Jumat, 09 Oktober 2009

IMAN ATAU PAJAK ! SURAT PATRIARKH ISYU'YAB III, KATOLIKOS-PATRIARKH GEREJA ASSYRIA TIMUR

Oleh :
Presbyter Rm.Kyrillos JSL
(Omeц Кирилл Джунан Сисваджа Легава)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Kekristenan bukanlah sesuatu yang asing di negeri Arab, bahkan sebelum kedatangan kaum Nestorian. Di tahun 225 terdapat keuskupan di Beth-Katraye di Wilayah Qatar. Kekristenan mengalir ke suku-suku Himyar, Ghassân, Taghlib, Tanũkh, Tayy dan Qudâ’a, jauh sebelum kedatangan agama Islam. Seorang ratu Arab, Maryam namanya, beragama Kristen. Dia pernah mengundang uskup Musa untuk tinggal di tengah bangsanya. Orang Ghassanid yang ada di bawah kuasa Byzantium adalah penganut monofisitisme, sedangkan orang Lakhmida dari Hira, yang ada kaitannya dengan Persia adalah penganut Nestorian.
Dalam abad kelima, terdapat lima keepiskopan di negeri Arab, yang di antaranya adalah keepiskopan Hira di bawah Uskup Agung Gereja Assyria Timur (Nestorian) Kashkar. Keepiskopan Nestorian juga terdapat di Bahrain, Qatar dan Oman. Ada juga gereja-gereja di San’a – sebuah katedral yang dibangun di sana oleh Abraha al Asman – Aden dan Dhofar. Seabad kemudian, persekutuan Kristen bergerak masuk ke wilayah Yaman. Pada umumnya, orang Arab Kristen ini adalah pengikut gereja Timur Nestorian. Mistikus terkenal dari paro kedua abad ketujuh, St. Iskhaq dari Niniwe atau St. Isak dari Syria (abad ke-7/ 660), lahir di Qatar adalah seorang Nestorian.
Dituturkan juga bahwa Katholikos-Patriarkh Mar Isho-Yab II (628-644) dari Seleukia, mula-mula pernah bersekutu dengan Nabi Muhammad dan kemudian dengan khalifah Umar, sehingga ia memperoleh sejumlah konsesi yang menguntungkan bagi kaum Nestorian. Para sahabat Muhamad pun tidak sungkan memanfaatkan orang Kristen dalam hal dagang dan politik. Para pengganti Muhammad memanfaatkan orang Nestorian dalam berbagai perkara penting di istana dan juga duduk dalam pimpinan beberapa provinsi Persia. Pada masa pemerintahan para khalifah, Persia terdiri dari Kerman, Balkh, Bukhara, Seistan, Khorasan, dan Afghanistan.
Umat Kristen dan Yahudi dianggap Muhamad sebagai "orang-orang yang dipenuhi ajaran kitab", dan bukan orang kafir. Al-Quran sendiri tidak melihat orang-orang ahlul kitab ini sebagai musuh, kecuali mereka yang memerangi tanpa alasan yang jelas. Status kafir, menurut Al-Quran, lebih ditujukan kepada orang-orang penyembah berhala. Dari sini, jelaslah sudah tiada konflik keagamaan di jazirah Arab. Masalah kemudian muncul setelah hasrat politik lebih dominan dikedepankan ketimbang idealisme ajaran agama. Hasrat politik ini mulai masuk di lingkar kekuasaan Islam setelah beberapa tahun sahabat Nabi, Umar bin al-Khattab mulai menjalankan misi penaklukan kawasan di luar Arab yang beragama Kristen. Suku Najran dipaksa masuk Islam dan dipaksa tinggal di Iraq. Pemimpin wilayah yang beragama non-Islam diganti pemimpin Islam tanpa alasan yang jelas. Hubungan Islam-Kristen makin buruk ketika Umar mengeluarkan kebijakan pajak (jizya) lebih besar kepada orang Kristen. Jizya atau jizyah (bhs. Arab: جزْية) adalah pajak per kapita yang dibebankan pada pria dewasa non-Muslim, yang dikenal sebagai ahlul dzimma (kelompok minoritas yang dilindungi), sebagai pertukaran untuk ijin praktek iman mereka, perlakuan kondisi-kondisi yang pasti, dan memiliki hukum otonomi umum yang dikenal sebagai perlindungan Muslim dari agresi dari luar dan dibebaskan dari wajib militer. Tetapi aturan itu tidak berlaku bagi anak-anak, perempuan dan tuna-karya. Juga orang-orang tua, para imam dan rahib dibebaskan, sehingga keinginan untuk menjadi rahib bisa dianggap sebagai tindakan untuk menghindari pembayaran pajak ini. Para tuan tanah harus membayar pajak tanah (kharaj). Kebijakan lain adalah melarang orang tua pemeluk Kristen membaptis anak-anaknya, dan mewajibkan mempelajari ajaran Islam. Merasa semakin terdesak, orang Kristen mencoba bertahan dengan segala upaya, termasuk meminta bantuan kekuasaan Byzantium. Suku-suku Kristen lalu bergabung dengan pasukan Yunani dan memberontak atas kebijakan Umar.
Setelah Nabi Muhamad wafat tahun 632 tampaknya hampir semua penerusnya lebih memaksimalkan dakwahnya melalui instrumen politik. Tentu tren politisasi ini sejalan dengan politisasi agama Kristen di luar Arab waktu itu. Perebutan kawasan, penaklukan suku-suku sedang menjadi tren pasukan-pasukan kenegaraan.
Pada tahun 633 kekuatan bangsa Arab, yang telah disatukan oleh Islam, dilepaskan terhadap kerajaan Persia. Ibukota jatuh ke tangan Khalifah Umar pada tahun 638 dan pada tahun 652 gerakan pembersihan sudah genap. Pengalaman Gereja Timur di bawah khalifah-khalifah termasuk suka dan duka. Gereja sendiri dilemahkan oleh perpecahan intern. Seorang uskup yang bertanggung jawab atas gereja di seberang Teluk Persia dan sepanjang pantai timur semenanjung Arabia tidak mau mengakui Patriarkus Isyu'-Yab III atau yang dikenal sebagai Mar Isho-Yab III (649-660) sebagai kepala Gereja atau Katholikos-Patriarkh Gereja Orthodox Assyria Timur atau Katholikos Seleukia-Ktesiphon dan Patriarkh dari Timur (Catholicoses of Seleucie-Ctesiphon and Patriarchs of the East). Inilah surat Patriarkus kepada uskup yang bersangkutan tertanggal tahun 650 sehubungan dengan pajak dengan tuntutan "separuh harta milik" yang memang jauh lebih berat daripada yang sah atau lazim menurut hukum jizya (pajak kepala yang dipungut dari umat bukan Islam).

"Ke manakah anak-anakmu, hai bapa yang ketinggalan? Di manakah mezbah-mezbahmu, hai imam yang terbuang? Apakah yang telah terjadi dengan penduduk Oman yang begitu banyak? Mereka tidak dipaksakan dengan pedang atau api atau siksaan-siksaan lain, tetapi sekedar karena ingin mempertahankan separuh harta miliknya saja! Gila! Mereka langsung tertelan oleh kemurtadan sehingga mereka binasa untuk selama-lamanya. Hanya dua imam-imaman saja yang luput dari nyala keingkaran ... Wahai! Wahai! Dari sekian puluh ribu manusia yang disebut Kristen, kog tidak ada satupun yang mempersembahkan kurban kepada Allah sebagaimana yang layak menurut Iman kita yang benar ... !". Sebenarnya justru orang-orang Arab, yang kepadanya Allah telah menyerahkan kuasa atas tanah-tanah kita pada waktu ini - sebagaimana engkau tahu mereka adalah di daerah kami juga. Akan tetapi mereka bukan hanya menahan dirinya dari serangan terhadap agama kita, mereka malah memuji Iman kita, menghormati orang-orang kudus kita yang telah wafat. Mereka mengaruniakan jasa-jasa kepada gereja-gereja dan biara-biara kita."
"Jadi apa sebabnya umatmu di Oman telah menyerahkan imannya begitu saja dengan kedatangan penguasa-penguasa baru? Apalagi mengingat apa yang diakui benar oleh orang-orang Oman sendiri, yaitu bahwa penguasa-penguasa Arab tidak memaksakan orang untuk murtad, tetapi hanya menyuruh supaya separuh harta miliknya diserahkan jika orang mau mempertahankan imannya. Akan tetapi umatmu telah menyerahkan iman yang membawa manfaat kekal mengganti sebagian dari harta dunia ini yang akan lenyap! Iman kita yang telah dibeli dan masih dibeli oleh bangsa manapun dengan harga darah kemartiran ... ternyata tidak dapat dibeli oleh umatmu di Oman dengan separuh harta miliknya!".

Gereja Assyria Timur ini dikenal oleh para sarjana dan ahli sejarah dan juga dinyatakan oleh Paus Yohanes Paulus II (Karol Wojtyla) Wadowice, Polandia (16 Oktober 1978 - meninggal Sabtu 2 April 2005; orang Polandia) sebagai “Gereja Para Martir” (“The martyrs’ church”) karena tidak sebuah Gerejapun mengalami penderitaan sebanyak kemartiran Kekristenan Gereja Assyria Timur ini.
Pada masa kini umat Gereja Assyria Timur (Nestorian) yang sebagian besar sudah menyatu dengan Gereja Orthodox Rusia, dan yang masih sisa tinggal kira-kira 50.000 orang saja di seluruh dunia. Dan sejak revolusi Islam Iran, karena perlakuan yang keras dari Ayatollah Khomeini, Patriarkh mereka meninggalkan Iran, dan sekarang bermukim di kota Chicago, Amerika Serikat.

Referensi

1. Anton Wessels (Diterjemahkan oleh Ny. Tati S.L. Tobing – Kartohadiprojo). Arab dan Kristen. Gereja-gereja Kristen di Timur Tengah. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. Cetakan ke-2: 2002.

2. Faiz Manshur. Perdamaian Kristen - Arab Masa Lalu. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/06/opi04.html

3. Ira C., Ph.D. Semakin Dibabat Semakin Merambat. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. Cetakan pertama, 1989.

4. From Wikipedia, the free encyclopedia. Jizya: http://en.wikipedia.org/wiki/Jizya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN