Senin, 03 Mei 2010

Pendidikan Yang Tidak Lazim

Amsal 1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Amsal1:8 Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu

Amsal 4:13 Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.

Amsal 19:20 Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.

Kita sering mendengar kata pendidikan. Kalau sudah bicara tentang pendidikan, pasti kita teringat akan sekolah. Sekolah merupakan tempat di mana anak-anak mendapatkan ilmu dan pendidikan sekuler untuk bekal di masa depan. Sekarang telah banyak model-model sekolah dari yang berbasis umum, sampai agama yang mendominasi di kota-kota besar. Tapi tahukah anda bila sekolah sekarang merupakan tempat mendapatkan pendidikan yang tidak lazim?

Di sekolah tingkat sma/smk umum, penekanan terhadap religiositas mulai marak terjadi. Terbukti dengan adanya pelaporan murid kepada orang tuanya atas tindakan sang guru pengajar yang tidak mengajarkan pendidikan dibidang studinya, justru mengajarkan untuk menjelekkan dan menyudutkan suatu agama tertentu.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Ini merupakan ketidakprofesionalan pihak sekolah maupun guru dalam menjalankan roda pendidikan. Yang menjadikan pelajaran umum, menjadi pelajaran yang berbau sara terhadap siswanya. Begitupun juga, dalam pelajaran agama yang sejatinya mengajarkan toleransi dan akhlak mulia, tetapi mengajarkan untuk membenci/menyudutkan agama lainnya.

Suatu contoh yang diambil dari kisah nyata. Seorang guru mata pelajaran sosiolagi disalah satu SMAN di Surabaya yang mengajarkan bahwa “Keselamatan bukan dibawah oleh Salib”. Menurut anda para pembaca, apakah tindakan ini dibenarkan? Bukankah ini mengajarkan kebencian terhadap agama tertentu? Apakah guru sosiolagi mengajarkan materi seperti itu? Apalagi di dalam satu kelas terdapat berbagai kepercayaan yang dianut para siswanya. Ini merupakan kebobrokan guru yang sangat tidak terpuji.

Dan juga seorang guru agama yang mengajarkan bahwa “Agama Nasrani adalah sesat, maka kita harus menjahuinya atau bila perlu kita menjihadinya”. Apakah pendidikan agama Islam selalu mengajarkan untuk menbenci atau merendahkan agama lainnya? Agama Islam merupakan agama yang mengajarkan toleransi dan saling menghormati satu sama lain. Akan tetapi kenapa bisa jadi seperti ini?

Kita semua paham bahwa sekolah merupakan sarana umum yang didirikan pemerintah maupun swasta untuk menunjang pendidikan anak-anak di Indonesia. Berbagai macam agama dan kepercayaan ada di Indonesia. Indonesia bukanlah negara yang berbasis syariat agama tertentu. Indonesia merupakan negara yang demokrasi di dalam Pancasila. Jadi kebebasan beragama haruslah ditegakkan di negeri ini, termasuk di lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan merupakan sarana bagi para pelajar untuk menimbah ilmu. Bila ilmu yang didapatkan salah atau melenceng dari norma-norma sosial, apakah tidak berbahaya untuk psikologi anak didik kelak?

Penananam kebencian terhadap kepercayaan tertentu pada anak didik akan berdampak buruk pada kehidupan dewasa kelak. Kefanatikan yang tidak berdasar, menghalalkan membunuh seseorang yang berbeda keyakinan, sampai menjerumus ke tindak terorisme.Tindakan-tindakan ini tidak lain karena pendidikan di sekolah terutama, agama yang seharusnya mengajarkan toleransi justru mengajarkan kebencian.

Seharusnya, semua sekolah yang tidak berbasis pada agama maupun berbasis pada agama, tetap menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama. Di sekolah umum, haruslah ada rasa saling mengasihi satu sama lain tanpa memandang agama tertentu. Semuanya harus dilakukan ikhlas dari lubuk hati, bukan hanya karena dilhat orang atau sungkan dengan pemeluk agama lain didepannya. Di sekolah yang berbasis agama, juga harus memelihara tolerensi umat beragama sekalipun sekolah tersebut menganut agama mayoritas. Agama mayoritas tidak ver bila menekan agama minoritas di sekolah yang berbais agama. Karena sekolah yang berbasis agama biasanya menanamkan nilai luhur pada peserta didiknya.

Kiranya kita mendapatkan pencerahan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi beragama. Dan juga untuk instansi pendidikan supaya juga menjunjung tinggi nilai demokrasi tanpa membedakan suku, agama, ras maupun gender.

Narasi

Sumbangan

Paguyuban masyarakat Tionghoa Surabaya serta Persekutuan GerejaInjili Surabaya, Gereja Bethani Surabaya, dan Persekutuan Visi Misi Kristen Surabaya pada hari selasa (2/1) menyerahkan sumbangan uang kepada Suharmin, orang tua almarhum Riyanto, anggota Banser yang tewas akibat ledakan bom dalam menjalankan tugas pengamanan Malam Natal di Gereja Eben Heiser Mojokerto, Minggu, 24 Desember 2000.

Alim Markus dari paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya menjelaskan bantuan itu dimaksudkan untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan almarhum, karena almarhum meninggal dunia dalam mengemban tugas yang mulia. “Sekalipun kita berbeda agama, tetapi bisa mewujudkan kerukunan serta kesatuan,” Kata Alim Markus.

Masyrakat Tionghoa Surabaya menyerahkan bantuan uang sebesar Rp 10 juta, Persekutuan Gereja Injili sebesar Rp 7,5 juta, sedangkan Gereja Bethani Surabaya dan Persekutuan Visi dan Misi Kristen Surabaya tidak menyebutkan jumlah bantuannya. Acara penyerahannyaitu disaksikan juga oleh Ketua Partai PKB Jatim Choirul Anam serta Ketua PW NU Jatim, Drs. Ali Maschan Musa yang juga menyerahkan sumbangan sebesar Rp 1 juta.


(Sumber: Harian Suara Pembaruan, 4 Januari 2001)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN