Oleh:
Sadiq Alam
Diterjemahkan oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
Allah bukan Kristen.
pahami hal ini, setidaknya
demi Kristus.
Allah bukan Yahudi.
semua adalah anak-anakNya,
tidak hanya beberapa.
Allah bukan Muslim.
hanya mengurungmu
membual dengan imanmu.
Tuhan bukan Hindu.
di luar patung-patung berwarna
melebihi sifat-sifat-Nya.
Allah tidak pernah menciptakan agama,
tetapi umat manusia.
datanglah! kebenaran
semua kita rangkul
Sadiq | Singapore. 28 Dec, 2006
Inspirasi dan Dedikasi: dalam sebuah iklan tv saluran Al Jazeera, ada klip Uskup Agung Desmond Tutu (pemenang hadiah nobel perdamaian 1984) di mana ia berkata baris ini, adalah 'God is not a Christian' (‘Allah bukan Kristen '). Menjadi Uskup Agung Anglikan dan mengucapkan mengatakan perkataan indah ini 'Allah bukan Kristen’ mengilhami saya, dan karenanya puisi ketidaklayakan ini lahir.
Saya mendedikasikan puisi ini untuk yang terhormat Desmond Mpilo Tutu; dia visioner Afrika Selatan yang indah, aktivis yang berdiri melawan sistem apartheid yang tidak adil, untuk hak asasi manusia dan yang berbicara kebenaran dari kesadarannya sendiri. Kehidupan dan karyanya merupakan inspirasi perdamaian melalui Yayasan Perdamaian Desmond Tutu.
Referensi
Sadiq Alam. Inspirations and Creative Thoughts. MysticSaint Poetry. God is not a Christian: http://www.mysticsaint.info/2006/12/god-is-not-christian_29.html
Minggu, 10 Oktober 2010
Jumat, 08 Oktober 2010
Inggris Akui Penyembah Matahari Sebagai Agama
By Arfi Bambani Amri - Minggu, 3 Oktober
VIVAnews - Ribuan tahun para penyembah matahari dan bumi atau disebut Druid hidup di Eropa. Namun baru pada tahun ini, mereka diakui sebagai agama tersendiri. Sabtu 2 Oktober 2010, badan pengurus amal Inggris menetapkan Druid sebagai agama sehingga bisa mendapatkan potongan pajak.
Aturan ini membuat Druid mendapatkan validitas sebagai sebuah agama yang berdiri sejajar dengan agama Kristen dan Katolik. Meski, kata Phil Ryder, salah seorang anggota Jaringan Druid, "masih jalan panjang untuk membuat Druid lebih mudah diakses."
Druid yang memiliki upacara tahunan di situs megalitikum Stonehenge telah berkembang selama ribuan tahun di Inggris dan beberapa negara yang memiliki kebudayaan Celtik di Eropa. Mereka menyembah kekuatan alam seperti petir, matahari dan roh yang mereka percayai berasal dari gunung dan sungai. Mereka tidak menyembah satu Tuhan, namun terus berupaya membangun hubungan suci dengan alam.
Penganut Druid kuno dikenal sebagai pemimpin relijius, hakim dan guru di masyarakat Celtik pra-Kristen. Di masa kini, terdapat 10 ribu penganut Druid dan beberapa ordo Druid di seluruh Inggris dan jumlah mereka terus bertambah karena munculnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.
Jaringan Druid telah hampir lima tahun berjuang untuk diakui Komisi Amal, badan semipemerintah, yang mensyaratkan kepercayaan kuat, serius dan kohesif mengenai entitas tertinggi dan tatanan moral. Meski secara resmi menolak permohonan Jaringan Druid, namun minggu ini mereka menyatakan Druid sesuai dengan Undang-undang Amal.
"Ada kepercayaan yang memadai mengenai keberadaan entitas tertinggi sebagai syarat sebuah agama yang sesuai dengan Undang-undang Amal," kata Komisi. (adi)
Sumber:
yahoo news indonesia
vivanews.com
The Associated Press
VIVAnews - Ribuan tahun para penyembah matahari dan bumi atau disebut Druid hidup di Eropa. Namun baru pada tahun ini, mereka diakui sebagai agama tersendiri. Sabtu 2 Oktober 2010, badan pengurus amal Inggris menetapkan Druid sebagai agama sehingga bisa mendapatkan potongan pajak.
Aturan ini membuat Druid mendapatkan validitas sebagai sebuah agama yang berdiri sejajar dengan agama Kristen dan Katolik. Meski, kata Phil Ryder, salah seorang anggota Jaringan Druid, "masih jalan panjang untuk membuat Druid lebih mudah diakses."
Druid yang memiliki upacara tahunan di situs megalitikum Stonehenge telah berkembang selama ribuan tahun di Inggris dan beberapa negara yang memiliki kebudayaan Celtik di Eropa. Mereka menyembah kekuatan alam seperti petir, matahari dan roh yang mereka percayai berasal dari gunung dan sungai. Mereka tidak menyembah satu Tuhan, namun terus berupaya membangun hubungan suci dengan alam.
Penganut Druid kuno dikenal sebagai pemimpin relijius, hakim dan guru di masyarakat Celtik pra-Kristen. Di masa kini, terdapat 10 ribu penganut Druid dan beberapa ordo Druid di seluruh Inggris dan jumlah mereka terus bertambah karena munculnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.
Jaringan Druid telah hampir lima tahun berjuang untuk diakui Komisi Amal, badan semipemerintah, yang mensyaratkan kepercayaan kuat, serius dan kohesif mengenai entitas tertinggi dan tatanan moral. Meski secara resmi menolak permohonan Jaringan Druid, namun minggu ini mereka menyatakan Druid sesuai dengan Undang-undang Amal.
"Ada kepercayaan yang memadai mengenai keberadaan entitas tertinggi sebagai syarat sebuah agama yang sesuai dengan Undang-undang Amal," kata Komisi. (adi)
Sumber:
yahoo news indonesia
vivanews.com
The Associated Press
Rabu, 06 Oktober 2010
APAKAH INJIL MATIUS 27:9 SALAH? (TENTANG NUBUAT NABI YEREMIA)
oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
I. Apakah St. Matius Sang Penulis Injil Membuat Kesalahan?
Orang mengatakan bahwa Alkitab tidak hanya penuh dengan pertentangan, tetapi di dalamnya juga terdapat banyak kesalahan. Salah satu kesalahan yang paling sering disebutkan oleh orang-orang yang menentang Alkitab terdapat dalam Matius 27:9-10. Dalam Injil Matius 27:9-10 menggambarkan pembelian tanah milik tukang periuk dengan uang Yudas Iskariot sebagai penggenapan dari nubuat Perjanjian Lama:
“Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku”.
Kenyataan bahwa apa yang ditulis penulis Injil Matius ternyata bukannya merujuk ke Nubuat Nabi Yeremia tapi justru sebenarnya merujuk ke Kitab Nabi Zakharia 11:12-13:
“Lalu aku berkata kepada mereka: "Jika itu kamu anggap baik, berikanlah upahku, dan jika tidak, biarkanlah!" Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak. Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Serahkanlah itu kepada penuang logam!" --nilai tinggi yang ditaksir mereka bagiku. Lalu aku mengambil ketiga puluh uang perak itu dan menyerahkannya kepada penuang logam di rumah TUHAN”.
Dengan fakta ayat-ayat Kitab Zakharia11:12-13 di atas, banyak orang telah menonjolkannya sebagai bukti bahwa cerita-cerita Injil tidak selalu merupakan sejarah dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Dan ini menunjukkan bahwa Alkitab itu palsu, korup, rekayasa manusia, Alkitab asli sudah lama hilang. Apakah Matius membuat kesalahan? Sama sekali tidak.
Bahwa kata-kata dalam Injil Matius ini atau kata-kata yang sangat mirip dengan ini, terdapat di dalam nubuat yang terdapat di dalam Perjanjian Lama dan bahwa yang tertulis di situ ialah nama Nabi Zakharia tidak perlu kita ragukan lagi kebenarannya. Tetapi ini tidak berarti bahwa Nabi Yeremia sama sekali tidak menyebutkan nubuat itu, karena sudah merupakan fakta yang diketahui umum bahwa dalam Perjanjian Lama nabi-nabi yang terkemudian seringkali mengutip nubuat-nubuat yang diucapkan oleh nabi-nabi sebelumnya. Sebagai contoh, Zakharia sendiri (Zakharia 1:4) mengutip nubuat yang dikenal sebagai nubuat Yeremia (lihat Yeremia 18:11), jadi dalam bagian yang sedang kita bahas ini Zakharia mungkin juga telah mengutip dengan mengatas-namakan nubuat Yeremia. Dalam Kitab Yeremia sendiri tidak ditulis bahwa Yeremia pernah mengucapkan nubuat ini. Meskipun demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk menganggap bahwa seluruh nubuat yang diucapkan oleh Nabi Yeremia ditulis dalam Kitab Yeremia, dan Nabi Zakharia dapat dengan mudah menyebutkan nubuat Nabi Yeremia yang tidak ditulis dalam Kitab Yeremia.
Lagi pula harus kita perhatikan bahwa Nabi Zakharia sendiri berkata dalam Zakharia 7:7, "Bukankah ini firman yang telah disampaikan Tuhan dengan perantaraan para nabi yang terdahulu?"
Jadi jelas bahwa Zakharia beranggapan bahwa sebagian dari tugasnya adalah untuk mengingatkan kembali nubuat yang telah disampaikan Tuhan dengan perantaraan para nabi yang terdahulu. Ia terutama cenderung untuk mengingatkan kembali nubuat-nubuat Yeremia, karena itu di antara orang Yahudi ada pepatah yang mengatakan bahwa "roh Yeremia ada di atas Zakharia".
Jadi kalau kita perhatikan apa yang dianggap sebagai kesalahan Matius, seharusnya sama sekali bukan kesalahan kalau kita sudah menyelidiki hal itu dengan teliti.
Barangkali harus ditambahkan bahwa banyak kritikus meragukan apakah pasal-pasal penutup dari Kitab Zakharia ini benar-benar merupakan bagian dari nubuat-nubuat Nabi Zakharia. Di dalam pasal-pasal itu sendiri tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa itu merupakan bagian dari nubuat Nabi Zakharia. Memang benar selama berabad-abad pasal-pasal itu dianggap sebagai bagian dari nubuat Nabi Zakharia, tetapi di dalam Alkitab sendiri tidak ada bagian yang menunjukkan bahwa pasal-pasal itu ditulis oleh Nabi Zakharia, malah dianggap bahwa sebenarnya bagian-bagian ini bukan dinubuatkan oleh Nabi Zakharia melainkan oleh Nabi Yeremia. Tetapi ini merupakan persoalan bagi para kritikus. Seandainya terbukti bahwa hal itu memang demikian, maka ini akan makin menguatkan ketepatan dari apa yang dinyatakan Matius.
Ada pula para ahli yang mengatakan bahwa nubuat Yeremia ini disampaikan secara lisan oleh Nabi Yeremia. Akan tetapi hal ini tak dapat dibuktikan. Sejarawan Gereja Purba, Eusebius dari Kaesaria atau Eusebius al-Qaisari (265-340), menyatakan bahwa orang Yahudi mencoret bagian nubuat Yeremia ini dari Kitab Yeremia, tetapi hal ini sulit diterima mengingat orang Yahudi sangat menghormati Kitab Suci mereka, yaitu Kitab Tenakh. Para ahli Taurat begitu menghormati Kitab Suci, sehingga bila mereka menemukan sesuatu yang dianggap kesalahan sekalipun, mereka menolak untuk mengubah teks itu. Sebagai gantinya mereka membuat suatu catatan tepi.
Tetapi walaupun hal itu tidak demikian, jika memang benar Nabi Zakharia yang menuliskan nubuat itu (Zakharia 11:11-13) sebagaimana yang terdapat di dalam Alkitab, hal ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Nabi Yeremia tidak mengucapkan nubuat yang serupa yang kemudian dikutip oleh Nabi Zakharia dan yang telah dengan tepat dikutip oleh St. Matius.
Para kritikus harus menyelidiki lebih jauh lagi kalau mereka ingin membuktikan bahwa Matius telah membuat kesalahan.
Kalau pun ini memang benar suatu kesalahan, hal ini tidak meruntuhkan kewibawaan Injil Matius, karena konsep pewahyuan Kitab Suci menurut ajaran Kristen memang berbeda dengan pewahyuan Kitab Suci menurut ajaran Islam. Kitab-kitab dalam Alkitab bukanlah kitab keramat yang turun dari langit. Alkitab harus diakui, adalah sebuah kitab yang sangat manusiawi. Alkitab sebagai firman Tuhan haruslah dimaknai secara rohani, bukan secara harfiah. Seperti halnya kejadian-kejadian di alam ini, pergantian siang dan malam terjadi begitu alamiah dan sangat-sangat biasa, walaupun sebenarnya tanpa kita sadari Tuhan tetap bekerja dan mengatur semua ini. Tuhan berada di balik layar, Tuhanlah yang menjadi penentu sejarah umat manusia. Tentu saja untuk mengirim pesan-pesanNya dalam bentuk teks tertulis yang dibukukan, Ia tidak perlu mempertontonkan keajaiban-keajaiban secara berlebihan, cukuplah ia bekerja di dalam diri para penulisnya secara sangat manusiawi, bahkan sampai para penulisnya sendiri pun tidak menyadari kalau dirinya telah dipakai oleh Tuhan. Tentu saja, adanya kesalahan tulis masih dimungkinkan dan Tuhan mengijinkan hal itu sebagai bagian dari pemberian kebebasan penuh kepada manusia tanpa intervensi yang berlebihan, tetapi secara immanen, Ia tetap mencegah para penulis itu dari kesalahan-kesalahan yang fatal.
Kelirunya penyebutan nama nabi sama sekali tidak menghilangkan makna yang sesungguhnya dari apa yang hendak disampaikan Tuhan, bahwa apa yang dinubuatkan itu memang pernah diucapkan oleh nabi di zaman Perjanjian Lama. Dalam Kekristenan, Alkitab adalah Firman Tuhan secara rohani. Secara lahiriah, Alkitab sangatlah manusiawi, tidak dikeramatkan atau dipandang muluk-muluk sebagai Kitab Suci yang diturunkan dari langit. Dan lihatlah, betapa jujurnya orang Kristen sejak abad pertama sampai hari di mana kita sekarang hidup, mereka sama sekali tidak mengubah atau mencoba mengkoreksi tulisan Rasul Matius tersebut walaupun 'kelihatan keliru'.
II. Kebenaran Nubuat Nabi Zakharia dan Nabi Yeremia dalam Injil Matius
Matius 27:9:
“Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,”
Alkitab bahasa Inggris terjemahan KJV berbunyi sebagai berikut:
“Then was fulfilled that which was spoken by Jeremy the prophet, saying, And they took the thirty pieces of silver, the price of him that was valued, whom they of the children of Israel did value;”
Terjemahan TR dalam bahasa Yunani:
“τοτε επληρωθη το ρηθεν δια ιερεμιου του προφητου λεγοντος και ελαβον τα τριακοντα αργυρια την τιμην του τετιμημενου ον ετιμησαντο απο υιων ισραηλ”
Translit., Interlinear (terjemahan dalam bahasa Indonesia):
tote {KEMUDIAN} eplêrôthê {DIPENUHI} to {(apa yang)} rêthen {DIKATAKAN} dia {MELALUI} ieremiou {YEREMIA} tou prophêtou {NABI} legontos {BERKATA} kai {DAN} elabon {MEREKA MENGAMBIL} ta tria konta{TIGA PULUH} arguria {uang perak } tên timên {HARGA} tou tetimêmenou{TELAH DITETAPKAN HARGA} on {(kepadanya} yang} etimêsanto {MEREKA MENETAPKAN HARGA} apo{DARI} uiôn {KETURUNAN-KETURUNAN} israêl {ISRAEL}
Matius 27:10:
”dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku."
KJV: ”And gave them for the potter's field, as the Lord appointed me”.
TR: ”και εδωκαν αυτα εις τον αγρον του κεραμεως καθα συνεταξεν μοι κυριος“
Translit., Interlinear:
kai {LALU} edôkan {MEREKA MEMBERI} auta {(uang) INI} eis {UNTUK} ton agron {TANAH} tou kerameôs {TUKANG TEMBIKAR} katha {SEPERTI} sunetaxen {MEMESANKAN} moi {KEPADAKU} kurios {TUHAN}
Hal yang luar biasa dari kutipan ini adalah bahwa sesungguhnya sebagian besar darinya sebetulnya berasal dari Kitab Nabi Zakhariah 11:12-13 yang berbunyi sebagai berikut:
“Lalu aku berkata kepada mereka: ‘Jika itu kamu anggap baik, berikanlah upahku, dan jika tidak, biarkanlah!’. Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak. Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadaku: ’Serahkanlah itu kepada penuang logam!’ – nilai tinggi yang ditaksir mereka bagiku. Lalu aku mengambil ketiga puluh uang perak itu dan menyerahkannya kepada penuang logam di rumah TUHAN”.
Persamaan Matius 27:9-10 ini dengan Zakharia 11:12-13:
a) Pekerjaan Yesus maupun Zakharia sama-sama dihargai rendah.
Kalau dalam Zakharia 11:13 ada kata-kata ‘nilai tinggi’ [NIV: the handsome price (= harga yang bagus)], maka itu merupakan suatu ejekan / sindiran belaka.
b) Sama-sama dihargai 30 keping perak.
c) Uangnya sama-sama dilempar ke Bait Allah (ay 5 bdk. Zakharia 11:13).
Kata-kata ‘serahkanlah’ dan ‘menyerahkannya’ dalam Zakharia 11:13 versi Kitab Suci Indonesia, salah terjemahan.
Zakharia 11:13 (NIV): “And the Lord said to me, ’Throw it to the potter’ - the handsome price at which they priced me! So I took the 30 pieces of silver and threw them into the house of the Lord to the potter” (= dan Tuhan berkata kepadaku: ‘Lemparkan itu kepada tukang periuk’ - harga yang bagus untuk mana mereka menilai aku. Lalu aku mengambil ke 30 keping perak itu dan melemparkan mereka ke dalam rumah Tuhan kepada tukang periuk).
d) Dalam kedua peristiwa ini uang akhirnya jatuh ke tangan tukang periuk.
• Dalam Matius, uang dibelikan ‘tanah tukang periuk’, sehingga jelas dibayarkan kepada tukang periuk.
• Dalam Zakharia, uang juga dilemparkan kepada tukang periuk.
Kitab Suci Indonesia lagi-lagi salah karena menterjemahkan ‘penuang logam’.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘potter’ (= tukang periuk / penjunan).
Sekarang persoalannya, kalau bagian ini cocok dengan Zakharia 11:12-13, mengapa dalam ayat 9 ini Matius tidak mengatakan ‘Nabi Zakharia’ tetapi ‘Nabi Yeremia’? Ada perbedaan cukup berarti antara ayat-ayat Kitab Zakharia dengan kutipan dalam Injil Matius, yang menyuruh sang nabi membayar – atau sertidak-tidaknya memberikan – uang pembelian, lalu menyuruhnya menyerahkan uang itu untuk mendapat sebidang tanah dan bukan memberikannya kepada tukang periuk secara pribadi. Bagaimanapun, seluruh maksud dari kutipan dalam Injil Matius diarahkan pada pembelian sebidang tanah. Ayat dalam Kitab Nabi Zakharia ini tidak mengatakan apa-apa mengenai pembelian sebidang tanah; dan sesungguhnya Nabi Zakharia bahkan tidak menyebut sama sekali tentang sebidang tanah.
St. Matius penulis Injil, mencampurkan Zakharia 11:12-13 dengan Yeremia 18:2-12 dan 19:1-15 dimana disebutkan bahwa nabi memecahkan buli-buli tukang periuk di lembah Hinom sebagai tanda penghakiman atas orang Yehuda yang “telah membuat tempat ini penuh dengan darah orang-orang yang tidak bersalah”. Jika kita melihat Kitab Yeremia 32:6-9, maka kita menemukan sang nabi membeli sebidang tanah di Anatot dengan sejumlah syikal. Kitab Yeremia 18:2 menceritakan sang nabi sedang mengamat-amati seorang tukang periuk sedang membuat bejana-bejana tanah liat di rumahnya. Kitab Yeremia 19:2 menunjukkan bahwa di dekat Bait Allah terdapat seorang tukang periuk yang mempunyai sebuah tempat pembuatan periuk di lembah Hinom. Yeremia 19:11 berbunyi: ”Beginilah Firman TUHAN semesta alam: ’Demikianlah akan Kupecahkan bangsa ini dan kota ini, seperti orang memecahkan tembikar tukang periuk, sehingga tidak dapat diperbaiki lagi. Dan Tofet akan menjadi tempat penguburan’”. Sebab itu, tampaknya tindakan Nabi Zakharia menyerahkan uang pembeliannya kepada tukang periuk itu mengacu pada tindakan simbolis Nabi Yeremia pada zaman dahulu. Tetapi, hanya Yeremia yang menyebutkan ”tanah” milik tukang periuk – yang merupakan pokok utama dari kutipan Injil Matius.
Persamaan antara Matius 27:9-10 dengan Yeremia 19:1-15 adalah:
1. Sama-sama ada pencurahan darah orang yang tak bersalah (Mat.27:4; Yer. 19:4).
2. Sama-sama melibatkan tokoh-tokoh agama Yahudi (Mat. 27:3,6,7; Yer. 19:1).
3. Sama-sama ada tukang periuknya (Mat. 27:7,10; Yer. 19:1,11).
4. Tofet / lembah pembunuhan dalam Yer. 19:6 menurut tradisi adalah sama dengan tanah tukang periuk / tanah darah dalam Mat. 27:7.
5. Sama-sama ada tempat penguburan (Mat. 27:7; Yer. 19:11).
III. Penulisan Nubuat dengan Latar Belakang Rabbinik Yahudiah dan Khas ke-Yahudiannya
St. Matius adalah seorang Yahudi, pemungut cukai (petugas pajak pada zaman itu) yang menjadi salah satu dari kedua belas rasul Yesus. Jika Injil Markus ditulis untuk orang Romawi (Kristen non Yahudi) dan Injil Lukas untuk Teofilus dan semua orang percaya bukan Yahudi, maka Injil Matius ditulis untuk orang-orang Kristen dengan kebangsaan Yahudi yang tentu saja berasal dari agama Yahudiah (Yudaisme). Orang-orang ini mengenal Kitab Perjanjian Lama (Kitab TANAKH) dengan sangat baik. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam Injil Matius kita temukan begitu banyak kutipan Perjanjian Lama, termasuk nabi-nabi kaum Yahudi. Sehingga tidaklah mengherankan kitab Matius ini merupakan Injil yang mencolok sifat ke-Yahudiannya.
Tujuan St. Matius menulis Injil ini adalah untuk meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias yang dinubuatkan oleh nabi-nabi Israel pada zaman Perjanjian Lama, yang sudah lama dinantikan. Latar Belakang Yahudi dari Injil ini tampak dalam banyak hal, termasuk ketergantungannya pada penyataan, janji, dan nubuat Perjanjian Lama (PL) untuk membuktikan bahwa Yesus memang Mesias yang sudah lama dinantikan, dan petunjuknya kepada berbagai kebiasaan Yahudi tanpa memberikan penjelasan apa pun (berbeda dengan kitab-kitab Injil yang lain), termasuk dalam cara penulisan nubuat nabi-nabi. Sekalipun demikian, Injil ini tidak semata-mata untuk orang Yahudi. Seperti amanat Yesus sendiri, Injil Matius pada hakikatnya ditujukan kepada seluruh gereja, serta dengan saksama menyatakan lingkup universal Injil (mis. Mat 2:1-12; Mat 8:11-12; Mat 13:38; Mat 21:43; Mat 28:18-20). Sebagai seorang Yahudi, St. Matius pasti juga sangat mengenal isi Kitab TANAKH, tradisi, kebiasaan dan tata cara penulisan dan pengutipan ayat-ayat naskah-naskah Kitab para Nabi yang dilakukan secara khas oleh para rabbi Yahudi pada masanya.
Dari keterangan di atas nampak bahwa St. Matius sedang menggabungkan dan merangkum unsur-unsur simbolisme yang ada dalam kitab nabi-nabi baik dari Kitab Zakharia maupun dari Kitab Yeremia. Namun, karena Nabi Yeremia adalah nabi yang lebih menonjol di antara dua nabi tersebut maka dia memprioritaskan nama Nabi Yeremia daripada nama nabi kecil ini, yaitu Nabi Zakharia. Jadi sang penulis, yaitu St. Matius sengaja menyebut salah satu sumber saja yaitu Nabi Yeremia, dan tidak merasa perlu menyebut Nabi Zakaria sebab para pembaca dapat jelas melihat bahwa ayat itu dikutip dari Kitab Zakaria. Hal ini berkaitan dengan struktur sistematika/pengorganisasian Kitab suci orang Yahudi yang disebut תנך - TANAKH yang adalah singkatan dari Torah - Nevi'im – Ketuvim dan praktik yang lazim dalam kesusasteraan abad pertama Masehi, yaitu memprioritaskan nama nabi-nabi yang lebih terkenal dan lebih besar daripada nama nabi-nabi kecil.
Dalam Talmud Babylonia Baba Bathra 14b-15a, tentang Urut-urutan Kitab Suci, Lawrence H. Schiffman, Teks-teks dan Tradisi-tradisi, Ktav, Hoboken 1998, p.118-119, dikatakan:
Para Rabbi dari Talmud, dalam baraita, mendaftarkan urutan kitab-kitab dalam Kitab Suci Yahudi (TENAKH) dengan cara yang berbeda bahkan dari Kitab-kitab Yahudi kemudiannya. Bagian ini menunjukkan bahwa kanon tripartit adalah norma. Para Rabbi juga berhubungan dengan pertanyaan siapa yang benar-benar melakukan berbagai penulisan Kitab-kitab tersebut.
Selanjutnya dikatakan:
Teno rabanan (para Rabbi kita mengajarkan):
Urutan para nabi (Nevi'im) adalah: Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja, Yeremia, Yehezkiel, Yesaya, dan Dua Belas Nabi Kecil. Sekarang, Hosea urutan pertama, seperti ada tertulis, "Tuhan pertama berbicara kepada Hosea" (Hosea 1:2). Tapi, apakah Ia pertama kali berbicara kepada Hosea? Apakah tidak ada sejumlah nabi-nabi dari Musa sampai Hosea? Namun, Rabbi Yohanan mengatakan bahwa ia adalah yang pertama dari empat nabi yang bernubuat pada waktu itu, dan mereka ini adalah: Hosea, dan Yesaya, Amos, dan Mikha. Lalu Hosea haruskah ditempatkan pada urutan pertama? Karena bernubuat itu ditulis (dalam koleksi bersama-sama) dengan Hagai, Zakharia, dan Maleakhi, dan Hagai, Zakharia, dan Maleakhi adalah yang terakhir dari para nabi, Hosea dianggap bersama-sama dengan mereka. Maka apakah seharusnya ditulis secara terpisah dan ditempatkan sebelumnya? Karena kecil, itu mungkin hilang. Sekarang, Yesaya adalah sebelum Yeremia dan Yehezkiel, maka Yesaya harus telah ditempatkan pertama? Raja-raja berakhir dengan cerita kehancuran, dan Yeremia seluruhnya adalah catatan-laporan dari kehancuran, dan Yehezkiel dimulai dengan kehancuran dan diakhiri dengan penghiburan, dan Yesaya sepenuhnya penghiburan. Jadi, kita berdampingan kehancuran kepada kehancuran dan penghiburan kepada penghiburan.
Berikut adalah struktur sistematika/pengorganisasian Kitab TANAKH (תנך), yaitu Torah - Nevi'im - Ketuvim.
A. Kitab TORAH/ Taurat (תורה) terdiri dari:
1. Genesis - בראשית - BERESYIT ("pada mulanya", Kejadian)
2. Exodus - שמות - SYEMOT ("nama-nama", Keluaran)
3. Leviticus - ויקרא - VAYIQRA ("dan Dia memanggil", Imamat)
4. Numbers - במדבר - BEMIDBAR ("di padang gurun", Bilangan)
5. Deuteronomy - דברים - DEVARIM ("perkataan-perkataan", Ulangan)
B. Kitab Nevi'im (נביאים; Nabi-nabi) terdiri dari:
1. NEVI'IM RISYONIM (נביאים ראשונים; Nabi-nabi pertama)
1. Joshua - יהושע - YEHOSYUA' (Yosua)
2. Judges - שופטים - SYOFETIM (Hakim-hakim)
3. Samuel (I & II) - שמואל - SYEMU'EL (1 & 2 Samuel)
4. Kings (I & II) - מלכים - MELAKHIM (1 & 2 Raja-raja)
2. NEVI'IM 'AKHARONIM (נביאים אחרונים; Nabi-nabi kemudian)
1.. Isaiah - ישעיה -YESYA'YAHU (Yesaya)
2. Jeremiah - ירמיה - YIRMEYAHU (Yeremia)
3. Ezekiel - יחזקאל - YEKHEZQ'EL (Yehezkiel)
4. The Twelve Minor Prophets - תרי עשר - TREI 'ASAR (Dua belas Nabi-nabi kecil), terdiri atas satu kitab:
a. Hosea - הושע - HOSYEA' (Hosea)
b. Joel - יואל - YO'EL (Yoel)
c. Amos - עמוס - 'AMOS (AMOS)
d. Obadiah - עובדיה - 'OVADYAH (Obaja)
e. Jonah - יונה - YONAH (Yunus)
f. Micah - מיכה - MIKHAH (Mikha)
g. Nahum - נחום - NAKHUM (Nahum)
h. Chavaquq - חבקוק - KHABAQUQ (Habakuk)
i. Ts'phanyah - צפניה - TSEFANYAH (Zefanya)
j. Haggai - חגי - KHAGAI (Hagai)
k. Z'kharyah - זכריה - ZEKHARYAH (Zakharia)
l. Malakhi - מלאכי - MAL'AKHI (Maleakhi)
C. Kitab KETUVIM (כתובים; Tulisan-tulisan) terdiri atas:
1. Psalms - תהלים - TEHILIM (Mazmur)
2. Proverbs - משלי - MISYLEI (Amsal)
3. Job - איוב- 'IYOV (Ayub)
4. Song of Songs - שיר השירים - SYIR HASYIRIM (Kidung Agung)
5. Ruth - רות - RUT (Rut)
6. Lamentations - איכה - 'EYKHAH (Ratapan)
7. Ecclesiastes - קהלת - QOHELET (Pengkhotbah)
8. Esther - אסתר - 'ESTER (Ester)
9. Daniyel - דניאל - DANI'EL (Daniel)
10. Ezra-N'chemyah - עזרא ונחמיה - 'EZRA'-NEKHEMYAH (Ezra-Nehemia)
11. Chronicles (I & II) - דברי הימים - DIVREY HAYAMIM (1 & 2 Tawarikh)
Beberapa penafsir beranggapan bahwa nama Kitab Yeremia, adalah nama pertama dalam deretan Kitab nabi-nabi Perjanjian Lama (Nevi’im Akharoniim; nabi-nabi kemudian), maka nama Yeremia dianggap mewakili seluruh bagian (Nevi’im Akharoniim) itu termasuk Kitab Zakharia (Reff Talmud, Baba Bathra 14b, J.B. Lighfoot, Horae Hebraicae et Talmudicae, II, 362) mengatakan bahwa Kitab Yeremia sebagai kitab pada urutan yang pertama dalam susunan kitab-kitab para nabi menurut rabbi-rabbi zaman dahulu, walaupun seringkali Kitab Yesaya juga dianggap sebagai kitab pertama). Jadi St. Matius mengutip dari kumpulan kitab-kitab para nabi ini, serta menyebutkan Nabi Yeremia sebab dialah yang pertama dan oleh karenanya menjadi petunjuk. Seperti halnya “Mazmur” mewakili bagian Kitab Ketuvim (tulisan-tulisan) karena Mazmur adalah kitab pertama dalam bagian ini (reff Lukas 24:44).
Cara yang sama diikuti oleh Injil Markus 1:2-3 yang hanya menyebut Yesaya sebagai sumber dari kutipan gabungan dari Maleakhi 3:1 dan Yesaya 40:3. Dalam kasus itu juga, yang disebut namanya ialah yang lebih terkenal di antara dua nabi tersebut. Oleh karena hal semacam itu merupakan praktik yang lazim dalam kesusasteraan abad pertama Masehi, yaitu ketika Kitab-kitab Injil ditulis, maka para penulisnya tidak mungkin dapat dipersalahkan karena tidak mengikuti kebiasaan zaman modern untuk memberikan identifikasi serta pencantuman catatan kaki secara persis (yang tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah sebelum dibuat penyalinan dari gulungan kitab menjadi kodeks dan setelah ditemukannya percetakan).
Jadi kesimpulannya di dalam Injil Matius 27:9-10 ini, St. Matius memadukan dan meringkaskan unsur-unsur simbolisme nubuat, satu dari Kitab Yeremia (Yeremia 32:6-9) dan yang satunya dari Kitab Zakharia (Zakharia 11:12-13). Kemudian Injil Matius menyebutkan nama nabi yang lebih tua dan lebih terkenal sebagai sumbernya, suatu kebiasaan pada masanya yang sering dipakai ketika mengutip ayat-ayat dari kitab para nabi. Inilah kebiasaan rabbinik Yahudiah pada masa itu.
Catatan:
Baraita:
Arti harafiah dari kata Aram ’baraita’ (jamak: baraitot) ialah: ’berdiri di luar’. Inilah ucapan-ucapan dari para Tana’im (=ahli-ahli Kitab, permulaan tarikh Masehi-220) yang tidak memperoleh tempat dalam Misyna (kumpulan pengajaran, bahan pelajaran dalam yeshivah, beth ha-midrasy yaitu madrasah Yahudi). Dalam Talmud Babel, baraita itu sering diacu. Baraita selalu didahului ungkapan: ’teno rabanan’ artinya: ’para rabi telah mengajarkan’. Kata tanya atau tena berarti: telah diajarkan. Banyak baraitot dapat ditemukan kembali dalam Talmud. Baraitot itu bisa dianggap sebagai halakhot (himpunan perintah-perintah dan peraturan-peraturan untuk tingkah-laku dalam agama Yudaisme) yang berdiri di luar Misyna.
Kata baraita juga muncul dalam nama yang diberikan pada himpunan-himpunan tertentu, misalnya Baraita Rabi Ada, yang membahas perkara-perkara kalender; Baraita Rabi Eliezer, yang lebih dikenal dengan nama Pirke de Rabi Eliezer, yang membahas tentang didirikannya Kemah suci; dan Baraita de Nida, yang dengan panjang lebar membicarakan perintah-perintah dari Kitab Imamat 15:19-33. Sebenarnya Tosefta (himpunan penjelasan-penjelasan dan ucapan-ucapan dari para Tana’im, yang berkaitan erat dengan Misyna) juga berupa himpunan baraitot.
Referensi
1. Drs. R.C. Musaph – Andriesse. Sastra Para Rabi Setelah Taurat. Karangan Para Rabi Dari Taurat Sampai Kabala. Diindonesiakan oleh Henk ten Napel. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. Cetakan pertama: 1991.
2. From Wikipedia, the free encyclopedia. Tanakh : http://en.wikipedia.org/wiki/Tanakh.
3. Gleason L. Archer. Encyclopedia of Bible Difficulties. Foreword by Kenneth S. Kantzer. The Zondervan Corporation. 1982.
4. Josh Mc Dowell and Don Stewart. Jawaban Bagi Pertanyaan Orang yang Belum Percaya. Diterbitkan oleh: Here’s Life Publishers, Inc. P.O. Box 1676. San Bernardino, CA. 92402. Penerbit Gandum Mas. Malang.
5. L. Suharyo Pr. Membaca Kitab Suci. Mengenal Tulisan Perjanjian Baru. Lembaga Biblika Indonesia. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Cetakan pertama. 1991.
6. Lawrence H. Schiffman, Texts and Traditions, The Center for Online Judaic Studies. COJS.org: Babylonian Talmud Bava Batra 14b-15a: The Order of Scripture, Ktav, Hoboken 1998, p.118-119.
7. Dan lain-lain.
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
I. Apakah St. Matius Sang Penulis Injil Membuat Kesalahan?
Orang mengatakan bahwa Alkitab tidak hanya penuh dengan pertentangan, tetapi di dalamnya juga terdapat banyak kesalahan. Salah satu kesalahan yang paling sering disebutkan oleh orang-orang yang menentang Alkitab terdapat dalam Matius 27:9-10. Dalam Injil Matius 27:9-10 menggambarkan pembelian tanah milik tukang periuk dengan uang Yudas Iskariot sebagai penggenapan dari nubuat Perjanjian Lama:
“Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku”.
Kenyataan bahwa apa yang ditulis penulis Injil Matius ternyata bukannya merujuk ke Nubuat Nabi Yeremia tapi justru sebenarnya merujuk ke Kitab Nabi Zakharia 11:12-13:
“Lalu aku berkata kepada mereka: "Jika itu kamu anggap baik, berikanlah upahku, dan jika tidak, biarkanlah!" Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak. Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Serahkanlah itu kepada penuang logam!" --nilai tinggi yang ditaksir mereka bagiku. Lalu aku mengambil ketiga puluh uang perak itu dan menyerahkannya kepada penuang logam di rumah TUHAN”.
Dengan fakta ayat-ayat Kitab Zakharia11:12-13 di atas, banyak orang telah menonjolkannya sebagai bukti bahwa cerita-cerita Injil tidak selalu merupakan sejarah dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Dan ini menunjukkan bahwa Alkitab itu palsu, korup, rekayasa manusia, Alkitab asli sudah lama hilang. Apakah Matius membuat kesalahan? Sama sekali tidak.
Bahwa kata-kata dalam Injil Matius ini atau kata-kata yang sangat mirip dengan ini, terdapat di dalam nubuat yang terdapat di dalam Perjanjian Lama dan bahwa yang tertulis di situ ialah nama Nabi Zakharia tidak perlu kita ragukan lagi kebenarannya. Tetapi ini tidak berarti bahwa Nabi Yeremia sama sekali tidak menyebutkan nubuat itu, karena sudah merupakan fakta yang diketahui umum bahwa dalam Perjanjian Lama nabi-nabi yang terkemudian seringkali mengutip nubuat-nubuat yang diucapkan oleh nabi-nabi sebelumnya. Sebagai contoh, Zakharia sendiri (Zakharia 1:4) mengutip nubuat yang dikenal sebagai nubuat Yeremia (lihat Yeremia 18:11), jadi dalam bagian yang sedang kita bahas ini Zakharia mungkin juga telah mengutip dengan mengatas-namakan nubuat Yeremia. Dalam Kitab Yeremia sendiri tidak ditulis bahwa Yeremia pernah mengucapkan nubuat ini. Meskipun demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk menganggap bahwa seluruh nubuat yang diucapkan oleh Nabi Yeremia ditulis dalam Kitab Yeremia, dan Nabi Zakharia dapat dengan mudah menyebutkan nubuat Nabi Yeremia yang tidak ditulis dalam Kitab Yeremia.
Lagi pula harus kita perhatikan bahwa Nabi Zakharia sendiri berkata dalam Zakharia 7:7, "Bukankah ini firman yang telah disampaikan Tuhan dengan perantaraan para nabi yang terdahulu?"
Jadi jelas bahwa Zakharia beranggapan bahwa sebagian dari tugasnya adalah untuk mengingatkan kembali nubuat yang telah disampaikan Tuhan dengan perantaraan para nabi yang terdahulu. Ia terutama cenderung untuk mengingatkan kembali nubuat-nubuat Yeremia, karena itu di antara orang Yahudi ada pepatah yang mengatakan bahwa "roh Yeremia ada di atas Zakharia".
Jadi kalau kita perhatikan apa yang dianggap sebagai kesalahan Matius, seharusnya sama sekali bukan kesalahan kalau kita sudah menyelidiki hal itu dengan teliti.
Barangkali harus ditambahkan bahwa banyak kritikus meragukan apakah pasal-pasal penutup dari Kitab Zakharia ini benar-benar merupakan bagian dari nubuat-nubuat Nabi Zakharia. Di dalam pasal-pasal itu sendiri tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa itu merupakan bagian dari nubuat Nabi Zakharia. Memang benar selama berabad-abad pasal-pasal itu dianggap sebagai bagian dari nubuat Nabi Zakharia, tetapi di dalam Alkitab sendiri tidak ada bagian yang menunjukkan bahwa pasal-pasal itu ditulis oleh Nabi Zakharia, malah dianggap bahwa sebenarnya bagian-bagian ini bukan dinubuatkan oleh Nabi Zakharia melainkan oleh Nabi Yeremia. Tetapi ini merupakan persoalan bagi para kritikus. Seandainya terbukti bahwa hal itu memang demikian, maka ini akan makin menguatkan ketepatan dari apa yang dinyatakan Matius.
Ada pula para ahli yang mengatakan bahwa nubuat Yeremia ini disampaikan secara lisan oleh Nabi Yeremia. Akan tetapi hal ini tak dapat dibuktikan. Sejarawan Gereja Purba, Eusebius dari Kaesaria atau Eusebius al-Qaisari (265-340), menyatakan bahwa orang Yahudi mencoret bagian nubuat Yeremia ini dari Kitab Yeremia, tetapi hal ini sulit diterima mengingat orang Yahudi sangat menghormati Kitab Suci mereka, yaitu Kitab Tenakh. Para ahli Taurat begitu menghormati Kitab Suci, sehingga bila mereka menemukan sesuatu yang dianggap kesalahan sekalipun, mereka menolak untuk mengubah teks itu. Sebagai gantinya mereka membuat suatu catatan tepi.
Tetapi walaupun hal itu tidak demikian, jika memang benar Nabi Zakharia yang menuliskan nubuat itu (Zakharia 11:11-13) sebagaimana yang terdapat di dalam Alkitab, hal ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Nabi Yeremia tidak mengucapkan nubuat yang serupa yang kemudian dikutip oleh Nabi Zakharia dan yang telah dengan tepat dikutip oleh St. Matius.
Para kritikus harus menyelidiki lebih jauh lagi kalau mereka ingin membuktikan bahwa Matius telah membuat kesalahan.
Kalau pun ini memang benar suatu kesalahan, hal ini tidak meruntuhkan kewibawaan Injil Matius, karena konsep pewahyuan Kitab Suci menurut ajaran Kristen memang berbeda dengan pewahyuan Kitab Suci menurut ajaran Islam. Kitab-kitab dalam Alkitab bukanlah kitab keramat yang turun dari langit. Alkitab harus diakui, adalah sebuah kitab yang sangat manusiawi. Alkitab sebagai firman Tuhan haruslah dimaknai secara rohani, bukan secara harfiah. Seperti halnya kejadian-kejadian di alam ini, pergantian siang dan malam terjadi begitu alamiah dan sangat-sangat biasa, walaupun sebenarnya tanpa kita sadari Tuhan tetap bekerja dan mengatur semua ini. Tuhan berada di balik layar, Tuhanlah yang menjadi penentu sejarah umat manusia. Tentu saja untuk mengirim pesan-pesanNya dalam bentuk teks tertulis yang dibukukan, Ia tidak perlu mempertontonkan keajaiban-keajaiban secara berlebihan, cukuplah ia bekerja di dalam diri para penulisnya secara sangat manusiawi, bahkan sampai para penulisnya sendiri pun tidak menyadari kalau dirinya telah dipakai oleh Tuhan. Tentu saja, adanya kesalahan tulis masih dimungkinkan dan Tuhan mengijinkan hal itu sebagai bagian dari pemberian kebebasan penuh kepada manusia tanpa intervensi yang berlebihan, tetapi secara immanen, Ia tetap mencegah para penulis itu dari kesalahan-kesalahan yang fatal.
Kelirunya penyebutan nama nabi sama sekali tidak menghilangkan makna yang sesungguhnya dari apa yang hendak disampaikan Tuhan, bahwa apa yang dinubuatkan itu memang pernah diucapkan oleh nabi di zaman Perjanjian Lama. Dalam Kekristenan, Alkitab adalah Firman Tuhan secara rohani. Secara lahiriah, Alkitab sangatlah manusiawi, tidak dikeramatkan atau dipandang muluk-muluk sebagai Kitab Suci yang diturunkan dari langit. Dan lihatlah, betapa jujurnya orang Kristen sejak abad pertama sampai hari di mana kita sekarang hidup, mereka sama sekali tidak mengubah atau mencoba mengkoreksi tulisan Rasul Matius tersebut walaupun 'kelihatan keliru'.
II. Kebenaran Nubuat Nabi Zakharia dan Nabi Yeremia dalam Injil Matius
Matius 27:9:
“Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,”
Alkitab bahasa Inggris terjemahan KJV berbunyi sebagai berikut:
“Then was fulfilled that which was spoken by Jeremy the prophet, saying, And they took the thirty pieces of silver, the price of him that was valued, whom they of the children of Israel did value;”
Terjemahan TR dalam bahasa Yunani:
“τοτε επληρωθη το ρηθεν δια ιερεμιου του προφητου λεγοντος και ελαβον τα τριακοντα αργυρια την τιμην του τετιμημενου ον ετιμησαντο απο υιων ισραηλ”
Translit., Interlinear (terjemahan dalam bahasa Indonesia):
tote {KEMUDIAN} eplêrôthê {DIPENUHI} to {(apa yang)} rêthen {DIKATAKAN} dia {MELALUI} ieremiou {YEREMIA} tou prophêtou {NABI} legontos {BERKATA} kai {DAN} elabon {MEREKA MENGAMBIL} ta tria konta{TIGA PULUH} arguria {uang perak } tên timên {HARGA} tou tetimêmenou{TELAH DITETAPKAN HARGA} on {(kepadanya} yang} etimêsanto {MEREKA MENETAPKAN HARGA} apo{DARI} uiôn {KETURUNAN-KETURUNAN} israêl {ISRAEL}
Matius 27:10:
”dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku."
KJV: ”And gave them for the potter's field, as the Lord appointed me”.
TR: ”και εδωκαν αυτα εις τον αγρον του κεραμεως καθα συνεταξεν μοι κυριος“
Translit., Interlinear:
kai {LALU} edôkan {MEREKA MEMBERI} auta {(uang) INI} eis {UNTUK} ton agron {TANAH} tou kerameôs {TUKANG TEMBIKAR} katha {SEPERTI} sunetaxen {MEMESANKAN} moi {KEPADAKU} kurios {TUHAN}
Hal yang luar biasa dari kutipan ini adalah bahwa sesungguhnya sebagian besar darinya sebetulnya berasal dari Kitab Nabi Zakhariah 11:12-13 yang berbunyi sebagai berikut:
“Lalu aku berkata kepada mereka: ‘Jika itu kamu anggap baik, berikanlah upahku, dan jika tidak, biarkanlah!’. Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak. Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadaku: ’Serahkanlah itu kepada penuang logam!’ – nilai tinggi yang ditaksir mereka bagiku. Lalu aku mengambil ketiga puluh uang perak itu dan menyerahkannya kepada penuang logam di rumah TUHAN”.
Persamaan Matius 27:9-10 ini dengan Zakharia 11:12-13:
a) Pekerjaan Yesus maupun Zakharia sama-sama dihargai rendah.
Kalau dalam Zakharia 11:13 ada kata-kata ‘nilai tinggi’ [NIV: the handsome price (= harga yang bagus)], maka itu merupakan suatu ejekan / sindiran belaka.
b) Sama-sama dihargai 30 keping perak.
c) Uangnya sama-sama dilempar ke Bait Allah (ay 5 bdk. Zakharia 11:13).
Kata-kata ‘serahkanlah’ dan ‘menyerahkannya’ dalam Zakharia 11:13 versi Kitab Suci Indonesia, salah terjemahan.
Zakharia 11:13 (NIV): “And the Lord said to me, ’Throw it to the potter’ - the handsome price at which they priced me! So I took the 30 pieces of silver and threw them into the house of the Lord to the potter” (= dan Tuhan berkata kepadaku: ‘Lemparkan itu kepada tukang periuk’ - harga yang bagus untuk mana mereka menilai aku. Lalu aku mengambil ke 30 keping perak itu dan melemparkan mereka ke dalam rumah Tuhan kepada tukang periuk).
d) Dalam kedua peristiwa ini uang akhirnya jatuh ke tangan tukang periuk.
• Dalam Matius, uang dibelikan ‘tanah tukang periuk’, sehingga jelas dibayarkan kepada tukang periuk.
• Dalam Zakharia, uang juga dilemparkan kepada tukang periuk.
Kitab Suci Indonesia lagi-lagi salah karena menterjemahkan ‘penuang logam’.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘potter’ (= tukang periuk / penjunan).
Sekarang persoalannya, kalau bagian ini cocok dengan Zakharia 11:12-13, mengapa dalam ayat 9 ini Matius tidak mengatakan ‘Nabi Zakharia’ tetapi ‘Nabi Yeremia’? Ada perbedaan cukup berarti antara ayat-ayat Kitab Zakharia dengan kutipan dalam Injil Matius, yang menyuruh sang nabi membayar – atau sertidak-tidaknya memberikan – uang pembelian, lalu menyuruhnya menyerahkan uang itu untuk mendapat sebidang tanah dan bukan memberikannya kepada tukang periuk secara pribadi. Bagaimanapun, seluruh maksud dari kutipan dalam Injil Matius diarahkan pada pembelian sebidang tanah. Ayat dalam Kitab Nabi Zakharia ini tidak mengatakan apa-apa mengenai pembelian sebidang tanah; dan sesungguhnya Nabi Zakharia bahkan tidak menyebut sama sekali tentang sebidang tanah.
St. Matius penulis Injil, mencampurkan Zakharia 11:12-13 dengan Yeremia 18:2-12 dan 19:1-15 dimana disebutkan bahwa nabi memecahkan buli-buli tukang periuk di lembah Hinom sebagai tanda penghakiman atas orang Yehuda yang “telah membuat tempat ini penuh dengan darah orang-orang yang tidak bersalah”. Jika kita melihat Kitab Yeremia 32:6-9, maka kita menemukan sang nabi membeli sebidang tanah di Anatot dengan sejumlah syikal. Kitab Yeremia 18:2 menceritakan sang nabi sedang mengamat-amati seorang tukang periuk sedang membuat bejana-bejana tanah liat di rumahnya. Kitab Yeremia 19:2 menunjukkan bahwa di dekat Bait Allah terdapat seorang tukang periuk yang mempunyai sebuah tempat pembuatan periuk di lembah Hinom. Yeremia 19:11 berbunyi: ”Beginilah Firman TUHAN semesta alam: ’Demikianlah akan Kupecahkan bangsa ini dan kota ini, seperti orang memecahkan tembikar tukang periuk, sehingga tidak dapat diperbaiki lagi. Dan Tofet akan menjadi tempat penguburan’”. Sebab itu, tampaknya tindakan Nabi Zakharia menyerahkan uang pembeliannya kepada tukang periuk itu mengacu pada tindakan simbolis Nabi Yeremia pada zaman dahulu. Tetapi, hanya Yeremia yang menyebutkan ”tanah” milik tukang periuk – yang merupakan pokok utama dari kutipan Injil Matius.
Persamaan antara Matius 27:9-10 dengan Yeremia 19:1-15 adalah:
1. Sama-sama ada pencurahan darah orang yang tak bersalah (Mat.27:4; Yer. 19:4).
2. Sama-sama melibatkan tokoh-tokoh agama Yahudi (Mat. 27:3,6,7; Yer. 19:1).
3. Sama-sama ada tukang periuknya (Mat. 27:7,10; Yer. 19:1,11).
4. Tofet / lembah pembunuhan dalam Yer. 19:6 menurut tradisi adalah sama dengan tanah tukang periuk / tanah darah dalam Mat. 27:7.
5. Sama-sama ada tempat penguburan (Mat. 27:7; Yer. 19:11).
III. Penulisan Nubuat dengan Latar Belakang Rabbinik Yahudiah dan Khas ke-Yahudiannya
St. Matius adalah seorang Yahudi, pemungut cukai (petugas pajak pada zaman itu) yang menjadi salah satu dari kedua belas rasul Yesus. Jika Injil Markus ditulis untuk orang Romawi (Kristen non Yahudi) dan Injil Lukas untuk Teofilus dan semua orang percaya bukan Yahudi, maka Injil Matius ditulis untuk orang-orang Kristen dengan kebangsaan Yahudi yang tentu saja berasal dari agama Yahudiah (Yudaisme). Orang-orang ini mengenal Kitab Perjanjian Lama (Kitab TANAKH) dengan sangat baik. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam Injil Matius kita temukan begitu banyak kutipan Perjanjian Lama, termasuk nabi-nabi kaum Yahudi. Sehingga tidaklah mengherankan kitab Matius ini merupakan Injil yang mencolok sifat ke-Yahudiannya.
Tujuan St. Matius menulis Injil ini adalah untuk meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias yang dinubuatkan oleh nabi-nabi Israel pada zaman Perjanjian Lama, yang sudah lama dinantikan. Latar Belakang Yahudi dari Injil ini tampak dalam banyak hal, termasuk ketergantungannya pada penyataan, janji, dan nubuat Perjanjian Lama (PL) untuk membuktikan bahwa Yesus memang Mesias yang sudah lama dinantikan, dan petunjuknya kepada berbagai kebiasaan Yahudi tanpa memberikan penjelasan apa pun (berbeda dengan kitab-kitab Injil yang lain), termasuk dalam cara penulisan nubuat nabi-nabi. Sekalipun demikian, Injil ini tidak semata-mata untuk orang Yahudi. Seperti amanat Yesus sendiri, Injil Matius pada hakikatnya ditujukan kepada seluruh gereja, serta dengan saksama menyatakan lingkup universal Injil (mis. Mat 2:1-12; Mat 8:11-12; Mat 13:38; Mat 21:43; Mat 28:18-20). Sebagai seorang Yahudi, St. Matius pasti juga sangat mengenal isi Kitab TANAKH, tradisi, kebiasaan dan tata cara penulisan dan pengutipan ayat-ayat naskah-naskah Kitab para Nabi yang dilakukan secara khas oleh para rabbi Yahudi pada masanya.
Dari keterangan di atas nampak bahwa St. Matius sedang menggabungkan dan merangkum unsur-unsur simbolisme yang ada dalam kitab nabi-nabi baik dari Kitab Zakharia maupun dari Kitab Yeremia. Namun, karena Nabi Yeremia adalah nabi yang lebih menonjol di antara dua nabi tersebut maka dia memprioritaskan nama Nabi Yeremia daripada nama nabi kecil ini, yaitu Nabi Zakharia. Jadi sang penulis, yaitu St. Matius sengaja menyebut salah satu sumber saja yaitu Nabi Yeremia, dan tidak merasa perlu menyebut Nabi Zakaria sebab para pembaca dapat jelas melihat bahwa ayat itu dikutip dari Kitab Zakaria. Hal ini berkaitan dengan struktur sistematika/pengorganisasian Kitab suci orang Yahudi yang disebut תנך - TANAKH yang adalah singkatan dari Torah - Nevi'im – Ketuvim dan praktik yang lazim dalam kesusasteraan abad pertama Masehi, yaitu memprioritaskan nama nabi-nabi yang lebih terkenal dan lebih besar daripada nama nabi-nabi kecil.
Dalam Talmud Babylonia Baba Bathra 14b-15a, tentang Urut-urutan Kitab Suci, Lawrence H. Schiffman, Teks-teks dan Tradisi-tradisi, Ktav, Hoboken 1998, p.118-119, dikatakan:
Para Rabbi dari Talmud, dalam baraita, mendaftarkan urutan kitab-kitab dalam Kitab Suci Yahudi (TENAKH) dengan cara yang berbeda bahkan dari Kitab-kitab Yahudi kemudiannya. Bagian ini menunjukkan bahwa kanon tripartit adalah norma. Para Rabbi juga berhubungan dengan pertanyaan siapa yang benar-benar melakukan berbagai penulisan Kitab-kitab tersebut.
Selanjutnya dikatakan:
Teno rabanan (para Rabbi kita mengajarkan):
Urutan para nabi (Nevi'im) adalah: Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja, Yeremia, Yehezkiel, Yesaya, dan Dua Belas Nabi Kecil. Sekarang, Hosea urutan pertama, seperti ada tertulis, "Tuhan pertama berbicara kepada Hosea" (Hosea 1:2). Tapi, apakah Ia pertama kali berbicara kepada Hosea? Apakah tidak ada sejumlah nabi-nabi dari Musa sampai Hosea? Namun, Rabbi Yohanan mengatakan bahwa ia adalah yang pertama dari empat nabi yang bernubuat pada waktu itu, dan mereka ini adalah: Hosea, dan Yesaya, Amos, dan Mikha. Lalu Hosea haruskah ditempatkan pada urutan pertama? Karena bernubuat itu ditulis (dalam koleksi bersama-sama) dengan Hagai, Zakharia, dan Maleakhi, dan Hagai, Zakharia, dan Maleakhi adalah yang terakhir dari para nabi, Hosea dianggap bersama-sama dengan mereka. Maka apakah seharusnya ditulis secara terpisah dan ditempatkan sebelumnya? Karena kecil, itu mungkin hilang. Sekarang, Yesaya adalah sebelum Yeremia dan Yehezkiel, maka Yesaya harus telah ditempatkan pertama? Raja-raja berakhir dengan cerita kehancuran, dan Yeremia seluruhnya adalah catatan-laporan dari kehancuran, dan Yehezkiel dimulai dengan kehancuran dan diakhiri dengan penghiburan, dan Yesaya sepenuhnya penghiburan. Jadi, kita berdampingan kehancuran kepada kehancuran dan penghiburan kepada penghiburan.
Berikut adalah struktur sistematika/pengorganisasian Kitab TANAKH (תנך), yaitu Torah - Nevi'im - Ketuvim.
A. Kitab TORAH/ Taurat (תורה) terdiri dari:
1. Genesis - בראשית - BERESYIT ("pada mulanya", Kejadian)
2. Exodus - שמות - SYEMOT ("nama-nama", Keluaran)
3. Leviticus - ויקרא - VAYIQRA ("dan Dia memanggil", Imamat)
4. Numbers - במדבר - BEMIDBAR ("di padang gurun", Bilangan)
5. Deuteronomy - דברים - DEVARIM ("perkataan-perkataan", Ulangan)
B. Kitab Nevi'im (נביאים; Nabi-nabi) terdiri dari:
1. NEVI'IM RISYONIM (נביאים ראשונים; Nabi-nabi pertama)
1. Joshua - יהושע - YEHOSYUA' (Yosua)
2. Judges - שופטים - SYOFETIM (Hakim-hakim)
3. Samuel (I & II) - שמואל - SYEMU'EL (1 & 2 Samuel)
4. Kings (I & II) - מלכים - MELAKHIM (1 & 2 Raja-raja)
2. NEVI'IM 'AKHARONIM (נביאים אחרונים; Nabi-nabi kemudian)
1.. Isaiah - ישעיה -YESYA'YAHU (Yesaya)
2. Jeremiah - ירמיה - YIRMEYAHU (Yeremia)
3. Ezekiel - יחזקאל - YEKHEZQ'EL (Yehezkiel)
4. The Twelve Minor Prophets - תרי עשר - TREI 'ASAR (Dua belas Nabi-nabi kecil), terdiri atas satu kitab:
a. Hosea - הושע - HOSYEA' (Hosea)
b. Joel - יואל - YO'EL (Yoel)
c. Amos - עמוס - 'AMOS (AMOS)
d. Obadiah - עובדיה - 'OVADYAH (Obaja)
e. Jonah - יונה - YONAH (Yunus)
f. Micah - מיכה - MIKHAH (Mikha)
g. Nahum - נחום - NAKHUM (Nahum)
h. Chavaquq - חבקוק - KHABAQUQ (Habakuk)
i. Ts'phanyah - צפניה - TSEFANYAH (Zefanya)
j. Haggai - חגי - KHAGAI (Hagai)
k. Z'kharyah - זכריה - ZEKHARYAH (Zakharia)
l. Malakhi - מלאכי - MAL'AKHI (Maleakhi)
C. Kitab KETUVIM (כתובים; Tulisan-tulisan) terdiri atas:
1. Psalms - תהלים - TEHILIM (Mazmur)
2. Proverbs - משלי - MISYLEI (Amsal)
3. Job - איוב- 'IYOV (Ayub)
4. Song of Songs - שיר השירים - SYIR HASYIRIM (Kidung Agung)
5. Ruth - רות - RUT (Rut)
6. Lamentations - איכה - 'EYKHAH (Ratapan)
7. Ecclesiastes - קהלת - QOHELET (Pengkhotbah)
8. Esther - אסתר - 'ESTER (Ester)
9. Daniyel - דניאל - DANI'EL (Daniel)
10. Ezra-N'chemyah - עזרא ונחמיה - 'EZRA'-NEKHEMYAH (Ezra-Nehemia)
11. Chronicles (I & II) - דברי הימים - DIVREY HAYAMIM (1 & 2 Tawarikh)
Beberapa penafsir beranggapan bahwa nama Kitab Yeremia, adalah nama pertama dalam deretan Kitab nabi-nabi Perjanjian Lama (Nevi’im Akharoniim; nabi-nabi kemudian), maka nama Yeremia dianggap mewakili seluruh bagian (Nevi’im Akharoniim) itu termasuk Kitab Zakharia (Reff Talmud, Baba Bathra 14b, J.B. Lighfoot, Horae Hebraicae et Talmudicae, II, 362) mengatakan bahwa Kitab Yeremia sebagai kitab pada urutan yang pertama dalam susunan kitab-kitab para nabi menurut rabbi-rabbi zaman dahulu, walaupun seringkali Kitab Yesaya juga dianggap sebagai kitab pertama). Jadi St. Matius mengutip dari kumpulan kitab-kitab para nabi ini, serta menyebutkan Nabi Yeremia sebab dialah yang pertama dan oleh karenanya menjadi petunjuk. Seperti halnya “Mazmur” mewakili bagian Kitab Ketuvim (tulisan-tulisan) karena Mazmur adalah kitab pertama dalam bagian ini (reff Lukas 24:44).
Cara yang sama diikuti oleh Injil Markus 1:2-3 yang hanya menyebut Yesaya sebagai sumber dari kutipan gabungan dari Maleakhi 3:1 dan Yesaya 40:3. Dalam kasus itu juga, yang disebut namanya ialah yang lebih terkenal di antara dua nabi tersebut. Oleh karena hal semacam itu merupakan praktik yang lazim dalam kesusasteraan abad pertama Masehi, yaitu ketika Kitab-kitab Injil ditulis, maka para penulisnya tidak mungkin dapat dipersalahkan karena tidak mengikuti kebiasaan zaman modern untuk memberikan identifikasi serta pencantuman catatan kaki secara persis (yang tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah sebelum dibuat penyalinan dari gulungan kitab menjadi kodeks dan setelah ditemukannya percetakan).
Jadi kesimpulannya di dalam Injil Matius 27:9-10 ini, St. Matius memadukan dan meringkaskan unsur-unsur simbolisme nubuat, satu dari Kitab Yeremia (Yeremia 32:6-9) dan yang satunya dari Kitab Zakharia (Zakharia 11:12-13). Kemudian Injil Matius menyebutkan nama nabi yang lebih tua dan lebih terkenal sebagai sumbernya, suatu kebiasaan pada masanya yang sering dipakai ketika mengutip ayat-ayat dari kitab para nabi. Inilah kebiasaan rabbinik Yahudiah pada masa itu.
Catatan:
Baraita:
Arti harafiah dari kata Aram ’baraita’ (jamak: baraitot) ialah: ’berdiri di luar’. Inilah ucapan-ucapan dari para Tana’im (=ahli-ahli Kitab, permulaan tarikh Masehi-220) yang tidak memperoleh tempat dalam Misyna (kumpulan pengajaran, bahan pelajaran dalam yeshivah, beth ha-midrasy yaitu madrasah Yahudi). Dalam Talmud Babel, baraita itu sering diacu. Baraita selalu didahului ungkapan: ’teno rabanan’ artinya: ’para rabi telah mengajarkan’. Kata tanya atau tena berarti: telah diajarkan. Banyak baraitot dapat ditemukan kembali dalam Talmud. Baraitot itu bisa dianggap sebagai halakhot (himpunan perintah-perintah dan peraturan-peraturan untuk tingkah-laku dalam agama Yudaisme) yang berdiri di luar Misyna.
Kata baraita juga muncul dalam nama yang diberikan pada himpunan-himpunan tertentu, misalnya Baraita Rabi Ada, yang membahas perkara-perkara kalender; Baraita Rabi Eliezer, yang lebih dikenal dengan nama Pirke de Rabi Eliezer, yang membahas tentang didirikannya Kemah suci; dan Baraita de Nida, yang dengan panjang lebar membicarakan perintah-perintah dari Kitab Imamat 15:19-33. Sebenarnya Tosefta (himpunan penjelasan-penjelasan dan ucapan-ucapan dari para Tana’im, yang berkaitan erat dengan Misyna) juga berupa himpunan baraitot.
Referensi
1. Drs. R.C. Musaph – Andriesse. Sastra Para Rabi Setelah Taurat. Karangan Para Rabi Dari Taurat Sampai Kabala. Diindonesiakan oleh Henk ten Napel. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. Cetakan pertama: 1991.
2. From Wikipedia, the free encyclopedia. Tanakh : http://en.wikipedia.org/wiki/Tanakh.
3. Gleason L. Archer. Encyclopedia of Bible Difficulties. Foreword by Kenneth S. Kantzer. The Zondervan Corporation. 1982.
4. Josh Mc Dowell and Don Stewart. Jawaban Bagi Pertanyaan Orang yang Belum Percaya. Diterbitkan oleh: Here’s Life Publishers, Inc. P.O. Box 1676. San Bernardino, CA. 92402. Penerbit Gandum Mas. Malang.
5. L. Suharyo Pr. Membaca Kitab Suci. Mengenal Tulisan Perjanjian Baru. Lembaga Biblika Indonesia. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Cetakan pertama. 1991.
6. Lawrence H. Schiffman, Texts and Traditions, The Center for Online Judaic Studies. COJS.org: Babylonian Talmud Bava Batra 14b-15a: The Order of Scripture, Ktav, Hoboken 1998, p.118-119.
7. Dan lain-lain.
Masjid, Gereja dan Sinagog Bersinergi di Moskow (1)
Oleh: Syaripudin Zuhri
5 Agustus 2010
Ada interaksi yang saling tarik menarik antara Indonesia dan Rusia, hal tersebut semakin terlihat menjelang acara puncak peringatan 60 tahun hubungan kerjasama antar Indonesia dan Rusia. Hubungan dua negara ini terasa unik, persis seperti anak muda yang sedang bercinta, kadang sangat dekat, namun suatu waktu saling menjauh, namun tidak putus !
Ada jarak yang cukup jauh dan ini rill, ribuan km terbentang antar Benua yang memakan waktu penerbangan tak kurang dari 15 jam ! Di sisi politik jarak inipun pernah menjauh, terutama ketika terjadi pembrontakan G 30 S PKI, banyak Mahasiswa Indonesia yang pada saat itu kuliah di Rusia ( dulu Uni Soviet ) tak berani pulang ke tanah air ! Ya, karena sistem yang dibangun pada waktu itu ( Orba ) sangat tidak “bersahabat”, akhirnya hubungan antara Indonesia dan Rusia di jaman Orba, boleh di bilang ” hidup segan, matipun tak mau ” ya biasa saja, hambar !
Nah, ketika komunis bubar tahun 1991, tepatnya setelah kudeta 3 hari oleh komunis yang gagal ( 19-21 Agustus 1991 ) di jamanya Gorbachev maka hubungan antara Indonesia dan Rusiapun kembali menghangat ! Lagi-lagi ada kesamaan antara Indonesia dan Rusia, dari sisi politik dan idiologinya, Komunis sama-sama gagal di dua negara ini, komunis sama-sama tidak laku dan tak layak jual, kalau pakai istilah ekonomi ! Di Rusia komunis hanya bertahan 70 tahun, di Indonesia komunis dua kali mengadakan pembrontakan ( 1948 dan 1965 ) dua-duanya gagal ! Allahu Akbar !
Ketika terjadi kudeta tiga hari itu … masih terasa dan terbayang dalam diri ini, ketika tank tentara “nongkrong” di stasiun Metro Novokuznetskaya, hal tersebut belum pernah terjadi dan saya merasakan mencekamnya terkena ” jam malam ” mulai dari jam 18.00 sampai jam 06.00 pagi berikutnya, dilarang keluar rumah, bila nekad dan tak dapat menujukkan identitas diri, siap-siap peluru menyalak atau paling tidak akan merasakan yang namanya tinggal di dalam jeruji besi ! Benar-benar mencekam ! rapotnya lagi saat ini saya masih kemana-mana naik metro ( kereta bawah tanah ) dan anda bisa membayangkan di tengah-tengah kepanikan, kita ada di dalam metro, di dalam tanah, yang kedalamnnya tak kurang dari 50 meter, bahkan ada yang lebih dalam dari itu, karena ada yang sampai tiga stasiun bertumpuk di dalamnya !
Wah jadi panjang nih pengantarnya, sebenarnya tadikan saya mau cerita tentang masjid, gereja dan sinagog, kok jadi ngelantur kemana-mana. Oke beginilah ceritanya.
Pada malam Rabu tanggal 25 Agustus 2009 saya sholat terawih di Masjid bersejarah, masjid yang namanya juga masjid Histori, terletak di jalan raya Tartar mereka menyebut Balshoi Tartarskaya… letaknya tidak jauh dari kantor KBRI Moskow ,kurang lebih 100 meter ke timur. Masjid ini sebenarnya hanya beda satu blok dengan KBRI Moskow… tapi karena sistem apartement di Rusia itu hanya masuk dan keluar satu pintu, kebanyak tidak ada istilah pintu belakang, jadi keluar masuk hanya lewat pintu depan… dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan … semua pintu apartemen berkode… dan kodenya hanya pihak tertentu yang tahu.
Jadi karena sistem satu pintu itulah yang dekat jadi jauh … kalau di Indonesia ada istilah potong kompas… ya susah untuk di Rusia… jadi jalan sering kali muter-muter dan kebanyakan jalan juga sudah di buat satu arah, jadi kalau salah belok ya tanda-tanda jalan akan bertambah panjang, karena baliknya harus muter nyari belokan dan beloknyapun tak sembarangan, bila ketahuan polisi yang kena tilang.
Nah kita kembali ke asal pembicaraan … kita jadi muter untuk jalan ke Masjid Tartar atau Masjid Histori dari KBRI Moskow …. dan itupun harus lewat jalan resmi…. jalan atau lewat apartemen orang lain sekarang sudah banyak yang di pager, lagi-lagi dengan kode, jadi ga bisa potong kompas seperti dulu.
Sholat terawih di masjid tartar dilakukan delapan rekaat plus witir tiga rekaat, ini karena sholat terawih berlangsung di musim panas, nah mulai sholatnya aja sudah setengah sebelas malam dan baru berakhir setengah dua belas malam, dan jamaah kebanyakan dari luar, bukan sekitar masjid tartar tersebut, jamaah terawih naik metro, bus atau trem untuk ke masjid ini.
Sedangkan untuk metro ada batas waktu yaitu jam 1 malam Metro di tutup dan angkutan umum lainya juga di hentikan. Di buka lagi jam 5 pagi. Jadi jemaah harus belomba dengan waktu agar dapat mengejar waktu ke metro sebelum batas jam 1 tadi. Nah bisa dibayangkan kalau terawih dengan dua puluh rekaat plus tiga rekaat witir. Kapan mereka pulang ? Oya, alhamdulillah jemaah terawih penuh… dan lebih menyenangkan jemaahnya adalah anak-anak muda yang pakai jean, jaket,kaos dsb. Imamnyapun anak muda.
Terawih dua puluh rekaat plus witir tiga rekaat biasanya di lakukan di musim dingin yang waktu malamnya panjang. Unik ya …rekaatnya di sesuaikan musim. Selesai sholat … berdzikir dan berdoa… kemudian ada yang menghapal Al Qura’an, doa lagi… setelah itu salaman, habis salam berdoa lagi, lalu bubar.
Oya … masjid ini juga berfungsi sebagai KUA ( kantor urusan agama ) orang muslim yang mau nikah, bisa di masjid ini, ga perlu bayar apa-apa, hanya sedekah seikhlasnya. Jadi menikah bagi muslim Rusia boleh dikatakan murah meriah ….! Ada kedua calon mempelai, ada dua orang saksi, mas kawin, ada wali bagi perempuan… beres ! Di Masjid ini ada kafe, toko daging halal, toko Souvenir, kios Jilbab dan kios-kios buku dan Al Qur’an serta peralatan sholat lainya, seperti sejadah, kompas ka’bah, tasbih, minyak wangi dsb.
Cerita di atas tentang Masjid Histori, lain lagi tentang Masjid Yarjam, nah masjid yang satu ini agak jauh dari pusat kota, kalau titik tolaknya Kremlin, untuk ke majid ini anda harus menuju ke Utara, bila pakai mobil pribadi kurang lebih satu jam, nah kalau naik metro dari Novokunetskaya atau metro Tretyakovskaya kurang lebih tujuh sampai delapan stasiun metro dan itupun harus disambung lagi dengan naik Bus.
Nah disinilah, di masjid inilah kita akan menemukan interaksi antara Indonesia dan Rusia yang saya sebut di awal tulisan ini, siapa yang mempengaruhi siapa akan terlihat, mengapa ? Karena di di dalam komplek ini, kalau boleh di sebut komplek, terdapat keharmonisan di tiga agama besar ! Ya di dalamnnya ada dua Masjid ( Masjid Sunni dan Masjid Syiah ), ada Gereja dan ada Sinagog, ya tiga agama besar warisan nabi Ibrohim AS ada di dalamnya, Agama Islam, Kristen dan Yahudi, rukun, dan saya langsung terbayang dengan Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ) yang di dalamnya juga ada tempat peribadatan yang berjejer, berbaris, rukun !
Alangkah indahnya, Rusia dan Indonesia saling berinteraksi, yang jelas kita boleh bangga, karena jejeran tempat ibadah di TMII itu lebih dahulu ada puluhan tahun, dibandingkan dengan komplek peribadatan yang ada Moskow ini, dan jangan lupa Rusiapun sedang belajar mengelola jemaah hajinya lewat Indonesia ! Mereka kagum dan terkesan pada pengelolaan jemaah haji terbesar di dunia, tapi rapi dan tertib !
Kembali ke Masjid Yarjam ini, di dalam komplek masjid ini, anda akan menemukan sesuatu yang menarik, terutama pada tiga hari terakhir pada setiap minggunya. Di mulai hari Jum’at, di mana ummat Islam menjalankan sholat Jum’at, nah uniknya yang golongan Sunni melaksanakan sholat Jum’atnya di Masjid Sunni dan yang golongan Syiah sholat Jum’atnya di Masjid Syiah, oya, jangan lupa, panggilan sholat, adzan, antara golongan Sunni dan golongan Syiah, ada perbedaaan sedikit, tapi tak menyebabkan mereka tertukar Masjid dan mereka tetap rukun ! Besoknya hari Sabtu, ummat Yahudi beribadah di Sinagog, dan lusanya ummat Kristen beribadah di Gereja dalam komplek yang sama ! Rukun, aman dan terkendali, tak ada yang saling mengganggu diantara ketiga ummat ini !” Lakum dinukum waliyadiin” Bagimu, agamamu dan bagiku agamaku, terwujud di Moksow, di komplek ini !
Alangkah indahnya hidup, bila kerukunan diantara tiga agama besar dunia ini, Islam, Kristen dan Yahudi rukun ! Tidak diracuni oleh politik dan idiologi yang saling “mengancam”, yang saling membuat kuping dan hati menjadi “panas” , mari menjelang ramadhan, kita sambut dengan senyuman, kerukunan dan persaudaraan, di Indonesia maupun di Rusia, juga dibelahan dunia manapun, karena dimanapun kita berada tetap di bumi Allah ! Dan Allah SWT senang pada perdamaian dan kerukunan diantara ummatNya.
Sumber:
Kompasiana. sharing connecting. Masjid, Gereja dan Sinagog Bersinergi di Moskow: http://agama.kompasiana.com
5 Agustus 2010
Ada interaksi yang saling tarik menarik antara Indonesia dan Rusia, hal tersebut semakin terlihat menjelang acara puncak peringatan 60 tahun hubungan kerjasama antar Indonesia dan Rusia. Hubungan dua negara ini terasa unik, persis seperti anak muda yang sedang bercinta, kadang sangat dekat, namun suatu waktu saling menjauh, namun tidak putus !
Ada jarak yang cukup jauh dan ini rill, ribuan km terbentang antar Benua yang memakan waktu penerbangan tak kurang dari 15 jam ! Di sisi politik jarak inipun pernah menjauh, terutama ketika terjadi pembrontakan G 30 S PKI, banyak Mahasiswa Indonesia yang pada saat itu kuliah di Rusia ( dulu Uni Soviet ) tak berani pulang ke tanah air ! Ya, karena sistem yang dibangun pada waktu itu ( Orba ) sangat tidak “bersahabat”, akhirnya hubungan antara Indonesia dan Rusia di jaman Orba, boleh di bilang ” hidup segan, matipun tak mau ” ya biasa saja, hambar !
Nah, ketika komunis bubar tahun 1991, tepatnya setelah kudeta 3 hari oleh komunis yang gagal ( 19-21 Agustus 1991 ) di jamanya Gorbachev maka hubungan antara Indonesia dan Rusiapun kembali menghangat ! Lagi-lagi ada kesamaan antara Indonesia dan Rusia, dari sisi politik dan idiologinya, Komunis sama-sama gagal di dua negara ini, komunis sama-sama tidak laku dan tak layak jual, kalau pakai istilah ekonomi ! Di Rusia komunis hanya bertahan 70 tahun, di Indonesia komunis dua kali mengadakan pembrontakan ( 1948 dan 1965 ) dua-duanya gagal ! Allahu Akbar !
Ketika terjadi kudeta tiga hari itu … masih terasa dan terbayang dalam diri ini, ketika tank tentara “nongkrong” di stasiun Metro Novokuznetskaya, hal tersebut belum pernah terjadi dan saya merasakan mencekamnya terkena ” jam malam ” mulai dari jam 18.00 sampai jam 06.00 pagi berikutnya, dilarang keluar rumah, bila nekad dan tak dapat menujukkan identitas diri, siap-siap peluru menyalak atau paling tidak akan merasakan yang namanya tinggal di dalam jeruji besi ! Benar-benar mencekam ! rapotnya lagi saat ini saya masih kemana-mana naik metro ( kereta bawah tanah ) dan anda bisa membayangkan di tengah-tengah kepanikan, kita ada di dalam metro, di dalam tanah, yang kedalamnnya tak kurang dari 50 meter, bahkan ada yang lebih dalam dari itu, karena ada yang sampai tiga stasiun bertumpuk di dalamnya !
Wah jadi panjang nih pengantarnya, sebenarnya tadikan saya mau cerita tentang masjid, gereja dan sinagog, kok jadi ngelantur kemana-mana. Oke beginilah ceritanya.
Pada malam Rabu tanggal 25 Agustus 2009 saya sholat terawih di Masjid bersejarah, masjid yang namanya juga masjid Histori, terletak di jalan raya Tartar mereka menyebut Balshoi Tartarskaya… letaknya tidak jauh dari kantor KBRI Moskow ,kurang lebih 100 meter ke timur. Masjid ini sebenarnya hanya beda satu blok dengan KBRI Moskow… tapi karena sistem apartement di Rusia itu hanya masuk dan keluar satu pintu, kebanyak tidak ada istilah pintu belakang, jadi keluar masuk hanya lewat pintu depan… dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan … semua pintu apartemen berkode… dan kodenya hanya pihak tertentu yang tahu.
Jadi karena sistem satu pintu itulah yang dekat jadi jauh … kalau di Indonesia ada istilah potong kompas… ya susah untuk di Rusia… jadi jalan sering kali muter-muter dan kebanyakan jalan juga sudah di buat satu arah, jadi kalau salah belok ya tanda-tanda jalan akan bertambah panjang, karena baliknya harus muter nyari belokan dan beloknyapun tak sembarangan, bila ketahuan polisi yang kena tilang.
Nah kita kembali ke asal pembicaraan … kita jadi muter untuk jalan ke Masjid Tartar atau Masjid Histori dari KBRI Moskow …. dan itupun harus lewat jalan resmi…. jalan atau lewat apartemen orang lain sekarang sudah banyak yang di pager, lagi-lagi dengan kode, jadi ga bisa potong kompas seperti dulu.
Sholat terawih di masjid tartar dilakukan delapan rekaat plus witir tiga rekaat, ini karena sholat terawih berlangsung di musim panas, nah mulai sholatnya aja sudah setengah sebelas malam dan baru berakhir setengah dua belas malam, dan jamaah kebanyakan dari luar, bukan sekitar masjid tartar tersebut, jamaah terawih naik metro, bus atau trem untuk ke masjid ini.
Sedangkan untuk metro ada batas waktu yaitu jam 1 malam Metro di tutup dan angkutan umum lainya juga di hentikan. Di buka lagi jam 5 pagi. Jadi jemaah harus belomba dengan waktu agar dapat mengejar waktu ke metro sebelum batas jam 1 tadi. Nah bisa dibayangkan kalau terawih dengan dua puluh rekaat plus tiga rekaat witir. Kapan mereka pulang ? Oya, alhamdulillah jemaah terawih penuh… dan lebih menyenangkan jemaahnya adalah anak-anak muda yang pakai jean, jaket,kaos dsb. Imamnyapun anak muda.
Terawih dua puluh rekaat plus witir tiga rekaat biasanya di lakukan di musim dingin yang waktu malamnya panjang. Unik ya …rekaatnya di sesuaikan musim. Selesai sholat … berdzikir dan berdoa… kemudian ada yang menghapal Al Qura’an, doa lagi… setelah itu salaman, habis salam berdoa lagi, lalu bubar.
Oya … masjid ini juga berfungsi sebagai KUA ( kantor urusan agama ) orang muslim yang mau nikah, bisa di masjid ini, ga perlu bayar apa-apa, hanya sedekah seikhlasnya. Jadi menikah bagi muslim Rusia boleh dikatakan murah meriah ….! Ada kedua calon mempelai, ada dua orang saksi, mas kawin, ada wali bagi perempuan… beres ! Di Masjid ini ada kafe, toko daging halal, toko Souvenir, kios Jilbab dan kios-kios buku dan Al Qur’an serta peralatan sholat lainya, seperti sejadah, kompas ka’bah, tasbih, minyak wangi dsb.
Cerita di atas tentang Masjid Histori, lain lagi tentang Masjid Yarjam, nah masjid yang satu ini agak jauh dari pusat kota, kalau titik tolaknya Kremlin, untuk ke majid ini anda harus menuju ke Utara, bila pakai mobil pribadi kurang lebih satu jam, nah kalau naik metro dari Novokunetskaya atau metro Tretyakovskaya kurang lebih tujuh sampai delapan stasiun metro dan itupun harus disambung lagi dengan naik Bus.
Nah disinilah, di masjid inilah kita akan menemukan interaksi antara Indonesia dan Rusia yang saya sebut di awal tulisan ini, siapa yang mempengaruhi siapa akan terlihat, mengapa ? Karena di di dalam komplek ini, kalau boleh di sebut komplek, terdapat keharmonisan di tiga agama besar ! Ya di dalamnnya ada dua Masjid ( Masjid Sunni dan Masjid Syiah ), ada Gereja dan ada Sinagog, ya tiga agama besar warisan nabi Ibrohim AS ada di dalamnya, Agama Islam, Kristen dan Yahudi, rukun, dan saya langsung terbayang dengan Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ) yang di dalamnya juga ada tempat peribadatan yang berjejer, berbaris, rukun !
Alangkah indahnya, Rusia dan Indonesia saling berinteraksi, yang jelas kita boleh bangga, karena jejeran tempat ibadah di TMII itu lebih dahulu ada puluhan tahun, dibandingkan dengan komplek peribadatan yang ada Moskow ini, dan jangan lupa Rusiapun sedang belajar mengelola jemaah hajinya lewat Indonesia ! Mereka kagum dan terkesan pada pengelolaan jemaah haji terbesar di dunia, tapi rapi dan tertib !
Kembali ke Masjid Yarjam ini, di dalam komplek masjid ini, anda akan menemukan sesuatu yang menarik, terutama pada tiga hari terakhir pada setiap minggunya. Di mulai hari Jum’at, di mana ummat Islam menjalankan sholat Jum’at, nah uniknya yang golongan Sunni melaksanakan sholat Jum’atnya di Masjid Sunni dan yang golongan Syiah sholat Jum’atnya di Masjid Syiah, oya, jangan lupa, panggilan sholat, adzan, antara golongan Sunni dan golongan Syiah, ada perbedaaan sedikit, tapi tak menyebabkan mereka tertukar Masjid dan mereka tetap rukun ! Besoknya hari Sabtu, ummat Yahudi beribadah di Sinagog, dan lusanya ummat Kristen beribadah di Gereja dalam komplek yang sama ! Rukun, aman dan terkendali, tak ada yang saling mengganggu diantara ketiga ummat ini !” Lakum dinukum waliyadiin” Bagimu, agamamu dan bagiku agamaku, terwujud di Moksow, di komplek ini !
Alangkah indahnya hidup, bila kerukunan diantara tiga agama besar dunia ini, Islam, Kristen dan Yahudi rukun ! Tidak diracuni oleh politik dan idiologi yang saling “mengancam”, yang saling membuat kuping dan hati menjadi “panas” , mari menjelang ramadhan, kita sambut dengan senyuman, kerukunan dan persaudaraan, di Indonesia maupun di Rusia, juga dibelahan dunia manapun, karena dimanapun kita berada tetap di bumi Allah ! Dan Allah SWT senang pada perdamaian dan kerukunan diantara ummatNya.
Sumber:
Kompasiana. sharing connecting. Masjid, Gereja dan Sinagog Bersinergi di Moskow: http://agama.kompasiana.com
Sabtu, 25 September 2010
Berpidato, Ahmadinejad Bawa Injil dan Qur'an
By Renne R.A Kawilarang - Jumat, 24 September

Mahmoud Ahmadinejad memegang al-Qur'an dan Injil di mimbar PBB
VIVAnews - Ada yang unik pada pidato Mahmoud Ahmadinejad di sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York, Kamis 23 September 2010. Presiden Iran itu membawa kitab al-Qu'ran dan Alkitab. Bahkan dia mempertunjukkan kitab suci umat Muslim dan Kristen itu kepada para hadirin.
Aksi itu dilakukan Ahmadinejad pada pertengahan pidato, setelah para diplomat dari Amerika Serikat, Eropa dan negara-negara lain melakukan aksi boikot (walkout).
Saat mempertunjukkan dua kitab suci itu, Ahmadinejad menyayangkan kasus pelecehan terhadap al-Qur'an. "Kitab suci Qur'an merupakan Buku yang Ilahi dan keajaiban abadi bagi Islam," kata Ahmadinejad dalam pidatonya, sesuai dengan naskah yang dikirim ke laman resmi PBB.
"Kita secara bijak harus mencegah jangan sampai masuk ke tangan-tangan Setan. Mewakili bangsa Iran, saya menaruh hormat kepada semua Kitab Ilahi dan para pengikutnya. Ini adalah al-Qur'an dan ini adalah Alkitab. Saya menghormati keduanya," kata Ahmadinejad sambil memperlihatkan kedua kitab suci itu.
Sebelumnya, dia mengingatkan bahwa para nabi ilahi memiliki misi bagi umat manusia untuk percaya pada satu Tuhan (monoteisme), cinta dan keadilan sekaligus menunjukkan belas kasih bagi kemakmuran serta menjauhi ateisme dan egoisme.
Namun, pemimpin berusia 53 tahun itu menyayangkan bahwa ajaran para nabi itu sering tercermar oleh "ego dan nafsu tamak" manusia. Dia selanjutnya memberi sejumlah contoh bagaimana manusia sudah berkali-kali diperingati oleh para utusan Tuhan.
"Nimrod menghadapi Hazrat Abraham dan Firaun menghadapi Hazrat Musa. Kaum tamak menghadapi Hazrat Yesus Kristus dan Hazrat Muhammad (damai beserta kita sekalian). Dalam beberapa abad terakhir, etika dan nilai kemanusiaan telah ditolak sehingga menyebabkan keterbelakangan," kata Ahmadinejad.
Dia pun menyayangkan bahwa nafsu untuk mendapatkan kapital dan dominasi telah menggantikan ajaran monoteisme, yang merupakan gerbang bagi cinta dan persatuan. "Ini akhirnya memunculkan berbagai konflik yang membuka jalan bagi terjadinya perbudakan dan kolonialisme," kata Ahmadinejad.
Selanjutnya, Ahmadinejad mulai melontarkan kritik pedas kepada AS, kapitalisme, dan juga kepada PBB. Itulah yang membuat para delegasi dari sejumlah negara melakukan aksi boikot dengan meninggalkan ruang sidang saat Ahmadinejad masih berpidato.
Menurut stasiun televisi CNN, mereka yang walkout adalah delegasi AS, Inggris, Swedia, Australia, Belgia, Uruguai dan Spanyol. Selain itu, para delegasi dari 27 negara Uni Eropa sebelumnya bersepakat meninggalkan sidang bila Ahmadinejad membuat pernyataan yang menebar kebencian.
Sumber:
1. YAHOO Indonesia News. Berpidato, Ahmadinejad Bawa Injil dan Qur'an: http://id.news.yahoo.com
2. VIVA News.com

Mahmoud Ahmadinejad memegang al-Qur'an dan Injil di mimbar PBB
VIVAnews - Ada yang unik pada pidato Mahmoud Ahmadinejad di sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York, Kamis 23 September 2010. Presiden Iran itu membawa kitab al-Qu'ran dan Alkitab. Bahkan dia mempertunjukkan kitab suci umat Muslim dan Kristen itu kepada para hadirin.
Aksi itu dilakukan Ahmadinejad pada pertengahan pidato, setelah para diplomat dari Amerika Serikat, Eropa dan negara-negara lain melakukan aksi boikot (walkout).
Saat mempertunjukkan dua kitab suci itu, Ahmadinejad menyayangkan kasus pelecehan terhadap al-Qur'an. "Kitab suci Qur'an merupakan Buku yang Ilahi dan keajaiban abadi bagi Islam," kata Ahmadinejad dalam pidatonya, sesuai dengan naskah yang dikirim ke laman resmi PBB.
"Kita secara bijak harus mencegah jangan sampai masuk ke tangan-tangan Setan. Mewakili bangsa Iran, saya menaruh hormat kepada semua Kitab Ilahi dan para pengikutnya. Ini adalah al-Qur'an dan ini adalah Alkitab. Saya menghormati keduanya," kata Ahmadinejad sambil memperlihatkan kedua kitab suci itu.
Sebelumnya, dia mengingatkan bahwa para nabi ilahi memiliki misi bagi umat manusia untuk percaya pada satu Tuhan (monoteisme), cinta dan keadilan sekaligus menunjukkan belas kasih bagi kemakmuran serta menjauhi ateisme dan egoisme.
Namun, pemimpin berusia 53 tahun itu menyayangkan bahwa ajaran para nabi itu sering tercermar oleh "ego dan nafsu tamak" manusia. Dia selanjutnya memberi sejumlah contoh bagaimana manusia sudah berkali-kali diperingati oleh para utusan Tuhan.
"Nimrod menghadapi Hazrat Abraham dan Firaun menghadapi Hazrat Musa. Kaum tamak menghadapi Hazrat Yesus Kristus dan Hazrat Muhammad (damai beserta kita sekalian). Dalam beberapa abad terakhir, etika dan nilai kemanusiaan telah ditolak sehingga menyebabkan keterbelakangan," kata Ahmadinejad.
Dia pun menyayangkan bahwa nafsu untuk mendapatkan kapital dan dominasi telah menggantikan ajaran monoteisme, yang merupakan gerbang bagi cinta dan persatuan. "Ini akhirnya memunculkan berbagai konflik yang membuka jalan bagi terjadinya perbudakan dan kolonialisme," kata Ahmadinejad.
Selanjutnya, Ahmadinejad mulai melontarkan kritik pedas kepada AS, kapitalisme, dan juga kepada PBB. Itulah yang membuat para delegasi dari sejumlah negara melakukan aksi boikot dengan meninggalkan ruang sidang saat Ahmadinejad masih berpidato.
Menurut stasiun televisi CNN, mereka yang walkout adalah delegasi AS, Inggris, Swedia, Australia, Belgia, Uruguai dan Spanyol. Selain itu, para delegasi dari 27 negara Uni Eropa sebelumnya bersepakat meninggalkan sidang bila Ahmadinejad membuat pernyataan yang menebar kebencian.
Sumber:
1. YAHOO Indonesia News. Berpidato, Ahmadinejad Bawa Injil dan Qur'an: http://id.news.yahoo.com
2. VIVA News.com
Selasa, 24 Agustus 2010
Jawa Pos Jelajah Sungai Nil; Sebuah Ekspedisi Spiritual: Ziarah ke Gua Persembunyian Isa dan Maryam
by Agus Mustofa
on Saturday, August 21, 2010 at 8:09pm
Akhirnya, kami benar-benar meninggalkan Kota Luxor yang bertaburan situs penting dalam sejarah Mesir kuno. Kami berangkat pagi untuk menuju Kota Asyut yang berjarak sekitar 300 km dengan mengendarai mobil.
Menyusuri jalan sebelah timur Sungai Nil lebih baik jika dibandingkan dengan sebelah barat. Jalanan tepi barat adalah kawasan yang dikenal dengan nama zira'i alias jalanan pedesaan dan area pertanian. Sedangkan kawasan timur dikenal sebagai sakhrawi alias jalanan padang pasir. Lewat zira'i, perjalanan tidak akan lancar karena sering bertemu dengan perkampungan, pasar, dan iring-iringan kambing atau sapi. Sedangkan lewat sakhrawi jauh lebih lancar. Bahkan, rasanya seperti lewat tol meskipun harus melalui kawasan padang pasir nan tandus.
Sekitar empat jam perjalanan, sampailah kami di Kota Asyut. Sebuah kota yang bersih dan tenteram. Aliran Sungai Nil yang tenang menambah ketenteraman kota kecil itu. Tidak banyak situs Mesir kuno di kawasan tersebut. Tetapi, ada situs yang sangat menarik dari zaman Masehi. Yakni, tempat singgah Nabi Isa dan ibunya, Siti Maryam.
Sebelum pergi ke penginapan, saya memutuskan langsung berkunjung ke perbukitan Jabbal Asyut, tempat nabi Bani Israil itu singgah bersama ibunya. Daerahnya agak masuk dari jalan utama, sekitar 10 km. Kemudian, berbelok, naik ke perbukitan. Dari kejauhan, lokasi situs sudah kelihatan. Situs tersebut berupa sebuah gua besar yang kini sudah berubah menjadi sekelompok bangunan gereja: Deir Durunka. Di situlah terdapat salah satu pusat pengaderan biarawan Kristen Koptik untuk mengembangkan agamanya.

Berbincang akrab dengan Abuna (Romo) Bishoi, di Biara Durunka
Untung, kami datang pada Agustus, saat perayaan datangnya Isa dan Maryam ke tempat tersebut dihelat. Jadi, jamaah yang berziarah sedang ramai-ramainya. Menurut panitia perayaan, jumlah jamaah yang datang bisa mencapai 1 juta orang dalam waktu 15 hari. Yaitu, mulai 7-22 Agustus.
Memasuki halaman Biara Durunka, saya mendengar suara puji-pujian dalam bahasa Arab, mirip orang Islam kala mengaji, yang disiarkan lewat pengeras suara. Ingin tahu isinya, saya membeli buku pujian itu. Bunyinya, antara lain:
Ummuna yaa 'adrak, yaa ummal masih.
Yalli fiiki daaiman biyikhlu almadiih.
Quluubna bitikhibbik khubb
ma lausy matsil.
A'idzin nufadhdhol janbik wa
naquulu taraatil.
(Ibunda kami sang perawan suci, wahai ibunda Almasih.
Yang ada pada dirimu selamanya pantas mendapatkan puji-puji.
Kami mencintaimu dengan sepenuh hati, cinta yang tak tertandingi.
Kami ingin selalu berada di sampingmu dan menghaturkan puji-puji.)
Memasuki kawasan gua suci, kami didampingi seorang biarawan bernama Abram. Dia menemani kami melihat-lihat sampai dalam gua yang ternyata cukup besar, seluas ratusan meter persegi. Di tempat itulah dulu perawan suci Maryam dan putranya, Nabi Isa, bersembuyi dari kejaran Raja Herodes yang hendak membunuh mereka.

jamaah berdoa di depan ruang Maryam, di dalam gua Jabbal Asyut
Gua di Jabbal Asyut itu menjadi persinggahan terakhir ibu dan anak tersebut dalam menempuh perjalanan sekitar 1.000 km. Mereka berkelana sekitar tiga tahun, dimulai dari Palestina, menyeberang ke Mesir lewat Gaza dan Rafah, kemudian menyusur ke arah hulu Sungai Nil, tepatnya ke selatan. Waktu itu Nabi Isa masih berumur beberapa bulan. Dengan naik keledai dan didampingi Yusuf, paman Maryam, mereka singgah di berbagai kota di sepanjang Sungai Nil. Di antaranya, Tal Basta, Sakha, Wadi El Natrun, Bahnassa, Smalot, Dairut, Jabbal Kuskam, dan terakhir Jabbal Asyut.
Bersama biarawan Abram, saya melihat-lihat isi gua yang kini menjadi tempat peribadatan umat Kristen Koptik itu. Saya mengamati dua ruang yang pernah menjadi tempat tidur Maryam dan Isa. Yaitu, pojok kanan dan kiri bagian paling dalam gua. Di sana, banyak jamaah yang berkerumun untuk berdoa dan memohon berkah. Mereka berdoa sambil menghadap ke dalam ruang yang diberi pintu terali, yang di dalamnya terdapat foto Bunda Maryam dan Nabi Isa dalam ukuran besar. Foto ibu dan anak tersebut setiap perayaan tahunan seperti sekarang selalu diarak keliling Kota Asyut dengan dinaikkan ke kendaraan semacam kereta. Dalam waktu bersamaan, umat Kristen Koptik di sekitar Jabbal Asyut menggelar pasar malam dengan acara-acara meriah. Juga ada acara pembaptisan bayi dan anak-anak.

Di depan gua Maryam, menjelang pembaptisan anak
Peribadatan penganut Kristen Koptik memiliki sejumlah perbedaan dengan umat Kristen pada umumnya. Mereka mengaku memperoleh syiar agama lewat orang-orang suci pada zaman-zaman awal. Saya melihat foto Saint Markus dalam ukuran besar dipajang di dalam ruang gereja mereka. Orang suci itulah yang dimuliakan sebagai pembawa ajaran ke Mesir.
Salah satu di antara perbedaan tersebut adalah sembahyang tujuh kali dalam sehari yang mereka sebut sebagai as sab'u shalawat (salat tujuh waktu). Ibadah lima waktu di antaranya mirip dengan yang dijalankan oleh umat Islam, yakni pukul 06.00, 12.00, 15.00, 18.00, dan menjelang tidur. Sedangkan dua ibadah lain dilaksanakan pukul 09.00, yang mirip dengan salat Duha, dan tengah malam, yang mereka sebut sebagai nisyfu al lail, yang mirip dengan salat Tahajud. Mereka juga berpuasa 40 hari menjelang perayaan Paskah. Lalu, puncak perbedaan mereka dengan umat Kristen pada umumnya terdapat pada perayaan Natal. Mereka tidak memperingati Natal setiap 25 Desember, melainkan setiap 7 Januari.
Siti Maryam dan Nabi Isa adalah dua manusia yang sangat dimuliakan dalam Alquran. Mereka menjalani penderitaan dengan penuh kesabaran sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, sang Ilahi Rabbi yang mengutus mereka. Pada zaman Raja Herodes yang beragama pagan, seperti para firaun, ibu dan anak itu diancam dibunuh karena dikhawatirkan melahirkan masalah bagi Kerajaan Romawi.
Atas perintah Allah, mereka menjauh untuk sementara. Kemudian, mereka kembali kepada Bani Israil, menyiarkan agama tauhid untuk menentang agama-agama pagan yang dianut kebanyakan bangsa Romawi waktu itu. "Telah Kami jadikan putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar, yang memiliki banyak padang rumput dan sumber air bersih yang mengalir (QS. 23: 50)."
Sumber:
Jawa Pos, Minggu, 22 Agustus 2010 : http://www.jawapos.com
on Saturday, August 21, 2010 at 8:09pm
Akhirnya, kami benar-benar meninggalkan Kota Luxor yang bertaburan situs penting dalam sejarah Mesir kuno. Kami berangkat pagi untuk menuju Kota Asyut yang berjarak sekitar 300 km dengan mengendarai mobil.
Menyusuri jalan sebelah timur Sungai Nil lebih baik jika dibandingkan dengan sebelah barat. Jalanan tepi barat adalah kawasan yang dikenal dengan nama zira'i alias jalanan pedesaan dan area pertanian. Sedangkan kawasan timur dikenal sebagai sakhrawi alias jalanan padang pasir. Lewat zira'i, perjalanan tidak akan lancar karena sering bertemu dengan perkampungan, pasar, dan iring-iringan kambing atau sapi. Sedangkan lewat sakhrawi jauh lebih lancar. Bahkan, rasanya seperti lewat tol meskipun harus melalui kawasan padang pasir nan tandus.
Sekitar empat jam perjalanan, sampailah kami di Kota Asyut. Sebuah kota yang bersih dan tenteram. Aliran Sungai Nil yang tenang menambah ketenteraman kota kecil itu. Tidak banyak situs Mesir kuno di kawasan tersebut. Tetapi, ada situs yang sangat menarik dari zaman Masehi. Yakni, tempat singgah Nabi Isa dan ibunya, Siti Maryam.
Sebelum pergi ke penginapan, saya memutuskan langsung berkunjung ke perbukitan Jabbal Asyut, tempat nabi Bani Israil itu singgah bersama ibunya. Daerahnya agak masuk dari jalan utama, sekitar 10 km. Kemudian, berbelok, naik ke perbukitan. Dari kejauhan, lokasi situs sudah kelihatan. Situs tersebut berupa sebuah gua besar yang kini sudah berubah menjadi sekelompok bangunan gereja: Deir Durunka. Di situlah terdapat salah satu pusat pengaderan biarawan Kristen Koptik untuk mengembangkan agamanya.

Berbincang akrab dengan Abuna (Romo) Bishoi, di Biara Durunka
Untung, kami datang pada Agustus, saat perayaan datangnya Isa dan Maryam ke tempat tersebut dihelat. Jadi, jamaah yang berziarah sedang ramai-ramainya. Menurut panitia perayaan, jumlah jamaah yang datang bisa mencapai 1 juta orang dalam waktu 15 hari. Yaitu, mulai 7-22 Agustus.
Memasuki halaman Biara Durunka, saya mendengar suara puji-pujian dalam bahasa Arab, mirip orang Islam kala mengaji, yang disiarkan lewat pengeras suara. Ingin tahu isinya, saya membeli buku pujian itu. Bunyinya, antara lain:
Ummuna yaa 'adrak, yaa ummal masih.
Yalli fiiki daaiman biyikhlu almadiih.
Quluubna bitikhibbik khubb
ma lausy matsil.
A'idzin nufadhdhol janbik wa
naquulu taraatil.
(Ibunda kami sang perawan suci, wahai ibunda Almasih.
Yang ada pada dirimu selamanya pantas mendapatkan puji-puji.
Kami mencintaimu dengan sepenuh hati, cinta yang tak tertandingi.
Kami ingin selalu berada di sampingmu dan menghaturkan puji-puji.)
Memasuki kawasan gua suci, kami didampingi seorang biarawan bernama Abram. Dia menemani kami melihat-lihat sampai dalam gua yang ternyata cukup besar, seluas ratusan meter persegi. Di tempat itulah dulu perawan suci Maryam dan putranya, Nabi Isa, bersembuyi dari kejaran Raja Herodes yang hendak membunuh mereka.

jamaah berdoa di depan ruang Maryam, di dalam gua Jabbal Asyut
Gua di Jabbal Asyut itu menjadi persinggahan terakhir ibu dan anak tersebut dalam menempuh perjalanan sekitar 1.000 km. Mereka berkelana sekitar tiga tahun, dimulai dari Palestina, menyeberang ke Mesir lewat Gaza dan Rafah, kemudian menyusur ke arah hulu Sungai Nil, tepatnya ke selatan. Waktu itu Nabi Isa masih berumur beberapa bulan. Dengan naik keledai dan didampingi Yusuf, paman Maryam, mereka singgah di berbagai kota di sepanjang Sungai Nil. Di antaranya, Tal Basta, Sakha, Wadi El Natrun, Bahnassa, Smalot, Dairut, Jabbal Kuskam, dan terakhir Jabbal Asyut.
Bersama biarawan Abram, saya melihat-lihat isi gua yang kini menjadi tempat peribadatan umat Kristen Koptik itu. Saya mengamati dua ruang yang pernah menjadi tempat tidur Maryam dan Isa. Yaitu, pojok kanan dan kiri bagian paling dalam gua. Di sana, banyak jamaah yang berkerumun untuk berdoa dan memohon berkah. Mereka berdoa sambil menghadap ke dalam ruang yang diberi pintu terali, yang di dalamnya terdapat foto Bunda Maryam dan Nabi Isa dalam ukuran besar. Foto ibu dan anak tersebut setiap perayaan tahunan seperti sekarang selalu diarak keliling Kota Asyut dengan dinaikkan ke kendaraan semacam kereta. Dalam waktu bersamaan, umat Kristen Koptik di sekitar Jabbal Asyut menggelar pasar malam dengan acara-acara meriah. Juga ada acara pembaptisan bayi dan anak-anak.

Di depan gua Maryam, menjelang pembaptisan anak
Peribadatan penganut Kristen Koptik memiliki sejumlah perbedaan dengan umat Kristen pada umumnya. Mereka mengaku memperoleh syiar agama lewat orang-orang suci pada zaman-zaman awal. Saya melihat foto Saint Markus dalam ukuran besar dipajang di dalam ruang gereja mereka. Orang suci itulah yang dimuliakan sebagai pembawa ajaran ke Mesir.
Salah satu di antara perbedaan tersebut adalah sembahyang tujuh kali dalam sehari yang mereka sebut sebagai as sab'u shalawat (salat tujuh waktu). Ibadah lima waktu di antaranya mirip dengan yang dijalankan oleh umat Islam, yakni pukul 06.00, 12.00, 15.00, 18.00, dan menjelang tidur. Sedangkan dua ibadah lain dilaksanakan pukul 09.00, yang mirip dengan salat Duha, dan tengah malam, yang mereka sebut sebagai nisyfu al lail, yang mirip dengan salat Tahajud. Mereka juga berpuasa 40 hari menjelang perayaan Paskah. Lalu, puncak perbedaan mereka dengan umat Kristen pada umumnya terdapat pada perayaan Natal. Mereka tidak memperingati Natal setiap 25 Desember, melainkan setiap 7 Januari.
Siti Maryam dan Nabi Isa adalah dua manusia yang sangat dimuliakan dalam Alquran. Mereka menjalani penderitaan dengan penuh kesabaran sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, sang Ilahi Rabbi yang mengutus mereka. Pada zaman Raja Herodes yang beragama pagan, seperti para firaun, ibu dan anak itu diancam dibunuh karena dikhawatirkan melahirkan masalah bagi Kerajaan Romawi.
Atas perintah Allah, mereka menjauh untuk sementara. Kemudian, mereka kembali kepada Bani Israil, menyiarkan agama tauhid untuk menentang agama-agama pagan yang dianut kebanyakan bangsa Romawi waktu itu. "Telah Kami jadikan putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar, yang memiliki banyak padang rumput dan sumber air bersih yang mengalir (QS. 23: 50)."
Sumber:
Jawa Pos, Minggu, 22 Agustus 2010 : http://www.jawapos.com
Minggu, 22 Agustus 2010
INCEST DALAM KITAB SUCI
oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
I. Definisi dan Selayang-Pandang Incest
Incest yang disebut juga hubungan sedarah, hubungan sumbang atau perkawinan sedarah adalah hubungan saling mencintai yang bersifat seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga (kekerabatan) yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara tiri. Pengertian istilah ini lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis (bandingkan dengan kerabat-dalam untuk pengertian biologis) meskipun sebagian penjelasannya bersifat biologis. Sedang definisi dari Kamus New Collins (New Collins Dictionary) menyebut Incest adalah "Hubungan seksual antara 2 orang yang mempunyai hubungan yang sangat dekat." Kamus Oxford menambahkan kalimat - "Untuk menikah."
Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa 'sifat lemah' dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.
Secara sosial, hubungan sumbang dapat disebabkan, antara lain, oleh ruangan dalam rumah yang tidak memungkinkan orangtua, anak, atau sesama saudara pisah kamar. Hubungan sumbang antara orang tua dan anak dapat pula terjadi karena kondisi psikososial yang kurang sehat pada individu yang terlibat. Beberapa budaya juga mentoleransi hubungan sumbang untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politik atau kemurnian ras.
Akibat hal-hal tadi, hubungan sumbang tidak dikehendaki pada hampir semua masyarakat dunia. Semua agama besar dunia melarang hubungan sumbang. Di dalam aturan agama Islam (fiqih), misalnya, dikenal konsep muhrim yang mengatur hubungan sosial di antara individu-individu yang masih sekerabat. Bagi seseorang tidak diperkenankan menjalin hubungan percintaan atau perkawinan dengan orang tua, kakek atau nenek, saudara kandung, saudara tiri (bukan saudara angkat), saudara dari orang tua, kemenakan, serta cucu.
Pada kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Gorontalo, Sulawesi, praktik hubungan sumbang banyak terjadi. Perkawinan sesama saudara adalah hal yang wajar dan biasa di kalangan suku Polahi.
Kalangan bangsawan Mesir Kuno, khususnya pascainvasi Alexander Agung, melakukan perkawinan dengan saudara kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsinoé. Beberapa ahli berpendapat, tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam ini didasarkan pada mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris dengan saudaranya, Dewi Isis.
Dalam mitologi Yunani kuno, Dewa Zeus kawin dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
Folklor Indonesia juga mengenal hubungan sumbang. Hubungan sumbang antara Sangkuriang dan ibunya sendiri (Dayang Sumbi) dalam dongeng masyarakat Sunda atau antara Prabu Watugunung dan ibunya (Sinta), yang menghasilkan 28 anak — kisahnya diabadikan dalam pawukon — adalah contoh-contohnya.
II. Kasus Incest Zaman Adam sampai Zaman Nuh: Melanjutkan Keturunan
Dalam Kitab Suci, terutama Kitab Perjanjian Lama banyak dikisahkan tentang incest atau perkawinan sedarah. Banyak orang mempertanyakan, bagaimana mungkin sebuah Kitab dari Allah menulis dan mendukung perkawinan sedarah (incest) ini? Apakah Allah memang mendukung incest pada masa-masa itu? Apakah ini adalah bukti bahwa Kitab Suci (Alkitab) adalah kitab yang mendukung perzinahan (incest)?
Menurut Kitab Kejadian, pada suatu saat Kain membunuh adiknya, Habel (Kejadian 4:8). Sebagai hukuman atas kejahatannya ini, Tuhan mengusir Kain dari tempat kediamannya dan dari kehadiranNya. Dikatakan bahwa pada suatu waktu Kain mendapatkan seorang istri, serta membangun sebuah kota.
Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya (Kejadian 4:17)
Dari ayat-ayat di atas, langsung kita ingin tahu, dari mana Kain mendapatkan istrinya. Sampai bahasan ini kita hanya tahu tentang kedua anak Adam dan Hawa, yaitu Kain dan Habel. Pertanyaan seperti ini telah sering diajukan sehingga layak mendapatkan tempat dalam Biblical Hall of Famous Questions.
Sebuah teori yang diajukan menjelaskan adanya sejumlah orang yang cukup banyak, yang sangat bertentangan dengan data Alkitab. Teori ini menegaskan bahwa ada bangsa ”pra-Adam” yang tinggal di sekitar taman Eden, sehingga Kain mendapatkan istri dari antara mereka.
Akan tetapi, teori ini tidak dapat dipertahankan, karena Kitab Suci dengan jelas mengajarkan bahwa Adamlah manusia yang pertama (1 Korintus 15:45), dan istrinya, Hawa, adalah ”ibu semua yang hidup” (Kejadian 3:20).
Jawaban yang paling jelas seharusnya adalah bahwa Adam dan Hawa memiliki anak-anak lain selain mereka yang sejauh ini tersurat, termasuk anak-anak perempuan. Memang, Kejadian 5:4 dengan jelas mengatakan demikian, "[Adam] memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan".
Masalahnya adalah bahwa Kain pasti telah menikahi saudara perempuannya. Namun dengan mengakuinya berarti memunculkan kesulitan berikutnya. Apakah ia melakukan kesalahan incest jika ia menikahi saudara perempuannya sendiri?
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sehubungan dengan kasus incest dalam Kitab Perjanjian Lama adalah sembilan pokok utama yang tercatat di dalam Kitab kejadian :
1. Adam adalah manusia pertama (Kejadian 2:7, 18-19 bandingkan 1 Korintus 15:45).
2. Adam hidup selama 930 tahun (Kejadian 5:5).
3. Hawa diberi nama itu karena DIALAH YANG MENJADI IBU BAGI SEMUA YANG HIDUP (Kejadian 3:20)
4. Adam dan Hawa MEMPERANAKKAN ANAK-ANAK LELAKI DAN PEREMPUAN (Kejadian 5:4)
5. Segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik ketika pertama kali dijadikan (Kejadian 1:31).
6. Kebaikan ini telah dirusak ketika "dosa telah masuk ke dolam dunia oleh satu orang" (Roma 5:12 bandingkan Kejadian 3)
7. Penciptaan dikutuk oleh Allah (Kejadian 3: 17 bandingkan Roma 8:20-22) karena dosa Adam.
8. Abraham kawin dengan saudaranya perempuan seayah lain ibu. (Kejadian 20:12)
9. Hukum perkawinan dengan kerabat dekat berasal dari zaman Musa (Imamat 18:20)
Kesembilan pokok utama ini memberikan petunjuk yang mengisyaratkan bahwa Kain tentu telah mengawini saudara perempuannya sendiri.
Paling sedikit ada dua hal yang dapat dikatakan menanggapi hal yang di jaman modern ini dianggap memalukan. Pertama, jika umat manusia berkembang biak dari satu pasang saja, sebagaimana kita percaya bukti menyatakan demikian, perkawinan-perkawinan antarsaudara semacam itu tidak dapat dihindarkan. Jika kita menuntut harus ada cara lain untuk memulai umat manusia maka itu merupakan pengharapan yang tidak pada tempatnya.
Yang kedua, pendapat tentang incest haruslah diselidiki dengan lebih saksama. Mula-mula dosa incest dihubungkan dengan hubungan seksual antara orangtua dengan anak-anak. Baru sesudah itulah pendapat tentang incest diperluas menjadi hubungan-hubungan antar saudara sekandung.
Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, hanya merekalah manusia yang ada. Kitab Kejadian menceritakan asal usul mereka masing-masing yang khas, dan bagaimana mereka diperintahkan untuk berkembang biak dan memenuhi bumi (dengan keturunan mereka).
Sekalipun Adam dan Hawa mempunyai banyak anak laki-lakl dan perempuan, nama-nama yang kita ketahui hanya tiga: Kain, Habel dan Set. Yang tiga ini dibicarakan begitu rinci karena peristiwa-peristiwa penting yang kita perlu ketahui. Bagaimanakah rupa anak-anak yang lain? Alkitab mengatakan kepada kita bahwa keturunan Adam dan Hawa pergi dan membangun kota-kota. Misalnya, Kain pergi ke tanah Nod bersama istrinya dan membangun sebuah kota (Kejadian 4:16-17), membuat alat-alat musik (Kejadian 4:21), dan mengerjakan logam-logam (pekerjaan pandai besi) (Kejadian 4:22)
Jadi bagaimana hal ini memberitahukan kepada kita bahwa istri Kain adalah saudara perempuannya? Dalam Kejadian 3:20 kita membaca bahwa Hawa diberi nama itu karena dialah yang menjadi ibu dari SEMUA yang hidup, bukan hanya BEBERAPA yang hidup. Kemudian Kejadian 5:4 memberitahukan kepada kita bahwa Adam dan Hawa mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Sebenarnya, menurut adat-istiadat Yahudi bahwa mereka mempunyai 33 anak laki-laki dan 23 anak perempuan! (Catatan: Angka ini diberikan di dalam terjemahan William Whitson tentang Josephus - Complete Works, Antiquities III, 1, P 27.) Jangan lupa: Adam hidup sampai 930 tahun, maka terdapat banyak waktu! Juga cukup jelas dari Injil bahwa Adam adalah manusia pertama (1 Korintus 15:45).
Kita dapat simpulkan bahwa kedua orang pertama, yang langsung diciptakan atas perbuatan Allah, mempunyai banyak anak - laki-laki dan perempuan. Kemudian dengan jelas menunjukkan, anak laki-laki harus mengawini anak-anak perempuan untuk terjadinya generasi berikutnya, Istri Kain pasti adalah kerabat yang sangat dekat sekali!
Tetapi Kain adalah anak pertama yang dilahirkan. Sebenarnya ia pasti tidak menerima gen yang tidak sempurna dari Adam dan Hawa, begitu juga anak-anak Adam dan Hawa yang lain. Dalam situasi yang demikian itu, saudara laki-laki dan saudara perempuan tentu boleh kawin tanpa adanya potensi untuk menghasilkan keturunan yang cacat.
Banyak orang dengan segera menolak kesimpulan ini dengan mengacu kepada hukum perkawinan antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Namun demikian, hukum ini baru dimulai pada zaman Musa (Imamat 18:20). Ingatlah bahwa Abraham, yang hidup selama 400 tahun sebelum Musa, menikah dengan saudara tirinya satu ayah lain ibu. Tetapi bagaimana hal ini dapat terjadi, terutama dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa perkawinan saudara laki-laki dan saudara perempuan belakangan ini saja tidak diperkenankan oleh hukum untuk menikah dan mempunyai anak, karena keturunannya mungkin akan menjadi cacat?
III. Perkembangan Incest dalam Perjanjian Lama
Kitab Kejadian adalah catatan Allah Yang hadir pada waktu sejarah terjadi. Kitab Kejadian itu adalah Firman Allah yang mengetahui segala sesuatu, dan yang menjadi saksi terpercaya dari masa lalu. Dengan demikian, ketika kita menggunakan Kitab Kejadian sebagai dasar untuk mengerti sejarah, kita dapat mengerti bukti yang sebaliknya akan menjadi suatu misteri. Anda mengetahui, apabila evolusi itu benar, ilmu pengetahuan bahkan akan menghadapi suatu masalah yang lebih besar untuk diterangkan daripada istri Kain, yaitu bagaimana manusia itu dapat berkembang dengan mutasi pada awal-mulanya, karena proses yang berdasarkan hal itu tentu akan membuat anak-anak setiap orang menjadi cacat? Kenyataan yang ada bahwa sekalipun saudara laki-laki dan saudara perempuan dapat menghasilkan keturunan yang sebagian besar tidak cacat adalah suatu kesaksian tentang penciptaan, dan bukan evolusi.
Perkawinan sedarah atau 'incest' barangkali hanya terjadi pada generasi yang pertama atau kedua saja. Kita tahu bahwa Adam dan Hawa mempunyai lagi anak-anak laki-laki dan perempuan selain Kain, Habel, dan Set. Jika hanya ada satu keluarga asli, maka pernikahan mula-mula haruslah antara saudara lelaki dan saudara perempuan. Pernikahan demikian pada mulanya tidak berbahaya. Waktu jaman Adam dan Hawa, Incest tidak dilarang karena waktu Tuhan menciptakan manusia, Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan baik, sehat, sempurna.
Incest berbahaya sebab mewarisi sel keturunan yang berubah yang menghasilkan anak-anak yang cacat, sakit, atau dungu, dan tentunya akan dinyatakan dalam diri anak-anak kalau orang tuanya sama-sama mewariskan sel-sel tersebut. Sudah pasti Adam dan Hawa datang dari tangan Allah yang sudah menciptakan mereka tidak mempunyai sel-sel demikian. Itu sebabnya pernikahan antara saudara lelaki dan perempuan atau kemenakan lelaki dan perempuan dari generasi pertama dan kedua sesudah Adam dan Hawa tidak berbahaya.
Pada zaman Nuh, diperkirakan incest tidak terjadi lagi karena umat manusia sudah banyak. Setelah Air Bah pun, manusia yang ada sudah terdiri atas tiga keluarga, Sem, Ham, dan Yafet, beserta isteri mereka masing-masing. Keturunan Sem tentu saja boleh menikah dengan keturunan Ham atau Yafet.
'Incest' dianggap sebagai tindakan asusila zinah sedarah dan secara resmi baru dilarang di era Musa pada khususnya dan Perjanjian Lama pada umumnya, yang sering dikatakan sebagai 'incest' (Ibrani: 'zamah') adalah hubungan jasmani antara ayah dan anak perempuan, anak dengan gundik ayahnya, mertua dengan menantu, seorang laki-laki dengan saudara kandungnya yang perempuan (kakak atau adik), dengan adik ipar, dengan mertua perempuan, dengan adik dari istri sendiri, banyak contoh-contoh di dalam Alkitab misalnya Imamat 20:21.
Sementara itu Alkitab mencatat bahwa Abraham menikahi saudara tirinya (Kejadian 20:12). Itu sebabnya. fenomena ini bukan tidak dikenal dalam Kitab Suci. Sebelum zaman Musa, incest dalam berbagai bentuknya yang kemudian diharamkan tersebut tidak dianggap salah. Saat itu, bahkan ayah Musa sendiri, yaitu Amram, menikahi seorang bibi muda, yaitu saudara perempuan ayahnya, yakni Yokhebed (Keluaran 6:19). Di Mesir, perkawinan rutin antar saudara sekandung di kalangan Firaun yang berjalan hingga abad kedua membuat hukum Musa menjadi suatu pembedaan yang radikal dengan masa silam mereka di Mesir.
IV. Larangan Incest: Akibat Masuknya Dosa, Mutasi dan Recessive Genes
Alasan-alasan genetik yang melarang incest tidak selalu menyolok. Perkawinan antar keluarga dekat pada masa-masa purba terjadi tanpa kerusakan genetik yang serius. Sekarang ini, resiko kerusakan genetik sangatlah tinggi. Karena kemungkinan-kemungkinan genetik Adam dan Hawa sangat baik, maka tidak ada alasan biologis untuk melarang pernikahan sebatas itu yang di kemudian hari perlu dilarang.
Akibat manusia jatuh dalam dosa, sakit penyakit pun mulai ada. termasuk sakit penyakit yang berasal dari recessive genes. Karena kemungkinan pertemuan Gen antara unsur lemah bertemu unsur lemah atau unsur dominan-bertemu dominan, pertemuan antara faktor resesif kemungkinan ketemunya lebih tinggi, karena satu garis yang bisa menyebabkan cacat pada anak yang diturunkannya, sumbing, cebol, idiot, lumpuh, dll.
Jauh sebelum ilmu pengetahuan Tentang recessive genes ini diketahui manusia, Tuhan sudah terlebih dahulu melarang perkawinan antara saudara sedarah (incest) untuk menghindari hal di atas.
Adalah benar bahwa anak-anak yang dihasilkan sebagai akibat perkawinan antara saudara laki dan saudara perempuan mungkin lahir cacat. Sebenamya, semakin dekat hubungan kerabat pasangan itu, semakin mungkin pula bahwa keturunannya akan cacat. Mudah sekali bagi orang awam untuk mengerti hal ini tanpa sampai detail secara tehnis. Setiap orang mewarisi gen dari ibu dan ayahnya. Sayang sekali, dewasa ini gen-gen ini berisi banyak kesalahan, dan kesalahan-kesalahan ini tampak dalam berbagai cara. Misalnya, beberapa orang membiarkan rambutnya tumbuh sampai menutupi kupingnya untuk menyembunyikan kenyataan bahwa satu kuping lebih rendah daripada yang lain, atau barangkali hidung seseorang tidak berada tepat di tengah wajahnya; mungkin rahang seseorang sedikit tidak berbentuk, dan lain sebagainya. Biarlah kita menghadapinya, alasan utama bahwa kita menamakan satu sama lain normal ialah karena persamaan kita untuk berbuat demikian!
Semakin dekat hubungan antara dua orang, semakin mungkin bahwa mereka akan membuat kesalahan yang sama di dalam gen. Oleh sebab itu, saudara laki-laki dan saudara perempuan mungkin membuat kesalahan yang sama dalam bahan gen mereka. Apabila diadakan penyatuan antara keduanya ini untuk menghasilkan keturunan, maka seorang anak akan mewarisi satu perangkat gen dari masing-masing orang tuanya. Oleh karena gen itu mungkin mempunyai kesalahan yang sama, kalau kesalahan ini dipadukan bersama dan berakibat timbulnya cacat pada anak-anak itu.
Sebaliknya, orang tua yang hubungan kekerabatannya satu sama lain lebih jauh, barangkali mereka mempunyai kesalahan yang berbeda dalam gen mereka. Anak-anak yang mewarisi satu perangkat gen dari masing-masing orangtuanya, barangkali akan mengakhiri beberapa perangkat gen yang berisi hanya satu gen yang jelek di dalam setiap perangkat. Gen yang baik kemudian cenderung untuk menolak gen yang tidak baik sehingga cacat yang serius bagaimanapun tidak akan terjadi. Misalnya seseorang mungkin mempunyai kuping yang hanya sedikit bengkok daripada cacat secara total!
Tetapi kenyataan dari penghidupan zaman sekarang ini tidak berlaku bagi Adam dan Hawa. Ketika keduanya diciptakan, mereka adalah sempurna. Segala sesuatu yang dijadikan Allah itu sungguh amat baik (Kejadian 1:30). Mereka mempunyai lingkungan yang amat ideal bagi pelestarian kehidupan manusia. Taman Eden secara ideal cocok untuk menjaga agar kesehatan dan kekuatan fisik mereka tetap baik. Bahkan sesuadh mereka diusir dari Eden, tampaknya kondisi-kondisi untuk menunjang umur yang panjang masih jauh lebih menguntungkan daripada kondisi-kondisi sesudah terjadi air bah; dan mungkin pada zaman itu sebetulnya tidak terdapat sakit-penyakit. Hal ini berarti bahwa gen mereka adalah sempuma. Tetapi ketika dosa masuk ke dunia (karena Adam), Allah mengutuk dunia sehingga penciptaan yang sempuma itu kemudian menjadi merosot, yaitu menderita kematian dan menjadi busuk (Roma 1:22).

Melalui kurun waktu yang sangat lama, generasi ini tentu menimbulkan akibat segala jenis kesalahan di dalam bahan gen pada makhluk hidup. Lebih-lebih, generasi yang demikian khususnya dipercepat setelah terjadinya Banjir pada zaman Nuh, yang disebabkan oleh keadaan iklim yang lebih kasar yang berlaku pasca Banjir. Akibat datangnya penghukuman yang mengerikan berupa air bah, harapan hidup (usia) manusia secara progresif menjadi lebih pendek. Sebagai contoh, pasti ada jumlah yang lebih besar radiasi kosmik yang berbahaya yang masuk dan menyebabkan mutasi (istilah teknis untuk kecelakaan, kerusakan, dan kesalahan-kesalahan [Misalnya kesalahan mengkopi] di dalam gen-gen [informasi keturunan]. Mutasi demikian setelah terjadi lalu diteruskan pada generasi berikutnya, dan demikianlah kesalahan-kesalahan ini terhimpun dalam populasi sejalan dengan berlalunya waktu. Rupanya, secara perlahan berlaku dampak kutukan karena dosa terhadap kesehatan fisik dan stamina umat manusia, bahkan jauh setelah manusia jatuh dalam dosa.
Lantas tahukah Anda siapa pelaku Incest pertama di dunia ini? Dan siapakah pembuat Sunnah Keji dan Tercela ini pertama kali di alam semesta ini? Dialah Raja Namrudz (Nimrod) dari Babilonia. Namrudz (2275 SM -1943 SM) sering pula disebut Nimrodz, yang memiliki gelar The Mighty Hunter (pemburu yang gagah perkasa; pemburu yang ulung) karena keahliannya memburu. Selain itu, Namrudz juga digelari Dewa Bacchus dan juga Dewa Matahari. Pada zamannya, Namrudz merupakan seorang raja yang cerdas, namun kecerdasannya itu membuatnya bersikap sombong dan mengaku Tuhan. Namrudz sendiri merupakan kata jamak yang memiliki arti ”Mari Memberontak”. Namanya tercatat dalamAlkitab (Kejadian 10:8,9; 1 Tawarikh 1:10; Mikha 5:6), dan Al-Quran (Al Baqarah 124:87; 258:163,164). Namrudz merupakan anak dari Kushyi (Kush), cucu Nabi Nuh. Ibunya bernama Semiramis, seorang wanita cantik yang di usia remaja telah dinikahkan.
IV. Larangan dan Sanksi Hukum Incest: Perlindungan Allah Terhadap Pribadi, Struktur Keluarga, dan Masyarakat
Menjelang zaman Nabi Musa (kira-kira 2,500 tahun kemudian), kesalahan-kesalahan yang memerosotkan telah terhimpun sampai tingkat sedemikian rupa di dalam ras manusia sehingga perlu bagi Allah untuk memberikan hukum-hukum perkawinan antar saudara laki-Iaki dan saudara perempuan (dan kerabat dekat) (Imamat 18:20). Secara keseluruhan, tampaknya ada tiga alasan yang saling terkait untuk memberikan hukum-hukum ini :
1. Sebagaimana telah kita bicarakan, ada kebutuhan untuk melindungi terhadap adanya potensi yang bertambah untuk menghasilkan keturunan yang cacat;
2. Di samping kendala yang nyata bagi semua orang, hukum-hukum ini bersifat menolong dalam mempertahankan bangsa Yahudi supaya kuat, sehat dan sesuai dengan tujuan-tujuan Allah;
3. Hukum-hukum itu merupakan alat untuk melindungi pribadi, struktur keluarga, dan masyarakat luas. Kerusakan psikologis yang disebabkan oleh hubungan perkawinan antar saudara tak dapat dikurangi. Orang hanya dapat memandang pada masyarakat kita sendiri untuk mengenali kenyataan ini.
Terjadinya incest sejak zaman Adam sampai zaman Nabi Nuh di atas menimbulkan pertanyaan tambahan tentang perkawinan antar saudara atau saudara sekandung. Kalau perkawinan antar saudara dilarang dalam Kitab Suci, menurut hukum Musa, bagaimana kita menjelaskan perkawinan antar saudara sekandung di sini? Karena Adam dan Hawa diciptakan langsung oleh Allah dalam keadaan yang sempurna, maka dapat diperkirakan bahwa gen (plasma pembawa sifat) mereka juga sempurna.
Kejadian 5:4 memberi tahu kita bahwa selama rentang waktu 930 tahun usia Adam (800 tahun sesudah Set lahir), dia mempunyai lagi anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan yang lain. Oleh karena Adam dan Hawa diperintahkan untuk membentuk keluarga yang besar untuk mendiami bumi (Kejadian 1:28), maka masuk akal mengasumsikan bahwa mereka terus melahirkan anak-anak selama periode waktu yang panjang, sebab terdapat kondisi yang ideal bagi manusia waktu itu untuk berumur panjang.
Tentu saja perlu bagi generasi sesudah Adam agar bisa melanjutkan keturunan maka mereka berpasangan antara saudara laki-laki dan saudara perempuan; jika tidak demikian maka umat manusia akan habis. Baru pada generasi-generasi berikutnya dimungkinkan bagi sesama sepupu dan kerabat yang lebih jauh untuk menjadi pasangan pernikahan. Tampaknya tidak terdapat kesepakatan yang pasti bahwa pernikahan dua bersaudara laki-laki – perempuan bisa dicap sebagai dosa incest sampai zaman Abraham, yang menekankan kepada orang Mesir bahwa Sarah adalah saudara perempuannya (bdg. Kejadian 20:12); dengan demikian ia menunjukkan kepada orang Mesir bahwa jika Sarah adalah saudara perempuannya, mustahil dia adalah istrinya (Kejadian 12:13).
Ketika dosa masuk ke dalam dunia pada waktu kejatuhan manusia, maka bersama dengannya datang kematian, penyakit, dan kerusakan, sehingga timbunan gen lambat laun menjadi rusak. Mula-mula, tidak ada akibat jelek yang timbul dari perkawinan antar saudara sekandung, dan sekiranya dosa tidak memasuki dunia, agaknya bahaya juga tidak akan masuk.
Akan tetapi, setelah beberapa generasi, penyakit, lingkungan, dan dosa mulai meminta korban dari timbunan gen, sehingga menghasilkan gen yang berubah bentuk dan sifatnya dan juga rusak.Pada zaman Musa perkawinan antar saudara sekandung dilarang dari segi biologis, karena sekarang hal itu membahayakan dan dapat mengakibatkan lahirnya keturunan yang cacat bentuknya, idiot, atau menyandang cacat lainnya.
Tambahan pula, selain masalah biologis, perkawinan antar saudara sekandung juga merupakan masalah etis. Allah melarang perkawinan antar saudara sekandung atas pertimbangan-pertimbangan moral, dan ini lebih penting daripada aspek biologis (Imamat 20:11, dst).
Perkawinan antar saudara sekandung mengacaukan struktur sosial dan moral dalam keluarga. Selain Gereja, maka keluarga adalah satu-satunya lembaga yang ditetapkan Tuhan di dalam dunia. Pada pembentukan struktur keluarga yang pertama pada zaman Kain, sulit diperkirakan apa yang terjadi dengan perkawinan campur. Maka kita tidak dapat memastikan seberapa luasnya perkawinan antar saudara sekandung itu terjadi. Satu hal yang pasti: sesudah struktur keluarga yang ditetapkan Tuhan itu menjadi mantap, maka perkawinan incest (antar saudara sekandung) adalah dosa.
Sejak pada zaman Musa, Kitab Imamat dan Ulangan, menyebut sanksi nyata terhadap perkawinan antara dua saudara laki-laki – perempuan. Karena incest termasuk tindakan asusila zinah, maka ada hukum-hukum yang mengatur segala bentuk incest (Imamat 18:7-17; 20:11-12, 14,17,20-21; Ulangan 22:30; 27:20, 22, 23). Hukum-hukum ini dengan jelas menyebutkan bahwa hubungan seksual atau perkawinan dilarang terjadi dengan seorang ibu, ayah, ibu tiri. saudara perempuan, saudara lelaki, saudara lelaki tiri, cucu perempuan, menantu perempuan, menantu lelaki, bibi, paman atau istri dari saudara lelaki. Sanksi hukum bagi pelaku incest pada masa itu adalah kutukan dan hukuman mati, dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. Pelaksanaan hukuman mati berupa dibakar atau dirajam, suatu bentuk hukuman mati yang berlaku juga dimasa pelayanan Yesus di Palestina (Yohanes 8:3-7).
Sedangkan pada masa modern saat ini, tentang incest, dikatakan oleh Dr. Med. Ahmad Ramali dan K. St. Pamoentjak, dalam Kamus Kedokteran, bahwa incest adalah zinah sedarah, persetubuhan antara dua orang yang masih mempunyai hubungan sedarah, sehingga perkawinan sah antara mereka dilarang oleh adat dan hukum.
Referensi
1. Dr. Med. Ahmad Ramali dan K. St. Pamoentjak, dalam Kamus Kedokteran, Arti dan Keterangan Istilah. Disempurnakan oleh: dr. Hendra T. Laksman. Lektor Kepala pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penerbit Djambatan. Cetakan keenam belas 1991.
2. Gleason Leonard Archer. Encyclopedia of Bible Difficulties. Hal-hal Sulit dalam Alkitab. Prakata Oleh: Kenneth S. Kantzer. Penerjemah: Suhadi Yeremia. Penyunting: Ibu Tjuk Subandiah Kaihatu. Mula-mula diterbitkan di Amerika Serikat oleh The Zondervan Corporation, Grand Rapids, Miichigan. Hak Cipta 1982 The Zondervan Corporation. Hak Cipta terjemahan Indonesia Penerbit Gandum Mas. Cetakan pertama tahun 2004.
3. Henry Morris. The Bible Has the Answer. Baker Book House. 1971.
4. H. C. Leopold. Exposition of Genesis. Vol. 1. Baker Book House. 1958.
5. Josh Mc Dowell and Don Stewart. Jawaban Bagi Pertanyaan Orang yang Belum Percaya. Diterbitkan oleh: Here’s Life Publishers, Inc. P.O. Box 1676. San Bernardino, CA. 92402. Penerbit Gandum Mas. Malang.
6. Dan lain-lain.
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
I. Definisi dan Selayang-Pandang Incest
Incest yang disebut juga hubungan sedarah, hubungan sumbang atau perkawinan sedarah adalah hubungan saling mencintai yang bersifat seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga (kekerabatan) yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara tiri. Pengertian istilah ini lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis (bandingkan dengan kerabat-dalam untuk pengertian biologis) meskipun sebagian penjelasannya bersifat biologis. Sedang definisi dari Kamus New Collins (New Collins Dictionary) menyebut Incest adalah "Hubungan seksual antara 2 orang yang mempunyai hubungan yang sangat dekat." Kamus Oxford menambahkan kalimat - "Untuk menikah."
Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa 'sifat lemah' dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.
Secara sosial, hubungan sumbang dapat disebabkan, antara lain, oleh ruangan dalam rumah yang tidak memungkinkan orangtua, anak, atau sesama saudara pisah kamar. Hubungan sumbang antara orang tua dan anak dapat pula terjadi karena kondisi psikososial yang kurang sehat pada individu yang terlibat. Beberapa budaya juga mentoleransi hubungan sumbang untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politik atau kemurnian ras.
Akibat hal-hal tadi, hubungan sumbang tidak dikehendaki pada hampir semua masyarakat dunia. Semua agama besar dunia melarang hubungan sumbang. Di dalam aturan agama Islam (fiqih), misalnya, dikenal konsep muhrim yang mengatur hubungan sosial di antara individu-individu yang masih sekerabat. Bagi seseorang tidak diperkenankan menjalin hubungan percintaan atau perkawinan dengan orang tua, kakek atau nenek, saudara kandung, saudara tiri (bukan saudara angkat), saudara dari orang tua, kemenakan, serta cucu.
Pada kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Gorontalo, Sulawesi, praktik hubungan sumbang banyak terjadi. Perkawinan sesama saudara adalah hal yang wajar dan biasa di kalangan suku Polahi.
Kalangan bangsawan Mesir Kuno, khususnya pascainvasi Alexander Agung, melakukan perkawinan dengan saudara kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsinoé. Beberapa ahli berpendapat, tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam ini didasarkan pada mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris dengan saudaranya, Dewi Isis.
Dalam mitologi Yunani kuno, Dewa Zeus kawin dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
Folklor Indonesia juga mengenal hubungan sumbang. Hubungan sumbang antara Sangkuriang dan ibunya sendiri (Dayang Sumbi) dalam dongeng masyarakat Sunda atau antara Prabu Watugunung dan ibunya (Sinta), yang menghasilkan 28 anak — kisahnya diabadikan dalam pawukon — adalah contoh-contohnya.
II. Kasus Incest Zaman Adam sampai Zaman Nuh: Melanjutkan Keturunan
Dalam Kitab Suci, terutama Kitab Perjanjian Lama banyak dikisahkan tentang incest atau perkawinan sedarah. Banyak orang mempertanyakan, bagaimana mungkin sebuah Kitab dari Allah menulis dan mendukung perkawinan sedarah (incest) ini? Apakah Allah memang mendukung incest pada masa-masa itu? Apakah ini adalah bukti bahwa Kitab Suci (Alkitab) adalah kitab yang mendukung perzinahan (incest)?
Menurut Kitab Kejadian, pada suatu saat Kain membunuh adiknya, Habel (Kejadian 4:8). Sebagai hukuman atas kejahatannya ini, Tuhan mengusir Kain dari tempat kediamannya dan dari kehadiranNya. Dikatakan bahwa pada suatu waktu Kain mendapatkan seorang istri, serta membangun sebuah kota.
Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya (Kejadian 4:17)
Dari ayat-ayat di atas, langsung kita ingin tahu, dari mana Kain mendapatkan istrinya. Sampai bahasan ini kita hanya tahu tentang kedua anak Adam dan Hawa, yaitu Kain dan Habel. Pertanyaan seperti ini telah sering diajukan sehingga layak mendapatkan tempat dalam Biblical Hall of Famous Questions.
Sebuah teori yang diajukan menjelaskan adanya sejumlah orang yang cukup banyak, yang sangat bertentangan dengan data Alkitab. Teori ini menegaskan bahwa ada bangsa ”pra-Adam” yang tinggal di sekitar taman Eden, sehingga Kain mendapatkan istri dari antara mereka.
Akan tetapi, teori ini tidak dapat dipertahankan, karena Kitab Suci dengan jelas mengajarkan bahwa Adamlah manusia yang pertama (1 Korintus 15:45), dan istrinya, Hawa, adalah ”ibu semua yang hidup” (Kejadian 3:20).
Jawaban yang paling jelas seharusnya adalah bahwa Adam dan Hawa memiliki anak-anak lain selain mereka yang sejauh ini tersurat, termasuk anak-anak perempuan. Memang, Kejadian 5:4 dengan jelas mengatakan demikian, "[Adam] memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan".
Masalahnya adalah bahwa Kain pasti telah menikahi saudara perempuannya. Namun dengan mengakuinya berarti memunculkan kesulitan berikutnya. Apakah ia melakukan kesalahan incest jika ia menikahi saudara perempuannya sendiri?
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sehubungan dengan kasus incest dalam Kitab Perjanjian Lama adalah sembilan pokok utama yang tercatat di dalam Kitab kejadian :
1. Adam adalah manusia pertama (Kejadian 2:7, 18-19 bandingkan 1 Korintus 15:45).
2. Adam hidup selama 930 tahun (Kejadian 5:5).
3. Hawa diberi nama itu karena DIALAH YANG MENJADI IBU BAGI SEMUA YANG HIDUP (Kejadian 3:20)
4. Adam dan Hawa MEMPERANAKKAN ANAK-ANAK LELAKI DAN PEREMPUAN (Kejadian 5:4)
5. Segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik ketika pertama kali dijadikan (Kejadian 1:31).
6. Kebaikan ini telah dirusak ketika "dosa telah masuk ke dolam dunia oleh satu orang" (Roma 5:12 bandingkan Kejadian 3)
7. Penciptaan dikutuk oleh Allah (Kejadian 3: 17 bandingkan Roma 8:20-22) karena dosa Adam.
8. Abraham kawin dengan saudaranya perempuan seayah lain ibu. (Kejadian 20:12)
9. Hukum perkawinan dengan kerabat dekat berasal dari zaman Musa (Imamat 18:20)
Kesembilan pokok utama ini memberikan petunjuk yang mengisyaratkan bahwa Kain tentu telah mengawini saudara perempuannya sendiri.
Paling sedikit ada dua hal yang dapat dikatakan menanggapi hal yang di jaman modern ini dianggap memalukan. Pertama, jika umat manusia berkembang biak dari satu pasang saja, sebagaimana kita percaya bukti menyatakan demikian, perkawinan-perkawinan antarsaudara semacam itu tidak dapat dihindarkan. Jika kita menuntut harus ada cara lain untuk memulai umat manusia maka itu merupakan pengharapan yang tidak pada tempatnya.
Yang kedua, pendapat tentang incest haruslah diselidiki dengan lebih saksama. Mula-mula dosa incest dihubungkan dengan hubungan seksual antara orangtua dengan anak-anak. Baru sesudah itulah pendapat tentang incest diperluas menjadi hubungan-hubungan antar saudara sekandung.
Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, hanya merekalah manusia yang ada. Kitab Kejadian menceritakan asal usul mereka masing-masing yang khas, dan bagaimana mereka diperintahkan untuk berkembang biak dan memenuhi bumi (dengan keturunan mereka).
Sekalipun Adam dan Hawa mempunyai banyak anak laki-lakl dan perempuan, nama-nama yang kita ketahui hanya tiga: Kain, Habel dan Set. Yang tiga ini dibicarakan begitu rinci karena peristiwa-peristiwa penting yang kita perlu ketahui. Bagaimanakah rupa anak-anak yang lain? Alkitab mengatakan kepada kita bahwa keturunan Adam dan Hawa pergi dan membangun kota-kota. Misalnya, Kain pergi ke tanah Nod bersama istrinya dan membangun sebuah kota (Kejadian 4:16-17), membuat alat-alat musik (Kejadian 4:21), dan mengerjakan logam-logam (pekerjaan pandai besi) (Kejadian 4:22)
Jadi bagaimana hal ini memberitahukan kepada kita bahwa istri Kain adalah saudara perempuannya? Dalam Kejadian 3:20 kita membaca bahwa Hawa diberi nama itu karena dialah yang menjadi ibu dari SEMUA yang hidup, bukan hanya BEBERAPA yang hidup. Kemudian Kejadian 5:4 memberitahukan kepada kita bahwa Adam dan Hawa mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Sebenarnya, menurut adat-istiadat Yahudi bahwa mereka mempunyai 33 anak laki-laki dan 23 anak perempuan! (Catatan: Angka ini diberikan di dalam terjemahan William Whitson tentang Josephus - Complete Works, Antiquities III, 1, P 27.) Jangan lupa: Adam hidup sampai 930 tahun, maka terdapat banyak waktu! Juga cukup jelas dari Injil bahwa Adam adalah manusia pertama (1 Korintus 15:45).
Kita dapat simpulkan bahwa kedua orang pertama, yang langsung diciptakan atas perbuatan Allah, mempunyai banyak anak - laki-laki dan perempuan. Kemudian dengan jelas menunjukkan, anak laki-laki harus mengawini anak-anak perempuan untuk terjadinya generasi berikutnya, Istri Kain pasti adalah kerabat yang sangat dekat sekali!
Tetapi Kain adalah anak pertama yang dilahirkan. Sebenarnya ia pasti tidak menerima gen yang tidak sempurna dari Adam dan Hawa, begitu juga anak-anak Adam dan Hawa yang lain. Dalam situasi yang demikian itu, saudara laki-laki dan saudara perempuan tentu boleh kawin tanpa adanya potensi untuk menghasilkan keturunan yang cacat.
Banyak orang dengan segera menolak kesimpulan ini dengan mengacu kepada hukum perkawinan antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Namun demikian, hukum ini baru dimulai pada zaman Musa (Imamat 18:20). Ingatlah bahwa Abraham, yang hidup selama 400 tahun sebelum Musa, menikah dengan saudara tirinya satu ayah lain ibu. Tetapi bagaimana hal ini dapat terjadi, terutama dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa perkawinan saudara laki-laki dan saudara perempuan belakangan ini saja tidak diperkenankan oleh hukum untuk menikah dan mempunyai anak, karena keturunannya mungkin akan menjadi cacat?
III. Perkembangan Incest dalam Perjanjian Lama
Kitab Kejadian adalah catatan Allah Yang hadir pada waktu sejarah terjadi. Kitab Kejadian itu adalah Firman Allah yang mengetahui segala sesuatu, dan yang menjadi saksi terpercaya dari masa lalu. Dengan demikian, ketika kita menggunakan Kitab Kejadian sebagai dasar untuk mengerti sejarah, kita dapat mengerti bukti yang sebaliknya akan menjadi suatu misteri. Anda mengetahui, apabila evolusi itu benar, ilmu pengetahuan bahkan akan menghadapi suatu masalah yang lebih besar untuk diterangkan daripada istri Kain, yaitu bagaimana manusia itu dapat berkembang dengan mutasi pada awal-mulanya, karena proses yang berdasarkan hal itu tentu akan membuat anak-anak setiap orang menjadi cacat? Kenyataan yang ada bahwa sekalipun saudara laki-laki dan saudara perempuan dapat menghasilkan keturunan yang sebagian besar tidak cacat adalah suatu kesaksian tentang penciptaan, dan bukan evolusi.
Perkawinan sedarah atau 'incest' barangkali hanya terjadi pada generasi yang pertama atau kedua saja. Kita tahu bahwa Adam dan Hawa mempunyai lagi anak-anak laki-laki dan perempuan selain Kain, Habel, dan Set. Jika hanya ada satu keluarga asli, maka pernikahan mula-mula haruslah antara saudara lelaki dan saudara perempuan. Pernikahan demikian pada mulanya tidak berbahaya. Waktu jaman Adam dan Hawa, Incest tidak dilarang karena waktu Tuhan menciptakan manusia, Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan baik, sehat, sempurna.
Incest berbahaya sebab mewarisi sel keturunan yang berubah yang menghasilkan anak-anak yang cacat, sakit, atau dungu, dan tentunya akan dinyatakan dalam diri anak-anak kalau orang tuanya sama-sama mewariskan sel-sel tersebut. Sudah pasti Adam dan Hawa datang dari tangan Allah yang sudah menciptakan mereka tidak mempunyai sel-sel demikian. Itu sebabnya pernikahan antara saudara lelaki dan perempuan atau kemenakan lelaki dan perempuan dari generasi pertama dan kedua sesudah Adam dan Hawa tidak berbahaya.
Pada zaman Nuh, diperkirakan incest tidak terjadi lagi karena umat manusia sudah banyak. Setelah Air Bah pun, manusia yang ada sudah terdiri atas tiga keluarga, Sem, Ham, dan Yafet, beserta isteri mereka masing-masing. Keturunan Sem tentu saja boleh menikah dengan keturunan Ham atau Yafet.
'Incest' dianggap sebagai tindakan asusila zinah sedarah dan secara resmi baru dilarang di era Musa pada khususnya dan Perjanjian Lama pada umumnya, yang sering dikatakan sebagai 'incest' (Ibrani: 'zamah') adalah hubungan jasmani antara ayah dan anak perempuan, anak dengan gundik ayahnya, mertua dengan menantu, seorang laki-laki dengan saudara kandungnya yang perempuan (kakak atau adik), dengan adik ipar, dengan mertua perempuan, dengan adik dari istri sendiri, banyak contoh-contoh di dalam Alkitab misalnya Imamat 20:21.
Sementara itu Alkitab mencatat bahwa Abraham menikahi saudara tirinya (Kejadian 20:12). Itu sebabnya. fenomena ini bukan tidak dikenal dalam Kitab Suci. Sebelum zaman Musa, incest dalam berbagai bentuknya yang kemudian diharamkan tersebut tidak dianggap salah. Saat itu, bahkan ayah Musa sendiri, yaitu Amram, menikahi seorang bibi muda, yaitu saudara perempuan ayahnya, yakni Yokhebed (Keluaran 6:19). Di Mesir, perkawinan rutin antar saudara sekandung di kalangan Firaun yang berjalan hingga abad kedua membuat hukum Musa menjadi suatu pembedaan yang radikal dengan masa silam mereka di Mesir.
IV. Larangan Incest: Akibat Masuknya Dosa, Mutasi dan Recessive Genes
Alasan-alasan genetik yang melarang incest tidak selalu menyolok. Perkawinan antar keluarga dekat pada masa-masa purba terjadi tanpa kerusakan genetik yang serius. Sekarang ini, resiko kerusakan genetik sangatlah tinggi. Karena kemungkinan-kemungkinan genetik Adam dan Hawa sangat baik, maka tidak ada alasan biologis untuk melarang pernikahan sebatas itu yang di kemudian hari perlu dilarang.
Akibat manusia jatuh dalam dosa, sakit penyakit pun mulai ada. termasuk sakit penyakit yang berasal dari recessive genes. Karena kemungkinan pertemuan Gen antara unsur lemah bertemu unsur lemah atau unsur dominan-bertemu dominan, pertemuan antara faktor resesif kemungkinan ketemunya lebih tinggi, karena satu garis yang bisa menyebabkan cacat pada anak yang diturunkannya, sumbing, cebol, idiot, lumpuh, dll.
Jauh sebelum ilmu pengetahuan Tentang recessive genes ini diketahui manusia, Tuhan sudah terlebih dahulu melarang perkawinan antara saudara sedarah (incest) untuk menghindari hal di atas.
Adalah benar bahwa anak-anak yang dihasilkan sebagai akibat perkawinan antara saudara laki dan saudara perempuan mungkin lahir cacat. Sebenamya, semakin dekat hubungan kerabat pasangan itu, semakin mungkin pula bahwa keturunannya akan cacat. Mudah sekali bagi orang awam untuk mengerti hal ini tanpa sampai detail secara tehnis. Setiap orang mewarisi gen dari ibu dan ayahnya. Sayang sekali, dewasa ini gen-gen ini berisi banyak kesalahan, dan kesalahan-kesalahan ini tampak dalam berbagai cara. Misalnya, beberapa orang membiarkan rambutnya tumbuh sampai menutupi kupingnya untuk menyembunyikan kenyataan bahwa satu kuping lebih rendah daripada yang lain, atau barangkali hidung seseorang tidak berada tepat di tengah wajahnya; mungkin rahang seseorang sedikit tidak berbentuk, dan lain sebagainya. Biarlah kita menghadapinya, alasan utama bahwa kita menamakan satu sama lain normal ialah karena persamaan kita untuk berbuat demikian!
Semakin dekat hubungan antara dua orang, semakin mungkin bahwa mereka akan membuat kesalahan yang sama di dalam gen. Oleh sebab itu, saudara laki-laki dan saudara perempuan mungkin membuat kesalahan yang sama dalam bahan gen mereka. Apabila diadakan penyatuan antara keduanya ini untuk menghasilkan keturunan, maka seorang anak akan mewarisi satu perangkat gen dari masing-masing orang tuanya. Oleh karena gen itu mungkin mempunyai kesalahan yang sama, kalau kesalahan ini dipadukan bersama dan berakibat timbulnya cacat pada anak-anak itu.
Sebaliknya, orang tua yang hubungan kekerabatannya satu sama lain lebih jauh, barangkali mereka mempunyai kesalahan yang berbeda dalam gen mereka. Anak-anak yang mewarisi satu perangkat gen dari masing-masing orangtuanya, barangkali akan mengakhiri beberapa perangkat gen yang berisi hanya satu gen yang jelek di dalam setiap perangkat. Gen yang baik kemudian cenderung untuk menolak gen yang tidak baik sehingga cacat yang serius bagaimanapun tidak akan terjadi. Misalnya seseorang mungkin mempunyai kuping yang hanya sedikit bengkok daripada cacat secara total!
Tetapi kenyataan dari penghidupan zaman sekarang ini tidak berlaku bagi Adam dan Hawa. Ketika keduanya diciptakan, mereka adalah sempurna. Segala sesuatu yang dijadikan Allah itu sungguh amat baik (Kejadian 1:30). Mereka mempunyai lingkungan yang amat ideal bagi pelestarian kehidupan manusia. Taman Eden secara ideal cocok untuk menjaga agar kesehatan dan kekuatan fisik mereka tetap baik. Bahkan sesuadh mereka diusir dari Eden, tampaknya kondisi-kondisi untuk menunjang umur yang panjang masih jauh lebih menguntungkan daripada kondisi-kondisi sesudah terjadi air bah; dan mungkin pada zaman itu sebetulnya tidak terdapat sakit-penyakit. Hal ini berarti bahwa gen mereka adalah sempuma. Tetapi ketika dosa masuk ke dunia (karena Adam), Allah mengutuk dunia sehingga penciptaan yang sempuma itu kemudian menjadi merosot, yaitu menderita kematian dan menjadi busuk (Roma 1:22).

Melalui kurun waktu yang sangat lama, generasi ini tentu menimbulkan akibat segala jenis kesalahan di dalam bahan gen pada makhluk hidup. Lebih-lebih, generasi yang demikian khususnya dipercepat setelah terjadinya Banjir pada zaman Nuh, yang disebabkan oleh keadaan iklim yang lebih kasar yang berlaku pasca Banjir. Akibat datangnya penghukuman yang mengerikan berupa air bah, harapan hidup (usia) manusia secara progresif menjadi lebih pendek. Sebagai contoh, pasti ada jumlah yang lebih besar radiasi kosmik yang berbahaya yang masuk dan menyebabkan mutasi (istilah teknis untuk kecelakaan, kerusakan, dan kesalahan-kesalahan [Misalnya kesalahan mengkopi] di dalam gen-gen [informasi keturunan]. Mutasi demikian setelah terjadi lalu diteruskan pada generasi berikutnya, dan demikianlah kesalahan-kesalahan ini terhimpun dalam populasi sejalan dengan berlalunya waktu. Rupanya, secara perlahan berlaku dampak kutukan karena dosa terhadap kesehatan fisik dan stamina umat manusia, bahkan jauh setelah manusia jatuh dalam dosa.
Lantas tahukah Anda siapa pelaku Incest pertama di dunia ini? Dan siapakah pembuat Sunnah Keji dan Tercela ini pertama kali di alam semesta ini? Dialah Raja Namrudz (Nimrod) dari Babilonia. Namrudz (2275 SM -1943 SM) sering pula disebut Nimrodz, yang memiliki gelar The Mighty Hunter (pemburu yang gagah perkasa; pemburu yang ulung) karena keahliannya memburu. Selain itu, Namrudz juga digelari Dewa Bacchus dan juga Dewa Matahari. Pada zamannya, Namrudz merupakan seorang raja yang cerdas, namun kecerdasannya itu membuatnya bersikap sombong dan mengaku Tuhan. Namrudz sendiri merupakan kata jamak yang memiliki arti ”Mari Memberontak”. Namanya tercatat dalamAlkitab (Kejadian 10:8,9; 1 Tawarikh 1:10; Mikha 5:6), dan Al-Quran (Al Baqarah 124:87; 258:163,164). Namrudz merupakan anak dari Kushyi (Kush), cucu Nabi Nuh. Ibunya bernama Semiramis, seorang wanita cantik yang di usia remaja telah dinikahkan.
IV. Larangan dan Sanksi Hukum Incest: Perlindungan Allah Terhadap Pribadi, Struktur Keluarga, dan Masyarakat
Menjelang zaman Nabi Musa (kira-kira 2,500 tahun kemudian), kesalahan-kesalahan yang memerosotkan telah terhimpun sampai tingkat sedemikian rupa di dalam ras manusia sehingga perlu bagi Allah untuk memberikan hukum-hukum perkawinan antar saudara laki-Iaki dan saudara perempuan (dan kerabat dekat) (Imamat 18:20). Secara keseluruhan, tampaknya ada tiga alasan yang saling terkait untuk memberikan hukum-hukum ini :
1. Sebagaimana telah kita bicarakan, ada kebutuhan untuk melindungi terhadap adanya potensi yang bertambah untuk menghasilkan keturunan yang cacat;
2. Di samping kendala yang nyata bagi semua orang, hukum-hukum ini bersifat menolong dalam mempertahankan bangsa Yahudi supaya kuat, sehat dan sesuai dengan tujuan-tujuan Allah;
3. Hukum-hukum itu merupakan alat untuk melindungi pribadi, struktur keluarga, dan masyarakat luas. Kerusakan psikologis yang disebabkan oleh hubungan perkawinan antar saudara tak dapat dikurangi. Orang hanya dapat memandang pada masyarakat kita sendiri untuk mengenali kenyataan ini.
Terjadinya incest sejak zaman Adam sampai zaman Nabi Nuh di atas menimbulkan pertanyaan tambahan tentang perkawinan antar saudara atau saudara sekandung. Kalau perkawinan antar saudara dilarang dalam Kitab Suci, menurut hukum Musa, bagaimana kita menjelaskan perkawinan antar saudara sekandung di sini? Karena Adam dan Hawa diciptakan langsung oleh Allah dalam keadaan yang sempurna, maka dapat diperkirakan bahwa gen (plasma pembawa sifat) mereka juga sempurna.
Kejadian 5:4 memberi tahu kita bahwa selama rentang waktu 930 tahun usia Adam (800 tahun sesudah Set lahir), dia mempunyai lagi anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan yang lain. Oleh karena Adam dan Hawa diperintahkan untuk membentuk keluarga yang besar untuk mendiami bumi (Kejadian 1:28), maka masuk akal mengasumsikan bahwa mereka terus melahirkan anak-anak selama periode waktu yang panjang, sebab terdapat kondisi yang ideal bagi manusia waktu itu untuk berumur panjang.
Tentu saja perlu bagi generasi sesudah Adam agar bisa melanjutkan keturunan maka mereka berpasangan antara saudara laki-laki dan saudara perempuan; jika tidak demikian maka umat manusia akan habis. Baru pada generasi-generasi berikutnya dimungkinkan bagi sesama sepupu dan kerabat yang lebih jauh untuk menjadi pasangan pernikahan. Tampaknya tidak terdapat kesepakatan yang pasti bahwa pernikahan dua bersaudara laki-laki – perempuan bisa dicap sebagai dosa incest sampai zaman Abraham, yang menekankan kepada orang Mesir bahwa Sarah adalah saudara perempuannya (bdg. Kejadian 20:12); dengan demikian ia menunjukkan kepada orang Mesir bahwa jika Sarah adalah saudara perempuannya, mustahil dia adalah istrinya (Kejadian 12:13).
Ketika dosa masuk ke dalam dunia pada waktu kejatuhan manusia, maka bersama dengannya datang kematian, penyakit, dan kerusakan, sehingga timbunan gen lambat laun menjadi rusak. Mula-mula, tidak ada akibat jelek yang timbul dari perkawinan antar saudara sekandung, dan sekiranya dosa tidak memasuki dunia, agaknya bahaya juga tidak akan masuk.
Akan tetapi, setelah beberapa generasi, penyakit, lingkungan, dan dosa mulai meminta korban dari timbunan gen, sehingga menghasilkan gen yang berubah bentuk dan sifatnya dan juga rusak.Pada zaman Musa perkawinan antar saudara sekandung dilarang dari segi biologis, karena sekarang hal itu membahayakan dan dapat mengakibatkan lahirnya keturunan yang cacat bentuknya, idiot, atau menyandang cacat lainnya.
Tambahan pula, selain masalah biologis, perkawinan antar saudara sekandung juga merupakan masalah etis. Allah melarang perkawinan antar saudara sekandung atas pertimbangan-pertimbangan moral, dan ini lebih penting daripada aspek biologis (Imamat 20:11, dst).
Perkawinan antar saudara sekandung mengacaukan struktur sosial dan moral dalam keluarga. Selain Gereja, maka keluarga adalah satu-satunya lembaga yang ditetapkan Tuhan di dalam dunia. Pada pembentukan struktur keluarga yang pertama pada zaman Kain, sulit diperkirakan apa yang terjadi dengan perkawinan campur. Maka kita tidak dapat memastikan seberapa luasnya perkawinan antar saudara sekandung itu terjadi. Satu hal yang pasti: sesudah struktur keluarga yang ditetapkan Tuhan itu menjadi mantap, maka perkawinan incest (antar saudara sekandung) adalah dosa.
Sejak pada zaman Musa, Kitab Imamat dan Ulangan, menyebut sanksi nyata terhadap perkawinan antara dua saudara laki-laki – perempuan. Karena incest termasuk tindakan asusila zinah, maka ada hukum-hukum yang mengatur segala bentuk incest (Imamat 18:7-17; 20:11-12, 14,17,20-21; Ulangan 22:30; 27:20, 22, 23). Hukum-hukum ini dengan jelas menyebutkan bahwa hubungan seksual atau perkawinan dilarang terjadi dengan seorang ibu, ayah, ibu tiri. saudara perempuan, saudara lelaki, saudara lelaki tiri, cucu perempuan, menantu perempuan, menantu lelaki, bibi, paman atau istri dari saudara lelaki. Sanksi hukum bagi pelaku incest pada masa itu adalah kutukan dan hukuman mati, dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. Pelaksanaan hukuman mati berupa dibakar atau dirajam, suatu bentuk hukuman mati yang berlaku juga dimasa pelayanan Yesus di Palestina (Yohanes 8:3-7).
Sedangkan pada masa modern saat ini, tentang incest, dikatakan oleh Dr. Med. Ahmad Ramali dan K. St. Pamoentjak, dalam Kamus Kedokteran, bahwa incest adalah zinah sedarah, persetubuhan antara dua orang yang masih mempunyai hubungan sedarah, sehingga perkawinan sah antara mereka dilarang oleh adat dan hukum.
Referensi
1. Dr. Med. Ahmad Ramali dan K. St. Pamoentjak, dalam Kamus Kedokteran, Arti dan Keterangan Istilah. Disempurnakan oleh: dr. Hendra T. Laksman. Lektor Kepala pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penerbit Djambatan. Cetakan keenam belas 1991.
2. Gleason Leonard Archer. Encyclopedia of Bible Difficulties. Hal-hal Sulit dalam Alkitab. Prakata Oleh: Kenneth S. Kantzer. Penerjemah: Suhadi Yeremia. Penyunting: Ibu Tjuk Subandiah Kaihatu. Mula-mula diterbitkan di Amerika Serikat oleh The Zondervan Corporation, Grand Rapids, Miichigan. Hak Cipta 1982 The Zondervan Corporation. Hak Cipta terjemahan Indonesia Penerbit Gandum Mas. Cetakan pertama tahun 2004.
3. Henry Morris. The Bible Has the Answer. Baker Book House. 1971.
4. H. C. Leopold. Exposition of Genesis. Vol. 1. Baker Book House. 1958.
5. Josh Mc Dowell and Don Stewart. Jawaban Bagi Pertanyaan Orang yang Belum Percaya. Diterbitkan oleh: Here’s Life Publishers, Inc. P.O. Box 1676. San Bernardino, CA. 92402. Penerbit Gandum Mas. Malang.
6. Dan lain-lain.
Langganan:
Postingan (Atom)

