudian menemukan tempat yang sekarang dikenal sebagai Meteora. Suatu tempat yang terdiri dari karang yang terjal, yang dindingnya tinggi sekali, membentuk satu benteng alamiah, ditambahkan pula bahwa Meteora juga menjadi masalah untuk ahli-ahli teknik dan nampaknya suatu kebodohan untuk mencoba memotong-motong bukit karang yang terjal itu untuk dijadikan tempat tinggal. Tetapi Athanasios yang bersemangat, tekun melkukan dan berhasil mendapat bantuan dari seorang seniman yang mempunyai ketrampilan teknik yang giat merancang dan mengerjakan proyek ini yang hanya karena mukjizat iman berhasil dibangun.

Dalam tahun-tahun awal, penghuni monasteri ini sangat sedikit karena sulit untuk mencapainya dan karena orang takut kesana. Tetapi karena kepungan yang terus-menerus ke biara-biara lain, maka jumlah penghuni di Meteora mulai membengkak. Tidak lama kemudian biara itu berpenghuni ratusan rahib, yang sekarang dengan tertawa mereka melihat para pengepung yang ada di bawah. Dibawah pimpinan Athanasios para rahib menjalankan tugas-tugas monastik dan menghasilkan satu benteng Kekristenan yang hebat.

Ikon dari Agioi Athnasios kai Ioasaf oi Meteoritai

Athanasios tidak pernah meninggalkan Meteora. Dia memiliki "karunia membedakan roh" dan pelaku mukjizat yang agung. Ia meninggal dengan damai pada tanggal 20 April 1383. Pesta peringatan St. Athanasios Sang Igumen (Abbas) dari Meteora dirayakan bersama St. Ioasaf Sang Igumen dari Meteora setiap tanggal 20 April/3 Mei.

“St. Athanasios dari Meteora doakanlah kami yang berjalan dengan iman bersamamu. Amin!”

Referensi

1. ____________, Sinaksarion (Kisah Orang Kudus). Dikumpulkan oleh Rm. Kirill dari bulletin Gereja Orthodox Indonesia dan sumber-sumber lain. Malang. 2000.

2. ____________, Saint Herman Calender 2006. Saints of the German – Speaking Lands. Printed with the blessing of His Grace  Longin, Serbian Orthodox Bishop of the U.S.A. and Canada, New Gracanica Metropolitanate, and Bishop Adminstrator of Serbian Orthodox Diocese of Western America. Thirty-fourth year of publication. Copyright 2006 by the St. Herman of Alaska Brotherhood. 2006.

3. St. Nicholas Russian Orthodox Church, Mckinney (Dallas area), Texas. http://www.orthodox.net/ From the Prologue. The Venerable Athanasius of Meteora.

Jumat, 28 Oktober 2011

Doa hening Assisi sangat sesuai Gereja Asia

Tanggal publikasi: 27 Oktober 2011

Doa hening pribadi yang akan menandai pertemuan antaragama tahun ini di Assisi, yang diselenggarakan oleh Paus Benediktus XVI, sangat sesuai dengan religiositas Asia, demikian seorang pejabat tinggi Vatikan dalam bidang dialog antaragama kepada ucanews.com pekan ini.

Monsignor Andrew Thanya-anan Vissanu, wakil sekretaris dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama kelahiran Thailand mengatakan, “Kami orang Asia, kami berdoa dalam keheningan. Diam merupakan doa itu sendiri,” dan mungkin “lebih dahsyat.”

Ia menambahkan, inisiatif untuk doa pribadi itu berbeda dengan doa-doa bersama oleh komunitas agama yang berbeda, seperti dalam pertemuan pertama, yang diadakan oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1986. Kegiatan doa pribadi itu telah diterima dengan baik oleh para pemimpin agama di Asia.

Monsignor Vissanu adalah penanggung jawab atas dialog dengan agama Buddha di Dewan Kepausan.

“Bapa Suci ingin mengajak orang melakukan ziarah dalam mencari kebenaran, dan refleksi dalam hati kita tentang kebenaran. Hal ini juga penting untuk menghindari kesan bahwa dialog berarti sinkretisme atau relativisme,” katanya.

Ia mengatakan bahwa untuk pertama kalinya “Ikrar Perdamaian” yang menandai acara puncak pertemuan antaragama itu akan disampaikan dalam bahasa Mandarin oleh wakil Tao dari Hong Kong.

Ia juga menambahkan bahwa juga untuk pertama kalinya akan hadir sebuah delegasi dari Cina daratan di Assisi: sekelompok biksu dari Biara Shaolin di Henan, yang dipimpin oleh Yang Mulia Abbot Shi Yongxin.

Monsignor Vissanu mengatakan seleksi delegasi yang diundang ke Assisi dilakukan dalam konsultasi dengan Gereja-gereja lokal dan konferensi waligereja.

“Kami menggarisbawahi sepanjang waktu bahwa dialog tersebut tidak terjadi di sini di Roma, di via della Conciliazione Nomor 5 [alamat dari Dewan Kepausan]. Dialog yang nyata harus di Gereja lokal “dan melibatkan” cara hidup, orang-orang tersebut. Ini adalah dialog kehidupan.”

Kontingen Asia pada pertemuan Assisi akan mencakup 68 perwakilan Buddha dari 11 negara Buddha, tiga Konghucu, tiga Tao, 17 Shinto dan 13 perwakilan dari empat agama baru di Jepang.

Selain itu, sebanyak 18 wakil dari India yang mewakili Hindu, Jain, Zoroastria, Sikh, Bahai dan berbagai agama tradisional akan hadir, termasuk cucu Mahatma Gandhi dan Rajmohan aktivis anti-korupsi Swami Agnivesh, seorang kolega dekat Anna Hazare.

Daftar peserta Muslim sedang dalam proses penentuan akhir.

Monsignor Vissanu mengatakan dialog antaragama di Asia terletak pada tiga pilar: identitas, karena mereka yang memasuki dialog harus mengetahui identitas mereka sendiri; keragaman, karena “kita hidup bersama di dunia ini”; dan keanekaragman, yang berarti keindahan “misteri Allah dan kasih Allah melalui ciptaan-Nya.”

Sumber: Assisi silent prayer suits Asian Church

Catatan:

Disamping Doa dan Sholat, dalam Gereja Orthodox Timur juga mengenal semacam “samadhi” atau “berdzikir dengan tasbih Orthodox” yang disebut sebagai “Doa Puja Yesus” (“Doa Yesus”) dengan menggunakan semacam “tasbih” yang dirajut dari benang, disebut dalam bahasa Yunani sebagai “komboskini” (“Komboschoinia”; ” komvoschini”) atau “Chotki” (“Чётки“) dalam bahasa Rusia, yang dipintal dan berbiji 100, ada juga yang lebih pendek, terdiri dari 33 manik-manik. Mungkin untuk mengingat umur Yesus di muka bumi yaitu 33 tahun.

Rumusan doa ini berdasarkan seruan si buta di Yerikho (Luk. 18:38; Mat. 20:30) dan doa si pemungut cukai (Luk. 18:13), yaitu: “Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah kasihanilah aku orang berdosa ini”, yang dalam bahasa Yunani berbunyi: “:“Kyrie Iesou Khriste Hyos Ton Theon, eleyson me ton amartolon” (“Κύριε Ἰησοῦ Χριστέ, Υἱέ τοῦ Θεοῦ, ἐλέησόν με τὸν ἁμαρτωλόν“). Rumusan ini juga bisa diperpendek berupa: “Kyrie Iesou Khriste, eleyson me” atau “Kyrie eleyson”. Bahkan rumusan ini bisa diperpendek dengan hanya menyebut “Nama Yesus” saja. Doa ini seharusnya diulang dengan hening, dengan tidak tergesa-gesa, sementara menarik dan mengeluarkan nafas mengikuti rumusan doa ini.

Dan praktek yang dilakukan oleh kaum “sufi” Kristen Orthodox yang disebut kaum “hesykhastis”, “Hesychast” (Yunani: Ἡσυχαστής ; hesychastes) atau kaum “Quietists” yang disebut juga para rahib Cipto Hening (para Penghening), yaitu para praktisi “hesykhasme” (Yunani: ἡσυχασμός hesychasmos, dari: ἡσυχία hesychia, "stillness, rest, quiet, silence" = “keheningan”, “kesunyian”, “istirahat”, “ketenangan”, “diam”) atau “Sufisme Kristen Orthodox”, yaitu suatu aliran spiritualitas dan Kekristenan esoteris di Gereja Timur (Gereja Orthodox) yang didasarkan atas hesykhia (ἡσυχία; keheningan, teduh-diam, senyap) sebagai sarana untuk menjadi terpusat pada persatuan dengan Allah dalam doa tak kunjung putus.

Kaum “hesykhastis” (Quietists) atau para rahib Cipto Hening (para Penghening), misalnya St. Diadokhus dari Fotiki (400-kira-kira 486), St. Yohanes Kassianus (kira-kira 360-435), St. Yohanes Klimakos dari Gunung Sinai (sekitar 579-649), St. Hesychios Sang Imam (kira-kira abad 8th), St. Ioannikios Agung (754–846), St. Simeon Sang Theolog Baru (949–1022), St. Gregorius Palamas, Episkop Agung Tesalonika (1296–1359), St. Serafim dari Sarov (1759-1853), St. Theophanes sang Penyendiri (meninggal 1867), St. Nikolai Velimirovich (1880-1956), dll. Hesykhasme mendapat bentuknya yang definitif dan kemudian tersebar ke semua daerah Orthodox. Doa Yesus ditemukan pada pusat dari segala spiritualitas hesykhasme ini.

Doa Yesus disebut juga Doa Batin/Doa Hati/Doa Qolbu (“Noera Prosevkhee”; doa “Budi Rohani”) yang secara khusus menunjuk kepada “Doa Puja Yesus” dari Gereja Timur (Gereja Orthodox). Pengaruh Hesykhasme antara lain disebarluaskan oleh sebuah buku yang dikenal dengan nama “Philokalia”. Seruan dan pendarasan Nama Kudus Yesus dalam Doa Yesus dari Gereja Orthodox Timur ini sekarang digunakan juga oleh Gereja Roma Katolik, Anglikan dan beberapa gereja Protestan.

Rabu, 05 Oktober 2011

MENGENAL SUFI AGUNG ISLAM: JALALUDDIN RUMI SANG DARWIS

oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

1. JALALUDDIN RUMI SANG DARWIS

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau Jalāl ad-Dīn Muḥammad Balkhī (Persia: جلالالدین محمد بلخى), juga dikenal sebagai Jalāl ad-Dīn Muḥammad Rūmī (Persia: جلالالدین محمد رومی) dan secara populer dikenal sebagai Mevlānā di Turki dan Mawlānā (Persia: مولانا) di Iran dan Afghanistan tetapi dikenal di dunia berbahasa Inggris hanya sebagai Rumi (6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 – 5 Jumadil Akhir tahun 672 Hijriah, atau 17 Desember 1273) adalah seorang pujangga dan penyair Muslim Persia, ahli hukum, teolog, dan Mistikus Sufi abad 13. Rūmī adalah nama deskriptif yang berarti "Romawi" karena ia tinggal untuk sebagian besar hidupnya di wilayah yang dinamakan "Rumi" (kemudian dibawah kendali dinasti Seljuq/Seljuk atau Turki Seljuk (dalam Bahasa Turki:Selçuklular; dalam bahasa Persia: سلجوقيان Ṣaljūqīyān; dalam Bahasa Arab سلجوق, Saljūq, atau السلاجقة al-Salājiqa) karena pernah dikuasai oleh Kekaisaran Romawi Timur. Dia adalah salah satu tokoh yang berkembang di Kesultanan Rum (Persian: سلجوقیان روم, Saljūqiyān-e Rūm ).

Ia lahir di Provinsi Balkh di Afghanistan sebuah kota kecil yang terletak di sungai Wakhsh di Persia (di tempat yang sekarang dikenal sebagai Tajikistan) pada tahun 1207, yaitu pada masa pemerintahan Mar Yab-Alaha II Bar Qaiyuma (1190-1222), yaitu Katolikos Seleukia-Ktesiphon dan Patriarkh dari Timur ke-76 dari Gereja Orthodox Assyria Timur yang Kudus, Katolik dan Apostolik (Bhs. Syriac: ܥܕܬܐ ܩܕܝܫܬܐ ܘܫܠܝܚܝܬܐ ܩܬܘܠܝܩܝ ܕܡܕܢܚܐ ܕܐܬܘܪ̈ܝܐ) yang adalah Gereja Kristen yang berasal Takhta Suci Babilon yang didirikan oleh St. Thomas Sang Rasul. Pada masa ini Takhta Katolikos Gereja Orthodox Assyria Timur dipindahkan ke Baghdad, Irak.
. Wakhsh termasuk provinsi lebih besar dari Balkh, dan dan pada tahun Rumi lahir, ayahnya adalah sarjana yang ditunjuk disana. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar (bahasa Arab: بو بكر الصديق, Abu Bakr ash-Shiddiq; khalifah yang pertama Khulafaur Rasyidin pada tahun 632) (lahir: 572 - wafat: 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H), bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Kedua kota-kota ini pada masa itu termasuk dalam lingkup budaya Persia Khorasan yang lebih besar, provinsi paling timur Persia dan merupakan bagian dari Kekaisaran Khwarezmian (adalah sebuah dinasti Muslim Sunni Persia asal Turki Mamluk).

Baik tempat kelahiran dan bahasa aslinya menunjukkan warisan Persia. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan ahli matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan. Keluarga Rumi melakukan perjalanan ke barat, pertama menunaikan ibadah haji dan akhirnya menetap di kota Anatolia Konya (Kauniyah) (ibukota Kesultanan Seljuk Rum, sekarang dikenal sebagai Turki). Di sinilah dia tinggal untuk sebagian besar hidupnya, dan di sini ia menggubah salah satu keagungan pemahkotaan sastra Persia yang sangat mempengaruhi budaya wilayah tersebut. Dia tinggal untuk sebagian besar hidupnya di bawah Kesultanan Rum, di mana ia menghasilkan karya-karyanya dan meninggal pada 1273 Masehi pada masa pemerintahan Joseph I Galesiotes (1267 – 1275) yaitu Patriarkh ke-136 dari Takhta Suci Rasuliyah Konstantinopel dari Gereja Agung Kristus, Gereja Orthodox Patriarkhat Konstantinopel, Istambul, Turki.

2. RUMI DAN KARYANYA

Karya Rumi ditulis dalam bahasa Persia Baru. Sebuah renaisans sastra Persia (di abad 8th/9th) dimulai di daerah Sistan, Khorasan dan Transoxiana dan pada abad 10th/11th, itu memperkuat bahasa Persia sebagai bahasa sastra dan budaya yang disukai di dunia Islam Persia. Pentingnya Rumi dianggap melampaui batas-batas bangsa dan etnis. Karya aslinya banyak dibaca dalam bahasa asli mereka di seluruh negara yang berbahasa Persia. Terjemahan dari karya-karyanya sangat populer di negara-negara lain. Puisinya telah mempengaruhi sastra Persia dan juga bahasa Urdu, Punjabi dan bahasa Pakistan lain yang ditulis dalam aksara Persia/Arab misalnya Pashto dan Sindhi. Puisi-puisinya telah banyak diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia dan dialihkan ke dalam berbagai format. Pada tahun 2007, ia digambarkan sebagai "penyair paling populer di Amerika."

Karya utama Jalaluddin Rumi, yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah Matsnawi-i-Ma'anawi (Couplets of Inner Meaning). Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio. Percakapan informalnya (Fihi ma Fihi), surat-surat (Maktubat), Diwan dan hagiografi Manaqib al-Arifin, semuanya mengandung bagian-bagian penting dari ajaran-ajarannya.

Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.

Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide, bertema meditasi yang dapat diambil sebagai aforisme dan deklarasi dogma, atau sepotong nasihat guru. Penggunaan kata-kata Sufistik mereka, berlangsung terus. Ar-Rumi, seperti penulis Sufi lain, menanamkan ajarannya dalam sebuah kerangka yang secara efektif menjabarkan makna batiniah sebagaimana sebuah pertunjukan atau pameran. Teknik ini bermanfaat melindungi mereka yang tidak mampu menggunakan materi pada level eksperimen yang lebih tinggi; membiarkan mereka yang menginginkan puisi, untuk memilih puisi; memberi hiburan kepada orang-orang yang menginginkan cerita; mendorong kaum intelektual yang menghargai pengalaman-pengalaman tersebut. Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan-ringannya: "Yang ada di dalam ada di dalam" ("Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu").

Ar-Rumi memiliki kegelisahan Sufistik yang luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di zamannya, dan terus menerus menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah sebagian kecil dibandingkan dengan kesufian.

3. SALAH SATU KISAH: RUMI, PEDAGANG DAN DARWIS KRISTEN

Karena berada dalam kesukaran, seorang pedagang yang sangat kaya dari Tabris pergi ke Konia mencari orang yang teramat bijaksana. Setelah mencoba mendapat nasehat dari para pemuka agama, hakim, dan lain-lain, ia mendengar tentang Rumi; iapun dibawa menghadap Sang Bijaksana itu.

Jalaluddin Rumi Sang Sufi Agung
(30 September 1207 – 17 Desember 1273)


Pedagang itu membawa lima puluh keping uang emas sebagai persembahan. Ketika dilihatnya Sang Maulana di ruang tamu, pedagang itu menjadi sangat terharu. Jalaludin Rumi pun berkata kepadanya,

"Lima puluh keping uang emasmu diterima. Tetapi kau telah kehilangan dua ratus, itulah alasan kedatanganmu kemari. Tuhan telah menghukummu, dan menunjukkan sesuatu kepadamu. Sekarang segalanya akan beres." Pedagang itu terheran-heran terhadap yang diketahui Sang Maulana. Rumi melanjutkan.

"Kau mendapat banyak kesulitan karena pada suatu hari nun jauh di negeri Barat sana, kau melihat seorang darwis Kristen (mistikus Kristen) terbaring di jalan. Dan kau meludahinya. Temui dia dan minta maaf padanya, dan sampaikan salam kami kepadanya."

Ketika pedagang itu berdiri ketakutan karena ternyata segala rahasianya telah diketahui, Sang Maulana itupun berkata, "Perlukah kami tunjukkan orang itu padamu?" Rumi menyentuh dinding ruangan itu, dan pedagang itu pun menyaksikan gambar orang suci itu di sebuah pasar di Eropa. Iapun terhuyung-huyung pergi meninggalkan Sang Bijaksana, tercengang-cengang.

Segera saja ia mengadakan perjalanan menemui ulama Kristen itu, dan ditemuinya orang suci tersebut telungkup di tanah. Ketika didekatinya, darwis Kristen itu pun berkata, "Guru kami Jalal telah menghubungi saya."

Pedagang itu melihat ke arah yang ditunjukkan darwis tersebut, dan menyaksikan -dalam gambar- Jalaludin sedang membaca kata-kata semacam ini, "Tak peduli kerikil atau permata, semua akan mendapat tempat di bukitNya, ada tempat bagi semuanya ..."

Pedagang itu pun pulang kembali, menyampaikan salam darwis Kristen itu kepada Jalal, dan sejak itu tinggal dalam masyarakat darwis di Konia.

4. RUMI DAN RELIGIOSITAS

Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah :

Jangan tanya apa agamaku.
Aku bukan yahudi.
Bukan zoroaster.
Bukan pula islam.
Karena aku tahu,
Begitu suatu nama kusebut,
Kau akan memberikan arti yang lain
Daripada makna yang hidup di hatiku.

Aku Adalah Kehidupan Kekasihku

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
Bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku ...

Dia Tidak Di Tempat Lain

Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak ada di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka'bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna ...
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.

5. JALALUDDIN AR-RUMI WAFAT

Dalam tahun 672 Hijriah di kawasan Kauniyah terjadi kegemparan yang berlangsung seminggu penuh. Penyebabnya, terbetik berita bahwa Jalaluddin sedang sakit keras. Berbondong-bondonglah orang bertandang menjenguknya sembari meminta do’a. Ia lantas berkata: “Sesungguhnya tanah itu lapar, selalu mencari makanan. Dan ia akan memperolehnya dalam waktu dekat. Lalu cobaan ini akan sirna dari kalian.”

Seorang temannya bernama Syadruddin datang menengok dan mendoa’kan agar ia segera sembuh kembali: “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan. Tidak ada yang bisa mencelakakanmu, apabila tabir antara kekasih dan kekasih telah terangkat.” Ar-Rumi sempat menyahut: “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”

Setelah dengan panjang lebar menerangkan makna kebenaran, akhirnya menjelang maghrib rohnya meninggalkan raga. Peristiwa menyedihkan itu terjadi pada tanggal 5 Jumadil Akhir tahun 672 H.

Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Para penduduk agama lainpun ikut menangisi kepergiannya. Orang Yahudi dan Kristen, misalnya, membacakan Kitab Taurat dan Injil. Hadir juga dalam upacara pemakaman para penguasa negeri. Kepada para imam dan rahib Kristen, penguasa negeri sempat bertanya: “Peduli apa kalian dengan suasana berkabung ini? Bukankah yang meninggal ini jenazahnya seorang Muslim yang alim?”. Para rahib dan imam itu menjawab: “Berkat dialah kami mengetahui kebenaran para nabi yang sempurna”.

Pada pagi buta, jenazah Jalaluddin ar-Rumi diberangkatkan, diiringkan para pelayat yang melimpah-ruah. Tangis mereka riuh-rendah menyertai kepergiannya. Mereka saling merebut memikul, atau paling tidak menyentuh usungan jenazahnya. Tidak heran jika iring-iringan jenazah baru sampai di tempat pemakaman pada sore hari, dikebumikan pada malamnya.

Ia dimakamkan di Konya (Kauniyah) dan makamnya menjadi tempat suci dan tempat ziarah. Setelah kematiannya, pengikutnya dan putranya Sultan Walad mendirikan Tarekat Mevlevi, juga dikenal sebagai Tarekat Para Darwis Berputar (the Order of the Whirling Dervishes), terkenal dengan tarian sufi yang dikenal sebagai. upacara Sama. Sebuah tulisan di batu nisan Jalaluddin ar-Rumi berbunyi:

“Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia”.
________________________________________
Catatan

@ Luasnya pengaruh Jalaludin Rumi terhadap pikiran dan sastra Barat sekarang ini semakin jelas lewat penelitian akademis.

@ Tak disangsikan lagi bahwa ia mempunyai banyak pengikut di Barat, dan kisah-kisahnya muncul dalam cerita-cerita Hans Anderson, dalam Gesta Romanorum tahun 1324, dan bahkan dalam karya Shakespeare.

@ Di Timur terdengar pendapat di kalangan luas bahwa ia mempunyai hubungan erat dengan kaum mistik dan pemikir Barat. Versi kisah ini diterjemahkan dari karya Aflaki, Munakib al-Arifin, kehidupan para darwis Mevlevi awal, yang selesai ditulis tahun 1353.

@ Sufisme : Ilmu sufuk (tasawuf) dalam kebatinan Islam; sufi : ahli tasawuf, pengikut kebatinan Islam. Bapak Said Aqil Siradj, Khatib Am PBNU dalam pertemuannya dengan Arkhimandrit Romo DR. Daniel B.D. Byantoro pada bulan Oktober 1999 di kantor beliau membenarkan adanya kaitan awal munculnya Tasawuf dalam Islam itu dengan praktek Kristen Timur ini. Bahkan beberapa Sufi Muslim itu ada yang juga belajar dari para “Hesykhastis” Kristen Orthodox ini. Hanya saja beliau menambahkan bahwa pada akhirnya Ilmu Tasawuf itu unsur-unsurnya sudah terdapat juga dalam Islam itu sendiri, misalnya kebiasaan Nabi menyendiri di gua Hira, kehidupan Nabi yang sederhana, dan lain-lain.

@ Seorang Darwis atau Darvesh (dari bahasa Persia درویش, Darvīsh melalui Turki, Somalia: Daraawiish, Arab: دولة الدراويش) adalah seseorang menapaki jalan pertapa sufi Muslim atau “Tariqah” ("Tarekat"), dikenal karena kemiskinan yang ekstrim dan kesederhanaan mereka, mirip dengan para biarawan pengemis di Kristen Barat (misal Ordo Fransiskan, Karmelit, Dominikan, Agustinian) atau Hindu / Budha / para Sadhu Jain. Kaum Darwis adalah para mistikus Islam. Salah satu mistikus dan darwis terkenal dalam agama Islam adalah Maulana Jalaluddin Rumi.

@ Hesykhasme: suatu aliran spiritualitas dalam Gereja Timur (Gereja Orthodox), yang memusatkan perhatiannya pada “hesykhia” (=diam, kesunyian, ketenangan lahir batin) sebagai sarana untuk menyelam ke dalam doa batin. Ini sebanding dengan “Ilmu Tasawuf” dalam Islam. Banyak sarjana yang meyakini bahwa munculnya Tasawuf dalam islam itu terkait dan dipengaruhi praktek-praktek Gereja Timur ini. Dalam praktek Hesykhasme yang dijumpai juga dalam praktek-praktek Tasawuf, tujuan akhir untuk menggapai kasih ilahi dan untuk mencapai “Insan Kamil”, yang dalam iman Kristen Orthodox dimengerti sebagai “Theosis” yaitu “menjadi sama seperti Kristus” (1 Yoh. 3:2) atau “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Pet. 1:4) itu yang diperjuangkan. Hesykhasme mengalami masa kejayaannya terutama dalam abad 14, tetapi sampai di zaman sekarang pun Hesykhasme masih besar pengaruhnya.

@ Tradisi Mistisisme Kristen sama tuanya dengan agama Kristen sendiri. Sekurang-kurangnya tiga teks dari Perjanjian Baru menjadi dasar tema-tema yang berulang kali muncul di sepanjang pemikiran para mistikus Kristen yang sempat dicatat. Yang pertama, Surat Galatia 2:20; teks Alkitab kedua yang penting bagi mistisisme Kristen adalah 1 Yohanes 3:2; teks yang ketiga, yang khususnya penting bagi mistisime Orthodox Timur ditemukan dalam Surat 2 Petrus 1:4:

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.(huruf miring ditambahkan)

Beberapa contoh mistikus Kristen:

• St. Paulus Sang Rasul untuk bangsa-bangsa Goyim (? - l.k. 66)
• St. Yohanes Pembaptis (? - l.k. 36)
• St. Yohanes Sang Rasul (? - l.k.100)
• St. Petrus Sang Rasul (? - l.k.67)
• St. Klemens dari Alexandria (? -216)
• Evagrius Ponticus (345-399)
• St. Gregorius I (590-604)
• St. Symeon Teolog yang Baru (949-1022)
• Mechthild dari Magdeburg (1210-1279)
• Meister Eckhart (l.k. 1260 - 1327/8)
• St. Gregorius Palamas (1296 - 1359)
• St. Bridgeta dari Swedia (1302-1373)
• St. Julian dari Norwich (1342-l.k.1416)
• St. Teresa dari Avila (1515-1582)
• St. Yohanes dari Salib (1542-1591)
• St. Serafim dari Sarov (1759-1833)
• St. Yohanes dari Kronstadt (1829-1908)
• St. Yohanes Maximovich (1896-1966)
• St. Theresa dari Lisieux (1873-1897)
• Thomas Merton (1915-1968)
• St. Padre Pio (1887-1968)
------------------------------------------------------------

Referensi

1. Abul Hasan An-Nadwi. Maulana Jalaluddin Rumi. Al – Mukhtarul Islami lit Tiba’ah wan Nasyr wat Tauzi’, Cairo. Cetakan kedua, tahun 1394 H/ 1974 M. (Jalaluddin Rumi. Sufi Penyair Terbesar. Terjemahan: M. Adib Bisri). Penerbit Pustaka Firdaus. Jakarta. Cetakan Ketiga: April 1997.

2. Episkop Timothy Ware (Penterjemah : Arkhimandrit Daniel Bambang PhD). Mari Mengenal Kekristenan Timur. Sejarah Gereja Orthodox. Satya Widya Graha. Jakarta. 2001.

3. From Wikipedia, the free encyclopedia. Rumi. List of Patriarchs of Babylon, List of Patriarchs of Constantinople.

4. Idries Shah. Kisah-Kisah Sufi. Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau. (terjemahan: Sapardi Djoko Damono). Penerbit: Pustaka Firdaus, Jakarta. 1984.

5. Rm. Arkhimandrit Daniel Bambang D. Byantoro. Seminar Gereja Orthodox Indonesia. “Masih Adakah Gereja Perjanjian Baru?”. Lampiran Listing of Ecumenical Patriarchs ofThe Great Church of Christ, Kepatriarkhan Konstantinopel, Istanbul, Turki. Libra Ball Room, Executive Club. Jakarta Hilton Hotel. 21/ 11/ 1997.

6. Dan lain-lain.

Jumat, 16 September 2011

MUKJIZAT PERTOBATAN DAN PANGGILAN RASUL PAULUS

oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

“Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya :”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku ?” Jawab Saulus :”Siapakah Engkau, Tuhan ?” KataNya :”Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorangpun juga. Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa, mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. (Kisah Para Rasul 9:4-8)

“Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku : :”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku ?” Jawab Saulus :”Siapakah Engkau, Tuhan ?” KataNya :”Akulah Yesus, orang Nazareth, yang kauaniaya itu. Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar……Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. (Kisah Para Rasul 22:7-11)

“Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara…” (Kisah Para Rasul 26:14)

I. Pertentanganpun dan Inkonsistensi dalam Kisah Pertobatan St. Paulus Sang Rasul?

Ada beberapa pertanyaan mengenai pertobatan Saulus dari Tarrsus [bhs. Ibrani: שאול התרסי‎ Ša’ul HaTarsi bhs. Yunani kuno: Σαούλ (Saul), Σαῦλος (Saulos)], yang kemudian dikenal sebagai Rasul Paulus dari Tarsus (bhs. Yunani kuno: Παῦλος (Paulos) (5 Masehi–67 Masehi), "rasul bagi bangsa-bangsa non-Yahudi" (kaum Goyim) (Roma 11:13) dari kutipan-kutipan ayat di atas yang bagi banyak orang sangat membingungkan. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

1. Mengapa dari kutipan-kutipan ayat Alkitab di atas, pengakuan Saulus tidak konsisten ? Pada Kisah Para Rasul 9:4-8, teman-teman Saulus mendengar suara Tuhan, tapi tidak melihat cahaya, sedangkan di Kisah Para Rasul 22:7-11, teman-teman Saulus melihat cahaya yang menyilaukan, tapi tidak mendengar.
2. Yang lebih membingungkan lagi, kalau teman-teman Saulus melihat cahaya itu (Kisah Para Rasul 22:7-11) seharusnya mereka juga tidak dapat melihat, tetapi mengapa mereka bisa menuntun Saulus ke Damsyik ?
3. Kemudian di Kisah Para Rasul 26:14 dikatakan semua rebah ke tanah jadi teman-teman Saulus termasuk Saulus rebah ke tanah, mengapa berita di ayat ini bertentangan dengan dua pasal sebelumnya yaitu Kisah Para Rasul 9:4-8 dan Kisah Para Rasul 22:7-11 ?

II. Teman-teman St. Paulus Sang Rasul Mendengar Suara (Yesus) Ketika Berada Dalam Perjalanan ke Damsyik?

Tidak ada suatu pertentanganpun dan inkonsistensi dalam ayat-ayat Kitab Suci (Alkitab), tetapi ini hanya menunjukkan tentang kurang memadainya makna perbendaharaan terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia dibanding dalam bahasa aslinya baik bahasa Yunani (Perjanjian Baru) dan Ibrani (Perjanjian Lama). Dalam ayat-ayat di ataspun tidak ada pertentangan sebagai dijelaskan di bawah:

Kontradiksi yang nyata muncul di antara laporan pertama mengenai pertobatan St. Paulus Rasul di Jalan menuju Damsyik (Kis. 9:7) dengan laporan kedua (Kis. 22:9) yaitu yang berkaitan dengan teman-teman seperjalanan Paulus. Apakah mereka mendengar ”Suara dari langit itu atau tidak?”. Kisah Para Rasul 9:7 menyatakan: ”Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu [ακουοντες μεν της φωνης ; akouontes men tês phônês], tetapi tidak melihat seorang jugapun”. Sebaliknya, dalam Kisah Para Rasul 22:9 kita diberitahu, ”Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar [την δε φωνην ουκ ηκουσαν ; tên de phônên ouk êkousan]”.

Meskipun demikian, dalam bahasa Yunani asli tidak terdapat pertentangan nyata antara dua pernyataan ini. Bahasa Yunani membedakan antara mendengar suara sebagai ”bunyi” (di mana kata kerja ”mendengar” berfungsi sebagai ”genitif” atau ”penunjuk sumber”), dengan mendengar suara sebagai ”berita atau pesan yang menyampaikan gagasan” (di mana kata kerja ”mendengar” berfungsi sebagai ”akusatif” atau ”menjadi penunjuk obyek”). Karena itu, ketika kita mengemukakan dua pernyataan ini bersama maka kita mendapati teman-teman seperjalanan St. Paulus mendengar ”Suara” tersebut sebagai suatu ”bunyi” (agak mirip dengan orang banyak yang mendengar suara Allah Sang Bapa yang berbicara kepada Sang Putera dalam Yohanes 12:28, namun menangkapnya hanya sebagai bunyi guntur); tetapi mereka tidak (seperti St.Paulus) mendengar pesan yang disampaikan. Rasul Paulus sendiri yang mendengarnya dengan jelas (Kis. 9:4 mengatakan Paulus êkousen phônên – kasus akusatif); walaupun tentu dia pada mulanya menerimanya sebagai bunyi yang mengejutkan (Kis. 22:7: ”Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara [êkousa phônên] yang berkata kepadaku ... ”). Tetapi, dalam kedua laporan itu tidak ada dinyatakan bahwa teman-temannya mendengar ”Suara” itu dalam pengertian kasus akusatif.

Jadi kata yang diterjemahkan ”suara” juga mempunyai dua arti: pertama, ”bunyi, nada”, dan yang kedua, ”suara”, yaitu ”bunyi kata-kata yang diucapkan” (Greek-English Lexicon of the New Testament karangan Thayer). Suara yang teman-teman Rasul Paulus dengar ialah bunyi; mereka tidak mendengar suara itu sebagai bunyi kata-kata yang diucapkan; mereka tidak mendengar beritanya.

Di sini terdapat terdapat suatu persamaan pelajaran antara ketidakmampuan untuk mendengar ”Suara” itu sebagai pesan yang disampaikan dengan ketidakmampuan untuk melihat kemuliaan Tuhan yang sudah bangkit, kecuali hanya sebagai cahaya yang menyilaukan. Kisah Para Rasul 22:9 mengatakan bahwa mereka melihat cahaya, tetapi Kisah Para Rasul 9:7 menjelaskan bahwa mereka tidak melihat ”Oknum/Pribadi” itu yang memperlihatkan DiriNya melalui cahaya itu. Ada analogi yang jelas antara tingkat-tingkat pemahaman yang berbeda dalam masing-masing kasus.

Mengenai perbedaan kasus secara teknis dalam bahasa Yunani, bdk. W.W. Goodwin dan C.B. Gulick, Greek Grammar [Boston: Ginn & Co., 1930], # 1130, mengatakan: “Genitif-partitif digunakan dengan kata-kata kerja yang berarti mencicipi, mencium (merasakan, bau), mendengar, memahami (merasakan, melihat) dsb”. – dengan contoh dari Aristophanes Pax: phônês akouein moi dokô – ”Saya rasa saya mendengar suatu suara”. Lihat juga # 1104: ”Kata-kata kerja mendengar, mengetahui dsb, bisa menunjukkan obyek dari hal yang didengar dsb (sebagai akusatif), juga bisa menunjukkan dari mana orang itu mendengar (sebagai genitif)”. Ini sangat mirip dengan pembedaan yang dibuat di atas, bahwa akusatif menunjukkan suara itu sebagai pesan atau gagasan yang disampaikan, bukan hanya sebagai bunyi yang bergetar di gendang telinga.

III. Adanya Hijab (Tabir) yang Menghalangi Penglihatan dan Pengenalan akan Yang Ilahi

Kalau teman-teman Saulus melihat cahaya itu seharusnya mereka juga tidak dapat melihat, tetapi mengapa mereka bisa menuntun Saulus ke Damsyik? Seperti dijelaskan di atas, teman-teman Paulus melihat cahaya walaupun tidak mampu untuk melihat kemuliaan Tuhan yang sudah bangkit, kecuali hanya sebagai cahaya yang menyilaukan. Kisah Para Rasul 22:9 mengatakan bahwa mereka melihat cahaya, tetapi Kisah Para Rasul 9:7 menjelaskan bahwa mereka tidak melihat ”Oknum/Pribadi” itu yang memperlihatkan DiriNya melalui cahaya itu.

Walaupun teman-teman Rasul Paulus melihat cahaya, mereka tidak mengalami kebutaan sehingga bisa menuntun Rasul Paulus. Sedang Rasul Paulus mengalami kebutaan karena kasih karunia/rahmat Allah sedang bekerja pada Rasul Paulus yang dipanggil secara khusus (cara panggilan yang tidak dialami oleh para Rasul lainnya) untuk melakukan karya kerasulan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi (kaum Goyim) melalui peristiwa ini. Dalam hal ini para teman Rasul Paulus memang tidak terpanggil untuk mengemban tugas panggilan khusus seperti Sang Rasul ini, karena itu mereka tidak mengalami problem kebutaan dan mendengar suara sebagai ”berita atau pesan yang menyampaikan gagasan” seperti yang dialami Sang Rasul, walaupun mereka melihat cahaya yang sama. Disebut panggilan khusus sebab Yesus menyatakan DiriNya secara langsung setelah kebangkitanNya kepada Paulus yang sedang dalam perjalanan untuk menganiaya umat Kristen. Inilah sebabnya Rasul Paulus mengatakan panggilan oleh kasih karuniaNya (Gal. 1:15).

Walaupun berupa suara, kasus ini serupa dengan kisah Perjumpaan Kristus yang telah bangkit dengan dua murid di jalan ke Emaus (Luk. 24:13-35). Dalam Lukas 24:16, dikatakan: ”Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” (”But their eyes were holden, that they should not know Him”; “But their eyes were held so as not to recognize Him”)
[οι (hoi; the) δε (de; yet) οφθαλμοι (ophthalmoi; viewer; eyes) αυτων (autOn; of them) εκρατουντο (ekratounto; were held) του (tou; of the) μη (me; no) επιγνωναι (epignOnai; to on know; to recognize) αυτον (auton; Him)].

Kemudian dalam Lukas 24:31 terjadilah peristiwa: ”Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia” (“And their eyes were opened, and they knew Him”)
[Αυτων (autOn; of them) δε(de; yet) διηνοιχθησαν (dii̱noichthi̱san; were thru up opened; were opened up) οι (hoi; the) οφθαλμοι (ophthalmoi; viewer; eyes) και (kai; and) επεγνωσαν (epegno̱san; they on know; they recognize) αυτον (auton; Him)].

“Terbukalah mata mereka” dalam Lukas 24:31 ini implikasinya mata mereka tadinya tertutup. Tertutupnya mata ini dalam ilmu tasawuf Islam dikenal sebagai ”hijab (tabir)”, yaitu tertutupnya mata batin. Itu adalah istilah yang digunakan dalam Sufisme (Ilmu sufuk (tasawuf) dalam kebatinan Islam; sufi : ahli tasawuf, pengikut kebatinan Islam.). Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.

Hijab (bahasa Arab: حجاب ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hijab memiliki arti 1.) dinding yg membatasi sesuatu dng yg lain: 2.) dinding yg membatasi hati manusia dan Allah. Dalam cerita-cerita tentang penampakan yang disajikan Lukas dan Yohanes para murid mula-mula tidak mengenal Tuhan, tetapi baru mengenaliNya setelah Yesus berkata-kata atau memberi tanda (Luk 24:30 dst., Luk 24:35,37 dan Luk 24:39-43; Yoh 20:14,16,20; Yoh 21:4,6-7; bdk Mat 28:17). Sehingga bisa dikatakan disini bahwa “…sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Yesus Kristus Dia (Lukas 24:16) adalah hijab, yaitu tertutupnya mata batin yang kemudian “terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Yesus (Lukas 24:31).

Dalam teologi Orthodox, ”hijab (tabir)” yang menutupi mata hati manusia dari kebenaran Injil (berita keselamatan) itu adalah diakibatkan dosa. Karena itu ”hijab (tabir)” yaitu ”sesuatu yang menghalangi” inilah yang membuat orang tertutup dan sulit menerima kebenaran iman Kristen Apostolik (Rasuliyah) walaupun sudah dijelaskan secara jelas dan gamblang. Tetapi ketika para murid itu menerima Ekaristi Kudus (Perjamuan Kudus), dikatakan: ”Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, ...” (Luk. 24:31). Ini bisa terjadi karena kasih karunia/rahmat Roh Kudus yang menerangi mata batin saja sehingga orang bisa menerima/melihat Dia yang sudah bangkit, yaitu Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

IV. Kisah Para Rasul 26:14 versus Kisah Para Rasul 9:4-8 dan Kisah Para Rasul 22:7-11?

Kemudian di Kisah Para Rasul 26:14 dikatakan semua rebah ke tanah jadi teman-teman Saulus termasuk Saulus rebah ke tanah, mengapa berita di ayat ini bertentangan dengan dua pasal sebelumnya yaitu Kisah Para Rasul 26:14

Ini adalah gaya peredaksian tabib Lukas ketika menulis Kitab Kisah Para Rasul 26:14. Tidak dituliskannya bahwa teman-teman Saulus rebah ke tanah dalam Kis. 9:4-8 dan Kis. 22:7-11 tidak berarti kedua bab/pasal ini bertentangan dengan bab/pasal 26:14 ini. Sebab jika St. Paulus Rasul pada mulanya terkejut ketika mendengar bunyi ini sehingga rebah ke tanah (Kis. 22:7), maka sangatlah mungkin teman-teman Rasul Paulus juga terkejut dan rebah ke tanah. Tetapi hal jatuh-rebahnya teman-teman Paulus ini sekali lagi bukan menjadi fokus-penekanan pesan-penulisan tabib Lukas tetapi Lukas menulis untuk menekankan Pertobatan Paulus, Kesaksian Pertobatan dan Panggilan Paulus pada orang Yahudi, dan Pembelaan Paulus dihadapan Agripa sesuai judul perikop bab-bab/pasal-pasal ini, sehingga hal rebahnya teman-teman Paulus ini tidak perlu dituliskan. Ini dapat dibandingkan dengan Yohanes 21:25, ”Masih banyak hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu-persatu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu”.

Oleh Terang Allah Sang Tritunggal Maha Kudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, semoga jawaban-jawaban ini dapat memberikan pencerahan bagi saudara-saudara. Amin!

Referensi

1. Gleason L. Archer. Encyclopedia of Bible Difficulties. Foreword by Kenneth S. Kantzer. The Zondervan Corporation. 1982.

2. R.A. Torrey. Jawaban Bagi Keraguan Anda. (Difficulties in the Bible. The Moody Bible Institute of Chicago). Yayasan Kalam Hidup. Bandung 40112.

3. From Wikipedia, the free encyclopedia.

4. Dan lain-lain.

Kamis, 11 Agustus 2011

Gelar-Gelar Orang Kudus di Gereja Orthodox Timur (2)

Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

12. Sang Pengaku Iman (Konfesor; Confessor): orang yang telah menderita karena iman tetapi tidak martir langsung, yaitu panggilan bagi mereka, yang banyak menderita bagi Kristus, tetapi tidak menderita kematian sebagai martir.
Misal:
1. St. Chariton Sang Konfesor, Hegumen dari Palestina (wafat 28 September 350)
2. St. Maximus Sang Konfesor (juga dikenal sebagai St. Maximus Sang Teolog dan St. Maximus dari Konstantinopel) (kira-kira 580 – 13 Agustus 662)
3. St. Theophanes Sang Konfesor, (kira-kira 752 - .kira-kira 818)
4. Para Rahib-Martir dan Pengaku Iman: Yohanes, Konon, Yeremia, Kiril, Theoktistus, Barnabas, Maximus, Theognostus, Joseph, Gennadius, Gerasimus, Markus, dan Herman dari Siprus, yang menderita di bawah kaum Latin (1231)
5. St. Elias (Iorest) (1678) dan St. Sava (Brancovici) (1683), para Metropolitan dari Ardeal (Transylvania), para Pengaku Iman yang menentang Kaum Protestan Calvinis
6. St. Yohanes Orang Rusia, Sang Pengaku Iman, yang relikwinya ada di pulau Euboea (wafat 1730)
7. St. Yohanes orang Rusia, Konfesor Baru dari Prokopion dan Evia (1690-27 Mei 1730)
8. Hiero-Konfesor (Imam-Pengaku Iman) St. Athanasius (Sakharov), Uskup dari Kovrov (2 Juli 1887 – 28 Oktober 1962)
9. St. Matrona Sang Konfesor dari Diveyevo (1963),
10. Metropolitan Philaret Sang Konfesor Baru dari Kota New York (1903-1985).

13. Sang Imam Pengaku Iman (Hieroconfessor): seorang Pengaku Iman yang adalah juga seorang imam
Misal:
1. Imam-Pengaku Iman Baru St. Yohanes Kalinin, Imam dari Olenevka (wafat 1951)
2. Hiero-Konfesor St. Lukas (Voino-Yasenetsky), Uskup Agung Simferopol dan Crimea (1877- 11 Juni 1961)
3. Hiero-Konfesor (Imam-Pengaku Iman) St. Athanasius (Sakharov), Uskup dari Kovrov (2 Juli 1887 – 28 Oktober 1962)

14. Sang Pengemban Allah (Pemanggul Tuhan; God-bearing; God-bearer): seseorang yang mengemban Allah dalam dirinya sendiri dan menyala dalam hati dengan cinta kepada-Nya; juga gelar yang diberikan kepada salah satu dari Bapa Suci (Bapa Gereja)
Misal:
1. St. Ignatius dari Antiokhia (bhs. Yunani Kuno: Ἰγνάτιος, juga dikenal sebagai Theophorus dari bhs. Yunani: Θεοφόρος "God-bearer"; yang berarti "Pemanggul Tuhan; Pengemban Allah") (kira-kira 35 atau 50 – antara 98 dan 117)
2. St. Kristophorus Sang Sang Pengemban Allah (“God-bearer”) dan Pemanggul Kristus (“Christ-bearer”) (wafat kira-kira 251)
3. Yang Kudus dan Benar St. Simeon Sang Pengemban Allah atau St. Simeon Sang Penerima Allah (the God-Receiver) (wafat 360)
4. St. Theosebius Sang Sang Pengemban Allah dari Arsinoe di Syprus (diperingati 12/25 Oktober)
5. St. Georgius Sang Pengemban Allah dari Pegunungan Hitam, guru dari St. Georgius dari Gunung Athos (wafat 1068)

15. Yang Mulia atau Yang Pantas Dihormati (Venerable; mencapai keserupaan dengan Tuhan): seorang kudus yang membiara (monastik), "Yang Mulia" umumnya digunakan sebagai terjemahan bahasa Inggris untuk gelar yang diberikan kepada orang-orang kudus yang hidup membiara (hidup monastik) (bhs. Yunani: Hosios, Slavonik: Преподобной ; Prepodobne). Yang Mulia atau Yang Pantas Dihormati adalah orang-orang kudus, yang mencapai kemuliaan dari jerih payah hidup membiara (monastik). Melalui puasa, doa, karya, mereka terbentuk dalam kebajikan-kebajikan agung jiwa - kerendahan hati, kesucian, kelemahlembutan. Mungkin setiap monasteri (biara; pertapaan) dimuliakan di hadapan Tuhan dengan suci para orang kudus.
Misal:
1. Yang Pantas Dihormati St Maria dari Mesir (kira-kira 344-421)
2. Yang Pantas Dihormati St. Bede rahib di monasteri Northumbrian (kira-kira 673-26 Mei 735)
3. Yang Pantas Dihormati St Sergius dari Radonezh, Hegumenos dari Tanah Rus, Sang Pelaku Mukjizat Agung dan Mulia dari Rusia (1314 – 1392)
4. Yang Pantas Dihormati St Seraphim Sang Pelaku Mukjizat dari Sarov (1759-1833)

16. Sang Martir Yang Mulia (Venerable-martyr): Seorang kudus monastik yang martir bagi Iman Orthodox atau mereka yang tewas terbunuh dalam jenjang kehidupan monastik.
Misal:
1. Sang Martir Yang Mulia St. Vadim (wafat 376)
2. Sang Martir Yang Mulia St. Anastasius (wafat 22 Januari 628)
3. Sang Martir Yang Mulia St. Theodosia dari Konstantinopel (wafat 730)
4. Sang Martir Yang Mulia dan Kudus St. Stefanus yang Baru (wafat767)
5. St. Philothei (kadang-kadang disebut ‘Philothea’) Sang Martir Yang Mulia dari Athena (1522-1589)
6. Sang Martir Yang Mulia St. Athanasius, abbas dari Brest (wafat 4 -5 September 1648)
7. Sang Martir Yang Mulia St. Nicodemus (wafat 11 Juli 1722)
8. Sang Martir Yang Mulia St. Nicetas rahib dari Gunung Athos (wafat 1808)
9. Sang Martir Yang Mulia St. Nectarius (wafat 11 Juli 1820)
10. Sang Martir Yang Mulia St. Cheltsov Mikhail Pavlovich (1870-1931)
11. St. Veniamin (Kazansky), Sang Martir Yang Mulia, Metropolitan dari Petrograd dan Gdov (1874-1922)

17. Sang Penyembuh Kudus tanpa Bayaran (Holy Unmercenaries, Unmercenary Healer; bhs. Yunani: Άγιοι Ανάργυροι; Agioi Anargyroi ): orang kudus yang menggunakan karunia penyembuhan atau kuasa Tuhan untuk menyembuhkan penyakit dan cedera tanpa dikenakan biaya, orang kudus yang menolak untuk mengambil pembayaran untuk penyembuhan, adalah julukan yang diterapkan kepada sejumlah orang kudus Kristen yang tidak menerima pembayaran untuk perbuatan-perbuatan baik. Ini termasuk para penyembuh atau dokter Kristen yang, dalam oposisi mencolok untuk praktek medis hari ini, cenderung untuk membebaskan biaya orang sakit.
Misal:
1. St. Zenaida and Philonella (kira-kira wafat 100)
2. St Tryphon (kira-kira wafat 250)
3. St. Panteleimon Sang Penyembuh Kudus tanpa Bayaran dan Martir Agung (kira-kira 275 - 303 AD)
4. St. Kosmas and Damianos (bhs. Yunani: Κοσμάς και Δαμιανός) (kira-kira wafat 303), Tabib Kudus tanpa Bayaran (anargyroi) dan Pelaku Mukjizat
5. St. Hermolaos Imam Martir dari Nikomedia (kira-kira wafat 305)
6. St. Kiros dan Yohanes Sang Anargyroi dan Pelaku Mukjizat (kira-kira wafat 304 AD, atau 311)
7. St. Sampson Yang Bermurah Hati (Yang Ramah) (kira-kira wafat 530)
8. St Paulus Sang Tabib dari Korintus (kira-kira abad 7)
9. St. Agapitus, Sang Tabib tanpa Bayaran dari Gua-gua Kiev (wafat 1095)
10. St. Luka Voyno-Yasenetsky Uskup Agung Simferopol dan Krimea dan dokter ahli bedah (27 April /9 Mei 1877 - 11 Juni 1961)

18. Sang Penerang (lluminator; Enlightener): orang kudus yang pertama kali membawa iman kepada orang-orang atau wilayah, atau yang melakukan karya utama evangelisasi di sana
Misal:
1. St. Aetius orang kasim (sida-sida) Ethiopia (Eunuch; saris; seorang pria yang dikebiri), Sang Penerang Ethiopia yang dibaptis oleh St. Filipus Sang Rasul (kira-kira abad 1)
2. St. Nino Yang disamakan dengan para Rasul dan Sang Penerang Georgia (kira-kira 296 –338 atau 340)
3. Imam Marrtir St. Bonifasius (Wynfrith) dari Crediton, Inggris, Uskup Agung Mainz dan Sang Penerang dari Jerman (wafat 754)
4. St. Sava I atau St. Sabbas dari Serbia (1175 – 1235), Sang Penerang dan Uskup Agung pertama Serbia.
5. St. Innosensius dari Alaska, St. Innosensius dari Moskow (bhs. Rusia: Митрополит Инноке́нтий) (1797 – 1879), Sang Penerang Alaska dan Siberia

19. Yang Bodoh bagi Kristus (Fool-for-Christ; Rusia: юродивый, yurodivy): orang kudus yang dikenal karena penampilan dan perilaku anehnya, namun kegilaannya yang kudus. Mereka mengambil penampilan kegilaan dan penderitaan akibat penistaan, penghinaan dan fitnah dari orang-orang di sekitar mereka, terkena kejahatan-kejahatan manusia, membawa mereka dalam kekuasaan pada indra mereka, untuk menghibur penderitaan.
Misal:
1. St. Daud Dendrite (St. Daud sang Penghuni Pohon), Orang Bodoh yang Kudus (wafat 540)
2. St. Simeon Orang Bodoh yang Kudus (Abba Simeon, St. Simeon Salos atau Saint Simeon Salus) (wafat 570)
3. St. Andreas dari Konstantinopel yang Bodoh bagi Kristus (bhs. Yunani: Andreas ho Salos) (wafat 936)
4. St. Sabbas yang Bodoh bagi Kristus dari Vatopedi, Gunung Athos (wafat 1349)
5. St. Michael of Klops Monastery (Novgorod), fool-for-Christ (1453-1456).
6. St. Basilius Yang Terberkati yang Bodoh bagi Kristus, Sang Pelaku Mukjizat dari Moskow ( Rusia: Василий Блаженный, Vasily Blazhenny) – lahir Desember 1468 atau 1469 dan wafat 2 Augustus 1552 atau 1557
7. Yang Berbahagia St Yohanes yang Berbulu (Yohanes yang Bermurah Hati dari Rostov), Orang Bodoh yang Kudus (Yurodivy) (wafat 3 September 1580)
8. Yang Berbahagia St. Yohanes dari Moskow yang Bodoh bagi Kristus, Sang Pelaku Mukjizat dari Moskow (wafat 1589)
9. St. Procopius dari Vyatka yang Bodoh bagi Kristus [1578-12/21/1627]
10. St. Xenia dari Saint Petersburg yang Bodoh bagi Kristus (Rusia: Святая блаженная Ксения Петербургская [Xenia Grigoryevna Petrova - Ксения Григорьевна Петрова]; kira-kira 1719–1730 – kira-kira 1803

20. Sang Pemurah Hati (Merciful): seseorang yang dikenal untuk karya amal (karya karitas), terutama terhadap orang miskin
Misal:
1. St. Panteleimon si Pemurah Hati atau yang Berbelas Kasih pada semua (kira-kira 275-303)
2. St. Martinus yang Murah Hati, Uskup Tours (316-397)
3. St Theophanes Sang Pemurah Hati dari Gaza (abad ke 4)
4. St. Paulinus Sang Pemurah Hati, uskup dari Nola (wafat 431)
5. St. Yohanes Sang Pemurah Hati, (juga dikenal sebagai Yohanes Pemberi Sedekah, Yohanes Almoner, Yohanes V Patriarkh Alexandria) (616-620)
6. St. Philaret Sang Pemurah Hati dari Amnia di Asia Kecil (wafat 792)
7. St. Yuliana dari Lazarevo Sang Pemurah Hati (sekitar 1530 –1604)

21. Para Pembawa Rempah-rempah (Myrrh-bearers; bhs. Yunani: Μυροφόραι, Myrophorae; Slavonic: Жены́-мѷроно́сицы; Zhenie mironosiţe): salah satu wanita yang hadir pada saat penderitaan Kristus dan pergi ke kubur untuk meminyaki tubuh Yesus atau saksi pertama Kebangkitan Yesus.
Misal:
1. Maria Magdalena (†pertengahan sampai akhir abad 1)
2. Maria , istri Kleopas
3. Martha dari Bethany, saudara Lazarus
4. Yohana, istri Chuza pelayan Herodes Antipas
5. Salome, ibu Yakobus dan Yohanes, putra Zebedeus
6. Susanna
7. Yusuf dari Arimathea
8. Nikodemus
9. Injil juga menyebutkan "Maria, ibu Yakobus dan Yoses" (Matius 27:56, Markus 15:40).
10. Ada juga secara umum diterima menjadi Pembawa Rempah-rempah lainnya, yang namanya tidak diketahui.

22. Sang Alir Narwastu (Minyak Mur, Dupa; Myrrh-streaming, Myrrh-streamer, Myrrh-gusher, atau Myroblete): relikwi orang kudus yang mengeluarkan minyak kudus dan harum (dan seringkali bermukjizat)
Misal:
1. St. Demetrius dari Thessaloniki Sang Alir Narwastu (270 – wafat 306).
2. St. Simon Sang Alir Narwastu, pendiri Monasteri Simonopetra, Gunung Athos (wafat 1287)
3. St. Theophilus Sang Alir Narwastu dari Monasteri Pantokrator, Gunung Athos (wafat 1548)
4. St. Yuliana dari Lazarevo (wanita awam yang menikah), relikwinya memancarkan harum mur saat digali pada tahun 1614, 10 tahun setelah meninggalnya dan terjadi penyembuhan dari mur ini (1530-1/10/1604)
5. St. Leontios dari Gunung Athos, Yang Dimuliakan, Yang Berbau Dupa dan penyembuhan dari mur yang mengalir dari relikwinya (1520-3/16/1605)
6. St. Dionysius dari Zakynthos, Uskup yang tubuhnya tidak membusuk dan memancarkan bau kesucian (bunga & dupa) (1547-12/17/1622)
7. St. Ayub Sang Pelaku Mukjizat dari Pochaev (Ivan Zhelezo: rahib Orthodox Ukraina yang menentang penggunaan roti tidak beragi dari Uniatisme dan Roma Katolik, namun demikian tetap dihormati di antara Katolik di Ukraina), relikwinya awet dan mengeluarkan bau kekudusan (1551-10/28/1651)
8. St. Nilus yang memancarkan minyak mur (the Myrrh-gusher) dari Gunung Athos (wafat 1651)

23. Sang Pengemban Sengsara Kudus Kristus (The holy Passion-bearers; Rusia: strastoterpets, страстотéрпец): seorang yang menghadapi kematiannya dengan cara seperti Kristus. Tidak seperti martir, para Pengemban Sengsara Kudus (Passion-bearers) tidak secara eksplisit dibunuh karena iman mereka, meskipun mereka berpegang pada iman itu dengan kesalehan dan cinta sejati dari Allah. Para Pengemban Sengsara Kudus di Rusia dihormati secara terpisah, mereka adalah orang-orang kudus yang tewas di tangan para pembunuh dan bandit. Jadi semua martir adalah Sang Pengemban Sengsara, tetapi tidak semua Sang Pengemban Sengsara adalah martir. Misal:
1. St. Doulas Sang Pengemban Sengsara dari Mesir (kira-kira abad 4)
2. St. Edward Sang Martyr, Raja Inggris (sekitar 962 – 18 Maret 978/979)
3. St. Boris dan St. Gleb Sang Pengemban Sengsara Kudus (wafat 1015)
4. St. Harold dari Inggris (kira-kira 1022 – 14 Oktober 1066)
5. St. Nicholas II dari Rusia atauTsar Nicholas Alexandrovich Romanov (6 [17] Mei 1868-16 Juli 1918)

24. Yang Beriman Benar atau Yang Baik dan Benar (Right-believing; The good and true) sebuah julukan yang digunakan untuk para penguasa sekuler suci, yaitu para tsar/kaisar dan pangeran yang baik dan benar yang menggunakan kebesaran-keagungan dan kekayaan Allah yang diberikan pada mereka untuk karya amal (karya karitas), pencerahan, perlindungan relikwi-relikwi suci umum.
Misal:
1. Yang Beriman Benar Pangeran Agung St. Igor dari Chernigovski dan Kiev (wafat 1147)
2. Yang Beriman Benar St. Tamara, Ratu dari Georgia (sekitar 1165 – 1213)
3. Yang Beriman Benar Pangeran Basil (Vasilko)dari Rostov (7 Desember 1208 – 4 Maret 1238)
4. Yang Beriman Benar Pangeran St. Basil (wafat 1249) dan Konstantin (wafat 1257) dari Yaroslavl
5. Yang Beriman Benar St. Alexander Nevsky Sang pangeran agung dari Novgorod (1221-1263)
6. Yang Beriman Benar Pangeran St. Peter dari Rostov atau Tsarevitch Peter Ordynsky (†1290)
7. Yang Kudus dan Beriman Benar Puteri St. Anna dari Kashin (sekitar 1285-2 Oktober 1368)
8. Yang Beriman Benar Pangeran Agung St. Dmitry Donskoy (1350- 1389)
9. Yang Beriman Benar dan secara ilahi dimahkotai kemartiran St. Iotam Zedgenidze (†1465)
10. Yang Beriman Benar Raja St. Stefanus Agung, dari Moldavia, Romania (1433 – 2 Juli 1504)
11. Yang Kudus dan Beriman Benar Tsar St. Nicholas Alexandrovich Romanov (6 [17] Mei 1868 – 16 Juli 1918)

25. Sang Orang Benar, Yang Benar, Yang Adil (Righteous; Tzadik / Zadik / Shadiq; al-Syidiq; ha-Tsadiq): orang suci di bawah Perjanjian Lama (Perjanjian Lama Israel) tetapi juga kadang-kadang digunakan untuk orang-orang kudus menikah dari Perjanjian Baru (Gereja). Ini adalah atribut yang menyiratkan bahwa tindakan seseorang dibenarkan, dan dapat memiliki konotasi bahwa orang tersebut telah "dinilai" atau "diperhitungkan" sebagai pemimpin sebuah kehidupan yang berkenan kepada Allah. Sang Orang Saleh juga dapat digunakan sebagai terjemahan untuk bahasa Yunani hosios, yang biasanya diterjemahkan sebagai "Yang Mulia; Yang Pantas Dihormati".
Misal:
1. Yang Benar Bapa leluhur Nabi Ibrahim (2000 S.M.)
2. Yang Benar St. Joachim dan St. Anna, Datuk Moyang Sang Kristus (sekitar abad 1-2)
3. St. Yakobus Yang Adil, Yakobus dari Yerusalem, Yakobus Adelphotheos, atau Yakobus, Saudara Tuhan Yesus (wafat 62 M)
4. Yang Benar St. Xenia Sang Orang Benar dari Roma (wafat kira-kira 450)
5. St. Marcellus Sang Orang Benar (wafat kira-kira 485)
6. Yang Benar dan Pengemban Allah St. Yohanes dari Damaskus (kira-kira 676 – 5 Desember 749) juga dikenal sebagai Yuḥannā Al Demashqi , Yohanes Damaskenus, Chrysorrhoas, "mengalir dengan emas" (yaitu, pembicara emas).
7. Yang Benar St. Ilia (†1907)
8. Yang Benar St. Yohanes dari Kronstadt (1829-1908)
9. Yang Benar St. Alexis dari Moskow (Metchev) (17 Maret 1859 - 9 / 22Juni 1923)

26. Sang Pelaku Mukjizat (Wonderworker; miracle-worker; Θαυματουργός ; Thaumatourgos): seorang kudus yang dikenal karena melakukan mukjizat-mukjizat. Thaumaturgi (dari kata Yunani θαῦμα (thaûma), yang berarti "keajaiban" atau "mukjizat” dan ἔργον (ergon), yang berarti "kerja") adalah kemampuan seorang kudus untuk melakukan mukjizat atau keajaiban Allah, sumber dari segala mukjizat dan keajaiban, yang telah bekerja melalui mereka. Kadang-kadang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai wonderworking. Praktisi dari thaumaturgi adalah Thaumatourgos atau pelaku mukjizat.

Mukjizat tersebut meliputi:
• Penyembuhan penyakit fisik dan spiritual
• Kebangkitan dari antara orang mati
•Kekuatan fisik dari keajaiban besar
• Penyembuhan dari kerasukan setan
• Relikwi dan ikon yang memancarkan narwastu

Thaumaturgos Kristen kuno terkenal misalnya:
1. St. Gregorius dari Neo-Kaisarea, juga dikenal sebagai St. Gregorius Sang Thaumaturgus, Uskup dan Pengaku Iman (kira-kira 213 – kira-kira 270)
2. St.Menas dari Mesir, Sang Martir dan Pelaku Mukjizat (285 – kira-kira 309)
3. St.Nicholas Sang Pelaku Mukjizat dan Uskup dari Myra (kira-kira 270–6 December 343)
4. St. Moses, Sang Pelaku Mukjizat dari Gua-Gua Kiev (abad 13-14)
5. St. Euthymius Sang Pelaku Mukjizat dan Arkhimandrit dari Suzdal (1404)
6. St. Yohanes dan St. Longinus, para Pelaku Mukjizat dari Yarenga (Solovki) (wafat 1544-45)
7. St.Seraphim Sang Pelaku Mukjizat dari Sarov (30 Juli [kalender lama 19 Juli] 1759 – 14 Januari [2 Januari] 1833)
8. St.Ambrosius dari Optina (5 Desember 1812 – 23 Oktober 1891)

27. Sang Manusia Allah, Sang Abdi Allah atau Sang Utusan Allah (the Man of God) dalam Alkitab Ibrani adalah gelar penghormatan diterapkan untuk nabi dan para pemimpin agama tercinta. Istilah ini muncul 77 kali dalam 71 ayat dari Alkitab Ibrani. Sang Manusia Allah atau Sang Abdi Allah adalah seorang pria yang hidup untuk menyenangkan Allah dan melakukan kehendak-Nya
Misal:
1. Nabi Semaya (Shemaiah, Samaia, Semeias) Sang Abdi Allah (abad 10 S.M.)
2. St. Nikolas Sang Manusia Allah dari Myra di Lycia (270-345)
3. St. Alexios dari Roma (380-440)
4. St. Patricius Sang Manusia Allah (kira-kira 387-493)
5. St. Benediktus Sang Manusia Allah dari Nursia (sekitar 480-543)
6. St. Cadoc (ataur Cadog) (Latin: Cadocus), Sang Manusia Allah dan Abbas dari Llancarfan, Wales (sekitar 497-580)
7. St. Ekvtime (Euthymius) Taqaishvili Sang Manusia Allah dari Tbilisi (1863 - 1953)
8. Sang Manusia Allah dan Pelaku Mukjizat St. Yohanes Maximovitch dari Shanghai dan San Francisco (1896-1966)

Referensi

1. ____________, Sinaksarion (Kisah Orang Kudus). Dikumpulkan oleh Rm. Kirill dari bulletin Gereja Orthodox Indonesia dan sumber-sumber lain. Malang. 2000.

2. ____________, Saint Herman Calender 2006. Saints of the German – Speaking Lands. Printed with the blessing of His Grace  Longin, Serbian Orthodox Bishop of the U.S.A. and Canada, New Gracanica Metropolitanate, and Bishop Adminstrator of Serbian Orthodox Diocese of Western America. Thirty-fourth year of publication. Copyright 2006 by the St. Herman of Alaska Brotherhood. 2006.

3. From Wikipedia, the free encyclopedia: Apostle (Christian), List of Eastern Orthodox saint titles

4. From OrthodoxWiki: Saint titles

5. orthodoxphotos.com : How Saints are Called

6. Rev. Nicon D. Patrinacos M.A., D. Phil. (Oxon). A Dictionary of Greek Orthodoxy. With a Foreword by Archbishop Iakovos, Primate of the Greek Orthodox Church in the Americas. Hellenic Heritage Publications. Pleasantville. N.Y. 10570. Second Printing. February 1987.

Gelar-Gelar Orang Kudus di Gereja Orthodox Timur (1)

Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Orang-orang melayani Allah dengan cara yang berbeda. Bapa Surgawi mencurahkan talenta-talenta dalam ukuran yang diperlukan dan menerima karya-karya masing-masing orang dalam kemuliaanNya. Gereja memuliakan para pekerja Allah dalam peringkat yang berbeda.

Tokoh-tokoh suci Gereja Orthodox Timur memiliki berbagai gelar-gelar orang kudus lazim dimana mereka diperingati pada kalender liturgis dan dalam Liturgi Suci.

Daftar berikut menjelaskan referensi itu:

1.Para Malaikat Kudus (Angels) - adalah roh-roh inkorporeal (Bodiless Powers; segenap kuasa sorgawi yang tak berjasad jasmani), para hamba Allah, para utusan dari kehendak-Nya.
Misal:
Malaikat Agung St. Mikhael dan lain: Malaikat Agung St. Gabriel, St. Raphael, St. Uriel, St. Salaphiel, St. Jedudiel, St. Barachiel, dan St. Jeremiel

2. Sang Nabi/Nabiah (Prophet; Prophetess atau seer; bhs. Yunani: προφήτης profitis yang berarti “meramalkan”): adalah orang kudus (nabi=laki-laki; nabiah=wanita) Perjanjian Lama yang yang menubuatkan masa depan atau menerima karunia kemampuan untuk tahu akan hal-hal masa depan dari Allah, yang berkaitan dengan dunia jalan penyelenggaraanNya. Seorang kudus Perjanjian Lama yang berbicara dengan ilham ilahi atau sebagai penafsir melalui siapa kehendak allah dinyatakan.
Di antara para nabi yang paling dihormati adalah:
1. Nabi Musa atau digelari Moshe Rabbenu (Ibrani: רַבֵּנוּ מֹשֶׁה, Musa Sang Guru/Rabbi kami) (bhs. Ibrani: מֹשֶׁה‎, Moshe, Mōšéh; bhs. Arab: موسىٰ Mūsa) (1391-1271 SM)
2. Nabi dan Raja Daud (bhs. Ibrani: דָּוִד, דָּוִיד, David, Dāwîḏ;; bhs. Arab: داود, Dāwūd) (kira-kira 1040–970 S.M.)
3. Nabi Sulaimān Raja Israel (bhs. Ibrani: שְׁלֹמֹה, Shlomoh, Šəlōmōh; bhs. Arab: سليمان‎ Sulaymān) (kira-kira 971 - 931 S.M.)
4. Nabi yang Mulia Elia (bhs.Ibrani: אליהו, Eliyahu; bhs.Arab: إلياس, Ilyās) (abad 9 S.M.)
5. Nabi Yunus bin Amittai (bhs.Ibrani: יוֹנָה, Yônā ; bhs.Arab: يونس‎, Yūnus) (sekitar abad 8 S.M.)
6. Nabi Daniel (bhs.Ibrani: דָּנִיֵּאל, Daniyyel ; bhs.Arab: دانيال, Danyal) (abad 7 - 8 S.M.)
7. Nabiah Sarah, Hana/Chana, Deborah/Dvorah, Miriam, Esther, Abigail/Avigail dan Hulda
8. Nabi Kudus yang Mulia, Sang Bentara Kristus dan Perintis Jalan, St. Yohanes Sang Pembaptis (bhs.Ibrani: המטביל יוחנן, Yoḥanan ha-mmatbil, bhs.Arab: يحيى‎ Yahyá atau يوحنا المعمدان Yūhannā al-ma’madān) (kira-kira 6–2 S.M. – kira-kira 36 M.)

3. Para Rasul (Apostles): adalah murid Kristus, menyertai-Nya dalam pelayanan umumNya di masyarakat, dan kemudian menyebarkan iman ke seluruh dunia.
Misal:
1.) St. Petrus Sang Rasul (bhs. Yunani: Πέτρος, Pétros) atau St. Simon Kephas (bhs Yunani: Σιμων Κηφᾶς, Simōn Kēphas; Aramaik: Šimʻōn Kêfâ‎; Syria: Sëmʻān Kêfâ), yang Terutama/Dituakan dari Para Rasul (1 S.M.-67 M.). Nama aslinya adalah Simon bar Yunus; [Mrk. 3:16] adalah seorang nelayan dari Betsaida "di Galilea" [Yoh 1:44], lih. Yoh 12:21. Juga dikenal sebagai Simon bar Jochanan (Aram), Kefas (Aram.), dan Simon Petrus. Setelah bekerja untuk mendirikan gereja Antiokhia selama tujuh tahun memimpin sebagai uskup kota dan berkotbah kepada komunitas-orang percaya (Yahudi, Kristen Ibrani dan orang kafir), di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, Petrus pergi ke Roma, karena itu St. Petrus adalah Patriarkh pertama dari Takhta Suci Rasuliah Patriarkhat Antiokhia, Gereja Orthodox Syria (tahun 45-53).
2.) St. Andreas Sang Rasul (bhs. Yunani: Ἀνδρέας, Andreas; awal abad ke-1-pertengahan hingga akhir abad 1), dalam tradisi Orthodox disebut sebagai Prōtoklētos, atau Yang Pertama-Dipanggil, adalah Rasul Kristen dan saudara Santo Petrus, seorang nelayan Betsaida, dan mantan murid St. Yohanes Pembaptis. Nama "Andreas" (bhs. Yunani: jantan, berani, dari ἀνδρεία, Andreia, "kedewasaan, keberanian"), seperti nama Yunani lainnya, tampaknya telah umum di kalangan orang-orang Yahudi dari abad ke-3 SM atau 2. Tidak ada nama Ibrani atau bahasa Aram dicatat baginya. Dia dianggap sebagai pendiri dan uskup pertama Gereja Byzantium dan akibatnya santo pelindung dari Patriarkhat Ekumenis Konstantinopel.
3.) St. Yakobus Sang Rasul (wafat 44; bhs. Ibrani: יעקב, Ya’aqov) adalah salah satu dari keduabelas rasul Yesus. Ia adalah putra dari Zebedeus dan Salome, juga merupakan saudara dari St. Yohanes, ia dan saudaranya disebut Bo-aner'ges yang berarti anak-anak guruh. Ia disebut Yakobus besar untuk membedakannya dengan rasul lainnya yakni Yakobus anak Alfeus.
4.) St. Yohanes Sang Rasul (kira-kira 6 – kira-kira 100) atau Yohanes Sang Murid Terkasih (bhs. Yunani Kuno: Ἰωάννης; Ionnes), saudara St. Yakobus. Yesus menamakan keduanya Bo-aner'ges, yang berarti "anak-anak guruh'.'"[ Mrk 3:17]
5.) St. Filipus (bhs. Yunani: Φίλιππος, Philippos; wafat kira-kira 80): Dari Betsaida di Galilea [Yoh. 1:44] [12:21]. Tradisi Kristen kemudian menjelaskan Filipus sebagai rasul yang berkhotbah di Yunani, Suriah, dan Frigia.
6.) St. Bartolomeus Sang Rasul (wafat abad 1; bhs. Yunani: Βαρθολομαίος; transliterasi: "Bartholomaios") berasal dari bahasa Aram bar-Tôlmay (תולמי - בר), berarti putra Tolmay (Ptolemy) atau anak dari furrows (mungkin pembajak), putra Talemai, biasanya diidentifikasi dengan Natanael, yang disebutkan dalam Yoh. 1:45-51. Bersama dengan sesama Rasul, St. Yudas Tadeus, Bartolomeus dianggap telah membawa Kekristenan ke Armenia di Kaukasia pada abad ke-1, bahkan ke India. Jadi kedua orang kudus ini dianggap orang-orang kudus pelindung dari Gereja Apostolik Armenia dan Gereja Orthodox Assyria Timur (Gereja Nestorian).
7.) St. Matius Sang Rasul dan Penginjil (wafat abad 1; מתי/מתתיהו, "Anugerah dari Yahweh", Ibrani Standar dan Ibrani Tiberian: Mattay or Mattithyahu; bhs. Yunani Septuaginta: Ματθαῖος, Matthaios), adalah si pemungut cukai. Kesamaan antara Mat. 9:9-10, Mrk 2:14-15 dan Luk. 5:27-29 mungkin menunjukkan bahwa Matius juga dikenal sebagai Lewi.
8.) St. Thomas Sang Rasul (wafat 72): Yudas Thomas Didimus - = bhs. Aram: Toma' = kembar, dan bhs. Yunani: Didymos = kembar. Thomas si peragu. St. Thomas melakukan karya misi sampai ke Syria, Persia dan India. Gereja Orthodox Syria Malankara percaya bahwa Rasul Thomas mendirikan Gereja di India dan Katolikos Orthodox Malankara pertama. Begitu juga Gereja Assyria Timur atau Gereja Nestorian yang disebut juga Gereja Assyria Timur yang Kudus, Katolik dan Apostolik menganggap Mar Thoma Shilkha (St. Thomas Sang Rasul), Tulmay (St. Bartolomeus Sang Rasul) dan Mar Addai (St. Thaddeus dari Edessa) sebagai Katolikos-Patriarkhnya yang pertama.
9.) St. Yakobus Sang Rasul, anak Alfeus (wafat 62; bhs. Yunani: Ἰάκωβος, Iakōbos). Umumnya diidentifikasi dengan "Yakobus Kecil", dan juga dikenal dengan "Yakobus yang Adil".
10.) St. Yudas Tadeus Sang Rasul (wafat abad 1): Dalam beberapa manuskrip Matius, nama "Lebbaeus" terjadi di tempat ini. Tadeus secara tradisional diidentifikasi dengan Yudas; lihat di bawah.
11.) St. Simon orang Zelot Sang Rasul bhs. Ibrani Standar: Šim’on, Ibrani Tiberian: Šim’ôn), Simon Zelotes, Simon Kananaios atau Simon Cananeus (wafat 107): Beberapa telah mengidentifikasi dirinya dengan Simeon dari Yerusalem.
12.) St. Matthias Sang Rasul (wafat kira-kira 80; transliterasi Ibrani: Mattityahu)), yang menggantikan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus
13.) St. Paulus dari Tarsus (bhs. Yunani Kuno: Παῦλος (Paulos); Ibrani: שאול התרסי‎; Ša’ul HaTarsi) , Rasul untuk kaum Goyim (bangsa-bangsa kafir) (kira-kira 5 –67M.)
14.) St. Barnabas Sang Rasul (bhs. Yunani Kuno: Βαρναβᾶς), Rasul untuk Antiokhia dan Siprus (wafat 61)
15.) St. Silas atau St. Silvanus (wafat kira-kira 50) (bhs. Yunani:. Σίλας / Σιλουανός) adalah anggota terkemuka dari komunitas Kristen awal, yang kemudian menemani Paulus dalam beberapa perjalanan misinya.
16.) St. Andronicus dari Pannonia dan Junia (abad 1)
17.) St. Timótius (kira-kira 17-80; bhs. Yunani: Τιμόθεος; Timótheos), Uskup Efesus
18.) St. Apollos (bhs. Yunani: Απολλως; berasal dari: Apollonius), Uskup Korintus (abad 1)
19.) Tujuh Puluh Murid atau Tujuh puluh dua murid atau 70 Rasul-rasul: St. Yakobus, saudara Tuhan, St. Kleopas, Uskup Yerusalem, St. Prochorus, Uskup Nicomedia, St. Timon, Uskup Bostra, St. Parmenas, Uskup Soli, St. Nicolaus, Uskup Samaria, St. Barnabas, Uskup Milan, St. Stachys, Uskup Byzantium dan Patriarkh kedua Patriarkhat Konstantinopel, St. Fiilemon, Uskup Gaza, St. Thaddeus dari Edessa, St. Markus Sang Penginjil dan Patriarkh pertama Gereja Orthodox Patriarkhat Alexandria, dll.

4. Yang disamakan dengan para Rasul (Equal-to-the-Apostles; bhs. Yunani: ἰσαπόστολος, isapostolos; Rusia: равноапостольный, ravnoapostolni): adalah orang kudus yang, seperti Para Rasul, bekerja keras untuk mengubah negara dan bangsa untuk Kristus, yaitu orang yang sangat berkarya membangun Gereja, baik melalui karya misionaris secara langsung atau melalui membantu tempat Gereja dalam masyarakat
Misal:
1. Sang Pembawa Rempah-rempah Kudus dan Yang disamakan dengan para Rasul St. Maria Magdalena (abad 1)
2. Yang disamakan dengan para Rasul St. Photini, Wanita Samaria di Sumur (abad 1)
3. Yang disamakan dengan para Rasul St. Thekla, Perawan dan Martir (abad 1)
4. Yang disamakan dengan para Rasul St. Aberkius Uskup dan Pelaku Mukjizat dari Hieropolis (abad ke 2)
5. Yang disamakan dengan para Rasul St. Konstantin I, Agung (sekitar 272 – 337) dan ibunya St. Helena dari Konstantinopel (sekitar 250 –330)
6. St. Patrick, Rasul dari Irlandia (abad ke 5)
7. St. Kirill (827 – 869) dan St. Methodius (826 – 885), para Uskup, Konfesor, Yang disamakan dengan para Rasul dan Rasul untuk bangsa Slavia.
8. St. Boris I dari Bulgaria, kadang dikenal sebagai St. Boris-Mihail (Michael) (Борис-Михаил), juga St. Bogoris (meninggal 907), Pangeran dan Pembaptis Bulgaria dan Yang disamakan dengan para Rasul.
9. Yang Terberkati dan Yang disamakan dengan para Rasul St. Olga dari Kiev, juga digelari St. Olga Prekrasa (Ольга Прекраса) atau St. Olga yang Cantik (kira-kira 890 – 969)
10. St. Vladimir Svyatoslavich Agung (bhs. Slavonik Timur Kuno: Володимѣръ Свѧтославичь) atau St. Vladimir I dari Kiev, Pangeran Agung dari Kiev dan Pembaptis dari Rus (kira-kira 958 – 1015)
11. St. Kosmas dari Aetolia, St. Kosmas Orang Aetolian atau Patrokosmas ("Bapa Cosmas") (bhs. Yunani: Κοσμάς Αιτωλός, Kosmas Aitolos) (1714 – 1779), Sang Pencerah Yunani, Imam Syuhada Baru dan Yang disamakan dengan para Rasul
12. St. Nikholai Kasatkin, Yang disamakan dengan para Rasul dan Uskup Agung dari Jepang (1836 – 1912)

5. Para Hierarki Kudus (Hierarchal Saints): adalah para patriarkh, metropolitan, uskup agung dan uskup, yang mencapai kesucian dengan memperhatikan dengan tak kenal lelah dari kawanan domba (umat) mereka, menjaga iman Orthodox dari bidat dan perpecahan. Di antara sejumlah besar dari mereka terutama yang dihormati rakyat Rusia adalah berikut:
1. St. Nicholas Sang Pelaku Mukjizat, Uskup Agung dari Myra di Lycia (270-345)
2. St. Basilius yang Agung atau St. Basilius dari Caesarea, Uskup dari Caesarea Mazaca di Cappadocia, Asia Minor (Turki) (329-379)
3. St. Gregorius dari Nazianzus atau St. Gregorius Sang Teolog, Uskup Agung Konstntinopel (330 - 389 atau 390)
4. St. Yohanes Krisostomus, Patriarkh dan Uskup Agung Konstntinopel (349 - 407)
5. Para Hierarkis Moskow: St. Petrus (wafat 1326), St. Aleksei (wafat 1378), St. Iona (wafat 1461), St. Filipus (wafat 1569), St. Hermogenes (Germogen) (wafat 1612), St. Philaret (wafat 1867), St. Innocentius (Veniaminov) (wafat 1879) dan St. Tikhon (wafat 1925), para Metropolitan dari Moskow

6. Sang Protomartir (Protomartyr; bhs. Yunani Koine: πρότος prótos "pertama" + μάρτυρας mártyras "martir"): martir Kristen pertama di dalam wilayah tertentu atau di sebuah negara. Sebagai alternatif, frase Protomartir (tanpa kualifikasi lain dari negara atau wilayah) dapat berarti martir pertama dari gereja Kristen.
Misal:
1. Yang Kudus, Mulia dan Terpuji St. Stefanus Sang Protomartir, Rasul dan Diakon Agung (wafat 34 AD)
2. St. Tekla, Sang Perawan dan martir perempuan pertama (wafat abad 1 AD)
3. St. Alban Sang Protomartir dari Inggris (kira-kira 305)
4. St. Gayane dan St. Hreespseemeh, Protomartir Armenia (sekitar 209)
5. St. Vincensius dari Saragossa Protomartir Spanyol (wafat kira-kira 304)
6. St. Rajden atau St. Razdhen dari Tsromi Martir Pertama Persia (wafat 457)
7. St. Adalbert, Czech: Vojtěch; Polandia: Wojciech, (kira-kira 956 – 23 April 997), Uskup Prague, missionaris dan Protomartir Polandia
8. St. Juvenaly dari Alaska, atau Juvenal, Protomartir dan Hieromartir dari Amerika (1761-1795)

7. Sang Martir atau Sang Syuhada (Martyr): adalah yang di antara orang-orang kudus merupakan mayoritas, mereka memasuki kemartiran melalui penderitaan dan kematian dalam nama Kristus, karena iman yang benar, karena menolak untuk melayani berhala. Seorang martir adalah seseorang yang menderita penganiayaan dan kematian karena menolak untuk meninggalkan keyakinan atau penyebab, biasanya agama. Seorang Martir Kristen adalah orang yang memberi hidupnya untuk Kristus, mati secara fisik sebagai saksi iman. Martir sendiri berasal dari bahasa Yunani: μάρτυς, mártys μαρτυρος , yang berarti "saksi", berasal μάρτυρ-, martir-). Pada jenjang liturgis tradisional, martir adalah yang pertama diantara orang-orang kudus.
Misal:
1. Martir St. Djan Darada, orang kasim (sida-sida) Ethiopia (Eunuch; saris; seorang pria yang dikebiri) dari Ratu Sri Kandake (sekitar abad 1 M)
2. Martir Anak St. Vasilissa (300-309)
3. Martir St. Bargabdesian, Diakon di Arbela di Assyria (wafat 354)
4. Martr St. Manuel, St. Sabel dan St. Ismael dari Persia (wafat 362)
5. Martir Ratu Kudus St. Sushanik dari Georgia (wafat antara 476-483),
6. Martir Anak St. Philothea (Philofthea atau Philothei) dari Pelindung Romania (1206-1208)
7. Martir St. Shalva dari Akhaltsikhe, Georgia (wafat 1227)
8. Para rahib dari Monasteri (biara) Iveron yang dimartir oleh orang-orang Latin pada abad 13
9. Abbas St. Makarius dan 34 rahib dan novis Monasteri Valaam yang dimartir oleh kaum Protestan Lutheran: : hieromonakh/imam rahib Titus, rahib skhema Tikhon, rahib Gelasius, Sergius, Varlaam, Sabbas, Konon, Silvester, Kyprianus, Pimen, Yohanes, Simonas, Iona, Daud, Kornelius, Niphon, Athanasius, dan Serapion, dan para novis Varlaam, Athanasius, Anthonius, Lukas, Leontius, Thomas, Dionysius, Filipus, Ignatius, Basil, Pakhomius, Basil, Theofilus, Yohanes, Theodorus, dan Yohanes (wafat 1578)
10. Martir Anak St. Gabriel dari Zabludov (wafat1690)
11. Para Martir Anak dari Kekaisaran Suci Rusia: St. Alexis, St. Olga, St. Tatiana, St. Maria dan St. Anastasia (wafat 1918)
12. St. Sergius (Florinskiy), Seorang imam di Rakvere di Estonia (wafat 1918)
13. Martr Baru Tentara St. Evgeny dari Chechnya (23 Mei 1977 - 23 Mei 1996).

8. Sang Martir Agung atau Sang Syuhada Agung (Great-martyr; bhs. Yunani: μεγαλομάρτυρ, megalomartir, dari megas, "agung" + "martir"): orang yang mati syahid (mati sebagai martir; mengalami kemartiran) karena iman dan menderita penyiksaan, terutama melalui hukuman keji.
Misal:
1. St. Pantaleon atau St. Panteleimon, Sang Tabib tanpa Bayaran dan Martir Agung (kira-kira 275 - 303 AD)
2. St. Georgius Sang Martir Agung dari Lydda (kira-kira 275/281-303)
3. St. Katherina Sang Martir Agung dari Alexandria (kira-kira 282-305)
4. St. Barbara Sang Martir Agung (wafat 306)
5. St. Menas dari Mesir, Sang Martir Agung dan Pelaku Mukjizat (285 – kira-kira 309)
6. St. Theodorus Stratelates ("sang Jenderal"), dikenal juga sebagai St. Theodorus dari Heraclea, seorang Martir Agung dan Orang Kudus Prajurit (wafat 8 Februari 319)
7. St. Stefan Lazar Hrebeljanović (Kirillik Serbia : Стефан Лазар Хребељановић) (1329 – 28 Juni 1389)

9. Sang Imam Martir atau Sang Imam Syuhada (Hieromartyr): seorang martir yang juga seorang imam, yaitu mereka yang menderita kematian sebagai imam.
Misal:
1. Imam Martir St. Isidorus dan 72 sahabatnya di Yuriev (Dorpats) di Estonia, yang dibunuh oleh kaum Latin pada tahun 1472
2. Imam Martir St. Theodorus dari Kvelta, Georgia (wafat 1609)
3. St. Hermogenes (Patriarkh anti-Katolik dari Moskow "yang dimartir" oleh kaum Katolik) [1530-2/17/1612]
4. St. Juvenaly dari Alaska, atau Juvenal, Protomartir dan Hieromartir dari Amerika dan Alaska (1761-1795)
5. Hieromartir St. Metrophanes dan para Martir Baru dari Pemberontakan Pendekar (Boxer Rebellion; Yihetuan Movement), di Peking dan tempat-tempat lain (wafat 1900)
6. Hieromartir St. Hermogen dari Tobolsk (25 April 1858 - wafat 1918)
7. Imam Martir Baru (New Hieromartyr) St. Sergius Florensky dari Rakvere, Estonia (wafat 1918)

10. Sang Perawan-Martir (Virgin-martyr): seorang yang tidak menikah, non-monastik, martir perempuan yang masih suci
Misal:
1. Sang Perawan-Martir St. Seraphima dari Antiokhia (abad ke-2)
2. St. Archelais, St. Thecla, dan St. Susanna, yang dipenggal di Salerno (wafat 293)
3. St. Theodosia, Sang Perawan-Martir dari Tyre (wafat 308)
4. St. Potamiaena, Sang Perawan-Martir dari Alexandria (wafat 420)
5. Sang Perawan-Martir St. Yulia dari Kartago (wafat 440)
6. St. Cunera, Sang Perawan-Martir dari Rhenen, Netherland (wafat 451)
7. Sang Perawan-Martir St. Marcella dari Chios (wafat sekitar 1500)

11. Sang Martir Baru atau Neo Martir (New-martyr; bhs. Yunani: νεο, neo, prefiks bagi "baru ", dan μάρτυς, martys, "saksi"): seorang martir sering menyandang nama yang sama sebagai seorang martir lebih kuno, tetapi biasanya lebih baru dalam sejarah Gereja. Di Gereja Orthodox Timur pada awalnya diberikan kepada para martir yang meninggal di bawah penguasa bid'ah (mula-mula para martir yang di bawah kaum kafir). Kemudian Gereja menambahkan ke daftar mereka yang syahid (mengalami kemartiran) di bawah Islam dan berbagai rezim modern, khususnya yang Komunis, yang didukung ateisme militan. Secara resmi, era dari para Martir Baru dimulai dengan jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453. Di antara mereka diperingati tidak hanya mereka yang memberikan hidup mereka dalam kemartiran, tetapi juga mereka yang dicatat sebagai para Pengaku Iman (Konfesor) bagi Iman Orthodox.
Misal:

Martir Baru di bawah penguasa Turki:
1. St. Ahmad Sang Pelukis Kaligrafi (wafat 3 Mei 1682) the Deftedar
2. St. Kosmas dari Aetolia (1714 - 1779)
3. St. Paisius dan Habakkuk para rahib di monasteri Tavna dekat Čačak di Serbia (wafat 17 Desember 1814)
4. St. Konstantin Hagarit (2 Juni 1819)
5. St. Habeeb Kheshy (1894-1948)

Martir Baru di bawah penguasa komunis:
1. St. Elizabeth Fyodorovna, Grand Duchess (Puteri Bangsawan Agung) dan Biarawati dari Russia (24 Februari 1864 – 18 Juli 1918)
2. St. Nikolay II atau St. Nikolay Alexandrovich Romanov, Tsar terakhir Rusia (18 Mei 1868 – 17 Juli 1918)
3. St. Varvara Yakovleva. Biarawati (wafat 18 Juli 1918)
4. St. Benjamin/ Veniamin (Kazansky), Sang Martir Kudus, Metropolitan dari Petrograd and Gdovsk (17 April 1873 – 13 August 1922)
5. St. Tikhon Patriarkh dari Moskow (31 Januari 1865 – 7 April 1925)

Martir Baru Serbia:
1. St. Platon Uskup dari Banja Luka (29 September 1874 - 5 Mei 1941)
2. St. Rafailo (Momcilović), arkhimandrit, igumen dan ikonografer dari Monasteri Šišatovac (23 April 1875 – 3 September 1941)
3. St. Gorazd Uskup dari Prague yang dieksekusi oleh Nazi Jerman (26 Mei 1879 – 4 September 1942)
4. St. Joanikije (Lipovac) Metropolitan Keuskupan Montenegro dan daerah pesisir di Yugoslavia (16 Februari 1880 – 20 Juli 1942)

Martir Baru dari Pemberontakan para Pendekar (Yihetuan Movement ; Boxer Rebellion):
1. St. Mitrophan Yang, Imam Martir Cina Pertama (Yang Jizhong atau Yang Jisong), istrinya St. Tatiana dan ketiga puteranya: St. Isaiah; St. Sergiy, imam; dan St. Ioann (wafat 11 Juni 1900)
2. St. Ia Sang Guru (wafat sekitar 11 Juni 1900)

Martir Baru Era Modern:
1. St. Maxim Sandovich, Imam Martir (wafat 6 August 1914), dieksekusi oleh Kekaisaran Austria-Hongaria
2. St. Philoumenos (Hasapis) (15 Oktober 1913 - November 16, 1979), Arkhimandrit dan Igumen dari biara Orthodox Yunani Sumur Yakub dekat kota di Samaria, sekarang disebut Nablus (Neapolis), di Tepi Barat, dibunuh oleh ekstremis Zionis Yahudi
3. St. Paulus de Ballester-Convallier, Uskup Nazianzus di Mexico, sebelumnya seorang biarawan Fransiskan (1927-1984)
4. St. Yohanes (Karastamatis) dari Santa Cruz (1937-1985), dibunuh oleh kaum Satanis (pemuja setan)
5. Alexander Men Sang Martir (1935-wafat 9 September 1990)
6. Imam Rahib –Martir Nestor (Savchuk) (wafat 31 Desember 1993)
7. Para Martir Baru dari Pertapaan Optina: Imam Rahib Vasily (Igor Roslyakov), Rahib Trophim (Alexei Tatarnikov), Rahib Ferapont (Vladimir Pushkariov), dibunuh oleh kaum Satanis (wafat malam Paskah 1993)
8. Rahib José Muñoz-Cortes (Chili, 1950 – wafat di Yunani, 31 Oktober 1997) – belum dikanonisasikan
9. Daniel Sysoyev, Konfesor dan Martir (1974 – wafat 19 November 2009), dibunuh seorang Muslim militan

Senin, 23 Mei 2011

Gereja-gereja Orthodox di Iran pada Masa Kekaisaran Parthia hingga Masa Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi

Oleh:
Presbiter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

I. Iran (Persia) dan Gereja-Gereja Orthodox yang Apostolik

Iran (atau Persia) (bahasa Persia: ایران) adalah sebuah negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya. Meski di dalam negeri, negara ini telah dikenal sebagai Iran sejak zaman kuno, hingga tahun 1935 Iran masih dipanggil Persia di dunia Barat. Pada tahun 1959, Mohammad Reza Shah Pahlavi [Shah/Raja Iran (bahasa Farsi: پهلوی محمدرضا Moḥammad Rez̤ā Pahlavī) (lahir di Tehran, Iran, 26 Oktober 1919 – meninggal di Kairo, Mesir, 27 Juli 1980 pada umur 60 tahun), yang menyebut dirinya Yang Mulia Baginda, dan memegang gelar kerajaan Shahanshah (Raja segala raja), dan Aryamehr (Terang bangsa Arya), adalah kaisar Iran dari 16 September 1941 hingga Revolusi Iran pada 11 Februari 1979. Ia adalah kaisar kedua dari Dinasti Pahlavi and Shah terakhir dari monarki Iran] mengumumkan bahwa kedua istilah tersebut boleh digunakan. Nama Iran adalah sebuah kognat perkataan "Arya" yang berarti "Tanah Bangsa Arya".

Iran berbatasan dengan Azerbaijan (500 km) dan Armenia (35 km) di barat laut dan Laut Kaspia di utara, Turkmenistan (1000 km) di timur laut, Pakistan (909 km) dan Afganistan (936 km) di timur, Turki (500 km) dan Irak (1.458 km) di barat, dan perairan Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan.

Pada tahun 1979, sebuah Revolusi Iran yang dipimpin Sayyid Ayatollah Ruhollah Khomeini (lahir di Khomein, Provinsi Markazi, 24 September 1902 – meninggal di Tehran, Iran, 3 Juni 1989 pada umur 86 tahun) mendirikan sebuah Republik Islam teokratis sehingga nama lengkap Iran saat ini adalah Republik Islam Iran.

Dalam sejarahnya Iran (Persia) dibagi atas:

1.1 Sejarah awal, Kekaisaran Media dan Kekaisaran Achaemenid (3200 SM – 330 SM)
1.2 Kekaisaran Iran Ketiga: Kekaisaran Parthia (248 SM – 224 M)
1.3 Kekaisaran Iran Keempat: Kekaisaran Sassania (226–651)
1.4 Islam Persia dan Zaman Kegemilangan Islam Persia (700–1400)
1.5 Islam Syi'ah, Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi dan Iran Modern (1501 – 1979)
1.6 Revolusi Islam dan Perang Iran-Irak (1979-88)

Di Iran (Persia) sejak masa Kekaisaran Iran Ketiga: Kekaisaran Parthia sudah ada Gereja Orthodox yang dikenal sebagai Gereja Assyria Timur atau Gereja Nestorian disebut juga Gereja Assyria Timur yang Kudus, Katolik dan Apostolik (Bhs. Syriac: ܥܕܬܐ ܩܕܝܫܬܐ ܘܫܠܝܚܝܬܐ ܩܬܘܠܝܩܝ ܕܡܕܢܚܐ ܕܐܬܘܪ̈ܝܐ) (‘Ittā Qaddishtā wa-Shlikhāitā Qattoliqi d-Madnĕkhā d-Āturāyē) (Arab: كنيسة المشرق الاشورية الرسولية الجاثلقية المقدسة), adalah Gereja Kristen yang berasal Takhta Suci Babilon yang didirikan oleh St. Thomas Sang Rasul (antara tahun 33-77 Masehi). Beberapa orang menamakan Gereja Orthodox Assyria. Di Barat dikenal secara tidak tepat sebagai Gereja Nestorian. Mereka berasal dari orang-orang Kristen dari Gereja Syria Timur yang tinggal di wilayah Kerajaan Persia. Mereka menerima ajaran Injil dari Rasul Mar Thoma Shilkha (St. Thomas Sang Rasul - th. 33-77) dan Mar Addai, (St. Thaddeus Sang Rasul, salah satu dari ketujuh puluh Utusan - th. 33-66), salah satu dari ke 70 Utusan (Lukas 10:17) yang mengabarkan Injil ke Mesopotamia antara tahun 33-66 Masehi.

Gereja Assyria Timur ini banyak mengalami penderitaan yang dialaminya sejak dari masa para Shah Persia, Arab Muslim, para Khan Mongolia hingga jaman modern ini, sehingga Gereja Assyria Timur dikenal oleh para sarjana dan ahli sejarah sebagai “Gereja Para Martir” (“The martyrs’ church”) karena tidak sebuah Gerejapun mengalami penderitaan sebanyak kemartiran Kekristenan Gereja Assyria Timur ini.

Kadang-kadang Gereja Assyria diasosiasikan dengan Gereja Nestorian, yaitu yang melangsungkan ajaran Nestorius, Patriarkh Konstantinopel (kira-kira 386– 451) yang dipecat tahun 431 M, walaupun data paling akhir tidak sepakat dengan dugaan ini. Ajaran mereka sebenarnya tak sejauh bidat Nestorianisme yang dituduhkan pada mereka, dan praktek-praktek mereka tak beda dengan praktek-praktek Gereja Orthodox lainnya. Dalam segi aqidah (ajaran), ibadah dan mu’amallah (praktek kehidupan dan kemasyarakatan) Gereja Nestorian ini tidak berbeda secara hakiki dengan Gereja Orthodox lainnya, kecuali dalam hal Kristologi mereka. Itupun sekarang sedang dalam dialog dengan Gereja Orthodox Kalsedon Antiokhia, Syria, maupun Gereja Yakobit (Non Kalsedon), dan bahkan dengan Gereja Katolik Roma. Sehingga ada beberapa sarjana modern yang menyebut mereka sebagai Gereja Orthodox pre-Efesus/pre-Kalsedonian.

Selain ini di Iran juga ada Gereja Orthodox Apostolik Armenia (Bahasa Armenia: Հայ Առաքելական Եկեղեցի) pada masa Islam Syi'ah, yaitu pada masa Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi. Gereja Orthodox Apostolik Armenia adalah Gereja Nasional tertua di dunia dan satu dari komunitas Kristen Purba. Pengenalan iman Kristen yang paling awal ke Armenia adalah pada abad, ketika pewartaan pertama oleh dua Rasul Yesus, St. Thaddeus (43-66) (bahasa Armenia: Թադէոս [tʰɑdɛos] Tadeos, atau (bentuk pendek) Թադէ [tʰɑdɛ] Tadeh) dan St. Bartolomeus (60-68) (bahasa Armenia: Բարթողիմէոս [pʰɑɾtʰoʁimɛjos]). Gereja Apostolik Armenia berdiri sejak karya para Rasul itu. Gereja Armenia adalah salah satu dari Gereja-Gereja yang disebut Monofisit, atau atau pada masa kini akibat hubungan-hubungan ekumenis, untuk menghormati mereka disebut sebagai Gereja-Gereja Oriental Orthodox, atau Gereja-Gereja Timur Alur Kecil, atau Gereja-Gereja Orthodox Non-Kalsedonia.

Ikon Kebangkitan dari Gereja Assyria Timur atau Gereja Nestorian dari Alkitab bahasa Syria abad 13, biara Al-Za'faran – Turkey

Ikon Gereja Assyria Timur atau Gereja Nestorian Mor Afrem Suryoyo (St. Efraim dari Syria)(306 - 373 A.D.)


Banyak orang beranggapan Gereja Orthodox bukan satu, seperti yang dibesar-besarkan adalah perbedaan Orthodox pre-Kalsedonian, Non-Kalsedonian, dan Kalsedonian. Peneliti-peneliti yang hanya tertarik melihat perbedaan kecil sering hanya terpaku dengan data-data minor untuk membenarkan posisinya yang pada kenyataannya tidak seperti itu. Orthodoxia bagaimanapun harus dilihat secara menyeluruh sebagai yang menjaga tradisi rasuliyah dan Kredo Nikea-Konstantinopel. Sebaliknya heterodoxia (kaum heretik/bidat) adalah keluar dari iman Nikea-Konstantinopel tersebut. Tradisi pre-Kalsedonian (Gereja Assyria Timur/Nestorian) dengan tradisi Kalsedonian (Gereja Orthodox Timur, yaitu Eastern Orthodox Church) dan tradisi non Kalsedonian (Monofisit, Oriental Orthodox Church) tidak jauh berbeda karena keduanya memegang iman yang sama, sebab pada tahun 410 M, Gereja Assyria (pre-Kalsedonian) yang tidak hadir pada Konsili Ekumenis Nikea 325 dan Konstantinopel 381, oleh desakan Uskup-uskup Syria telah meratifikasi Kredo Nikea sehingga sudah masuk dalam Orthodoxia. Sebaliknya perbedaan antara Orthodox non-Kalsedonian (Orthodox Oriental/Monofisit) dan Kalsedonian (Eastern Orthodox Church), jelas tidak ada karena kedua tradisi itu sama-sama hadir di 3 Konsili pertama. Contohnya di Gereja Orthodox non Kalsedonian Syria, Koptik Mesir, Gereja Apostolik Armenia, maupun Gereja Orthodox Tewahedo Ethiopia, Afrika, terdapat juga penggunaan ikon-ikon yang berarti mengakui Kemanusiaan Firman Allah, sebagaimana yang telah diputuskan oleh Konsili Ekumenis Kalsedon dan dikuatkan oleh Konsili Ekumenis Nikea II 787 M.

II. Gereja-gereja Orthodox Armenia di Iran pada Masa Islam Persia dan Zaman Kegemilangan Islam Persia hingga Masa Islam Syi'ah, Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi

Mayoritas gereja-gereja di Iran yang memiliki nilai sejarah dan artistik dibangun sekitar abad ke delapan atau abad ke 14 AH (Latin: Anno Hegirae (pada tahun Hijriah); Indonesia: Kalender Hijriah; Arab: التقويم الهجري‎; at-taqwīm al-hijrī; Persia: تقویم هجری قمری ‎ taqvim-e hejri-ye qamari; Kurdi: Salnameya Hicrî; Turki: Hicri Takvim; Urdu: اسلامی تقویم Islami taqwīm; Malay: Takwim Hijrah), dan periode sesudahnya. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa tidak ada gereja-gereja yang ada di negara sebelum periode tersebut.

Selama masa pemerintahan Shah Abbas I Agung (1587 – 1629), raja Safawi (Kesultanan Safavid, 1502 - 1736), kebijakan cerdas itu menyebabkan sejumlah besar orang Armenia dari Armenia dan Azarbaijan untuk berpindah dan menetap di Esfahan dan daerah lain di Iran. Sebuah tempat disebut Jolfa dibangun di tepi Sungai Zayande-Rud di Esfahan dan menjadi tempat tinggal orang-orang bermigrasi ini. Akibatnya, gereja-gereja didirikan di kota itu. Sementara itu, setelah selang waktu yang singkat, beberapa orang Armenia pindah ke Gilan dan beberapa tinggal di Shiraz.

Gereja Beit-ol Lahm (Bethlehem) di Esfahan, Iran

Setelah kematian Shah Abbas Pertama, penggantinya, Shah Abbas Kedua (1642 - 1667), juga memberikan perhatian dekat dengan kesejahteraan orang-orang Armenia dan gereja-gereja lebih banyak didirikan di Jolfa.

Masuknya banyak orang Eropa selama masa pemerintahan dinasti Qajar (1794-1925) menyebabkan berkembangnya gereja-gereja lain, selain yang dibangun sebelumnya. Sejumlah bangunan-bangunan tersebut telah berlangsung dan mempunyai arti arsitektural dan artistik yang signifikan.

Azarbaijan adalah tuan rumah gereja-gereja tertua di Iran. Di antaranya yang paling signifikan adalah Tatavous Vank (Katedral St Tatavous), yang juga disebut Ghara Kelissa (biara hitam). Ini terletak di Siahcheshmeh (Ghara-Eini) batas wilayah selatan Makou. Ada juga gereja yang dikenal sebagai Santo Stepanous, yang berdiri pada 24 kilometer dari selatan kota Jolfa Azarbaijan.

Umumnya, setiap gereja memiliki aula besar untuk shalat jamaah (sembahyang harian umat); bagian terdahulunya dinaikkan seperti panggung, dihiasi dengan ikon-ikon atau gambar tokoh-tokoh agama dan juga berfungsi sebagai altar. Di sini, lilin-lilin yang dinyalakan dan ibadah Khidmat al-Quddus (Liturgi Suci) atau ibadah gereja adalah dilakukan oleh imam. Pada latar depan adalah jemaat melakukan sholat yang menghadap podium/panggung dimana imam memimpin ibadah di gereja, ini mirip dengan praktek kaum Muslim bershalat menghadap ke ceruk/relung di dalam masjid. Sementara liturgi yang sedang dilakukan, jemaah berdiri, berlutut, atau duduk, tergantung pada apa yang harus dilakukan dalam ibadah.

Struktur gereja-gereja di Iran mengikuti kurang lebih pola arsitektur Iran, atau mereka adalah campuran desain konstruksi Iran dan non-Iran.

III. Gereja-gereja Orthodox Bersejarah di Iran

1. Gereja Santo Stepanous

Ini adalah gereja tua lain yang terletak pada sebelah barat persimpangan dari jalan raya Marand-Jolfa dan timur dari jalan Khoy-Jolfa. Juga memiliki kubah piramida, itu, meskipun demikian, cukup indah dan jauh lebih menyenangkan untuk dilihat daripada gereja Santo Tatavous.

Gereja Santo Stephanos di Azarbaijan, Iran

Struktur umum kebanyakan menyerupai arsitektur Armenia dan Georgia dan bagian dalam bangunan ini dihiasi dengan lukisan yang indah oleh Honatanian, seorang seniman terkenal Armenia. Hayk Ajimian, seorang sarjana Armenia dan sejarawan, mencatat bahwa gereja itu awalnya dibangun pada abad kesembilan Masehi, tetapi dbangun-ulang akibat gempa bumi di Azarbaijan yang mengikis habis struktur sebelumnya. Gereja itu dibangun pada masa pemerintahan Syah Abbas Kedua.

2. Gereja Santa Maria di Tabriz:

Gereja ini dibangun pada abad keenam AH (abad ke-12 AD) dan dalam catatan perjalanannya, Marco Polo (lahir 15 September 1254 – meninggal 8 Januari 1324 pada umur 69 tahun), penjelajah terkenal Venesia, Itali, yang hidup pada abad ke delapan AH (abad ke-14 AD), menyebut gereja ini dalam perjalanannya ke China. Selama beberapa tahun lamanya, gereja Santa Maria melayani sebagai pusat Keuskupan Agung dari Armenia Azarbaijan. Gereja ini merupakan suatu bangunan besar yang dibangun indah dan megahnya, dengan bangunan ruang tambahan berbeda membentang di area yang luas. Sebuah dewan persahabatan Armenia mengatur agar gereja dihadiri dengan baik.

Selain dari tiga gereja di atas, ada gereja-gereja lain di Azarbaijan seperti gereja tua yang dibangun pada abad ke delapan AH di desa Modjanbar, yang terletak sekitar 50 kilometer dari Tabriz. Satu gereja lagi adalah gereja besar Santo Sarkis, terletak di Khoy, bangunan ini telah selamat dari masa Shah Abbas yang Kedua (abad ke-12 AH). Selama masa pemerintahan raja Safawi dikatakan, bangunan besar lain yang disebut gereja Santo Gevorg (Santo Georgius atau Jurjis) dibangun, menggunakan batu marmer dan dirancang dengan kubah besar, di desa Haft Van dekat Shapur (Salmas). Sebuah gereja, juga dengan kubah sangat besar, juga berdiri di desa Derishk di sekitar Shapur, di Azarbaij

3. Monasteri/Biara Santo Tatavous atau Ghara Kelissa:

Awalnya, gereja ini terdiri dari sebuah ruang kecil dengan kubah berbentuk piramida di bagian atas dan 12 celah-celah mirip dengan bangunan berbentuk kubah Islam dari era Mongol. Perbedaannya adalah bahwa kubah gereja terbuat dari batu. Bagian utama dari struktur piramida diikuti arsitektur Bizantium (Romawi Timur), termasuk pinggiran horizontal dan paralel terbuat dari batu-batu putih dan hitam pada interior dan batu-batu hitam pada bagian yang menghadap eksterior.

Gereja Santa Maria di Jolfa Square di Esfehan, Iran

Karena fasad (bagian muka gedung) didominasi oleh batu-batu hitam, gereja itu sebelumnya disebut Ghara Kelissa (atau biara hitam) oleh penduduk asli. Selama masa pemerintahan penguasa Qajar, Fath'Ali Shah (1797 – 1834), struktur baru yang ditambahkan ke gereja Santo Tatavous atas pemerintah Abbas Mirza (26 Agustus 1789 – 25 Oktober 1833), putra mahkota, dan gubernur Azarbaijan. Renovasi-renovasi mengakibatkan perluasan ruang sholat dan gereja tua kecil diubah menjadi panggung sholat, ruangan altar, ornamen-ornamen suci dan tempat dimana imam dapat memimpin shalat. Menara lonceng dan pintu masuk gereja yang terletak di salah satu sisi bangunan baru, tapi sayangnya, bagian ini masih belum selesai.

Sementara itu, karena pertempuran di perbatasan dan kerusuhan-kerusuhan politik lainnya di daerah tersebut selama periode selanjutnya, gereja itu ditinggalkan dan hancur. Beberapa perbaikan kecil telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Setiap tahun, selama musim khusus (di musim panas), banyak orang Armenia dari semua bagian dari Iran melakukan perjalanan ke situs ini untuk berdoa dan berziarah. Mereka datang dengan jip-jip atau truk-truk setelah melintasi sebuah bagian pegunungan yang sangat sulit medannya. Mereka berkumpul di sekitar gereja, tinggal selama beberapa hari dan melakukan upacara-upacara agama mereka. Untuk sisa tahun lainnya, gereja tetap sunyi di daerah terpencil.

Penambahan dibuat untuk gereja Santo Tatavous atas perintah Abbas Mirza terdiri dari gambar-gambar ikon timbul dari para rasul pada fasad dan dekorasi bunga-bunga, semak-semak, bentuk singa dan matahari dan arabesque (seni dekorasi artistik Islam), semua yang telah dilakukan oleh para pengrajin Iran. Arsitektur interior gereja adalah kombinasi dari rancangan desain Bizantium, Armenia dan Georgia. Selain gereja besar, kamar khusus telah dibangun di halaman untuk tempat tinggal para peziarah dan para pertapa eremit.

4. Gereja-gereja bersejarah di Jolfa dari Esfahan

Gereja bersejarah yang paling penting di Iran adalah katedral tua, sering disebut sebagai Vank (yang berarti "katedral" dalam bahasa Armenia). Bangunan besar ini dibangun pada masa pemerintahan Shah Abbas Pertama dan benar-benar mencerminkan arsitektur Iran. Katedral ini memiliki kubah bata dua lapis yang sangat mirip dengan yang dibangun oleh Safawi. Bagian dalam gereja yang dihiasi dengan lukisan-lukisan yang mulia dan indah dan karya-karya miniatur yang mewakili tradisi-tradisi alkitabiah dan ikon-ikon malaikat dan rasul, semua yang telah dilaksanakan dalam campuran gaya Iran dan Italia. Langit-langit dan dinding dilapisi dengan ubin dari zaman Safawi.

Pada sudut halaman besar katedral, kantor-kantor dan ruang-ruang telah dibangun untuk menampung tamu, uskup agung Esfahan dan pengiringnya, serta hirarki keagamaan Armenia lain yang penting di Iran. Kompleks gereja juga mencakup sebuah museum yang terletak di gedung terpisah. Museum ini menampilkan catatan-catatan sejarah dan relikwi-relikwi yang dilindungi, dan fatwa raja-raja Iran yang bertanggal kembali ke zaman Shah Abbas Pertama. Hal ini juga berisi koleksi menarik dari karya seni.

Gereja Beit-ol Lahm (Bethlehem) di Esfahan, Iran

Esfahan memiliki gereja-gereja bersejarah lain, yang paling penting adalah Gereja Beit-ol Lahm (Betlehem) di Nazar Avenue. Ada juga gereja Santa Maria di Jolfa Square dan gereja Yerevan di daerah Yerevan.

5. Gereja Armenia di Shiraz:

Gereja Armenia di Shiraz yang dinamakan: "Sare Jouye Aramaneh"

Di bagian timur Ghaani Avenue, di sebuah distrik yang disebut "Sare Jouye Aramaneh", sebuah bangunan yang menarik telah selamat dari era Shah Abbas Kedua. Struktur utamanya berdiri di tengah-tengah kebun -seperti sebuah kompleks dan terdiri dari ruang shalat dengan langit-langit datar yang tinggi dan beberapa sel mengapit dua sisi bangunan. Langit-langit yang dihiasi dengan lukisan-lukisan asli dari era Safawi dan sel-sel bersebelahan dihiasi dengan relung dan lengkungan dan cetakan plester, juga dalam gaya Safawi. Hal ini dianggap sebagai monumen bersejarah di Shiraz dan pasti layak dikunjungi.

6. Gereja Santo Simon di Shiraz:

Gereja ini adalah secara relatif penting, tetapi bukan gereja yang terlalu tua di Shiraz. Aula besar benar-benar dilakukan dalam gaya Iran sementara atap Romawi. Kubah seperti gentong kecil, banyak karya seni Iran dan kaca jendela mosaik menghiasi gereja.

Sementara itu, gereja lain yang disebut Kemuliaan Kristus, berdiri di Ghalat, 34 kilometer dari Shiraz. Bangunan ini telah selamat dari periode Qajar dan dikelilingi oleh taman-taman yang menawan.

7. Gereja Santo Tatavous, Teheran:

Bangunan besar ini terletak di distrik Chaleh Meidan, salah satu distrik tertua di Teheran. Ia berdiri di sebelah selatan Mausoleum Seyed Esmail, pada awal dari bagian utara dari apa yang disebut Jalan Armenia. Gereja tertua dari Teheran, itu dibangun pada masa pemerintahan raja Qajar, Fat′h Ali Shah. Bangunan ini memiliki atap berbentuk kubah dan empat ceruk, sebuah altar dan kursi khusus diperuntukkan bagi pemimpin agama Armenia atau uskup. Ruang depan menuju ke gereja berisi kuburan orang Kristen non-Iran terkemuka yang telah meninggal di Iran, dan di tengah halaman gereja, Gribaydof, duta besar Tsar di istana Fat′h Ali Shah, dan rekan-rekannya telah dibaringkan untuk beristirahat. Mereka dibunuh oleh pasukan revolusioner Teheran pada waktu itu.

Sementara itu di Bushehr, ada sebuah gereja dari periode Qajar yang merupakan spesimen baik dari arsitektur Iran. Semua jendela adalah model setelah bangunan-bangunan Iran yang tua dan kaca-kaca berwarna adalah murni karya seni Iran.

Ada juga gereja-gereja lain di Ourumieh, di dusun sekitar Arasbaran, Ardabil, Maragheh, Naqadeh, Qazvin, Hameadan, Khuzestan, Chaharmahal, Arak, di utara desa Vanak lama di Teheran, dll. Gereja-gereja ini, meskipun semuanya ditinggalkan dan memiliki sedikit nilai artistiknya.

Referensi

1.____________. Is The Theology Of The Church Of The East Nestorian? “Orthodoxy and Catholicity in the Syriac Tradition with Special Attention to the Theology of the Church of the East in the Sasanian Empire” 24-29 June 1994. Holy Apostolic Catholic Assyrian Church of the East Commission on Inter-Church Relations and Education Development. Copyright 2002 Assyrian Church of the East. All rights reserved.

2. ____________. Iranian Visual Arts. Iranian Monuments. Historical Churches in Iran. Copyright © 2001-2011 Iran Chamber Society. http://www.iranchamber.com

3. Episkop Timothy Ware (Penterjemah : Arkhimandrit Daniel Bambang PhD). Mari Mengenal Kekristenan Timur. Sejarah Gereja Orthodox. Satya Widya Graha. 2001.

4. Fr. Marc Dunaway. (Editor Rm. Arkhimandrit Daniel Bambang). Apakah Gereja Orthodox Itu? Suatu Gambaran Singkat Tentang Iman Orthodox. Satya Widya Graha. Jakarta. 2001.

5. Rev John H Erickson, Dean. Beyond Dialogue: The Quest for Eastern and Oriental Orthodox Unity Today. Symposium on 1700th Anniversary of Christian Armenia. St. Vladimir’s Orthodox Theological Seminary. October 27-28, 2000. http://www.svots.edu.

6. From Wikipedia, the free encyclopedia: Iran, Armenian Catholic Patriarchs, Armenian Apostolic Church, Catholicoi of the Holy See of St. Etschmiadzin and All Armenians, Catholicoses and Patriarchs of Babylon and Ur of the Chaldees for the Chaldeans, Assyrian Church of the East.

7. Dan lain-lain.