Minggu, 04 Oktober 2009

SEKARANG KITA SEMUA HINDU

Diedit dengan sedikit
tambahan oleh:
Presbyter Rm.Kyrill. JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Amerika bukanlah negara Kristen. Benar, kita, negara yang ditemukan oleh orang-orang Kristen, dan menurut survai 2008, 76 persen dari kita mengaku sebagai Kristen (ini persentasi terendah dalam sejarah Amerika).
Tentu saja kita bukan negara Hindu atau Muslim, Yahudi, juga bukan negara perdukunan. Lebih dari sejuta orang Hindu tinggal di Amerika Serikat, sebagian dari semilyar di dunia. Tetapi data angket baru-baru ini menunjukkan bahwa setidaknya secara konsep, kita pelahan-pelahan makin menjadi seperti orang Hindu dan kurang menjadi kristen tradisional dalam hal pemikiran kita mengenai Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, dan kekekalan.
Kitab Suci Hindu tertua Rig Veda, mengatakan: “Kebenaran itu SATU, namun disebut dalam banyak nama.” Orang Hindu percaya ada banyak jalan menuju Tuhan. Yesus adalah satu jalan, Quran jalan lainnya, praktek yoga adalah yang ketiga. Tidak satupun lebih baik dari lainnya; semua setara. Kristen konservatif yang paling tradisional tidak pernah diajar untuk berfikir demikian. Mereka belajar di sekolah minggu bahwa agama mereka benar dan yang lain salah. Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tak seorangpun datang kepada Bapa kecuali melalui Aku.”
Orang Amerika tidak lagi membelinya. Menurut survai Pew Forum di tahun 2008, 65 persen dari kita percaya bahwa “banyak agama dapat membawa kepada kehidupan kekal,” termasuk 37 persen kaum injili berkulit putih, kelompok yang umumnya percaya bahwa keselamatan hanya untuk mereka. Juga, jumlah orang yang mencari kebenaran spiritual diluar gereja bertambah. Tiga puluh persen orang Amerika menyebut diri mereka “spiritual, bukan beragama,” menurut angket Newsweek tahun 2009, naik dari 24 persen di tahun 2005. Stephen Prothero, profesor agama di Universitas Boston, sudah lama menggambarkan kemakmuran Amerika akan “warung agama yang menyukai yang ilahi” sebagai “sangat sesuai jiwa Hinduisme.” Kamu tidak memungut dan memilih dari agama yang berbeda, karena semuanya sama, ia berkata. ”Ini semua menyangkut ortodoksi. Ini menyangkut apapun yang jalan. Kalau pergi ke yoga jalan, baik – dan kalau pergi ke misa Katolik jalan, baik. Dan kalau pergi ke misa Katolik ditambah yoga ditambah retreat Buddhis jalan, itu juga baik.”
Maka tidak ada pertanyaan tentang apa yang terjadi bila kamu mati. Orang kristen tradisional percaya bahwa tubuh dan roh itu suci, dan bersama keduanya membentuk ”diri,” dan ”pada akhir zaman keduanya akan disatukan dalam kebangkitan”. Kamu membutuhkan keduanya, dengan kata lain, kamu membutuhkannya selama-lamanya. Orang Hindu tidak mempercayai hal itu. Dalam kematian, tubuh terbakar di atas api, sedangkan rohnya – dimana berada identitasnya – terlepas. Dalam inkarnasi, pusat ajaran Hinduisme, diri kembali ke bumi ke tubuh yang lain. Jadi ada jalan lain dimana orang Amerika menjadi makin Hindu: 24 persen orang Amerika percaya akan reinkarnasi, menurut angket Harris ditahun 2008. Jadi kita bersifat agnostik*) tentang nasib tubuh kita sehingga kita membakar mereka sesudah mati – seperti orang Hindu. Lebih dari sepertiga orang Amerika sekarang memilih kremasi, menurut Asosiasi Kremasi Amerika Utara, naik dari 6 persen ditahun 1975. “Saya pikir peran rohani yang lebih dari agama cenderung tidak lagi menekankan penafsiran harfiah atas kebangkitan,” diakui Diana Eck, profesor perbandingan agama di Harvard. Karena itu marilah kita semua berkata “om.” (catatan penerjemah: mantra tuhan Hindu).

*) CATATAN TENTANG AGNOSTISISME:

Agnostisisme adalah bidat yang timbul dikawasan gereja-gereja Barat, suatu pandangan bahwa keberadaan Tuhan tidak mungkin diketahui oleh manusia. Pendirian kaum agnostik, bahwa baik keberadaan Tuhan, maupun asal mula alam semesta ini tidak diketahui atau tidak bisa diketahui. Si agnostik bukan sekedar berkata, ”Saya tidak tahu apakah Tuhan itu ada”. Ia membuat penilaian negatif yang umum bahwa, ”Saya tidak bisa tahu apakah Tuhan itu ada”. Agnostisisme percaya bahwa tidak mungkin ada pengetahuan yang pasti mengenai misteri Allah.
Ironis sekali, agar sebuah penilaian negatif yang umum semacam ini terbukti benar diperlukan semacam pengetahuan umum. Dengan kata lain, bagaimana si agnostik itu tahu bahwa ia tidak bisa tahu? Si agnostik itu sekedar mengganti sesuatu yang mutlak (Tuhan serta kebenaranNya) dengan sesuatu yang mutlak lainnya (pendapatnya sendiri bahwa ia tidak mungkin bisa kenal Tuhan).
Gereja Roma Katolik mengutuk bidat Agnostisisme, yaitu melalui Paus St. Pius X (Giuseppe Sarto) dari Riese (Treviso) (4 Agustus 1903 – 20 Agustus 1914) pada 8 September 1907 mengutuk Modernisme dalam ensikliknya Pascendi Dominici Gregis. Disebutkan bahwa yang termasuk Modernisme adalah Agnostisisme, Immanentisisme, dan Teori Evolusi. Dinyatakan bahwa Modernisme merupakan penggabungan dari segala bidat. Dalam ensiklikal Pascendi Dominici Gregis, beliau bukan saja membuat deklarasi bahwa ajaran modernisme adalah bersifat heretikal tetapi juga mengutuknya sebagai “ibu kepada semua ajaran sesat”.

REFERENSI

1. A.Sandiwan Suharto & Eddy Suhendro, Ziarah Sang Abdi. Bapa Suci Yohanes Paulus II. Panitia Penyambutan Sri Paus Jakarta, 1989.

2. Drs. F.D. Wellem, M.Th. Kamus Sejarah Gereja. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. 1994.

3. Lisa Miller. Sekarang Kita Semua Hindu.15 Agustus 2009, edisi 31 Agustus 2009:
www.newsweek.com/id/212155

4. Yabina. Sekarang Kita Semua Hindu: sekertariat@yabina.org. Monday, August 17,
2009 8:30 PM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN