Minggu, 13 Juni 2010

SIAPAKAH ORANG KUDUS ITU? AJARAN KITAB SUCI DAN IMAN ORTHODOX TENTANG ORANG KUDUS

Ditulis oleh:
Rm. Moses Kristianto

Diedit oleh:
Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Ada banyak istilah yang digunakan dalam menyebut Orang Kudus, Santo, Santa, San, Saint, Al Qadish, Al Qadisah, Janasuci dan lain-lain. Semua gelar tersebut ditujukan kepada orang-orang Kristen yang dianggap sebagai yang “khusus” di dalam Gereja Kristus.

Istilah ini sebenarnya tercantum dalam Kitab Suci baik Perjanjian Lama (Ul.33:2; I Sam. 2:9; Ayub 15:15; Maz. 16:3; 37:28; 50:5; 97:10; 116:15; Ams.2:8; Dan.7:21,25) maupun dalam Perjanjian Baru (I Kor.1:2; Ef.3:8; I Tes. 3:13; II Tes.1:10; Yud.3; Why.8:3-5; 15:3; 16:6; 20:9).

Jadi orang Kristen tidak perlu merasa risih atau enggan menyebut istilah-istilah tersebut sebab istilah-istilah itu bukanlah temuan salah satu denominasi atau kelompok Kristen tertentu, melainkan istilah yang telah dipakai sejak awal oleh Kitab Suci.

Kriteria dalam menetapkan Orang Kudus

Setiap orang Kristen pada dasarnya adalah orang kudus dalam pengertian bahwa ia dikuduskan (set apart) oleh Allah, dalam wadah yang dikuduskan itu, yakni Gereja. Orang-orang Kristen itu dikuduskan (sanctified) oleh Allah dalam Roh Kudus. Penyebutan Orang-orang Kudus dinyatakan oleh Rasul Paulus ditujukan baik kepada orang-orang Kristen yang masih hidup (Ef.3:8; I Kor.1:2) maupun kepada mereka yang meninggal dalam Kristus (I Tes.3:13; II Tes.1:10). Penyebutan Orang-orang Kudus bagi mereka yang dalam Kristus baik mereka yang masih hidup maupun yang sudah meninggal itu menunjukkan bahwa tidak ada dikotomi ataupun perpisahan antara keduanya. Sebab apa yang ada di Sorga maupun di bumi telah dipersatukan oleh dan dalam Kristus (Ef. 1:9-10).

Gereja Orthodox menyebut orang-orang Kristen yang masih hidup di dunia sebagai anggota “Gereja yang sedang berjuang”; “Gereja yang sedang berziarah” (The Church Militant), sedangkan orang-orang Kristen yang sudah meninggal disebut sebagai anggota “Gereja yang menang”; “Gereja yang jaya” (The Church Triumphant). Anggota Gereja yang sedang berjuang secara rohani di dunia dan anggota Gereja yang dengan rahmat Allah telah menyelesaikan perjuangan dengan penuh kemenangan, bersama-sama para Malaikat, merupakan dan membentuk Gereja Katolik yang Esa. Orang-orang Kristen yang masih hidup di dunia adalah orang-orang kudus “in position” (dalam posisi, karena masih berada dalam tahap proses pengudusan (sanctification; sanctifikasi), sedang mereka yang berada di Firdaus adalah Orang-orang Kudus “in reality” (dalam realitanya, sebab mereka telah “sedikit” merasakan suasana sorga di Firdaus itu). Yang kemudian realita akhirnya akan digenapi pada kedatangan Kristus kali kedua.

Ada beribu-ribu (dan bahkan berjuta-juta) Orang Kudus (yang dalam Firdaus) di dalam Gereja Orthodox. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, kedudukan, tingkat pendidikan, keadaan ekonomi, sifat dan pembawaan, serta bangsa dan asal. Ada yang berasal dari kalangan terdidik, adapula yang sebaliknya, ada yang dari kalangan bangsawan, adapula yang dari kalangan rakyat jelata, ada yang dari kalangan teolog, adapula yang dari kalangan orang-orang buta huruf. Gereja Orthodox memberikan penghormatan yang sama atas kekudusan (Sainthood) mereka.

Mengapa penghormatan itu dilimpahkan kepada mereka? Kualifikasi apakah yang mereka miliki sehingga Gereja menganggap mereka pantas menyandang gelar Orang Kudus ? (Santo, Santa, Janasuci atau Saint dll). Gereja mensyaratkan kriteria pokok yang tidak dapat ditawar-tawar yaitu :
1. Ke-Orthodoxia-an iman yang dianut (artinya mereka adalah anggota Tubuh Gereja yang Orthodox)
2. Kekudusan hidup (kekudusan ini diketahui melalui bukti-bukti dan tanda-tanda mukjizat yang timbul dan yang harus diuji dengan seksama oleh Gereja Universal)
3. Pengakuan oleh Gereja secara universal (yang diwujudkan dalam langkah Kanonisasi atau penetapan resmi oleh Gereja terhadap pribadi-pribadi yang kudus itu)

Seorang Janasuci (Santo/a) adalah seorang insan tipikal seperti setiap kita. Dengan kata lain, pada awal hidupnya ia adalah seorang yang baik dan buruk, pada saat tertentu bajik dan saleh, dan pada saat yang lain sebaliknya. Akan tetapi pada titik tertentu dalam kehidupannya, ia menyadari sepenuhnya keberdosaannya yang memalukan, selanjutnya meninggalkan kehidupan ganda itu sehingga sejak itu ia berupaya untuk berjalan dan hidup sebagai “anak-anak Allah”. Sejak itu apapun yang mereka inginkan, katakan maupun lakukan akan selaras dengan kehendak dan hukum Allah. Tidak lagi mereka menyenangkan dan memuaskan angan-angan dan keinginannya sendiri melainkan hanya kehendak Allah. Keteguhan dan ketetapan ini tetap bertahan hingga akhir hayatnya. Kesempurnaan adalah tujuan akhir dari kehidupan Orang-orang Kudus sebagaimana Kristus telah tetapkan bagi orang Kristen “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat.5:48). Kesempurnaan ini tidak dapat dicapai dengan upaya mereka sendiri (karena itu tidak mungkin), melainkan melalui penyerahan diri secara sukarela kepada kehendak dan hukum Allah. Ini adalah tugas hidup yang amat sulit akan tetapi mereka telah mencapainya dan berhasil sehingga dalam upaya yang terberkati ini mereka beroleh rahmat Ilahi dari Allah. Dapat dikatakan bahwa kehidupan mereka berlangsung dari kedudukan sebagai orang Kristen sekedar nama atau “Kristen KTP” selanjutnya terubahkan menjadi orang Kristen sejati dalam realitanya. Manusia yang lama (kedagingan) secara perlahan terubahkan menjadi manusia baru (rohani). Segala kepahitan, iri dengki, berbagai nafsu jahat, kesombongan, kebencian dan keburukan yang lain tidak lagi bertahan dalam pikiran dan hati mereka. Yang ada adalah buah-buah roh, yaitu segala kebajikan (Gal.5:22), sesuatu yang telah menjadi “jubah jiwa mereka”.

Selain ada banyak Orang Kudus yang melewati jalur kekudusan hidup dalam kerangka Orthodoxia, adapula yang menempuh jalur kesyahidan (martyrdom; sebagai syuhada; martir) yang tentu saja tetap dalam kerangka Orthodoxia. Yang demi mempertahankan iman Orthodox mereka dianiaya sampai mati (dibakar, dipancung, ditusuk pedang, ditenggelamkan, dijadikan umpan binatang buas, dan sebagainya). Mereka inilah yang dalam Gereja Orthodox dikenal sebagai Martir Kudus, Syuhada Agung (Janasuci Martir). Sementara itu, mereka yang telah dianiaya oleh karena mempertahankan iman Orthodox namun tidak sampai mati disebut sebagai para Pengaku Iman (Confessors).

Mengapa menghormati Orang-orang Kudus?

Diantara beribu-ribu Orang Kudus dalam Gereja Kristus, Bunda Maria adalah yang terutama. Sebab dialah orang Kristen pertama yang “mendengar Firman Allah dan melakukannya”, terbukti dalam peristiwa pemberitahuan oleh Malaikat Gabriel (Luk.1:38). Oleh sikap rela Bunda Maria, Roh Kudus berkenan menaungi dan menguduskannya serta menjadikannya layak menerima rahmatNya bagi Inkarnasi Sang Sabda. Oleh karena itu ia disebut Theotokos, Sang Bunda Allah, sebab ia telah mengandung dan memberikan kelahiran kepada Sang Sabda Allah yang adalah Allah sendiri. Sekalipun demikian Gereja Orthodox tidak pernah menempatkan Bunda Maria berada di atas Gereja, melainkan di dalamnya. Gereja percaya bahwa Bunda Maria mewarisi kodrat dan keadaan yang sama yang diterima dan dialami oleh setiap manusia. Ia terlahir dalam keadaan yang sama dengan setiap bayi yang terlahir di dunia ini (kecuali Yesus Kristus). Ia tidak terkandung tanpa dosa, akan tetapi ia dikuduskan dan dijadikan Immaculata (Tanpa cacat cela) oleh Roh Kudus manakala dengan rela ia melakukan kehendak Allah bagi karya keselamatan oleh Allah dalam Kristus Yesus (Lih. Luk.1:38).

Penghormatan Gereja Orthodox terhadap Bunda Maria tidak pernah terlepas dari hubungannya dengan Kristus, tetapi selalu sebagai “Ibu Tuhan” (bdk. Luk.1:43). Bunda Maria adalah orang Kristen pertama yang sekaligus telah menjadi lambang Gereja (Pengantin Wanita Kristus). Demikianlah juga Gereja Orthodox menghormati para Orang Kudus. Mereka dihormati selalu dalam hubungannya dengan Kristus, sebab mereka hidup dan menang dalam Kristus, “bersama Kristus pergi ke Firdaus”. Karena mereka telah ambil bagian dalam kekudusan (Sanctify) Kristus (Ibr.12:10), dan “anggota tubuh yang sama” (syssmoi) dengan Kristus (Ef.3:6), “berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba” (Why.7:9).

Kemuliaan yang menyelimuti para Orang Kudus adalah kemuliaan Allah (II Kor.3:18). Daya kuasa Ilahi yang tak tercipta yang dalam Kitab Suci dan kehidupan para Orang Kudus dinyatakan sebagai terang. Namun kemuliaan para Orang Kudus itu belumlah menjadi kedudukan akhir mereka, itu akan disempurnakan pada kedatangan Kristus kali kedua. Pada saat itulah mereka akan bercahaya “seperti matahari” (Mat.13:43;bdk.Why.21:9–22:5). Keberadaan Orang Kudus mengingatkan orang Kristen bahwa Kristus itu Juru Selamat yang unik, yang telah mengenakan pada diriNya insan tercipta (“Sang Firman yang telah menjadi daging/ manusia” – Yoh.1:14) dan membawanya kepada persekutuan yang sejati dengan Allah yang tak tercipta itu. Sehingga jelas di sini bahwa bagi manusia tidak ada jalan lain menuju Bapa selain melalui Yesus Kristus (Yoh.14:6; I Tim.2:5; Kis.4:12; I Pet.1:18,19).

Bagi Gereja Orthodox para Orang Kudus adalah pendoa syafaat di dalam Gereja Katolik Orthodox yang Esa. Oleh doa-doa mereka setiap orang Kristen semakin dikuatkan dalam iman. Banyak kisah dalam Kitab Suci yang dapat dijadikan bukti bahwa Allah mendengarkan doa-doa orang benar (kudus) yang dipanjatkan demi orang-orang lain (Lih. Kej.18:23–33; 20:7; Kis.32:11–14; Hos.11:8-9). Dalam kitab Wahyu dapat ditemukan bahwa malaikat-malaikat membawa doa-doa Orang-orang Kudus ke hadapan takhta Allah dan Allah mendengarkannya (Why.8:3-5). Mereka peduli dan perhatian kepada saudara-saudara mereka, yaitu kita semua orang Kristen, yang masih ada di dunia serta akan bersukacita dengan kemajuan rohani kita (Luk.15:7).

Penghormatan kepada Bunda Maria dan para Orang Kudus tidak boleh dikacaukan dengan penyembahan kepada Allah. Gereja Orthodox menghormati (venerate) mereka, bukan menyembah (worship) atau memuja (adore) mereka. Sebab penyembahan (worship) dan pemujaan - adorasi (adoration) hanya ditujukan kepada Allah semata. Hubungan orang Kristen Orthodox yang masih hidup di dunia dengan mereka tidak boleh dipahami dan dimengerti sebagaimana para dukun atau paranormal memahami hubungan mereka dengan yang mereka anggap sebagai arwah nenek moyangnya atau sukma tokoh-tokoh sakti yang dianggap mengalami Moksa. Hubungan antara orang Kristen di dunia dengan para Orang Kudus adalah hubungan dalam satu Roh, yaitu Roh Kudus. Hal ini tidak boleh dimengerti secara klenik dan perdukunan.

Mereka hidup sebagaimana kita ini hidup karena roh tidaklah mati, “ia akan hidup walaupun sudah mati” (Yoh.11:25), bahkan hidup mereka lebih sempurna dari hidup kita. Orang-orang yang sama-sama hidup dalam Kristus tentu saja masih mempunyai jalinan yang kuat oleh karena Roh Kudus. Kecintaan Gereja kepada mereka diwujudkan dalam perayaan peringatan hari Namanya, yaitu tanggal ketika mereka meninggal dunia. Tanggal kematian mereka adalah tanggal kelahiran mereka di negeri Sorgawi (Firdaus). Mereka diingat juga dengan melukiskan wajah mereka dalam wujud ikon-ikon kudus.

Referensi

1. Dennis Michelis. The Champions of the Church. Vol.I. Holy Cross Press.

2. Rev. Antonios Aleksopoulos, Th.D., Ph.D. The Orthodox Church Its Faith, Worship and Life. Athens. 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN