Kamis, 27 Mei 2010

Gereja Orthodox China

Disusun oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Gereja Orthodox China adalah Gereja Orthodox Timur otonom [autonomous yaitu bersifat swa-pemerintahan dalam banyak hal, namun belum mendapatkan kemandirian secara penuh] di China, yang sebelum Revolusi Kebudayaan China pada tahun 1966, diperkirakan memiliki sebanyak dua puluh ribu anggota. Gereja itu diberikan status otonomi oleh gereja ibunya, Gereja Orthodox Rusia pada pertengahan tahun 1950-an. Saat ini, Kristen Orthodox dijalankan terutama oleh etnis minoritas Rusia di China.

Periode Abad Pertengahan: Misi Gereja Orthodox Assyria Timur (Gereja Nestorian / Nasturiyyah)

Dalam karya penginjilannya, kaum Nestorian (Nasturiyyah) atau Gereja Assyria Timur disebut juga Gereja Assyria Timur yang Kudus, Katolik dan Apostolik patut disebut modern. Mereka membuka daerah keepiskopan (keuskupan) di mana-mana, tidak lupa mereka membuka juga sekolah lengkap dengan perpustakaannya dan mendirikan rumah sakit, lengkap dengan pengobatannya. Mereka terkenal, tidak saja karena keahliannya di bidang medis, tetapi juga ketrampilan teknis maupun kepandaiannya dalam berbagai ilmu. Mereka hidup dari hasil pekerjaan tangan tetapi juga mendapat pelayanan dari orang-orang bagi siapa mereka berkarya. Dikabarkan teologi yang yang mereka terapkan secara etis dan praktis, ditambah keahlian di bidang medis, merupakan sumber utama dalam mencapai keberhasilan di daratan China.

Agaknya kaum Nestorian telah mencapai China pada awal abad pertengahan. Pekabaran Injil pertama terjadi pada sekitar tahun 635 oleh seorang berkebangsaan Syria, yaitu Katholikos-Patriarkh Mar Isho-Yab II (628-644). Sebuah misi awal abad pertengahan Gereja Timur Assyria atau dikenal juga sebagai Gereja Nestorian pada tahun 635 membawa Kekristenan ke China tapi ditindas dalam abad ke-9. Kekristenan pada periode itu diperingati dengan Prasasti Nestorian dan Pagoda Daqin dari Xi'an. Dari prasasti ini ditemukan nama Alopen (David/Daud) (bhs. China: 阿罗 本 pinyin: Āluóběn, juga "Aleben", "Aluoben", "Olopen," "Olopan," atau "Olopuen" dan bhs. China: 景 净 (pinyin: Jing jǐng) adalah misionaris Kristen pertama yang tercatat mencapai China, pada masa Dinasti Tang (618-907). Dia adalah seorang Nestorian, dan mungkin orang Syria – pengkotbah dari Persia. Ia dikenal secara eksklusif dari Prasasti Nestorian, yang menggambarkan kedatangannya di ibukota China Chang-an pada tahun 635 AD dan diterima oleh Kaisar Taizong dari Tang (bhs. China: 唐太宗; pinyin: Táng Tàizōng, Wade-Giles: T'ai-Tsung, 23 Januari 599 – 10 Juli 649). Nama Alopen dikenal yang paling awal yang dapat dikaitkan dalam sejarah Nestorianisme di China.

Kristen Nestorian berkembang pesat di China untuk sekitar 200 tahun, tapi kemudian menghadapi penganiayaan dari Kaisar Wuzong dari Tang (唐武宗) [(2 Juli 814 – 22 April 846), né Li Chan (李瀍), kemudian diubah menjadi Li Yan (李炎) beberapa saat sebelum kematiannya (memerintah 840-846)]. Dia menekan semua agama asing, termasuk Agama Buddha dan Kristen, menyebabkan penurunan jumlah umat tajam di China. Seorang rahib Syria yang mengunjungi China beberapa dekade kemudian menggambarkan banyak gereja dalam kehancuran. Gereja menghilang dari China pada awal abad ke-10, bertepatan dengan runtuhnya Dinasti Tang dan hiruk pikuk tahun berikutnya (Zaman Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan).

Dari abad 6 sampai abad 14 agama Kristen tersebar di kalangan orang-orang Hun, Turki dan Mongol. Mereka membawa agama Kristen ke China pada tahun 1250 tatkala bangsa Mongol menaklukkan China. Di Beijing diangkat seorang Metropolitan. Di China Selatan didirikan biara-biara Nestorian. Kenyataan itu dibuktikan oleh Serikat Yesuit, yaitu serikat biarawan Gereja Roma Katolik di tahun 1625, ketika menemukan sebuah monumen batu di Si-nganfu di provinsi Shensi, China Tengah. Bekas peninggalan agama Kristen di China dapat dilihat pada apa yang dinamakan “Monumen Chang An” atau ”Monumen Nestorian di China” yang didirikan pada abad 7 pada jaman Katholikos-Patriarkh Mar Knanishoo (Mar Hnan-Isho I) atau Hanan Shua (685-700) untuk memperingati berdirinya Gereja di China Utara pada abad 5. Monumen itu ditulis dalam bahasa Aram dan China. Tulisan di Prasasti Nestorian, yang menyebutkan Katholikos-Patriarkh Hnanisho II atau Mar Hnan-Isho II (773-780) (Namanya, kadang-kadang dieja sebagai Ananjesu atau Khnanishu, berarti “Belas kasihan Yesus”), memberikan nama-nama beberapa tokoh Kristen di China, termasuk Metropolitan Adam, Uskup Yohannan, 'Uskup-uskup negara' Yazdbuzid dan Sargis dan para Diakon Agung Gigoi dari Khumdan (Chang'an) dan Gabriel dari Sarag (Loyang), serta nama-nama sekitar tujuh puluh biarawan juga terdaftar. Hnanisho II disebut dalam bahasa Syria dan China di kedua formula bertanggal konvensional pada akhir inskripsi utama di Prasasti Nestorian yang didirikan di Chang An oleh Metropolitan Adam dari Beth Sinaye (China) pada bulan Februari 781. Teks Syriac berbunyi ”Pada masa bapa dari segala bapa Katholikos-Patriarkh Mar Hnanisho II (b'yawmi aba d'abahatha Mar Hnanisho II Qatoliqa Patrirqis)”. Teks China berbunyi “ketika biarawan Ning-Shu mengatur jemaat yang gemilang dari Timur”.

Pada abad ketiga belas, agama Kristen telah tersebar luas di seluruh Turkistan. Pada abad pertengahan, begitu banyak orang Kristen Turki dan orang Mongol bermukim di Asia Tengah, Persia dan Mesopotamia, sehingga kaum Nestorian berhasil menggubah aneka himne/kidung gereja dalam bahasa Mongolia. Dari Iraq dan Iran atau Edhesai dan Persia ini Injil disebarkan ke China, Mongolia, Mancuria, Korea Utara bahkan Jepang. Kegiatan ini sudah ada sejak abad IV s/d VII. Gereja Assyria Timur menikmati periode akhir ekspansi di bawah Mongol. Beberapa suku Mongol telah menjadi Kristen oleh misionaris Nestorian pada abad ke-7, dan karena itu Kekristenan mempunyai pengaruh besar dalam Kekaisaran Mongol (bhs. Mongolia: Монголын Эзэнт Гүрэн, Mongolyn Ezent Güren atau Их Mонгол улс, Ikh Mongol Uls) adalah kekaisaran dari abad 13 dan 14 yang merentang dari Eropa Timur melintasi Asia. Kekaisaran Mongol adalah kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia). Bahkan pada zamannya Jenghis Khan (bahasa Mongolia: Чингис Хаан), juga dieja Genghis Khan, Jinghis Khan, Chinghiz Khan, Chinggis Khan, Changaiz Khan (bhs. Mongolia: Чингис Хаан atau Tengis (lautan, samudera), Chinggis Khaan, atau Činggis Qaγan), lahir sebagai Temüjin (berarti "pandai besi"), juga dieja Temuchin atau TiemuZhen (sekitar 1162–1227), adalah pendiri, Khan (penguasa) and Khagan (kaisar) dari Kekaisaran Mongolia). Genghis Khan adalah pemeluk shamanist (Shamanisme atau Tengriisme/Tengrianisme), tapi anak-anaknya mengambil istri Kristen dari marga Kerait yang sangat berpengaruh, seperti yang dilakukan anak laki-laki mereka pada gilirannya. Banyak orang-orangnya yang menganut agama Kristen yang mengikuti tradisi Persia ini. Bar Hebraeus (wafat 1286), seorang ahli sejarah kaum Yakobit bahkan menyebutnya sebagai “seorang Kristen yang sejati”. Dia merupakan satu sosok yang sangat menonjol, yang tidak begitu saja menentang Kekristenan. Dia menyebut dirinya sebagai “cambuk Allah”.

Selama kekuasaan cucu Genghis Khan, Khan Agung Mongke (juga ditransliterasikan sebagai Mongka, Möngka, Mangu or Mangku (bhs. Mongolia: Мөнх хаан; sekitar 1208–1259), Kekristenan Nestorian adalah agama utama berpengaruh di Kekaisaran, dan ini juga dibawa Mongol ke penaklukkan China, selama Dinasti Yuan. Pada saat ini, pada akhir abad ke-13, bahwa Gereja Assyria Timur mencapai lebih luas secara geografis. Perluasan Pax Tartarica ke daratan China agaknya memang merupakan persiapan dari perluasan Kristen Nestorian ke arah Timur. Mereka terkenal juga oleh pengetahuan di dunia medis dan filsafat, sehingga gampang berasimilasi dengan penduduk yang didatanginya. Pada sekitar abad 13 ini Gereja Assyria Timur yang kemudian dinamakan Gereja Nestorian telah memiliki sekitar 32 wilayah Metropolitan dan lebih dari 200 Keuskupan (Diosis) yang berlokasi di Asia. Para pembesar dan keluarga istana kerajaan China, Tartar, India terdaftar diantara petobat. Antara lain permaisuri dari ibu suri Hulagu Khan (juga dikenal dengan sebutan Hülegü, Hulegu and Halaku) (1217-1265), cucu Jengis Khan yang menyerbu Bagdad. Kemudian kita juga melihat Kitbuqa Noyen yang adalah seorang panglima perang Mongol yang beragama Kristen pada masa kekuasaan Hulagu Khan. Dia turut andil membantu Hulagu dalam menaklukkan wilayah Persia dan Timur Tengah. Dialah yang mengomandani tentara Mongol dalam penaklukan disertai pembantaian Baghdad dan sukses memaksa Damaskus menyerah tanpa melalui pertempuran. Pada abad ketiga belas, terdapat dua ratus wilayah keepiskopan Gereja Nestorian di Asia dengan dua puluh tujuh orang episkop agungnya. Sehubungan dengan nama Gereja Nestorian (Nasturiyyah), patut dicatat di sini ketika Rabban Bar Sauma (sekitar 1220–1294) juga dikenal sebagai Rabban Ṣawma atau Rabban Çauma, (Bhs. China: 拉賓掃務瑪), seorang rahib Nestorian dari Beijing mengunjungi Dunia Barat pada tahun 1288 (ia melakukan perjalanan sejauh Bordeaux, dimana ia memberikan Perjamuan Kudus kepada Raja Edward I dari Inggris), dia membahas theologi dengan Sri Paus (kemungkinan dengan Paus Nicholas IV (Girolamo Masci) dari Ascoli (22 Februari 1288 – 4 April 1292) dan para Kardinal di Roma.

Tetapi setelah mencapai puncaknya sekitar abad 14, perkembangan Gereja Assyria Timur merosot dengan tajam. Kebanyakan raja-raja Mongol tidak masuk Kristen (simpati orang Mongol dan Turki terhadap Kristen merosot tatkala seorang jendral Mongol Kristen mati dalam peperangan melawan Mesir) di wilayah Barat mereka masuk Islam sedangkan di wilayah Timur masuk Budha. Umat Kristen di China, yang sebagian besar orang-orang Mongol dengan bangkitnya rasa nasionalis suku-suku Han dan berdirinya dinasti Ming agama Kristen dianggap agama penjajah. Dengan datangnya para missionaris Roma Katolik, posisi umat Kristen Nestorian maupun Latin menjadi cenderung lemah, akibat perdebatan yang berkaitan dengan masuknya agama Islam. Ketika kaum Nestorian di bawah pimpinan orang Mongol pada abad ke-13 kembali memasuki China, mulailah pengejaran terhadap agama-agama ”asing” di bawah dinasti Ming. Lama-kelamaan jumlah umat Kristen menciut dan akhirnya habis.

Kekristenan Assyria diperkenalkan lagi selama Dinasti Yuan atau Kekaisaran Yuan Agung (1271 - 1368), namun menurun secara cepat dengan kedatangan Dinasti Ming atau Kekaisaran Ming Agung (1368–1644). Kekristenan di China mengalami kebangkitan yang signifikan selama Mongol - menciptakan Dinasti Yuan, yang didirikan setelah bangsa Mongol telah menaklukkan China di abad ke-13. Marco Polo (sekitar 1254 – 8 Januari 1324) pada abad ke-13 dan penulis Barat Abad Pertengahan lainnya menjelaskan ada banyak komunitas Nestorian di China dan Mongolia, namun mereka jelas tidak sebanyak selama masa Tang. Ketika Ghazan, Il-khan atau Mahmud Ghazan (1271–1304) (bhs. Mongol: Газан, bhs. China: 合贊, kadang-kadang disebut sebagai Casanus oleh dunia barat) dari Persia pada tahun 1295 menyatakan secara terbuka peralihannya ke dalam Islam dan menjadikan Islam sebagai agama Negara, mulailah masa suram bagi kaum Nestorian. Suatu hal yang sungguh membawa keadaan sangat bertolak belakang bagi orang Kristen Assyria Timur. Pengejaran dan penyembelihan terjadi terhadap banyak orang Kristen Nestorian. Kebinasaan itu terutama disebabkan oleh mengalirnya bangsa Mongol untuk kedua kalinya. Selain pindah agama sekitar tahun 1400, Timur Lenk atau Timur i Leng (1336 – 14 Februari 1405), yang artinya Timur ’si Pincang’ (Lenk), juga disebut ’si penggali liang kubur’ Gereja Nestorian, pemimpin Mongol Islam membunuh jutaan penduduk Asia Tengah yang sebagian adalah orang Kristen. Inilah pembinasaan secara total atas Kekristenan di China. Dialah yang tersohor sebagai perampok yang tidak berperikemanusiaan di sepanjang sejarah. Dengan cara yang sangat keji dia membuka pemukiman di Transoxania, di Asia Tengah dan Barat seraya menyingkirkan Gereja Nestorian, kecuali di Syria dan Iraq. Sejak itu, penganut Nestorian hanya tinggal di sekitar Danau Urma dan Kurdistan saja. Namun jejak umat Nestorian ini masih dapat ditemukan di wilayah Lamaisme di Tibet. Sebab-musabab kegagalan Kekristenan Nestorian ini agaknya berpangkal pada sebutan gereja ”asing”. Tujuh puluh lima nama yang disebutkan dalam prasasti monumen Nestorian itu pada umumnya adalah orang Syria! Satu faktor penting dalam kejatuhan dan kebinasaan Gereja Nestorian dari Asia Tengah dan Utara, termasuk di dalamnya Turkistan dan Mongolia, adalah kuasa Djenghiz Khan serta penyebaran bangsa Mongol secara dominan selama paro pertama abad ke-13.

Pada tahun 1898, seorang uskup Gereja Assyria Timur ini dan sejumlah pengikut dari daerah Urmia di Iran memasuki persekutuan dengan Gereja Orthodox Rusia. Pada masa kini umat Gereja Nestorian sebagian besar sudah menyatu dengan Gereja Orthodox Rusia, dan yang masih sisa tinggal kira-kira 50.000 orang saja di seluruh dunia.

Abad 17 Hingga Saat Ini: Misi Orthodox Rusia di China

Kemudian Kekristenan Orthodox Timur tiba lagi di China melalui Siberia pada 1685. Asal-usul Gereja Orthodox China dapat ditelusuri kembali pada tahun 1686, ketika Kaisar China menyewa sekelompok Cossack Rusia (bhs. Rusian: Казаки́, Kazaki; bhs. Ukrainia: Козаки́, Kozaky; bhs. Bhs. Polandia: Kozacy; mula-mula adalah anggota dari komunitas militer di Ukraina dan Rusia Utara) sebagai pengawal pribadinya. Keturunan mereka akhirnya benar-benar terserap ke dalam budaya China tapi tetap Orthodox dalam iman dan membentuk inti dari komunitas Orthodox di China.

Misi Orthodox Rusia di China, juga dikenal sebagai Misi Gerejawi Rusia, merupakan upaya oleh Gereja Orthodox Rusia untuk membawa Kekristenan ke China. Misi Orthodox Rusia di China berawal dengan penangkapan empat puluh lima orang Rusia ketika Kaisar Kangxi (Kang Hsi) (Hanzi: 康熙, lahir 4 Mei 1654; 18 Februari 1661 – 20 Desember 1722 (61 tahun, 305 hari), dari dinasti Qing, menaklukkan Albasin, sebuah benteng Rusia di Sungai Amur. Di antara mereka yang tertangkap adalah Rm. Maxim Leontev, seorang imam Orthodox. Dia dibawa dengan para tawanan ke Beijing pada akhir tahun 1685. Di sana ia menetap di tempat duta besar di bagian timur laut kota dan melayani masyarakat kecil selama dua puluh tahun, menggunakan sebuah kuil China yang dirubah sebagai kapel. Kapel itu dipersembahkan kepada Kebijaksanaan Kudus Allah [Holy Wisdom, juga dinamakan Divine Wisdom (Yunani: Ἁγία Σοφία, Hagia Sophia)]. Inilah Gereja Orthodox Timur pertama di Beijing. Pada 1695, Rm. Maxim menerima dokumentasi dari Metropolitan dari Tobolsk yang mengakui konsekrasi gereja dan meminta Rm. Maxim untuk memperingati kaisar China dan mulai berkhotbah kepada orang China. Rm. Maxim meninggal pada tahun 1712, dan mengakhiri misi tidak resminya. Keturunan mereka, atau Albazinians (bhs. Rusia: албазинцы, bhs. China Tradisional: 阿爾巴津人, bhs. China yang disederhanakan: 阿尔巴津人; yaitu satu dari kelompok orang-orang China keturunan Rusia), meskipun secara menyeluruh sinkretisme dalam hal lain, mereka masih setia dan mengikuti Orthodox Timur.

Dengan meninggalnya Rm. Maxim, Misi resmi Orthodox dibentuk yang bertindak sebagai wakil resmi dari pemerintah Rusia. Kegiatan misi itu digunakan untuk kepentingan diplomatik dan politik pemerintah Rusia. Periode ini berlangsung hingga 1860. Selama periode ini komposisi dan kepala misi berubah setiap sepuluh tahun dan pada umumnya terdiri dari empat rohaniwan dan enam orang awam. Para orang awam biasanya para mahasiswa yang tugasnya adalah untuk mempelajari bahasa China dan Manchu dan kemudian menjadi juru bahasa (penterjemah) dan akhirnya menjadi konsul untuk Departemen Luar Negeri. Misi ini dibiayai oleh, dan menerima arahan dari pemerintah. Situasi ini berdampak langsung terhadap kegiatan misionaris dari rohaniwan. Sebagai hubungan antara Rusia dan China didefinisikan secara formal, pekerjaan masing-masing anggota misi didefinisikan secara jelas. Dalam keadaan demikian, karya misionaris dari Misi sangat terhambat dan jumlah petobat baru dalam jumlah kecil pembaptisan, jelas tidak signifikan.

Pembentukan misi pertama dimulai pada 1715 di Beijing oleh Arkhimandrit Hilarion. Misi ini pertama kali tercatat dalam Perjanjian Rusia-China, Perjanjian Kyakhta (Kiakhta) (1727), yaitu perjanjian yang mengatur hubungan antara Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran Qing sampai pertengahan abad ke-19. Di bawah tekanan Count Savva Lukich Vladislavich-Raguzinsky (bhs. Rusia: Савва Лукич Владиславич-Рагузинский; Serbia: Сава Владиславић Рагузински; 1669 di Herceg Novi, Republik Venisia - 17 Juni 1738 di Saint Petersburg, Rusia), pemerintah China mengakui hak orang Rusia untuk membangun sebuah kapel Orthodox di bagian kedutaan besar di Beijing. Tujuan dari misi ini tidak untuk mewartakan Injil di antara orang China tetapi hanya untuk melayani sebagai imam untuk misi semula dan kemudian kepada staf misi diplomatik Rusia juga.

Setiap perubahan kepala misi telah diidentifikasi secara seri. Selama periode sampai 1860 jumlah perubahan kepala misi adalah tiga belas kali. Beijing berada di ujung rute kafilah panjang, komunikasi dengan Rusia jarang terjadi, hanya dua sampai empat kali setiap tahun. Hal ini menghambat penerimaan dana untuk pengoperasian Misi. Meskipun sebagai misionaris terhambat oleh keterbatasan politik, penggantian para arkhimandrit dan uskup yang memimpin Misi berhasil memperkenalkan informasi budaya, etnografi, dan statistik untuk Eropa melalui terjemahan sastra China. Di antara karya-karya ini adalah terjemahan dan komposisi Rm. Ioakinf (Bichurin) dan kamus bahasa China oleh Rm. Daniel Siviloff.

Dalam 150 tahun pertama kehadirannya di China, gereja tidak menarik banyak pengikut. Selama periode 150 tahun ini Misi Orthodox Rusia adalah terbatas pada pusat misi di Beijing. Pembatasan ini menghasilkan kurang dari dua ratus petobat dari orang-orang China yang termasuk banyak keturunan para tawanan Albasin. Pada paruh kedua abad ke-19, Gereja Orthodox membuat langkah lebih besar. Misi rohani Gereja Orthodox Rusia di Beijing telah diberkati dengan rohaniwan penuh iman dan cendekiawan. Banyak terjemahan dari publikasi keagamaan dibuat ke dalam bahasa China. Ada pertumbuhan dalam keanggotaan setelah 1860. Misi menerbitkan empat jilid penelitian dalam studi China di tahun 1850-an dan 1860-an. Dua rohaniwan menjadi terkenal untuk beasiswa dalam pendidikan, Romo Iakinf Bichurin, dan Arkhimandrit Palladius Kafarov, yang juga menyusun sebuah kamus "sangat berharga". Pada tahun 1860 diperkirakan ada tidak lebih dari 200 orang Kristen Orthodox di Beijing, termasuk warganegara China keturunan Rusia. Selama Pemberontakan Boxer, misi sangat menderita, termasuk penghancuran perpustakaan.

Perjanjian Tianjin (Tientsin) pada tahun 1858 mengubah situasi misi Beijing secara radikal. Perjanjian itu mengakui perwakilan China dari pemerintah-pemerintah asing dan hak-hak tinggal di China untuk misionaris Kristen. Pada periode baru diplomatik dan kegiatan keagamaan dari Misi Beijing dipisahkan. Terjemahan Kitab Suci mulai muncul. Kepala Misi, Arkhimandrit Gury (Karpov), berpartisipasi aktif dalam negosiasi Perjanjian Beijing tahun 1860 di mana Rusia memperoleh tanah sepanjang Sungai Amur. Setelah mempelajari bahasa China selama bertahun-tahun ia aktif juga dalam menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa China, serta mengumpulkan buku terjemahan sebelumnya dari buku-buku Orthodox untuk diterjemahan kembali ke dalam tutur-kata bahasa China. Dia banyak berkhotbah dan mengajar di gereja, menjangkau kawasan di luar Beijing.


Rm. Mitrophan Ji di Konsili Seluruh Jepang tahun 1882 setelah penahbisannya sebagai imam.

Sementara upaya kesastraan dan terjemahan terus berlanjut melalui sebagian besar bagian akhir abad kesembilan belas, karya misionaris di bagian akhir abad ini terhambat karena dana tidak memadai untuk pewartaan di luar Beijing, serta kedatangan misionaris baru dengan keterampilan bahasa China yang tidak memadai. Era dari semua rohaniwan Rusia berakhir ketika seorang imam China, Rm. Mitrophan Ji, ditahbiskan di Jepang oleh St. Nicholas Kassatkin (1 Augustus 1836 – 3 Februari 1912), Uskup Agung dari Tokyo pada tanggal 29 Juni 1882. Rm. Mitrophan meninggal sebagai martir pada 11 Juni 1900 dalam pemberontakan Boxer di China. Hampir 500 pembaptisan yang telah dilakukan oleh Misi dan didirikan dua gereja baru, masing-masing di Hankou dan Kalgan (Zhangjiakou) tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap karya misionaris Misi itu.

Dengan kedatangan Arkhimandrit Innosensius pada Maret 1897 situasi berubah tiba-tiba. Rm. Innosensius segera melakukan reformasi di Misi: ia mendirikan biara, dilembagakan pelayanan sehari-hari di China, dukungan didirikan untuk kaum Albasin dengan kemampuan bisnis, menyelenggarakan kegiatan paroki, mengirim pengkhotbah-pengkhotbah ke banyak tempat di luar Beijing untuk menyebarkan Injil, dan mendirikan karya karitas diantara kaum duafa (kaum fakir-miskin) lokal. Sementara kedatangan Rm. Innosensius memulai periode karya misionaris aktif, awal abad kedua puluh juga membawa masalah serius bagi Misi Orthodox Rusia, seperti yang dialami oleh misi-misi Kristen lainnya.

Pemberontakan Boxer dan Revolusi Kebudayaan


Pemberontakan Boxer atau "Pemberontakan Pendekar/Pesilat" (Gerakan Yihetuan; Yìhétuán Yùndòng, artinya "Pemberontakan/Gerakan Persatuan Adil dan Harmoni" dari 1898-1900), adalah pemberontakan anti-Barat dan anti-misionaris di China, melihat serangan kekerasan pada orang China yang menjadi Kristen. Beberapa orang China Orthodox di antara mereka tewas dibunuh, dan pada bulan Juni setiap tahunnya 222 orang China Orthodox, termasuk Romo Mitrophan Ji, yang mati untuk iman mereka pada pergolakan tahun 1900 ini diperingati sebagai kenangan pada ikon dari “Para Martir Kudus dari China”. Pemberontakan Boxer ini mengakibatkan kerusakan bangunan-bangunan di Beijing, Dongdingan, dan Kalgan (Zhangjiakou). Kerugian juga termasuk kompleks kompleks kompleks perpustakaan yang luas di Beijing yang dirintis oleh Arkhimandrit Peter selama misi kesepuluh. Perpustakaan Misi di Beijing ini juga terbakar habis. Meskipun ada pemberontakan, Misi selamat, pada tahun 1902 ada 32 gereja-gereja Orthodox di China dengan hampir 6.000 pengikut. Gereja juga mengelola sekolah dan panti asuhan.

Keluar dari puing-puing pemberontakan Boxer, sikap misi yang baru ditetapkan oleh Rm. Innosensius dan dengan dukungan dari Sinode Kudus di Rusia. Setelah dipanggil kembali ke St Petersburg untuk konsultasi tentang misi, Rm. Innosensius ditahbiskan sebagai uskup dan kembali ke Beijing sebagai Uskup Beijing pada Agustus 1902, dengan yurisdiksi atas semua gereja-gereja di sepanjang jalur China Timur. Pembangunan kembali misi segera dimulai, yang didanai oleh pemerintah China sebagai kompensasi atas kerusakan yang diakibatkan oleh Pemberontakan Boxer. Selain itu, hampir seluruh China dibuka untuk karya misionaris. Gereja-gereja dan kapel-kapel baru mulai muncul. Sebuah gereja dan sekolah dibuka di Yongpingfu di provinsi Zhili. Juga di provinsi Zhili sekitar dua puluh kapel dibuka oleh seorang imam China. Di Weihuifu, sebuah gereja dan sekolah didirikan sebagai rasa terima kasih dari seorang pejabat provinsi Henan yang menerima perlindungan dari Rusia selama pemberontakan.

Pada 1914 terdapat sekitar 5.000 orang China Orthodox, termasuk imam-imam China dan seminari di Beijing. Pada 1916, Misi Orthodox Rusia di China telah bertumbuh sangat cepat. Di Beijing, didirikan tiga biara: Biara Tertidurnya Sang Theotokos, Pertapaan dari Pengangkatan Salib Suci di Xishan (daerah berbukit-bukit dekat Beijing), dan sebuah biara wanita. Ada sembilan belas gereja termasuk empat di Beijing dan 32 misi termasuk 14 di provinsi Zhili, 12 di Hebei, empat di Henan, satu di Xi'anfu, dan satu di Mongolia. Misi juga mendirikan 17 sekolah untuk anak laki-laki dan tiga untuk anak-anak perempuan. Di samping itu Misi mendirikan sejumlah lembaga yang berkaitan dengan penerbitan buku, dan berbagai bengkel. Penginjilan kepada orang-orang China meningkat, dan pada tahun 1916 jumlah orang China dibaptis berjumlah 5.587, termasuk 583 yang dibaptis pada tahun 1915. Sebagian besar guru-guru di sekolah-sekolah Misi adalah orang China.

Setelah revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917, Misi kehilangan basis dukungan dan harus mengurus dirinya sendiri. Pada saat yang sama kedatangan banyak pengungsi Rusia di China sangat meningkatkan jumlah orang beriman Orthodox. Jumlah gereja-gereja juga meningkat, terutama untuk mendukung kedatangan orang-orang Rusia. Hal ini menyebabkan pembentukan keuskupan-keuskupan baru. Di China, keuskupan-keuskupan telah dibangun di sekitar kota Shanghai dan Tianjin, selain di Beijing. Sebuah keuskupan di Harbin telah dikembangkan untuk mendukung masyarakat orang-orang Rusia yang terkait dengan jalur China Timur. Selama tahun-tahun setelah Revolusi Bolshevik banyak uskup Orthodox bergabung dengan Gereja Orthodox Rusia pengasingan Di luar Rusia (the Russian Orthodox Church Outside of Russia = ROCOR), yang awalnya bermarkas di Karlovci, Yugoslavia, namun kemudian di Munich, Jerman dan kemudian New York di Amerika Serikat. Pada akhir Perang Dunia II, dan dengan kedatangan pasukan Soviet, terutama di Manchuria, Patriarkat Moskow memperoleh yurisdiksi atas para uskup Rusia di China dan Harbin. Pada tahun 1939 ada lima uskup di negara ini dan Universitas Orthodox di Harbin. Pada tahun 1949 ada 100.000 umat, 60 paroki, 200 imam, dua biara dan sebuah seminari di Manchuria, serta 150 paroki dan 200.000 umat di seluruh China.

Pada tahun 1949, setelah berdirinya Republik Rakyat China yang berada di bawah kendali Partai Komunis China, perjanjian antara pemerintah Soviet dan China memutuskan untuk pergantian yurisdiksi dari gereja-gereja Rusia ke China. Sementara banyak dari para ekspatriat Rusia ditangkap oleh komunis untuk dipulangkan kembali ke Uni Soviet, banyak yang kembali secara sukarela. Yang dipulangkan ke Uni Soviet ini termasuk sebagian besar imam Rusia dan umat beriman atau melarikan diri ke Barat. Keluarga-keluarga lainnya dan imam-imam melarikan diri ke dunia non-komunis, banyak di bawah kepemimpinan St. Yohanes (Maximovitch), Uskup Agung Shanghai and San Francisco (1896-1966), uskup diosesan dari Gereja Orthodox Rusia di Luar Rusia (the Russian Orthodox Church Outside Russia = ROCOR) yang pelayanannya tersebar dari China ke Perancis dan Amerika Serikat. 106 gereja-gereja Orthodox dibuka di China pada tahun 1949. Secara umum umat gereja ini adalah para pengungsi Rusia, dan sebagian orang China terdiri dari sekitar 10.000 orang. Pada tahun 1955, hanya terdapat 30 imam Rusia. Revolusi Kebudayaan menghapuskan atau hampir memusnahkan Gereja Orthodox di China. Banyak gereja-gereja dihancurkan selama Revolusi Kebudayaan (lihat St Nicholas 'Gereja Orthodox di Harbin). Pada tahun 1956 ini pula, dalam pemenuhan perjanjian antara pemerintah Uni Soviet dan Komunis China, Patriarkat Moskow memberikan status otonomi kepada Gereja China sehingga secara resmi mengakhiri Misi Rusia di China. Pada waktu itu Gereja China memiliki dua uskup China, sejumlah imam, dan diperkirakan 20.000 anggota. Setelah tetap di bawah yurisdiksi Patriarkat Moskow, Uskup Agung Victor dari Beijing, uskup Rusia terakhir di China dan pemimpin Misi Spiritual terakhir kembali ke Uni Soviet pada tahun 1956, menutup tiga ratus tahun Misi Orthodox Rusia di China. Setelah keberangkatan dari orang-orang Rusia pada tahun 1956, Gereja di China bekerja di bawah pembatasan dari pemerintah Komunis, tetapi berada di bawah pembatasan-pembatasan yang keras selama Revolusi Kebudayaan dimulai pada awal 1960-an. Dengan luas penyitaan dan penghancuran properti gereja, Revolusi Kebudayaan membinasakan kaum muda China Gereja Orthodox hampir seluruhnya. Uskup China terakhir, Vasily (Shuan) dari Beijing, meninggal dunia pada tahun 1962 dan penggantinya belum ada. Saat ini, situs dari misi di distrik Dongzhimen (Gerbang Lurus Timur) di Beijing ditempati oleh Kedutaan Besar Rusia.

Kepala - Kepala Misi dan Para Pemimpin Misi Orthodox Rusia

1. Periode misi tidak resmi

• Romo Maxim Leontiev (1685-1712).

2. Periode perwakilan diplomatik

• Misi Pertama (1716-1728). Arkhimandrit Ilarion (Lezhaisky). Meninggal di Beijing pada 1717.
• Misi Kedua (1729-1735). Arkhimandrit Antony (Platkovsky).
• Misi Ketiga (1736-1745). Arkhimandrit Illarion (Trusov). Meninggal di Beijing pada 1741.
• Misi Keempat (1745-1755). Arkhimandrit Gervasy (Lintsevsky).
• Misi Kelima (1755-1771). Arkhimandrit Amvrosy (Yumatov). Meninggal di Beijing pada 1771.
• Misi Keenam (1771-1781). Arkhimandrit Nikolai (Tsvet).
• Misi Ketujuh (1781-1794). Arkhimandrit Ioakim (Shishkovsky).
• Misi Kedelapan (1794-1807). Arkhimandrit Sofrony (Gribovsky).
• Misi Kesembilan (1807-1821). Arkhimandrit Iakinf (Bichurin). Meninggal pada tahun 1853.
• Misi Kesepuluh (1821-1830). Arkhimandrit Petrus (Kamensky). Meninggal pada 1845.
• Misi Kesebelas (1830-1840). Imam Rahib (kemudian Arkhimandrit) Veniamin (Morachevich).
• Misi Kedua Belas (1840-1849). Arkhimandrit Policarp (Tugarinov).
• Misi Ketigabelas (1850-1858). Arkhimandrit Pallady (Kafarov). Juga memimpin misi kelima belas.

3, Periode karya misionaris terbatas

• Misi Keempatbelas (1858-1864). Arkhimandrit Gury (Karpov). Pada 1866, ditahbiskan sebagai Vikaris Uskup dari Cheboksary, Eparki Kazan; Pada tahun 1867, Uskup dari Tauria dan Simferopol; 1881, Uskup Agung; meninggal pada tahun 1882.
• Misi Kelimabelas (1865-1878). Arkhimandrit Pallady (Kafarov). Meninggal pada tahun 1878 di Marseilles selama kembali ke Rusia karena sakit.
• Misi Keenambelas (1879-1883). Arkhimandrit Flavianus (Gorodetsky). Pada 1885, ditahbiskan sebagai Vikaris Uskup di Keuskupan Don; Pada tahun 1892, diangkat menjadi Uskup Agung ketika dibawah Keuskupan Kholmsky dan Warsawa; Pada tahun 1903, diangkat menjadi Metropolitan Kiev terpilih dan Galicia; meninggal pada tahun 1915.
• Misi Ketujuhbelas (1884-1896). Arkhimandrit Amfilohy (Lutovinov).

4. Periode karya misi aktif

• Misi Kedelapanbelas (1896-1931). Arkhimandrit Innosensius (Figurovsky). Pada tahun 1902 - diangkat ke jenjang Uskup dari Pereyaslav, vikaris dari Eparki Vladimir; kemudian diangkat menjadi Metropolitan Beijing dan China; Meninggal di Beijing pada tahun 1931.
• Misi Kesembilanbelas (1931-1933). Uskup Agung Simon (Vinogradov); Pada tahun 1919, ditahbiskan Uskup Shanghai; Meninggal di Beijing pada tahun 1933.
• Misi Keduapuluh (1933-1956). Uskup Victor (Svyatin). Pada tahun 1932 ditahbiskan sebagai Uskup Shanghai; Pada tahun 1938 ia diangkat ke jenjang Uskup Agung dan jenjang Metropolitan di tahun 1961. Meninggal 18 September 1966.
• Santo John Maximovitch, Uskup dari Shanghai 1934-~1946, Uskup Agung ~1946-1949.
• St. Jonah dari Manchuria atau St Jonah (Pokrovsky) secara resmi adalah uskup Hankou, di provinsi Hubei, tetapi sebenarnya melayani dan bekerja di kota Manzhuria, saat ini kota perbatasan dari Manzhouli (1918-1925)
• Uskup Vasily (Shuan) dari Beijing dan Seluruh China, 1956-1962.
• Uskup Symeon (Du) dari Shanghai, 1950-1965.


Symeon (Du), Orang China pertama yang menjadi Uskup Orthodox dari Shanghai 1950-1965

Gereja Orthodox China Hari Ini

Meskipun Republik Rakyat China memperluas pengakuan resmi bagi sebagian masyarakat yang religius (Kristen Protestan, Islam, Taoisme, dan Buddha), Kristen Orthodox dan Roma Katolik tidak di antara mereka (walaupun dengan yang kedua, pemerintah China telah membentuk "Gereja Katolik Patriotik" atau "Asosiasi Katolik Patriotik" yang tidak dalam persekutuan dengan Roma). Alasan resmi menyatakan bahwa untuk penolakan pengakuan pemerintah terhadap Gereja Orthodox adalah ketakutan pemerintah akan kekuatan politik eksternal dari luar negara - dalam hal ini, terutama Rusia - bisa mencapai pengaruh di China. Ini menempatkan Gereja Orthodox dengan status hukum religio illicita (“Agama Tidak Sah“). Ini stautus yang sama dengan penganiayaan Kekaisaran Romawi dari abad 1 s/d awal abad 4, yang sudah dimulai oleh Nero Claudius (15 Desember 37 – 9 Juni 68 AD) pada zaman Rasul Paulus dan Petrus. Pada masa inipun Iman Kristen dianggap Religio Illicita di seluruh Kekaisaran Roma.


Katedral St. Sophia (Harbin, China), Gereja Orthodox terbesar di Timur-Jauh

Beberapa jemaat Orthodox, terutama orang-orang tua, terus bertemu di Beijing dan di timur laut China (di Heilongjiang dan di tempat lain), dan di China barat (Xinjiang - Urumqi dan Ghulja), dengan, tampaknya, persetujuan diam-diam dari pemerintah. Ada juga paroki Orthodox di Shanghai, Provinsi Guangdong, Hong Kong, dan Taiwan. Pada tahun 2005 hanya ada lima imam, namun, sejumlah warga negara China sedang belajar di seminari Orthodox di Rusia, dengan maksud untuk kembali ke China untuk melayani sebagai imam. Dua bekas gedung Gereja Orthodox di Shanghai saat ini dalam proses dikembalikan ke Gereja dan tidak ada kegiatan dilakukan dalam.

Gereja yang relatif bebas beroperasi di Hong Kong. Pada tahun 1996 Patriarkat Ekumenis mendirikan metropolitanat di Hong Kong dengan yurisdiksi atas seluruh China serta India, Filipina, Singapura dan Indonesia dan paroki Orthodox Rusia Santo Petrus dan Santo Paulus kembali operasi. Di Taiwan, arkhimandrit Yunus George Mourtos memimpin sebuah gereja misi. Pada bulan Februari 1997 Sinode Kudus Orthodox Rusia menegaskan kembali hubungannya dengan Gereja Orthodox China dan menyatakan bahwa, sambil menunggu pemilihan primat, maka pemeliharaan Orthodox di negara ini tetap tanggung jawab dari Patriarkat Moskow.

Pada bulan Desember 2007, Sinode Kudus dari Gereja Orthodox Rusia memutuskan pada sidang musim dingin untuk membuka bagian yang terkait dengan Otonomi Gereja Orthodox China (the Chinese Orthodox Autonomous Church = COAC), menekankan kebutuhan untuk melanjutkan upaya yang dilakukan oleh Departemen Hubungan Eksternal Gereja atau Departemen untuk Hubungan-hubungan Luar Negeri Gereja [Department for External Church Relations (DECR)] dari Patriarkhat Moskow dalam dialog dengan pihak penguasa China untuk menormalkan situasi Gereja Orthodox di China. Sejak 1989, Department for External Churh Relation dari Patriarkhat Moskow dipimpin oleh Metropolitan dari Smolensk dan Kaliningrad, Metropolitan Kirill yang sejak 27 Januari 2009 sampai saat ini, diangkat sebagai Patriarkh Kirill I, Patriarkh ke-16 dari Patriarkh Moskow dan Seluruh Russia (Святейшего Кирилл I, Патриарха Московского и всея Руси). Pada 2007 ini ada tanda-tanda kebangkitan dari komunitas Orthodox di China terkait dengan Gereja Orthodox Rusia. Sebuah situs web setengah resmi (http://www.orthodox.cn) melaporkan bahwa Liturgi Paskah dirayakan di Beijing, Shenzhen, Guangzhou, Shanghai dan Hong Kong.

Kaum Minoritas Orthodox Nominal: Orthodox Èwēnkè Zú

Ewenti atau Eventi (Rusia: Эвенки; Evenki; China: 鄂温克 族 Èwēnkè zu; sebelumnya dikenal sebagai Tungus atau Tunguz; Mongolia: Khamnigan Хамниган) adalah orang-orang Tungusic Asia Utara. Di Rusia, Evenki diakui sebagai salah satu penduduk asli di Utara Rusia, dengan populasi 35.527 (sensus 2002). Di China, Evenki merupakan salah satu dari 56 kelompok etnis yang secara resmi diakui oleh Republik Rakyat China, dengan jumlah penduduk 30.505, sesuai sensus tahun 2000. Ada juga sekelompok kecil Evenki Manchu-Tungus yang berasal dari Mongolia, disebut sebagai Khamnigan. Orang Evenki berhubungan dengan orang Altai dari Eurasia

Meskipun banyak di antara mereka telah mengadopsi Lamaisme - yang merupakan bentuk arus utama Buddha Mahayana Tibet - Evenki baik dari Federasi Rusia dan Republik Rakyat China adalah orang-orang Kristen Orthodox nominal. Seiring dengan sepupu Evenki mereka dan beberapa suku lainnya di Siberia atau di China, mereka adalah beberapa orang Asia yang menganut secara nominal Kekristenan Orthodox, yang mereka telah secara sukarela (sebagai lawan dipaksa untuk melakukannya) mengadopsi selama kontak dari ekspansi Rusia ke Siberia. Ada juga sekitar 3.000 Evenki di Propinsi Heilongjiang yang bertetangga. Kristen Orthodox juga dianut dan dijalankan oleh etnis Rusia minoritas di China.

Referensi

1. Alexander Medvedev. Russian Mission in China 1685-1745. http://www.orthodox.cn/localchurch/1685-1745.txt

2. Avgerinos. Orthodoxy in China. http://www.cs.ust.hk/faculty/dimitris/metro/orth_china.html

3. Anton Wessels (Diterjemahkan oleh Ny. Tati S.L. Tobing – Kartohadiprojo). Arab dan Kristen. Gereja-gereja Kristen di Timur Tengah. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. Cetakan ke-2: 2002.

4. Arkhim. Rm. Daniel Bambang D.B. Ph.D. Sejarah Gereja I - IV. STT. Salib Kudus. Solo. (Tahun?).

5. CNEWA. A papal agency for humanitarian and pastoral support. The Orthodox Church of China. Last Modified: 29 June 2007: http://www.cnewa.org/ecc-bodypg-us.aspx?eccpageID=32&IndexView=toc.

6. Eric Widmer. The Russian ecclesiastical mission in Peking during the eighteenth century. Harvard Univ Asia Center, 1976.

7. Episkop Timothy Ware (Penterjemah : Arkhimandrit Daniel Bambang PhD). Mari Mengenal Kekristenan Timur. Sejarah Gereja Orthodox. Satya Widya Graha. 2001.

8. From Wikipedia, the free encyclopedia. Church of the East in China, Chinese Orthodox Church, Russian Orthodox Mission in China

9. Sejarah Gereja Timur Assyria (Nestorian) dan Gereja Roma Katolik Ritus Nestorian (Khaldea). Disunting dan diterjemahkan dari sumber-sumber website oleh: Arkhimandrit Rm. Daniel BD Byantoro
http://orthodox.cn/localchurch/1610romc_en.htm. The Russian Orthodox Mission in China.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN