Minggu, 11 Oktober 2009

APAKAH ITU DYOPHYSITISME, EUTYCHIANISME, MONOPHYSITISME DAN MIAPHYSITISME?

Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

”Dyophysitisme” dari Patriarkh Nestorius dari Konstantinopel

Sejak keputusan Konsili Nikea II tahun 381 di Konstantinopel tentang kedudukan Konstantinopel, yaitu ”Episkop Konstantinopel akan memiliki prerogatif kehormatan sesudah Episkop di Roma, karena Konstantinopel adalah Roma Baru” (Kanon 3), Alexandria selalu berusaha untuk menyaingi Konstantinopel. Secara kebetulan pada abad kelima ini yang menjadi Patriarkh di Konstantinopel adalah seorang Syria dari Antiokhia, bernama: Nestorius (kira-kira 386 - 451). Sebagai seorang Syria maka tradisi theologia Antiokhialah yang digunakan untuk memahami Kristologis, Tradisi theologia Antiokhia lebih menekankan pendekatan “literal, tata-bahasa, dan kesejarahan” atas Kitab Suci, sehingga dalam hal Kristus merupakan tradisi yang menekankan kemanusiaan Kristus. Sedang tradisi theologia Alexandria menekankan “alegori”, sehingga dalam Kristologi Alexandria lebih menekankan keilahian Kristus, Keduanya seharusnya saling mengisi, dan merupakan dua sisi yang utuh bagi pendekatan atas Kitab Suci.

Karena mengikuti tradisi theologia Antiokhialah, maka Nestorius lebih menekankan kemanusiaan Kristus, sehingga menolak gelar “Theotokos” (“Sang Pemberi Lahir Secara Daging kepada Allah” yaitu Firman Allah (Kalimatullah) yang menjelma) yang telah beratus tahun digunakan di Gereja untuk menyebut Maryam. Menurut Nestorius yang dilahirkan Maryam hanyalah seorang “manusia” yang di dalamnya “Kalimatullah/Firman Allah” itu bersemayam, jadi bukan Kalimatullah/Firman Allah itu sendiri yang menjadi manusia, bertentangan dengan apa yang telah diakui dalam kedua konsili sebelumnya. Nestorius mengatakan yang dilahirkan oleh Maria itu bukan ke-Allah-an Yesus, tetapi hanya kemanusiaanNya saja. Jadi Maria tak boleh disebut Theotokos namun Anthropotokos (”Dia yang Melahirkan Manusia”) atau paling tinggi dengan sebutan Kristotokos (”Dia Yang Melahirkan Kristus”). Dengan demikian Nestorius mengajarkan bahwa dalam pribadi Yesus terdapat dua kodrat, kodrat ilahi dan kodrat manusiawi. Kedua kodrat tersebut terpisah, namun berada dalam satu pribadi yaitu pribadi Yesus. Inilah ”Dyophysitisme” dari Nestorius.

Kesempatan ini digunakan oleh Gereja Alexandria sekaligus untuk menghantam tradisi theologia Antiokhia dan kedudukan Konstantinopel yang dianggap menggeser kedudukan Alexandria itu, melalui St. Kyrillos dari Alexandria (kira-kira 378 - 444). Dia ingin menjatuhkan Nestorius sebagai Patriarkh Konstantinopel, dengan demikian mempermalukan Konstantinopel, serta melawan pemahaman theologianya dengan demikian menentang pemahaman Syria, Antiokhia, yang kebetulan kali ini Kristologi Nestorius itu memang tidak Alkitabiah, dan tidak rasuliyah. Dan inilah kesempatan yang baik. Jadi sebenarnya konflik ini adalah adalah konflik antara Alexandria (Mesir) dan Antiokhia (Syria) (bukan dengan unsur Yunani dalam Gereja Timur itu).

St. Kyrillos menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam sebagai “Theotokos”, karena Dia yang dilahirkan olehnya adalah “Firman” yang adalah “Allah”, yang “telah menjadi manusia” (Yohanes 1:1,14) atau ajaran St. Kyrillos dari Alexandria dikenal sebagai: ”mia physis ton theon logon sesarkomeni” (“satu kodrat Firman Allah yang menjelma”). Jadi Firman Allah itu sendirilah yang dilahirkan dalam penjelmaanNya sebagai manusia, maka Maryam memang melahirkan Firman Allah dalam penjelmaanNya sebagai manusia. Jadi Maryam memang “Theotokos”. Para pengikut Nestorius menolak tunduk dan bertobat pada peringatan St. Kyrillos ini. Sehingga dipimpin oleh St. Kyrillos sendiri pada tahun 431, di Efesus, sejumlah kecil Episkop mengadakan Konsili untuk meneguhkan ajaran Gereja Alexandria serta menolak ajaran theologia Syria, dari Nestorius ini, dimana ditegaskan bahwa Maryam adalah Theotokos, karena yang dilahirkan Maryam tak lain adalah “Firman Allah” yang sama dan yang satu, yang menjelma menjadi manusia. Baru pada tahun 433 sajalah keputusan Konsili ini diterima oleh segenap Episkop Timur, dan akhirnya diakui sebagai Konsili Ekumenis Ketiga.

Sementara itu Gereja Syria di Persia akibat penganiayaan para shah yang begitu kejam akibat provokasi dari para Majus atau pemimpin Agama Zoroaster penyembah api itu, karena dicurigai menjadi antek Byzantium yang beragama Kristen, musuh bebuyutan Persia itu, memutuskan untuk memiliki Patriarkh sendiri, lepas dari Antiokhia, karena Antiokhia berada dalam wilayah Byzantium. Dan untuk meyakinkan Shah Persia bahwa mereka bukan antek Byzantium, maka secara alamiah mereka menerima theologia Syria dari Nestorius, karena selama ini Gereja Syria, di Persia, memang menghormati tulisan-tulisan Theodoros dari Mopsuestia, guru dari Nestorius. Demikianlah meskipun Nestorius akhirnya meninggal sebagai rahib di padang gurun Libia, ajarannya tetap dipertahankan oleh Gereja Syria di Persia. Maka Gereja Syriapun terpecah menjadi dua, yaitu di Syria Barat yang mengikuti definisi dari Kyrillos dari Alexandria dan di Syria Timur yang mengikuti definisi Nestorius, orang Syria itu. Sejak saat itu Gereja Syria Timur ini terkenal dengan nama Gereja Nestorian, meskipun sebenarnya mereka sendiri tak pernah menyebut diri mereka demikian. Gereja Nestorian ini sekarang lebih dikenal sebagai Gereja Assyria Timur. Ajaran mereka sebenarnya tak sejauh Nestorianisme yang dituduhkan pada mereka, dan praktek-praktek mereka tak beda dengan praktek-praktek Gereja Orthodox. Sehingga ada beberapa sarjana modern yang menyebut mereka sebagai ”Gereja Orthodox Pre-Kalsedonia”. Dan Gereja Persia yang sebenarnya merupakan bagian dari Gereja Orthodox Antiokhia ini menjadi Gereja yang amat misioner, sehingga sampai mengabarkan Injil di Cina, dan bahkan pada abad ketujuh di Indonesia: di Pancur dan Barus, Sumatra, bahkan ada berita bahwa mereka juga ada di Kerajaan Majapahit.

”Monophysitisme” dari Eutykhes atau ”Eutychianisme”

Keputusan dari Konsili Ketiga ini memang tidak langsung diterima oleh semua pihak, karena masih timbul kontroversi mengenai ajaran St. Kyrilos ini. Kebanyakan Episkop di Timur mengkhawatirkan ajaran St. Kyrillos ini tidak secara memadai menyatakan kemanusiaan Kristus yang sejati. Namun setelah saling berdialog tercapailah pengertian dan persetujuan bersama mengenai apa yang dimaksud oleh St. Kyrillos. Namun sesudah wafatnya, seorang rahib dan Archimandrit (gelar jenjang tertinggi untuk Presbiter/Romo/Imam yang tidak menikah/ selibat dalam Gereja Orthodox) dari Konstantinopel bernama Eutyches (kira-kira 380 - 456), mengajarkan bahwa yang dimaksud oleh Kyrillos adalah bahwa Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) saja, yaitu kodrat Ilahi, sebab kodrat manusiaNya ditelan oleh kodrat ilahiNya. Jadi berdasarkan apa yang dikatakan oleh St. Kyrillos dari Alexandria: ”mia physis ton theon logon sesarkomeni” (“satu kodrat Firman Allah yang menjelma”), Eutykhes mengartikan dan sebagai titik pijak ajarannya bahwa: ”Kristus itu hanya memiliki satu kodrat saja, yaitu kodrat Ilahi. Sebab yang Ilahi itu lebih berkuasa daripada yang manusiawi, jadi yang manusiawi itu hilang tenggelam ditelan yang Ilahi. Kristus tidak memiliki dua kodrat lagi, namun hanya satu kodrat (monophysit)” – (Asal : mono-mia = satu ; physis = kodrat). Ajaran ini menimbulkan kegelisahan kembali di dalam Gereja. Para pembela ajaran ini mengadakan Konsilinya sendiri bersama Patriarkh Dioskoros dari Alexandria (444-451,  454) dan Eutykhes pada tahun 449 di Efesus, dan mereka menganggap bahwa mereka pengikut ajaran Kyrillos yang setia. Konsili ini diikuti oleh sejumlah besar Episkop, namun tidak diterima sebagai Konsili yang sah, malah disebut sebagai “Latrocinium” atau “Konsili Para Perampok”. Ajaran tentang Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) ini akhirnya terkenal sebagai ajaran ”Monophysitisme”, yang ditolak oleh Gereja dan dinyatakan bidat. Ajaran monophysitisme dari Archimandrit Eutyches ini dikenal juga sebagai bidat ”Eutychianisme”.

Rumusan Konsili Ekumenis Kalsedonia dan Penafsirannya oleh Patriarkh Kyrillos dari Alexandria dan Paus Leo Agung dari Roma

Untuk memecahkan masalah ini maka suatu Konsili yang lain diadakan pada tahun 451, di kota Kalsedonia, dekat Konstantinopel. Konsili ini dikenal dalam Gereja sebagai Konsili Ekumenis Keempat, dan berhasil`membela ajaran St. Kyrillos dari Alexandria serta ajaran Konsili Ekumenis Ketiga di Efesus tahun 431. Ini juga memuaskan tuntutan para Episkop Timur mengenai kemanusiaan Kristus yang sejati yang secara jelas harus diakui. Konsili Ekumenis Kalsedonia ini dihadiri oleh 650 Episkop. Definisi dogmatis dari Konsili Kalsedonia ini mengikuti secara dekat ajaran yang dirumuskan oleh Paus Santo Leo (Al-Baba Laon) atau dikenal sebagai St. Leo I (Agung) dari Tuscany atau Paus St. Leo Agung (440-461) dari Roma, yang tidak turut hadir dalam Konsili itu, namun hanya mengirim wakil-wakilnya. Menurut definisi Konsili Kalsedonia ini Kristus itu memiliki “satu hypostasis” (menegaskan tradisi theologia Alexandria) dalam “dua kodrat” (menegaskan tradisi theologia Syria, Antiokhia) – ilahi dan manusiawi. Konsili Kalsedonia memutuskan secara tegas dan lugas: “Kristus itu satu Pribadi (satu hypostasis), namun memiliki dua kodrat (Ilahi dan manusiawi) yang tak terpisah namun tak bercampur baur”. Jadi sekali lagi Rumusan Kalsedon mengatakan Almasih itu memiliki: “satu pribadi dalam dua kodrat, yang manunggal secara tak terbagi-bagi, tak terpisah-pisah, tak berbaur dan tak kacau-balau”. Dia sepenuhnya Ilahi. Dia sepenuhnya manusia. Dia Allah sempurna dan manusia sempurna. Sebagai Allah (yaitu:Firman Allah) Dia “satu Dzat-Hakekat/Essensi” dengan Sang Bapa (Allah yang Esa) dan dengan Roh Allah sendiri. Dan sebagai manusia, Dia satu “hakekat/ esensi” dengan segenap manusia. Keilahian dan kemanusiaan Kristus itu menyatu/manunggal dalam satu hypostasis/pribadi namun tidak campur-baur dan tidak kacau-balau dan tidak terpisah-pisah serta tidak terbagi-bagi. Kristus itu satu pribadi yang sekaligus Allah dan Manusia. Pemahaman Gereja Orthodox mengenai Pribadi Kristus itu sangat kokoh berpegang erat pada rumusan Konsili Kalsedon tahun 451.

Kaum Monophysit di zaman purba sampai kini menolak rumusan Kalsedon ini serta menganggapnya itu bersifat Nestorianisme, terutama sebagaimana yang ditafsirkan oleh Gereja Barat Roma Katolik dan kemudian Protestantisme. Namun Gereja Orthodox mengertinya secara berbeda. Ini penting ditegaskan karena umat Roma Katolik merasa bahwa Kalsedonia adalah kemenangan theologia Latin Roma Katolik, terutama kemenangan dari Paus Leo Agung dari Roma. Dan Umat Monophysit dalam penolakannya terhadap Rumusan Kalsedonia justru pandangan Gereja Barat ini yang digunakan sebagai acuannya. Karena menurut Paus Leo memang kelihatannya ada pemisah-misahan dua kodrat itu, sehingga bahaya mendekati kembali Nestorianisme itu tak terelakkan. Sehingga sebenarnya yang dimusuhi umat Monophysit (Koptik-Ethiopia, Syria Orthodox - Thomas India, Armenia) adalah pemimpin Gereja Barat Latin: Paus Leo itu, namun bukan pemimpin dari Konstantinopel atau Patriarkh Timur lainnya.

Umat Monophysit menyangka bahwa Gereja Orthodox mengerti Rumusan Kalsedonia sama dengan pemahaman Gereja Barat: Roma Katolik. Rumusan Kalsedonia dalam Gereja Orthodox itu bukan dilihat dari titik pandang Paus Leo dari Roma, namun dari titik-pandang Kyrilos dari Alexandria, sebagaimana yang dijelaskan dalam Konsili Ekumenis yang kelima tahun 553 sesudah Konsili IV di Kalsedon tahun 451 itu. Sering dalam pemahaman Gereja Barat, jika Kristus lahir, tumbuh dewasa, menderita, disalibkan, mati, kesakitan, lapar, merasa tidak tahu dan lain-lain sifat kemanusiaan yang terlihat, itu dianggap hanya kodrat kemanusiaanNya saja yang melakukan dan mengalami hal itu semua. Sedangkan jikalau Ia berbuat mukjizat, bangkit dari antara orang mati menunjukkan otoritas dan lain-lain, itulah kodrat ilahiNya yang bekerja. Pemisah-pilahan seperti ini memang sangat bersifat Nestorianistis, itulah sebabnya ditolak umat Monophysit (Non-Kalsedonia). Disangka Umat Orthodoxpun (Kalsedonian) menerima pemahaman seperti itu. Itu adalah salah paham dari pihak Monophysit. Iman Orthodox dalam Konsili kelima ini menegaskan bahwa yang menjadi “subyek” dalam diri Yesus Kristus adalah Firman Allah yang kekal itu. Jadi waktu Ia lahir dari Maryam, sakit, lapar, merasa tidak tahu, disalibkan dan mati, itu adalah Firman Allah sendiri sebagai “subyek” yang mengalami melalui tubuh kemanusiaanNya, namun pada saat yang bersamaan Firman Allah itu tetap tak terlahirkan, tak dapat sakit, tak dapat lapar, selalu maha-tahu, tak bisa kesakitan ketika disalib, tak bisa mati meskipun Ia sedang mati. Dan yang berbuat mukjizat itupun bukan hanya kodrat ilahiNya saja, namun Firman Allah yang sama dalam tubuh manusiaNya itu yang melakukan. Jadi Gereja Orthodox berani mengatakan bahwa dalam Yesus Kristus, Allah (yaitu, Firman) itu telah disalibkan, namun juga tak disalibkan, telah dilahirkan namun toh juga tanpa awal, telah menderita sakit namun juga tak merasa kesakitan, telah mati namun toh tetap hidup kekal. Karena baik kodrat ilahiNya maupun kodrat manusiaNya itu tak dapat dipisah-pisahkan ataupun dibagi-bagi dan hanya memiliki subyek tunggal yaitu pribadi atau hypostasis dari Firman Allah yang kekal itu. Jadi tuduhan Monophysit terhadap Gereja Orthodox Timur dan penolakannya atas Kalsedonia sebagaimana yang dimengerti oleh Gereja Orthodox Timur - sebagai bercorak Nestorianisme - itu jelas salah arah. Karena Kristus itu Firman Allah dan bersifat Allah, maka peristiwa turunNya Kristus menjadi manusia itu sering disebut “Allah menjadi manusia”. Penyataan “Allah jadi manusia” lalu “disalibkan, mati, dikuburkan, bangkit dari antara orang mati,” dan seterusnya itu dapat menjadi salah pengertian yang besar juga jika jargon Kristen ini tak diterjemahkan dengan bahasa umum.

”Monophysitisme” dalam Pengertian ”Miaphysit Ex Dyo Physeoos” atau “Miaphysitisme”

Para pengikut Kyrillos yang ekstrim menolak definisi Kalsedonia ini karena dianggap berbau Nestorianisme (Diophysitisme), suatu tuduhan yang tidak tepat dan tidak fair memang. Mereka menegaskan bahwa Kristus hanya memiliki “satu kodrat” saja, meskipun kodrat itu telah menjelma, padahal menurut mereka Konsili ini mengatakan Kristus memiliki “dua kodrat” yang dianggap sebagai kesesatan Nestorius, namun mereka tidak menggabungkan bahwa “dua kodrat” itu dalam satu pribadi, atau satu hypostasis, yang jelas tak bersangkutan dengan ajaran Nestorius. Jadi mereka menekankan bahwa Kristus hanya memiliki “Satu Kodrat” menjelma saja, artinya bukan hanya kodrat Ilahi saja seperti halnya apa yang diajarkan oleh Archimandrit Eutykhes, namun satu kodrat yang terdiri dari kemanunggalan “Yang Ilahi dan Yang manusiawi secara tak terpisah”. Jadi rumusan Non-Kalsedon mengatakan Almasih itu memiliki “satu kodrat yang berasal dari dua kodrat (”Miaphysit ex dyo physeoos”), yang manunggal secara tak terbagi-bagi, tak terpisah-pisah, tak berbaur dan tak kacau balau”. Ini sebenarnya bukan Monophysitisme ala Eutykhes atau Eutychianisme tapi “Miaphysitisme”. Penekanan ini disalah mengerti oleh pendukung rumusan Kalsedon sebagai yang mengikuti ajaran Monophysitisme dari Eutykhes. Sehingga dapat dilihat, bahwa meskipun keduanya memegang Paradosis/Tradisi Kudus iman rasuliyah yang sama, namun saling salah mengerti istilah yang digunakan. Jadi mereka ini sebetulnya bukan bidat monophysitisme dalam arti Eutychianisme.

Demikianlah mereka ini akhirnya memisahkan diri dari Gereja Orthodox alur utama. Para pendukung Konsili Kalsedonia akhirnya mengangkat Patriakh Kalsedonia di Mesir: Proterius (452 - 457), sedang penentang Kalsedonia memilih Patriarkh tandingan mereka, yaitu Timotius Si Kucing (Timotius II) dikenal juga sebagai Timotius Aelurus (Αίλυρος) (457 - 477). Sejak itulah Gereja Mesir terpecah dua, yang Orthodox Kalsedonia yang tetap bersatu dengan seluruh Gereja universal, dan yang menolak Kalsedonia, yang kemudian terkenal dengan Gereja Koptik Orthodox, serta mengikuti faham “satu-kodrat” (monophysis). Demikian juga di pihak Syria, ada yang mengikuti langkah Gereja Alexandria dalam memeluk faham “satu-kodrat” ini, namun ada yang tetap dengan Gereja Universal yang menerima Konsili Kalsedonia. Dengan demikian Gereja Syria sebelah Barat terpecah lagi antara yang “Orthodox” (kaum Monophysit, menyebut Gereja Syria yang Orthodox ini sebagai: Malkaya/Melkit, atau para pengikut Raja/Malak) dan yang “Monophysit”. Pihak Monophysit ini oleh perjuangan Episkop Yakub Burdana (Yakub Baradeus) ( 30 Juli 578) berhasil mengorganisasi suatu lembaga kegerajaan Syria Monophysit, yang akhirnya terkenal dengan nama Gereja Syria Orthodox atau Gereja Yakobit (Gereja Ya’kubiyyah). Sedangkan yang Orthodox alur utama tetap melanjutkan Kepatriarkhan Syria Antiokhia yang memiliki hubungan dengan Gereja-Gereja Orthodox Aleksandria, Konstantinopel, Yerusalem, dan Roma.

Gereja Armenia karena sedang menghadapi perang dengan Persia sehingga tak terwakili dalam Konsili Kalsedonia, menolak hasil Konsili itu serta mengikuti faham “satu-kodrat”, demikian pula Gereja Thomas India yang terkait dengan Gereja Persia dan Gereja Syria, dan Gereja Ethiopia yang terkait dengan Gereja Koptik. Lima Gereja (Koptik, Syria-Yakobit, Armenia, Thomas-India, dan Ethiopia) inilah yang dalam buku-buku sejarah Gereja terkenal dengan nama: Gereja-Gereja Monophysit, atau pada masakini akibat hubungan-hubungan ekumenis, untuk menghormati mereka disebut sebagai Gereja-Gereja Oriental Orthodox (Oriental Orthodox Church), atau Gereja-Gereja Timur Alur Kecil, atau Gereja-Gereja Orthodox Non-Kalsedonia. Sedangkan Gereja Orthodox Alur Utama, disebut Gereja Orthodox Timur (Eastern Orthodox Church), atau Gereja Orthodox Kalsedonia atau Gereja Orthodox Yunani ( - Kata “Yunani” itu tak berarti menunjuk etnik Yunani, sama seperti “Roma” Katolik tak menunjuk pengikutnya sebagai bangsa Roma, namun untuk menunjuk ekspresi karya sastra theologis utama dari para Bapa Gereja Timur adalah menggunakan bahasa Yunani, meskipun jika mereka itu berkebangsaan Syria misalnya St. Efraim dari Syria, St. Yohanes Khrisostomos, atau berkebangsaan Koptik, misalnya St. Athanasius dari Alexandria, St. Kyrilos dari Alexandria, St. Klemen dari Alexandria dan lain-lainnya, sebagaimana Gereja Barat menggunakan bahasa Latin, maka Gereja Baratpun sering disebut “Gereja Latin”.-).

Sebutan “Monophysit” adalah nama yang dikenal dalam tulisan-tulisan sejarah. Karena “mono” artinya “satu-satunya”; ”physis” artinya ”kodrat”, yang adalah ajaran dari Eutyches yang jelas ditolak oleh Gereja Orthodox alur utama dan ternyata dalam perkembangannya kemudian Gereja Non-Kalsedoniapun menolaknya. Yang sebenarnya sekarang dipercayai oleh Gereja-Gereja Non-Kalseonia ini haruslah disebut “Miaphysitisme” yang kadang-kadang disebut juga ”Henophysitisme”. Karena “mia” artinya “tunggal”, yaitu ”Almasih memiliki kodrat tunggal yang berasal dari dua kodrat: ilahi dan manusia”. Jadi ajaran Gereja Non-Kalsedonia masakini termasuk di dalamnya Gereja Orthodox Syria dan Koptik lebih mendekati ajaran Orthodox alur utama (Gereja Orthodox Kalsedonia). Oleh alasan-alasan politik, budaya, ekonomi dan ras, yang akhirnya hal-hal theologis itu dijadikan panji-panji, Gereja Alexandria dengan cabangnya yaitu Gereja Ethiopia beserta Gereja Syria dengan cabangnya Gereja Thomas-India, serta Gereja Armenia ini menolak hasil keputusan Konsili Kalsedonia tahun 451 Masehi, karena mereka menganggap hasil keputusan ini bersifat Nestorianistis, yang tentu saja merupakan anggapan yang tidak benar, seperti yang telah kita jelaskan.

Rumusan dari Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik

Melalui dialog-dialog dengan pihak Orthodox alur utama, umat Non-Kalsedon ini telah berusaha mengklarifikasikan ajaran mereka dalam pertemuan-pertemuan yang dilakukan. Mereka mengaku – kecuali Gereja Ethiopia yang tetap mempertahankan rumusan “Monophysit”- tetap memegang ajaran Orthodox yang satu dan yang sama, kecuali dalam hal rumusan mengenai “tabiat Kristus” yang dimengertinya sebagai “satu kodrat” (“monophysit”) tadi. Dalam forum-forum internasional mereka selalu dalam satu kelompok, terutama dalam Dewan Gereja Dunia WCC, kedua tradisi Gereja Timur (Orthodox dan Oriental) itu hanya memiliki satu wadah Orthodox saja. Bahkan persatuan pemuda Orthodox Internasional: ”Syndesmos”, itu juga merupakan wadah bersama antara Non-Kalsedonia dan Kalsedonia.

Gereja-Gereja Orthodox Kalsedonia yaitu Gereja Orthodox alur-besar, sesuai dengan rumusan Kalsedonia menegaskan bahwa Kristus itu memiliki “dua-kodrat (manusia-ilahi) dalam satu hypostasis”, sedangkan Gereja-Gereja Orthodox Non-Kalsedonia mengatakan Kristus itu memiliki “satu kodrat yang berasal dari dua kodrat, yaitu :Kodrat menjelma”. “Satu Kodrat” dari rumusan Non-Kalsedonia inilah yang sebenarnya ditegaskan oleh Konsili Kalsedonia sebagai “satu hypostasis” (“satu Pribadi”), dan “Yang Berasal dari Dua Kodrat atau Kodrat Menjelma” itulah apa yang disebut oleh Rumusan Kalsedon sebagai “Dua Kodrat” karena menjelma berarti “Yang Ilahi telah Menjadi Manusiawi” berarti ada Kodrat Ilahi dan Kodrat Manusiawi. Baik Kalsedonia maupun Non-Kalsedonia mengatakan bahwa persatuan dua kodrat itu adalah persatuan “tanpa kacau, tanpa campur-baur, tanpa terbagi-bagi, tanpa terpisah-pisah”. Dengan demikian yang ilahi tetap ilahi tidak menjadi manusia, dan yang manusiawi tetap manusia tidak menjadi ilahi, namun keduanya telah manunggal dalam kesatuan yang dalam rumusan Kalsedonia adalah kesatuan dalam “SATU HYPOSTASIS” sedangkan menurut Non-Kalsedonia kesatuan dalam “SATU KODRAT MENJELMA”. Jadi menurut Rumusan Kalsedonia obyek kesatuan dari “Dua Kodrat” yang tak terpisah dan tak terbagi itu adalah “hypostasis” atau ‘Pribadi” dari Firman Allah, sedangkan menurut penghayatan Non-Kalsedonia obyek kesatuan dari “Dua Kodrat” yang telah manunggal secara tak terpisah dan tak terbagi itu adalah “kesatuannya itu sendiri”. Itulah sebabnya Rumusan Kalsedonia itu sebenarnya menegaskan dan lebih menjelaskan apa yang dimaksud oleh Non-Kalsedonia secara lebih tegas dan lebih matang, dan merupakan suatu kesimpulan logis daripadanya.

Kesatuan dalam Almasih itu oleh pihak Non-Kalsedon disebut “satu kodrat” (“Miaphysis”). Sedangkan pihak Orthodox menyebut “satu pribadi” (“Mia hypostasis“) seperti yang dirumuskan dalam Konsili Kalsedon. Pihak Orthodox Kalsedon menyebut dua realita yang manusiawi dan yang ilahi dalam Almasih dengan istilah “dalam dua kodrat”. Sedangkan oleh pihak Non-Kalsedon dimengerti sebagai “dari dua kodrat”. Dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh kedua belah pihak keluarga Gereja Timur: Orthodox Kalsedonia dan Gereja Oriental: Non-Kalsedonia pada tahun 1964 di Aarhus, Den Mark, pada bulan Juli 1967 di Bristol, Inggris, pada bulan Agustus 1970 di Geneva, Switzerland, serta pada bulan Januari 1971, di Addis Ababa, Ethiopia, dicapai saling pengertian bahwa ajaran pihak Non-Kalsedon itu ternyata tak mengikuti ajaran “Monopysitisme” model Eutyches, dan bahwa pihak Orthodox jelas tak pernah mengajarkan dua kodrat yang terpisah-pisah seperti ajaran Nestorius, seperti yang dituduhkan oleh pihak Non-Kalsedon selama ini sebagai panji-panji pemisahan mereka dari Gereja Orthodox. Baik Kalsedon maupun Non-Kalsedon kedua-duanya menolak faham Eutyches maupun Nestorius. Berarti pihak Non-Kalsedon, dan tentu saja tak dapat diragukan bagi pihak pihak Orthodox Kalsedonia, berusaha mempertahankan iman rasuliyah yang sama terminologi yang berbeda: “satu hypostasis” (Orthodox: Kalsedon) dan “satu physis” (Oriental: Non-Kalsedon), serta “dalam dua kodrat” (Orthodox:Kalsedon) dan “dari dua kodrat” (Oriental: Non-Kalsedon). Jadi Gereja Non-Kalsedonia itu tak seharusnya disebut Monophysit kalau yang dimaksud adalah ajaran “Eutychianisme”, namun “Monophysit” dalam pengertian ”Miaphysit ex dyo physeoos”, yaitu Almasih memiliki ”kodrat tunggal yang berasal dari dua kodrat”: ilahi dan manusia. Kemiripan Iman dan ethos serta peribadahan jelas menonjol sekali dalam kedua keluarga Gereja Timur: Orthodox Kalsedonia dan Non-Kalsedonia ini.

Kesimpulan dari uraian di atas adalah: Gereja-Gereja Monophysit atau ”Gereja Orthodox Non-Kalsedonia” sebenarnya adalah Gereja Miaphysit yaitu mengikuti rumusan: ”Almasih memiliki kodrat tunggal yang berasal dari dua kodrat: ilahi dan manusia” (”Miaphysit ex dyo physeoos”), bukanlah Gereja Monophysit yang mengikuti ajaran Monophysitisme dari Eutykhes atau ”Eutychianisme”, yaitu: ”Kristus itu hanya memiliki satu kodrat saja, yaitu kodrat Ilahi. Sebab yang Ilahi itu lebih berkuasa daripada yang manusiawi, jadi yang manusiawi itu hilang tenggelam ditelan yang Ilahi. Karena itu Gereja-Gereja Non-Kalsedonia lebih mendekati ajaran Orthodox Orthodox Alur Utama atau ”Gereja Orthodox Kalsedonia” yang memiliki rumusan: Almasih itu memiliki: “satu pribadi dalam dua kodrat, yang manunggal secara tak terbagi-bagi, tak terpisah-pisah, tak berbaur dan tak kacau-balau”. Dia sepenuhnya Ilahi. Dia sepenuhnya manusia. Dia Allah sempurna dan manusia sempurna.

Sedangkan Gereja Nestorian yang dikenal sebagai Gereja Assyria Timur, yaitu ”Gereja Orthodox Pre-Kalsedonia”, ajarannya sebenarnya tak sejauh Nestorianisme yang dituduhkan pada mereka, dan praktek-praktek mereka tak beda dengan praktek-praktek kedua Gereja Orthodox di atas, baik Gereja Orthodox Non-Kalsedonia (Oriental Orthodox Church) maupun Gereja Orthodox Kalsedonia (Eastern Orthodox Church).

Dengan demikian Gereja-Gereja Orthodox ini sebenarnya tetap merupakan Gereja yang ajarannya Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Gereja-Gereja yang berasal dari para Rasul, yang menerima ajaran dari Tuhan dan Kepala Gereja yang juga hanya satu, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Referensi

1. Rm. Arkhimandrit Daniel Bambang D. Byantoro. Seminar Gereja Orthodox Indonesia. “Masih Adakah Gereja Perjanjian Baru?”. Libra Ball Room, Executive Club. Jakarta Hilton Hotel. 21/ 11/ 1997.

2. From Wikipedia, the free encyclopedia: Monophysitism, Dyophysite, Miaphysitism:

http://en.wikipedia.org/wiki/Monophysitism
http://en.wikipedia.org/wiki/Dyophysite
http://en.wikipedia.org/wiki/Miaphysitism

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN