Senin, 31 Oktober 2011

SINAKSARION (Kisah Orang Kudus): St. Athanasios Sang Igumen dari Meteora (1310 – 1383)

Oleh :
Presbyter Rm. Kirill J.S.L.
(Omeц Кирилл Д. С. Л.)
Paroikia St. Iona dari Manchuria
SURABAYA
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Apabila para rahub ditanya, apa sebab mereka mendaki gunung-gunung yang terjal di Yunani? Jawabnya tidak bisa tidak adalah karena di atas gunung yang terjal itu mereka merasa lebih sekat dengan Allah. Bukit-bukit terjal di Yunani mengandaikan tidak hanya Kenaikan ke Sorga, tetapi merupakan tempat perteduhan rohani, dimana para rahib berusaha memotong-motong batu karang yang terjal dan menghasilkan monasteri-monasteri tempat perteduhan rohani yang mengagumkan di dunia.

Tempat yang paling terkenal itu diantaranya biara Gunung Athos, tetapi biara ini tidak bisa dibandingkan dengan kehebatan dan kemegahan biara Meteora – satu tempat perteduhan rohani – yang dirancang oleh seorang rahib yang bersemangat tinggi. Nama rahib itu adalah St. Athanasios dari Meteora.

Kemasyhuran Gunung Athos karena bangunan-bangunannya yang besar dan asal-usulnya yang sudah ribuan tahun yang lampau dan bukan karena tempat yang memiliki nilai-nilai bersejarah. Biara Meteora terkenal karena merupakan satu tempat bersejarah dan susunan bangunannya lebih dari yang lain. Perpustakaannya berisi karya-karya tulis Gereja yang lebih besar dari benteng-benteng Kekristenan yang lain, dengan perkecualian dari vatikan dan perpustakaan dari biara St. Katerina di Sinai.

Monasteri Agia Triada (Tritunggal Kudus) di Meteora, Yunani

Monasteri Agios Stefanos (St. Stefanus), salah satu biara di Meteora

Beberapa dari bagian-bagian yang paling megah dari biara Meteora tidak dapat dicapai dengan mendaki, tetapi hanya bisa dicapai lewat kerekan di dalam satu keranjang.

Biara Meteora ada karena seorang biarawan yang namanya Athanasios yang dilahirkan di Neopatras (Lamia), Yunani, pda tahun 1310. Ibunya meninggal waktu melahirkan dia dan tidak lama sesudahnya ayahnyapun meninggal. Sebagai akibatnya dari hal ini, ia dipelihara dari masa bayinya oleh seorang pamannya yang mengatur pendidikannya dan memberanikan tekadnya dalam rencananya untuk hidup mengabdi bagi Gereja.

Terpaksa melarikan diri karena penyerbuan orang-orang Barbar, ia pergi ke Tessalonika dimana ia belajar filsafat dan teologi sampai tingkatan sarjana yang melayakkan dia untuk suatu tugas di Kantor Sekretaris Kerajaan, suatu tugas yang cepat membosankan karena tidak cocok dengan bidang studinya.

Ia tinggalkan Tessalonika ke pulau Kreta dengan singgah sebentar di Gunung Athos, Gunung Kudus. Ia tinggal cukup lama dan melihat bahwa karya kehidupannya ada di Kebiaraan. Sesudah beberapa tahun di Kreta, ia kembali ke Gunung Athos, dimana ia menerima kehidupan biara yang sudah ia cita-citakan dengan sabar.

Akhirnya ia menjadi seorang rahib dengan nama Athanasios. Kedamai-sentosaan hidup monastery dikacaukan oleh kaum Barbar pengembara yang mengepung biara dan menyusahkan para rahib itu. Kepungan ini silih berganti oleh kelompok-kelompok Barbar yang lain.

St. Athanasios, Sang Igumen dari Meteora (1310 – 1383)


Kepungan-kepungan ini membuat Athanasios berpikir sendiri bahwa perlu ada satu tempat di sana, dimana para rahib bisa terjamin keberadaannya yang penuh damai, dan ia tinggalkan Gunung Athos dengan rahib-rahib dan mencari satu tempat yang tenang. Mereka tiba di Thessaly dan tidak lama kemudian menemukan tempat yang sekarang dikenal sebagai Meteora. Suatu tempat yang terdiri dari karang yang terjal, yang dindingnya tinggi sekali, membentuk satu benteng alamiah, ditambahkan pula bahwa Meteora juga menjadi masalah untuk ahli-ahli teknik dan nampaknya suatu kebodohan untuk mencoba memotong-motong bukit karang yang terjal itu untuk dijadikan tempat tinggal. Tetapi Athanasios yang bersemangat, tekun melkukan dan berhasil mendapat bantuan dari seorang seniman yang mempunyai ketrampilan teknik yang giat merancang dan mengerjakan proyek ini yang hanya karena mukjizat iman berhasil dibangun.

Dalam tahun-tahun awal, penghuni monasteri ini sangat sedikit karena sulit untuk mencapainya dan karena orang takut kesana. Tetapi karena kepungan yang terus-menerus ke biara-biara lain, maka jumlah penghuni di Meteora mulai membengkak. Tidak lama kemudian biara itu berpenghuni ratusan rahib, yang sekarang dengan tertawa mereka melihat para pengepung yang ada di bawah. Dibawah pimpinan Athanasios para rahib menjalankan tugas-tugas monastik dan menghasilkan satu benteng Kekristenan yang hebat.

Ikon dari Agioi Athnasios kai Ioasaf oi Meteoritai

Athanasios tidak pernah meninggalkan Meteora. Dia memiliki "karunia membedakan roh" dan pelaku mukjizat yang agung. Ia meninggal dengan damai pada tanggal 20 April 1383. Pesta peringatan St. Athanasios Sang Igumen (Abbas) dari Meteora dirayakan bersama St. Ioasaf Sang Igumen dari Meteora setiap tanggal 20 April/3 Mei.

“St. Athanasios dari Meteora doakanlah kami yang berjalan dengan iman bersamamu. Amin!”

Referensi

1. ____________, Sinaksarion (Kisah Orang Kudus). Dikumpulkan oleh Rm. Kirill dari bulletin Gereja Orthodox Indonesia dan sumber-sumber lain. Malang. 2000.

2. ____________, Saint Herman Calender 2006. Saints of the German – Speaking Lands. Printed with the blessing of His Grace  Longin, Serbian Orthodox Bishop of the U.S.A. and Canada, New Gracanica Metropolitanate, and Bishop Adminstrator of Serbian Orthodox Diocese of Western America. Thirty-fourth year of publication. Copyright 2006 by the St. Herman of Alaska Brotherhood. 2006.

3. St. Nicholas Russian Orthodox Church, Mckinney (Dallas area), Texas. http://www.orthodox.net/ From the Prologue. The Venerable Athanasius of Meteora.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN