Minggu, 09 Agustus 2009



Gereja Orthodox sebagai Bunda Gereja bukan hendak menghakimi tradisi dan dogma yang dikembangkan denominasi-denominasi gereja lain, melainkan hanya mewartakan ajaran Gereja yang Rasuliah, seraya menyerukan kepada putera-puteri Gereja agar kembali pulang dalam pelukan Bunda Gereja:



“Kepada gereja-gereja Kristus di manapun … hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu”

Seperti juga dalam seruannya ketika Grj Orthodox pd th 1920 menerbitkan & mengirimkan

ensiklik ( surat edaran) kepada gereja-gereja tentang koinonia, suatu persekutuan di mana gereja-gereja dapat bertemu dan seruan untuk membentuk wadah pertemuan bagi semua gereja Kristus. Ensiklik ini berperan bagi pembentukan Dewan Gereja-Gereja Sedunia (World Council of Churches - WCC). Keanggotaan WCC meliputi Gereja-Gereja Orthodox, gereja-gereja Reformasi-Protestan, Injili, dan beberapa gereja Pantekosta/Karismatik. Sementara Grj Katolik (bahkan sampai saat ini) menolak untuk bergabung, melainkan hanya sebagai peninjau pd sidang2 yg diadakan.
Pendapat Anton Wessels bahwa: Bila penganut Katolik Roma mengalami kehadiran Kristus dalam ekaristi, maka kaum Protestan mengalaminya dalam pemberitaan firman (pembacaan kitab suci). Yang satu dihayati dalam sakramen, yg lain lagi dalam pemberitaan firman. Maka jelaslah bahwa SETIAP PERBEDAAN ITU TDK BERKAITAN DENGAN PERBEDAAN YG MUTLAK, SEBAB BATAS-BATAS PERBEDAAN ITU SEAKAN-AKAN MENYATU DAN MENGALIR BAGAIKAN AIR, adalah pendapatnya secara pribadi, itu tidak biblical, tidak berdasarkan Alkitab. Krn Alklitab menyaksikan bahwa Grj baru disebut satu jika satu Tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (1 Kor. 12:25; Ef. 4:5), bahkan satu Roti Perjamuan Kudus (Ekaristi Kudus): Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”. (I Kor. 10:16-17). Inilah Interkomuni (bisa saling memberi & menerima Perjamuan Kudus). Faktanya saat ini kita melihat ada lebih dari 33.000 denominasi dan sekte-sekte dalam gereja-gereja Protestan yang terpecah-pecah, berlawanan ajarannya, bahkan seringkali bertentangan satu dg lainnya. Mereka tidak mau duduk ibadah bersama & saling menerima Perjamuan Kudus (interkomuni), bagaimana ini dapat dikatakan SETIAP PERBEDAAN ITU TDK BERKAITAN DENGAN PERBEDAAN YG MUTLAK?
Apalagi pada masa ayat2 di atas belum ada denominasi2 grj, semua grj yg ada adalah satu & bisa melakukan interkomuni & saling melakukan sakramen2 lain sebagaimana ayat2 di atas. Memang Grj Orthodox tetap mendukung kerjasama sosial, menyelesaikan masalah2 bersama, seperti lingkungan hidup, bencana alam dll dg denominasi2 lain, tetapi ini bukan persatuan seperti yg ada di Kitab Suci & ini bukan tujuan Grj Orthodox merintis & membentuk Dewan Grj Dunia di atas, melainkan tujuannya adalah untuk menyaksikan iman rasuliah yg masih ada terpelihara di dalamnya, mewartakan ajaran Gereja yang Rasuliah, seraya menyerukan kepada putera-puteri Gereja agar kembali pulang dalam pelukan Bunda Gereja, yaitu Gereja yg Satu, Kudus, Katolik, Apostolik dan yg Orthodox dalam ajaran2nya.
Konsep Persatuan yg ada di Kitab Suci, yg dianut oleh seluruh Grj Orthodox Timur adalah persatuan yg VISIBLE, yg terlihat mata dlm wujud interkomuni (saling bisa menerima Perjamuan Kudus) & pengakuan dan penerimaan masing2 sakaramennya. Sedang persatuan kedua dalam wujud kerjasama sosial demi kerukunan seperti yg ada dlm gerakan2 ekumene adalah persatuan NON VISIBLE, yg abstrak, persatuan sosial, tak ubahnya semacam paguyuban yg tidak sesuai dg Konsep Kitab Suci, bukan persatuan iman apalagi persatuan sakramental. "Adakah Kristus (dan TubuhNya=GerejaNya) terbagi2? (1 Kor. 1:13).
Memang Grj Orthodox juga mengetahui ajaran bahwa Roh Kudus juga berkarya tak terbatas, seperti ajaran Grj Orthodox lainnya:

“Kami tahu dimana Gereja berada (yaitu berada dalam persekutuan Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik yang tak lain adalah Gereja Orthodox itu sendiri), namun kami tidak tahu dimana Gereja itu “tidak berada”. Artinya ummat Orthodox tidak dapat mengatakan bahwa karena suatu gereja itu bukan dalam persekutuan dengan Gereja Orthodox, pasti gereja itu tak memiliki “rahmat yang seharusnya” sebagai karunia Allah pada GerejaNya. Berarti Gereja Orthodox masih mengakui adanya rahmat yang bekerja di luar lingkup temboknya sendiri, meskipun ia tidak tahu dimana atau di komunitas Kristen apa, sementara yakin bahwa dirinya berdasarkan fakta sejarah dan ajaran itulah kepenuhan dari Gereja Purba yang Rasuliah itu. Sehingga terdapat keyakinan kokoh tanpa fanatikisme, dan keterbukaan yang luas pada kelompok lain tanpa harus kompromi atau merelatifkan kebenaran.
Sebab Gereja Orthodox Timur berpegang pada kebenaran Kitab Suci yang mengatakan:



“Jemaat (Gereja) dari Allah yang hidup, TIANG PENOPANG DAN DASAR KEBENARAN”

(I Timotius 3:15).
”Jemaat” (”Gereja)” yang dimaksud di sinilah pastilah Gereja Para Rasul, karena pada masa Surat Timotius ini ditulis masih belum ada denominasi-denominasi gereja.
Dalam Gereja Orthodox, sejak zaman awal sebagaimana juga Grj Barat Roma sejak zaman awal, meneladani para Rasul Kristus dimana mrk bebas ada yg menikah ada yg selibat, misal St. Petrus menikah, Barnabas, Paulus selibat. Hanya dlm perkembangannya Grj Barat Roma mulai melarang imam untuk menikah sampai akhirnya ditetapkan secara definitif bahwa imam harus selibat. Jadi dlm Grj Orthodox Timur ada 3 bentuk rohaniwan: imam selibat (imam biarawan, imam rahib), imam menikah, dan rahib/biarawan (non imam) atau yg di Grj Roma Katolik disebut bruder. Hanya untuk tingkat hirarkhi uskup ke atas (Episkop/Uskup Agung, Metropolitan, Patriarkh/Katolikos), karena tugasnya berat dan wilayah penggembalaannya sangat luas maka diwajibkan hanya untuk yg selibat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN