Rabu, 23 November 2011

Gereja Orthodox Indonesia: Menjadikan Bumi Seperti Surga

Oleh : Web Warouw
Sinar Harapan 2003

Semua agama seharusnya mencintai kedamaian. Islam berarti damai, demikian halnya shalom bagi umat Kristiani dan santi bagi umat Hindu. Pada dasarnya, semua orang ingin damai. Visi dasar semua agama adalah perdamaian. Dalam Gereja Orthodox, perdamaian adalah inti dari ajaran, karena Firman Allah yang adalah Allah menjadi manusia mendamaikan dua yang bertentangan, yaitu yang ilahi dan yang manusiawi, yang ada dalam diri Yesus Kristus. Pesan damai yang dibawa Yesus Kristus merupakan pesan utama pada situasi krisis perdamaian seperti saat ini.

Ajaran memang tidak bisa dikompromikan, tetapi dalam ajaran pasti terkandung pesan-pesan damai. Untuk itu, kita harus rela merangkul perbedaan paham, karena dalam kesadaran, kita ini satu bangsa dan satu entitas manusia. Di bawah ini cuplikan wawancara SH dengan Ketua Umum Gereja Orthodox Indonesia (GOI) Romo Arkhimandrit Daniel Bambang Dwi Byantoro.

Sekarang orang meributkan perbedaan, bagaimana pendapat Anda?
Pluralisme di Indonesia adalah kenyataan. Kalau kita menekankan pada ekslusivitas masing-masing, yang terjadi adalah konflik. Kalau kita bertengkar sendiri, negara kita akan ambruk, dunia akan hancur. Masing-masing pimpinan masyarakat seharusnya mendahulukan kepentingan umum ketimbang kepentingan kelompok atau pribadi.

Bagaimana masa depan Indonesia?
Tergantung pada komitmen kita kembali. Satu-satunya jalan adalah kembali pada Pancasila. Kita harus rela berdampingan dengan mengedepankan persatuan dengan mengutamakan kepentingan bersama. Bayangkan kalau masing-masing memaksakan hukum agamanya yang berlaku, tidak akan ada harmonisasi.
Kita harus merumuskan kembali Pancasila agar tidak semu seperti dulu. Founding fathers sudah menegaskan komitmen ini. Walaupun berbeda agama, budaya, dan suku bangsa, kita sepakat harus hidup bersama dan tidak saling mengganggu.

Bagaimana dengan soal agama dan politik?
Agama harus menyadari tempatnya sebagai pemberi suara hati nurani, suara moral, dan suara kenabian. Sebagai pemimpin spiritual pada umat. Agama tidak bisa dicampur dengan politik. Kalau politik sudah berjalan miring, agama harus meluruskan atau menyerukan untuk berhenti. Kalau agama memberikan suara moral, negara harus mendengarkan, bukan menjadikan agama sebagai alatnya, atau mengatur bagaimana orang beragama.

Beragama adalah hak yang diberikan Tuhan, bukan pemberian pemerintah. Pemerintah jangan bermain menjadi Tuhan. Pemerintah harus menjalankan hukum Tuhan sesuai dengan perikeadilan, kemanusiaan, dan kebebasan serta damai sejahtera, bukan dengan paksaan dan kekerasan. Lima sila dalam Pancasila itu universal ada di semua agama. Pancasila adalah universal sudah mencakup semua agama dan keyakinan yang kita semua setujui.

Bagaimana dengan SKB dan Forum Komunikasi Umat Beragama?
Seharusnya agama adalah masalah hati nurani individu. Biarkanlah orang memilih agama dan jangan diatur oleh pemerintah. Sepertinya, pemerintah tidak percaya kedewasaan orang beragama. Kita dianggap murid taman kanak-kanak yang harus diatur oleh negara.

Di Amerika tidak ada seperti ini dan tidak ada konflik agama. Kalau pemerintah tidak mencampuri, tidak ada konflik. Kalau diberikan kebebasan bangsa ini cukup dewasa untuk beragama. Peraturan dari pemerintah inilah yang selalu menimbulkan konflik, seperti di Ambon dan Poso. Semua akibat campur tangan oknum pemerintah. Agama dicampur dengan politik dan agama dipolitisasi. Ini kacau.

Pada tahun 1970-an kehidupan beragama di Indonesia lebih rukun. Keluarga saya ada yang Islam, Buddha, Hinddu, dan Protestan, tapi kami saling mengunjungi, dan saling menyalami pada hari raya masing-masing sebagai rasa hormat. Dalam tatanan akar rumput, saya yakin umat lebih rukun dan saling menghormati.

Kekacauan terjadi di elite pimpinan agama, dibumbui dengan politik. Elite politik dan agama kalau punya kepentingan untuk memaksakan kehendak, konflik yang muncul. Semua pemimpin agama sebenarnya bisa menuntun umat pada kedamaian dan keadilan. Kalau demikian bangsa ini akan kuat kembali.
Bangsa ini tidak bisa eksklusif, bangsa ini harus inklusif. Kita harus rela dengan perbedaan suku, agama, dan golongan budaya. Kita harus rela kembali pada bangsa Indonesia yang semula, yang merupakan persatuan bangsa-bangsa kecil menjadi bangsa yang besar. Kita harus menghormati perbedaan-perbedaan di dalamnya.

Bagaimana sebenarnya asal gereja Orthodox?
Gereja Orthodox berpegang pada prinsip gereja mula-mula yang didirikan Kristus sendiri. Orthodox berasal dari kata Orthos yang berarti lurus, dan doxa artinya pengajaran, arti Orthodox adalah pengajaran yang lurus. Kata Orthodox muncul untuk membedakan dengan Heterodox, yaitu bidat-bidat (ajaran yang menyimpang).

Jadi Ortodox bukan berarti kaku, terbelakang, atau kuno, tetapi adalah jalan yang lurus sebagai lawan dari ajaran yang tidak lurus yang muncul pada waktu itu. Sejak zaman Yesus, para rasul menyebarkan Injil dari Yerusalem, ke Siria, Turki, Yunani, dan akhirnya masuk ke Roma.

Jadi kekristenan itu berasal dari timur, tepatnya Asia Barat meluas ke barat, Eropa. Pada zaman itu, ada dua kekristenan, yaitu kekristenan timur dan kekristenan barat yang berpusat di Roma dan akhirnya ke Eropa. Kekristenan timur pusatnya di Konstantinopel (sekarang Istambul) Turki, Alexandira di Mesir, Antiokia di Siria, dan Yerusalem, di tanah Palestina.

Dari situlah gereja Timur dan Barat berjalan sendiri-sendiri dengan tradisi masing-masing. Gereja di timur disebut Gereja Orthodox, yang berkembang ke Eropa timur, yaitu Rusia, Rumania, Yugoslavia, dan daerah Timur Tengah.

Perkembangannya di Indonesia?
Gereja Orthodox Indonesia yang sekarang tidak ada hubungannya dengan orang-orang Orthodox yang masuk pada tahun 1930-an. Awalnya, saya belajar di Korea Selatan. Dan pada tahun 1978 dibantu oleh Gubernur Sulawesi Utara, Willy Lasut untuk belajar tentang sistem gunung doa untuk bisa dipraktikkan di Manado. Di Korea, tahun 1983 saya bertemu dengan Misi Gereja Orthodox Korea dan meyakini ini yang saya cari.

Tahun 1988 saya pulang ke Indonesia. Pertama saya mendekati Dirjen Katholik, tetapi mereka mengatakan hanya melayani tradisi Roma. Saya berpuasa dan berdoa 30 hari dan atas pertolongan Tuhan saya ditemukan dengan Kakanwil Depag di Semarang, Bapak Prawoto dan Bapak Sutarno, dari Solo. Merekalah yang meletakkan Gereja Orthodox di bawah Dirjen Bimas Kristen-Protestan untuk perlindungan hukum pada tahun 1991, di bawah Depag sampai sekarang.

Apa yang khas dari ajaran Kristen Orthodox?
Di Katholik ada pengatur ajaran, di Orthodox tidak ada. Pilihan berselibat (tidak menikah) pada pelayan Tuhan tidak diatur dalam Orthodox. Jadi pelayan boleh menikah boleh tidak.

Gereja Orthodox mengenal dogma, yaitu dogma Tritunggal Maha Kudus. Tritunggal bukan dogma yang mati, tetapi menjadi progam sosial bermasyarakat dan menjadi landasan di muka bumi karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Posisi Yesus Kristus?
Manusia jatuh ke dalam dosa dan dikuasai kematian bukan hanya fisik, tetapi juga rohani. Kematian fisik adalah akibat kematian rohani. Manusia sebenarnya diciptakan bukan untuk mati. Manusia diciptakan untuk mengalami kekekalan Allah. Tetapi kerena manusia gagal, Allah ingin memulihkan kembali dengan jalan menyingkirkan kematian.

Yang bisa melakukan ini adalah Dia yang tidak terkalahkan oleh kematian, yaitu Firman-Nya. Allah mengirimkan Firman-Nya dan masuk ke dalam perut Maria dan mengambil kemanusiaannya, disatukan dengan FirmanNya. Maka lahirlah manusia Yesus Kristus.

Manusia Yesus bukan setengah Allah dan setengah manusia, Yesus adalah Firman Allah yang mempunyai esensi di dalam Allah. Sebagai manusia, Dia sama dengan kita dalam segala hal. Dari sisi keilahian Dia adalah Allah. Dengan demikian, yang Ilahi sudah merangkul yang duniawi-daging, berasal dari dunia.

Maka dari itu, kehidupan rohani tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan duniawi. Dengan prinsip itu, moral dan spiritual dari sorga tidak dipisahkan dengan di bumi, karena landasannya adalah Firman Allah menjadi manusia. Tujuannya adalah untuk memulihkan kodrat manusia yang rusak.

Maka kerajaan di surga datang ke bumi untuk memulihkan kerusakan di bumi sehingga di bumi ini bisa mengalami pemulihan yang berdasarkan inspirasi dari surga. Maka tidak ada dikotomi antara rohani dengan jasmani atau sosial.
Dikotomi artinya menolak inkarnasi, Firman jadi manusia, padahal inkarnasi itu adalah menyatukan yang berseberangan antara manusia di bumi dan diri Allah. Di bumi harus bekerja secara harmoni dengan surga. Kita tidak bisa memisahkan kerajaan surga dan bumi sendiri.

Kemulian yang Illahi itu harus mempengaruhi bumi. Maka bunyi doanya, jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di surga. Ini tugas kita semua untuk memuliakan bumi seperti surga. Tidak ada politik!

Referensi

Christian Studies for Peace. Gereja Orthodox Indonesia: Menjadikan Bumi Seperti Surga. http://christianforpeace.blogspot.com. 5 Desember 2010.

Jumat, 04 November 2011

Delegasi Gereja Orthodox Rusia Menghadiri Pertemuan Internasional di Assisi

Diterjemahkan dan
diedit oleh :

Presbiter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Pada tanggal 27 Oktober 2011, adalah hari refleksi, dialog dan doa untuk perdamaian dan keadilan di dunia yang diadakan di Assisi, Italia, di bawah motto 'Para Peziarah Kebenaran, 'Para Peziarah Perdamaian'.

Lebih dari 300 perwakilan dari gereja-gereja dan komunitas-komunitas Kristen serta perwakilan-perwakilan dari agama-agama lainnya mengambil bagian dalam pertemuan itu untuk mengungkapkan solidaritas mereka dalam mencari co-eksistensi hidup berdampingan penuh damai diantara peradaban dan masyarakat.

Tidak ada doa bersama. Singkat kata sambutan dari peserta bergantian dengan saat-saat tenang, musik atau refleksi dalam keheningan, di mana para penganut humanisme atheistik juga ikut ambil bagian.

Dialog difokuskan pada tantangan dunia dewasa ini, kebutuhan bagi orang-orang yang berkehendak baik untuk menyatukan upaya mereka dalam menentang dampak merusak dari berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, sekularisme militan, ketidakstabilan ekonomi dan fundamentalisme.







Gereja Orthodox Rusia diwakili oleh Metropolitan Filaret dari Minsk dan Slutsk, Exarch Patriarkal untuk Seluruh Belarusia, Metropolitan Alexander dari Astana dan Seluruh Kazakhstan, Uskup Vladimir dari Dneprodzerzhinsk dan Tsaritsyno, Protopresbiter Dimitry Sizonenko sekretaris DECR untuk hubungan-hubungan antar-umat Kristen, Protopresbiter Nikolay Danilevich, sekretaris pusat peziarahan DECR, Romo Anthony (Sevryuk), sekretaris paroki-paroki Patriarkat Moskow di Italia, Protopresbiter Igor Vyzhanov dari gereja St Katherina di Roma, Protopresbiter Nikolay Korzhich, sekretaris administrasi diosesan Minsk, Victor Shevtsov, sekretaris untuk Exarch Patriarkal untuk Seluruh Belarus, dan Romo Diakon Alexy Dikarev sekretariat DECR untuk hubungan-hubungan antar-umat Kristen.


Catatan:

1. ) Dalam Gereja-Gereja Kristen Timur (Eastern Orthodox, Oriental Orthodox dan Katolik Timur), istilah exarch memiliki dua penggunaan yang berbeda:

a. Wakil Patriarkh, atau seorang uskup yang memegang otoritas atas uskup-uskup lainnya tanpa menjadi seorang Patriarkh (dengan demikian, posisi antara patriarkh dan metropolitan)

b. Seorang uskup yang ditunjuk lebih dari sekelompok umat beriman yang belum cukup besar atau cukup terorganisir untuk membentuk suatu daerah eparkhi/dioses/keuskupan (dengan demikian setara dengan vikaris Apostolik).

2. ) DECR: Department for External Churh Relations, yaitu Departemen untuk Hubungan-hubungan Luar Negeri Gereja

Referensi:

1. Russian Orthodox Church. Official Website of The Department For External Chuch Relations. Russian Orthodox delegation attends international meeting in Assisi. DECR Communication Service. Friday, November 4, 2011.

2. From Wikipedia, the free encyclopedia. Exarch.

Ruang Kadaver: Meditasi Tentang Kematian “Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita!”

Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita!

Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.

0 Menit:
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.

1 Menit:
Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.

3 Menit:
Sel-sel otak mati secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.

4 – 5 Menit:
Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.

7 – 9 Menit:
Penghubung ke otak mulai mati.

1 – 4 Jam:
Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

4 – 6 Jam:
Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.

6 Jam:
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.

8 Jam:
Suhu tubuh langsung menurun drastis.

24 – 72 Jam:
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.

36 – 48 Jam:
Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina.

3 – 5 Hari:
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

8 – 10 Hari:
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.

Beberapa Minggu:
Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas.

Satu Bulan:
Kulit Anda mulai mencair.

Satu Tahun:
Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, tidak ada yang bisa disombongkan?

BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN.....Kita tak membawa apapun juga saat kta meninggalkan dunia yang fana ini...

Jadilah manusia sebiasanya dan jangan merpersulit hidup orang lain, saling menghargailah..Kasihilah orang disekitarmu dan jangan merpersulit hidup orang, apalagi berbuat jahat...carilah Tuhan & melekatlah pada Dia yang menyelamatkanmu.

Refernsi:
http://www.kaskus.us/ Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita!

Senin, 31 Oktober 2011

SINAKSARION (Kisah Orang Kudus): St. Athanasios Sang Igumen dari Meteora (1310 – 1383)

Oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Apabila para rahub ditanya, apa sebab mereka mendaki gunung-gunung yang terjal di Yunani? Jawabnya tidak bisa tidak adalah karena di atas gunung yang terjal itu mereka merasa lebih sekat dengan Allah. Bukit-bukit terjal di Yunani mengandaikan tidak hanya Kenaikan ke Sorga, tetapi merupakan tempat perteduhan rohani, dimana para rahib berusaha memotong-motong batu karang yang terjal dan menghasilkan monasteri-monasteri tempat perteduhan rohani yang mengagumkan di dunia.

Tempat yang paling terkenal itu diantaranya biara Gunung Athos, tetapi biara ini tidak bisa dibandingkan dengan kehebatan dan kemegahan biara Meteora – satu tempat perteduhan rohani – yang dirancang oleh seorang rahib yang bersemangat tinggi. Nama rahib itu adalah St. Athanasios dari Meteora.

Kemasyhuran Gunung Athos karena bangunan-bangunannya yang besar dan asal-usulnya yang sudah ribuan tahun yang lampau dan bukan karena tempat yang memiliki nilai-nilai bersejarah. Biara Meteora terkenal karena merupakan satu tempat bersejarah dan susunan bangunannya lebih dari yang lain. Perpustakaannya berisi karya-karya tulis Gereja yang lebih besar dari benteng-benteng Kekristenan yang lain, dengan perkecualian dari vatikan dan perpustakaan dari biara St. Katerina di Sinai.

Monasteri Agia Triada (Tritunggal Kudus) di Meteora, Yunani

Monasteri Agios Stefanos (St. Stefanus), salah satu biara di Meteora

Beberapa dari bagian-bagian yang paling megah dari biara Meteora tidak dapat dicapai dengan mendaki, tetapi hanya bisa dicapai lewat kerekan di dalam satu keranjang.

Biara Meteora ada karena seorang biarawan yang namanya Athanasios yang dilahirkan di Neopatras (Lamia), Yunani, pda tahun 1310. Ibunya meninggal waktu melahirkan dia dan tidak lama sesudahnya ayahnyapun meninggal. Sebagai akibatnya dari hal ini, ia dipelihara dari masa bayinya oleh seorang pamannya yang mengatur pendidikannya dan memberanikan tekadnya dalam rencananya untuk hidup mengabdi bagi Gereja.

Terpaksa melarikan diri karena penyerbuan orang-orang Barbar, ia pergi ke Tessalonika dimana ia belajar filsafat dan teologi sampai tingkatan sarjana yang melayakkan dia untuk suatu tugas di Kantor Sekretaris Kerajaan, suatu tugas yang cepat membosankan karena tidak cocok dengan bidang studinya.

Ia tinggalkan Tessalonika ke pulau Kreta dengan singgah sebentar di Gunung Athos, Gunung Kudus. Ia tinggal cukup lama dan melihat bahwa karya kehidupannya ada di Kebiaraan. Sesudah beberapa tahun di Kreta, ia kembali ke Gunung Athos, dimana ia menerima kehidupan biara yang sudah ia cita-citakan dengan sabar.

Akhirnya ia menjadi seorang rahib dengan nama Athanasios. Kedamai-sentosaan hidup monastery dikacaukan oleh kaum Barbar pengembara yang mengepung biara dan menyusahkan para rahib itu. Kepungan ini silih berganti oleh kelompok-kelompok Barbar yang lain.

St. Athanasios, Sang Igumen dari Meteora (1310 – 1383)


Kepungan-kepungan ini membuat Athanasios berpikir sendiri bahwa perlu ada satu tempat di sana, dimana para rahib bisa terjamin keberadaannya yang penuh damai, dan ia tinggalkan Gunung Athos dengan rahib-rahib dan mencari satu tempat yang tenang. Mereka tiba di Thessaly dan tidak lama kemudian menemukan tempat yang sekarang dikenal sebagai Meteora. Suatu tempat yang terdiri dari karang yang terjal, yang dindingnya tinggi sekali, membentuk satu benteng alamiah, ditambahkan pula bahwa Meteora juga menjadi masalah untuk ahli-ahli teknik dan nampaknya suatu kebodohan untuk mencoba memotong-motong bukit karang yang terjal itu untuk dijadikan tempat tinggal. Tetapi Athanasios yang bersemangat, tekun melkukan dan berhasil mendapat bantuan dari seorang seniman yang mempunyai ketrampilan teknik yang giat merancang dan mengerjakan proyek ini yang hanya karena mukjizat iman berhasil dibangun.

Dalam tahun-tahun awal, penghuni monasteri ini sangat sedikit karena sulit untuk mencapainya dan karena orang takut kesana. Tetapi karena kepungan yang terus-menerus ke biara-biara lain, maka jumlah penghuni di Meteora mulai membengkak. Tidak lama kemudian biara itu berpenghuni ratusan rahib, yang sekarang dengan tertawa mereka melihat para pengepung yang ada di bawah. Dibawah pimpinan Athanasios para rahib menjalankan tugas-tugas monastik dan menghasilkan satu benteng Kekristenan yang hebat.

Ikon dari Agioi Athnasios kai Ioasaf oi Meteoritai

Athanasios tidak pernah meninggalkan Meteora. Dia memiliki "karunia membedakan roh" dan pelaku mukjizat yang agung. Ia meninggal dengan damai pada tanggal 20 April 1383. Pesta peringatan St. Athanasios Sang Igumen (Abbas) dari Meteora dirayakan bersama St. Ioasaf Sang Igumen dari Meteora setiap tanggal 20 April/3 Mei.

“St. Athanasios dari Meteora doakanlah kami yang berjalan dengan iman bersamamu. Amin!”

Referensi

1. ____________, Sinaksarion (Kisah Orang Kudus). Dikumpulkan oleh Rm. Kirill dari bulletin Gereja Orthodox Indonesia dan sumber-sumber lain. Malang. 2000.

2. ____________, Saint Herman Calender 2006. Saints of the German – Speaking Lands. Printed with the blessing of His Grace  Longin, Serbian Orthodox Bishop of the U.S.A. and Canada, New Gracanica Metropolitanate, and Bishop Adminstrator of Serbian Orthodox Diocese of Western America. Thirty-fourth year of publication. Copyright 2006 by the St. Herman of Alaska Brotherhood. 2006.

3. St. Nicholas Russian Orthodox Church, Mckinney (Dallas area), Texas. http://www.orthodox.net/ From the Prologue. The Venerable Athanasius of Meteora.

Jumat, 28 Oktober 2011

Doa hening Assisi sangat sesuai Gereja Asia

Tanggal publikasi: 27 Oktober 2011

Doa hening pribadi yang akan menandai pertemuan antaragama tahun ini di Assisi, yang diselenggarakan oleh Paus Benediktus XVI, sangat sesuai dengan religiositas Asia, demikian seorang pejabat tinggi Vatikan dalam bidang dialog antaragama kepada ucanews.com pekan ini.

Monsignor Andrew Thanya-anan Vissanu, wakil sekretaris dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama kelahiran Thailand mengatakan, “Kami orang Asia, kami berdoa dalam keheningan. Diam merupakan doa itu sendiri,” dan mungkin “lebih dahsyat.”

Ia menambahkan, inisiatif untuk doa pribadi itu berbeda dengan doa-doa bersama oleh komunitas agama yang berbeda, seperti dalam pertemuan pertama, yang diadakan oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1986. Kegiatan doa pribadi itu telah diterima dengan baik oleh para pemimpin agama di Asia.

Monsignor Vissanu adalah penanggung jawab atas dialog dengan agama Buddha di Dewan Kepausan.

“Bapa Suci ingin mengajak orang melakukan ziarah dalam mencari kebenaran, dan refleksi dalam hati kita tentang kebenaran. Hal ini juga penting untuk menghindari kesan bahwa dialog berarti sinkretisme atau relativisme,” katanya.

Ia mengatakan bahwa untuk pertama kalinya “Ikrar Perdamaian” yang menandai acara puncak pertemuan antaragama itu akan disampaikan dalam bahasa Mandarin oleh wakil Tao dari Hong Kong.

Ia juga menambahkan bahwa juga untuk pertama kalinya akan hadir sebuah delegasi dari Cina daratan di Assisi: sekelompok biksu dari Biara Shaolin di Henan, yang dipimpin oleh Yang Mulia Abbot Shi Yongxin.

Monsignor Vissanu mengatakan seleksi delegasi yang diundang ke Assisi dilakukan dalam konsultasi dengan Gereja-gereja lokal dan konferensi waligereja.

“Kami menggarisbawahi sepanjang waktu bahwa dialog tersebut tidak terjadi di sini di Roma, di via della Conciliazione Nomor 5 [alamat dari Dewan Kepausan]. Dialog yang nyata harus di Gereja lokal “dan melibatkan” cara hidup, orang-orang tersebut. Ini adalah dialog kehidupan.”

Kontingen Asia pada pertemuan Assisi akan mencakup 68 perwakilan Buddha dari 11 negara Buddha, tiga Konghucu, tiga Tao, 17 Shinto dan 13 perwakilan dari empat agama baru di Jepang.

Selain itu, sebanyak 18 wakil dari India yang mewakili Hindu, Jain, Zoroastria, Sikh, Bahai dan berbagai agama tradisional akan hadir, termasuk cucu Mahatma Gandhi dan Rajmohan aktivis anti-korupsi Swami Agnivesh, seorang kolega dekat Anna Hazare.

Daftar peserta Muslim sedang dalam proses penentuan akhir.

Monsignor Vissanu mengatakan dialog antaragama di Asia terletak pada tiga pilar: identitas, karena mereka yang memasuki dialog harus mengetahui identitas mereka sendiri; keragaman, karena “kita hidup bersama di dunia ini”; dan keanekaragman, yang berarti keindahan “misteri Allah dan kasih Allah melalui ciptaan-Nya.”

Sumber: Assisi silent prayer suits Asian Church

Catatan:

Disamping Doa dan Sholat, dalam Gereja Orthodox Timur juga mengenal semacam “samadhi” atau “berdzikir dengan tasbih Orthodox” yang disebut sebagai “Doa Puja Yesus” (“Doa Yesus”) dengan menggunakan semacam “tasbih” yang dirajut dari benang, disebut dalam bahasa Yunani sebagai “komboskini” (“Komboschoinia”; ” komvoschini”) atau “Chotki” (“Чётки“) dalam bahasa Rusia, yang dipintal dan berbiji 100, ada juga yang lebih pendek, terdiri dari 33 manik-manik. Mungkin untuk mengingat umur Yesus di muka bumi yaitu 33 tahun.

Rumusan doa ini berdasarkan seruan si buta di Yerikho (Luk. 18:38; Mat. 20:30) dan doa si pemungut cukai (Luk. 18:13), yaitu: “Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah kasihanilah aku orang berdosa ini”, yang dalam bahasa Yunani berbunyi: “:“Kyrie Iesou Khriste Hyos Ton Theon, eleyson me ton amartolon” (“Κύριε Ἰησοῦ Χριστέ, Υἱέ τοῦ Θεοῦ, ἐλέησόν με τὸν ἁμαρτωλόν“). Rumusan ini juga bisa diperpendek berupa: “Kyrie Iesou Khriste, eleyson me” atau “Kyrie eleyson”. Bahkan rumusan ini bisa diperpendek dengan hanya menyebut “Nama Yesus” saja. Doa ini seharusnya diulang dengan hening, dengan tidak tergesa-gesa, sementara menarik dan mengeluarkan nafas mengikuti rumusan doa ini.

Dan praktek yang dilakukan oleh kaum “sufi” Kristen Orthodox yang disebut kaum “hesykhastis”, “Hesychast” (Yunani: Ἡσυχαστής ; hesychastes) atau kaum “Quietists” yang disebut juga para rahib Cipto Hening (para Penghening), yaitu para praktisi “hesykhasme” (Yunani: ἡσυχασμός hesychasmos, dari: ἡσυχία hesychia, "stillness, rest, quiet, silence" = “keheningan”, “kesunyian”, “istirahat”, “ketenangan”, “diam”) atau “Sufisme Kristen Orthodox”, yaitu suatu aliran spiritualitas dan Kekristenan esoteris di Gereja Timur (Gereja Orthodox) yang didasarkan atas hesykhia (ἡσυχία; keheningan, teduh-diam, senyap) sebagai sarana untuk menjadi terpusat pada persatuan dengan Allah dalam doa tak kunjung putus.

Kaum “hesykhastis” (Quietists) atau para rahib Cipto Hening (para Penghening), misalnya St. Diadokhus dari Fotiki (400-kira-kira 486), St. Yohanes Kassianus (kira-kira 360-435), St. Yohanes Klimakos dari Gunung Sinai (sekitar 579-649), St. Hesychios Sang Imam (kira-kira abad 8th), St. Ioannikios Agung (754–846), St. Simeon Sang Theolog Baru (949–1022), St. Gregorius Palamas, Episkop Agung Tesalonika (1296–1359), St. Serafim dari Sarov (1759-1853), St. Theophanes sang Penyendiri (meninggal 1867), St. Nikolai Velimirovich (1880-1956), dll. Hesykhasme mendapat bentuknya yang definitif dan kemudian tersebar ke semua daerah Orthodox. Doa Yesus ditemukan pada pusat dari segala spiritualitas hesykhasme ini.

Doa Yesus disebut juga Doa Batin/Doa Hati/Doa Qolbu (“Noera Prosevkhee”; doa “Budi Rohani”) yang secara khusus menunjuk kepada “Doa Puja Yesus” dari Gereja Timur (Gereja Orthodox). Pengaruh Hesykhasme antara lain disebarluaskan oleh sebuah buku yang dikenal dengan nama “Philokalia”. Seruan dan pendarasan Nama Kudus Yesus dalam Doa Yesus dari Gereja Orthodox Timur ini sekarang digunakan juga oleh Gereja Roma Katolik, Anglikan dan beberapa gereja Protestan.

Rabu, 05 Oktober 2011

MENGENAL SUFI AGUNG ISLAM: JALALUDDIN RUMI SANG DARWIS

oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

1. JALALUDDIN RUMI SANG DARWIS

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau Jalāl ad-Dīn Muḥammad Balkhī (Persia: جلالالدین محمد بلخى), juga dikenal sebagai Jalāl ad-Dīn Muḥammad Rūmī (Persia: جلالالدین محمد رومی) dan secara populer dikenal sebagai Mevlānā di Turki dan Mawlānā (Persia: مولانا) di Iran dan Afghanistan tetapi dikenal di dunia berbahasa Inggris hanya sebagai Rumi (6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 – 5 Jumadil Akhir tahun 672 Hijriah, atau 17 Desember 1273) adalah seorang pujangga dan penyair Muslim Persia, ahli hukum, teolog, dan Mistikus Sufi abad 13. Rūmī adalah nama deskriptif yang berarti "Romawi" karena ia tinggal untuk sebagian besar hidupnya di wilayah yang dinamakan "Rumi" (kemudian dibawah kendali dinasti Seljuq/Seljuk atau Turki Seljuk (dalam Bahasa Turki:Selçuklular; dalam bahasa Persia: سلجوقيان Ṣaljūqīyān; dalam Bahasa Arab سلجوق, Saljūq, atau السلاجقة al-Salājiqa) karena pernah dikuasai oleh Kekaisaran Romawi Timur. Dia adalah salah satu tokoh yang berkembang di Kesultanan Rum (Persian: سلجوقیان روم, Saljūqiyān-e Rūm ).

Ia lahir di Provinsi Balkh di Afghanistan sebuah kota kecil yang terletak di sungai Wakhsh di Persia (di tempat yang sekarang dikenal sebagai Tajikistan) pada tahun 1207, yaitu pada masa pemerintahan Mar Yab-Alaha II Bar Qaiyuma (1190-1222), yaitu Katolikos Seleukia-Ktesiphon dan Patriarkh dari Timur ke-76 dari Gereja Orthodox Assyria Timur yang Kudus, Katolik dan Apostolik (Bhs. Syriac: ܥܕܬܐ ܩܕܝܫܬܐ ܘܫܠܝܚܝܬܐ ܩܬܘܠܝܩܝ ܕܡܕܢܚܐ ܕܐܬܘܪ̈ܝܐ) yang adalah Gereja Kristen yang berasal Takhta Suci Babilon yang didirikan oleh St. Thomas Sang Rasul. Pada masa ini Takhta Katolikos Gereja Orthodox Assyria Timur dipindahkan ke Baghdad, Irak.
. Wakhsh termasuk provinsi lebih besar dari Balkh, dan dan pada tahun Rumi lahir, ayahnya adalah sarjana yang ditunjuk disana. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar (bahasa Arab: بو بكر الصديق, Abu Bakr ash-Shiddiq; khalifah yang pertama Khulafaur Rasyidin pada tahun 632) (lahir: 572 - wafat: 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H), bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Kedua kota-kota ini pada masa itu termasuk dalam lingkup budaya Persia Khorasan yang lebih besar, provinsi paling timur Persia dan merupakan bagian dari Kekaisaran Khwarezmian (adalah sebuah dinasti Muslim Sunni Persia asal Turki Mamluk).

Baik tempat kelahiran dan bahasa aslinya menunjukkan warisan Persia. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan ahli matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan. Keluarga Rumi melakukan perjalanan ke barat, pertama menunaikan ibadah haji dan akhirnya menetap di kota Anatolia Konya (Kauniyah) (ibukota Kesultanan Seljuk Rum, sekarang dikenal sebagai Turki). Di sinilah dia tinggal untuk sebagian besar hidupnya, dan di sini ia menggubah salah satu keagungan pemahkotaan sastra Persia yang sangat mempengaruhi budaya wilayah tersebut. Dia tinggal untuk sebagian besar hidupnya di bawah Kesultanan Rum, di mana ia menghasilkan karya-karyanya dan meninggal pada 1273 Masehi pada masa pemerintahan Joseph I Galesiotes (1267 – 1275) yaitu Patriarkh ke-136 dari Takhta Suci Rasuliyah Konstantinopel dari Gereja Agung Kristus, Gereja Orthodox Patriarkhat Konstantinopel, Istambul, Turki.

2. RUMI DAN KARYANYA

Karya Rumi ditulis dalam bahasa Persia Baru. Sebuah renaisans sastra Persia (di abad 8th/9th) dimulai di daerah Sistan, Khorasan dan Transoxiana dan pada abad 10th/11th, itu memperkuat bahasa Persia sebagai bahasa sastra dan budaya yang disukai di dunia Islam Persia. Pentingnya Rumi dianggap melampaui batas-batas bangsa dan etnis. Karya aslinya banyak dibaca dalam bahasa asli mereka di seluruh negara yang berbahasa Persia. Terjemahan dari karya-karyanya sangat populer di negara-negara lain. Puisinya telah mempengaruhi sastra Persia dan juga bahasa Urdu, Punjabi dan bahasa Pakistan lain yang ditulis dalam aksara Persia/Arab misalnya Pashto dan Sindhi. Puisi-puisinya telah banyak diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia dan dialihkan ke dalam berbagai format. Pada tahun 2007, ia digambarkan sebagai "penyair paling populer di Amerika."

Karya utama Jalaluddin Rumi, yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah Matsnawi-i-Ma'anawi (Couplets of Inner Meaning). Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio. Percakapan informalnya (Fihi ma Fihi), surat-surat (Maktubat), Diwan dan hagiografi Manaqib al-Arifin, semuanya mengandung bagian-bagian penting dari ajaran-ajarannya.

Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.

Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide, bertema meditasi yang dapat diambil sebagai aforisme dan deklarasi dogma, atau sepotong nasihat guru. Penggunaan kata-kata Sufistik mereka, berlangsung terus. Ar-Rumi, seperti penulis Sufi lain, menanamkan ajarannya dalam sebuah kerangka yang secara efektif menjabarkan makna batiniah sebagaimana sebuah pertunjukan atau pameran. Teknik ini bermanfaat melindungi mereka yang tidak mampu menggunakan materi pada level eksperimen yang lebih tinggi; membiarkan mereka yang menginginkan puisi, untuk memilih puisi; memberi hiburan kepada orang-orang yang menginginkan cerita; mendorong kaum intelektual yang menghargai pengalaman-pengalaman tersebut. Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan-ringannya: "Yang ada di dalam ada di dalam" ("Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu").

Ar-Rumi memiliki kegelisahan Sufistik yang luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di zamannya, dan terus menerus menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah sebagian kecil dibandingkan dengan kesufian.

3. SALAH SATU KISAH: RUMI, PEDAGANG DAN DARWIS KRISTEN

Karena berada dalam kesukaran, seorang pedagang yang sangat kaya dari Tabris pergi ke Konia mencari orang yang teramat bijaksana. Setelah mencoba mendapat nasehat dari para pemuka agama, hakim, dan lain-lain, ia mendengar tentang Rumi; iapun dibawa menghadap Sang Bijaksana itu.

Jalaluddin Rumi Sang Sufi Agung
(30 September 1207 – 17 Desember 1273)


Pedagang itu membawa lima puluh keping uang emas sebagai persembahan. Ketika dilihatnya Sang Maulana di ruang tamu, pedagang itu menjadi sangat terharu. Jalaludin Rumi pun berkata kepadanya,

"Lima puluh keping uang emasmu diterima. Tetapi kau telah kehilangan dua ratus, itulah alasan kedatanganmu kemari. Tuhan telah menghukummu, dan menunjukkan sesuatu kepadamu. Sekarang segalanya akan beres." Pedagang itu terheran-heran terhadap yang diketahui Sang Maulana. Rumi melanjutkan.

"Kau mendapat banyak kesulitan karena pada suatu hari nun jauh di negeri Barat sana, kau melihat seorang darwis Kristen (mistikus Kristen) terbaring di jalan. Dan kau meludahinya. Temui dia dan minta maaf padanya, dan sampaikan salam kami kepadanya."

Ketika pedagang itu berdiri ketakutan karena ternyata segala rahasianya telah diketahui, Sang Maulana itupun berkata, "Perlukah kami tunjukkan orang itu padamu?" Rumi menyentuh dinding ruangan itu, dan pedagang itu pun menyaksikan gambar orang suci itu di sebuah pasar di Eropa. Iapun terhuyung-huyung pergi meninggalkan Sang Bijaksana, tercengang-cengang.

Segera saja ia mengadakan perjalanan menemui ulama Kristen itu, dan ditemuinya orang suci tersebut telungkup di tanah. Ketika didekatinya, darwis Kristen itu pun berkata, "Guru kami Jalal telah menghubungi saya."

Pedagang itu melihat ke arah yang ditunjukkan darwis tersebut, dan menyaksikan -dalam gambar- Jalaludin sedang membaca kata-kata semacam ini, "Tak peduli kerikil atau permata, semua akan mendapat tempat di bukitNya, ada tempat bagi semuanya ..."

Pedagang itu pun pulang kembali, menyampaikan salam darwis Kristen itu kepada Jalal, dan sejak itu tinggal dalam masyarakat darwis di Konia.

4. RUMI DAN RELIGIOSITAS

Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah :

Jangan tanya apa agamaku.
Aku bukan yahudi.
Bukan zoroaster.
Bukan pula islam.
Karena aku tahu,
Begitu suatu nama kusebut,
Kau akan memberikan arti yang lain
Daripada makna yang hidup di hatiku.

Aku Adalah Kehidupan Kekasihku

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
Bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku ...

Dia Tidak Di Tempat Lain

Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak ada di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka'bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna ...
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.

5. JALALUDDIN AR-RUMI WAFAT

Dalam tahun 672 Hijriah di kawasan Kauniyah terjadi kegemparan yang berlangsung seminggu penuh. Penyebabnya, terbetik berita bahwa Jalaluddin sedang sakit keras. Berbondong-bondonglah orang bertandang menjenguknya sembari meminta do’a. Ia lantas berkata: “Sesungguhnya tanah itu lapar, selalu mencari makanan. Dan ia akan memperolehnya dalam waktu dekat. Lalu cobaan ini akan sirna dari kalian.”

Seorang temannya bernama Syadruddin datang menengok dan mendoa’kan agar ia segera sembuh kembali: “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan. Tidak ada yang bisa mencelakakanmu, apabila tabir antara kekasih dan kekasih telah terangkat.” Ar-Rumi sempat menyahut: “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”

Setelah dengan panjang lebar menerangkan makna kebenaran, akhirnya menjelang maghrib rohnya meninggalkan raga. Peristiwa menyedihkan itu terjadi pada tanggal 5 Jumadil Akhir tahun 672 H.

Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Para penduduk agama lainpun ikut menangisi kepergiannya. Orang Yahudi dan Kristen, misalnya, membacakan Kitab Taurat dan Injil. Hadir juga dalam upacara pemakaman para penguasa negeri. Kepada para imam dan rahib Kristen, penguasa negeri sempat bertanya: “Peduli apa kalian dengan suasana berkabung ini? Bukankah yang meninggal ini jenazahnya seorang Muslim yang alim?”. Para rahib dan imam itu menjawab: “Berkat dialah kami mengetahui kebenaran para nabi yang sempurna”.

Pada pagi buta, jenazah Jalaluddin ar-Rumi diberangkatkan, diiringkan para pelayat yang melimpah-ruah. Tangis mereka riuh-rendah menyertai kepergiannya. Mereka saling merebut memikul, atau paling tidak menyentuh usungan jenazahnya. Tidak heran jika iring-iringan jenazah baru sampai di tempat pemakaman pada sore hari, dikebumikan pada malamnya.

Ia dimakamkan di Konya (Kauniyah) dan makamnya menjadi tempat suci dan tempat ziarah. Setelah kematiannya, pengikutnya dan putranya Sultan Walad mendirikan Tarekat Mevlevi, juga dikenal sebagai Tarekat Para Darwis Berputar (the Order of the Whirling Dervishes), terkenal dengan tarian sufi yang dikenal sebagai. upacara Sama. Sebuah tulisan di batu nisan Jalaluddin ar-Rumi berbunyi:

“Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia”.
________________________________________
Catatan

@ Luasnya pengaruh Jalaludin Rumi terhadap pikiran dan sastra Barat sekarang ini semakin jelas lewat penelitian akademis.

@ Tak disangsikan lagi bahwa ia mempunyai banyak pengikut di Barat, dan kisah-kisahnya muncul dalam cerita-cerita Hans Anderson, dalam Gesta Romanorum tahun 1324, dan bahkan dalam karya Shakespeare.

@ Di Timur terdengar pendapat di kalangan luas bahwa ia mempunyai hubungan erat dengan kaum mistik dan pemikir Barat. Versi kisah ini diterjemahkan dari karya Aflaki, Munakib al-Arifin, kehidupan para darwis Mevlevi awal, yang selesai ditulis tahun 1353.

@ Sufisme : Ilmu sufuk (tasawuf) dalam kebatinan Islam; sufi : ahli tasawuf, pengikut kebatinan Islam. Bapak Said Aqil Siradj, Khatib Am PBNU dalam pertemuannya dengan Arkhimandrit Romo DR. Daniel B.D. Byantoro pada bulan Oktober 1999 di kantor beliau membenarkan adanya kaitan awal munculnya Tasawuf dalam Islam itu dengan praktek Kristen Timur ini. Bahkan beberapa Sufi Muslim itu ada yang juga belajar dari para “Hesykhastis” Kristen Orthodox ini. Hanya saja beliau menambahkan bahwa pada akhirnya Ilmu Tasawuf itu unsur-unsurnya sudah terdapat juga dalam Islam itu sendiri, misalnya kebiasaan Nabi menyendiri di gua Hira, kehidupan Nabi yang sederhana, dan lain-lain.

@ Seorang Darwis atau Darvesh (dari bahasa Persia درویش, Darvīsh melalui Turki, Somalia: Daraawiish, Arab: دولة الدراويش) adalah seseorang menapaki jalan pertapa sufi Muslim atau “Tariqah” ("Tarekat"), dikenal karena kemiskinan yang ekstrim dan kesederhanaan mereka, mirip dengan para biarawan pengemis di Kristen Barat (misal Ordo Fransiskan, Karmelit, Dominikan, Agustinian) atau Hindu / Budha / para Sadhu Jain. Kaum Darwis adalah para mistikus Islam. Salah satu mistikus dan darwis terkenal dalam agama Islam adalah Maulana Jalaluddin Rumi.

@ Hesykhasme: suatu aliran spiritualitas dalam Gereja Timur (Gereja Orthodox), yang memusatkan perhatiannya pada “hesykhia” (=diam, kesunyian, ketenangan lahir batin) sebagai sarana untuk menyelam ke dalam doa batin. Ini sebanding dengan “Ilmu Tasawuf” dalam Islam. Banyak sarjana yang meyakini bahwa munculnya Tasawuf dalam islam itu terkait dan dipengaruhi praktek-praktek Gereja Timur ini. Dalam praktek Hesykhasme yang dijumpai juga dalam praktek-praktek Tasawuf, tujuan akhir untuk menggapai kasih ilahi dan untuk mencapai “Insan Kamil”, yang dalam iman Kristen Orthodox dimengerti sebagai “Theosis” yaitu “menjadi sama seperti Kristus” (1 Yoh. 3:2) atau “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Pet. 1:4) itu yang diperjuangkan. Hesykhasme mengalami masa kejayaannya terutama dalam abad 14, tetapi sampai di zaman sekarang pun Hesykhasme masih besar pengaruhnya.

@ Tradisi Mistisisme Kristen sama tuanya dengan agama Kristen sendiri. Sekurang-kurangnya tiga teks dari Perjanjian Baru menjadi dasar tema-tema yang berulang kali muncul di sepanjang pemikiran para mistikus Kristen yang sempat dicatat. Yang pertama, Surat Galatia 2:20; teks Alkitab kedua yang penting bagi mistisisme Kristen adalah 1 Yohanes 3:2; teks yang ketiga, yang khususnya penting bagi mistisime Orthodox Timur ditemukan dalam Surat 2 Petrus 1:4:

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.(huruf miring ditambahkan)

Beberapa contoh mistikus Kristen:

• St. Paulus Sang Rasul untuk bangsa-bangsa Goyim (? - l.k. 66)
• St. Yohanes Pembaptis (? - l.k. 36)
• St. Yohanes Sang Rasul (? - l.k.100)
• St. Petrus Sang Rasul (? - l.k.67)
• St. Klemens dari Alexandria (? -216)
• Evagrius Ponticus (345-399)
• St. Gregorius I (590-604)
• St. Symeon Teolog yang Baru (949-1022)
• Mechthild dari Magdeburg (1210-1279)
• Meister Eckhart (l.k. 1260 - 1327/8)
• St. Gregorius Palamas (1296 - 1359)
• St. Bridgeta dari Swedia (1302-1373)
• St. Julian dari Norwich (1342-l.k.1416)
• St. Teresa dari Avila (1515-1582)
• St. Yohanes dari Salib (1542-1591)
• St. Serafim dari Sarov (1759-1833)
• St. Yohanes dari Kronstadt (1829-1908)
• St. Yohanes Maximovich (1896-1966)
• St. Theresa dari Lisieux (1873-1897)
• Thomas Merton (1915-1968)
• St. Padre Pio (1887-1968)
------------------------------------------------------------

Referensi

1. Abul Hasan An-Nadwi. Maulana Jalaluddin Rumi. Al – Mukhtarul Islami lit Tiba’ah wan Nasyr wat Tauzi’, Cairo. Cetakan kedua, tahun 1394 H/ 1974 M. (Jalaluddin Rumi. Sufi Penyair Terbesar. Terjemahan: M. Adib Bisri). Penerbit Pustaka Firdaus. Jakarta. Cetakan Ketiga: April 1997.

2. Episkop Timothy Ware (Penterjemah : Arkhimandrit Daniel Bambang PhD). Mari Mengenal Kekristenan Timur. Sejarah Gereja Orthodox. Satya Widya Graha. Jakarta. 2001.

3. From Wikipedia, the free encyclopedia. Rumi. List of Patriarchs of Babylon, List of Patriarchs of Constantinople.

4. Idries Shah. Kisah-Kisah Sufi. Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau. (terjemahan: Sapardi Djoko Damono). Penerbit: Pustaka Firdaus, Jakarta. 1984.

5. Rm. Arkhimandrit Daniel Bambang D. Byantoro. Seminar Gereja Orthodox Indonesia. “Masih Adakah Gereja Perjanjian Baru?”. Lampiran Listing of Ecumenical Patriarchs ofThe Great Church of Christ, Kepatriarkhan Konstantinopel, Istanbul, Turki. Libra Ball Room, Executive Club. Jakarta Hilton Hotel. 21/ 11/ 1997.

6. Dan lain-lain.

Jumat, 16 September 2011

MUKJIZAT PERTOBATAN DAN PANGGILAN RASUL PAULUS

oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

“Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya :”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku ?” Jawab Saulus :”Siapakah Engkau, Tuhan ?” KataNya :”Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorangpun juga. Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa, mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. (Kisah Para Rasul 9:4-8)

“Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku : :”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku ?” Jawab Saulus :”Siapakah Engkau, Tuhan ?” KataNya :”Akulah Yesus, orang Nazareth, yang kauaniaya itu. Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar……Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. (Kisah Para Rasul 22:7-11)

“Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara…” (Kisah Para Rasul 26:14)

I. Pertentanganpun dan Inkonsistensi dalam Kisah Pertobatan St. Paulus Sang Rasul?

Ada beberapa pertanyaan mengenai pertobatan Saulus dari Tarrsus [bhs. Ibrani: שאול התרסי‎ Ša’ul HaTarsi bhs. Yunani kuno: Σαούλ (Saul), Σαῦλος (Saulos)], yang kemudian dikenal sebagai Rasul Paulus dari Tarsus (bhs. Yunani kuno: Παῦλος (Paulos) (5 Masehi–67 Masehi), "rasul bagi bangsa-bangsa non-Yahudi" (kaum Goyim) (Roma 11:13) dari kutipan-kutipan ayat di atas yang bagi banyak orang sangat membingungkan. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

1. Mengapa dari kutipan-kutipan ayat Alkitab di atas, pengakuan Saulus tidak konsisten ? Pada Kisah Para Rasul 9:4-8, teman-teman Saulus mendengar suara Tuhan, tapi tidak melihat cahaya, sedangkan di Kisah Para Rasul 22:7-11, teman-teman Saulus melihat cahaya yang menyilaukan, tapi tidak mendengar.
2. Yang lebih membingungkan lagi, kalau teman-teman Saulus melihat cahaya itu (Kisah Para Rasul 22:7-11) seharusnya mereka juga tidak dapat melihat, tetapi mengapa mereka bisa menuntun Saulus ke Damsyik ?
3. Kemudian di Kisah Para Rasul 26:14 dikatakan semua rebah ke tanah jadi teman-teman Saulus termasuk Saulus rebah ke tanah, mengapa berita di ayat ini bertentangan dengan dua pasal sebelumnya yaitu Kisah Para Rasul 9:4-8 dan Kisah Para Rasul 22:7-11 ?

II. Teman-teman St. Paulus Sang Rasul Mendengar Suara (Yesus) Ketika Berada Dalam Perjalanan ke Damsyik?

Tidak ada suatu pertentanganpun dan inkonsistensi dalam ayat-ayat Kitab Suci (Alkitab), tetapi ini hanya menunjukkan tentang kurang memadainya makna perbendaharaan terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia dibanding dalam bahasa aslinya baik bahasa Yunani (Perjanjian Baru) dan Ibrani (Perjanjian Lama). Dalam ayat-ayat di ataspun tidak ada pertentangan sebagai dijelaskan di bawah:

Kontradiksi yang nyata muncul di antara laporan pertama mengenai pertobatan St. Paulus Rasul di Jalan menuju Damsyik (Kis. 9:7) dengan laporan kedua (Kis. 22:9) yaitu yang berkaitan dengan teman-teman seperjalanan Paulus. Apakah mereka mendengar ”Suara dari langit itu atau tidak?”. Kisah Para Rasul 9:7 menyatakan: ”Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu [ακουοντες μεν της φωνης ; akouontes men tês phônês], tetapi tidak melihat seorang jugapun”. Sebaliknya, dalam Kisah Para Rasul 22:9 kita diberitahu, ”Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar [την δε φωνην ουκ ηκουσαν ; tên de phônên ouk êkousan]”.

Meskipun demikian, dalam bahasa Yunani asli tidak terdapat pertentangan nyata antara dua pernyataan ini. Bahasa Yunani membedakan antara mendengar suara sebagai ”bunyi” (di mana kata kerja ”mendengar” berfungsi sebagai ”genitif” atau ”penunjuk sumber”), dengan mendengar suara sebagai ”berita atau pesan yang menyampaikan gagasan” (di mana kata kerja ”mendengar” berfungsi sebagai ”akusatif” atau ”menjadi penunjuk obyek”). Karena itu, ketika kita mengemukakan dua pernyataan ini bersama maka kita mendapati teman-teman seperjalanan St. Paulus mendengar ”Suara” tersebut sebagai suatu ”bunyi” (agak mirip dengan orang banyak yang mendengar suara Allah Sang Bapa yang berbicara kepada Sang Putera dalam Yohanes 12:28, namun menangkapnya hanya sebagai bunyi guntur); tetapi mereka tidak (seperti St.Paulus) mendengar pesan yang disampaikan. Rasul Paulus sendiri yang mendengarnya dengan jelas (Kis. 9:4 mengatakan Paulus êkousen phônên – kasus akusatif); walaupun tentu dia pada mulanya menerimanya sebagai bunyi yang mengejutkan (Kis. 22:7: ”Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara [êkousa phônên] yang berkata kepadaku ... ”). Tetapi, dalam kedua laporan itu tidak ada dinyatakan bahwa teman-temannya mendengar ”Suara” itu dalam pengertian kasus akusatif.

Jadi kata yang diterjemahkan ”suara” juga mempunyai dua arti: pertama, ”bunyi, nada”, dan yang kedua, ”suara”, yaitu ”bunyi kata-kata yang diucapkan” (Greek-English Lexicon of the New Testament karangan Thayer). Suara yang teman-teman Rasul Paulus dengar ialah bunyi; mereka tidak mendengar suara itu sebagai bunyi kata-kata yang diucapkan; mereka tidak mendengar beritanya.

Di sini terdapat terdapat suatu persamaan pelajaran antara ketidakmampuan untuk mendengar ”Suara” itu sebagai pesan yang disampaikan dengan ketidakmampuan untuk melihat kemuliaan Tuhan yang sudah bangkit, kecuali hanya sebagai cahaya yang menyilaukan. Kisah Para Rasul 22:9 mengatakan bahwa mereka melihat cahaya, tetapi Kisah Para Rasul 9:7 menjelaskan bahwa mereka tidak melihat ”Oknum/Pribadi” itu yang memperlihatkan DiriNya melalui cahaya itu. Ada analogi yang jelas antara tingkat-tingkat pemahaman yang berbeda dalam masing-masing kasus.

Mengenai perbedaan kasus secara teknis dalam bahasa Yunani, bdk. W.W. Goodwin dan C.B. Gulick, Greek Grammar [Boston: Ginn & Co., 1930], # 1130, mengatakan: “Genitif-partitif digunakan dengan kata-kata kerja yang berarti mencicipi, mencium (merasakan, bau), mendengar, memahami (merasakan, melihat) dsb”. – dengan contoh dari Aristophanes Pax: phônês akouein moi dokô – ”Saya rasa saya mendengar suatu suara”. Lihat juga # 1104: ”Kata-kata kerja mendengar, mengetahui dsb, bisa menunjukkan obyek dari hal yang didengar dsb (sebagai akusatif), juga bisa menunjukkan dari mana orang itu mendengar (sebagai genitif)”. Ini sangat mirip dengan pembedaan yang dibuat di atas, bahwa akusatif menunjukkan suara itu sebagai pesan atau gagasan yang disampaikan, bukan hanya sebagai bunyi yang bergetar di gendang telinga.

III. Adanya Hijab (Tabir) yang Menghalangi Penglihatan dan Pengenalan akan Yang Ilahi

Kalau teman-teman Saulus melihat cahaya itu seharusnya mereka juga tidak dapat melihat, tetapi mengapa mereka bisa menuntun Saulus ke Damsyik? Seperti dijelaskan di atas, teman-teman Paulus melihat cahaya walaupun tidak mampu untuk melihat kemuliaan Tuhan yang sudah bangkit, kecuali hanya sebagai cahaya yang menyilaukan. Kisah Para Rasul 22:9 mengatakan bahwa mereka melihat cahaya, tetapi Kisah Para Rasul 9:7 menjelaskan bahwa mereka tidak melihat ”Oknum/Pribadi” itu yang memperlihatkan DiriNya melalui cahaya itu.

Walaupun teman-teman Rasul Paulus melihat cahaya, mereka tidak mengalami kebutaan sehingga bisa menuntun Rasul Paulus. Sedang Rasul Paulus mengalami kebutaan karena kasih karunia/rahmat Allah sedang bekerja pada Rasul Paulus yang dipanggil secara khusus (cara panggilan yang tidak dialami oleh para Rasul lainnya) untuk melakukan karya kerasulan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi (kaum Goyim) melalui peristiwa ini. Dalam hal ini para teman Rasul Paulus memang tidak terpanggil untuk mengemban tugas panggilan khusus seperti Sang Rasul ini, karena itu mereka tidak mengalami problem kebutaan dan mendengar suara sebagai ”berita atau pesan yang menyampaikan gagasan” seperti yang dialami Sang Rasul, walaupun mereka melihat cahaya yang sama. Disebut panggilan khusus sebab Yesus menyatakan DiriNya secara langsung setelah kebangkitanNya kepada Paulus yang sedang dalam perjalanan untuk menganiaya umat Kristen. Inilah sebabnya Rasul Paulus mengatakan panggilan oleh kasih karuniaNya (Gal. 1:15).

Walaupun berupa suara, kasus ini serupa dengan kisah Perjumpaan Kristus yang telah bangkit dengan dua murid di jalan ke Emaus (Luk. 24:13-35). Dalam Lukas 24:16, dikatakan: ”Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” (”But their eyes were holden, that they should not know Him”; “But their eyes were held so as not to recognize Him”)
[οι (hoi; the) δε (de; yet) οφθαλμοι (ophthalmoi; viewer; eyes) αυτων (autOn; of them) εκρατουντο (ekratounto; were held) του (tou; of the) μη (me; no) επιγνωναι (epignOnai; to on know; to recognize) αυτον (auton; Him)].

Kemudian dalam Lukas 24:31 terjadilah peristiwa: ”Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia” (“And their eyes were opened, and they knew Him”)
[Αυτων (autOn; of them) δε(de; yet) διηνοιχθησαν (dii̱noichthi̱san; were thru up opened; were opened up) οι (hoi; the) οφθαλμοι (ophthalmoi; viewer; eyes) και (kai; and) επεγνωσαν (epegno̱san; they on know; they recognize) αυτον (auton; Him)].

“Terbukalah mata mereka” dalam Lukas 24:31 ini implikasinya mata mereka tadinya tertutup. Tertutupnya mata ini dalam ilmu tasawuf Islam dikenal sebagai ”hijab (tabir)”, yaitu tertutupnya mata batin. Itu adalah istilah yang digunakan dalam Sufisme (Ilmu sufuk (tasawuf) dalam kebatinan Islam; sufi : ahli tasawuf, pengikut kebatinan Islam.). Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.

Hijab (bahasa Arab: حجاب ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hijab memiliki arti 1.) dinding yg membatasi sesuatu dng yg lain: 2.) dinding yg membatasi hati manusia dan Allah. Dalam cerita-cerita tentang penampakan yang disajikan Lukas dan Yohanes para murid mula-mula tidak mengenal Tuhan, tetapi baru mengenaliNya setelah Yesus berkata-kata atau memberi tanda (Luk 24:30 dst., Luk 24:35,37 dan Luk 24:39-43; Yoh 20:14,16,20; Yoh 21:4,6-7; bdk Mat 28:17). Sehingga bisa dikatakan disini bahwa “…sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Yesus Kristus Dia (Lukas 24:16) adalah hijab, yaitu tertutupnya mata batin yang kemudian “terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Yesus (Lukas 24:31).

Dalam teologi Orthodox, ”hijab (tabir)” yang menutupi mata hati manusia dari kebenaran Injil (berita keselamatan) itu adalah diakibatkan dosa. Karena itu ”hijab (tabir)” yaitu ”sesuatu yang menghalangi” inilah yang membuat orang tertutup dan sulit menerima kebenaran iman Kristen Apostolik (Rasuliyah) walaupun sudah dijelaskan secara jelas dan gamblang. Tetapi ketika para murid itu menerima Ekaristi Kudus (Perjamuan Kudus), dikatakan: ”Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, ...” (Luk. 24:31). Ini bisa terjadi karena kasih karunia/rahmat Roh Kudus yang menerangi mata batin saja sehingga orang bisa menerima/melihat Dia yang sudah bangkit, yaitu Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

IV. Kisah Para Rasul 26:14 versus Kisah Para Rasul 9:4-8 dan Kisah Para Rasul 22:7-11?

Kemudian di Kisah Para Rasul 26:14 dikatakan semua rebah ke tanah jadi teman-teman Saulus termasuk Saulus rebah ke tanah, mengapa berita di ayat ini bertentangan dengan dua pasal sebelumnya yaitu Kisah Para Rasul 26:14

Ini adalah gaya peredaksian tabib Lukas ketika menulis Kitab Kisah Para Rasul 26:14. Tidak dituliskannya bahwa teman-teman Saulus rebah ke tanah dalam Kis. 9:4-8 dan Kis. 22:7-11 tidak berarti kedua bab/pasal ini bertentangan dengan bab/pasal 26:14 ini. Sebab jika St. Paulus Rasul pada mulanya terkejut ketika mendengar bunyi ini sehingga rebah ke tanah (Kis. 22:7), maka sangatlah mungkin teman-teman Rasul Paulus juga terkejut dan rebah ke tanah. Tetapi hal jatuh-rebahnya teman-teman Paulus ini sekali lagi bukan menjadi fokus-penekanan pesan-penulisan tabib Lukas tetapi Lukas menulis untuk menekankan Pertobatan Paulus, Kesaksian Pertobatan dan Panggilan Paulus pada orang Yahudi, dan Pembelaan Paulus dihadapan Agripa sesuai judul perikop bab-bab/pasal-pasal ini, sehingga hal rebahnya teman-teman Paulus ini tidak perlu dituliskan. Ini dapat dibandingkan dengan Yohanes 21:25, ”Masih banyak hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu-persatu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu”.

Oleh Terang Allah Sang Tritunggal Maha Kudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, semoga jawaban-jawaban ini dapat memberikan pencerahan bagi saudara-saudara. Amin!

Referensi

1. Gleason L. Archer. Encyclopedia of Bible Difficulties. Foreword by Kenneth S. Kantzer. The Zondervan Corporation. 1982.

2. R.A. Torrey. Jawaban Bagi Keraguan Anda. (Difficulties in the Bible. The Moody Bible Institute of Chicago). Yayasan Kalam Hidup. Bandung 40112.

3. From Wikipedia, the free encyclopedia.

4. Dan lain-lain.