Minggu, 19 Februari 2012

Pesan Patriarkh Kirill kepada Patriarkh Shenouda III dari Gereja Koptik

Diterjemahkan oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Sehubungan dengan serangan baru terhadap umat Kristen di Mesir, Bapa Suci Patriarkh Kirill dari Moskow-Nya dan seluruh Rusia telah mengirimkan pesan berikut ke Shenouda III, Paus dan Patriarkh Gereja Koptik:

Kepada: Yang Mulia Bapa Suci Shenouda III

Paus dari Alexandria dan

Patriarkh dari Takhta St. Markus di Seluruh Afrika dan Timur Tengah


Yang Mulia,

Adalah sangat menyedihkan ketika saya mempelajari tentang serangan baru terhadap umat Kristen di Mesir dan bentrokan berdarah di Kairo yang telah meninggalkan puluhan orang tewas dan lebih dari tiga ratus orang terluka.

Gereja Orthodox Rusia tahu bukan dari kabar angin tentang diskriminasi dan penganiayaan terhadap kaum beriman. Reruntuhan-reruntuhan gereja-gereja yang dinajiskan masih tersisa di tanah kami sehingga mengingatkan kita sampai hari ini dari masa-masa penganiayaan yang mengerikan. Itulah sebabnya kita merasa begitu kuat untuk penderitaan saudara-saudara kita dalam iman di Mesir. Pada hari pencobaan, kita berpaling ke Allah Yang Mahakuasa dengan doa meminta Dia untuk menguatkan sumber-sumber daya rohani umat Kristen Mesir dalam upaya mereka untuk berdiri bagi iman mereka dan untuk mempertahankan identitas Kristen mereka.

Kami telah berulang kali menyerukan kepada semua kekuatan-kekuatan utama dunia dan para pemimpin agama untuk mengutuk penganiayaan terhadap umat Kristen dan meminta pemerintah Mesir untuk melakukan semua yang diperlukan untuk menjamin kebebasan nyata dari agama dan keamanan bagi semua warga negara tanpa memandang latar belakang agama atau etnis mereka.

Saya berdoa untuk ketenangan jiwa dan kedamaian kekal mereka yang meninggal dan untuk segera sembuh dari mereka yang terluka. Semoga Lard Maha Penyayang memberikan perdamaian dan kemakmuran atas tanah Mesir kuno, untuk semua orang dan untuk kawanan domba Gereja Koptik.

Dengan kasih di dalam Kristus,

+ Kirill

Patriarkh Moskow dan Seluruh Rusia

Referensi:

1. Russian Orthodox Church. Official Website of The Department for External Church Relations. Patriarch Kirill’s message to Patriarch Shenouda III of the Coptic Church.
http://www.mospat.ru/en/2011/10/12/news49593/

2. BishopSuriel.org. Patriarch Kirill’s message to Patriarch Shenouda III of the Coptic Church. http://bishopsuriel.org/index.php?option=com_content&view=article&id=1296&Itemid=604

Pernyataan Patriarkh Kirill tentang Kerusuhan di Kairo

Diterjemahkan oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Dalam pernyataannya yang dipublikasikan di bawah, Primat dari Gereja Orthodox Rusia menyatakan dukungan untuk penderitaan umat Kristen Mesir.

Gereja Orthodox Rusia telah mengikuti perkembangan di Mesir dengan keprihatinan dan kegetiran. Darah telah tumpah dan gereja-gereja Kristen telah dihancurkan lagi. Ada satu lagi manifestasi dari pertumbuhan intoleransi terhadap umat Kristen dan kerentanan secara hukum dan fisik mereka di masyarakat Mesir.

Gereja kita tahu dari sejarah tentang penderitaan orang-orang tidak berdosa dan penghancuran gereja-gereja itu. Kami mengangkat suara untuk membela saudara-saudara Mesir kami dalam iman dan menyerukan kepada masyarakat dunia untuk tidak menjadi acuh tak acuh terhadap pelanggaran hukum ini. PBB dan organisasi-organisasi internasional lainnya dan kekuatan-kekuatan dunia terkemuka mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah baru di Mesir agar dengan tegas segera keluar menentang penganiayaan terhadap umat Kristen dan melakukan segalanya untuk membantu mewujudkan perdamaian antar agama dan keamanan di wilayah tersebut.

Mendapat cobaan berat dan tragis orang-orang Kristen Mesir menjalani begitu tabah adalah berkaitan dengan rantai sama yang telah mengeluarkan gelombang baru dan dengan semakin meningkatnya emigrasi. Mesir adalah sebuah negara di mana komunitas Kristen dan Muslim telah hidup bersama selama berabad-abad. Agresi terhadap orang Kristen ini terletak di hati nurani dari kekuatan-kekuatan radikal yang destruktif yang motifnya sama sekali tidak religius. Kami menyerukan kepada para pemimpin dunia Islam untuk mengekspresikan kecaman yang jelas dari kekerasan terhadap umat Kristen, untuk menghormati hak mereka untuk secara terbuka mengakui iman mereka dan untuk melestarikan tradisi agama dan budaya mereka. Pada waktu ketika masa depan dari dialog Kristen-Muslim terancam, pemimpin agama harus menunjukkan dalam perbuatan komitmen mereka terhadap perdamaian dan saling pengertian.

Kami menyerukan kepada pemerintah Mesir untuk mengakhiri dengan segera kekerasan terhadap komunitas Koptik kuno, terhadap pembunuhan-pembunuhan umat Kristen, pencemaran gereja dan tempat-tempat suci. Ini tidak cukup untuk menyatakan komitmen terhadap prinsip-prinsip keadilan dan hak asasi manusia, melainkan diperlukan untuk memastikan ketaatan nyata dari kebebasan hati nurani di negeri ini. Komunitas Kristen di Mesir yang bersejarah mempunyai hak untuk mengakui imannya secara bebas dan aman serta untuk melestarikan gereja-gereja tuanya dan membangun yang baru.

Gereja Rusia sekali lagi mengungkapkan dukungannya untuk saudara-saudara Mesir yang menderita dalam Kristus, memanggil mereka untuk mempertahankan semangat perdamaian, untuk menentang provokasi-provokasi, untuk tetap setia kepada Juruselamat kita dalam penderitaan mereka.

+ Kirill

Patriarkh Moskow dan Seluruh Rusia

Referensi:

Russian Orthodox Church. Official Website of The Department for External Church Relations. Patriarch Kirill’s statement on disturbances in Cairo.
http://www.mospat.ru/en/2011/10/12/news49598/

Minggu, 15 Januari 2012

SINAKSARION (Kisah Orang Kudus): St. Prokopius, yang Bodoh demi Kristus, Sang Pelaku Mukjizat dari Ustiug, Vologda

“Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya" (1 Korintus 3:18-19)

“Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini” (1 Korintus 4:10-13)

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1 Korintus 1:18)

“Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (1 Korintus 1:21 )

I. Kebodohan demi Kristus (Fool-for-Christ)

Salah satu bentuk dari kehidupan asketis (kehidupan mati raga) Kristen disebut kebodohan demi Kristus. Kebodohan bagi Kristus (Fool-for-Christ; Rusia: юродивый, yurodivy) adalah orang kudus yang dikenal karena penampilan dan perilaku anehnya, namun kegilaan-kebodohannya adalah kudus. Mereka mengambil penampilan kegilaan-bodoh dan penderitaan akibat penistaan, penghinaan dan fitnah dari orang-orang di sekitar mereka, membuka kejahatan-kejahatan manusia, yang membawa mereka dalam kekuatan pada kesadaran mereka, untuk menghibur yang menderita. Kebodohan bagi Kristus mengacu pada perilaku seperti menyerahkan harta duniawi semua pada seseorang dan bergabung dengan kehidupan monastik (hidup membiara). Hal ini juga dapat merujuk kepada kebiasaan sengaja mencemooh masyarakat untuk melayani tujuan keagamaan - khususnya Kristen. Istilah yang bodoh bagi Kristus adalah berasal dari St. Paulus Sang Rasul dalam surat-suratnya kepada Gereja di Korintus. Orang yang Bodoh bagi Kristus sering bertindak mengejutkan, perilaku yang tidak biasa untuk menantang norma yang diterima secara umum, memberikan nubuat atau untuk menutupi kesalehan mereka.

Yurodivy (Rusia: юродивый, jurodivy) adalah versi Rusia untuk Kebodohan dalam Kristus (bahasa Rusia: юродство, yurodstvo atau jurodstvo), suatu bentuk khas asketisme Orthodox Timur. Yurodivy adalah Kebodohan Kudus, yaitu seseorang yang bertindak bodoh secara sengaja dalam pandangan manusia. Seorang pria atau wanita yang sering kali berjalan keliling setengah telanjang, seorang tunawisma, tak bermilik, berbicara dengan kata-kata penuh teka-teki, diyakini sebagai memiliki kekuatan waskita (clairvoyance) dan nabi. Kebodohan demi Kristus yang ditetapkan untuk dirinya sendiri dengan tugas untuk memerangi dalam dirinya akar dari semua dosa, rasa bangga-diri dan rasa harga diri. Untuk mencapai hal ini orang mengambil sebuah gaya hidup yang tidak biasa, tampil sebagai seseorang yang kehilangan kemampuan mentalnya, sehingga menghasilkan pada dirinya sendiri ejekan orang lain. Selain itu ia membuka kejahatan di dalam dunia ini melalui kata-kata metaforis dan simbolis dan tindakan-tindakan. Ia mengambil upaya asketis ini pada dirinya sendiri untuk merendahkan diri dan juga lebih efektif mempengaruhi orang lain, karena sebagian besar orang menanggapi khotbah yang biasa dengan ketidakpedulian. Pencapain spiritual dari kebodohan bagi Kristus terutama tersebar luas di Rusia.

II. Latar Belakang St. Prokopius dari Ustiug

St. Prokopius dari Ustyugatau atau St. Prokopius dari Lübeck (Rusia: Прокопий Устюжский atau Святой Прокопий Любекский, Jerman: Prokopius von Ustjug und Lübeck; - 8 Juli 1303 di Veliky Ustyug) adalah seorang bodoh bagj Kristus (yurodivy), seorang pelaku mukjizat, orang kudus dari Gereja Orthodox Rusia, mantan pedagang dari Lübeck. Ia lahir di Jerman, seorang pedagang Katolik Roma yang pindah ke Kristen Orthodox Timur selama perjalanannya

Meskipun ia kadang-kadang diidentifikasikan sebagai Jacob Potharst, putra seorang pedagang bernama Lübeck, nama duniawi Prokopius, nama keluarga, tempat dan tanggal lahirnya tidak ditetapkan dengan tepat. Pada 1818 perayaan secara universal orang kudus ini ditetapkan

St Prokopius hidup sebagai yurodivy selama 60 tahun. Pada 1290 ia meramalkan jatuhnya meteorit di dekat Veliky Ustyug, serta angin topan puting beliung dan kebakaran besar.

III. Riwayat Hidup St. Prokopius dari Ustiug: Pertobatan, Asketik dan Penderitaan

St. Prokopius (Prokopiy) adalah seorang Jerman yang beragama Katolik Roma, seorang pedagang asing yang berdagang di Novgorod. Terpesona oleh keindahan dari Liturgi Suci di Gereja Orthodox Rusia, ia menerima iman Orthodox, kekayaannya dibagikan kepada fakir-miskin yang membutuhkan dan memasuki biara tua Varlaam dari Khutinsk dekat Novgorod sebagai seorang rahib. Setelah beberapa waktu, melarikan diri dari kemasyhuran, ia menarik diri ke kota Ustiug. Di sini ia memilih kehidupan asketik (kehidupan mati raga) yang sulit dalam kebodohan bagi Allah, yaitu dia berpura-pura bodoh, untuk memperoleh kerendahan hati yang sempurna. Dengan demikian, ia menjadi yang pertama dalam kebodohan kudus demi Kristus di Rusia. Dia harus menanggung banyak kesengsaraan dalam melaksanakan kehidupan askesis yang sulit ini. Dengan tiga kachergami, atau kruk kayu, di bawah lengannya, dia akan berjalan tanpa sepatu dan pakaian yang buruk di musim panas dan musim dingin. Dia tidur di beranda gereja atau hanya pada tanah. Menerima sedekah dari belas kasih orang-orang sederhana, tapi ia tidak akan pernah menerima amal dari orang kaya, yang dia anggap harta yang diperoleh mereka dengan cara yang tidak benar, dengan kecurangan dan kelaliman, bahkan meskipun ini akan menyebabkan dia pergi lapar dan tetap tanpa makanan selama beberapa hari. Prokopius mengalami "penderitaan dalam setiap gangguan", "menjauhkan diri dari setiap hal yang jahat", "bersinar dengan iman" dan menyerupai "kesabaran Ayub kuno".

Memiliki jiwa murah hati, dan pikiran yang murni, dan hati yang teguh, iman yang tak tercela, dan cinta yang benar-benar tak terukur, ia memelihara "untuk semua orang kesabaran dan tanpa kedengkian, untuk menghibur yang berkabung, dan mereka yang bermasalah cepat dibantunya", tidak melihat bahwa banyak orang menyinggung perasaannya, cukup sering orang memukuli dan mencemooh dia "dengan kekerasan demi Kristus".

IV. Keajaiban, Karunia-karunia dan Mukjizat St. Prokopius dari Ustiug

Suatu hari, selama musim salju membeku yang kejam, bahkan ketika burung-burung membeku kedinginan dalam penerbangan, Yang Terberkati Orang Bodoh dari Allah mencari tempat perlindungan. Mereka tidak menerima dia masuk ke rumah mereka. Bahkan anjing-anjing, yang didekatinya karena ia ingin menghangatkannya diri, lari menjauh dari dia. Prokopius mulai membeku kedinginan. Tiba-tiba ia merasakan gelombang kehangatan surgawi dan sentuhan malaikat di wajahnya. Hal ini memberikan kehangatan dan kekuatan pada Yang Terberkati Yang Bodoh demi Kristus. Ia memberitahu kepada Simeon, seorang imam dari gereja katedral tentang keajaiban ini dan memintanya untuk tidak mengungkapkan sebelum dia meninggal.

Ikon St. Prokopius, yang Bodoh demi Kristus, Sang Pelaku Mukjizat dari Ustiug, Vologda

Karena perjuangan asketisnya, Yang Terberkati dianggap layak menerima karunia kewaskitaan (Clairvoyance, yaitu kewaspadaan; ketajaman penglihatan, terus mata/pandang, yang berarti memperoleh informasi tentang peristiwa peristiwa di tempat tempat yang sangat jauh, melampaui jangkauan panca indera yang normal.). Sekali waktu ia membungkuk di depan seorang gadis berusia tiga tahun dan mengatakan kepada orang tuanya: "Inilah ibu dari seorang kudus yang besar". Gadis berusia tiga tahun itu dikemudian hari menjadi ibu dari seorang hirarkhis gereja St. Stefanus, Uskup Perm (1340–1396).

Ikon St. Prokopius dan St. Varlaam dari Khutyn (Procopius Ustiuzhskii dan Varlaam Khutynskii; Прокопий Устюжский и Варлаам Хутынский)

Pada tahun 1290, Yang Terberkati, dalam perjalanan seminggu, pergi mengelilingi kota menyerukan penduduk untuk bertobat dan berdoa agar Tuhan menyelamatkan kota dari malapetaka seperti Sodom dan Gomora (Kejadian 19). Tidak ada seorangpun penduduk yang percaya padanya. Awan-awan gelap menakutkankan tiba-tiba muncul di langit. Awan-awan ini berubah makin gelap, sehingga saat itu hari berubah menjadi malam gelap. Petir menyambar-nyambar dan guntur menggelegar-menggulung, bergetarlah dinding-dinding seluruh bangunan, sehingga orang tidak bisa mendengar satu sama lain. Sebuah firasat tanda kehancuran datang. Penduduk bergegas ke gereja katedral, di mana Yang Terberkati sudah berdoa di depan ikon dari Kabar Sukacita kepada Sang Theotokos.

Di depan mata setiap orang, sebuah mukjizat terjadi: pada ikon itu, minyak mur mulai mengalir, sebagai tanda rahmat dan kebaikan penuh kasih dari Bunda Allah yang diberikan atas kota itu. Aroma wewangian memenuhi gereja. Mur dari ikon yang melakukan mukjizat mengalir sedemikian rupa sehingga seluruh ruangan gereja dipenuhi dengan aroma wangi itu. Mereka yang diurapi dengan minyak mur itu menerima kesembuhan dari berbagai penyakit. Setelah ini, udara yang menyesakkan menjadi segar dan matahari muncul di langit. Pada tapal batas alami dari Kotovalski, 20 mil jauhnya dari Ustiug, di lembah Kotoval itu, awan-awan meledak dengan hujan es dan pancaran-pancaran kilat. Hujan es meluluh-lantakkan sebuah hutan tua menjadi beberapa bagian, tetapi tidak menimbulkan kerugian dan bahaya, baik untuk manusia atau binatang. Untuk memperingati mukjizat pembebasan kota itu dari kematian dan kehancuran, perayaan Ikon Bunda Allah dari Ustiug ditetapkan.

V. Kematian, Mukjizat, Kanonisasi dan Pesta Perayaan St. Prokopius dari Ustiug

Dalam percakapan dengan orang-orang saleh, setiap kata dan tindakan itu merupakan petunjuk dan peringatan. St. Prokopius Sang Orang Benar meninggal dalam usia yang sangat tua pada tanggal 8 Juli 1303 di dekat pintu gerbang Biara Arkhangelsk. Banyak keajaiban disaksikan terjadi di atas kuburannya. Penampakan-penampakannya, juga permohonan-permohonan yang dikabulkan juga dicatat. St. Prokopius, yang Bodoh demi Kristus, Sang Pelaku Mukjizat dari Ustiug, Vologda dikanonisasikan sebagai orang kudus oleh Gereja Orthodox Rusia pada abad ke XVII. Pestanya diperingati setiap tanggal 8/21 Juli.

VI. Mukjizat Ikon Kabar Sukacita Bunda Allah di Ustiug

Ikon Kabar Sukacita Ustiug dari Bunda Allah yang "Kabar Sukacita Ustiug" adalah ikon yang dihormati, sebelum yang St Prokopius, yang Bodoh demi Kristus (+ 1303) berdoa dengan semangat kuat pada 25 Juni 1290 untuk keselamatan kota Ustiug dari murka Allah.

Ikon Kabar Sukacita Bunda Allah di Ustiug

Ikon dilukis oleh ikonografer Novgorod ketika Pangeran kudus St. Vsevolod-Gabriel, Pangeran dan Sang Pelaku Mukjizat dari Pskov (11/24 Februari) menguasai kota itu. Pada 1567, di bawah Hieromartir (Imam martir) St. Filipus, Metropolitan Moskow dan Seluruh Rusia (9/22 Januari), ikon kudus dipindahkan dari Ustiug Agung ke Moskow dan ditempatkan di katedral Tertidurnya Sang Theotokos. Saat ini ikon Kabar Sukacita Bunda Allah di Ustiug berada di galeri negara Tretyakov. Pesta perayaan Ikon Bunda Allah dari Ustiug ditetapkan pada 8/21 Juli.

Troparion:

Diterangi oleh kasih karunia Allah bagi hikmat surgawi, setelah menarik pikiranmu dari segala kesia-siaan duniawi engkau telah mempersembahkannya tanpa mengenal menyerah melalui hatinu ke Sang Pemberi Hidup. Kehidupan tanpa noda karena kemurah-hatian, panjang-sabar dan kemurnian telah engkau hidupi dan meninggalkan dunia dengan memelihara iman yang saleh. Setelah kematiannya biarkan kami melihat cahaya kehidupanmu, seperti ketika engkau menberikan keajaiban-keajaiban dari sumber yang tak ada habis-habisnya atas orang-orang beriman yang datang ke makam kudusmu, Oh, Yang Terberkati Prokopius, doakanlah pada Kristus Allah kita agar Dia menyelamatkan jiwa-jiwa kami.

“St. Prokopius, yang Bodoh demi Kristus, Sang Pelaku Mukjizat dari Ustiug, doakanlah kami yang berjalan dengan iman bersamamu. Amin!“

* * *

Referensi

1. ____________, Righteous Prokopius the Fool-For-Christ and Wonderworker of Ustiug, Vologda. http://ocafs.oca.org

2. ____________, Saint Herman Calender 2006. Saints of the German – Speaking Lands. Printed with the blessing of His Grace  Longin, Serbian Orthodox Bishop of the U.S.A. and Canada, New Gracanica Metropolitanate, and Bishop Adminstrator of Serbian Orthodox Diocese of Western America. Thirty-fourth year of publication. Copyright 2006 by the St. Herman of Alaska Brotherhood. 2006.

3. Archpriest Seraphim Slobodskoy. The Law of God. For Study at Home and School, First English Edition. Printed with the Blessing of Archbishop Laurus of Syracuse and Holy Trinity Monastery. Printshop of St. Job of Pochaev. Holy Trinity Monastery, Jordanville, NY: Second printing: 1996.

4. All Merciful Savior Orthodox Mission. Icons of St. Prokopius of Ustiug. http://www.allmercifulsavior.com/icons/Icons-Prokopius.htm

5. Father Alexander. St. Prokopius, the Fool-for-Christ of Ustiug.
http://www.pravoslavie.ru/english/47707.htm. 22 / 07 / 2011

6. From Wikipedia, the free encyclopedia. Prokopius of Ustyug

7. Holy Trinity. Russian Orthodox Church, St. Prokopius, fool-for-Christ, wonderworker of Ustiug (Vologda) (1303). http://www.holytrinityorthodox.com

8. Orthodox Church un America. Miracle of the Annunciation Icon of the Mother of God at Ustiug. http://ocafs.oca.org/

9. Russian Orthodox Cathedral of ST. John The Baptist, Washington. DC, St. Prokopius, fool-for-Christ, wonderworker of Ustiug. http://www.stjohndc.org

Jumat, 06 Januari 2012

Nativity Epistle of His Eminence Metropolitan Hilarion of Eastern America and New York, First Hierarch of the Russian Orthodox Church Outside of Russi

Most Reverend fellow archpastors, most honorable fathers, brothers and sisters!

With profoundly heartfelt spiritual joy I greet all the faithful children of the Russian Church Abroad, spread all over the world like kernels of God’s wheat, with the great and salutary Feast of Christ’s Nativity! May the Lord send all of us this joy which saves the world. This gladness is the fruit of the struggle of faith, and stems from the triumph of the Incarnation, from God becoming man, from hearing the celestial doxology from the heavens above the city of Bethlehem.

During the celebratory days which follow the Feast we especially feel God’s love for us, sinners. For though mankind turned away from its Maker, the Creator became a creature; Almighty God came down from the heavens and became one of us. He is born a helpless Infant in a humble cave where livestock is herded in bad weather. God becomes man to arrange for a mystical encounter, to destroy the barrier between Heaven and earth which was wrought by man’s sin. This encounter must take place within our innermost selves and in our relationships with those in whom the image of God is reflected—our neighbors.

During these holy and joyful days each parish church becomes Bethlehem and the heart of every man becomes the cave. All over the world, God’s people fill our churches. But what takes place in the cave of the heart of each one of us when Christ and His Holy Family come knocking? Does our heart open? Does it receive the Lord and what does the Lord find inside? Let us contemplate this, dear fathers in Christ, brothers and sisters. Let us remember the words of Abba Makarios recorded in the book “Sayings Worth Remembering.”

Once, traveling across Egypt with a group of his brethren, Abba Makarios heard the words of a boy directed to his mother: ‘Dear Mother, a certain rich man loves me, but I hate him. Another man, a pauper, hates me, but I love him.’ On hearing these words, Abba Makarios was surprised. The brethren asked him: ‘What do these words mean, and why have they amazed you so, father?’ The elder answered them: ‘In truth, the Lord is wealthy and loves us, yet we do not want to obey Him. However, our enemy, the devil, is poor and hates us: yet we love his impurity.’

So, let us open wide our hearts and welcome the Son of God who has come to earth. Let us add our voice to the doxology of the angels and worship Him with the magi. Let us rejoice in His love and mercy for us. Let each one of us, according to our meager strength, respond with love to His love. Let us find fulfillment in communion with Him. And let each of us exemplify a virtuous Christian life, thereby supporting our neighbor and showing him our heartfelt disposition.

God is with us with His grace and love for mankind always, now and ever, and unto the ages of ages. Amen.

With love in Christ Who is born and a request for prayers,

†Hilarion, Metropolitan of New York & Eastern America,
First Hierarch of the Russian Orthodox Church Outside Russia

NEW YORK: 2 Januari 2012
Surat Edaran Natal dari Vladyka Hilarion, Metropolitan dari New York & Amerika wilayah Timur, Hierarkhi Pertama dari Gereja Orthodox Rusia di Luar Rusia dan Pelindung Misi Gereja Orthodox Indonesia

(Terjemahan oleh: Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro)

Para Yang Amat Mutabir Sesama Episkop, para Romo Yang Amat Terhormat, Saudara-Saudara, dan Saudari-Saudari!

Dengan sukacita yang keluar dari rasa hati yang mendalam saya sampaikan salam kepada semua anak-anak dari Gereja Rusia di Luar Negeri, yang tersebar di seluruh dunia seperti butiran biji gandum Allah, dengan Perayaan Agung yang Menyelamatkan dari Kelahiran Sang Kristus! Kiranya Tuhan mengirimkan kepada kita semua sukacita yang menyelamatkan dunia ini. Kegembiraan ini adalah buah dari perjuangan iman, dan tumbuh dari kemenangan Inkarnasi, dari Allah yang menjadi manusia, dari mendengarkan Kidung Kemuliaan dari sorga di atas kota Betlehem.

Selama hari-hari pesta-ria khususnya yang berlanjut sesudah Perayaan, kita merasakan kasih Allah kepada kita, orang-orang berdosa ini. Karena meskipun manusia berbalik dari Penciptanya, Sang Pencipta menjadi ciptaan; Allah yang Maha Kuasa turun dari sorga dan menjadi salah satu dari kita. Dia dilahirkan sebagai bayi yang tak berdaya di suatu gua yang hina dimana binatang ternak dikandangkan pada saat cuaca yang tidak baik. Allah menjadi manusia untuk mengatur suatu perjumpaan mistika, untuk menghancurkan tembok pemisah antara Sorga dan bumi yang disebabkan oleh dosa manusia. Perjumpaan ini harus berlangsung di dalam relung batin kita yang terdalam dan di dalam hubungan kita dengan mereka yang di dalamnya Gambar Allah itu terpantul - yaitu, sesama kita.

Selama hari-hari kudus dan sukacita ini masing-masing paroikia Gereja menjadi Betlehem dan hati setiap orang menjadi kandang-goa. Di seluruh dunia umat Allah memenuhi gereja-gereja. Tetapi apakah yang terjadi di dalam kandang-goa dari hati setiap kita ketika Kristus dan KeluargaNya yang kudus datang untuk mengetuk pintu? Apakah hati kita terbuka? Apakah itu menerima Beliau dan apakah yang Beliau temukan di dalamnya? Marilah kita renungkan hal ini, para romo, saudara-saudari di dalam Kristus. Marilah kita ingat perkataan Abba Makarios yang tercatat dalam buku “Ucapan-Ucapan yang Layak Diingat”

Suatu hari, dalam perjalanan melintasi Mesir dengan sekelompok para Rahibnya, Abba Makarios mendengar perkataan seorang anak laki-laki yang ditujukan kepada ibunya: ”Bunda sayang, ada seorang kaya yang mengasihi aku, tetapi aku membencinya. Seorang yang lain, dia miskin, membenci aku, tetapi aku mengasihinya.“ Mendengar kata-kata ini, Abba Makarios merasa heran. Para rahib itu bertanya padanya: ”Apa makna kata-kata ini, dan mengapa itu membuatmu begitu heran, Abba?” Sang Sesepuh itu menjawab: ”Sesungguhnya, Tuhan itu kaya dan mengasihi kita, namun demikian kita tak mau untuk taat kepadaNya. Namun demikian, musuh kita, Iblis, itu miskin dan membenci kita, namun kita sangat mencintai kenajisannya.”

Oleh karenanya, marilah kita membuka lebar-lebar hati kita dan marilah kita sambut Anak Allah yang telah datang ke bumi, Marilah kita tambahkan suara kita kepada Kidung Kemuliaan para Malaikat dan menyembah Dia bersama dengan orang-orang Majus. Marilah kita bersuka-cita dalam kasih dan belas-kasihanNya kepada kita. Marilah masing-masing kita, sesuai dengan kekuatan kita yang lemah, menanggapi dengan kasih kepada Kasih ini. Marilah kita menemukan penggenapannya di dalam panunggalan dengan Dia. Dan marilah masing-masing kita memberikan teladan akan kehidupan Kristen yang penuh kebajikan, yang dengan demikian mendukung sesama kita dan menunjukkan niat batin kita yang sepenuh hati.

Allah beserta kita dengan rahmatNya dan kasihNya atas manusia, sekarang dan selalu, serta sepanjang segala abad. Amin.

Dengan kasih dalam Kristus Yang Telah Lahir dan Mohon Doa Saudara-Saudara Sekalian.

†Hilarion, Metropolitan dari New York & Amerika Wilayah Timur,
Hierarkhi Pertama dari Gereja Orthodox Rusia di Luar Rusia,
Pelindung Rohani Misi Gereja Orthodox Indonesia.

Referensi

The Russian Orthodox Church Outside of Russia. Nativity Epistle of His Eminence Metropolitan Hilarion of Eastern America and New York, First Hierarch of the Russian Orthodox Church Outside of Russia. http://www.synod.com. NEW YORK: January 2, 2012

Selasa, 13 Desember 2011

SINAKSARION (Kisah Orang Kudus): St. Arethas Sang Martir dari Najran dan 4.299 Martir yang Bersamanya

Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

I. Komunitas Kristen Awal di Najran

Sama dengan nama-nama tempat kuno yang lain di Arab Saudi, "Najran" atau “Nagran” mungkin awalnya nama semua oasis yang mencakup semua kota dan desa. Nama lama dari puing-puing kuno itu sekarang dikenal sebagai "Al-Ukhdood", yang mungkin telah menjadi pusat kota, itu mungkin "Ragmat". Nama Najran berarti "sepotong kayu di mana engsel pintu berputar mengelilingi". Kata "Najran" juga berarti haus. Penjelasan lain adalah bahwa nama itu dikaitkan ke Najran ibn Zaydan ibn Sabaa ibn Yahjub ibn Yarub ibn Qahtan. karena ia adalah orang pertama yang datang ke Najran dan menghuninya.

Ketika Kerajaan Himyar menaklukkan Sabean di AD 280 mungkin mereka juga mengambil kendali atas Najran. Beberapa waktu selama abad ke-3 penduduk Najran berpihak dengan Kekaisaran Ethiopia (Amharik: መንግሥተ፡ኢትዮጵያ, Mängəstä Ityop'p'ya) juga dikenal sebagai Abyssinia (Habasyah) yang mengirim seorang gubernur bernama "SBQLM" dalam prasasti-prasasti. Raja Himyar Ilsharah Yahdib menghancurkan pemberontakan ini.

Bani Lakhmids (Arab: اللخميون), Bani Lakhm (Arab: بنو لخم), Muntherids (Arab: المناذرة), adalah sekelompok orang Kristen Arab yang tinggal di Selatan Irak, dan membuat al-Hirah sebagai ibukota mereka pada tahun 266. Raja Lakhmid Arab bagian Utara, Imru Al-Qais bin Amqu menyerang Najran di AD 328. Di bawah pengaruh dari Kerajaan Axum, adalah sebuah kerajaan Kristen Orthodox di Utara Ethiopia, orang-orang Kristen di Najran berkembang pesat dan mulai beraliansi dengan Aksum lagi pada awal abad ke-6.

Menurut sejarawan Muslim Arab Muḥammad ibn Isḥaq ibn Yasār ibn Khiyār (menurut beberapa sumber, ibn Khabbār, atau Kūmān, atau Kūtān, bhs. Arab: محمد بن إسحاق بن يسار بن خيار, atau hanya Ibn Ishaq ابن إسحاق, yang berarti "anak Ishak") (meninggal 767, atau 761), Najran adalah tempat pertama di mana kekristenan berakar di Arab Selatan. Kekristenan telah diperkenalkan ke Najran, seperti di seluruh Arab Selatan, pada abad ke 5 atau mungkin satu abad sebelumnya. Najran dikenal sebagai tanah pemukiman kuno untuk kaum Kristen di jazirah Arab.

Para uskup Najran, yang kemungkinan adalah kaum Nestorian (Nasturiyyah), datang ke pameran (pekan raya) besar di Mina dan Ukaz, dan berkhotbah tentang Kekristenan, masing-masing duduk di atas unta seperti di mimbar. Gereja Najran disebut. Ka'aba-e-Najran. Kabah Najran di Jabal Taslal menarik jamaah selama sekitar 40 tahun selama era pra-Islam. Sumber-sumber tunggal Arab tahu bahwa Khath'am, sebagai suku Kristen yang menggunakan untuk melakukan ziarah ke Kabah Kristen Najran. Ketika Najran diduduki oleh Dzu Nawwas, Kabah Najran dibakar bersama-sama dengan tulang-tulang para martir dan sekitar 2.000 orang Kristen yang hidup di dalamnya.

Sirah Nabawwiyah (Kisah Kehidupan Nabi Muhammad) karya sejarah tertua Islam dari Ibn Ishaq, sebagaimana dikompilasikan oleh Ibn Hisyam atau Abu Muhammad 'Abdul-Malik bin Hisyam (Bahasa Arab: أبو محمد عبدالمالك بن هشام) (meninggal 834), mencatat umat Isa al-Masih di Najran yang beribadah pada hari Minggu dan melakukan sholat hingga waktu petang hari (fashala biha hatta yumsa). Selanjutnya, dikisahkan mengenai delegasi Kristen dari Najran ketika mereka menghadap Nabi Muhammad. ”Wa qad hanat shalatihim (ketika tiba waktu sholat mereka)”, tulis Ibnu Ishaq, ”fa aqama fil Masjid Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam yushalun” (mereka pun berdiri di Masjid Rasul Allah s.a.w. untuk melaksanakan sholat)”, ”Da ’uhum! (Biarkanlah mereka sholat!)”, kata Nabi Muhammad, ”Fa shala ilal masyriq (mereka sholat dengan kiblat ke Timur)”. Itulah sebabnya bagi ummat Kristen Orthodox jika mendengar istilah “Sholat” bukanlah hal yang baru, karena “Sholat” adalah bagian ibadah yang selalu terjaga dan dilakukan dalam Gereja Orthodox Timur dari abad-abad permulaan sampai sekarang.

Penduduk Najran telah menandatangani Pakta Najran yang terkenal di abad ke-7 dengan Nabi Muhammad (kira-kira 26 April 570 – 8 Juni 632), yang menjanjikan pada mereka perlakuan yang adil sebagai subyek (dzimmi) dari wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan. Bahkan saat ini, dikatakan bahwa masih ada komunitas-komunitas Kristen di Najran. Kota Najran sudah menjadi pusat penting dari pembuatan senjata selama masa Nabi Muhammad. Namun, itu lebih terkenal untuk kulit daripada besi.

Di bawah pemerintahan Khalifah Muslim kedua setelah kematian Nabi Muhammad, yaitu Khalifah Umar ibn al-Khattab (bhs. Arab: عمر بن الخطاب; Transliterasi: 'Umar ibn al-Khattab, kira-kira 581 - 644), komunitas Kristen Najran dideportasi ke Mesopotamia, dengan alasan bahwa tidak ada kaum non-Muslim yang tinggal di Semenanjung Arab. Selain pengusiran terhadap komunitas Kristen Najran, khalifah Umar juga memerintahkan pengusiran dari kaum Yahudi Najran dan Khaybar sehingga mereka menetap di Syria atau Irak. Ia mengeluarkan perintah bahwa orang-orang Kristen dan Yahudi harus diperlakukan dengan baik dan mereka diberikan tanah yang setara di pemukiman baru mereka. Umar juga melarang non-Muslim untuk tinggal di Hijaz selama lebih dari tiga hari. Najran memiliki komunitas Yahudi dimulai sejak jaman masa pra-Islam, secara historis berafiliasi dengan orang Yahudi Yaman.

Menurut sumber-sumber kontemporer, setelah merebut tahta Himyar, pada kira-kira tahun 518 atau 523 Dhu Nuwas menyerang benteng Aksumite (terutama Kristen) di Zafar, menangkap mereka dan membakar gereja-gereja mereka. Dia kemudian bergerak melawan kaum Kristen Najran, dan benteng pertahanan Aksum. Setelah menerima penyerahan kota itu, ia membantai penduduk yang tidak mau meninggalkan Kekristenan. Perkiraan korban kematian dari peristiwa ini dalam beberapa sumber berkisar hingga 20.000 orang; sebuah surat yang masih ada yang ditulis oleh Simon, uskup Beth Arsham pada tahun 524 Masehi, menceritakan penganiayaan Dzu Nawwas '(di mana ia disebut Dimnon) di Najran (dijaman modern dikenal sebagai: al-Ukhdud di Arab Saudi). Penganiayaan ini rupanya dijelaskan dan dikutuk dalam al-Qur'an (al-Buruj:.4).

Sebagai bagian dari perebutan kekuasaan yang lebih besar antara kerajaan Persia dan kekaisaran Byzantium, kekuatan militer regional mengepung kota Najran. Janji perjalanan yang aman yang dibuat oleh para pengepung itu rusak, dan umat Kristen diberi pilihan untuk memeluk agama Yahudi (Yudaisme), atau kematian. Banyak martir berlindung di dalam Gereja yang dibakar. Lainnya tewas selama beberapa minggu berikutnya saat penyerang memburu mereka. Deskripsi dari kemartiran-kemartiran itu ditulis segera setelah pembantaian baik untuk tujuan politik, mendesak balas dendam militer, dan untuk tujuan hagiografi (studi tentang orang kudus, ilmu yang mempelajari orang-orang kudus).

Ikon St. Arethas Sang Martir(Мученик Арефа - Muchenik Arefa)

"Para Martir dari Najran berlomba demi kesalehan di tahun 524 di Najran, sebuah kota Felix Arabia (sekarang Yaman). Ketika Dzu Nawwas, penguasa suku Himyar di selatan Saudi Arabia, dan seorang Yahudi, mengambil alih kekuasaan, ia berusaha untuk menghapuskan Kekristenan, terutama di Najran, sebuah kota Kristen. St. Arethas Syuhada Agung dari Najran dan 4.299 Syuhada, termasuk St. Syncletica dan dua anak puterinya, St. Elizabeth dari Najran, dan para wanita syahid lainnya adalah korban upaya menghapus Kekristenan di Provinsi Najran. Mereka menderita kemartiran karena mengikuti nasehat Rasul Aghios Ioudas (Surat dari St. Yudas; ditulis 60-80 A.D.), saudara Tuhan Yesus dan saudara Yakobus, Episkop Yerusalem, yaitu ”supaya kamu tetap berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan iman yang sekali dan untuk selama-lamanya (Bhs.Yunani: “eph hapax”) telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yud.1:3, Alkitab Versi New King James)

II. St. Arethas (St. Haritsa) Sang Martir Agung


St Arethas atau Aretas, adalah pemimpin komunitas Kristen di Najran pada awal abad ke-6, dieksekusi selama penganiayaan orang Kristen oleh raja Yahudi Dzu Nawwas atau Dhu Nuwas pada tahun 523. Ia dikenal dari Acta S. Arethae yang ada dalam dua turunan: lebih awal dan lebih otentik, yang ditemukan oleh Michel Le Quien (Oriens Christianus, ii 428.) dan selanjutnya tertanggal paling lambat abad ke-7, yang kemudian direvisi oleh St. Simeon Metaphrastes, dari abad ke-10.

Arethas (Yunani: Ἀρέθας) adalah bentuk Yunani dari nama Arab Al-Harits. Hal ini dapat merujuk kepada St. Arethas Sang Martir atau St. Haritsa Sang Syahuda yang meninggal kira-kira pada tahun 520 adalah martir Kristen Arab di Yaman. Nama Arethas dialihkan dari Bani Harits, pemimpin perlawanan Kristen. Nama St. Arethas 'dalam bahasa Arab: عبدالله بن الحارثه, Haritsa, berarti "pembajak tanah, penggarap, petani" sama seperti "Georgios" dalam bahasa Yunani: γεωργός (geōrgos), yang berarti "petani" atau "pekerja bumi/tanah".

St. Arethas Sang Martir dan bersama dengan dia 4299 Martir yang menderita bagi Tuhan Yesus Kristus di abad keenam. Arethas adalah eparch atau prefek (bhs. Latin: praefectus, pejabat tinggi, gubernur) kota Kristen Najran (bhs. Arab: نجران Naǧrān, Negran), di Barat Daya Saudi Arabia, dekat perbatasan dengan Negara Yaman, di tanah Arab Selatan dari Omir. Karena itu St. Arethas atau St. Haritsa Sang Syuhada Agung dalam Gereja Orthodox Rusia dikenal sebagai Мученик Арефа Негранский, градоправитель (transliterasi: Muchenik Arefa Negranskiĭ, gradopravitel’) atau Martir Arethas dari Najran, Sang Penguasa Kota. Martir kudus ini menderita bagi Iman Kristen dengan lebih dari empat ribu orang Kristen yang meliputi para imam, biarawan dan biarawati, pria, wanita dan anak-anak. Dia berusia sembilan puluh lima tahun ketika ia menderita.

Ikon Martir Arethas Sang Penguasa Kota - Мученик Арефа Негранский, градоправитель(Muchenik Arefa Negranskiĭ, gradopravitel’)

Yusuf Dhu Nuwas atau Dzu Nawwas, (bhs. Arab: يوسف ذو نواس)(juga Yusuf Asar Dhu Nuwas atau Dunaan; memerintah Sekitar 517-525) adalah raja terakhir dari Kerajaan Himyar (dalam bhs. Arab: مملكة حِمْيَر mamlakat ħimyâr) (110 sM–520 M) di Yaman dan memeluk agama Yudaisme (agama Yahudi). Raja Arab (atau Omir), Dzu Nawwas (Dunaan), yang adalah seorang Yahudi yang kejam penganiaya kaum Kristen, memutuskan untuk menghapuskan Kekristenan dari tanah itu. Dia mengeluarkan sebuah dekrit bahwa semua pengikut Kristus itu harus dibunuh. Karena penduduk Najran tetap setia kepada Tuhan Yesus, Dzu Nawwas datang dengan tentara yang besar untuk menghancurkan kota itu. Ia mengepung kota Kristen Najran. Pada tembok kota Najran bentara raja mengumumkan bahwa Dzu Nawwas hanya akan membebaskan dan membiarkan tetap hidup mereka yang menyangkal dan meninggalkan Kristus dan Salib-Nya sebagai "tanda kutukan dan laknat". Warga kota menutup gerbang-gerbang kota, dan Dzu Nawwas menyerang tembok kota untuk waktu yang lama tanpa hasil.

Ikon St. Arethas Sang Martir (Мученик Арефа - Muchenik Arefa)

Tidak berani untuk menyerang kota Kristen itu dengan kekerasan, Dzu Nawwas mengambil jalan sebuah tipu muslihat. Maka Gubernur bengis itu bersumpah kepada penduduk kota itu bahwa ia tidak akan melakukan apapun untuk mereka, jika saja mereka akan membuka pintu baginya untuk masuk dan menerima upeti yang mana mereka berhutang padanya-dan bahwa ia akan mengambilnya dan segera menarik diri. Dzu Nawwas bersumpah bahwa ia tidak akan memaksakan orang-orang Kristen memeluk agama Yudaisme, tetapi hanya akan mengumpulkan upeti dari Najran.

Penduduk kota itu tidak mengindahkan nasihat dari St. Arethas, dan menempatkan kepercayaan mereka pada Dzu Nawwas, mereka membuka gerbang kota. Kaum Kristen percaya padanya dan membuka gerbang. Kemudian orang Yahudi itu melanggar sumpah dan berusaha untuk memaksakan penduduk kota itu untuk meninggalkan Kristus. Pada hari berikutnya Dzu Nawwas memberi perintah untuk menyalakan api yang sangat besar dan melemparkan semua imam dari kota itu ke dalam api untuk untuk menakut-nakuti seluruh umat Kristen. 427 pria dibakar. Dipimpin oleh St. Arethas, ratusan para martir, termasuk para wanita, anak-anak dan bayi, dengan gagah berani melawan ancaman-ancamannya itu. Dia juga melemparkan prefek Arethas dan para pemimpin kota lainnya ke dalam penjara dan Dzu Nawwas memerintahkan agar Arethas tua, kaum rohaniwan (klerus) dan warga negara terhormat lainnya dipenggal semua dengan pedang.

Ikon Martir Arethas dan bersama dia 4299 Martir - Мученик Арефа и с ним 4299 мучеников (Muchenik Arefa i s nim 4299 muchenikov)

Kemudian para penindas mengirim utusannya di seluruh kota untuk mengubah orang-orang Kristen menjadi pemeluk agama Yudaisme. Dzu Nawwas sendiri berbicara dengan penduduk yang dibawa dari penjara, dengan berkata, "Aku tidak meminta bahwa kalian harus meninggalkan Allah surga dan bumi, aku juga tidak ingin kalian menyembah berhala, aku hanya ingin kalian tidak percaya dan beriman pada Yesus Kristus, karena Yang Tersalib itu adalah hanya seorang pria, dan bukan Allah".

Para martir kudus menjawab bahwa Yesus adalah Allah Sang Firman, Pribadi Kedua dari Tritunggal Maha Kudus, yang untuk keselamatan umat manusia telah menjelma (inkarnasi; nuzul) dari Sang Roh Kudus dan Sang Perawan Maria. Orang-orang yang menderita berkata, "Kami tidak akan menyangkal Kristus, karena Dia adalah Hidup bagi kami. Mati demi Dia adalah untuk menemukan Kehidupan".

Dia kemudian melakukan suatu pembantaian mengerikan di dalam kota itu. Setelah para pria dibunuh, semua wanita Kristen Najran yang terlahir bebas itu dibawa ke hadapan tiran itu dan diperintahkan untuk meninggalkan Kristus atau mati, namun mereka menegur penganiaya itu dengan penuh keberanian yang dikatakan bahkan para pria-pun tidak pernah menghina Dhu Nuwas dengan begitu merendahkan seperti itu. Begitu besar iman mereka sehingga tak seorang wanitapun ditemukan menyangkal Kristus di seluruh Najran, meskipun beberapa dari mereka menderita siksaan yang lebih pahit dan menyakitkan daripada kebanyakan pria. Lebih dari empat ribu orang Kristen, pria, wanita, baik tua dan anak-anak, dari kota Najran dan desa-desa sekitarnya menderita kemartiran bagi Kristus.

Penganiayaan ini rupanya dijelaskan dan dikutuk dalam al-Qur'an (al-Buruuj 85:4-10):

binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit.
yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar,
ketika mereka duduk di sekitarnya,
sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.
dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,
yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.
Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan[1568] kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.


Yang dimaksud para penggali parit yaitu pembesar-pembesar Najran di Yaman yang berdasarkan perintah Dzu Nawwas menggali lubang besar yang dalam. Sedang yang dimaksud dengan mendatangkan cobaan ialah, seperti menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh dan sebagainya. Di dalam lubang besar itu ditimbunkan kayu api yang mersik kering. Dengan kayu bakar yang kering itu, lalu api dinyalakan sebesar-besarnya. Penduduk Najran ditangkap semuanya dikumpulkan dalam sebuah perkampungan di dekat lobang besar itu, lalu masing-masing mereka tua-muda, besar-kecil, lelaki perempuan dengan berganti-ganti dan bergilir diperintahkan terjun ke dalam lobang besar dengan api yang sedang bergejolak-gejolak itu, untuk menutup riwayat hidup mereka. Semua itu dijalankan oleh penduduk Najran yang beriman itu, dengan tenang dan sabar, tidak seorang juga yang merasa takut dan sedih. Karena keimanan yang demikian matang sempurna, gejolakan api begitu panas, mereka rasakan sebagai angin yang berhembus sepoi-sepoi bahasa saja. Bahkan mereka berlomba-lomba dan berebut-rebutan untuk menjatuhkan dirinya masing-masing ke dalam api besar itu; kerana mereka yakin, bahawa di bawah gejolak api yang panas itu, telah menanti Syurga Jannatun-Naim yang dijanjikan Tuhan kepada mereka..

Sedang Raja Zu Nuwas dengan segala tentera dan pembesar-pembesarnya duduk berbaris di atas bangku-bangku dan kursi-kursi yang sudah tersedia buat mereka, menonton bangsa Najran yang sedang mengorbankan jiwanya. Dengan senang hati dan tertawa terbahak-bahak, mereka senang melihat orang mati teraniaya dan merasa senang karena dengan jalan begitulah katanya, mereka dapat mempertahankan agama mereka. Kisah ini dalam agama Islam dikenal sebagai “Kisah Ashabul Ukhdud” yang ada di al-Qur'an Sura 85:4-10. Sedang kisahnya ada di Sirah Nabawwiyah dari Ibnu Ishaq.

Beberapa sumber mengatakan bahwa Dus Dhu Tha'laban dari suku Saba adalah hanya satu-satunya orang yang mampu melarikan diri dari pembantaian Najran, yang melarikan diri ke Konstantinopel untuk mencari bantuan dan segala sesuatu kejadian itu segera dilaporkan. Ini membawa kemurkaan Kaisar Byzantium, Justinus I (bhs. Latin: Flavius Iustinus Augustus, bhs. Yunani: Ἰουστίνος; kira-kira 450 – 1 Agustus 527; menjadi Kaisar Byzantium: 518 – 527) yang sebagai pelindung agama Kristen mendorong sekutunya, Raja Abyssinia St. Ella-Atsbeha atau St. Elesbaan dari Aksum (meninggal kira-kira 540), untuk menyerang negara itu, membunuh Dhu Nuwas-, dan menganeksasi (merebut dan menduduki) Himyar pada tahun 525.

Dalam aliansi-kerjasama dengan Kekaisaran Byzantium, Raja Ethiopia Elesbaan membebaskan Najran dari Dhu Nuwas tak lama setelah itu. Setelah mempelajari masalah pembantaian ini, Kaisar Byzantium Justinus I sangat sedih, dan menulis surat kepada Raja Ethiopia, Elesbaan, meminta dia untuk berangkat bersama pasukan melawan Dzu Nawwas untuk membalas darah tak berdosa orang-orang Kristen itu. Elesbaan mematuhi Justinus, menyerang Gubernur Omir itu dengan pasukannya, mengalahkan dia, membunuh seluruh pasukannya, dan memenggal kepalanya.

Kemudian Raja Ethiopia Elesbaan membangun gereja-gereja untuk menghormati para Martir itu. Najran menjadi tempat ziarah sampai munculnya Islam satu abad kemudian. Pada akhir hidupnya Raja Elesbaan, yang juga disebut Kaleb dari Axum, mengundurkan diri dalam keheningan sebagai seorang pertapa eremit, ia mengirim mahkotanya ke Yerusalem sebagai persembahan kepada Gereja Makam Kudus. St. Elesbaan, Orang Kudus dan Raja Ethiopia juga diperingati pada 24 Oktober/6 November sebagai seorang kudus.

Ikon St. Elesbaan, Raja Ethiopia dan Pertapa - Елезвой Эфиопский, царь, затворник (Yelezvoĭ Efiopskiĭ, tsar’, zatvornik)

Dengan sebuah wahyu dari Allah, seorang saleh yang bernama Abramius diangkat sebagai gubernur Omir, dan kembali oleh wahyu Allah, St Gregorius (Gregentius) dari Omir (meninggal tahun 552; pesta peringatan: 19 Desember/1 Januari) telah dipilih sebagai Uskup Agung. Orang-orang Kristen membangun kembali Gereja Tritunggal Kudus di Najran yang pernah dibakar oleh Dzu Nawwas, dan juga membangun sebuah gereja yang didedikasikan kepada Martir Kudus Arethas dan para martir lainnya dari Najran. St Arethas dan yang lain menderita dan menerima rangkaian bunga martir dari Tuhan pada tahun 523 Masehi.

Dalam Gereja Orthodox Timur, pesta peringatan St. Arethas atau St. Haritsa adalah 24 Oktober (6 November Old Calender - OC atau Kalender Lama Yulian). Di Monologion Yakobit pada tanggal 31 Desember, dalam Pesta-psta perayaan Arab dari kaum Melkit pada 2 Oktober, dalam Synaxarium Armenia pada 20 Oktober, dan di Senkesar Ethiopia pada 22 November. Daftar Synaxarium (Sinaksarion) Ethiopia dari para martir Najran pada tanggal 26 bulan ketiga (7 November - 6 Desember). Para Orang Kudus itu ditambahkan ke Martirologi Romawi (kalender Katolik Roma) pada abad keenambelas oleh Kardinal Baronius, juga terdaftar pada 24 Oktober, meskipun fakta bahwa Najranites (kaum Kristen Najran) itu mungkin secara teknis Monofisit, karena Gereja Ethiopia kemudian sebagian besar Monofisit, dan karenanya dianggap bidat. Sedang Gereja Katolik Roma memperingati pesta perayaan St. Arethas setiap 27 Juli. Sementara para martir Najran tidak disebutkan pada setiap kalender Anglikan. Gereja-gereja Anglikan dapat menggunakan yang umum "Tentang Martir" dalam Buku Doa Umum jika mereka ingin untuk mengamati hari, atau untuk fokus pada orang kudus tahun tertentu.

III. Kemartiran St. Syncletica dari Najran dan Dua Anak Perempuannya, St. Elizabeth dari Najran, serta para Wanita Martir Lainnya

Diantara 4.299 matir lain dari Najran yang dibunuh bersama St. Arethas Sang Syuhada Agung adalah St. Syncletica dari Najran dan dua anak perempuannya, St. Elizabeth dari Najran, serta para wanita martir lainnya. Berikut ini kisah para wanita kudus dan martir dari Najran.

Martir Syncletica dan dua putrinya menderita di bawah raja Arab Dzu Nawwas. St Syncletica adalah keturunan dari sebuah keluarga yang terkemuka. Ia ditinggalkan menjanda pada saat masih muda, ia mencurahkan dirinya dalam membesarkan putrinya secara Kristen, dan dia sendiri menyandang kehidupan yang berbudi luhur dan suci.

Raja Dzu Nawwas mulai menganiaya orang Kristen, dengan bertujuan untuk menghapuskan mereka. Dia memanggil St Syncletica dan putri-putrinya dihadapannya, dan mendesak dia untuk meninggalkan "kebodohan" nya, berjanji untuk membawanya ke rumah istrinya. Tapi Syncletica menjawab, "Bagaimana bisa anda tidak takut, O Raja, untuk berkata jahat kepada Dia yang telah memberikan pada anda baik mahkota kerajaan dan kehidupan?"

Dzu Nawwas memberi perintah mengarak St Syncletica dan putri-putrinya melewati kota seolah-olah mereka para penjahat. Melihat aib yang dialami sang orang kudus ini, perempuan-perempuan mulai menangis, tapi ia memberitahu mereka bahwa "malu" ini baginya adalah lebih berharga daripada kehormatan duniawi.

Dia dibawa lagi kehadapan Dzu Nawwas yang berkata, "Jika engkau ingin tetap hidup, engkau harus meninggalkan Kristus". "Jika aku lakukan itu, maka siapa yang akan melepaskan aku dari kematian kekal?," ia bertanya. Dengan marah, Raja Dzu Nawwas memerintahkan agar anak-anak perempuan St Syncletica yang pertama dibunuh, dan kemudian St Syncletica dipenggal dengan pedang.

Ikon Theotokos “Sukacita dari Semua yang Berduka”,St. Arethas dan St.Syncletica

Ada lagi seorang kudus tambahan, seorang diakon wanita yang berada dalam kelompok 4.000 martir yang terdaftar pada kalender Gereja Orthodox Timur (Eastern Orthodox Church), pada setidaknya satu kalender Gereja Orthodox Oriental, dan pada kalender Katolik Roma. Jumlah yang besar dari para martir sering dicurigai sebagai digelembungkan, atau disalin secara salah, tetapi dalam kasus ini ada setiap alasan untuk percaya bahwa angka itu adalah benar, karena jumlah mengerikan itu adalah secara luas terbukti kebenarannya pada saat itu. Kelompok martir itu juga disebutkan kemudian dalam Al-Qur'an. Para martir ini hidup pada kuartal pertama abad keenam di jazirah Arab Selatan (sekarang: Yaman). Di antara mereka adalah St Elizabeth, seorang diaken wanita yang melayani di Gereja di kota Najran. Tulisan tentang St Elizabeth, Wanita Kudus dari Gereja Orthodox Oriental Syria ini diperkenalkan dan diterjemahkan oleh Sebastian P. Brock dan Susan Ashbrook Harvey. Pada kenyataannya tentu ada kemungkinan, bahwa ada nama diaken wanita lainnya yang tidak disebutkan di antara 4.000 martir dari Najran itu. Dari sejak saat itu pembantaian para martir ini telah diperingati di Afrika, Syria, dan di tempat-tempat lain.

Materi tentang St Elizabeth adalah salah satu dari dokumen-dokumen historis yang dapat diandalkan dari era yang telah hilang namun baru-baru ini ditemukan, seperti yang dijelaskan pada tahun 1971 oleh Irfan Shahid dalam “Para Martir dari Najran: Dokumen-dokumen Baru”. St Elizabeth disiksa dengan beberapa cara karena menolak menyangkal iman Kristennya, kemudian ia diseret hingga mati di belakang seekor unta liar yang dilepas lari ke padang gurun. Jejaknya kemudian diam-diam diikuti dan tubuhnya ditemukan.

Dokumen-dokumen kemartiran untuk kelompok-kelompok martir itu secara luas diterjemahkan dan beredar, unsur-unsur khas penghormatan orang-orang kudus dikembangkan, dan kelompok orang-orang kudus akan segera muncul di sejumlah kalender liturgis Gereja. Mereka dikanonisasi untuk metode dari hari pesta peringatan mereka. Digunakan judul "Orang Kudus (Santa)" untuk Elizabeth karena ia termasuk dalam kelompok yang dikanonisasi. Meskipun karya Brock dan Harvey melansir penerjemahan dokumen-dokumen kemartiran ke dalam bahasa dari beberapa Gereja-gereja Orthodox Oriental (termasuk Syria, Arab, Ethiopia, dan Armenia), di antara kalender dari Gereja-gereja Orthodox Oriental yang berbeda, tulisan tentang St. Elizabeth dari Najran ini hanya memeriksa kalender Ethiopia.

St Elizabeth ini tidak disebutkan dalam teks-teks liturgis, mungkin karena dia hanya satu dari 4.000 martir, dan karena dokumen dengan rincian kemartiran pribadinya hilang begitu lama. Tapi pada abad kesembilan belas seorang biarawati Orthodox Rusia, Taisiia menulis teks-teks liturgis untuk pesta St Simeon Sang Penerima Allah, meskipun pestanya sudah memiliki teks, mungkin sudah saatnya bagi seseorang untuk menulis beberapa teks untuk hari pesta perayaan St Elizabeth dari Najran.

Beberapa rincian sumber utama lain yang mengerikan, tapi sangat bermakna dan indah:

"Dengan suratnya bertahun 524 Masehi yang menggambarkan penganiayaan Najran secara rinci, pendebat Syria Barat Simeon, uskup Beth Arsham mendeskripsikan bagaimana para martir wanita bergegas untuk bergabung dengan 'orang tua dan saudara-saudari kami yang telah meninggal demi Kristus Tuhan kita '. "

"Surat Kedua Simeon dari Beth Arsham memelihara satu lagi episode mengerikan yang dengan tak mudah terlupakan itu. Setelah melihat saudara-saudara Kristennya dibakar hidup-hidup, Ruhm, seorang wanita bangsawan agung dari Najran, membawa putrinya di depan raja Himyar dan memerintahkan kepadanya: "Potong kepala kami, sehingga kami bisa pergi bergabung saudara-saudara kami dan ayah dari putri-putriku". Para algojo mematuhi, menyembelih anak dan cucunya di depan mata Ruhm dan memaksa dia untuk minum darahnya. Raja kemudian bertanya, Bagaimana merasakan darah anakmu bagimu?". Sang Martir menjawab, "Seperti persembahan murni tak bernoda: seperti itulah yang terasa di dalam mulutku dan jiwaku".

Alangkah kasih yang tak terkatakan dan total bagi Kristus! Semoga kita dapat meniru kesaksian mereka, semangat mereka dan kasih mereka bagi Kristus dalam hidup kita, bahkan jika hanya dalam cara yang sangat kecil.

Troparion - Irama 1

Melalui penderitaan dimana para martir kudusMu Arethas dan para sahabatnya bertahan demiMu, ya Tuhan,
kami memohon kepadaMu, wahai Kekasih umat manusia:
menyembuhkan semua kelemahan kita.

Kontakion – Irama 4

Hari ini pesta pancaran Sang Pengemban Sengsara Kudus Kristus, Arethas dan para sahabatnya datang kepada kita sebagai seorang bentara pembawa berita sukacita;
Karena dengan kita merayakannya, kita memuliakan Tuhan di tempat Maha Tinggi.

“St. Arethas dan para Martir Kudus Kristus dari Najran, doakanlah kami yang berjalan dengan iman bersamamu. Amin!“

Referensi

1. ____________, Kisah Ashabul Ukhdud dalam Surah Al-Buruj. Tazkirah & Informasi Islam Najahudin's Homepage. http://najahudin.8m.com/tafsir.html

2. ____________, Kisah Ashabul Ukhdud. Surau Al-Hakim. alhakimbestari.org

3. ____________, Martyr Arethas. Life of the Saint, Troparion and Kontakion. Orthodox Church in America. http://oca.org/

4. ____________, Saint Herman Calender 2006. Saints of the German – Speaking Lands. Printed with the blessing of His Grace  Longin, Serbian Orthodox Bishop of the U.S.A. and Canada, New Gracanica Metropolitanate, and Bishop Adminstrator of Serbian Orthodox Diocese of Western America. Thirty-fourth year of publication. Copyright 2006 by the St. Herman of Alaska Brotherhood. 2006.

5. ____________, The Holy Martyr Arethas - Celebrated Oct. 24. by Facebooks Orthodox Church of St. Stephen the Protomartyr on Wednesday, October 26, 2011.

6. Antiochiam Orthodox Christian Archdiocese of North America. St. Syncletica with her two daughters. http://www.antiochian.org/

7. Cluster Paul. St. Arethas the Holy Martyr and those with him. Posted 2nd October by CFC Cluster 2 Chapter D http://clusterpaul.blogspot.com/2011/10/st-arethas-holy-martyr-and-those-with.html#!/2011/10/st-arethas-holy-martyr-and-those-with.html

8. From Wikipedia, the free encyclopedia. Arethas (martyr), Najran, Christian community of Najran, Dhū Nuwas, Abyssinian, Axum, etc

9. Irfan Shahid. Byzantium and the Arabs in the Sixth Cenrtury. Volume 2 Part 2. Copyright @ 2009 by Dumbarton Oaks Trustess for Harvard University, Washington, D.C. All rights reserved. Printed in the United States of America. All map by K. Rasmussen (archeographics.com), @ 2009 by Dumbarton Oaks, Trustess for Harvard University.

10. Kathryn A. Piccard. Saint Elizabeth of Najrân. Another Woman Deacon Saint. http://www.womenpriests.org

11. Rev. Oeconomos Christopher Klitou. Icon of the Great-martyr Arethas. The Orthodox Pages. Feasts and Saints. http://www.christopherklitou.com/

12. Православие.Ru. Арефа Негранский, градоправитель, мч. Православный Календарь. Иконы. http://days.pravoslavie.ru/

Jumat, 25 November 2011

Puasa Kelahiran Kristus (Shoum Maulid Al-Masih)

Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Tentang Puasa Kelahiran Kristus (Shoum Maulid Al-Masih)

Puasa dalam bahasa Ibrani disebut sebagai ‘’sum’’ (bhs. Ibrani: צום ; ”tzum” sebanding dengan kata ‘’shoum’’ dalam bahasa Arab: صوم ; “saum”). Kata ‘’sum’’ (puasa) ini sering digabungkan dengan kata ‘’innah nefesy’’ (‘’merendahkan diri’’) - Imamat 16:29, 31. 23:27, 32, Bilangan 29:7; Yesaya 58:3, Mazmur 35:13. Kata ‘’sum’’ dalam bahasa Ibrani Perjanjian Lama ini berbunyi ‘’neestia/ nistia’’ (bhs. Yunani: νηστεία ; “nēsteia”) dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru.

Puasa Advent (nama di Gereja Barat) yang dilakukan hanya 4 Minggu, atau Puasa Kelahiran Kristus (Shoum Maulid Al-Masih) di Gereja Orthodox yang dilakukan selama 40 hari itu dimulai tanggal 15 November untuk mereka yang menggunakan kalender baru (Gregorian) sampai 25 Desember, atau tanggal 28 November untuk mereka yang menggunakan kalender lama (Yulian) sampai tanggal 6/7 Januari. Puasa Kelahiran Kristus ini juga disebut Puasa Filipus. Puasa ini disebut puasa Filipus karena Puasa Kelahiran Kristus ini dilakukan langsung sesudah Perayaan St. Filipus Sang Rasul Kudus dan Terpuji pada tanggal 14/27 November.

Shoum Maulid Al-Masih ini bersifat tarak artinya tak berpuasa penuh hanya pantang makanan yang berasal dari binatang hidup, dan lain-lain, yaitu tidak makan daging dan produk daging, ikan dan produk ikan, susu dan produk susu, telur dan produk telur, anggur dan produk anggur, serta tidak minum yang beralkohol, dan minyak zaitun. Hari Sabtu karena itu Hari Sabat yaitu hari perhentian dan Hari Minggu karena itu Hari Tuhan yaitu Hari Perayaan kita diijinkan makan ikan dan hasil laut.

Mengapa Berpuasa sebelum Pesta Kelahiran Yesus (Natal)?

"Perjalanan Gereja menuju kelahiran Kristus, Tuhan, dikemudikan oleh kapal yang adalah puasa Kelahiran Kristus (Natal). Gereja melakukannya dengan pengetahuan bahwa jika ia berjuang mendaki gunung yang sangat terlalu curam baginya untuk memanjat, dia tidak akan pernah tahu luasnya karunia itu yang adalah tingkat gunung melalui tangan Allah. Kebangkitan bagi kehidupan adalah karunia utama dari Inkarnasi, tetapi jika seorang manusia mengerti bahwa ia sudah mati, ia tidak akan pernah tahu arti dari kebangkitan.

Puasa adalah alat suci dan terberkati yang membawa kita lebih dekat kepada kesadaran diri seperti itu. Ini menunjukkan kepada kita siapakah kita, mungkin lebih penting bukan siapa kita, dan membuat kita lebih secara sadar menyadari akan dimana kita berdiri itu yang diperlukan. Kemudian dan hanya kemudian, dengan mata terbuka - bahkan hanya sebagian saja yang - oleh upaya laku-tapa (hidup asketik), kita akan benar-benar mengetahui terang yang memberi hidup dari Kelahiran Kristus. Kita akan mendengar dengan kagum proklamasi pada kidung Sembahyang Senja, mengenakan misteri yang hadir di dalamnya sebagai bersatu langsung dengan kita:

Datanglah, marilah kita sungguh bersukacita dalam Tuhan seperti yang kita beritakan tentang misteri kehadiran ini. Dinding tengah sekat telah dihancurkan; pedang berapi berbalik kembali, kerubim menarik diri dari pohon kehidupan, dan aku mengambil bagian dari kegembiraan Surga dimana aku diusir oleh karena ketidaktaatan. Karena menyatakan Gambar dari Bapa, Tindasan yang tepat keabadian-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan tanpa mengalami perubahan Dia datang keluar dari Sang Bunda yang tidak mengenal nikah. Karena Dia, Dia tetap menjadi Allah yang benar: dan apa yang Dia bukan, Dia telah mengambil bagi dirinya sendiri, menjadi manusia melalui kasih bagi umat manusia. Kepada-Nya mari kita berseru keras: Allah (Sang Firman) lahir dari seorang Perawan, kasihanilah kami! (Sticheron dari Sembahyang Senja Kelahiran Tuhan)

Ikon Kelahiran Kristus dari Sang Perawan Suci, Maria Sang Theotokos

Kita tidak akan pernah sepenuhnya memahami misteri tak terkatakan ini, beberapa pengetahuan adalah direncanakan, diatur dan tersembunyi bagi Allah sendiri. Tetapi dengan kasih karunia-Nya melalui upaya laku-tapa (hidup asketik), kita akan datang untuk memahami - mungkin, kebanyakan dari kita, hanya setitik - namun misteri ini adalah misteri kita sendiri, bagaimanapun kehidupan-Nya adalah kehidupan kita sendiri, dan betapa keselamatan dari Hari Natal, sungguh, keselamatan kita sendiri. Dan dengan menyadari hal ini, kegembiraan: kegembiraan yang jauh lebih besar dari sekadar pintu masuk ke gereja pada Hari Natal yang bisa membawa kita. Ini adalah sukacita dari perjalanan kuno manusia, perjalanan kita sendiri, datang untuk pemenuhan dalam misteri menakjubkan dari Allah sendiri yang menjadi manusia. Dengan sukacita dalam hati kita, kita akan menerima kata-kata kidung sebagaimana kita sendiri:

Hari ini Sang Perawan datang ke gua untuk melahirkan tak terkatakan pada Sang Firman pra-kekal. Mendengar ini, layaklah bersorak-sorai, hai penghuni bumi, dan dengan para malaikat dan para gembala muliakanlah Dia yang akan dinyatakan seorang Anak muda, Allah pra-kekal. (Kontakion dari Permulaan Pesta)"

Referensi

1. Bahan-bahan email dari Arkhimandrit Rm. Daniel Bambang Dwibyantoro, Pendiri dan Ketua Umum Gereja Orthodox Indonesia (GOI).

2. Hieromonk Irenei. Why Fast before Nativity? www.monachos.net

3. Arkhimandrit Rm. Daniel B.D.B. Kehidupan Gereja Orthodox (2): Pesta Perayaan, Puasa, dan Sakramen Perjamuan Kudus. Materi Katekisasi Gereja Orthodox Indonesia, Paroikia St. Iona dari Manchuria, Surabaya.

Rabu, 23 November 2011

Gereja Orthodox Indonesia: Menjadikan Bumi Seperti Surga

Oleh : Web Warouw
Sinar Harapan 2003

Semua agama seharusnya mencintai kedamaian. Islam berarti damai, demikian halnya shalom bagi umat Kristiani dan santi bagi umat Hindu. Pada dasarnya, semua orang ingin damai. Visi dasar semua agama adalah perdamaian. Dalam Gereja Orthodox, perdamaian adalah inti dari ajaran, karena Firman Allah yang adalah Allah menjadi manusia mendamaikan dua yang bertentangan, yaitu yang ilahi dan yang manusiawi, yang ada dalam diri Yesus Kristus. Pesan damai yang dibawa Yesus Kristus merupakan pesan utama pada situasi krisis perdamaian seperti saat ini.

Ajaran memang tidak bisa dikompromikan, tetapi dalam ajaran pasti terkandung pesan-pesan damai. Untuk itu, kita harus rela merangkul perbedaan paham, karena dalam kesadaran, kita ini satu bangsa dan satu entitas manusia. Di bawah ini cuplikan wawancara SH dengan Ketua Umum Gereja Orthodox Indonesia (GOI) Romo Arkhimandrit Daniel Bambang Dwi Byantoro.

Sekarang orang meributkan perbedaan, bagaimana pendapat Anda?
Pluralisme di Indonesia adalah kenyataan. Kalau kita menekankan pada ekslusivitas masing-masing, yang terjadi adalah konflik. Kalau kita bertengkar sendiri, negara kita akan ambruk, dunia akan hancur. Masing-masing pimpinan masyarakat seharusnya mendahulukan kepentingan umum ketimbang kepentingan kelompok atau pribadi.

Bagaimana masa depan Indonesia?
Tergantung pada komitmen kita kembali. Satu-satunya jalan adalah kembali pada Pancasila. Kita harus rela berdampingan dengan mengedepankan persatuan dengan mengutamakan kepentingan bersama. Bayangkan kalau masing-masing memaksakan hukum agamanya yang berlaku, tidak akan ada harmonisasi.
Kita harus merumuskan kembali Pancasila agar tidak semu seperti dulu. Founding fathers sudah menegaskan komitmen ini. Walaupun berbeda agama, budaya, dan suku bangsa, kita sepakat harus hidup bersama dan tidak saling mengganggu.

Bagaimana dengan soal agama dan politik?
Agama harus menyadari tempatnya sebagai pemberi suara hati nurani, suara moral, dan suara kenabian. Sebagai pemimpin spiritual pada umat. Agama tidak bisa dicampur dengan politik. Kalau politik sudah berjalan miring, agama harus meluruskan atau menyerukan untuk berhenti. Kalau agama memberikan suara moral, negara harus mendengarkan, bukan menjadikan agama sebagai alatnya, atau mengatur bagaimana orang beragama.

Beragama adalah hak yang diberikan Tuhan, bukan pemberian pemerintah. Pemerintah jangan bermain menjadi Tuhan. Pemerintah harus menjalankan hukum Tuhan sesuai dengan perikeadilan, kemanusiaan, dan kebebasan serta damai sejahtera, bukan dengan paksaan dan kekerasan. Lima sila dalam Pancasila itu universal ada di semua agama. Pancasila adalah universal sudah mencakup semua agama dan keyakinan yang kita semua setujui.

Bagaimana dengan SKB dan Forum Komunikasi Umat Beragama?
Seharusnya agama adalah masalah hati nurani individu. Biarkanlah orang memilih agama dan jangan diatur oleh pemerintah. Sepertinya, pemerintah tidak percaya kedewasaan orang beragama. Kita dianggap murid taman kanak-kanak yang harus diatur oleh negara.

Di Amerika tidak ada seperti ini dan tidak ada konflik agama. Kalau pemerintah tidak mencampuri, tidak ada konflik. Kalau diberikan kebebasan bangsa ini cukup dewasa untuk beragama. Peraturan dari pemerintah inilah yang selalu menimbulkan konflik, seperti di Ambon dan Poso. Semua akibat campur tangan oknum pemerintah. Agama dicampur dengan politik dan agama dipolitisasi. Ini kacau.

Pada tahun 1970-an kehidupan beragama di Indonesia lebih rukun. Keluarga saya ada yang Islam, Buddha, Hinddu, dan Protestan, tapi kami saling mengunjungi, dan saling menyalami pada hari raya masing-masing sebagai rasa hormat. Dalam tatanan akar rumput, saya yakin umat lebih rukun dan saling menghormati.

Kekacauan terjadi di elite pimpinan agama, dibumbui dengan politik. Elite politik dan agama kalau punya kepentingan untuk memaksakan kehendak, konflik yang muncul. Semua pemimpin agama sebenarnya bisa menuntun umat pada kedamaian dan keadilan. Kalau demikian bangsa ini akan kuat kembali.
Bangsa ini tidak bisa eksklusif, bangsa ini harus inklusif. Kita harus rela dengan perbedaan suku, agama, dan golongan budaya. Kita harus rela kembali pada bangsa Indonesia yang semula, yang merupakan persatuan bangsa-bangsa kecil menjadi bangsa yang besar. Kita harus menghormati perbedaan-perbedaan di dalamnya.

Bagaimana sebenarnya asal gereja Orthodox?
Gereja Orthodox berpegang pada prinsip gereja mula-mula yang didirikan Kristus sendiri. Orthodox berasal dari kata Orthos yang berarti lurus, dan doxa artinya pengajaran, arti Orthodox adalah pengajaran yang lurus. Kata Orthodox muncul untuk membedakan dengan Heterodox, yaitu bidat-bidat (ajaran yang menyimpang).

Jadi Ortodox bukan berarti kaku, terbelakang, atau kuno, tetapi adalah jalan yang lurus sebagai lawan dari ajaran yang tidak lurus yang muncul pada waktu itu. Sejak zaman Yesus, para rasul menyebarkan Injil dari Yerusalem, ke Siria, Turki, Yunani, dan akhirnya masuk ke Roma.

Jadi kekristenan itu berasal dari timur, tepatnya Asia Barat meluas ke barat, Eropa. Pada zaman itu, ada dua kekristenan, yaitu kekristenan timur dan kekristenan barat yang berpusat di Roma dan akhirnya ke Eropa. Kekristenan timur pusatnya di Konstantinopel (sekarang Istambul) Turki, Alexandira di Mesir, Antiokia di Siria, dan Yerusalem, di tanah Palestina.

Dari situlah gereja Timur dan Barat berjalan sendiri-sendiri dengan tradisi masing-masing. Gereja di timur disebut Gereja Orthodox, yang berkembang ke Eropa timur, yaitu Rusia, Rumania, Yugoslavia, dan daerah Timur Tengah.

Perkembangannya di Indonesia?
Gereja Orthodox Indonesia yang sekarang tidak ada hubungannya dengan orang-orang Orthodox yang masuk pada tahun 1930-an. Awalnya, saya belajar di Korea Selatan. Dan pada tahun 1978 dibantu oleh Gubernur Sulawesi Utara, Willy Lasut untuk belajar tentang sistem gunung doa untuk bisa dipraktikkan di Manado. Di Korea, tahun 1983 saya bertemu dengan Misi Gereja Orthodox Korea dan meyakini ini yang saya cari.

Tahun 1988 saya pulang ke Indonesia. Pertama saya mendekati Dirjen Katholik, tetapi mereka mengatakan hanya melayani tradisi Roma. Saya berpuasa dan berdoa 30 hari dan atas pertolongan Tuhan saya ditemukan dengan Kakanwil Depag di Semarang, Bapak Prawoto dan Bapak Sutarno, dari Solo. Merekalah yang meletakkan Gereja Orthodox di bawah Dirjen Bimas Kristen-Protestan untuk perlindungan hukum pada tahun 1991, di bawah Depag sampai sekarang.

Apa yang khas dari ajaran Kristen Orthodox?
Di Katholik ada pengatur ajaran, di Orthodox tidak ada. Pilihan berselibat (tidak menikah) pada pelayan Tuhan tidak diatur dalam Orthodox. Jadi pelayan boleh menikah boleh tidak.

Gereja Orthodox mengenal dogma, yaitu dogma Tritunggal Maha Kudus. Tritunggal bukan dogma yang mati, tetapi menjadi progam sosial bermasyarakat dan menjadi landasan di muka bumi karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Posisi Yesus Kristus?
Manusia jatuh ke dalam dosa dan dikuasai kematian bukan hanya fisik, tetapi juga rohani. Kematian fisik adalah akibat kematian rohani. Manusia sebenarnya diciptakan bukan untuk mati. Manusia diciptakan untuk mengalami kekekalan Allah. Tetapi kerena manusia gagal, Allah ingin memulihkan kembali dengan jalan menyingkirkan kematian.

Yang bisa melakukan ini adalah Dia yang tidak terkalahkan oleh kematian, yaitu Firman-Nya. Allah mengirimkan Firman-Nya dan masuk ke dalam perut Maria dan mengambil kemanusiaannya, disatukan dengan FirmanNya. Maka lahirlah manusia Yesus Kristus.

Manusia Yesus bukan setengah Allah dan setengah manusia, Yesus adalah Firman Allah yang mempunyai esensi di dalam Allah. Sebagai manusia, Dia sama dengan kita dalam segala hal. Dari sisi keilahian Dia adalah Allah. Dengan demikian, yang Ilahi sudah merangkul yang duniawi-daging, berasal dari dunia.

Maka dari itu, kehidupan rohani tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan duniawi. Dengan prinsip itu, moral dan spiritual dari sorga tidak dipisahkan dengan di bumi, karena landasannya adalah Firman Allah menjadi manusia. Tujuannya adalah untuk memulihkan kodrat manusia yang rusak.

Maka kerajaan di surga datang ke bumi untuk memulihkan kerusakan di bumi sehingga di bumi ini bisa mengalami pemulihan yang berdasarkan inspirasi dari surga. Maka tidak ada dikotomi antara rohani dengan jasmani atau sosial.
Dikotomi artinya menolak inkarnasi, Firman jadi manusia, padahal inkarnasi itu adalah menyatukan yang berseberangan antara manusia di bumi dan diri Allah. Di bumi harus bekerja secara harmoni dengan surga. Kita tidak bisa memisahkan kerajaan surga dan bumi sendiri.

Kemulian yang Illahi itu harus mempengaruhi bumi. Maka bunyi doanya, jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di surga. Ini tugas kita semua untuk memuliakan bumi seperti surga. Tidak ada politik!

Referensi

Christian Studies for Peace. Gereja Orthodox Indonesia: Menjadikan Bumi Seperti Surga. http://christianforpeace.blogspot.com. 5 Desember 2010.