Jumat, 28 Oktober 2011

Doa hening Assisi sangat sesuai Gereja Asia

Tanggal publikasi: 27 Oktober 2011

Doa hening pribadi yang akan menandai pertemuan antaragama tahun ini di Assisi, yang diselenggarakan oleh Paus Benediktus XVI, sangat sesuai dengan religiositas Asia, demikian seorang pejabat tinggi Vatikan dalam bidang dialog antaragama kepada ucanews.com pekan ini.

Monsignor Andrew Thanya-anan Vissanu, wakil sekretaris dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama kelahiran Thailand mengatakan, “Kami orang Asia, kami berdoa dalam keheningan. Diam merupakan doa itu sendiri,” dan mungkin “lebih dahsyat.”

Ia menambahkan, inisiatif untuk doa pribadi itu berbeda dengan doa-doa bersama oleh komunitas agama yang berbeda, seperti dalam pertemuan pertama, yang diadakan oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1986. Kegiatan doa pribadi itu telah diterima dengan baik oleh para pemimpin agama di Asia.

Monsignor Vissanu adalah penanggung jawab atas dialog dengan agama Buddha di Dewan Kepausan.

“Bapa Suci ingin mengajak orang melakukan ziarah dalam mencari kebenaran, dan refleksi dalam hati kita tentang kebenaran. Hal ini juga penting untuk menghindari kesan bahwa dialog berarti sinkretisme atau relativisme,” katanya.

Ia mengatakan bahwa untuk pertama kalinya “Ikrar Perdamaian” yang menandai acara puncak pertemuan antaragama itu akan disampaikan dalam bahasa Mandarin oleh wakil Tao dari Hong Kong.

Ia juga menambahkan bahwa juga untuk pertama kalinya akan hadir sebuah delegasi dari Cina daratan di Assisi: sekelompok biksu dari Biara Shaolin di Henan, yang dipimpin oleh Yang Mulia Abbot Shi Yongxin.

Monsignor Vissanu mengatakan seleksi delegasi yang diundang ke Assisi dilakukan dalam konsultasi dengan Gereja-gereja lokal dan konferensi waligereja.

“Kami menggarisbawahi sepanjang waktu bahwa dialog tersebut tidak terjadi di sini di Roma, di via della Conciliazione Nomor 5 [alamat dari Dewan Kepausan]. Dialog yang nyata harus di Gereja lokal “dan melibatkan” cara hidup, orang-orang tersebut. Ini adalah dialog kehidupan.”

Kontingen Asia pada pertemuan Assisi akan mencakup 68 perwakilan Buddha dari 11 negara Buddha, tiga Konghucu, tiga Tao, 17 Shinto dan 13 perwakilan dari empat agama baru di Jepang.

Selain itu, sebanyak 18 wakil dari India yang mewakili Hindu, Jain, Zoroastria, Sikh, Bahai dan berbagai agama tradisional akan hadir, termasuk cucu Mahatma Gandhi dan Rajmohan aktivis anti-korupsi Swami Agnivesh, seorang kolega dekat Anna Hazare.

Daftar peserta Muslim sedang dalam proses penentuan akhir.

Monsignor Vissanu mengatakan dialog antaragama di Asia terletak pada tiga pilar: identitas, karena mereka yang memasuki dialog harus mengetahui identitas mereka sendiri; keragaman, karena “kita hidup bersama di dunia ini”; dan keanekaragman, yang berarti keindahan “misteri Allah dan kasih Allah melalui ciptaan-Nya.”

Sumber: Assisi silent prayer suits Asian Church

Catatan:

Disamping Doa dan Sholat, dalam Gereja Orthodox Timur juga mengenal semacam “samadhi” atau “berdzikir dengan tasbih Orthodox” yang disebut sebagai “Doa Puja Yesus” (“Doa Yesus”) dengan menggunakan semacam “tasbih” yang dirajut dari benang, disebut dalam bahasa Yunani sebagai “komboskini” (“Komboschoinia”; ” komvoschini”) atau “Chotki” (“Чётки“) dalam bahasa Rusia, yang dipintal dan berbiji 100, ada juga yang lebih pendek, terdiri dari 33 manik-manik. Mungkin untuk mengingat umur Yesus di muka bumi yaitu 33 tahun.

Rumusan doa ini berdasarkan seruan si buta di Yerikho (Luk. 18:38; Mat. 20:30) dan doa si pemungut cukai (Luk. 18:13), yaitu: “Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah kasihanilah aku orang berdosa ini”, yang dalam bahasa Yunani berbunyi: “:“Kyrie Iesou Khriste Hyos Ton Theon, eleyson me ton amartolon” (“Κύριε Ἰησοῦ Χριστέ, Υἱέ τοῦ Θεοῦ, ἐλέησόν με τὸν ἁμαρτωλόν“). Rumusan ini juga bisa diperpendek berupa: “Kyrie Iesou Khriste, eleyson me” atau “Kyrie eleyson”. Bahkan rumusan ini bisa diperpendek dengan hanya menyebut “Nama Yesus” saja. Doa ini seharusnya diulang dengan hening, dengan tidak tergesa-gesa, sementara menarik dan mengeluarkan nafas mengikuti rumusan doa ini.

Dan praktek yang dilakukan oleh kaum “sufi” Kristen Orthodox yang disebut kaum “hesykhastis”, “Hesychast” (Yunani: Ἡσυχαστής ; hesychastes) atau kaum “Quietists” yang disebut juga para rahib Cipto Hening (para Penghening), yaitu para praktisi “hesykhasme” (Yunani: ἡσυχασμός hesychasmos, dari: ἡσυχία hesychia, "stillness, rest, quiet, silence" = “keheningan”, “kesunyian”, “istirahat”, “ketenangan”, “diam”) atau “Sufisme Kristen Orthodox”, yaitu suatu aliran spiritualitas dan Kekristenan esoteris di Gereja Timur (Gereja Orthodox) yang didasarkan atas hesykhia (ἡσυχία; keheningan, teduh-diam, senyap) sebagai sarana untuk menjadi terpusat pada persatuan dengan Allah dalam doa tak kunjung putus.

Kaum “hesykhastis” (Quietists) atau para rahib Cipto Hening (para Penghening), misalnya St. Diadokhus dari Fotiki (400-kira-kira 486), St. Yohanes Kassianus (kira-kira 360-435), St. Yohanes Klimakos dari Gunung Sinai (sekitar 579-649), St. Hesychios Sang Imam (kira-kira abad 8th), St. Ioannikios Agung (754–846), St. Simeon Sang Theolog Baru (949–1022), St. Gregorius Palamas, Episkop Agung Tesalonika (1296–1359), St. Serafim dari Sarov (1759-1853), St. Theophanes sang Penyendiri (meninggal 1867), St. Nikolai Velimirovich (1880-1956), dll. Hesykhasme mendapat bentuknya yang definitif dan kemudian tersebar ke semua daerah Orthodox. Doa Yesus ditemukan pada pusat dari segala spiritualitas hesykhasme ini.

Doa Yesus disebut juga Doa Batin/Doa Hati/Doa Qolbu (“Noera Prosevkhee”; doa “Budi Rohani”) yang secara khusus menunjuk kepada “Doa Puja Yesus” dari Gereja Timur (Gereja Orthodox). Pengaruh Hesykhasme antara lain disebarluaskan oleh sebuah buku yang dikenal dengan nama “Philokalia”. Seruan dan pendarasan Nama Kudus Yesus dalam Doa Yesus dari Gereja Orthodox Timur ini sekarang digunakan juga oleh Gereja Roma Katolik, Anglikan dan beberapa gereja Protestan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN