Selasa, 08 Juni 2010

Vatikan dan Paus Berbicara Tentang Ketegangan Kristen-Islam di Timur Tengah

Diterjemahkan oleh:
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Nikosia, Siprus (AP) - Vatikan mengatakan pada hari Minggu bahwa komunitas internasional mengabaikan nasib orang Kristen di Timur Tengah, dan bahwa konflik Israel-Palestina, perang di Irak dan ketidakstabilan politik di Lebanon telah memaksa ribuan orang melarikan diri dari wilayah-wilayah itu .

Sebuah makalah yang dikeluarkan selama ziarah Paus Benediktus XVI ke Siprus untuk mempersiapkan pertemuan puncak krisis para uskup Timur Tengah di Roma pada bulan Oktober juga menyebutkan “ekstrimis saat ini" yang dipicu oleh munculnya "politik Islam" sebagai ancaman bagi orang Kristen.

Dalam missa terakhirnya di Siprus pada hari Minggu, Benediktus mengatakan ia berdoa agar pertemuan Oktober akan memusatkan perhatian dari masyarakat internasional "pada nasib orang-orang Kristen di Timur Tengah yang menderita karena keyakinan mereka."

Dia menyerukan supaya "dunia internasional mendesak dan terpadu untuk menyelesaikan ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah, terutama di Tanah Suci, sebelum konflik tersebut mengakibatkan pertumpahan darah yang lebih besar."

Vatikan menganggap kebanyakan Siprus Orthodox Yunani sebagai jembatan antara Eropa dan Timur Tengah dan mengundang para uskup untuk datang ke pulau Mediterania untuk menerima kertas kerja untuk menjawab masalah eksodus dari ribuan orang Kristen dalam beberapa tahun terakhir karena perang dan kondisi ekonomi yang sulit.

Sebuah kelompok demonstran sekitar 100 orang Kristen Orthodox melakukan protes damai menentang kunjungan Benediktus di luar stadion olahraga Nikosia di mana Paus memimpin misa, memegang tinggi-tinggi spanduk menyebut Paus "yang sesat."

"Kami tidak menerima kunjungan Paus di sini," kata Telemachos Telemachou, 51, kepada Associated Press. "Paus seharusnya tidak datang ... Kami tidak punya apa-apa untuk menentang Benediktus sebagai seorang individu, tetapi dengan ajaran sesat itu."

Vatikan memperkirakan ada sekitar 17 juta orang Kristen dari Iran sampai Mesir, dan bahwa sementara banyak orang Kristen telah melarikan diri, imigran Katolik baru - kebanyakan dari Filipina, India dan Pakistan - telah tiba dalam beberapa tahun terakhir di negara-negara Arab untuk bekerja sebagai buruh domestik atau pekerja kasar.

Dokumen 46-halaman mengatakan masukan dari ulama di kawasan itu menyalahkan pendudukan Israel atas wilayah Palestina untuk menghambat gerakan kebebasan, ekonomi dan kehidupan beragama, menyatakan bahwa akses ke tempat-tempat suci tergantung pada izin militer yang kadang-kadang ditolak dengan alasan keamanan.

Ia juga mengeluhkan bahwa beberapa fundamentalis Kristen menggunakan teks alkitab untuk membenarkan pendudukan Israel "membuat posisi kaum Kristen Arab bahkan lebih menjadi masalah sensitif."

Dikatakan "emigrasi sangat lazim" karena konflik Israel-Palestina, tetapi juga menyalahkan “situasi ancaman sosial " di Irak dan ketidakstabilan politik pada saat kaum Kristen Libanon sangat kuat.

Sebuah eksodus lebih lanjut kaum Kristen dari Tanah Suci akan menjadi kehilangan besar untuk gereja di "tempat di mana Kekristenan lahir," katanya.

"Politik internasional seringkali tidak memperhatikan adanya kaum Kristen dan fakta bahwa mereka adalah korban, pada kali pertama yang menderita, pergi tanpa diketahui," kata dokumen tersebut.

Dikatakan kebangkitan "politik Islam" di masyarakat Arab, Turki dan Iran dan arus ekstrimis adalah "jelas merupakan ancaman bagi semua orang, baik Kristen dan Muslim."

Dengan kebangkitan fundamentalisme Islam "serangan terhadap orang Kristen meningkat hampir di mana-mana," katanya.

Dikeluhkan bahwa umat Islam sering tidak membeda-bedakan antara agama dan politik "dengan cara demikian menurunkan orang Kristen untuk posisi genting dianggap bukan warga negara, meskipun fakta bahwa mereka warga negara dari Negara mereka jauh sebelum munculnya Islam."

Dan dikeluhkan bahwa negara-negara Timur Tengah seringkali menyamakan Kekristenan dengan Barat.

"Sejarah telah membuat kita sedikit kawanan," kata dokumen tersebut. "Namun, melalui apa yang kita lakukan, kita masih bisa menjadi kehadiran yang memiliki nilai besar."

Vatikan mengharapkan sekitar 150 uskup untuk menghadiri pertemuan 10-24 Oktober di Roma.

Perjalanan dimulai dibawah awan-mendung dari seorang uskup yang dibunuh di Turki. Tapi Benediktus menerima bahwa motif itu bersifat pribadi dan bukan politik atau agama, dan polisi telah menangkap sopir sang uskup itu.

Pada hari Minggu, Paus memberikan penghormatan kepada Uskup Luigi Padovese, mengatakan klerus memiliki komitmen untuk pemahaman antaragama dan budaya. Benediktus mengatakan kematian itu "mengagetkan dan mengejutkan kita semua."


Pemuka Mistik sufi Sheikh Nazim, di samping ulama muslim lain, pembicaraan dengan Paus Benediktus XVI sebelum missa yang dipimpin oleh Paus di gereja Salib Suci di kompleks biara Fransiskan dari Salib Suci, di Nicosia, Siprus, Sabtu, 5 Juni , 2010.

Sehari sebelumnya, Benediktus bertemu dengan pemimpin Muslim dengan singkat selama ia dalam prosesi untuk missa di gereja dekat Garis Hijau yang memisahkan kedua sisi terpisah Siprus utara dari Siprus selatan yang Kristen. Juru bicara Vatikan Rev Federico Lombardi mengatakan Benediktus berhenti untuk menyambut Sheik Nazim yang berumur 88 tahun dan bahwa pertemuan itu "pendek tapi sangat menyenangkan."

Lombardi mengatakan pemimpin Muslim dan Benediktus yang berumur 83 tahun bergurau tentang usia mereka.

Sumber

___________. Vatican and pope address Christian-Muslim tension in Mideast. By Osservatore Romano, Associated Press: USA Today: http://www.usatoday.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN