Senin, 21 Juni 2010

SANG THEOTOKOS: PERAWAN MARYAM DALAM GEREJA ORTHODOX TIMUR

Oleh :
Presbiter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroki St Jonah dari Manchuria, Surabaya
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

(Artikel ini pernah dimuat dalam Majalah “Lumen Dei”, Media Informasi – Komunikasi dan Pengajaran Badan Pelayanan Keuskupan (BPK) – Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) Keuskupan Surabaya, Edisi Oktober – Desember 2009; dengan judul “Perawan Maria dalam Gereja Orthodox Timur”)

“Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari Sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maryam serta menjadi Manusia”.

[Kredo/Syahadat/ Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel tahun 325; point ke-3]

Posisi Maria dalam Gereja selalu mengundang kontroversi. Kedudukan Maria di dalam Gereja terus dipandang secara berbeda oleh Gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Protestan. Pada satu sisi Gereja Roma Katolik memberikan penghormatan yang luar biasa terhadap Maria dengan Devosi Maria-Nya. Hingga oleh gereja-gereja Protestan dianggap suatu bentuk hiperdouleia terhadap Maria.

Perlu diketahui tentang perbedaan antara Douleia dan Latreia. Douleia ialah kebaktian/devosi/penghormatan yang tertuju kepada Allah melalui manusia yang menampakkan kebesaran serta kebaikan Allah atau penghormatan kepada seseorang yang diabdi demi Allah. Douleia merupakan perwujudan sikap hati orang beriman yang dengannya orang secara pribadi mengarahkan diri kepada sesuatu atau seseorang yang dihargai, dijunjung tinggi, dicintai dan dituju. Inilah penghormatan relatif yang sama sebagaimana ditunjukkan kepada simbol-simbol bendawi-jasmaniah lainnya, misalnya “Salib yang mulia dan memberi hidup” dan Kitab Suci Injil. Bila douleia bersangkutan dengan Allah, maka disebut devosi religius. Sedang Latreia adalah kebaktian dalam arti penyembahan yang hanya semata-mata ditujukan pada Allah. Inilah penyembahan mutlak dan wajib, yang hanya boleh ditujukan kepada Allah sebagai suatu ibadah dan penyembahan. Douleia yang dilakukan secara berlebih-lebihan dan tak terkendali yang disebut Hiperdouleia bisa mengancam kehidupan Latreia, bahkan bisa mengarah menuju musyrik (menyekutukan Allah atau ber-ilah lebih dari satu), yaitu keyakinan serta sikap hati dan ibadah yang membuat sekutu dan tandingan bagi Allah, sehingga dengan demikian keesaan Allah dalam keilahianNya (Tauhid Ilahiah), dalam kepenguasaanNya (Tauhid Rububiyah), dan dalam Ibadah kepadaNya (Tauhid Ubudiyah) mengalami pengrusakan dan perongrongan.

Sebaliknya pada sisi yang lain, gereja-gereja Protestan telah menyingkirkan Maria dari ibadah gereja mereka. Beberapa pendeta Protestan bahkan memandang Maria hanya sekedar botol kecap saja dimana setelah kecapnya keluar, botolnya tidak diperlukan lagi atau Maria dianggap hanya sebagai saluran saja, dalam arti tak menyumbangkan apapun kepada kodrat kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma, seperti layaknya pipa kran yang dialiri air. Juga pada kenyataannya, hampir tidak ada gereja-gereja Protestan yang menggunakan nama diri Maria sebagai nama tempat gerejanya.

Dua buah sikap yang sangat jauh berbeda! Bagaimana mungkin hal ini terjadi, sementara kedua bentuk Kekristenan Barat tersebut mempunyai iman yang sama kepada puteraNya, Yesus sebagai (Putera) Allah? Adakah jalan tengah yang bisa disepakati bagi Gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Protestan? Adakah pemikiran yang lain mengenai kedudukan Maria dalam Gereja? Sebuah pemikiran untuk menempatkan posisi Maria dalam Gereja sesuai dengan kehormatan dan tempatnya yang layak baginya. Tidak melebih-lebihkannya (hiperdouleia) atau menyingkirkannya sama sekali dalam Gereja, sehingga kita tidak bersalah dihadapan Allah dan PuteraNya, Isa ibn Maryam (Yesus, Putera Maria), Tuhan dan Juruselamat kita. Berikut ini adalah ajaran Gereja Orthodox atau yang dikenal juga sebagai Gereja Timur tentang Maria, Sang Theotokos, Bunda Allah Tersuci.

Dalam penjelmaanNya sebagai manusia Firman Allah yang turun dari sorga, menjelma “dari Sang Perawan Maryam”. Dan dengan menjelma “dari Sang Perawan Maryam” ini, Ia “menjadi manusia”. Dengan demikian maka “kemanusiaan” yang diambil dan dikenakan oleh Firman Allah “dalam penjelmaanNya” itu pastilah berasal dari “Sang Perawan Maryam” ini. Karena sebagai “Firman Allah” yang adalah “Anak Allah yang Tunggal” sejak “sebelum segala zaman” dan bersifat “Allah sejati” karena Ia itu “keluar dari Allah sejati” serta dalam wujud “Terang” - jadi bukan berwujud jasmani - karena Ia “keluar dari Terang” karena Allah memang bersifat terang, maka jelas Ia tak memiliki wujud kemanusiaan dan bukan manusia. Sebagai yang bukan manusia itu Ia “turun dari sorga”, dan setelah “menjelma … dari Sang Perawan Maryam” itu Ia “menjadi manusia”. Berarti Maryam telah ikut berpartisipasi dalam memberikan kemanusiaan kepada Firman Allah, agar Ia dapat “disalibkan, mati, dikuburkan serta bangkit dari antara orang mati”, dan tubuh yang telah diambil dari Maryam dan dibangkitkan itu akhirnya dibawa “naik ke sorga” serta “didudukkan di sebelah kanan Allah” dan dengan “tubuh yang telah dimuliakan” yang asalnya “dari Sang Perawan Maryam” itulah nantinya Kristus “akan datang lagi dalam kemuliaan”. Itulah sebabnya andil Maryam bagi keselamatan manusia itu besar sekali, meskipun yang menjalankan keselamatan dengan mengalahkan kematian itu bukan pribadi Maryam, namun pribadi Anak Allah yang telah mengambil kemanusiaan dari Maryam itu sendiri.

Jadi Maryam itu bukan juruselamat, dan tak pula ikut ambil bagian sebagai penebus disamping Kristus, bukan pula ia itu pengantara keselamatan kepada Allah. Ia adalah yang mengandung “Anak Allah yang Tunggal…Terang…Allah Sejati…Satu Dzat Hakekat dengan Sang Bapa” ketika Ia menjelma “dari Sang Perawan Maryam”. Jadi yang tinggal dalam rahim Maryam saat Ia mengandung itu bukan manusia biasa namun “Allah sejati” yaitu “Anak Allah Yang Tunggal” yaitu “Firman Allah” sendiri yang sedang “menjelma”. Oleh karena itu “Pribadi” anak yang sedang dikandung oleh Maryam ini bukanlah hanya sekedar pribadi manusia biasa namun pribadi “Allah Sejati” yang sedang menjelma.


Sang Theotokos” (”Bunda Allah”) tersuci, ”Sayidatina Siti Maryam Al ’Adzra” (”Bunda Maria Sang Perawan Tak Bernoda”)

Dengan demikian Maryam tidak sekedar menjadi Ibu seorang manusia biasa, namun Ibu dan Bunda dari “Allah Sejati” yang sedang menjelma dan menjadi manusia ini. Demikianlah maka Gereja menyebut Maryam sebagai “Theotokos” (Yunani: Θεοτόκος, Slavonik: Bogoroditsa, Arab: Wālidat Allah atau Wālidatulillah, Latin: Deipara, Dei genetrix, Jawa Kuno (Kawi): Sang Pamiyos Widhi) yaitu ia yang “Memberi Kelahiran - dalam penjelmaanNya secara jasmani - kepada Allah – Firman Allah – “ atau lebih dikenal dengan gelar ”Bunda Allah” (Yunani: Meter Theo), dengan bentuk singkatan dalam ikonografi Orthodox ”ΜΡ ΘΥ”; Slavonik: Bogamateri; Latin: Mater Dei. Dan kejadian bayi dari kemanusiaan Maryam ini adalah semata-mata mukjizat “dari Sang Roh Kudus” yang menjadikan “indung telur” dari rahim Maryam tanpa dibuahi pria “menjadi manusia”. Fungsi Roh Kudus kepada Maryam adalah untuk “menyucikan Maryam” agar layak menjadi sarana menjelmaNya Firman Allah di dalam dirinya. Itulah sebabnya Gereja Orthodox tidak mengajarkan bahwa: “Maryam Terkandung Tanpa Dosa Asal”. Maryam adalah orang berdosa sama seperti kita semua namun yang disucikan oleh Roh Kudus saat ia menerima panggilan menjadi Ibu Sang Penebus. Atas dasar semua alasan inilah Maryam memiliki tempat dalam Pengakuan Iman, dalam theologia Gereja, dalam ekspresi ibadah Gereja, dan dalam ikonografi Gereja. Jadi Maryamologi (Mariologi) dalam Iman Orthodox hanya perpanjangan dari Kristologi saja, bukan sesuatu pembahasan yang berdiri sendiri terlepas dari Kristus.

Sebagian orang yang tak mengerti Iman Orthodox secara benar, atau karena mungkin sebagai reaksi terhadap Mariologi dari Gereja Roma Katolik, bahkan dikalangan ummat Kristen sendiri, serta tanpa merenungkan implikasi theologis dan landasan Alkitabiah mengenai gelar “Theotokos” bagi Maryam Sang Perawan ini sering mengejek gelar ini dengan mengatakan: ”Allah tidak punya Ibu. Allah tidak dilahirkan oleh siapapun. Maryam hanya melahirkan manusia biasa saja. Jadi dia itu bukan Bunda Allah, hanya Bunda Yesus saja”. Jadi Maryam tak boleh disebut ”Theotokos” namun ”Anthropotokos” (”Dia yang Melahirkan Manusia”) atau paling tinggi dengan sebutan ”Kristotokos” (”Dia Yang Melahirkan Kristus”), persis seperti yang dikatakan Patriarkh Konstantinopel, Nestorius (428 - 431) itu. St. Kyrillos I, Patriarkh Alexandria (412 - 444) menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam sebagai “Theotokos”, karena Dia yang dilahirkan olehnya adalah “Firman” yang adalah “Allah”, yang “telah menjadi manusia” (Yoh. 1:1,14). Atas pernyataan semacam itu, kita bertanya:

 Betulkah orang-orang yang mengaku Kristen ini percaya pada ke-Allah-an Yesus sebagai “Firman Allah” atau tidak?

 Kalau memang percaya, apakah ke-Allah-an Yesus sebagai “Firman Allah” itu kekal atau tidak?

 Jika memang kekal, ketika berada di dalam rahim Maryam, Dia masih memiliki ke-Allah-an, yaitu tetap sebagai “Firman Allah” atau tidak?

 Jika masih memiliki, maka Maryam itu hanya sekedar melahirkan manusia biasa saja, ataukah melahirkan “Allah” yaitu “Firman Allah” yang menjadi manusia?

 Jika dia melahirkan “Allah” yaitu “Firman Allah” yang menjadi manusia, maka kemanusiaan dari Anak yang dilahirkannya itu miliknya Allah yaitu “Firman Allah” ini atau bukan?

 Jika kemanusiaan bayi yang dilahirkan Maryam memang milikNya Allah yang menjelma ini, berarti Maryam menjadi “IbuNya Allah” yang menjelma ini dalam kemanusiaanNya atau bukan?

 Jika demikian, bukankah Maryam adalah “Bunda Allah” dalam penjelmaanNya sebagai manusia? “

Jadi memang Maryam bukan “Bunda Allah” Bapa (Allah yang Esa) yang tak pernah menjelma menjadi manusia, sebab Sang Bapa itu kekal tanpa awal maupun akhir, dan tak diperanakkan ataupun beranak. Bukan pula gelar “Bunda Allah” berarti Maryam itu “isterinya” Allah, sebagai pasangan dari Allah Sang Bapa. Sebab Allah yang bukan laki-laki, bukan perempuan, bukan banci serta tak berjenis kelamin itu bagaimana memiliki isteri? Lagipula Allah yang ghoib, tak bertubuh jasmani, bersifat Roh murni, bagaimana dapat memiliki pasangan yang kasat-mata, bertubuh jasmani, hanya sekedar makhluk saja? Itulah sebabnya Maryam bukan disebut sebagai “Allah Sang Ibu” karena dia bukan pasangan ataupun isteri “Allah Sang Bapa”. Namun Maryam adalah “Bunda Allah”, yaitu Bunda “Firman Allah” dalam penjelmaanNya sebagai manusia, karena “Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Yesus disebut Anak Allah bukan karena Dia lahir tanpa Bapa manusia, seolah-olah Allah itu menjadi suami Maryam dan melahirkan Anak Allah, dengan Maryam sebagai Bunda Allah Anak ini. Yesus disebut “Anak Allah” bukanlah dalam wujud kemanusiaanNya, namun dalam keberadaanNya sebagai Firman (Yohanes 1;14,18). Anak Allah yaitu Firman Allah sudah ada sebelum bayi Yesus lahir dari Perawan Maryam (Yohanes 17:5, 8:56-58). Firman Allah disebut “Anak Allah” karena sejak kekal Dia dikandung di dalam Diri Allah sendiri, sebagai Akal-Budi atau Ilmu Ilahi dan selalu bersama Allah (Yohanes 1:1) yaitu melekat satu dalam Hakekat (Dzat, Essensi) Allah itu. Jadi Allah “mengandung” FirmanNya sendiri. Dan dari kandungan Hakekat Allah inilah Firman itu “keluar” dari Allah (Yohanes 8:42) ketika diwahyukan dalam diri Allah sendiri dalam kekekalan sebagai “Gambar Allah” (“Cermin Allah” menurut bahasa Tassawuf), ketika diucapkan sebagai Sabda “Kun Faya kun” (“Jadilah maka jadi”, “yehi wa yehi”) saat penciptaan dunia, ketika diturunkan ke dunia menjadi manusia Yesus Kristus saat Inkarnasi. Jadi seolah-olah Firman yang dikandung Allah itu dikeluarkan atau “dilahirkan” oleh Allah di dalam DiriNya sendiri. Itulah sebabnya Firman Allah itu secara kata kias disebut sebagai “Anak Allah”. Demikianlah jelas bahwa Allah itu tak diperanakkan maupun beranak apalagi beristeri, sebab yang dimaksud “Anak Allah” adalah “Firman Allah” sendiri yang sejak kekal dikandung dan dikeluarkan oleh Allah sendiri, dan akhirnya diturunkan (“nuzul”) dalam wujud manusia Yesus Kristus. Dengan demikian bukan karena lahirnya tanpa bapa manusia itu, yang menyebabkan Yesus Kristus disebut “Anak Allah”. Kelahiran Yesus oleh Maryam itu bukan permulaan keberadaanNya, itu hanya permulaan nuzulNya di atas bumi ini saja. Itulah sebabnya jika Maryam hanya disebut Bunda Yesus saja, berarti Yesus itu hanya manusia biasa, dan tak memiliki ke-Allah-an sebagai Firman Allah yang kekal dan sekarang telah nuzul.

Jika begitu sejak kapan Yesus menjadi Allah, sebab ketika lahir dari Maryam Dia bukan Allah, buktinya Maryam tak boleh disebut “Bunda Allah” untuk menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkannya itu adalah Allah dalam hakekat pribadi kekalNya? Jika hanya baru kemudian saja manusia Yesus anak Maryam ini menjadi Allah, apa bedanya dengan agama kafir yang membuat manusia biasa menjadi ilah? Bukankah kalau begitu orang sedemikian ini percaya pada kemungkinan manusia biasa Anak Maryam bisa berkembang menjadi Allah? Apakah bukan berhala dan kemusyrikan ajaran yang sedemikian ini? Dengan demikian Yesus bukan betul-betul Allah namun manusia yang baru kemudian jadi Dewa, karena waktu dalam kandungan Maryam dan waktu dilahirkan Dia bukan Allah, dan tak boleh disebut Allah, sebab Ibunya tak boleh disebut Bunda dari “Allah” yang sedang menjelma menjadi manusia Yesus ini? Atau jika bukan demikian, apakah ke-Allah-an Yesus itu terpisah-pisah dari kemanusiaanNya, dimana waktu Dia dikandung serta dilahirkan Maryam, ke-Allah-an itu dalam keadaan terpisah? Jika betul demikian justru inilah bidat “Nestorianisme” yang ditentang Gereja Orhodox di jaman purba, melalui Konsilinya yang ketiga di Efesus tahun 431 Masehi, dan justru gelar “Theotokos” ini yang setidak-tidaknya pada abad kedua dan ketiga sudah digunakan di dalam Gereja Purba, dan dalam Konsili itu disahkan secara resmi penggunaannya karena memang konsisten dengan ajaran Alkitab, untuk dijadikan pagar bagi menjaga ketak-terpisahan Dua-Kodrat Yesus di dalam satu Pribadi itu. Inilah implikasi yang sangat menyesatkan dari penolakan gelar Bunda Allah bagi Maryam itu. Jadi Gereja Orthodox tetap konsisten pada Tauhid, gelar ”Theotokos” bagi Maryam justru untuk menjaga Tauhid tadi, yaitu menjaga agar tak ada anggapan bahwa manusia dapat berkembang menjadi Allah, dan untuk menjaga agar tak ada anggapan bahwa Firman Allah dapat berubah dari keilahian dan kesatuanNya dengan Allah ketika Nuzul sebagai manusia. Gelar ini bukan untuk meninggikan Maryam sebagaimana kemudian yang disalah-artikan atau dibesar-besarkan dalam tradisi Roma Katolik, namun gelar ini untuk menjaga integritas ke-Dua-Kodrat-an dalam Kesatuan Pribadi dari Firman Allah yang menjelma: Yesus Kristus. “Theotokos” lebih bersifat Kristologis daripada Mariologis dalam ajaran Gereja Orthodox. Jika begitu marilah kita selidiki ajaran Alkitab, terutama Perjanjian Baru mengenai gelar ”Theotokos” (Bunda Allah) bagi Maryam Sang Perawan ini.

Perjanjian Baru tidak banyak memuat kisah Maryam, karena Maryam memang bukan fokus pemberitaan Perjanjian Baru. Berita Perjanjian Baru adalah tentang Kristus, dan pembahasan kita tentang Maryam adalah sebagai “dampak” langsung dari Inkarnasi (Penjelmaan sebagai Manusia), dan bukan inti dari Inkarnasi itu sendiri. Maryam harus ada agar Inkarnasi Firman Allah ke dalam dunia ini terjadi. Jika tak ada Maryam Inkarnasi itu tak terjadi, sebab wanita yang harus menjadi sarana kelahiran Firman dalam penjelmaanNya sebagai manusia itu sosoknya sudah dinubuatkan (Kejadian 3:15), pribadinya sudah ditentukan (dari keturunan Abraham, dari jalur Daud, berasal dari Betlehem), dan semuanya itu hanya tergenapi dalam Maryam saja, bukan wanita yang lain. Itulah sebabnya sosok Maryam itu bukan suatu kebetulan, namun pribadi yang sudah direncanakan oleh kerelaan kehendak Allah dan ditetapkan oleh Allah di dalam ke-Maha-Berdaulatan dan ke-Maha-TahuanNya. Meskipun pembahasan tentang Maryam itu sebagai “dampak” dan bukan inti dari peristiwa Inkarnasi, namun ini merupakan suatu dampak yang sangat penting, karena ini akan merupakan pagar yang sangat penting dalam kita menjaga iman kita kepada Kristus agar tak terbelokkan kepada pengajaran yang salah.

Dalam Matius 1:23, bayi yang dilahirkan oleh Maryam itu disebut sebagai “Immanuel” yang artinya “Allah menyertai kita”. Ini berarti bahwa yang berwujud manusia itu ternyata bersifat dan berhakekat Allah, sebab jika tidak demikian pastilah Dia tak disebut sebagai “Allah menyertai”. Serta ini bermakna pula bahwa dalam keadaan sebagai bayi manusia itupun Pribadi bayi ini adalah Pribadi Allah. Jadi ini menegaskan apa yang dikatakan oleh Yohanes bahwa “Firman” yang adalah “Allah” (Yohanes 1:1) telah “menjadi manusia” (Yohanes 1:14) tanpa berubah dari sifat ke-Allah-anNya, sebab Allah itu tak mungkin berubah, sehingga setelah lahir dalam wujud manusiapun Dia tetap disebut “Allah” menyertai kita. Jadi “Subyek” yang menjadi Pribadi dari bayi manusia Anak Maryam ini adalah Firman Allah (“Anak Allah”) yang kekal dan pra-ada sebelum lahir jadi bayi. Hal ini dikatakan oleh Alkitab demikian:

”…Allah mengutus AnakNya (yaitu: FirmanNya yang pra-ada itu) yang lahir (dalam nuzulNya ke bumi dalam pengutusan itu) dari seorang perempuan (Maryam)”
Galatia 4:4

Jadi ke-ilahi-an yang pra-ada dari Firman Allah (Yohanes 1:1) atau Anak Allah (Galatia 4:4) itu tak hilang dan tak berubah ketika Dia nuzul sebagai bayi, karena Allah ataupun KalimatNya memang tak pernah berubah. Demikianlah Firman Allah itu tetap Allah sebelum turun, ketika dikandung, dan setelah dilahirkan oleh Maryam Sang Perawan dalam wujud baru yang dikenakanNya itu karena Dia “telah mengambil rupa…menjadi sama dengan manusia“ (Filipi 2:7). Karena manusia itu dikenal melalui hakekat pribadinya dan bukan hanya melalui bentuk-raganya, demikianlah Maryam itu tidak hanya mengandung raga seorang bayi manusia saja, namun mengandung bayi yang memiliki hakekat Pribadi Firman Allah yang bersifat Allah, yang mengenakan dan mengambil raga bayi dari ovum Maryam. Ovum ini tanpa sperma laki-laki telah diciptakan oleh Kuasa Allah sendiri menjadi bayi dan disatukan serta dimanunggalkan dengan kodrat ilahi Sang Sabda Allah sendiri serta diberi kehidupan manusiawi oleh Roh Kudus atau Roh Allah yang berada melekat satu di dalam Hakekat (Essensi, Dzat) Allah sendiri. Karena itulah Gereja-Gereja Orthodox berbahasa Arab di Timur-Tengah memberi gelar Maryam sebagai ”Sayidatina Maryam Al ’Adzra” (”Bunda Maria Sang Perawan Tak Bernoda”) atau ”Qiddisa Settena Maryam Al 'Adzra, Umm Al Maseeh” (”Santa Perawan Maryam, Ibu Kristus”), dan Gereja-Gereja Orthodox yang berbahasa Slavonika menyebutnya dengan gelar ”Bogoroditse Deva” (“Theotokos Sang Perawan”), sebuah gelar penghormatan kepada Sang Theotokos. Dengan demikian Firman Allah yang kekal dan yang sama itulah yang menjadi subyek Pribadi si bayi Anak Maryam itu. Sehingga Maryam memang betul-betul melahirkan seorang bayi manusia yang subyek PribadiNya adalah Allah yaitu Firman Allah sendiri. Demikianlah Maryam itu benar-benar “Theotokos” (Tokos = Sang Pemberi lahir secara jasmani karena nuzulNya; Theos = kepada Allah yaitu Firman Allah yang secara kekal tak berjasmani itu). Jadi sebutan “Theotokos” bagi Maryam itu justru menjelaskan keilahian Kristus yang tak pernah berubah sebagai Firman Allah itulah yang ditekankan, bukan diri Maryam sendiri. Itulah sebabnya ketika Maryam mengunjungi Elisabet, oleh ilham Roh Kudus dalam suatu nubuat wanita tua yang saleh ini menyapa Maryam dengan sebutan “Ibu Tuhan”-ku (Lukas 1:43). Kata “Tuhan” (“Kyrios”) yang digunakan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru itu mempunyai 3 latar-belakang, yaitu:

1. Kata ini menterjemahkan kata “YHWH” (sering dibaca Yehuwah atau Yahweh) sebagai Nama Allah sendiri dalam Alkitab Ibrani. Orang Yahudi menganggap kata ini sangat suci sekali sehingga takut untuk mengucapkannya, sebagai gantinya setiap ada kata “YHWH” ini mereka baca dengan bunyi “Adonay” (“Tuhanku”). Pada waktu Alkitab Ibrani diterjemahkan oleh ummat Yahudi ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta), maka setiap kali ada kata “YHWH” bunyi bacaannya “Adonay” (Yunaninya: Kyrios) itulah yang ditulis dalam terjemahan. Maka “Kyrios” bermakna Nama Allah sendiri.

2. Kata Kyrios dalam makna harafiahnya menunjuk kepada sebutan penghormatan, kepenguasaan atau kepada sesuatu yang dipertuan. Pada saat Yesus hidup di atas dunia ini kata “Kyrios” yang digunakan orang-orang sezamanNya untuk menyapa Dia itu seyogyanya dimengerti sebagai sebutan penghormatan saja: ”Tuan, Pak, Mister, Sir”, dan memanglah demikian maknanya.

3. Namun ketika Yesus telah dimuliakan, sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) untuk Yesus ini mempunyai makna sebagai “Penguasa” atau “Yang Dipertuan”. Jadi kata “Tuhan” (Kyrios) di sini tak langsung menunjuk kepada makna “Allah” (“Theos”). Itulah sebabnya sebutan “Allah” (“Theos”) bagi Sang Bapa, itu dibedakan penggunaanya dengan sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) bagi Yesus Kristus. Sehingga “Tuhan Yesus” maknanya bukan “Allah Yesus” namun “Sang Penguasa Yesus”, “Sang Junjungan Yesus”. Hal ini dibuktikan dalam penggunaannya dalam ayat-ayat berikut ini: ”…Yesus adalah Tuhan…Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Roma 10:9-10), “Allah, yang membangkitkan Tuhan…” (I Kor.6:14), “…satu Allah saja, yaitu Bapa,…satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus…” (I Kor.8:6), dan masih banyak yang lain lagi. Ayat-ayat di atas jelas membedakan “Allah” yaitu “Bapa” dengan “Tuhan” yaitu Yesus Kristus, yang dibangkitkan oleh “Allah” atau “Bapa” ini. Sejak kapan Yesus menerima gelar “Tuhan” ini? Sejak kebangkitanNya. Karena sesudah bangkit dari antara orang mati Dia mengatakan kepada para muridNya: ”KepadaKu telah diberikan (berarti: ada yang “memberikan”, yaitu Allah sendiri) SEGALA KUASA (Kepenguasaan mutlak: Jabatan Tuhan) di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Dengan demikian karena Allah yang memberikan “SEGALA KUASA” di sorga dan di bumi kepada Yesus yang telah bangkit ini, maka Allah pulalah yang mengangkat Yesus menjadi “Penguasa Mutlak” atau “Tuhan” atas sorga dan bumi ini. Inilah yang dikatakan dalam Kisah 2:36: ”Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan…”.

Yesus diangkat sebagai Penguasa Mutlak atau “Kyrios” (“Tuhan”) ini memiliki tiga tujuan:

a. Untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Adam yang terakhir yang telah memulihkan kepenguasaan Adam atas alam, yang hilang karena kejatuhan.

b. Untuk menunjukkan bahwa Yesus yang manusia itu sungguh-sungguh Sang Sabda yang menjelma sebagai manusia. Karena Allah selalu melaksanakan kepenguasaanNya atas alam melalui kalimatNya, sekarang kuasa yang sama atau ke-Tuhan-an Allah yang sama dan hanya satu itu, dilaksanakan melalui manusia Yesus Kristus, sehingga Yesus disebut Tuhan, dengan demikian Yesus tetaplah Sang Firman yang satu dan yang sama, karena melalui Sabda Allah itu Allah melaksanakan kuasa KetuhananNya sendiri. Dengan demikian baik Allah maupun KalimatNya tak berubah, baik dalam hakekatNya maupun dalam hubunganNya, meskipun Kalimat itu telah nuzul sebagai manusia.

c. Untuk tujuan keselamatan manusia, karena dengan kuasa mutlak sebagai “Penguasa” atau “Tuhan” ini Yesus Kristus akan mengubah tubuh manusia yang hina ini sehingga menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia pada Hari Kebangkitan nanti (Filipi 3:20-21).

Setelah mengerti makna kata “Tuhan” yang dikenakan kepada Yesus Kristus, maka jelas jika kita sekarang menyebut “Tuhan Yesus Kristus” maka makna ketiga itulah yang kita maksud. Sedangkan ketika para Malaikat (Lukas 2:11) menyebut Kristus sebagai Tuhan, dan terutama sekali ketika Elisabet menyebut Maryam sebagai “Ibu Tuhan” (Lukas 1:43), jelas yang dimaksud bukan makna ketiga ini, karena Yesus baru atau belum lahir, belum bangkit, dan belum dimuliakan. Bukan pula makna kedua, karena seorang bayi tak akan disebut “Pak” atau “Tuan”, namun itu menunjuk makna pertama “Kyrios” (“YHWH”), yaitu sebagai Nama Allah sendiri, untuk menunjuk bahwa bayi yang sedang lahir itu adalah “YHWH” yaitu “Firman YHWH” sendiri yang sedang menjelma sebagai manusia. Dengan demikian “Ibu Tuhan” bagi Maryam ini identik dengan “Bunda Allah” atau “Theotokos”. Jadi Maryam memang “Ibu dari Yang Ilahi” sendiri, yaitu “Bunda Allah” Sang Sabda dalam keberadaan nuzulNya, bukan dalam keadaan azali atau kekalNya. Karena keberadaan Sabda Allah yang azali dan kekal itu tak berbadan jasmani, tak beribu serta tak dilahirkan wanita, dan tanpa awal maupun akhir. Melalui gelar “Theotokos” bagi Maryam inilah justru keilahian Yesus Kristus sebagai Firman Allah dijaga dan dipagari. Maka kita tak akan lupa bahwa bayi yang dilahirkan Maryam itu ternyata tetap Allah yang sama, dan tak pernah berubah meskipun telah turun sebagai manusia, sehingga Ibu manusiaNya berhak disebut “Bunda Allah” (“Theotokos”). Sisi lain dari gelar “Theotokos” ini adalah untuk menegaskan kemanusiaan Yesus Kristus. Karena tanpa menegaskan kemanusiaanNya, kita akan jatuh pada ajaran bidat Monofisitisme yang hanya menekankan keilahian Yesus Kristus dan menghilangkan kemanusiaanNya serta dengan demikian mensifatkan wujud kemanusiaanNya itu sebagai Yang Ilahi sendiri. Jika yang demikian ini yang terjadi akhirnya kita bukan menyembah Allah yang benar dan ghaib, namun menyembah makhluk manusia Anak Maryam: “Dewa Yesus”.

Alkitab mengajarkan bahwa ketika Firman Allah “mengambil rupa…menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7) atau “lahir dari seorang perempuan” (Galatia 4:4) yaitu “menjadi manusia” (Yohanes 1:14), dia mengambil ini dengan “menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (Ibrani 2:14) artinya “dalam segala hal (yaitu: termasuk tubuh, jiwa, roh, akal-budi, emosi, kehendak, dan segenap sifat-sifat kemanusiaan) Ia harus disamakan dengan ”manusia” (Ibrani 2:17). Ini berarti bahwa Yesus Kristus adalah manusia sempurna. Dalam segala hal Dia memiliki kodrat yang sama persis dengan segenap manusia lainnya. Karena kodrat kemanusiaan yang diambilNya itu tak berbeda dalam segala hal dari segenap manusia di alam ini, maka Dia betul-betul Anak Maryam (Markus 6:3). Karena Yesus dalam kemanusiaanNya itu disebut “Anak Abraham” dan “Anak Daud “ (Matius 1:1), maka haruslah dalam jasad daging kemanusiaanNya itu mengalir “gen” dari Abraham dan Daud, bapa-bapa leluhurNya secara manusia itu. Padahal “gen” tadi harus didapat dari manusia yang merupakan keturunan Abraham dan Daud, dan kita tahu satu-satunya manusia yang mempersembahkan kemanusiaan dengan cara melahirkan Firman Allah yang menjelma ini sebagai bayi adalah Maryam, berarti Yesus memang harus mengambil “gen” Abraham dan Daud itu melalui Maryam. Artinya Maryam harus sungguh-sungguh dalam arti literal adalah Ibu kemanusiaan dari Penjelmaan Firman Allah ini. Maryam tidak hanya sekedar dilalui atau dilewati oleh kelahiran Yesus saja, namun kemanusiaan Yesus itu berasal dari ovum kemanusiaan Maryam. Itulah sebabnya Yesus disebut sebagai “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42). Ini berarti Maryam adalah pohon dari kemanusiaan Yesus, dan rahim atau ovum Maryam itu menjadi asal-usul dimana “BUAH” yaitu tubuh kemanusiaan bayi Yesus itu diproses.

Jadi Maryam bukan hanya sebagai saluran saja, dalam arti tak menyumbangkan apapun kepada kodrat kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma, seperti layaknya pipa kran yang dialiri air. Analogi ini tak masuk akal, karena air dari pipa kran itu bukan “buah” dari pipa tadi, padahal Yesus adalah “buah rahim” Maryam. Jadi memanglah kemanusiaan Yesus itu semata-mata berasal dari ovum Maryam yang tanpa sperma laki-laki oleh Kuasa Firman Allah itu sendiri dijadikan bentuk Bayi dan oleh Roh Allah sendiri diberikan kehidupan. Dengan demikian Yesus itulah ”Keturunan Perempuan” (Kejadian 3:15) karena terjadi tanpa sperma pria sama sekali namun langsung oleh Kuasa Yang Maha Tinggi sebagai mukjizat luar biasa, dan sekaligus “keturunan Abraham dan Daud”, karena Maryam adalah keturunan mereka dan melalui ovumnya “gen” Abraham dan Daud menjadi kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma. Itulah sebabnya Galatia 4:4 mengatakan bahwa Anak Allah yang pra-ada itu ketika lahir menjadi manusia dikatakan “genomenon ek gunaikos” = ”lahir keluar dari” atau “berasal dari ”perempuan“. Jadi “berasal dari” atau “keluar dari” Maryam inilah kemanusiaan Yesus itu dilahirkan ke dunia. Maryam bukan hanya dilalui saja, namun betul-betul menjadi Ibu Yesus Sang Firman Allah itu, yang darinya Sabda Allah yang tak berjasad jasmani itu mendapatkan jasad-jasmani kemanusiaanNya. Itulah sebabnya Maryam disebut “Theo-“ yang menekankan ke-“Allah”-an si Bayi sebagai Firman Allah, dan “-tokos” yang menekankan sungguh-sungguh si Bayi itu terlahir dari Maryam, berarti Ia manusia sejati yang memiliki permulaan dari kelahiran.

Jadi memang Maryam yang harus memiliki gelar ini, untuk menandaskan secara tegas bahwa kemanusiaan dari Bayi yang terlahir itu memang berasal dari Ibu yang melahirkan itu yang adalah betul-betul manusia. Sehingga si Bayi itu adalah manusia sejati dan sempurna, karena Ibu yang melahirkan adalah manusia sejati. Demikianlah gelar “Theotokos” bagi Maryam itu merupakan ringkasan theologis tentang makna Inkarnasi Kristus, serta menjadi pagar dan penjaga kokoh bagi “keilahian” dan “kemanusiaan” Kristus, yang tidak saling berbaur, tidak saling kacau, namun tak-terpisah-pisahkan dan tak terbagi-bagi dalam kesatuan Pribadi Firman Allah yang hanya satu itu. Gereja Orthodox pada tahun 431 di Efesus mengutuk “Nestorius” yang menolak gelar ini, karena penolakan itu berarti pemisah-misahan Pribadi Kristus yang satu itu menjadi dua. Jika Maryam hanya melahirkan kemanusiaanNya saja, berarti si Bayi yang lahir itu tak memiliki Pribadi Ilahi, dengan demikian sudahlah terpisah antara Pribadi Ilahi dan Pribadi Manusianya, sehingga ada dua Pribadi yang berbeda. Dengan demikian Yesus Kristus itu bukan Firman Allah yang menjelma, namun hanya manusia biasa Anak Maryam, yang baru kemudian kesurupan Firman Allah, seperti layaknya kalau orang kesurupan setan. Dalam pengertian semacam ini maka Pribadi Firman Allah dan Pribadi Anak Maryam memang beda, berarti ada dua pribadi dalam Yesus, dan bukan Satu Pribadi yang berkodrat dua secara tak terpisah. Jikalau begitu yang disalib itu hanya sekedar manusia biasa, bukan kematian dari kodrat kemanusiaan Firman Allah yang menjelma, sebab kodrat ilahiNya memang tak dapat disalib dan tak dapat mati. Jika yang mati itu hanya manusia biasa Anak Maryam saja, maka keselamatan tak akan terjadi oleh kematian semacam itu. Sampai sekarangpun Gereja Orthodox akan tetap menyangkal “Nestorius-Nestorius“ modern yang menolak menyebut Maryam sebagai “Theotokos”. Jelaslah gelar Theotokos bukanlah untuk memberhalakan atau mendewakan Maryam seperti yang sering disalah-mengerti serta seperti yang telah dialih-maknakan dalam Gereja Roma Katolik. Namun gelar itu untuk menjaga keutuhan dan kesatuan “dua-kodrat” Kristus dalam “satu Pribadi”. Sedangkan Maryam sendiri sebagai pribadi sampai kapanpun dia adalah “hamba Tuhan” yang suci, saleh, serta taat (Lukas 1:38).

Selain gelar ”Sang Theotokos” (”Bunda Allah”), Gereja sejak masa purba memberi gelar kepada Maryam sebagai ”Bunda Gereja”. Dalam Injil Yohanes 19:25-27, kita membaca pesan Yesus kepada murid-muridNya (Gereja).

“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maryam, isteri Klopas dan Maryam Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu !" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”
(Yoh. 19:25-27)

Maryam adalah Ibu dari murid Yesus yang terkasih, berarti menjadi ibu kita juga jika kita memang betul adalah murid Yesus. Murid Yesus yang terkasih adalah anak dari Maryam, berarti jika kitapun adalah murid Yesus, kita juga anak Maryam dalam keberadaan manusia baru kita. Murid Yesus menerima Maryam dalam rumahnya, maka kitapun jika memang murid Yesus harus menerima Maryam juga dalam rumah iman kita. Ummat percaya semua adalah Anak Maryam, berarti Maryam adalah “Ibu Kaum Beriman”. Dan kaum beriman adalah “Gereja” karena menyatu dalam Tubuh Kristus yang satu, maka Maryam adalah “Ibu/Bunda Gereja”, sekaligus lambang dan detak jantung Gereja, meskipun bukan ”Kepala Gereja”, karena Kristuslah satu-satunya Kepala Gereja. Karena sebagaimana Gereja itu adalah ”Perawan Suci” (2 Korintus 11:2) dan sekaligus ”Ibu/Bunda” (Galatia 4:26), maka Maryam-pun adalah ”Perawan Suci” dan ”Ibu/Bunda”.Ini makin nampak jelas pada hari Pentakosta (turunnya Roh Kudus, yang merupakan terbentuknya Gereja yang pertama), Bunda Maria ada bersama-sama para Rasul (Kis.1:14; 2). Maryam sebagai Ibu Kaum Beriman selalu bersama dengan para Rasul yang adalah gambaran dari Gereja/jemaat/kaum beriman. Itulah sebabnya sejak masa awal Gereja Purba, Maryam diberi gelar sebagai “Bunda Gereja” yaitu “Bunda Kaum Beriman”. Gelar-gelar lain yang diberikan para Bapa Gereja dan Gereja Orthodox Timur maupun Gereja Katolik Timur (gereja-gereja Uniat) untuk menghormati Bunda Maria diantaranya:

 “Aeiparthenos Maria” – “Forever virgin Mary”, ”Tetap Perawan”, “Selalu Perawan”.
 “Panaghia” (Παναγία) – ”All Holy”, ”Suci Kudus”, ”Suci Sempurna”.
 “Panagia Evangelistria” – “Our Lady of the good Tidings”, “Bunda dari Kabar Baik”.
 ”Hyperhaghia Theotokos” – “Most Holy Mother of God”, ”Amat Sangat Suci”.
 ”Panagia Despoina” - ”Our Lady and Queen”, “Sang Bunda dan Ratu”
 “Akhrantos” – ”Tak Bercacat”, Tanpa Cela”, “Immaculata Post-Natum” tetapi bukan ”Immaculata Conceptio” (”Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal”).
 ”Hypereulogheemenee” – ”Amat Sangat Terpuji”, ”Amat Sangat Terberkati”.
 “Axion Esti” - “it is worthy to bless Thee, the Virgin” , “Sungguhlah patut dan benar memberkatimu, ya Sang Perawan Theotokos”
 ”Platytera Toon Ouranoon” – ”Lebih luas dari Sorga” atau ”Sorga Kedua” (1 Raja 8:27).
 “Rodon to Amaranton” – “the Unfading Rose”, “Bunga Mawar Yang Tak Pernah Pudar”
 ”Panagia Myrtidiotissa” – “the Most Holy Theotokos "Of the Myrtle Tree (Myrtidiotissa)", “Bunda Tersuci dari Pohon Myrtle (Myrtidiotissa)”.
 Kemudian “Perantara”, “Pelindung”, “Ratu Sorga”, ”Bunda Surgawi”, ”Ratu Para Malaikat”, “Ibu Pengampun”, ”Sukacita Segenap Dunia”, dan lain-lain.

REFERENSI

1. Arkhimandrit Rm. Daniel Bambang Dwi Byantoro. Bahan-bahan Katekisasi Gereja Orthodox Indonesia: Gereja Orthodox dan Ajaran-ajarannya: Sang Perawan Maryam. Jakarta. (Tahun?).

2. Frans Harjawiyata OCSO. Kehidupan Devosional Dalam Gereja-gereja Timur. Seri Sumber Hidup 16. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Cetakan pertama 1993.

3. Romo Arkhimandrit Dr. Daniel Bambang D.B. Ph.D. Bunda Maria, Devosi Kepadanya di dalam Gereja Katolik-Apostolik Orthodox Timur. Haghia Sophia Foundation. Jakarta. Indonesia. (Tahun?).

4. Dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN