Kamis, 03 Desember 2009

[RUANG KADAVER] : TANATOLOGI, ILMU TENTANG KEMATIAN; PROSES KEMBALI MENJADI TANAH

Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

”...; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu” (Mazmur 104:29)

”manusia dari debu ... kembali kepada debu” (Pengkhotbah 3:20)

”kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pengkhotbah 12:7)

“Inna lillahi wa inna ilahi rajiun” (”Sesungguhnya kepada Tuhanlah segala sesuatu itu akan kembali”)

Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yaitu keadaan yang membedakan organisme (makhluk hidup), termasuk manusia dengan benda mati. Setiap manusia akan mengalami kematian karena disebabkan berakhirnya kehidupannya. Jadi kematian adalah bagian dari kehidupan setiap makhluk hidup, termasuk manusia.

Kematian adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik karena penyebab alami seperti penyakit atau karena penyebab tidak alami seperti kecelakaan. Setelah kematian, tubuh makhluk hidup mengalami pembusukan. Istilah lain yang sering digunakan adalah meninggal, wafat, tewas, atau mati.

Penyebab-penyebab kematian:


1. Seiring penuaan usia makhluk hidup, tubuh mereka akan perlahan-lahan mulai berhenti bekerja.
2. Jika tubuh tidak mampu melawan penyakit, atau tidak diobati.
3. Kecelakaan seperti tenggelam, tertabrak, dan terjatuh dari ketinggian.
4. Lingkungan dengan suhu yang sangat dingin atau yang terlalu panas.
5. Pendarahan yang diakibatkan luka yang parah.
6. Kekurangan makanan, air, udara, dan perlindungan.
7. Diserang dan dimakan (pembunuhan).
8. Infeksi dari gigitan hewan berbisa maupun hewan yang terinfeksi virus berbahaya.
9. Kematian disaat tidak terbangun dari tidur.
10. Kematian sebelum lahir, karena perawatan janin yang tidak benar.

Karena kematian adalah bagian dari kehidupan, maka dalam ilmu kedokteran juga dipelajari ilmu Tanatologi, selain ilmu-ilmu lain yang mempelajari, menunjang, mempertahankan, mengusahakan dan mengupayakan kehidupan. Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos (ilmu). Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.

Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah berikut:
1. Mati somatis (mati klinis)
2. Mati suri
3. Mati seluler
4. Mati serebral
5. Mati otak (batang otak)

1. Mati somatis


Mati somatis terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernafasan secara menetap (ireversibel).Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerakan pernafasan dan suara pernafasan tidak terdengar pada auskultasi.

2. Mati suri


Mati suri (suspend animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan oleh alat kedokteran sederhana.Dengan alat kedokteran yang canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi.Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.

3. Mati seluler (mati molekuler)

Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis.Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan.Pengertian ini penting dalam transplantasi organ.
Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam empat menit, otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira dua jam paska mati dan mengalami mati seluler setelah empat jam, dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin 0,1 persen atau penyuntikan sulfas atropin 1 persen kedalam kamera okuli anterior, pemberian pilokarpin 1 persen atau fisostigmin 0,5 persen akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam paska mati.
Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam paska mati dengan cara menyuntikkan subkutan pilokarpin 2 persen atau asetil kolin 20 persen, spermatozoa masih dapat bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis, kornea masih dapat ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai enam jam pasca-mati.

4. Mati serebral

Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel, kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernafasan dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat.

5. Mati otak (batang otak)

Mati otak (batang otak) adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum.Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak), maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.

Perubahan pada tubuh setelah kematian

Perubahan pada tubuh mayat adalah dengan melihat tanda kematian pada tubuh tersebut.Perubahan dapat terjadi dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya:
1. Kerja jantung dan peredaran darah terhenti,
2. Pernafasan berhenti,
3. Refleks cahaya dan kornea mata hilang,
4. Kulit pucat,
5. Terjadi relaksasi otot.

Tanda pasti kematian

Setelah beberapa waktu timbul perubahan paska mati yang jelas, sehingga memungkinkan diagnosa kematian menjadi lebih pasti.Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai tanda pasti kematian berupa:
1. Lebam mayat (hipostatis/lividitas paska mati)
2. Kaku mayat (rigor mortis)
3. Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
4. Pembusukan (dekomposisi)
5. Adiposera
6. Maserasi
7. Mummifikasi

1. Lebam mayat (Livor mortis, hipostatis/lividitas paska mati)


Livor mortis adalah salah satu tanda kematian, yaitu mengendapnya darah ke bagian bawah tubuh, menyebabkan warna merah-ungu atau bercak kelabu-kehitaman yang terjadi pada kulit mayat beberapa waktu setelah kematian. Karena jantung tidak lagi memompa darah, sel darah merah yang berat mengendap di bawah serum karena gravitasi bumi. Warna ini tidak muncul di daerah-daerah yang berhubungan dengan benda lain karena kapilari tertekan. Koroner dapat menggunakan hal ini untuk menentukan waktu kematian. Livor mortis dimulai sekitar 20 menit sampai 3 jam setelah kematian.

2. Kaku mayat (rigor mortis)

Rigor mortis atau kaku mayat terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan untuk memisahkan ikatan aktin dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot. Namun karena pada saat kematian terjadi penurunan cadangan ATP maka ikatan antara aktin dan myosin akan menetap (menggumpal) dan terjadilah kekakuan jenazah. Rigor mortis akan mulai muncul 2 jam postmortem semakin bertambah hingga mencapai maksimal pada 12 jam postmortem. Kemudian setelah itu akan berangsur-angsur menghilang sesuai dengan kemunculannya. Pada 12 jam setelah kekakuan maksimal (24 jam postmortem) kaku jenazah sudah tidak ada lagi. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kaku jenazah adalah suhu tubuh, volume otot dan suhu lingkungan. Makin tinggi suhu tubuh makin cepat terjadi kaku jenazah. Rigor mortis diperiksa dengan cara menggerakkan sendi fleksi dan antefleksi pada seluruh persendian tubuh.
Hal-hal yang perlu dibedakan dengan rigor mortis atau kaku jenazah adalah:
1. Cadaveric Spasmus, yaitu kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap sesudah kematian akibat hilangnya ATP lokal saat mati karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum mati.
2. Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein karena panas sehingga serabut otot memendek dan terjadi flexi sendi. Misalnya pada mayat yang tersimpan dalam ruangan dengan pemanas ruangan dalam waktu yang lama.
3. Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan yang dingin sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh dan pemadatan jaringan lemak subkutan sampai otot.

3. Penurunan suhu tubuh (algor mortis)

Algor mortis adalah penurunan suhu mayat. Suhu mayat dapat berubah karena
- Ada beda suhu tubuh dengan suhu lingkungan
- Tubuh sudah tidak ada metabolisme
- Tidak ada sirkulasi yang meratakan suhu tubuh

Faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya penurunan suhu tubuh mayat :
• Besarnya perbedaan suhu tubuh mayat dengan lingkungan
• Suhu tubuh mayat saat mati
• Aliran udara makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
• Kelembaban udara makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
• Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
• Aktivitas sebelum meninggal
• Sebab kematian
• Pakaian tipis makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
• Posisi tubuh dihubungkan dengan luas permukaaan tubuh yang terpapar.

4. Pembusukan (dekomposisi)

Pembusukan jenazah terjadi akibat proses degradasi jaringan karena autolisis dan kerja bakteri. Mulai muncul 24 jam postmortem, berupa warna kehijauan dimulai dari daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dekat dengan dinding perut,.menyebar ke seluruh dinding perut dan berbau busuk karena terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lain-lain. Gas yang terjadi menyebabkan pembengkakan. Akibat proses pembusukan rambut mudah dicabut, wajah membengkak, bola mata melotot, kelopak mata membengkak dan lidah terjulur. Pembusukan lebih mudah terjadi pada udara terbuka suhu lingkungan yang hangat/panas dan kelembaban tinggi. Bila penyebab kematiannya adalah penyakit infeksi maka pembusukan berlangsung lebih cepat. Interpretasi: Lamanya kematian, tergantung pada derajat pembusukan.Lalat yang hinggap pada tubuh yang membusuk pada 18 jam post mortal dan bertelur setelah 8 jam kemudian.

5. Adiposera (saponifikasi)

Adiposera adalah proses terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak dan berminyak berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh postmortem. Lemak akan terhidrolisis menjadi asam lemak bebas karena kerja lipase endogen dan enzim bakteri. Terbentuk pertama kali pada lemak superfisial bentuk bercak, di pipi, di payudara, bokong bagian tubuh atau ekstremitas.
Faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan suhu panas. Pembentukan adiposera membutuhkan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. Adiposera relatif resisten terhadap pembusukan. Manfaat : perkiraan saat kematian, perkiraan sebab kematian, posisi terakhir saat kematian.

6. Maserasi

Adalah perubahan yang terjadi pada mayat yang mati dalam kandungan yang mengandung dekomposisi protein steril akibat proses autolisis.

7. Mummifikasi


Mummifikasi terjadi pada suhu panas dan kering sehingga tubuh akan terdehidrasi dengan cepat. Mummifikasi terjadi pada 12-14 minggu. Jaringan akan berubah menjadi keras, kering, warna coklat gelap, berkeriput dan tidak membusuk.

Jadi proses manusia kembali menjadi tanah dapat dilihat dari skema sederhana sebagai berikut:

KEMATIAN ---> LEBAM MAYAT ---> KAKU MAYAT ---> PENURUNAN SUHU TUBUH ---> ADIPOSERA ---> PEMBUSUKAN

Kematian adalah batas kehidupan manusia di muka bumi, tetapi bukan merupakan ttik akhir kehidupan manusia. Menurut ajaran agama, kematian justru merupakan awal kehidupan baru, kehidupan yang kekal, sebab itu kematian merupakan bagian dari hidup, maka orang tidak akan merasa cemas dan takut.

Selain bagian dari kehidupan manusia, kematian sekaligus pintu, titian, jembatan menuju hidup kekal. Kita harus menghayati hidup yang kini dialami dan hidup abadi sesudah kematian sebagai satu kesatuan, dua tepian, dua seberang yang sesungguhnya merupakan dua belahan dari satu hidup yang sama. Dengan kematian kita berpindah dari hidup ”kini” menuju hidup ”seberang”, dari hidup ”sebelum” memasuki hidup ”sesudah” kematian, dari hidup ”sementara” ke dalam hidup ”abadi”.

Akhirnya karena kematian itu sendiri adalah hal alami dan akan dialami oleh setiap orang, maka kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan rohnya akan kembali kepada Allah, manusia hanya bisa berucap: ”dari debu kembali kepada debu”, ”Intaqala ilal amjadis samawati” (”telah berpulang kepada Kemuliaan Surgawi”).

Daftar pustaka

1. Dr. Med. Ahmad Ramali dan K. St. Pamoentjak, dalam Kamus Kedokteran, Arti dan Keterangan Istilah. Disempurnakan oleh: dr. Hendra T. Laksman. Lektor Kepala pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penerbit Djambatan. Cetakan keenam belas 1991.

2. Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia: Tanatologi, Pembusukan, Livor mortis, Rigor mortis, Mummifikasi, Adiposera

3. Web Sibermedik: http://sibermedik.files.wordpress.com/thanatologi-prest_ppt.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN