Senin, 07 September 2009

PARA IMAM ORTHODOX YURISDIKSI MOSKOW


Ini adalah para Imam Orthodox yurisdiksi Moskow di Indonesia

Kamis, 03 September 2009

LITURGI SUCI ORTHODOX DI SURABAYA



Liturgi Ekaristi Dalam Gereja Orthodox

Kata Liturgi berarti “Bekerja” atau “Karya Umum”. Liturgi Suci adalah karya umum dari Gereja Orthodox, Karya resmi dari Gereja yang secara formal berkumpul sebagai umat pilihan Allah. Kata Gereja atau Eklessia berarti kumpulan atau synaxis dari orang-orang pilihan yang dipanggil keluar guna "melaksanakan" sebuah tugas panggilan tertentu.

Liturgi adalah karya umum dari orang Kristen Orthodox yang secara resmi berkumpul seraya membentuk Gereja Orthodox, dan juga sebuah aksi karya Gereja yang dikumpulkan oleh Allah guna menjadi satu di dalam satu komunitas penyembahan kepada Allah. Komunitas ini berkumpul menyembah, bernyanyi dan mendengar pewartaan Kabar Gembira dari Sabda Allah serta diajar dan diinstruksikan di dalam moral serta etika Kristen dalam semangat pertobatan dan mati raga. Ekaristi adalah sentral kehidupan Gereja, Gereja Kristus haruslah bersifat Ekaristis dan kehidupan yang ber-Ekaristi ini haruslah berinkarnasi dalam kehidupan sehari hari kita. Sebagaimana Kristus telah menjadi roti yang terpecah bagi kita, hendaknya hidup kita menjadi sebuah silih dan terbagi, bagi sesama kita, baik umat yang beriman dan yang belum beriman. Liturgi Ekaristi Suci wajib dilakukan pada Hari Tuhan yaitu Hari Minggu yang adalah Hari Kebangkitan, Hari setelah Hari Sabat (hari kedelapan) yang secara simbolis biblis adalah hari pertama dari penciptaan dan hari yang terakhir, atau yang dalam tradisi para Bapa Gereja disebut sebagai Hari Kedelapan dari Kerajaan Allah. Hari inilah Hari Kebangkitan Kristus dari kematian, Hari Penghakiman dan Kemenangan Ilahi yang telah dinubuatkan oleh para nabi, Hari Tuhan yang menetapkan kehadiran serta kuasa dari Kerajaan yang akan datang.

Liturgi Ekaristi Suci khususnya di dalam biara-biara Orthodox dan Katedral di mana Uskup berada, biasanya dirayakan setiap hari dan khususnya di hari-hari raya perayaan Gereja. Liturgi tidak diadakan pada hari-hari biasa di masa Pra-Paskah, dikarenakan Liturgi Suci selalu bersifat Paskah di dalam karakternya. Liturgi yang digunakan adalah Liturgi St. Gregorius yang adalah Liturgi tanpa konsekrasi, dikarenakan menggunakan Roti Ekaristi (Tubuh Kristus) yang dikonsekrasi di hari minggu pada masa tersebut.

Dalam Liturgi Suci semua umat Orthodox diundang untuk makan sehidangan dengan semua para suci, malaikat dengan seluruh jenjangnya, makan sehidangan dengan Sang Tritunggal Mahakudus serta Sang Theotokos Maria Bunda Allah. Siapa saja yang boleh turut ambil bagian dalam Ekaristi Suci ini? Adalah mereka yang telah diterima secara penuh di dalam Tubuh Kristus yaitu melalui Sakramen Pemandian (Baptisan) serta Sakramen Krisma Suci di dalam Gereja Orthodox. Hal ini berarti mereka walaupun kanak-kanak yang sudah menerima Baptisan dan Krisma diijinkan menerima Tubuh dan Darah Kristus yang mulia, inilah ekspresi ibadat tradisional dari Gereja Orthodox.

Oleh karena karakter umum dari Liturgi Suci ini maka Liturgi Suci tidak boleh dirayakan secara pribadi yang dimaksud disini Imam hanya merayakannya sendirian tanpa dihadiri oleh umat, dan tidak boleh untuk intensi-intensi pribadi dari umat. Liturgi adalah Karya Gereja bukan pribadi. Liturgi Suci tidak boleh dirayakan hanya bagi sebagian umat secara eksklusif tetapi harus bagi seluruh umat. Memang ada mungkin petisi-petisi khusus dalam litani bagi mereka yang sakit atau mereka yang sudah meninggal atau mereka yang membutuhkan bantuan khusus dan kekuatan doa, tetapi tidak ada Liturgi Suci yang dilakukan secara eksklusif bagi kepentingan individu secara pribadi.

Dikarenakan Liturgi Suci diadakan tanpa maksud lain selain menjadi doa teragung, penyembahan, pengajaran serta komunio secara umum bagi Gereja secara utuh di bumi dan di surga maka Liturgi Suci tidak boleh diangap hanya sekedar devosi yang teragung dan tertinggi. Liturgi Suci bukanlah sebuah devosi pribadi dan juga bukan hanya sekedar kebaktian doa pujian penyembahan dan bukan juga sekedar salah satu dari Sakramen Gereja. Liturgi Suci adalah Sakramen Kehidupan dari Gereja itu sendiri; manifestasi dari hakekat Gereja sebagai komunitas dari Allah di surga dan di bumi; sebuah pewahyuan yang unik dari Gereja sebagai Tubuh dan Mempelai Kristus.

Sebagai pusat karya mistika dari Gereja secara sepenuh dan utuh, maka Liturgi Suci selalu mempunyai semangat di dalam Kebangkitan Kristus. Liturgi Suci adalah manifestasi dari Kristus yang telah bangkit kepada umatNya. Liturgi Suci adalah pencurahan rahmat kasih setia karunia Roh Allah. Liturgi Suci adalah sebuah komunio yang sangat intim dengan Sang Bapa. Oleh karenanya di dalam Liturgi seluruh doa ditujukan kepada Sang Bapa yang telah memperanakkan Sang Sabda yang berinkarnasi menjadi manusia Yesus Kristus melalui Sang Theotokos dan yang selalu Perawan, Dia yang disalibkan, dikuburkan, bangkit, naik ke surga serta akan datang lagi untuk menghakimi semua manusia, Dia inilah yang yang diperanakkan oleh Sang Bapa sebelum segala zaman, Dia yang memberikan kehidupan, kebangkitan serta pengilahian kepada umat percaya melalui Sakramen Ekaristi yang dirayakan melalui Liturgi Suci ini. Liturgi Suci tidak pernah dirayakan dalam sifat pertobatan serta penyesalan dan tidak pernah dirayakan di dalam semangat kemuraman serta di dalam ekspresi kematian dari dunia ini. Liturgi Suci selalu dirayakan di dalam ekspresi serta pengalaman akan kehidupan kekal dari Kerajaan Sang Tritunggal Mahakudus yang terberkati.

Liturgi Suci yang dirayakan oleh Gereja Orthodox adalah Liturgi Suci St. Yohanes Krisostomos dan Liturgi Suci St. Basilius Agung yang dirayakan sepuluh kali dalam satu tahun, tahun penanggalan Gereja tentunya. Kedua liturgi ini berkembang sampai kepada bentuknya yang sekarang di abad ke-sembilan, tetapi Doa Ekaristi serta Anaphora dari kedua liturgi ini telah terformulasikan dalam Liturgi Suci pertama sejak abad ke-empat dan abad ke-lima oleh St. Yohanes Krisostomos dan St. Basilius Agung. Kiranya berkat dan rahmat Allah boleh turun atas kita semua.

Gereja Orthodox Surabaya, Parokia St Jonah dari Manchuria setiap minggu pagi mengadakan Liturgi Suci sederhana pada pukul 09.00 pagi yang dipimpin Presbyter Kyrillos J.S.L
Jika anda para pembaca ingin datang dan mengikuti Liturgi Suci, dapat menghubungi no hp 081931619599(TLP/SMS). Allah Tritunggal Mahakudus memberkati.

ASMAUL HUSNA dalam GAMBARAN ALKITAB DAN QURAN




ASMAUL HUSNA

Thaahaa: 8

Dialah Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai nama-nama yang baik(al-asmaaul husna).

Mazmur 52 : 9

Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!



ALLAH

Huud: 2

agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya,

Markus 12 : 29

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.



Ar-Rahman (Maha Kasih)

An Nahl: 7

Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri.Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha pengasih lagi Maha Penyayang.

Yakobus 5 : 11

Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.



Ar-Rahiim (Maha Penyayang)

An Nahl: 7

Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri.Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha pengasih lagi Maha Penyayang.

Yakobus 5 : 11

Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang danpenuh belas kasihan.



Al-Malik (Maha Raja)

Al Baqarah: 107

Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.

Matius 6 : 13

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.



Al-Quddus (Maha Kudus / Suci)

Al Baqarah: 32

Mereka menjawab:”Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Lukas 1 : 49

karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.



As-Saalam (Maha Pemberi Kesejahteraan / Salam)

Al Hasyr: 23

Dia-lah Allah Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan,Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Roma 15 : 33

Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin.



Al-Mu’min (Maha Pelindung)

Al Baqarah: 257

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya.

Wahyu 3 : 10

Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.



Al-Muhaimin (Maha Pemelihara)

An Nisaa’: 132

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai pemelihara.

2 Tesalonika 3 : 3

Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.



Al-Aziiz (Maha Kuasa / Gagah)

Al Baqarah: 148

Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu.

Matius 6 : 13

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.



Al Jabbar (Maha Berkehendak)

Al Baqarah: 29

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Matius 6 : 10

datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.



Al Mutaakabbir (Maha Megah / Besar)

Al Hajj: 62

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi maha besar

Mazmur 94 : 4

Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.



Al Khaliq (Maha Pencipta)

Al Baqarah: 117

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya:”Jadilah”. Lalu jadilah ia.

Kejadian 14 : 19

Lalu ia memberkati Abram, katanya: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi,



Al Baari (Maha Pembuat)

Al An’aam: 62

Kemudan mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.

Ayub 36 : 3

Aku akan meraih pengetahuanku dari jauh dan membenarkan Pembuatku;



Al Mushawwir (Maha Pembentuk)

At Taghaabun: 3

Dia mencipatkan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kembali(mu).

Mazmur 119 : 73

Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu.



Al Ghaffaar (Maha Pengampun)

Al Baqarah: 218

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.

Markus 1 : 4

demikianlah Yohanes Pembabtis (Yahya) tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”



Al Qahhaar (Maha Perkasa)

Al Baqarah: 220

tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah:”Mengurus urusan merreka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ayub 36 : 5

Ketahuilah, Allah itu perkasa, namun tidak memandang hina apapun, Ia perkasa dalam kekuatan akal budi.



Al Wahhab (Maha Pemberi)

Ali ‘Imran: 8

(Mereka berdo’a):”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”

Matius 9 : 8

Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.



Ar Razzaq (Maha Memberi Rezeki)

Al Anfaal: 3

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka.

Matius 6 : 11

Berikanlah kami pada hari ini rejeki untuk kami yang secukupnya.



Al Fattaah (Maha Pembuka Hati)

Al Maaidah: 7

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan :”Kami dengar dan kami ta’ati”. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati(mu).

Kisah Para Rasul 16 : 14

Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.



Al `Aliim (Maha Mengetahui)

Al Baqarah: 29

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu

Matius 6 : 8

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.



AL Qaabidh (Maha Pengatur Segala Sesuatu)

Yuunus: 3

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran

Keluaran 15 : 25

Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,

Ada Ratusan nama ALLAH dalam DUA keyakinan yang berbeda namun memiliki ALLAH yang sama.

TERPUJILAH ENGKAU ALLAH ABRAHAM, ALLAH ISHAK, ALLAH YAKUB.

DIDEDIKASIKAN demi tercipta damai dalam PERSATUAN Anak cucu ABRAHAM (IBRAHIM)

(DIKUTIP DARI cadet737.blog.friendster.com)

Rabu, 02 September 2009

INJIL ADALAH KABAR GEMBIRA TENTANG ISA AL MASIH



Sering kali kita orang Kristen mendengar bahwa "kitab Injil diturunkan oleh Alloh, dan diberikan kepada Isa putra Maryam"
Benarkah Injil diturunkan seperti konsep agama Islam???
Dalam terang ajaran Kitab Suci Perjanjian Baru, Injil bukanlah kitab seperti apa yang dikatakan menurut kacamata Islam. Injil berasal dari bahasa arab yang berarti Kabar Gembira (“Evanggelion”, “Evanggel”, “Injil”). Allah berfirman pada akhir zaman kepada umat manusia melalui Yesus. Yesus bukanlah seorang nabi biasa yang diberikan kitab Injil, melainkan adalah Firman Allah yang keluar dari Allah dan diturunkan(nuzul) ke dalam rahim Perawan Maryam melalui kuasa Roh Kudus(dalam ajaran Kristen, Roh Kudus bukan malaikat Jibril/Gabriel seperti dalam ajaran Islam, melainkan Roh Allah sendiri). Seperti dalam ajaran Islam, Alloh berfirman kepada bangsa Arab melalui Al Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Jadi disini Yesus adalah FIRMAN ALLAH(KALIMATULLAH/KALAMULLAH) yang mempunyai hubungan pararel dengan AlQuran dalam Islam. Disini Yesus memberitakan KERAJAAN ALLAH kepada semua manusia, dan yang diberitakan Yesus adalah KABAR GEMBIRA(INJIL)tentang Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia itu sendiri, bukan Yesus berdakwah membawa kitab Injil. Karena FIRMAN ALLAH diturunkan dalam bentuk manusia(Yesus) maka KABAR GEMBIRA (INJIL) yang diberitakan Yesus tidak menggunakan satu bahasa yang terikat(misal bahasa Aram. Arab, Yunani, dsb), seperti Al Quran yang terikat bahasa Arab. Kenapa Al Quran ditulis dengan bahasa Arab dan tidak boleh diganti karena Al Quran diturunkan berbentuk kitab(buku) yang bersifat paten, sehingga tidak boleh dirubah. Injil Kristen, bukanlah kitab(buku) melainkan KABAR GEMBIRA yang disampaikan dari mulut ke mulut, itu sebabnya INJIL Kristen boleh diterjemahkan dalam berbagai bahasa karena sifatnya TIDAK TERIKAT seperti Al Quran. Injil baru ditulis oleh Para Rasul Yesus setelah kebangkitan Yesus, dan di kanonkan(diresmikan) pada abad ke 3 dalam konsili Kartago. INJIL bukanlah kitab, melainkan KABAR GEMBIRA yang dibawa oleh Yesus Kristus. Amin.

Jumat, 28 Agustus 2009

ROMA PERTAMA (ROMA LAMA), ROMA KEDUA (ROMA BARU), ROMA KETIGA (MOSKOW); KEDUDUKAN DAN KEKUASAAN PAUS ROMA MENURUT GEREJA ORTHODOX TIMUR





Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

I. ROMA PERTAMA (ROMA LAMA), ROMA KEDUA (ROMA BARU), ROMA KETIGA (MOSKOW)

Dalam Konsili Nikea I tahun 325 ditetapkan sebagai “Hukum Kanon” bahwa ”Gereja Roma itu menjadi yang utama untuk seluruh Gereja Barat di Eropa Barat” (bukan untuk seluruh Gereja di dunia pada masa itu), Gereja Alexandria untuk seluruh Afrika, dan Gereja Antiokhia untuk Syria dan seluruh daerah Timur, jadi termasuk Gereja di Persia dan India (Kanon 6), dan keluhuran Gereja Yerusalem sebagai asal-usul munculnya Iman Kristen diakui (Kanon 7).
Sedangkan dalam Konsili Nikea II tahun 381 di Konstantinopel suatu Hukum Kanon ditegaskan bahwa: ”Episkop1 Konstantinopel akan memiliki prerogatif kehormatan sesudah Episkop di Roma, karena Konstantinopel adalah Roma Baru” ( Kanon 3). Gereja Purba sejak dari awal menghormati Paus Roma dalam hal keutamaan dalam kehormatan, bukan dalam hal kepenguasaan secara hukum. Hakekat keutamaan tersebut dalam bahasa Latin disebut: “Primus Inter Pares” yang artinya “Yang terutama di antara yang sederajat”. Masing-masing pusat Kekristen yang berjumlah lima (Pentarkhi) ini dipimpin oleh Episkop yang bergelar Paus, dari kata Pappas = Bapak (terutama Roma dan Alexandria) atau Patriarkh, dari kata Pater =Bapak, Arkhi = Pemimpin. Segi kontroversial dari karya Konsili terletak pada kanonnya yang ke-3, yang membuat jengkel baik Roma maupun Alexandria. Roma yang lama bertanya-tanya sampai dimana pernyataan diri Roma yang baru ini akan berhenti; apakah tidak mungkin tak lama kemudian Konstantinopel akan menyatakan diri dalam tempat pertama? Oleh karena itu Roma memilih untuk mengabaikan kanon itu, dan hanya sampai pada saat Konsili Umum Lateran IV2 (1215) sajalah secara resmi Sri Paus mengakui pernyataan diri Konstantinopel pada tempat yang kedua (Pada waktu itu Konstantinopel berada di bawah kekuasaan penjajahan tentara perang salib dan berada di bawah pemerintahan Patriarkh Latin – boneka Sri Paus, karena kaisar aslinya dikalahkan perajurit Perang Salib ini dan Patriarkhnya yang sah sedang dalam pelarian bersama Kaisar). Namun kanon ini juga sama-sama menjadi tantangan bagi Alexandria, yang sampai pada saat itu telah menempati tempat pertama di wilayah Timur. Kanon tentang Konstantinopel ini nantinya menjadi suatu persaingan kedudukan antara Gereja Alexandria yang tadinya berada di tingkat kedua sesudah Roma, dan sekarang Konstantinopel sebagai Ibukota Kerajaan yang baru harus menduduki tempat itu.
Konsili Ekumenis yang Ketiga (431) di Efesus dan yang Keempat (451) ini menetapkan beberapa Kanon yang bersifat disipliner dan bersifat praktis. Dalam Konsili Ketiga di Efesus, ”ada larangan membuat Pengakuan Iman yang lain”, atau mengarang “Pengakuan Iman Yang Berbeda” (Kanon 7) dari apa yang sudah dirumuskan dalam Konsili I dan Konsili II. Kanon ini digunakan sebagai dasar bagi menentang penambahan atas Pengakuan Iman Nikea oleh Gereja Barat dengan kata “Et Filioque” (“dan Sang Putra”)3 ketika berbicara tentang Roh Kudus. Menurut aslinya Roh Kudus itu keluar dari “Sang Bapa” (Yoh. 15:26): ”Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, ...”, tetapi menurut tambahan filioque dari Gereja Barat ini, Roh Kudus itu keluar dari “Sang Bapa dan Sang Putra”.
Konsili Ekumenis Keempat di Kalsedonia tahun 451, memberikan Konstantinopel Ibukota yang baru atau Roma Baru itu “kehormatan-kehormatan yang sejajar dengan ibukota Roma yang lama”, karena ibukota yang baru itu dihormati dengan adanya “kaisar dan senat” (Kanon 28). Kanon ke-28 dari Kalsedonia ini meneguhkan kanon ke-3 dari Konstantinopel, dengan menetapkan Roma Baru sebagai tempat kehormatan berikutnya sesudah Roma Lama. Paus St. Leo Agung atau St. Leo I (Agung) dari Tuscany (440-461), Paus Roma menyangkal kanon ini, namun Gereja Timur sejak saat itu telah mengakui keabsahannya. Konsili ini juga membebaskan Yerusalem dari wilayah hukum Kaisarea dan memberikannya tempat kelima di antara takhta-takhta agung keepiskopan. Sistem yang kemudian dikenal di antara umat Orthodox sebagai Pentarkhi (Lima Pusat, Lima Pemimpin) sekarang sudah lengkap, dimana lima takhta agung Keepiskopan di dalam Gereja diperlakukan dengan penghormatan khusus, dan suatu urutan jenjang yang mapan ditegakkandi antara mereka menurut jenjangnya: Roma, Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia, Yerusalem. Kelima-limanya menyatakan diri memiliki landasan Rasuliah. Empat pusat yang pertama itu adalah kota-kota penting di Kekaisaran Romawi, yang kelima itu ditambahkan karena di sana itu tempat Kristus telah menderita di atas Salib dan bangkit dari antara orang mati. Episkop dari masing-masing kota ini bergelar Patriarkh. Lima Patriarkhat itu di antara mereka dibagi dalam wilayah kekuasaan hukum dari dunia yang dikenal saat itu, terlepas dari Siprus, yang dikaruniai kemandirian atau status autokefalous (berkepala-sendiri; swa-kepala; swa-pemerintahan) oleh Konsili Efesus dan tetap tinggal sebagai Gereja yang swa-pemerintahan sejak saat itu. Pada saat ini kita menyaksikan kemunduran di Gereja Barat dengan jatuhnya Roma ke tangan bangsa Barbarian. Masuknya Gereja Barat pada zaman ini ke dalam apa yang disebut “Zaman Abad-abad Kegelapan”4 sangat cepat terjadi setelah meninggalnya St. Agustinus, Episkop dari Hippo (354 - 430). Sementara itu Gereja Timur masih sedang dalam zaman keemasan dan kejayaannya karena sejarah mencatat di Gereja Timur tidak pernah terjadi “Zaman Kegelapan”.
Gereja Konstantinopel pada saat abad ke 6 ini sudah menggunakan praktek-praktek liturgis yang telah dilakukan di Palestina dan Syria. Praktek Ibadah Gereja Konstantinopel saat ini, digabung dengan Ibadah Kristen Yahudi dari abad-abad awal Kekristenan, serta sholat-sholat tujuh waktu yang telah berkembang di biara-biara, dan praktek-praktek Liturgis di Yerusalem untuk membentuk suatu synthesis agung pertama kali dari ibadah Liturgis Gereja Orthodox. Sehingga biarpun Gereja Orthodox itu disebut sebagai Gereja Orthodox “Yunani”, namun ibadahnya dan aqidahnya adalah ibadah dan aqidah “Semitik” dari ujung kaki sampai ujung rambut. Di dalam pikiran orang-orang Kristen Timur pada abad keenam ini, Konstantinopel adalah Takhta Ke-Episkop-an yang pertama dalam “Sistim Pentarkhi”, yaitu: pertama Konstantinopel, sesudah itu baru Roma, Aleksandria, Antiokhia dan Yerusalem. Sejak saat itu Patriarkh Konstantinopel memakai gelar “Patriarkh Ekumenis” yang tentu saja seperti yang dapat diduga Episkop Romalah yang menentang akan hal ini, terutama Paus Roma St. Gregorius I - St. Gregorius Agung (3 September 590 – 12 Maret 604; orang Romawi), dikenal juga sebagai St. Gregorius Dialogis, yang mengkompilasi ‘Liturgi Pra-Sidikara” (”Pre-Santcified”), yang tetap digunakan Gereja Orthodox sampai sekarang pada saat Puasa Catur Dasa, namun yang tak dikenal lagi oleh Gereja Roma Katolik. Sebagai protes terhadap ambisi yang semakin besar dari para Patriarkh Konstantinopel yang menyebut diri mereka “Patriarkh Ekumenis”, Gregorius menyebut dirinya “Servus servorum Dei” (“Hamba dari para hamba Allah”)5, yang masih dipakai oleh para paus sampai sekarang.
Serangan pasukan Turki yang terus menerus, serta bantuan Gereja Barat yang selalu diharapkan namun tak pernah terbukti itu, akhirnya dampaknya tak dapat dibendung lagi. Di bawah pimpinan Sultan Muhammad II6, pada tanggal 29 Mei 1453, pasukan Turki Muslim berhasil menyerbu Konstantinopel dan menjebolnya. Konstantinopelpun jatuh ke tangan Turki, dan ini menandai runtuhnya Kekaisaran Byzantium. Dan Muhammad II merebut kota itu serta menamakannya “Istanbul” sampai saat ini. Gereja Haghia Sophia (Aya Sofia)7 dijadikan Mesjid. Berturut-turut Serbia pada tahun 1459, Yunani pada tahun 1459-60, Bosnia pada tahun 1463 (dimana banyak kaum “Bogomil”8 yang keluar dari Gereja itu akhirnya menjadi Muslim), dan akhirnya Mesir pada tahun 1517, jatuh ke tangan Turki. Selama 400 tahun sesudah itu bangsa Turki Muslim menjajah ummat Kristen Orthodox di seluruh bekas wilayah Kerajaan Byzantium. Inilah masa yang terkenal dalam sejarah Gereja Orthodox sebagai masa "Turkokratia" atau masa “Kekuasan Penjajahan Turki”.
Dengan jatuhnya Byzantium ke tangan kaum Muslimin Ottoman dibawah pimpinan Sultan Muhammad II pada tanggal 29 Mei 1453, dengan demikian jatuhnya Konstantinopel juga, benih terbentuknya kekaisaran Rusia mulai berakar di Moskow. Ivan III Yang Agung9 (1462-1505), Pangeran dari Moskow, dapat mengalahkan Rusia Utara dan menyatukan dengan daerah Rusia lainnya. Dia menikah dengan puteri Sophia Paleologos, kemenakan perempuan dari Kaisar Byzantium yang terakhir pada tahun 1472. Meskipun Sophia Paleologos mempunyai saudara-saudara dan meskipun dia bukan ahli waris yang sah dari takhta kerajaan Byzantium, pernikahan itu berfungsi untuk menegakkan suatu kaitan dinasti dengan Byzantium. Sang Pangeran dari Moskow menerima gelar dari Byzantium sebagai ”Autokratos” atau ”Tsar” (suatu penyesuaian dari gelar pemerintahan Romawi “Kaisar” dalam bentuk bahasa Slavia) dan mengambil alih lambang negara Burung Elang Berkepala Dua10 dari Byzantium, serta menyebut Moskow sebagai ”Roma Ketiga”, sebagaimana Konstantinopel disebut sebagai ”Roma Kedua” (”Roma Baru”). Orang mulai berpikir dan berargumentasi bahwa Roma yang pertama telah jatuh kepada orang-orang barbarian, dan kemudian tercebur ke dalam bidat. Roma kedua, Konstantinopel, sebaliknya telah jatuh kepada bidat pada Konsili Florence11, dan sebagai hukumannya telah direbut oleh Bangsa Turki. Oleh karenanya Moskow telah menggantikan Konstantinopel sebagai Roma ketiga dan yang terakhir, pusat dunia Kristen Orthodox. Rahib Filotheus dari Pskov atau Filofei (bahasa Rusia: Филофей, 1465 - 1542), seorang hegumen12 dari monasteri Yelizarov di Pskov membentangkan garis argumentasi ini alam suatu surat yang terkenal yang ditulis tahun 1510 kepada Tsar Basil III , Ivanovich (1479-1533):

Saya berhasrat menambahkan sedikit kata mengenai Kekaisaran Orthodox dari penguaa kita pada masa kini: dia di atas bumi sebagai satu-satunya Kaisar dari orang-orang Kristen, pemimpin dari Gereja Rasuliah yang tidak lagi berdiri di Roma atau di Konstantinopel, tetapi di kota Moskow yang terberkati ini, kota inilah satu-satunya yang bersinar di seluruh dunia lebih terang daripada matahari ... semua kekaisaran Kristen telah jatuh dan sebagai ganti mereka berdirilah satu-satunya kekaisaran pemimpin kita sesuai dengan kitab para Nabi. Dua Roma telah jatuh, tetapi yang ketiga sedang berdiri dan yang keempat tidak mungkin akan ada lagi.

Ide tentang Moskow sebagai Roma ketiga ini mempunyai suatu kelayakan tertentu apabila diterapkan kepada Tsar: Kaisar Byzantium dulu pernah bertindak sebagai pembela dan pelindung iman Orthodox, dan sekarang autokratos dari Rusia dipanggil untuk melaksanakan tugas yang sama. Namun demikian penerapannya dalam lingkup agamawi, itu jauh lebih terbatas, karena kepala dari Gereja Rusia tak pernah menggantikan Patriarkhat Konstantinopel , tetapi selalu diletakkan pada peringkat tidak lebih tinggi daripada yang ke-5 di antara Gereja-Gereja Orthodox, sesudah Patriarkhat Yerusalem.
Gelar-gelar ”Roma Kedua” (”Roma Baru”) untuk Konstantinopel dan ”Roma Ketiga” untuk Moskow adalah untuk menunjukkan bahwa Kerajaan-kerajaan Kristen Orthodox boleh runtuh bahkan hilang (Romawi Barat sebagai Roma lama yang pertama, memasuki zaman abad kegelapan), Konstantinopel (Kerajaan Byzantium) sebagai Roma baru (Roma kedua) jatuh kedalam tangan Muslim Turki, tapi iman Orthodox tidak pernah musnah, runtuh dan jatuh, sebab selalu ada yang menggantikannya dan menerus-lanjutkan iman Orthodox yang berdasarkan dan merupakan kesinambungan tanpa putus dari Rasuliah, yaitu iman Para Rasul Kristus itu sendiri. Inilah Roma ketiga yaitu Moskow. Dan ini dipercaya adalah karena penyelenggaraan Allah sendiri.
Kanon-kanon hukum Gereja di atas disetujui dan ditetapkan dalam Konsili Ekumenis, yg berarti semua Gereja yang hadir (termasuk Gereja Barat Roma) pasti ikut meratifikasi (mensahkan), walaupun dikemudian hari dilanggar sendiri oleh Gereja Barat.

II. KEDUDUKAN DAN KEKUASAAN PAUS ROMA MENURUT GEREJA ORTHODOX TIMUR

Apabila berbicara mengenai pemahaman Gereja Orthodox akan Pentarkhi itu ada dua kemungkinan salah-faham yang harus dihindari. Pertama, sistem para Patriarkh dan para Metropolitan adalah masalah organisasi gerejawi (yaitu masalah susunan administrasi organisasi, bukan masalah doktrin). Namun jika melihat Gereja dari titik pandang bukan aturan gerejawi namun dari hak Ilahi (yaitu masalah doktrinal dari jenjang jabatan hirarkhi itu), maka harus mengatakan bahwa semua Episkop itu secara hakiki sederajat, meski kecil atau besar macam apapun kota dimana ia menjadi pemimpin. Semua Episkop ikut ambil bagian secara sama-rata dalam pengganti-lanjutan (suksesi) rasuliah (successio apostolica)13, semua memiliki kuasa-kuasa sakramental yang sama, semua adalah pengajar-pengajar iman yang ditunjuk secara Ilahi. Jika muncul suatu perbantahan masalah doktrin, tidak cukup para Patriarkh itu mengekspresikan pendapat mereka sendiri: setiap Episkop dari wilayah-keepiskopan (diosis) mempunyai hak untuk mengahadiri suatu Konsili Umum, untuk berbicara, dan untuk memberikan suaranya (voting). Sistem Pentarkhi ini tidak merusak kesejajaran secara hakiki dari para Episkop.
Yang kedua, umat Orthodox percaya bahwa di antara lima Patriarkh itu suatu tempat khusus dimiliki oleh sri Paus dari Roma. Gereja Orthodox tidak menerima doktrin kekuasaan Paus yang dicanangkan dalam ketetapan-ketetapan dari Konsili Vatikan I tahun 1870, serta yang kini diajarkan dalam Gereja Roma Katolik; namun pada saat yang sama Orthodoxia tidak menyangkal suatu keutamaan dalam kehormatan bagi Takhta Suci dan Rasuliah Roma, bersama dengan hak (di bawah kondisi-kondisi tertentu) untuk mendengarkan laporan permohonan dari seluruh bagian dunia Kristen. Harap dicatat bahwa Gereja Timur menggunakan kata ”keutamaan” (primacy), dan bukan ”kekuasaan tertinggi” (supremacy). Umat Orthodox menganggap Sri Paus sebagai Episkop yang ”memimpin dalam kasih”. Kesalahan Roma selama ini adalah telah mengubah ”keutamaan” (primacy) atau ”kepemimpinan dalam kasih” ini menjadi suatu kekuasaan tertinggi (supremacy) dari kekuasaan lahiriah dan wilayah hukum.
Keutamaan yang dimiliki Roma ini mengambil asal-usulnya dari tiga faktor. Pertama, Roma adalah kota dimana dua Rasul Agung: St. Petrus dan St. Paulus mati syahid, dimana Petrus sebagai Episkop mentahbiskan St. Linus (67-76; orang Tuscan) (2 Tim. 4:21) sebagai Episkop (Paus) pertama di Roma. Gereja Orthodox mengakui Petrus sebagai yang pertama di antara para Rasul: ia tidak lupa akan ”nats-nats Petrusiah” yang terkenal di dalam Injil itu (Mat. 16:18-19; Luk. 22:32; Yoh. 22:15-17) – meskipun para teolog awam Orthodox tidak memahami nats-nats ini dengan cara yang sama seperti yang difahami oleh para juru tafsir Roma Katolik modern itu. Dan sementara banyak teologiawan Orthodox akan mengatakan bahwa bukan hanya Episkop Roma tetapi semua episkop adalah pengganti-lanjut Petrus, namun demikian kebanyakan dari mereka akan mengakui bahwa Episkop Roma adalah pengganti-lanjut Petrus dalam arti khusus.
Yang kedua, takhta keepiskopan Roma juga menerima keutamaan (primacy) dikarenakan posisi yang dimiliki oleh kota Roma di dalam wilayah Kekaisaran; ia adalah ibukota, kota yang terutama di dunia purba, dan masih tetap berlanjut begitu dalam ukuran tertentu bahkan sesudah didirikannya Konstantinopel.
Yang ketiga, meskipun ada kalanya dimana Paus-paus jatuh pada ajaran bidat, secara keseluruhan selama masa 800 tahun yang pertama dari sejarah Gereja, takhta keepiskopan Roma tercatat akan kemurnian imannya: Patriarkhat-patriarkhat lainnya terguncang selama masa perbantahan besar doktrinal, namun Roma untuk sebagian terbesarnya berdiri teguh. Apabila mereka ditekan keras di dalam perjuangannya melawan kaum bidat, orang merasa bahwa mereka dapat berpaling dengan penuh keyakinan kepada Sri Paus di Roma. Bukan hanya Episkop Roma, tetapi setiap episkop, itu ditetapkan Allah untuk menjadi pengajar iman; namun demikian karena takhta keepiskopan Roma dalam prakteknya telah mengajarkan iman dengan kesetiaan yang luar biasa kepada kebenaran, di atas semua yang lain kepada Romalah orang memohon bimbingan pada abad-abad awal dari sejarah Gereja.
Sebagaimana dengan para Patriarkh, demikianlah dengan Sri Paus; keutamaan yang ditetapkan bagi Roma tidak menggulingkan kesejajaran secara hakiki dari semua episkop. Sri Paus adalah Episkop pertama di dalam Gereja – namun ia adalah yang pertama di antara yang sejajar (”primus inter pares”).
Yang terutama dan paling penting, dan yang paling sulit untuk pemecahannya, dari semua perbedaan yang memisahkan Gereja Orthodox dari Roma Katholikisme adalah kedudukan Episkop Roma (Paus) yang berdasar pada prinsip Kepenguasaan (atas seluruh Gereja termasuk Gereja Timur. Gereja Orrthodox) dan Ke-Tak Dapat Salahan Paus (”Infallibilitas Paus”)14 ditetapkan menjadi dogma Roma pada tahun 1870.
Perlu diketahui bahwa sejak abad pertama agama Kristen tidak pernah bersifat monolitik, yaitu mempunyai sifat atau menyerupai; kesatuan berorganisasi yang mempunyai kekuatan tunggal dan berpengaruh. Sejak awal, dari jaman para Rasul, Gereja memang tidak pernah bersifat monolitik dengan doktrin kepemimpinan tunggal (monarkhi) oleh Sri Paus seperti yang diklaim oleh Gereja Roma Katolik. Sejak awal Kekristenan Purba sudah ada sistem pemerintahan Lima Pusat dalam Gereja Purba yang satu itu yang dalam Gereja Orthodox dikenal sebagai “Pentarkhi”. Lima pusat penting Patriarkhat Purba itu adalah: Roma (Italia), Konstantinopel (Istambul, Turki), Aleksandria (Mesir), Syria (Antiokhia), dan Yerusalem (Palestina). Masing-masing pusat Gereja yang berasal dari jaman para Rasul ini dipimpin oleh seorang pimpinan tertinggi :yang disebut Patriarkh (Bapa Pemimpin) atau Paus/Bapa (Roma dan Aleksandria). Karena Sri Paus di Roma menduduki tempat di Ibu kota Kerajaan Romawi maka ia dianggap sebagai yang dituakan dari antara kelima pimpinan Gereja yang Esa itu. Hakekat dari keutamaan tersebut dalam bahasa Latin disebut “PRIMUS INTER PARES” yang artinya: “yang terutama diantara yang sederajat”. Disinilah nantinya menjadi sumber tafsiran dari Gereja sebelah Barat bahwa Paus di Roma itulah satu-satunya pemimpin Gereja dan pengganti Petrus. Jika Gereja - Gereja di Timur menganggap Sri Paus di Roma hanyalah salah satu dari kelima Patriarkh meskipun dituakan, namun Gereja di Barat menganggap Sri Paus sebagai satu-satunya pemimpin Gereja universal, bahkan memiliki kepenguasaan utama secara hukum dan menganggap sebagai yang paling tinggi diantara para Patriarkh dan Episkop lainnya.
Sejak abad ke-9 Masehi, Kepenguasaan Paus di Gereja Barat oleh para pendukungnya telah didasarkan pada ayat Alkitab: Mat.16:15-18, yang dalam kacamata Gereja Orthodox telah ditafsirkan secara salah.
Gereja Roma Katolik mempunyai ajaran tentang Paus sebagai berikut: Petrus adalah Dasar Batu Karang Gereja (Mat. 16:15-18), karena kata “Petros” berarti Batu Karang sehingga para Paus sebagai penggantinya, yang ditafsir sebagai hak eksklusif dari Paus di Roma, itulah satu-satunya pelanjut Petrus. Karena kepada Petrus dikaruniakan kunci Kerajaan Sorga (Mat. 16:18), maka hanya dengan bersekutu di bawah pengganti dan pelanjut Petrus, yaitu Paus di Roma sajalah, Gereja itu sebagai Gereja yang benar, dengan jaminan pasti bagi keselamatan manusia.
Gereja Orthodox Timur tidak pernah mentafsirkan ayat-ayat di atas sedemikian. Batu Karang dimana Yesus akan mendirikan jemaatNya bukanlah Petrus secara pribadi (yang kemudian menyangkaliNya tiga kali), namun Petrus sebagai wakil kolega para Rasul, dan juga Pengakuan Iman Petrus (“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”). Karena Batu Karang penjuru Gereja bukanlah pribadi Petrus, melainkan Kristus sendiri (1 Kor. 3:11 dan 1 Kor. 10:4). Gereja sejak dari awal menghormati Paus Roma dalam hal keutamaan dalam kehormatan, bukan dalam hal kepenguasaan secara hukum. Hakekat keutamaan tersebut dalam bahasa Latin disebut : “Primus Inter Pares” yang artinya “Yang terutama di antara yang sederajat”.
Dua Rasul Agung, St. Paulus dan St. Petrus pergi ke Roma, dimana Rasul Paulus memberitakan Injil kepada kaum Goyim (non-Yahudi), sedangkan Petrus mewartakan Injil kepada orang-orang Yahudi di Roma. Sebelum Petrus pergi ke Roma dan mati syahid di sana, dia sudah menjadi Episkop (Uskup) terlebih dahulu di Antiokhia, Syria selama 7 tahun (Gal. 2:11). Sehingga sampai sekarang Gereja Orthodox Syria, Patriarkhat Antiokhia menyatakan bahwa St. Petrus adalah Patriarkh pertama dari Gereja Orthodox Syria. Dan Patriarkh Antiokhia yang sekarang, yaitu Patriarkh Ignatius IV al Hazim (1979-sekarang) berhak menyatakan diri sebagai pengganti-lanjut Rasul Petrus dan Patriarkhat Antiokhia adalah Takhta Suci St. Petrus.
Menurut Eusebius dalam bukunya “Sejarah Gereja” (abad ke-4), St. Petrus tidak pernah disebut sebagai Episkop pertama di Roma namun dia mentahbiskan Episkop (Paus) Roma yang pertama yaitu St. Linus (II Tim.4:21). Sedangkan Paus (Episkop/ Uskup) Roma yang ketiga : St. Klement ditahbiskan oleh St. Paulus Sang Rasul (tahun 92 M). Dengan demikian jelas Gereja Roma tidak berhak menyatakan diri sebagai pengganti-lanjut satu-satunya dari Rasul St. Petrus. Lebih jauh lagi, tak pernah satu Konsili Ekumenispun yang menjelaskan tafsiran dari ayat-ayat yang sedemikian sebagaimana yang ditafsirkan oleh Gereja Roma Katolik zaman kemudian itu.
Jadi bagi Gereja Orthodox Timur, Batu Karang yang dimaksud Yesus sebagai fondasi Gereja itu oleh Gereja Timur dimengerti sejak zaman purba sebagai batu-karang Iman Pengakuan Petrus atas Keilahian Yesus Kristus dalam ayat-ayat sebelumnya, berarti Batu Karang Iman dan Pengajaran Rasuliah. Juga Batu Karang itu menunjuk kepada Pribadi Petrus sebagai wakil Para Rasul lainnya. Berarti bukan hanya Petrus secara pribadi dan para penggantinya (para Paus di Roma) saja yang menjadi Batu Karang Gereja, namun segenap para Rasul dan seluruh pengganti mereka: segenap Episkop dari zaman purba baik Barat maupun di Timur itulah pengganti Petrus. Lagipula harus diingat bahwa bukan hanya Petruslah yang dikaruniakan kunci Kerajaan Sorga (Mat. 16:18), tetapi kepada para Rasul lain juga dikaruniakan kunci Kerajaan Surga supaya apa yang diikat oleh para Rasul dan pengganti para Rasul dalam diri para episkop di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang dilepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat. 18:18).

REFERENSI

1. A.Sandiwan Suharto & Eddy Suhendro, Ziarah Sang Abdi. Bapa Suci Yohanes Paulus II. Panitia Penyambutan Sri Paus Jakarta, 1989.

2. Episkop Timothy Ware (Penterjemah : Arkhimandrit Daniel Bambang PhD). Mari Mengenal Kekristenan Timur. Sejarah Gereja Orthodox. Satya Widya Graha. 2001.

3. Rm. Arkhimandrit Daniel Bambang Dwi Byantoro Ph D. Perbedaan Gereja Orthodox dan Gereja Roma Katolik. Jakarta. (Tahun?).

4. Rm. Arkhimandrit Daniel Bambang D. Byantoro. Seminar Gereja Orthodox Indonesia. “Masih Adakah Gereja Perjanjian Baru?”. Libra Ball Room, Executive Club. Jakarta Hilton Hotel. 21/ 11/ 1997.

5. Sumber-sumber website tentang gereja-gereja uniat: From Wikipedia, the free encyclopedia.



GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria
SURABAYA
JAWA TIMUR-INDONESIA
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Джунан Сисваджа Легава)
Email addres : goi_sby@yahoo.com
(Telp. 031-5940052)

GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
SK Dirjen Bimas Kristen Depag R.I.
no.: DJ.III/Kep/Hk.00.5/190/3212/2006
Kantor Pusat (Head Office):
JL.K.H.Syafii Hadzami no.1 - Arteri Gandaria
Jakarta Selatan - 12220
INDONESIA
(Telp. 021-72788175; 7395302 - Fax.: 021-7234880)
Website GOI: www.goindo.org
Web blog St. Jonah dari Manchuria: http://terangdaritimur.blogspot.com/

Minggu, 09 Agustus 2009



Gereja Orthodox sebagai Bunda Gereja bukan hendak menghakimi tradisi dan dogma yang dikembangkan denominasi-denominasi gereja lain, melainkan hanya mewartakan ajaran Gereja yang Rasuliah, seraya menyerukan kepada putera-puteri Gereja agar kembali pulang dalam pelukan Bunda Gereja:



“Kepada gereja-gereja Kristus di manapun … hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu”

Seperti juga dalam seruannya ketika Grj Orthodox pd th 1920 menerbitkan & mengirimkan

ensiklik ( surat edaran) kepada gereja-gereja tentang koinonia, suatu persekutuan di mana gereja-gereja dapat bertemu dan seruan untuk membentuk wadah pertemuan bagi semua gereja Kristus. Ensiklik ini berperan bagi pembentukan Dewan Gereja-Gereja Sedunia (World Council of Churches - WCC). Keanggotaan WCC meliputi Gereja-Gereja Orthodox, gereja-gereja Reformasi-Protestan, Injili, dan beberapa gereja Pantekosta/Karismatik. Sementara Grj Katolik (bahkan sampai saat ini) menolak untuk bergabung, melainkan hanya sebagai peninjau pd sidang2 yg diadakan.
Pendapat Anton Wessels bahwa: Bila penganut Katolik Roma mengalami kehadiran Kristus dalam ekaristi, maka kaum Protestan mengalaminya dalam pemberitaan firman (pembacaan kitab suci). Yang satu dihayati dalam sakramen, yg lain lagi dalam pemberitaan firman. Maka jelaslah bahwa SETIAP PERBEDAAN ITU TDK BERKAITAN DENGAN PERBEDAAN YG MUTLAK, SEBAB BATAS-BATAS PERBEDAAN ITU SEAKAN-AKAN MENYATU DAN MENGALIR BAGAIKAN AIR, adalah pendapatnya secara pribadi, itu tidak biblical, tidak berdasarkan Alkitab. Krn Alklitab menyaksikan bahwa Grj baru disebut satu jika satu Tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (1 Kor. 12:25; Ef. 4:5), bahkan satu Roti Perjamuan Kudus (Ekaristi Kudus): Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”. (I Kor. 10:16-17). Inilah Interkomuni (bisa saling memberi & menerima Perjamuan Kudus). Faktanya saat ini kita melihat ada lebih dari 33.000 denominasi dan sekte-sekte dalam gereja-gereja Protestan yang terpecah-pecah, berlawanan ajarannya, bahkan seringkali bertentangan satu dg lainnya. Mereka tidak mau duduk ibadah bersama & saling menerima Perjamuan Kudus (interkomuni), bagaimana ini dapat dikatakan SETIAP PERBEDAAN ITU TDK BERKAITAN DENGAN PERBEDAAN YG MUTLAK?
Apalagi pada masa ayat2 di atas belum ada denominasi2 grj, semua grj yg ada adalah satu & bisa melakukan interkomuni & saling melakukan sakramen2 lain sebagaimana ayat2 di atas. Memang Grj Orthodox tetap mendukung kerjasama sosial, menyelesaikan masalah2 bersama, seperti lingkungan hidup, bencana alam dll dg denominasi2 lain, tetapi ini bukan persatuan seperti yg ada di Kitab Suci & ini bukan tujuan Grj Orthodox merintis & membentuk Dewan Grj Dunia di atas, melainkan tujuannya adalah untuk menyaksikan iman rasuliah yg masih ada terpelihara di dalamnya, mewartakan ajaran Gereja yang Rasuliah, seraya menyerukan kepada putera-puteri Gereja agar kembali pulang dalam pelukan Bunda Gereja, yaitu Gereja yg Satu, Kudus, Katolik, Apostolik dan yg Orthodox dalam ajaran2nya.
Konsep Persatuan yg ada di Kitab Suci, yg dianut oleh seluruh Grj Orthodox Timur adalah persatuan yg VISIBLE, yg terlihat mata dlm wujud interkomuni (saling bisa menerima Perjamuan Kudus) & pengakuan dan penerimaan masing2 sakaramennya. Sedang persatuan kedua dalam wujud kerjasama sosial demi kerukunan seperti yg ada dlm gerakan2 ekumene adalah persatuan NON VISIBLE, yg abstrak, persatuan sosial, tak ubahnya semacam paguyuban yg tidak sesuai dg Konsep Kitab Suci, bukan persatuan iman apalagi persatuan sakramental. "Adakah Kristus (dan TubuhNya=GerejaNya) terbagi2? (1 Kor. 1:13).
Memang Grj Orthodox juga mengetahui ajaran bahwa Roh Kudus juga berkarya tak terbatas, seperti ajaran Grj Orthodox lainnya:

“Kami tahu dimana Gereja berada (yaitu berada dalam persekutuan Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik yang tak lain adalah Gereja Orthodox itu sendiri), namun kami tidak tahu dimana Gereja itu “tidak berada”. Artinya ummat Orthodox tidak dapat mengatakan bahwa karena suatu gereja itu bukan dalam persekutuan dengan Gereja Orthodox, pasti gereja itu tak memiliki “rahmat yang seharusnya” sebagai karunia Allah pada GerejaNya. Berarti Gereja Orthodox masih mengakui adanya rahmat yang bekerja di luar lingkup temboknya sendiri, meskipun ia tidak tahu dimana atau di komunitas Kristen apa, sementara yakin bahwa dirinya berdasarkan fakta sejarah dan ajaran itulah kepenuhan dari Gereja Purba yang Rasuliah itu. Sehingga terdapat keyakinan kokoh tanpa fanatikisme, dan keterbukaan yang luas pada kelompok lain tanpa harus kompromi atau merelatifkan kebenaran.
Sebab Gereja Orthodox Timur berpegang pada kebenaran Kitab Suci yang mengatakan:



“Jemaat (Gereja) dari Allah yang hidup, TIANG PENOPANG DAN DASAR KEBENARAN”

(I Timotius 3:15).
”Jemaat” (”Gereja)” yang dimaksud di sinilah pastilah Gereja Para Rasul, karena pada masa Surat Timotius ini ditulis masih belum ada denominasi-denominasi gereja.
Dalam Gereja Orthodox, sejak zaman awal sebagaimana juga Grj Barat Roma sejak zaman awal, meneladani para Rasul Kristus dimana mrk bebas ada yg menikah ada yg selibat, misal St. Petrus menikah, Barnabas, Paulus selibat. Hanya dlm perkembangannya Grj Barat Roma mulai melarang imam untuk menikah sampai akhirnya ditetapkan secara definitif bahwa imam harus selibat. Jadi dlm Grj Orthodox Timur ada 3 bentuk rohaniwan: imam selibat (imam biarawan, imam rahib), imam menikah, dan rahib/biarawan (non imam) atau yg di Grj Roma Katolik disebut bruder. Hanya untuk tingkat hirarkhi uskup ke atas (Episkop/Uskup Agung, Metropolitan, Patriarkh/Katolikos), karena tugasnya berat dan wilayah penggembalaannya sangat luas maka diwajibkan hanya untuk yg selibat.

Yesus pernah ke India, Cina dan Tibet?



Dongeng Khayalan Injil-Injil Apokrifa

Injil memang tidak menceritakan apa yang terjadi dengan Tuhan Yesus pada saat Ia berumur 13th s/d 30 th, sehingga pada abad kedua timbul macam-macam spekulasi tentang hal itu. Akibatnya untuk menjembatani kekosongan cerita masa kehidupan Yesus selama masa tujuh belas tahun itu dikaranglah macam-macam Injil Apokrifa, diantaranya adalah: Injil Masa Kanak-Kanak Yesus, Injil Tomas Mesir, dimana diceritakan Yesus membuat burung dari tanah lalu dihembus dan akhirnya menjadi burung sungguh, kisah yang mana masuk dalam Al-Qur'an, Injil Awal Yakobus, dan lain-lain. Isi Injil-Injil ini banyak bersifat dongeng-dongeng yang aneh yang semacam dongeng khayalan untuk memuaskan rasa ingin tahu orang saja, Tetapi Gereja menolak Injil-Injil Apokrifa semacam itu karena tidak sesuai dengan ajaran Injil Kanonik, tidak sesuai dengan Paradosis (Tradisi) Rasuliah, dan hanya bersifat dongeng khayalan sesuai dengan alam pemikiran abad kedua.

Apokrifa dari Timur dan Sumber Ajaran Yesus

Nah pada zaman modern ini, dengan makin banyaknya pertemuan antara agama-agama besar dunia dengan pusat-pusat spiritual agama-agama banyak diketahui orang, misalnya di India, di Cina dan di Tibet, maka rasa ingin tahu orang mulai mengarang lagi bentuk Kisah Apokrifa baru mengenai "Masa Senyap" Yesus antara umur 13th/30th itu. Karena Yesus banyak melakukan mukjizat maka itu disamakan dengan tenaga dalam dan sihir, maka dikaranglah bahwa Yesus pernah belajar sihir di Mesir dan di Lhasa Tibet, tempat pusat tenaga dalam. Tetapi ini bukan hanya karangan baru, karena dalam Talmud (Kitab Keagamaan Yahudi) mukjizat Yesuspun diejek sebagai sihir yang ia pelajari dari Mesir. Mengapa Tibet dan Cina serta India yang disodorkan sebagai tempat Yesus berkunjung? Karena banyak ajaran Yesus terutama tentang kasih itu mirip dengan ajaran Buddha mengenai "Metta-Karuna" (Welas Asih Tanpa Batas). Tetapi persamaan ajaran Yesus dengan ajaran Buddha ini jelas ini tidak benar. apalagi kalau sampai dianggap Yesus belajar dari para biarawan Buddhist, Karena ketika Yesus mengajarkan tentang cintakasih (Markus 12:30) kepada Allah itu Dia mengambil dari Ulangan 6:5, sedangkan ketika Ia mengajarkan tentang cintakasih kepada sesama (Markus 12:31) Ia mendasarkannya dari Torah/Taurat (Imamat 19:34). Juga Perjanjian Lama mengajarkan tentang belas-kasihan Allah yang tanpa batas yang disebut

sebagai "hesed" seperti yang tercermin dalam Kitab Hosea dimana cinta-kasih Nabi Hosea kepada isterinya yang suka serong itu digambarkan sebagai cinta kasih Allah yang tanpa batas kepada umatNya yang suka serong juga (Hosea 1). Dengan demikian ajaran cintakasih Yesus itu berlatar-belakangkan ajaran Perjanjian Lama sebagai sumbernya, bukan dari ajaran Agama Buddha. Lagipula agama Buddha mengajarkan tentang "Metta-Karuna" landasannya adalah ajaran "re-inkarnasi" ("penitisan kembali") dimana orang tak boleh makan daging, dengan demikian harus menyanyangi binatang, karena takut jangan-jangan si bintang itu titisan kakeknya. Juga ajaran hukum karma diyakini akan berlaku bagi setiap orang, sehingga kalau seseorang nanti menitis jadi kambing ia takut disembelih dan dimakan orang. Makanya harus mengasihi semua termasuk binatang supaya tidak terkena hukum karma, dan supaya waktu menitis tidak mengalami derita. Padahal ajaran Yesus tentang Cinta-kasih itui landasannya adalah karena "hesed" dari Allah, dan karena semua manusia itu diciptakan "menurut gambar dan rupa Allah". Yesus tidak mengajarkan penitisan, karma ataupun pelepasan diri dari kungkungan tubuh. Yesus malah mengajarkan bahwa tubuh tak akan bisa dilepaskan dari roh, itulah sebabnya ada kebangkitan (Yohanes 5:28-29). Lepasnya roh dari tubuh oleh kematian pada saat ini adalah merupakan keadaan tidak normal karena adanya dosa dan itu hanya bersifat sementara. Demikian pula yang diajarkan Buddha adalah bagaimana manusia lepas dari lingkaran "dukkha" melalui meditasi agar masuk keadaan "bukan ada dan bukan tiada" yang disebut sebagai "Nirwana", sedangkan Yesus mengajarkan tentang "Kerajaan Allah" dimana tubuh dan jiwa manusia sekaligus akan dimuliakan menjadi bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Allah akibat hadirat kuasa Kerajaan Allah (Matius 13:43) yaitu berkuasaNya Roh Kudus atas kehidupan. Dengan demikian jelas tak ada pengaruh ajaran Buddha ataupun Hindu sedikitpun dalam ajaran Yesus. Ajarannya bersifat Semitik-Ibrani, jadi Yesus memang tidak pernah menginjakkan kaki keluar dari Israel.

Tempat Yesus Berkarya pada Usia 13th s/d 30 th

Alkitab mengatakan "Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya..." (Lukas 2:52), dan Alkitab mengatakan : "Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka (Maria dan Yusuf) (Lukas 2:51) serta Alkitab juga mengatakan "Nazaret tempat Ia dibesarkan" (Lukas 4:16) dan Ia "menurut kebiasaan-Nya .....masuk ke rumah ibadat" (Lukas 4:16). Dan di Synagoga itu orang-orang mengatakan "Bukankah Ia ini anak Yusuf?" (Lukas 4:22) serta "tentang orang ini kita tahu darimana asanya" (Yohanes 7:27). Dari ayat-ayat ini jelas bahwa sejak umur tiga belas tahun itu "Yesus makin besar dan makin berhikmat" serta hidup-Nya di "Nazaret" hidup dalam "asuhan Maria dan Yusuf" dan di Nazaret itu "Ia dibesarkan" berarti Ia tak pernah pergi kemana-mana, buktinya Ia punya "kebiasaan" ini berarti Ia hidup ditempat yang sama melakukan kegiatan yang sama, yaitu setiap Sabat Ia masuk ke Synagoga. Dan orang dapat segera tahu bahwa Ia adalah anak Yusuf dan tahu Dia berasal darimana. Apa yang dilakukan di Nazaret itu? hidup dalam "asuhan" Yusuf yang bekerja sebagai "Tukang Kayu" (Matius 13:55), sehingga sebagaimana kebiasaan orang Yahudi waktu itu anak selalu menggantikan pekerjaan bapaknya, maka Yesuspun akhirnya menjadi "tukang kayu" juga (Markus 6:3). Ini menunjukkan Yesus selalu tekun di Nazaret mengikuti pendidikan bapak angkatnya. Kalau ia pernah pergi keluar Nazaret apalagi sampai keluar Israel tentu orang sekampungnya di Nazaret tak akan terheran-heran dan mengatakan "Darimana diperoleh-Nya hikmat dan kuasa...itu" (Matius 13:54). Kalau memang Ia pernah pergi ke Tibet pasti mereka sudah tahu karena mereka tinggal sekampung, dan dari Palestina ke Tibet itu memakan waktu bertahun-tahun sehingga tak mungkin disembunyikan dari orang-orang sekampung itu. Dan jika mereka tahu bahwa memang Yesus pernah ke Tibet pasti mereka akan menjawab sendiri : "O hikmat itu diperolehnya dari Kaum Buddhist aliran Lama di Tibet: atau "O Hikmat itu diperolehNya dari kaum Brahmin Hindu di India" atau "O Hikmat itu didapatnya dari para Ahli Mistik Tao di Cina" dan "O Kuasa itru didapat dari belajar Sihir di Mesir dan Tibet". Bahwa mereka tak mengatakan satupun dari hal-hal ini berarti jelas Yesus selama kecil sampai pemuda "dibesarkan" hanya di "Nazaret" saja. Ini terbukti lagi semua ajarannya dan terutama perumpamaannya itu diambil dari latar belakang pertanian di Israel (Penabur Benih, Pohon Ara), kehidupan disekitar Nazaret dan agak turun ke bawah di Kapernaum (danau Galilea) (Penjala Ikan, Perumpamaan tentang Pukat) dan sebagainya. Kalau Ia memang pernah ke Tibet mengapa Ia tak menyebutkan tentang Gunung Himalaya? Ia sebutkan semua Nabi-Nabi Perjanjian Lama, mengapa Ia tak sebutkan Krisna, Buddha, Kong Hu Cu, atau Lao Tze, sungguh aneh sikap yang begitu itu kalau Ia memang pernah pergi ke negara-negara itu. Jadi berdasarkan bukti Alkitab Yesus tidak pernah pergi kemana-mana pada saat selama 17 tahun masa senyap itu, Ia besar di Nazaret tekun dalam asuhan Yusuf dan Maria.