Selasa, 06 April 2010

Mahfud Cerita Koruptor Mati Mengenaskan, Peserta Tegang


Tempo - Senin, 5 April
Mahfud Cerita Koruptor Mati Mengenaskan, Peserta Tegang

Tempo - Senin, 5 April
TEMPO Interaktif, Surabaya - Mendapat ceramah mengenai korupsi dari ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, sebanyak 300 pengurus Korpri Pemerintah Provinsi Jawa Timur tampak tegang. Semula, acara bertajuk »Sosialisasi MK dan pengembangan budaya sadar konstitusi bagi anggota Korpri” yang digelar di salah satu ruangan Kantor Gubernur Jawa Timur ini tampak santai. Apalagi, ketika membuka acara, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengeluarkan cerita-cerita lucunya.

Hanya saja, ketika giliran ketua Mahfud MD yang memberikan sambutan, pengurus Korpri yang mayoritas merupakan kepala dinas, kepala badan, biro Pemerinta Provinsi Jawa Timur maupun Kota/Kabupaten se-Jawa Timur ini tampak tegang.

Entah, untuk menyindir atau tidak, Mahfud dalam sambutannya memang mencontohkan beberapa pejabat korup yang akhirnya mati mengenaskan. »Saya punya teman seorang hakim, dia terkenal korup, tapi pinter sekali menyembunyikannya,” kata Mahfud.

Meski melakukan jual beli perkara, hakim itu cerita Mahfud, menyimpan uang hasil korupsinya di rekening seorang temannya. Sehingga beberapa kali diperiksa, si hakim tidak terbukti memiliki harta berlebihan.

Hanya saja, tiba-tiba hakim ini sakit lumpuh sehingga tidak bisa lagi bekerja. »Sakitnya aneh, untuk bergerak dari bangun tidur saja dia membutuhkan suntikan obat dari Singapura senilai Rp 30 juta. Malamnya, jika ingin tidur dia juga harus disuntik lagi Rp 30 juta,” kata Mahfud.

Karena sangat merepotkan keluarganya, hakim ini lantas dibiarkan begitu saja oleh keluarga hingga akhirnya meninggal dunia. »Ya begitulah korupsi, hasil korupsi pasti membuat hidup tidak tenang,” cerita Mahfud.

Mahfud menceritakan bagaimana tidak nyamannya hidup para koruptor. »Orang itu kalau korupsi, ada polisi lewat saja dia sudah tidak nyaman. Bahkan ada mobil pemadam kebakaran dikira polisi,” kata dia.

Melihat ketegangan ini, Mahfud lantas mengakhiri ceramahnya itu dengan guyonan Madura. »Pernah ada sidang di MK, yang jadi saksi orang Madura. Dia bilang tidak bisa ngomong bahasa Indonesia, tapi setelah ada seorang penerjemah, eh, dia malah bilang terjemahannya keliru. Jadi saya ngomong bahasa Indonesia saja,” pungkas Mahfud disambut ger-geran peserta sosialisasi.

Sekretaris Provinsi Jawa Timur Rasiyo berharap cerita Mahfud ini menjadi pemicu seluruh pejabat untuk menghidari perilaku korupsi. »Luar biasa cerita pak Mahfud, semoga kita menjadi pegawai yang bersih,” kata Rasiyo.

ROHMAN TAUFIQ

Selasa, 30 Maret 2010

Mesir Membatalkan Peresmian Sinagoga


Kairo - Mesir membatalkan peresmian sebuah rumah ibadat Yahudi, Sinagoga, pada hari Minggu (14/3). Mereka beralasan keberatan terhadap perlakuan Israel terhadap kaum Muslim di wilayah-wilayah pendudukan di Palestina.



Pihak otoritas Mesir telah menghabiskan waktu tujuh bulan memulihkan reruntuhan Sinagoga Ben Maimon di Kairo. Kepala dewan Zahi Hawass membatalkan acara setelah kritik dari pers mengenai upacara peresmian Sinagoga, yang dihadiri oleh diplomat Israel juga duta besar Amerika.

"Pembatalan ini datang setelah apa yang terjadi saat pelantikan oleh komunitas Yahudi yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dianggap provokatif terhadap perasaan ratusan juta umat Islam di seluruh dunia, termasuk menari dan minum alkohol," kata Hawass dalam pernyataannya.

Dia menambahkan bahwa "tempat-tempat suci Islam di Palestina yang diduduki tunduk pada agresi penguasa pendudukan," yang mengutip khususnya tindakan-tindakan kekerasan Israel di Masjid al Aqsha, di Yerusalem.

Komunitas Yahudi di Mesir, telah kembali ribuan tahun dan pada puncaknya pada tahun 1940 berjumlah sekitar 80.000 orang. Mesir dan Israel berperang dari tahun 1940-1970. kemudian pada 1979 perjanjian damai ditandatangani.

Dalam pernyataannya, Hawass memuji upaya Mesir untuk mengembalikan Islam, Yahudi dan situs Kristen tanpa memandang agama mereka. "Ini adalah bukti dari toleransi agama di Mesir, sedangkan tempat-tempat suci Islam di Yerusalem dan kota-kota Palestina lainnya tunduk pada kehancuran dan karantina oleh Israel," katanya.

Rusia Ungkap Foto Dua Perempuan Pengebom


Kepolisian Rusia memperlihatkan foto dua perempuan yang diduga menjadi pengebom bunuh diri di dua stasiun kereta bawah tanah kota Moskow. Insiden yang terjadi pada jam berangkat kerja Senin pagi waktu setempat itu menewaskan sedikitnya 39 orang.

Foto itu disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Rusia, yang juga dimuat oleh stasiun televisi CNN, Selasa 30 Maret 2010. Juru bicara kepolisian, Viktor Biryukov, mengungkapkan bahwa pasukan khusus sedang memburu tiga tersangka yang bersekongkol dengan dua perempuan pengebom itu.

Mereka memburu pria berusia 30 tahun dari Kaukasus Utara yang dalam kamera keamanan mengenakan pakaian gelap dan topi baseball warna hitam. Dua orang lagi yang sedang diburu adalah dua perempuan masing-masing berusia 22 dan 45 tahun, keduanya berasal dari etnik Slav, yang diduga membantu pria tersebut.

Para penyidik yakin bahwa tiga tersangka tersebut menemani perempuan pengebom bunuh diri saat mereka memasuki kereta metro. Selain mencurigai kelompok lain dari Kaukasus Utara, polisi Rusia juga menyatakan tidak tertutup kemungkinan bahwa kelompok pemberontak asal Chechnya, Chehen, bertanggungjawab atas serangan teror itu.

Chechnya terletak di wilayah Kaukasus Utara di Rusia, antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Konflik Rusia-Chechnya terakhir kali terjadi hampir 20 tahun lalu saat sebagian masyarakat di Chechnya memutuskan merdeka dari Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet. Ribuan orang tewas dan 500.000 warga Chechnya harus melarikan diri karena peperangan dengan pasukan pemerintah Rusia.

Ledakan pada Senin lalu terjadi di stasiun Lubyanka dan Park Kultury di pusat kota Moskow. Dua pengebom bunuh diri meledakkan bahan peledak dengan selisih waktu sekitar 40 menit.

Bom pertama meledak sesaat sebelum pukul 8 pagi waktu setempat. Sekitar 500.000 orang diperkirakan sedang berada di kereta-kereta bawah tanah saat peristiwa di jam sibuk pada hari Senin itu terjadi.

Vatikan Bantah Paus Tutup Mata


Vatikan mengecam media yang menuduh bahwa Paus diam saja kepada seorang pastor Amerika Serikat yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sekitar 200 bocah laki-laki pada dua dekade yang lalu di Wisconsin. Vatikan menuding hal itu sebagai kampanye mencoreng Paus Benediktus XVI dan orang dekatnya.

Dalam sebuah editorial koran Vatikan disebutkan bahwa klaim itu serangan »tercela” terhadap Paus dan bahwa tak ada yang »ditutupi”.

Ribut-ribut muncul dari dokumen Gereja dan Vatikan yang menunjukkan, pada medio 1990-an, dua pastor Wisconsin mendesak semacam lembaga pengawas moral Vatikan, yang dipimpin oleh Kardinal Joseph Ratzinger--kini paus--agar mereka menggelar sebuah pengadilan gereja terhadap Rev. Lawrence Murphy.

Para uskup mengakui, pelecehan itu diduga terjadi bertahun-tahun sebelumnya, tetapi mereka berpendapat bahwa orang-orang di Milwaukee menuntut keadilan dari gereja. Seorang korban mengatakan kepada BBC bahwa Paus telah mengetahui sebuah upaya menutup-tutupi itu »selama beberapa tahun”. Arthur Budzinski, kini 61 tahun, bilang bahwa Paus Benediktus XVI harus mengakui apa yang ia ketahui.

Gereja Katolik dibelit masalah selama beberapa bulan terakhir dengan terbongkarnya pelecehan di Eropa, gema dari skandal-skandal pedofil yang mengguncang institusi itu di Amerika delapan tahun yang lalu.

Murphy adalah pastor populer yang diduga melakukan pelecehan terhadap sekitar 200 bocah di John's School for the Deaf di St Francis, Wisconsin, antara 1950 dan 1974.

Sebuah pengadilan kanonik telah diperintahkan oleh pejabat yang kemudian menjadi deputi paus, tapi belakangan dihentikan, meskipun ada keberatan dari uskup lapis kedua.

Dari dokumen tercatat bahwa Fr. Murphy menulis surat kepada Kardinal Ratzinger mengatakan bahwa dia sakit dan ingin hidup tenang dalam »kehormatan dari kepastoran”.

Juru bicara Paus, Federico Lombardi, kemarin menyebutkan kasus Murphy telah ditangani Vatikan hanya sampai pada 1996--dua dekade setelah diocese Milwaukee di Wisconsin yang pertama kali mempelajari tuduhan-tuduhan itu, dan dua tahun sebelum sang pastor meninggal. Disebutkan pula bahwa polisi saat itu telah menginvestigasi tuduhan, tapi tak ada bukti-bukti.

Sementara itu, salah seorang pembantu top Paus, Kardinal Jose Saraiva Martins, mengatakan kepada wartawan ada »sebuah konspirasi” menggerogoti Gereja Katolik, tanpa menyebutkan secara spesifik siapa yang bertanggung jawab.

Tentara Israel Lukai Enam Warga Palestina


Gaza: Tembakan yang dilontarkan tentara Israel pada demonstran sepanjang perbatasan antara Gaza dan Israel, Selasa (30/3) melukai enam warga Palestina. Salah satu diantara korban mengalami cedera serius, seperti dilansir Xinhua, Selasa (30/3).

Insiden dimulai saat ratusan demonstran bergerak menuju kota Gaza Timur di dekat kota Khan Younis, untuk mendekati perbatasan. Menurut saksi mata, tentara Israel yang ditempatkan dimenara pengawas dan kendaraan militer yang parkir dibelakang pagar listrik menembak secara membabi buta ke arah demonstran yang berusaha untuk mendekat.

Enam warga Palestina tertembak dan terluka di pusat Gaza dan di daerah Khuzaa, diantara mereka yang tertembak, satu orang mengalami cedera serius. Hingga detik ini, tidak ada pernyataan resmi dari pihak militer Israel.

Baru-baru ini komite Gaza yang terdiri dari faksi kiri melakukan demonstrasi mingguan di dekat perbatasan. Mereka memprotes pencurian tanah mereka oleh Zionis Israel. Namun demonstran terlihat lebih banyak Selasa kemarin saat Palestina memperingati Hari Tanah.

Hari Tanah adalah hari untuk memperingati kematian enam warga Palestina tahun 1976 oleh Pasukan Israel, ketika warga Palestina ditanah jajahan Israel berdemonstrasi memprotes pencaplokan tanah mereka oleh bangsa Yahudi.

Para demonstran melambai-lambaikan bendera Palestina dan membawa spanduk-spanduk. Mahmoud Al-Zaeq, wakil dari kampanye populer melawan pihak keamanan Israel mengatakan bahwa perlawanan terhadap Israel harus dikembangkan dan mengabungkan kembali seluruh wilayah Gaza.

Selama ini Jalur Gaza diperintah oleh kelompok Hamas Palestina yang menjunjung tinggi perjuangan bersenjata setelah Israel, meskipun telah mempertahankan gencatan senjata dengan Israel yang goyah sejak akhir perang Gaza Januari 2009.

Minggu, 21 Maret 2010

Maaf Dari Paus Tidak Cukup untuk Sembuhkan Korban



Kelompok pembela korban Australia hari ini, Kamis (18/3), mengatakan permintaan maaf dari Pemimpin Gereja Katolik Roma Paus Benediktus XVI dan Pemimpin Gereja Katolik Irlandia tidak cukup untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi korban kekerasan seksual oleh kalangan gereja.

Chris Maclsaac dari kelompok pembela korban Broken Rites, mengatakan tidak ada perubahan apapun yang dihasilkan dari permohonan maaf itu. “Para korban yang menceritakan kepada kami mengatakan proses yang dilakukan gereja terkait hal ini tidak cukup,” kata Maclsaac.

“Kenyataannya, banyak diantara korban yang menyampaikan kepada kami merasa hina dan merasakan kekerasan psikologi akibat kekerasan seksual itu.”

Masih kata Maclsaac, gereja masih belum menemukan cara-cara untuk membuat komplain korban terdengar dan ditangani dengan sepantasnya.

Dalam pernyataan sebelumnya, Paus dan pemimpin gereja Katolik Irlandia Cardinal Sean Brady, meminta maaf terkait skandal kekerasan seksual yang terjadi mulai 1970an di kalangan gereja. Pada 2008, Paus juga meminta maaf kepada korban di Amerika Serikat dan Australia.

Rabu, 17 Maret 2010

Gerakan Sekali Bilas (Lestarikan Kehidupan di Bumi)

Gerakan Sekali Bilas
Oleh: Akh. Muzakki

The use of the environmental movement is instrumental...

As a means for considering associational development

(Adam Fagan, 2004:1)

---

KUTIPAN dari karya akademik Adam Fagan tersebut menjelaskan bahwa gerakan lingkungan (environmental movement) sangat bernilai tinggi. Nilai signifikansinya melintasi sekat-sekat ekonomi hingga menunjuk pada reformasi kultural pada pemahaman masyarakat atas hidup dan kehidupan bersama.

Adam Fagan membedakan istilah ''gerakan lingkungan'' dari ''gerakan hijau'' (green movement). Meski berkontribusi pada proses penguatan kesadaran publik atas determinasi lingkungan pada hidup dan kehidupan bersama, keduanya memiliki perbedaan konseptual.

Gerakan hijau dipandang lebih cenderung pada kampanye untuk menggeser pola konsumsi individu di masyarakat agar lebih taat asas lingkungan, bahkan kerap dipelesetkan sebagai gerakan untuk mempromosikan produk konsumsi ramah lingkungan daripada produk-produk lainnya. Gerakan lingkungan justru dianggap sebagai gerakan politis-kultural untuk menyelesaikan problem-problem lingkungan seperti polusi, kekeringan, dan pemborosan penggunaan air bersih.

Terlepas dari perbedaan konseptual tersebut, makna esensial yang dikandung dua gerakan itu menunjuk pada pentingnya kesadaran atas lingkungan hidup. Publik perlu bersinergi satu sama lain untuk kepentingan penguatan kesadaran bersama atas pentingnya lingkungan dimaksud.

Dari sisi kebijakan, esensi konsep gerakan hijau dan gerakan lingkungan telah dicoba dikonkretkan Pemerintah Kota Surabaya. Setelah sekian lama mengampanyekan Surabaya Hijau, pemkot mulai menggalakkan kampanye sadar lingkungan. Salah satu contoh konkretnya adalah kampanye penghematan pemakaian air. Misalnya, sebagaimana diberitakan Metropolis (10/3/2010), dengan menggandeng Unilever sebagai partner, pemkot me-­launching ''Gerakan Sekali Bilas''.

Kampanye lingkungan semacam itu penting untuk menumbuhkan kesadaran publik atas pentingnya penghematan pemakaian air bersih. Sebab, sikap boros akan berdampak pada sumber-sumber dan ketahanan lingkungan.

Problem Air

Jika Adam Fagan mengindikasikan nilai pentingnya gerakan lingkungan dari berbagai perspektif teoretis seperti yang telah dijelaskan tersebut, Wali Kota Bambang Dwi Hartono saat acara launching Gerakan Sekali Bersih secara spesifik menyatakan, ''Air adalah sesuatu yang vital bagi kehidupan. Jika tak ada air, tak ada kehidupan.''

Di bagian wilayah dunia yang tropis, publik tidak terlalu hirau atas pentingnya air. Curah hujan yang tinggi membuat masyarakat merasa percaya diri bahwa air tidak akan menjadi problem besar. Sebagai akibatnya, konsumsi yang hemat atas air cenderung belum menjadi bagian dari pola konsumsi kita bersama. Dalam basis kognitif publik, konsumi hemat dianggap bukanlah isu bagi mereka.

Kita perlu belajar dari pengalaman negeri tetangga Australia. Di sejumlah wilayah di Negeri Kanguru itu, air menjadi problem besar. Cadangan air di waduk-waduk sumber konsumsi masyarakat tidak selalu mencukupi sepanjang tahun.

Dibuatlah aturan oleh pemerintah lokal di sejumlah negara bagian Australia. Berkurangnya cadangan air segera diikuti aturan pengetatan penggunaan air melalui indikasi levelling mulai level 1 hingga 7. Aturan levelling itu akan bergerak naik-turun sesuai naik-turunnya candangan air.

Saat cadangan air memasuki kondisi kritis, aturan pengetatan akan diberlakukan hingga level 7. Saat itu, mandi hanya dibatasi sekali sehari. Itu pun dibatasi lebih jauh hingga tidak lebih dari 4 menit.

Untuk mengontrol berlakunya aturan penggunaan air tersebut, terutama saat-saat kritis, pemerintah lokal memberikan kewenangan kepada anggota masyarakat untuk melaporkan ke pihak berwajib jika mendapati tetangganya menggunakan jatah air di luar ketentuan yang saat itu diberlakukan.

Pihak berwenang pun segera menindak pelanggar aturan tersebut. Bahkan, denda dalam bentuk uang dalam jumlah besar segera dikenakan jika terbukti secara meyakinkan melanggar. Aturan itu diberlakukan agar penggunaan air yang hemat menjadi kesadaran penuh dalam pratik keseharian masyarakat.

Air Bawah Tanah

Saya sepakat sepenuhnya dengan Gerakan Sekali Bilas yang dicanangkan Pemkot Surabaya. Namun, menurut hemat saya, kampanye model gerakan lingkungan tersebut tidak boleh berhenti pada level konsumsi individual masyarakat, namun juga harus menyentuh pola dan praktik konsumsi oleh pelaku industri.

Mengapa begitu? Menurut hemat saya, problem air di wilayah metropolis pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya, selain diderek pola konsumsi yang boros, dipicu rendahnya kesadaran atas pentingnya pengelolaan sumber-sumber air, baik oleh individu masyarakat maupun lebih-lebih oleh pelaku industri.

Merebaknya kasus penggunaan air bawah tanah (ABT) oleh industri di kawasan Sidoarjo pada Januari 2010 perlu mendapat perhatian dan menjadi pelajaran bersama. Sebagaimana dilaporkan Jawa Pos (4/1/2010), ABT biasa digunakan perusahaan besar di wilayah Sidoarjo yang meliputi Buduran, Kota, Candi, Porong, Wonoayu, Krian, dan Waru.

Mereka cenderung memakai ABT karena enggan menggunakan jasa PDAM. Cara yang mereka lakukan adalah mengebor untuk mendapat sumber air bersih secara mandiri di luar ketentuan pengaturan resmi melalui perusahaan air minum.

Dalam banyak kasus, pengeboran air seperti yang dimaksud sulit dikontrol. Padahal, dampaknya sangat jelas. Pengeboran liar akan mengganggu potensi air di lingkungan sekitarnya. Air di lingkungan sekitar pengeboran bisa tidak jernih, bahkan cenderung berkurang.

Karena itu, Gerakan Sekali Bilas pada level individu masyarakat semestinya segera diteruskan dengan ''gerakan stop pengeboran'' untuk level pelaku industri.

Masa depan anak bangsa tidak saja ditentukan kreativitas dan kecakapan berolah pikir, tapi juga oleh ketersediaan sumber-sumber alam. Karena itu, kampanye melalui gerakan lingkungan harus menjadi agenda bersama. (*/mik)

*Akh. Muzakki, Grad Dip SEA MAg MPhil PhD

Direktur Riset Islamic Educational Consultant (IEC)

Sumber:
Harian Jawa Pos, Rabu, 17 Maret 2010