Selasa, 30 Maret 2010

Vatikan Bantah Paus Tutup Mata


Vatikan mengecam media yang menuduh bahwa Paus diam saja kepada seorang pastor Amerika Serikat yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sekitar 200 bocah laki-laki pada dua dekade yang lalu di Wisconsin. Vatikan menuding hal itu sebagai kampanye mencoreng Paus Benediktus XVI dan orang dekatnya.

Dalam sebuah editorial koran Vatikan disebutkan bahwa klaim itu serangan »tercela” terhadap Paus dan bahwa tak ada yang »ditutupi”.

Ribut-ribut muncul dari dokumen Gereja dan Vatikan yang menunjukkan, pada medio 1990-an, dua pastor Wisconsin mendesak semacam lembaga pengawas moral Vatikan, yang dipimpin oleh Kardinal Joseph Ratzinger--kini paus--agar mereka menggelar sebuah pengadilan gereja terhadap Rev. Lawrence Murphy.

Para uskup mengakui, pelecehan itu diduga terjadi bertahun-tahun sebelumnya, tetapi mereka berpendapat bahwa orang-orang di Milwaukee menuntut keadilan dari gereja. Seorang korban mengatakan kepada BBC bahwa Paus telah mengetahui sebuah upaya menutup-tutupi itu »selama beberapa tahun”. Arthur Budzinski, kini 61 tahun, bilang bahwa Paus Benediktus XVI harus mengakui apa yang ia ketahui.

Gereja Katolik dibelit masalah selama beberapa bulan terakhir dengan terbongkarnya pelecehan di Eropa, gema dari skandal-skandal pedofil yang mengguncang institusi itu di Amerika delapan tahun yang lalu.

Murphy adalah pastor populer yang diduga melakukan pelecehan terhadap sekitar 200 bocah di John's School for the Deaf di St Francis, Wisconsin, antara 1950 dan 1974.

Sebuah pengadilan kanonik telah diperintahkan oleh pejabat yang kemudian menjadi deputi paus, tapi belakangan dihentikan, meskipun ada keberatan dari uskup lapis kedua.

Dari dokumen tercatat bahwa Fr. Murphy menulis surat kepada Kardinal Ratzinger mengatakan bahwa dia sakit dan ingin hidup tenang dalam »kehormatan dari kepastoran”.

Juru bicara Paus, Federico Lombardi, kemarin menyebutkan kasus Murphy telah ditangani Vatikan hanya sampai pada 1996--dua dekade setelah diocese Milwaukee di Wisconsin yang pertama kali mempelajari tuduhan-tuduhan itu, dan dua tahun sebelum sang pastor meninggal. Disebutkan pula bahwa polisi saat itu telah menginvestigasi tuduhan, tapi tak ada bukti-bukti.

Sementara itu, salah seorang pembantu top Paus, Kardinal Jose Saraiva Martins, mengatakan kepada wartawan ada »sebuah konspirasi” menggerogoti Gereja Katolik, tanpa menyebutkan secara spesifik siapa yang bertanggung jawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN