Rabu, 23 November 2011

Gereja Orthodox Indonesia: Menjadikan Bumi Seperti Surga

Oleh : Web Warouw
Sinar Harapan 2003

Semua agama seharusnya mencintai kedamaian. Islam berarti damai, demikian halnya shalom bagi umat Kristiani dan santi bagi umat Hindu. Pada dasarnya, semua orang ingin damai. Visi dasar semua agama adalah perdamaian. Dalam Gereja Orthodox, perdamaian adalah inti dari ajaran, karena Firman Allah yang adalah Allah menjadi manusia mendamaikan dua yang bertentangan, yaitu yang ilahi dan yang manusiawi, yang ada dalam diri Yesus Kristus. Pesan damai yang dibawa Yesus Kristus merupakan pesan utama pada situasi krisis perdamaian seperti saat ini.

Ajaran memang tidak bisa dikompromikan, tetapi dalam ajaran pasti terkandung pesan-pesan damai. Untuk itu, kita harus rela merangkul perbedaan paham, karena dalam kesadaran, kita ini satu bangsa dan satu entitas manusia. Di bawah ini cuplikan wawancara SH dengan Ketua Umum Gereja Orthodox Indonesia (GOI) Romo Arkhimandrit Daniel Bambang Dwi Byantoro.

Sekarang orang meributkan perbedaan, bagaimana pendapat Anda?
Pluralisme di Indonesia adalah kenyataan. Kalau kita menekankan pada ekslusivitas masing-masing, yang terjadi adalah konflik. Kalau kita bertengkar sendiri, negara kita akan ambruk, dunia akan hancur. Masing-masing pimpinan masyarakat seharusnya mendahulukan kepentingan umum ketimbang kepentingan kelompok atau pribadi.

Bagaimana masa depan Indonesia?
Tergantung pada komitmen kita kembali. Satu-satunya jalan adalah kembali pada Pancasila. Kita harus rela berdampingan dengan mengedepankan persatuan dengan mengutamakan kepentingan bersama. Bayangkan kalau masing-masing memaksakan hukum agamanya yang berlaku, tidak akan ada harmonisasi.
Kita harus merumuskan kembali Pancasila agar tidak semu seperti dulu. Founding fathers sudah menegaskan komitmen ini. Walaupun berbeda agama, budaya, dan suku bangsa, kita sepakat harus hidup bersama dan tidak saling mengganggu.

Bagaimana dengan soal agama dan politik?
Agama harus menyadari tempatnya sebagai pemberi suara hati nurani, suara moral, dan suara kenabian. Sebagai pemimpin spiritual pada umat. Agama tidak bisa dicampur dengan politik. Kalau politik sudah berjalan miring, agama harus meluruskan atau menyerukan untuk berhenti. Kalau agama memberikan suara moral, negara harus mendengarkan, bukan menjadikan agama sebagai alatnya, atau mengatur bagaimana orang beragama.

Beragama adalah hak yang diberikan Tuhan, bukan pemberian pemerintah. Pemerintah jangan bermain menjadi Tuhan. Pemerintah harus menjalankan hukum Tuhan sesuai dengan perikeadilan, kemanusiaan, dan kebebasan serta damai sejahtera, bukan dengan paksaan dan kekerasan. Lima sila dalam Pancasila itu universal ada di semua agama. Pancasila adalah universal sudah mencakup semua agama dan keyakinan yang kita semua setujui.

Bagaimana dengan SKB dan Forum Komunikasi Umat Beragama?
Seharusnya agama adalah masalah hati nurani individu. Biarkanlah orang memilih agama dan jangan diatur oleh pemerintah. Sepertinya, pemerintah tidak percaya kedewasaan orang beragama. Kita dianggap murid taman kanak-kanak yang harus diatur oleh negara.

Di Amerika tidak ada seperti ini dan tidak ada konflik agama. Kalau pemerintah tidak mencampuri, tidak ada konflik. Kalau diberikan kebebasan bangsa ini cukup dewasa untuk beragama. Peraturan dari pemerintah inilah yang selalu menimbulkan konflik, seperti di Ambon dan Poso. Semua akibat campur tangan oknum pemerintah. Agama dicampur dengan politik dan agama dipolitisasi. Ini kacau.

Pada tahun 1970-an kehidupan beragama di Indonesia lebih rukun. Keluarga saya ada yang Islam, Buddha, Hinddu, dan Protestan, tapi kami saling mengunjungi, dan saling menyalami pada hari raya masing-masing sebagai rasa hormat. Dalam tatanan akar rumput, saya yakin umat lebih rukun dan saling menghormati.

Kekacauan terjadi di elite pimpinan agama, dibumbui dengan politik. Elite politik dan agama kalau punya kepentingan untuk memaksakan kehendak, konflik yang muncul. Semua pemimpin agama sebenarnya bisa menuntun umat pada kedamaian dan keadilan. Kalau demikian bangsa ini akan kuat kembali.
Bangsa ini tidak bisa eksklusif, bangsa ini harus inklusif. Kita harus rela dengan perbedaan suku, agama, dan golongan budaya. Kita harus rela kembali pada bangsa Indonesia yang semula, yang merupakan persatuan bangsa-bangsa kecil menjadi bangsa yang besar. Kita harus menghormati perbedaan-perbedaan di dalamnya.

Bagaimana sebenarnya asal gereja Orthodox?
Gereja Orthodox berpegang pada prinsip gereja mula-mula yang didirikan Kristus sendiri. Orthodox berasal dari kata Orthos yang berarti lurus, dan doxa artinya pengajaran, arti Orthodox adalah pengajaran yang lurus. Kata Orthodox muncul untuk membedakan dengan Heterodox, yaitu bidat-bidat (ajaran yang menyimpang).

Jadi Ortodox bukan berarti kaku, terbelakang, atau kuno, tetapi adalah jalan yang lurus sebagai lawan dari ajaran yang tidak lurus yang muncul pada waktu itu. Sejak zaman Yesus, para rasul menyebarkan Injil dari Yerusalem, ke Siria, Turki, Yunani, dan akhirnya masuk ke Roma.

Jadi kekristenan itu berasal dari timur, tepatnya Asia Barat meluas ke barat, Eropa. Pada zaman itu, ada dua kekristenan, yaitu kekristenan timur dan kekristenan barat yang berpusat di Roma dan akhirnya ke Eropa. Kekristenan timur pusatnya di Konstantinopel (sekarang Istambul) Turki, Alexandira di Mesir, Antiokia di Siria, dan Yerusalem, di tanah Palestina.

Dari situlah gereja Timur dan Barat berjalan sendiri-sendiri dengan tradisi masing-masing. Gereja di timur disebut Gereja Orthodox, yang berkembang ke Eropa timur, yaitu Rusia, Rumania, Yugoslavia, dan daerah Timur Tengah.

Perkembangannya di Indonesia?
Gereja Orthodox Indonesia yang sekarang tidak ada hubungannya dengan orang-orang Orthodox yang masuk pada tahun 1930-an. Awalnya, saya belajar di Korea Selatan. Dan pada tahun 1978 dibantu oleh Gubernur Sulawesi Utara, Willy Lasut untuk belajar tentang sistem gunung doa untuk bisa dipraktikkan di Manado. Di Korea, tahun 1983 saya bertemu dengan Misi Gereja Orthodox Korea dan meyakini ini yang saya cari.

Tahun 1988 saya pulang ke Indonesia. Pertama saya mendekati Dirjen Katholik, tetapi mereka mengatakan hanya melayani tradisi Roma. Saya berpuasa dan berdoa 30 hari dan atas pertolongan Tuhan saya ditemukan dengan Kakanwil Depag di Semarang, Bapak Prawoto dan Bapak Sutarno, dari Solo. Merekalah yang meletakkan Gereja Orthodox di bawah Dirjen Bimas Kristen-Protestan untuk perlindungan hukum pada tahun 1991, di bawah Depag sampai sekarang.

Apa yang khas dari ajaran Kristen Orthodox?
Di Katholik ada pengatur ajaran, di Orthodox tidak ada. Pilihan berselibat (tidak menikah) pada pelayan Tuhan tidak diatur dalam Orthodox. Jadi pelayan boleh menikah boleh tidak.

Gereja Orthodox mengenal dogma, yaitu dogma Tritunggal Maha Kudus. Tritunggal bukan dogma yang mati, tetapi menjadi progam sosial bermasyarakat dan menjadi landasan di muka bumi karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Posisi Yesus Kristus?
Manusia jatuh ke dalam dosa dan dikuasai kematian bukan hanya fisik, tetapi juga rohani. Kematian fisik adalah akibat kematian rohani. Manusia sebenarnya diciptakan bukan untuk mati. Manusia diciptakan untuk mengalami kekekalan Allah. Tetapi kerena manusia gagal, Allah ingin memulihkan kembali dengan jalan menyingkirkan kematian.

Yang bisa melakukan ini adalah Dia yang tidak terkalahkan oleh kematian, yaitu Firman-Nya. Allah mengirimkan Firman-Nya dan masuk ke dalam perut Maria dan mengambil kemanusiaannya, disatukan dengan FirmanNya. Maka lahirlah manusia Yesus Kristus.

Manusia Yesus bukan setengah Allah dan setengah manusia, Yesus adalah Firman Allah yang mempunyai esensi di dalam Allah. Sebagai manusia, Dia sama dengan kita dalam segala hal. Dari sisi keilahian Dia adalah Allah. Dengan demikian, yang Ilahi sudah merangkul yang duniawi-daging, berasal dari dunia.

Maka dari itu, kehidupan rohani tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan duniawi. Dengan prinsip itu, moral dan spiritual dari sorga tidak dipisahkan dengan di bumi, karena landasannya adalah Firman Allah menjadi manusia. Tujuannya adalah untuk memulihkan kodrat manusia yang rusak.

Maka kerajaan di surga datang ke bumi untuk memulihkan kerusakan di bumi sehingga di bumi ini bisa mengalami pemulihan yang berdasarkan inspirasi dari surga. Maka tidak ada dikotomi antara rohani dengan jasmani atau sosial.
Dikotomi artinya menolak inkarnasi, Firman jadi manusia, padahal inkarnasi itu adalah menyatukan yang berseberangan antara manusia di bumi dan diri Allah. Di bumi harus bekerja secara harmoni dengan surga. Kita tidak bisa memisahkan kerajaan surga dan bumi sendiri.

Kemulian yang Illahi itu harus mempengaruhi bumi. Maka bunyi doanya, jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di surga. Ini tugas kita semua untuk memuliakan bumi seperti surga. Tidak ada politik!

Referensi

Christian Studies for Peace. Gereja Orthodox Indonesia: Menjadikan Bumi Seperti Surga. http://christianforpeace.blogspot.com. 5 Desember 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN