Rabu, 06 Oktober 2010

APAKAH INJIL MATIUS 27:9 SALAH? (TENTANG NUBUAT NABI YEREMIA)

oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Jonah dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

I. Apakah St. Matius Sang Penulis Injil Membuat Kesalahan?

Orang mengatakan bahwa Alkitab tidak hanya penuh dengan pertentangan, tetapi di dalamnya juga terdapat banyak kesalahan. Salah satu kesalahan yang paling sering disebutkan oleh orang-orang yang menentang Alkitab terdapat dalam Matius 27:9-10. Dalam Injil Matius 27:9-10 menggambarkan pembelian tanah milik tukang periuk dengan uang Yudas Iskariot sebagai penggenapan dari nubuat Perjanjian Lama:

“Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku”.

Kenyataan bahwa apa yang ditulis penulis Injil Matius ternyata bukannya merujuk ke Nubuat Nabi Yeremia tapi justru sebenarnya merujuk ke Kitab Nabi Zakharia 11:12-13:

“Lalu aku berkata kepada mereka: "Jika itu kamu anggap baik, berikanlah upahku, dan jika tidak, biarkanlah!" Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak. Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Serahkanlah itu kepada penuang logam!" --nilai tinggi yang ditaksir mereka bagiku. Lalu aku mengambil ketiga puluh uang perak itu dan menyerahkannya kepada penuang logam di rumah TUHAN”.

Dengan fakta ayat-ayat Kitab Zakharia11:12-13 di atas, banyak orang telah menonjolkannya sebagai bukti bahwa cerita-cerita Injil tidak selalu merupakan sejarah dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Dan ini menunjukkan bahwa Alkitab itu palsu, korup, rekayasa manusia, Alkitab asli sudah lama hilang. Apakah Matius membuat kesalahan? Sama sekali tidak.

Bahwa kata-kata dalam Injil Matius ini atau kata-kata yang sangat mirip dengan ini, terdapat di dalam nubuat yang terdapat di dalam Perjanjian Lama dan bahwa yang tertulis di situ ialah nama Nabi Zakharia tidak perlu kita ragukan lagi kebenarannya. Tetapi ini tidak berarti bahwa Nabi Yeremia sama sekali tidak menyebutkan nubuat itu, karena sudah merupakan fakta yang diketahui umum bahwa dalam Perjanjian Lama nabi-nabi yang terkemudian seringkali mengutip nubuat-nubuat yang diucapkan oleh nabi-nabi sebelumnya. Sebagai contoh, Zakharia sendiri (Zakharia 1:4) mengutip nubuat yang dikenal sebagai nubuat Yeremia (lihat Yeremia 18:11), jadi dalam bagian yang sedang kita bahas ini Zakharia mungkin juga telah mengutip dengan mengatas-namakan nubuat Yeremia. Dalam Kitab Yeremia sendiri tidak ditulis bahwa Yeremia pernah mengucapkan nubuat ini. Meskipun demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk menganggap bahwa seluruh nubuat yang diucapkan oleh Nabi Yeremia ditulis dalam Kitab Yeremia, dan Nabi Zakharia dapat dengan mudah menyebutkan nubuat Nabi Yeremia yang tidak ditulis dalam Kitab Yeremia.

Lagi pula harus kita perhatikan bahwa Nabi Zakharia sendiri berkata dalam Zakharia 7:7, "Bukankah ini firman yang telah disampaikan Tuhan dengan perantaraan para nabi yang terdahulu?"

Jadi jelas bahwa Zakharia beranggapan bahwa sebagian dari tugasnya adalah untuk mengingatkan kembali nubuat yang telah disampaikan Tuhan dengan perantaraan para nabi yang terdahulu. Ia terutama cenderung untuk mengingatkan kembali nubuat-nubuat Yeremia, karena itu di antara orang Yahudi ada pepatah yang mengatakan bahwa "roh Yeremia ada di atas Zakharia".

Jadi kalau kita perhatikan apa yang dianggap sebagai kesalahan Matius, seharusnya sama sekali bukan kesalahan kalau kita sudah menyelidiki hal itu dengan teliti.

Barangkali harus ditambahkan bahwa banyak kritikus meragukan apakah pasal-pasal penutup dari Kitab Zakharia ini benar-benar merupakan bagian dari nubuat-nubuat Nabi Zakharia. Di dalam pasal-pasal itu sendiri tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa itu merupakan bagian dari nubuat Nabi Zakharia. Memang benar selama berabad-abad pasal-pasal itu dianggap sebagai bagian dari nubuat Nabi Zakharia, tetapi di dalam Alkitab sendiri tidak ada bagian yang menunjukkan bahwa pasal-pasal itu ditulis oleh Nabi Zakharia, malah dianggap bahwa sebenarnya bagian-bagian ini bukan dinubuatkan oleh Nabi Zakharia melainkan oleh Nabi Yeremia. Tetapi ini merupakan persoalan bagi para kritikus. Seandainya terbukti bahwa hal itu memang demikian, maka ini akan makin menguatkan ketepatan dari apa yang dinyatakan Matius.

Ada pula para ahli yang mengatakan bahwa nubuat Yeremia ini disampaikan secara lisan oleh Nabi Yeremia. Akan tetapi hal ini tak dapat dibuktikan. Sejarawan Gereja Purba, Eusebius dari Kaesaria atau Eusebius al-Qaisari (265-340), menyatakan bahwa orang Yahudi mencoret bagian nubuat Yeremia ini dari Kitab Yeremia, tetapi hal ini sulit diterima mengingat orang Yahudi sangat menghormati Kitab Suci mereka, yaitu Kitab Tenakh. Para ahli Taurat begitu menghormati Kitab Suci, sehingga bila mereka menemukan sesuatu yang dianggap kesalahan sekalipun, mereka menolak untuk mengubah teks itu. Sebagai gantinya mereka membuat suatu catatan tepi.

Tetapi walaupun hal itu tidak demikian, jika memang benar Nabi Zakharia yang menuliskan nubuat itu (Zakharia 11:11-13) sebagaimana yang terdapat di dalam Alkitab, hal ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Nabi Yeremia tidak mengucapkan nubuat yang serupa yang kemudian dikutip oleh Nabi Zakharia dan yang telah dengan tepat dikutip oleh St. Matius.

Para kritikus harus menyelidiki lebih jauh lagi kalau mereka ingin membuktikan bahwa Matius telah membuat kesalahan.

Kalau pun ini memang benar suatu kesalahan, hal ini tidak meruntuhkan kewibawaan Injil Matius, karena konsep pewahyuan Kitab Suci menurut ajaran Kristen memang berbeda dengan pewahyuan Kitab Suci menurut ajaran Islam. Kitab-kitab dalam Alkitab bukanlah kitab keramat yang turun dari langit. Alkitab harus diakui, adalah sebuah kitab yang sangat manusiawi. Alkitab sebagai firman Tuhan haruslah dimaknai secara rohani, bukan secara harfiah. Seperti halnya kejadian-kejadian di alam ini, pergantian siang dan malam terjadi begitu alamiah dan sangat-sangat biasa, walaupun sebenarnya tanpa kita sadari Tuhan tetap bekerja dan mengatur semua ini. Tuhan berada di balik layar, Tuhanlah yang menjadi penentu sejarah umat manusia. Tentu saja untuk mengirim pesan-pesanNya dalam bentuk teks tertulis yang dibukukan, Ia tidak perlu mempertontonkan keajaiban-keajaiban secara berlebihan, cukuplah ia bekerja di dalam diri para penulisnya secara sangat manusiawi, bahkan sampai para penulisnya sendiri pun tidak menyadari kalau dirinya telah dipakai oleh Tuhan. Tentu saja, adanya kesalahan tulis masih dimungkinkan dan Tuhan mengijinkan hal itu sebagai bagian dari pemberian kebebasan penuh kepada manusia tanpa intervensi yang berlebihan, tetapi secara immanen, Ia tetap mencegah para penulis itu dari kesalahan-kesalahan yang fatal.

Kelirunya penyebutan nama nabi sama sekali tidak menghilangkan makna yang sesungguhnya dari apa yang hendak disampaikan Tuhan, bahwa apa yang dinubuatkan itu memang pernah diucapkan oleh nabi di zaman Perjanjian Lama. Dalam Kekristenan, Alkitab adalah Firman Tuhan secara rohani. Secara lahiriah, Alkitab sangatlah manusiawi, tidak dikeramatkan atau dipandang muluk-muluk sebagai Kitab Suci yang diturunkan dari langit. Dan lihatlah, betapa jujurnya orang Kristen sejak abad pertama sampai hari di mana kita sekarang hidup, mereka sama sekali tidak mengubah atau mencoba mengkoreksi tulisan Rasul Matius tersebut walaupun 'kelihatan keliru'.

II. Kebenaran Nubuat Nabi Zakharia dan Nabi Yeremia dalam Injil Matius

Matius 27:9:

“Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,”

Alkitab bahasa Inggris terjemahan KJV berbunyi sebagai berikut:

“Then was fulfilled that which was spoken by Jeremy the prophet, saying, And they took the thirty pieces of silver, the price of him that was valued, whom they of the children of Israel did value;”

Terjemahan TR dalam bahasa Yunani:

“τοτε επληρωθη το ρηθεν δια ιερεμιου του προφητου λεγοντος και ελαβον τα τριακοντα αργυρια την τιμην του τετιμημενου ον ετιμησαντο απο υιων ισραηλ”

Translit., Interlinear (terjemahan dalam bahasa Indonesia):

tote {KEMUDIAN} eplêrôthê {DIPENUHI} to {(apa yang)} rêthen {DIKATAKAN} dia {MELALUI} ieremiou {YEREMIA} tou prophêtou {NABI} legontos {BERKATA} kai {DAN} elabon {MEREKA MENGAMBIL} ta tria konta{TIGA PULUH} arguria {uang perak } tên timên {HARGA} tou tetimêmenou{TELAH DITETAPKAN HARGA} on {(kepadanya} yang} etimêsanto {MEREKA MENETAPKAN HARGA} apo{DARI} uiôn {KETURUNAN-KETURUNAN} israêl {ISRAEL}

Matius 27:10:

”dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku."

KJV: ”And gave them for the potter's field, as the Lord appointed me”.

TR: ”και εδωκαν αυτα εις τον αγρον του κεραμεως καθα συνεταξεν μοι κυριος“

Translit., Interlinear:

kai {LALU} edôkan {MEREKA MEMBERI} auta {(uang) INI} eis {UNTUK} ton agron {TANAH} tou kerameôs {TUKANG TEMBIKAR} katha {SEPERTI} sunetaxen {MEMESANKAN} moi {KEPADAKU} kurios {TUHAN}

Hal yang luar biasa dari kutipan ini adalah bahwa sesungguhnya sebagian besar darinya sebetulnya berasal dari Kitab Nabi Zakhariah 11:12-13 yang berbunyi sebagai berikut:

“Lalu aku berkata kepada mereka: ‘Jika itu kamu anggap baik, berikanlah upahku, dan jika tidak, biarkanlah!’. Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak. Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadaku: ’Serahkanlah itu kepada penuang logam!’ – nilai tinggi yang ditaksir mereka bagiku. Lalu aku mengambil ketiga puluh uang perak itu dan menyerahkannya kepada penuang logam di rumah TUHAN”.

Persamaan Matius 27:9-10 ini dengan Zakharia 11:12-13:

a) Pekerjaan Yesus maupun Zakharia sama-sama dihargai rendah.
Kalau dalam Zakharia 11:13 ada kata-kata ‘nilai tinggi’ [NIV: the handsome price (= harga yang bagus)], maka itu merupakan suatu ejekan / sindiran belaka.
b) Sama-sama dihargai 30 keping perak.
c) Uangnya sama-sama dilempar ke Bait Allah (ay 5 bdk. Zakharia 11:13).
Kata-kata ‘serahkanlah’ dan ‘menyerahkannya’ dalam Zakharia 11:13 versi Kitab Suci Indonesia, salah terjemahan.
Zakharia 11:13 (NIV): “And the Lord said to me, ’Throw it to the potter’ - the handsome price at which they priced me! So I took the 30 pieces of silver and threw them into the house of the Lord to the potter” (= dan Tuhan berkata kepadaku: ‘Lemparkan itu kepada tukang periuk’ - harga yang bagus untuk mana mereka menilai aku. Lalu aku mengambil ke 30 keping perak itu dan melemparkan mereka ke dalam rumah Tuhan kepada tukang periuk).
d) Dalam kedua peristiwa ini uang akhirnya jatuh ke tangan tukang periuk.

• Dalam Matius, uang dibelikan ‘tanah tukang periuk’, sehingga jelas dibayarkan kepada tukang periuk.
• Dalam Zakharia, uang juga dilemparkan kepada tukang periuk.

Kitab Suci Indonesia lagi-lagi salah karena menterjemahkan ‘penuang logam’.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘potter’ (= tukang periuk / penjunan).

Sekarang persoalannya, kalau bagian ini cocok dengan Zakharia 11:12-13, mengapa dalam ayat 9 ini Matius tidak mengatakan ‘Nabi Zakharia’ tetapi ‘Nabi Yeremia’? Ada perbedaan cukup berarti antara ayat-ayat Kitab Zakharia dengan kutipan dalam Injil Matius, yang menyuruh sang nabi membayar – atau sertidak-tidaknya memberikan – uang pembelian, lalu menyuruhnya menyerahkan uang itu untuk mendapat sebidang tanah dan bukan memberikannya kepada tukang periuk secara pribadi. Bagaimanapun, seluruh maksud dari kutipan dalam Injil Matius diarahkan pada pembelian sebidang tanah. Ayat dalam Kitab Nabi Zakharia ini tidak mengatakan apa-apa mengenai pembelian sebidang tanah; dan sesungguhnya Nabi Zakharia bahkan tidak menyebut sama sekali tentang sebidang tanah.

St. Matius penulis Injil, mencampurkan Zakharia 11:12-13 dengan Yeremia 18:2-12 dan 19:1-15 dimana disebutkan bahwa nabi memecahkan buli-buli tukang periuk di lembah Hinom sebagai tanda penghakiman atas orang Yehuda yang “telah membuat tempat ini penuh dengan darah orang-orang yang tidak bersalah”. Jika kita melihat Kitab Yeremia 32:6-9, maka kita menemukan sang nabi membeli sebidang tanah di Anatot dengan sejumlah syikal. Kitab Yeremia 18:2 menceritakan sang nabi sedang mengamat-amati seorang tukang periuk sedang membuat bejana-bejana tanah liat di rumahnya. Kitab Yeremia 19:2 menunjukkan bahwa di dekat Bait Allah terdapat seorang tukang periuk yang mempunyai sebuah tempat pembuatan periuk di lembah Hinom. Yeremia 19:11 berbunyi: ”Beginilah Firman TUHAN semesta alam: ’Demikianlah akan Kupecahkan bangsa ini dan kota ini, seperti orang memecahkan tembikar tukang periuk, sehingga tidak dapat diperbaiki lagi. Dan Tofet akan menjadi tempat penguburan’”. Sebab itu, tampaknya tindakan Nabi Zakharia menyerahkan uang pembeliannya kepada tukang periuk itu mengacu pada tindakan simbolis Nabi Yeremia pada zaman dahulu. Tetapi, hanya Yeremia yang menyebutkan ”tanah” milik tukang periuk – yang merupakan pokok utama dari kutipan Injil Matius.

Persamaan antara Matius 27:9-10 dengan Yeremia 19:1-15 adalah:

1. Sama-sama ada pencurahan darah orang yang tak bersalah (Mat.27:4; Yer. 19:4).
2. Sama-sama melibatkan tokoh-tokoh agama Yahudi (Mat. 27:3,6,7; Yer. 19:1).
3. Sama-sama ada tukang periuknya (Mat. 27:7,10; Yer. 19:1,11).
4. Tofet / lembah pembunuhan dalam Yer. 19:6 menurut tradisi adalah sama dengan tanah tukang periuk / tanah darah dalam Mat. 27:7.
5. Sama-sama ada tempat penguburan (Mat. 27:7; Yer. 19:11).

III. Penulisan Nubuat dengan Latar Belakang Rabbinik Yahudiah dan Khas ke-Yahudiannya

St. Matius adalah seorang Yahudi, pemungut cukai (petugas pajak pada zaman itu) yang menjadi salah satu dari kedua belas rasul Yesus. Jika Injil Markus ditulis untuk orang Romawi (Kristen non Yahudi) dan Injil Lukas untuk Teofilus dan semua orang percaya bukan Yahudi, maka Injil Matius ditulis untuk orang-orang Kristen dengan kebangsaan Yahudi yang tentu saja berasal dari agama Yahudiah (Yudaisme). Orang-orang ini mengenal Kitab Perjanjian Lama (Kitab TANAKH) dengan sangat baik. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau dalam Injil Matius kita temukan begitu banyak kutipan Perjanjian Lama, termasuk nabi-nabi kaum Yahudi. Sehingga tidaklah mengherankan kitab Matius ini merupakan Injil yang mencolok sifat ke-Yahudiannya.

Tujuan St. Matius menulis Injil ini adalah untuk meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias yang dinubuatkan oleh nabi-nabi Israel pada zaman Perjanjian Lama, yang sudah lama dinantikan. Latar Belakang Yahudi dari Injil ini tampak dalam banyak hal, termasuk ketergantungannya pada penyataan, janji, dan nubuat Perjanjian Lama (PL) untuk membuktikan bahwa Yesus memang Mesias yang sudah lama dinantikan, dan petunjuknya kepada berbagai kebiasaan Yahudi tanpa memberikan penjelasan apa pun (berbeda dengan kitab-kitab Injil yang lain), termasuk dalam cara penulisan nubuat nabi-nabi. Sekalipun demikian, Injil ini tidak semata-mata untuk orang Yahudi. Seperti amanat Yesus sendiri, Injil Matius pada hakikatnya ditujukan kepada seluruh gereja, serta dengan saksama menyatakan lingkup universal Injil (mis. Mat 2:1-12; Mat 8:11-12; Mat 13:38; Mat 21:43; Mat 28:18-20). Sebagai seorang Yahudi, St. Matius pasti juga sangat mengenal isi Kitab TANAKH, tradisi, kebiasaan dan tata cara penulisan dan pengutipan ayat-ayat naskah-naskah Kitab para Nabi yang dilakukan secara khas oleh para rabbi Yahudi pada masanya.

Dari keterangan di atas nampak bahwa St. Matius sedang menggabungkan dan merangkum unsur-unsur simbolisme yang ada dalam kitab nabi-nabi baik dari Kitab Zakharia maupun dari Kitab Yeremia. Namun, karena Nabi Yeremia adalah nabi yang lebih menonjol di antara dua nabi tersebut maka dia memprioritaskan nama Nabi Yeremia daripada nama nabi kecil ini, yaitu Nabi Zakharia. Jadi sang penulis, yaitu St. Matius sengaja menyebut salah satu sumber saja yaitu Nabi Yeremia, dan tidak merasa perlu menyebut Nabi Zakaria sebab para pembaca dapat jelas melihat bahwa ayat itu dikutip dari Kitab Zakaria. Hal ini berkaitan dengan struktur sistematika/pengorganisasian Kitab suci orang Yahudi yang disebut תנך - TANAKH yang adalah singkatan dari Torah - Nevi'im – Ketuvim dan praktik yang lazim dalam kesusasteraan abad pertama Masehi, yaitu memprioritaskan nama nabi-nabi yang lebih terkenal dan lebih besar daripada nama nabi-nabi kecil.

Dalam Talmud Babylonia Baba Bathra 14b-15a, tentang Urut-urutan Kitab Suci, Lawrence H. Schiffman, Teks-teks dan Tradisi-tradisi, Ktav, Hoboken 1998, p.118-119, dikatakan:

Para Rabbi dari Talmud, dalam baraita, mendaftarkan urutan kitab-kitab dalam Kitab Suci Yahudi (TENAKH) dengan cara yang berbeda bahkan dari Kitab-kitab Yahudi kemudiannya. Bagian ini menunjukkan bahwa kanon tripartit adalah norma. Para Rabbi juga berhubungan dengan pertanyaan siapa yang benar-benar melakukan berbagai penulisan Kitab-kitab tersebut.

Selanjutnya dikatakan:

Teno rabanan (para Rabbi kita mengajarkan):

Urutan para nabi (Nevi'im) adalah: Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja, Yeremia, Yehezkiel, Yesaya, dan Dua Belas Nabi Kecil. Sekarang, Hosea urutan pertama, seperti ada tertulis, "Tuhan pertama berbicara kepada Hosea" (Hosea 1:2). Tapi, apakah Ia pertama kali berbicara kepada Hosea? Apakah tidak ada sejumlah nabi-nabi dari Musa sampai Hosea? Namun, Rabbi Yohanan mengatakan bahwa ia adalah yang pertama dari empat nabi yang bernubuat pada waktu itu, dan mereka ini adalah: Hosea, dan Yesaya, Amos, dan Mikha. Lalu Hosea haruskah ditempatkan pada urutan pertama? Karena bernubuat itu ditulis (dalam koleksi bersama-sama) dengan Hagai, Zakharia, dan Maleakhi, dan Hagai, Zakharia, dan Maleakhi adalah yang terakhir dari para nabi, Hosea dianggap bersama-sama dengan mereka. Maka apakah seharusnya ditulis secara terpisah dan ditempatkan sebelumnya? Karena kecil, itu mungkin hilang. Sekarang, Yesaya adalah sebelum Yeremia dan Yehezkiel, maka Yesaya harus telah ditempatkan pertama? Raja-raja berakhir dengan cerita kehancuran, dan Yeremia seluruhnya adalah catatan-laporan dari kehancuran, dan Yehezkiel dimulai dengan kehancuran dan diakhiri dengan penghiburan, dan Yesaya sepenuhnya penghiburan. Jadi, kita berdampingan kehancuran kepada kehancuran dan penghiburan kepada penghiburan.

Berikut adalah struktur sistematika/pengorganisasian Kitab TANAKH (תנך), yaitu Torah - Nevi'im - Ketuvim.

A. Kitab TORAH/ Taurat (תורה) terdiri dari:

1. Genesis - בראשית - BERESYIT ("pada mulanya", Kejadian)
2. Exodus - שמות - SYEMOT ("nama-nama", Keluaran)
3. Leviticus - ויקרא - VAYIQRA ("dan Dia memanggil", Imamat)
4. Numbers - במדבר - BEMIDBAR ("di padang gurun", Bilangan)
5. Deuteronomy - דברים - DEVARIM ("perkataan-perkataan", Ulangan)

B. Kitab Nevi'im (נביאים; Nabi-nabi) terdiri dari:

1. NEVI'IM RISYONIM (נביאים ראשונים; Nabi-nabi pertama)

1. Joshua - יהושע - YEHOSYUA' (Yosua)
2. Judges - שופטים - SYOFETIM (Hakim-hakim)
3. Samuel (I & II) - שמואל - SYEMU'EL (1 & 2 Samuel)
4. Kings (I & II) - מלכים - MELAKHIM (1 & 2 Raja-raja)

2. NEVI'IM 'AKHARONIM (נביאים אחרונים; Nabi-nabi kemudian)

1.. Isaiah - ישעיה -YESYA'YAHU (Yesaya)
2. Jeremiah - ירמיה - YIRMEYAHU (Yeremia)
3. Ezekiel - יחזקאל - YEKHEZQ'EL (Yehezkiel)
4. The Twelve Minor Prophets - תרי עשר - TREI 'ASAR (Dua belas Nabi-nabi kecil), terdiri atas satu kitab:
a. Hosea - הושע - HOSYEA' (Hosea)
b. Joel - יואל - YO'EL (Yoel)
c. Amos - עמוס - 'AMOS (AMOS)
d. Obadiah - עובדיה - 'OVADYAH (Obaja)
e. Jonah - יונה - YONAH (Yunus)
f. Micah - מיכה - MIKHAH (Mikha)
g. Nahum - נחום - NAKHUM (Nahum)
h. Chavaquq - חבקוק - KHABAQUQ (Habakuk)
i. Ts'phanyah - צפניה - TSEFANYAH (Zefanya)
j. Haggai - חגי - KHAGAI (Hagai)
k. Z'kharyah - זכריה - ZEKHARYAH (Zakharia)
l. Malakhi - מלאכי - MAL'AKHI (Maleakhi)

C. Kitab KETUVIM (כתובים; Tulisan-tulisan) terdiri atas:

1. Psalms - תהלים - TEHILIM (Mazmur)
2. Proverbs - משלי - MISYLEI (Amsal)
3. Job - איוב- 'IYOV (Ayub)
4. Song of Songs - שיר השירים - SYIR HASYIRIM (Kidung Agung)
5. Ruth - רות - RUT (Rut)
6. Lamentations - איכה - 'EYKHAH (Ratapan)
7. Ecclesiastes - קהלת - QOHELET (Pengkhotbah)
8. Esther - אסתר - 'ESTER (Ester)
9. Daniyel - דניאל - DANI'EL (Daniel)
10. Ezra-N'chemyah - עזרא ונחמיה - 'EZRA'-NEKHEMYAH (Ezra-Nehemia)
11. Chronicles (I & II) - דברי הימים - DIVREY HAYAMIM (1 & 2 Tawarikh)

Beberapa penafsir beranggapan bahwa nama Kitab Yeremia, adalah nama pertama dalam deretan Kitab nabi-nabi Perjanjian Lama (Nevi’im Akharoniim; nabi-nabi kemudian), maka nama Yeremia dianggap mewakili seluruh bagian (Nevi’im Akharoniim) itu termasuk Kitab Zakharia (Reff Talmud, Baba Bathra 14b, J.B. Lighfoot, Horae Hebraicae et Talmudicae, II, 362) mengatakan bahwa Kitab Yeremia sebagai kitab pada urutan yang pertama dalam susunan kitab-kitab para nabi menurut rabbi-rabbi zaman dahulu, walaupun seringkali Kitab Yesaya juga dianggap sebagai kitab pertama). Jadi St. Matius mengutip dari kumpulan kitab-kitab para nabi ini, serta menyebutkan Nabi Yeremia sebab dialah yang pertama dan oleh karenanya menjadi petunjuk. Seperti halnya “Mazmur” mewakili bagian Kitab Ketuvim (tulisan-tulisan) karena Mazmur adalah kitab pertama dalam bagian ini (reff Lukas 24:44).

Cara yang sama diikuti oleh Injil Markus 1:2-3 yang hanya menyebut Yesaya sebagai sumber dari kutipan gabungan dari Maleakhi 3:1 dan Yesaya 40:3. Dalam kasus itu juga, yang disebut namanya ialah yang lebih terkenal di antara dua nabi tersebut. Oleh karena hal semacam itu merupakan praktik yang lazim dalam kesusasteraan abad pertama Masehi, yaitu ketika Kitab-kitab Injil ditulis, maka para penulisnya tidak mungkin dapat dipersalahkan karena tidak mengikuti kebiasaan zaman modern untuk memberikan identifikasi serta pencantuman catatan kaki secara persis (yang tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah sebelum dibuat penyalinan dari gulungan kitab menjadi kodeks dan setelah ditemukannya percetakan).

Jadi kesimpulannya di dalam Injil Matius 27:9-10 ini, St. Matius memadukan dan meringkaskan unsur-unsur simbolisme nubuat, satu dari Kitab Yeremia (Yeremia 32:6-9) dan yang satunya dari Kitab Zakharia (Zakharia 11:12-13). Kemudian Injil Matius menyebutkan nama nabi yang lebih tua dan lebih terkenal sebagai sumbernya, suatu kebiasaan pada masanya yang sering dipakai ketika mengutip ayat-ayat dari kitab para nabi. Inilah kebiasaan rabbinik Yahudiah pada masa itu.

Catatan:

Baraita:

Arti harafiah dari kata Aram ’baraita’ (jamak: baraitot) ialah: ’berdiri di luar’. Inilah ucapan-ucapan dari para Tana’im (=ahli-ahli Kitab, permulaan tarikh Masehi-220) yang tidak memperoleh tempat dalam Misyna (kumpulan pengajaran, bahan pelajaran dalam yeshivah, beth ha-midrasy yaitu madrasah Yahudi). Dalam Talmud Babel, baraita itu sering diacu. Baraita selalu didahului ungkapan: ’teno rabanan’ artinya: ’para rabi telah mengajarkan’. Kata tanya atau tena berarti: telah diajarkan. Banyak baraitot dapat ditemukan kembali dalam Talmud. Baraitot itu bisa dianggap sebagai halakhot (himpunan perintah-perintah dan peraturan-peraturan untuk tingkah-laku dalam agama Yudaisme) yang berdiri di luar Misyna.

Kata baraita juga muncul dalam nama yang diberikan pada himpunan-himpunan tertentu, misalnya Baraita Rabi Ada, yang membahas perkara-perkara kalender; Baraita Rabi Eliezer, yang lebih dikenal dengan nama Pirke de Rabi Eliezer, yang membahas tentang didirikannya Kemah suci; dan Baraita de Nida, yang dengan panjang lebar membicarakan perintah-perintah dari Kitab Imamat 15:19-33. Sebenarnya Tosefta (himpunan penjelasan-penjelasan dan ucapan-ucapan dari para Tana’im, yang berkaitan erat dengan Misyna) juga berupa himpunan baraitot.

Referensi

1. Drs. R.C. Musaph – Andriesse. Sastra Para Rabi Setelah Taurat. Karangan Para Rabi Dari Taurat Sampai Kabala. Diindonesiakan oleh Henk ten Napel. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. Cetakan pertama: 1991.

2. From Wikipedia, the free encyclopedia. Tanakh : http://en.wikipedia.org/wiki/Tanakh.

3. Gleason L. Archer. Encyclopedia of Bible Difficulties. Foreword by Kenneth S. Kantzer. The Zondervan Corporation. 1982.

4. Josh Mc Dowell and Don Stewart. Jawaban Bagi Pertanyaan Orang yang Belum Percaya. Diterbitkan oleh: Here’s Life Publishers, Inc. P.O. Box 1676. San Bernardino, CA. 92402. Penerbit Gandum Mas. Malang.

5. L. Suharyo Pr. Membaca Kitab Suci. Mengenal Tulisan Perjanjian Baru. Lembaga Biblika Indonesia. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Cetakan pertama. 1991.

6. Lawrence H. Schiffman, Texts and Traditions, The Center for Online Judaic Studies. COJS.org: Babylonian Talmud Bava Batra 14b-15a: The Order of Scripture, Ktav, Hoboken 1998, p.118-119.

7. Dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN