Kamis, 05 November 2009

[RUANG KADAVER] : TENTANG KEMATIAN: TITIAN HIDUP, KEMATIAN BAGIAN DARI HIDUP

Diedit:
Presbyter Rm.Kyrillos JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

Ada tulisan menarik tentang kematian dari seorang rohaniwan Kristen:

Pada hakekatnya sebuah titian menghubungkan dua tepian. Fungsinya sebagai jembatan, penghubung yang mempersatukan dua seberang yang terpisah oleh sungai atau alur yang dalam. Untuk mencapai seberang orang harus melewati, harus menapaki titian. Tanpa titian orang akan sulit mencapai tepian atau seberang yang lain.

Dalam konteks dan perspektif tertentu, titian dapat menimbulkan rasa cemas, apabila alur atau jurang itu dalam dan curam; apabila jarak antara tepian itu lebar, sebab titian sebagai titian, tidak terbuat dari batu beton, tetapi lebih merupakan hasil kreativitas manusia yang menghadapi suatu kesulitan, yang unik dan hanya sementara, sehingga bahan untuk titian memiliki sifat tidak bertahan lama. Semakin mendekati titian, para penyeberang merasa takut. Mereka saling mengingatkan supaya berjalan perlahan-lahan dan hati-hati agar tidak tergelincir dan jatuh.


MANUSIA ADALAH PEZIARAH YANG HARUS MELEWATI TITIAN HIDUP YANG RAPUH DAN TIDAK BERTAHAN LAMA

Hidup merupakan satu penyeberangan yang terus-menerus. Satu perpindahan dari kemarin ke hari ini, dari hari ini ke besok. Dan setiap perjalanan hidup pada prinsipnya harus maju, melangkah ke depan. Maka orang harus melewati batas antara kemarin dan hari ini, antara hari ini dan besok. Hidup yang melangkah maju berarti melepaskan satu seberang untuk mencapai seberang yang lain. Setiap saat, setiap melepas hari, bulan, dan tahun sebenarnya kita berpindah dari satu seberang ke seberang lain dan serentak juga semakin mendekati tujuan akhir hidup kita!

Kematian adalah batas kehidupan manusia di muka bumi, tetapi bukan merupakan ttik akhir kehidupan manusia. Menurut ajaran agama, kematian justru merupakan awal kehidupan baru, kehidupan yang kekal, sebab itu kematian merupakan bagian dari hidup, maka orang tidak akan merasa cemas dan takut.

Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, (Ibr. 9:27)

Apabila orang Kristen memandang peristiwa kematian dari perspektif kebangkitan Kristus dan yakin bahwa kematian adalah gerbang menuju hidup abadi, maka dia kan hidup dengan tekun, tabah, tanpa tekanan dan rasa cemas. Memang, hari penghakiman membawa juga rasa cemas bagi siapa saja, sebab orang akan berpikir apakah hidupnya sudah berhasil dalam menyongsong saat terakhir dan penting ini. Namun hakim kehidupan adalah Dia yang kita imani, yakni Kristus, Penebus, dan Penyelamat. Selama hidup di dunia, kita merasa seperti dalam pembuangan, dan sedang dalam perjalanan ziarah. Maka kematian bagi kita justru merupakan ”Jalan pulang ke Rumah Bapa”, setelah ”mengakhiri perjalanan ziarah di dunia yang melelahkan ini”, ”meninggalkan kemah tubuh yang sudah tua, usang, untuk memasuki kemah baru” karena itu kematian adalah ”keuntungan” dan karena itu sebagai orang beriman kita semestinya menghadapinya dengan hati gembira dan penuh kerinduan.

Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. (2 Kor. 5:1)

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (Flp. 1:21)

Kita harus menghayati hidup yang kini dialami dan hidup abadi sesudah kematian sebagai satu kesatuan, dua tepian, dua seberang yang sesungguhnya merupakan dua belahan dari satu hidup yang sama. Dan kematian, adalah ”Titian”, lewat mana kita berpindah dari hidup ”kini” menuju hidup ”seberang”, dari hidup ”sebelum” memasuki hidup ”sesudah” kematian, dari hidup ”sementara” ke dalam hidup ”abadi”.

Artikel-artikel tentang kematian di web blog terang dari timur bukan dimaksudkan untuk sekedar dibaca, tetapi lebih lagi untuk direnungkan. Merenungkan kematian tujuannya hanya satu: supaya kita selalu ingat (eling) dengan Sang Khalik, refleksi, mawas diri, akan kesementaraan titian hidup tubuh kita ini, kita semua akan mengalami kematian tubuh dan akan memasuki dunia keabadian dan masa penghakiman akhir.

Selamat berpadang pasir, bersaat teduh & semoga berguna!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN