Selasa, 09 Juni 2009

apa itu Gereja Orthodox? 1


Apa dan Bagaimanakah Gereja Orthodox (Gereja Timur)? - (1)
Penyebaran Kekristenan Timur yangSemitik – Helenis,& Karya Misi Gereja Timur




(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
DAFTAR ISI:

I. KEKRISTENAN TIMUR (KEKRISTENAN ORTHODOX) DAN STATISTIK
II. JIWA DAN SEMANGAT MISSIONER GEREJA TIMUR
III. KAUM ARAB KRISTEN TIMUR DI TIMUR TENGAH
IV. DARI MISI KEKRISTENAN TIMUR YANG SEMITIK–HELENISTIK, MENJANGKAU
BANGSA-BANGSA DUNIA
LAMPIRAN :
1. PARADOKS GEREJA ORTHODOX
2. TABEL PARA PATRIARKH ORTHODOX PADA SAAT INI
3. BAGAN GARIS WAKTU SEJARAH GEREJA (A TIME LINE OF CHURCH HISTORY)
REFERENSI




Πιστεύομεν εἰς ἕνα Εἰς μίαν, Ἁγίαν, Καθολικὴν καὶ Ἀποστολικὴν Ἐκκλησίαν
(Teks dalam bahasa Yunani)

Верую во едину Святую, Соборную и Апостольскую Церковь
(Teks dalam bahasa Slavonik – Rusia)

Credo in unum et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam
(Teks dalam bahasa Latin)

Aku percaya akan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik1 dan Apostolik2
(Versi Orthodox3 & Roma Katolik)

(Kredo/Syahadat/ Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel tahun 325; point ke-9)

”…dan engkau Petrus, di atas batu karang inilah Aku akan mendirikan GerejaKu dan alam maut tidak akan menguasainya”.
(Mat.16:18)

“Jemaat (Gereja) dari Allah yang hidup, TIANG PENOPANG DAN DASAR KEBENARAN”
(I Timotius 3:15).

I. KEKRISTENAN TIMUR (KEKRISTENAN ORTHODOX) DAN STATISTIK

Sejak abad pertama agama Kristen tidak pernah bersifat monolitik4, dan di masa kini terdapat banyak sekali kelompok yang memiliki sejarah dan tradisi yang sama di dalam dan di luar agama Kristen arus utama. Data pada tahun 2005 menunjukkan bahwa agama Kristen adalah agama terbesar di dunia dengan jumlah 2.1 milyard (sekitar sepertiga dari seluruh penduduk dunia atau 33% dari agama-agama lain)5. Agama Kristen termasuk banyak tradisi agama yang bervariasi berdasarkan budaya, dan juga kepercayaan dan a3. FOTO BEBERAPA PATRIARKH ORTHODOXliran yang jumlahnya ribuan), karenanya kita perlu memahami berbagai tradisi keagamaan dalam pengertian kesamaan dan perbedaan antara tradisi, theologi, pemerintahan gereja, doktrin, bahasa, dan seterusnya, dalam hal ini termasuk Kekristenan Orthodox.

Kekristenan Orthodox (Kekristenan Timur) mungkin adalah kata asing yang pernah anda dengar. Jadi merupakan hal baru, kalau saya katakan bahwa di dunia ini ada tiga kelompok Kekristenan – bukan hanya dua. Pertama kelompok Roma Katolik; kedua kelompok Protestan; dan ketiga kelompok Orthodox. Kristen Orthodox inilah yang disebut Kekristenan Timur atau Gereja Timur. Sedang Kekristenan Barat atau Gereja Barat adalah Gereja Roma Katolik dan Gereja Protestan dengan denominasi-denominasi gerejanya (aliran Gereja).

Kekeristenan Orthodox kurang dikenal, bahkan dianggap sebagai Gereja Purba yang sudah musnah. Hal ini disebabkan lokasi utama dunia Orthodox yang adalah di Yunani, Timur Tengah, Rusia, dan Eropa Timur, sejak masa-masa penyebaran Islam di Timur Tengah dan Asia Kecil, pasca kematian Nabi Muhammad pada tahun 632 berada dalam penguasaan/penjajahan kekhalifahan Islam selama berabad-abad, sedangkan Gereja Orthodox Rusia dan Gereja-Gereja Orthodox Slavonik lainnya sejak bulan Oktober tahun 1917 (dengan Revolusi Bolshevik) sampai sekitar tahun 1988 berada dalam penjajahan kaum komunis pada era Uni-Sovyet. Sebelum era-era ini, Gereja juga mengalami penganiayaan dan penghambatan dibawah pemerintahan-pemerintahan pagan, seperti Kerajaan Romawi, Kerajaan Persia, juga tekanan penganiayaan para kaisar pengikut ajaran heterodox/bidat/heretik. Sehingga Kekristenan Orthodox Timur selalu dalam masa penekanan dan penghambatan. Janji dan Perlindungan Kristus sendiri. Tetapi janji Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja akan perlindungan terhadap GerejaNya telah digenapi dalam hal berdiri-tegaknya Gereja Orthodox Timur hingga saat ini, walaupun alam maut berusaha menghancurkannya. Gereja Orthodox Timur inilah Gereja Perjanjian Baru yaitu Gereja Purba yang merupakan kesinambungan tanpa putus dengan Gereja Para Rasul itu sendiri. Gereja itu adalah Gereja Orthodox yang Katholik dan Apostolik.

”…dan engkau Petrus, di atas batu karang [Batu Karang dimana Yesus akan mendirikan jemaatNya bukanlah Petrus secara pribadi (yang kemudian menyangkaliNya tiga kali), namun Petrus sebagai wakil kolega para Rasul, dan juga Pengakuan Iman Petrus (“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”). Karena Batu Karang penjuru Gereja bukanlah pribadi Petrus, melainkan Kristus sendiri (1 Kor. 3:11 dan 1 Kor. 10:4)] inilah Aku akan mendirikan jemaatKu [jemaat” dalam bhs asli Alkitab, bhs Yunani: “Ekklesia” atau “Gereja” = orang-orang yg dipanggil dari kegelapan masuk pada terang keselamatanNya; berasal dari bahasa Portugis: “Igreja”, sepadan dengan kata Spanyol: “Iglesia”, yang jelas berasal dari kata Ekklesia itu] dan alam maut (tekanan dan penghambatan terhadap Gereja) tidak akan menguasainya”
(Mat. 16:18)

Kekristenan Orthodox/ Kristen Timur memang tidak banyak dikenal di Amerika dan wilayah dunia Barat lainya, karena alasan yang sangat sederhana. Data tahun 1988, jumlah total umat Kristen di USA : 134.000.000 yang terbagi sebagai berikut:
- Protestan : 80.000.000
- Roma Katolik : 50.000.000
- Orthodox : 4.000.000
Data tersebut pada tahun 2001 telah berubah, jumlah umat Orthodox di Amerika Serikat sudah mencapai angka 7 juta orang. Catatan statistik di Amerika menyimpulkan bahwa perkembangan Gereja Orthodox di Amerika adalah yang paling tertinggi. Data tahun 1993 (Episkop Timothy Ware, The Orthodox Church, Penguin, USA) menunjukkan sebagai berikut: Di Amerika ada lebih dari 2.250 paroikia Gereja Orthodox dan memiliki lebih dari 10 buah Sekolah Tinggi/ Seminari Theologi, dua yang terkenal adalah St. Vladimir Seminary, di Crestwood, New York dan Holy Cross Seminary, di Brookline, Boston. Kelompok Orthodox juga memiliki tabloid “Christian Activist” dan majalah “Again” serta banyak perusahaan penerbitan buku seperti St. Vladimir Press, Holy Cross, Conciliar Press, Light and Life, Regina Press, St. Ignatius Press dan lain sebagainya.

Dalam lingkup yang lebih luas, keadaan akan nampak berbeda. Bila anda melihat jumlah umat Kristen di seluruh dunia pada tahun 1988 adalah 1.225.000.000, dengan komposisi perbandingannya adalah sebagai berikut:

- Roma Katolik : 700.000.000
- Protestan : 325.000.000
- Orthodox : 200.000.000
Jumlah inipun pada saat ini telah berubah. Jumlah umat Orthodox di seluruh dunia pada tahun 2001 adalah 350 juta orang. Pertambahan jumlah umat Orthodox membengkak menjadi hampir 2 kali lipat dikarenakan sebab pertama yaitu merdekanya Negara-negara Eropa Timur dan Rusia dari kekuasaan Komunis sehingga Gereja-gereja Orthodox yang tadinya dianiaya dan telah mengakibatkan kematian syahid bagi 40 juta umat Kristen Orthodox di Negara-negara Eropa Timur dan Rusia sekarang memperoleh udara segar kebebasan beragama dan Gereja-gereja Orthodox yang tadinya ditutup oleh pemerintah Komunis sekarang telah berkembang dengan pesatnya dan sebab kedua yaitu Pekabaran Injil yang dilakukan oleh orang-orang Orthodox yang telah menghasilkan petobat-petobat baru untuk berpindah dan memeluk Kristen Orthodox.
Perubahan komposisi data Kekristenan saat ini adalah :
1. Roma Katolikisme6: tubuh Gereja terbesar, termasuk beberapa komunitas Katolik Timur (Gereja- gereja Uniat7) dan jumlahnya lebih dari satu milyar anggota dibaptis.
2. Protestanisme8: sejumlah denominasi dan kelompok-kelompok Gerakan Kristen seperti Anglikan9, Lutheran10, Reformed/Presbyterian11, Evangelikal12, Karismatik, Baptis13, Metodis14, Anabaptis15, dan Pentakosta. Yang paling tua dari perpecahan-perpecahan dari Gereja Roma Katolik pada abad ke-16 adalah Reformasi Protestan, diikuti oleh banyak kasus perpecahan lebih lanjut. Di seluruh dunia jumlah penganut antara 592 – 650 juta.

3. Kekristenan Orthodox16: Gereja-Gereja Orthodox Oriental17 (Monofisit, Non Kalsedonian), Gereja Assyrian Timur/Gereja Nestorian (pre-Kalsedonian)18, dan Gereja-Gereja Eastern Orthodox19 (Orthodox Kalsedonian; termasuk Gereja-Gereja Western Orthodox yang tetap memelihara dan mempertahankan praktek-praktek Latin sementara menerima theologi Orthodox), dengan keanggotaan digabungkan lebih dari 350 juta anggota dibaptis.

Denominasi-denominasi dan gereja-gereja lain yang menjauhkan diri dari klasifikasi di atas dan beberapa kepercayaan-kepercayaan utama mengklaim memiliki anggota sekitar 275 juta. Ini termasuk gereja-gereja Afrika asli (African indigenous) dengan lebih 110 juta anggota (perkiraan dimana-mana berbeda), Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints), juga dinamakan Mormon20 dengan lebih dari 12 juta anggota, Saksi Yehuwa21 dengan anggota kira-kira 6,6 juta, dan gereja Unitarian (Kristen Tauhid, Anti-Trinitas), dengan anggota kira-kira 2 juta. Disamping denominasi-denominasi resmi, ada sekte-sekte yang memisahkan diri, Gerakan-Gerakan di dalam denominasi-denominasi dan sekte-sekte, Gerakan-Gerakan heretik22, ada juga bermacam-macam variasi dari kelompok-kelompok di luar gereja yang dihubungkan dengan Kekristenan.

Dalam Booklet: Time Line of Church History, Tracing the birth and continuity of the Orthodox Church from Pentecost to the present. Conciliar Press; Second Edition 1989 disebutkan ada 2.600 denominasi gereja yang mengklaim adalah Gereja, atau paling tidak kelanjutan langsung dari Gereja yang ada dalam Perjanjian Baru. Dua belas tahun kemudian, pada tahun 2001, The World Christian Encyclopedia, karangan David B. Barret, mengatakan bahwa hingga akhir millenium ini jumlah denominasi/sekte Protestan telah berjumlah 33.800 denominasi/sekte. Jumlah fantastik yang semuanya mengklaim adalah Gereja Perjanjian Baru, walaupun dengan pengajaran dan iman yang berbeda-beda, bahkan saling berlawanan satu dengan lainnya. Yesus dan para RasulNya sendiri tidak pernah mendirikan denominasi/ aliran gereja, bahkan Perjanjian Baru menyebutkan : “Adakah Kristus terbagi-bagi?” (1 Kor. 1:13), juga Kepala Gereja kita, Tuhan Yesus tidak menghendaki perpecahan dalam ajaran iman dalam Gereja, “… supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh. 17:20), perpecahanpun ditentang oleh Rasul Paulus, “…jangan ada perpecahan di antara kamu” (1 Kor.1:10), “…, supaya kamu waspada terhadap mereka, … yang menimbulkan perpecahan” (Rm. 16:17), “supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh” (1 Kor. 12:25).

Jadi secara khusus data untuk umat Kristen Protestan, baik di Amerika Serikat maupun di seluruh dunia, pada kenyataannya tidak hanya terdiri dari satu kelompok umat Kristen saja, tetapi terdiri dari ribuan denominasi yang berbeda, karenanya kelompok umat Kristen terbesar kedua di seluruh dunia adalah dari Gereja Orthodox. Di seluruh dunia terdapat lebih banyak umat Kristen Orthodox dari pada umat gereja Baptis, Methodis, Presbiterian, Anglikan, Pentakosta atau denominasi-denominasi Protestan bebas seperti kelompok Kharismatik dan sebagainya.

II. JIWA DAN SEMANGAT MISSIONER GEREJA TIMUR

Beberapa teolog Gereja Barat mengatakan bahwa Gereja Orthodox/ Gereja Timur melalaikan karya misi dan pewartaan Injil. Apakah ini pendapat yang berdasarkan fakta sejarah yang sebenarnya?

Dalam Liturgi Orthodox amat jelas sekali sifat “pengutusan” atau “Misi” Gereja itu. Ini jelas terdapat dalam Doa bagi Para Katekhumen/Darma Siswa/Siswa-Magang. Sesudah Kotbah, Litani Panjang, dan sebelum Arak-Arakan Ekaristi Imam mengatakan: ”Mari kita berdoa kepada Tuhan ya para Katekhumen/Dharma Siswa/Siswa Magang….dst”. Adanya doa bagi katekhumen dalam Liturgi ini menegaskan bahwa dalam setiap Liturgi harus selalu ada “katekhumen” (petobat baru yang sedang belajar kebenaran Injil). Adanya “katekhumen” berarti adanya orang-orang baru yang harus dibawa ke dalam Gereja, dan agar ada orang baru dibawa ke dalam Gereja berarti harus ada “pengutusan” atau “misi”. Jadi doa bagi “katekhumen” itu menegaskan setegas-tegasnya dan tanpa sungkan-sungkan bahwa Liturgi Orthodox menegaskan perlunya misi.

Demikian juga pada saat menjelang akhir Liturgi ketika Presbyter berdoa di depan Ikon Kristus, ia mengatakan “Mari kita keluar dengan damai”, artinya pengalaman damai yang diterima dari Kristus melalui Liturgi Suci ini, sekarang tak boleh disimpan sendiri, namun harus dibawa “keluar” yaitu ke dalam dunia luas. Sehingga karena pemahaman ini Romo “Ian Bria” dari Rumania sampai menulis buku yang berjudul “Liturgy after the Liturgy” (Liturgi Sesudah Liturgi), dimana beliau menegaskan bahwa misi dan pengutusan adalah kelanjutan dari pengalaman Liturgi, dan itu merupakan Liturgi dalam hidup di luar, sesudah pengalaman Liturgi Suci secara Sakramen.

Jiwa missioner Barat itu tidak selalu ada sejak semula. Pada masa abad kegelapan, justru Gereja Barat tak berjiwa missioner, namun Timurlah yang berjiwa missioner. Ketika Gereja Barat yang berpusat di Roma tak memperbolehkan menggunakan bahasa lain kecuali Latin untuk bahasa Liturginya, justru Gereja Timurlah yang lebih awal menterjemahkan Kitab Suci dan teks-teks Liturgis kedalam bahasa-bahasa yang bermacam-macam demi tujuan misi. Sehingga sebelum Gereja Barat pergi ke mana-mana, adalah Gereja Timur yang mengabarkan Injil sampai ke India, Cina, Jepang, Pancur dan Barus di Indonesia, bahkan Gereja Timur telah hadir di Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Dan ini semua karena didorong oleh Liturgi yang menegaskan perlunya misi itu. Bagaimana seluruh bangsa Rusia jadi Orthodox kalau tidak ada misi dari Gereja Orthodox? Bagaimana Rumania, Bulgaria, Finlandia, Serbia, Ukraina, Estonia dan negara-negara Eropa Timur lainnya menjadi Orthodox kalau tidak ada misi dari Gereja Orthodox. Bagaimana pula Negara Indonesia saat ini mengenal Gereja Orthodox para Romo tidak datang sebagai missionary yang diutus oleh Gereja Orthodox ke Indonesia? Berarti Gereja Orthodox juga memiliki jiwa missioner itu. Bagaimana pula sekarang Gereja Orthodox adalah salah satu Gereja yang berkembang pesat di dunia kalau tidak ada jiwa missioner ini?

Juga jangan lupakan fakta sejarah, bahwa Gereja Barat melakukan missi itu bukan semata-mata karena tujuan rohani. Pernahkah kita mendengar kata-kata “Gun, Gold and Gospel” (“Senjata Api, Emas, dan Injil”) sebagai motto dari kekuasaan Portugis, Perancis, Spanyol, Belanda dan Inggris serta Itali, ketika mengadakan ekspansi penjajahannya? Bagaimana pula bangsa Indian dibantai tetapi sekaligus dijadikan Katolik secara paksa, bangsa Negro ditangkap dan diperbudak tetapi juga di-Kristenkan oleh kekuatan-kekuatan Eropa yang direstui Paus di Roma itu?23 Apakah ini jiwa missioner murni, ataukah ini karena “gun” (“senjata api”) dan “gold” (“emas”) yaitu tujuan penjajahan untuk mencari kekayaan? “Gospel” atau “Injil” membonceng “gun” dan “gold” dari kekuasaan penjajah Eropa yang direstui Paus itu. Gereja Orthodox tak pernah menggunakan penjajahan untuk menyebarkan Injil. Hal-hal ini perlu diperhitungkan juga dalam melihat situasi Gereja Orthodox.

Renungkan kembali fakta-fakta sejarah yang telah dijelaskan di atas. Lagipula harus diingat Gereja Barat tak pernah mengalami dianiaya dan dijajah Islam selama beratus tahun, dan kemudian dianiaya dan dibantai Komunis. Justru pada saat Gereja Barat melakukan penjajahan dan pembantaian atas bangsa Indian di Amerika dan perbudakan atas bangsa Negro di Afrika serta penjajahan atas bangsa-bangsa Asia dengan dalih misi tadi, pada saat yang sama inilah umat Orthodox sedang mengalami penjajahan dan aniaya Islam dan pembantaian Komunis. Masa penjajahan dan penghambatan yang dialami Gereja Timur ini cukup menghambat karya misi Gereja Timur. Jadi terlalu menyederhanakan masalah kalau fakta sejarah yang melumpuhkan gerak Gereja Orthodox itu dianggap sebagai sikap Gereja Orthodox Timur melalaikan pewartaan Injil dan karya misi.

III. KAUM ARAB KRISTEN TIMUR DI TIMUR TENGAH

Penyebutan orang-orang Kristen atau Kristianos (Arab, ‘Massihi-yyin’) semula adalah ejekan orang-orang Yahudi di Antiokhia (Syria) kepada murid-murid Yesus yang ada di sana. Murid-murid ini masih terikat kepada ibadah Yahudi seperti ke sinagoge-sinagoge Yahudi pada hari Sabat (Kis. 13:14-15; 15:21 dsb) dan masih berkewajiban mengunjungi Bait Allah pada hari-hari raya (Kis. 2:46; 21:26 dsb). Tetapi karena mereka juga memberitakan nama Yesus dan memecah-mecahkan roti (Sakramen Ekaristi Kudus) pada hari Minggu, kecurigaan orang-orang Yahudi semakin menjadi-jadi untuk mengusir mereka dari perkumpulan Yahudi (Kis. 4:2; 5:28). Sejak pembunuham diakon Stefanus di luar gerbang Yerusalem oleh orang-orang Yahudi (Kis. 7:54-60), maka resmilah murid-murid Yesus menerima cap ‘sekte’ orang Yahudi tetapi sekaligus penganut Jalan Yesus Kristus (Kis. 9:2).

Penyebutan orang-orang Kristen atau Kristianos (Arab, ‘Massihi-yyin’) semula adalah ejekan orang-orang Yahudi di Antiokhia (Syria) kepada murid-murid Yesus yang ada di sana. Murid-murid ini masih terikat kepada ibadah Yahudi seperti ke sinagoga-sinagoga Yahudi pada hari Sabat (Kis. 13:14-15; 15:21 dsb) dan masih berkewajiban mengunjungi Bait Allah pada hari-hari raya (Kis. 2:46; 21:26 dsb). Tetapi karena mereka juga memberitakan nama Yesus dan memecah-mecahkan roti (Sakramen Ekaristi Kudus) pada hari Minggu, kecurigaan orang-orang Yahudi semakin menjadi-jadi untuk mengusir mereka dari perkumpulan Yahudi (Kis. 4:2; 5:28). Sejak pembunuham diakon Stefanus di luar gerbang Yerusalem oleh orang-orang Yahudi (Kis. 7:54-60), maka resmilah murid-murid Yesus menerima cap ‘sekte’ orang Yahudi tetapi sekaligus penganut Jalan Yesus Kristus (Kis. 9:2).

Jumlah umat Kristen Orthodox di Timur-Tengah adalah sekitar 20 juta orang. Perkiraan ini tentunya bersifat kasar. Perkiraan jumlah ini bisa saja berbada, apakah jumlahnya lebih rendah dari 20 juta orang ataukah malah lebih besar dari 20 juta orang. Untuk jelasnya bisa dibaca buku Anton Wessel “Arab dan Christian” dan El Hasan bin Tallal “Christianity in the Arab World”. Kita selama ini menutup mata dengan adanya kenyataan eksistensi 20 juta orang Kristen Arab di Dunia Arab. Pangeran Yordania, El Hasan bin Tallal menegaskan fakta eksistensi dan kehidupan rukun orang Kristen Arab dan Muslim Arab.

Masyarakat awam di Indonesia tidak banyak yang tahu, ada begitu banyak tokoh Kristen bangsa Arab yang terkenal, misalnya: Emile Lahoud yang adalah Presiden Libanon sekarang; Thariq Aziz yang menjadi Perdana Menteri Irak pada masa pemerintahan Saddam Hussein; Boutros Ghali, mantan Menteri Luar Negeri Mesir dan Sekjen PBB; Hanan Asrawi dan George Habash, keduanya pemimpin dan pejuang militan Palestina yang mendukung Yasser Arafat dalam menghadapi agresi Israel.

Di kalangan sastrawan, kita mengenal nama Kahlil Gibran dimana saat ini buku-bukunya sangat disukai dan membanjiri toko-toko buku di Indonesia. Sebelum itu, banyak penyair dan pencipta lagu Indoonesia yang minimal cukup dipengaruhi oleh Kahlil Gibran, mulai dari Taufik Ismail, Katon Bagaskara, Dani “Dewa 19”” yang malah “dituduh mencontek” Gibran, hingga mimbar-mimbar Pengajian Ramadhan K.H. Abdullah Gymnastiar. Popularitas Gibran terus melambung, mengatasi batas-batas bahasa, bangsa bahkan perbedaan agama. Sedangkan dari kalangan akademisi, kita bisa menyebut Edward Said, penulis buku “Orientalisme”” yang bukunya selalu dijadikan rujukan oleh beberapa penulis Muslim Indonesia untuk mengecam arogansi Barat. Lucunya, kedua sastrawan dan intelektual di atas dianggap oleh orang-orang Kristen dan umat Islam di Indonesia adalah orang Muslim, padahal keduanya adalah orang Kristen.

Tidak banyak pula orang Indonesia yang tahu, bahwa penulis Kamus Bahasa Arab berjudul “Al-Munjid” yang terkenal itu adalah seorang Kristen bernama Louis Ma’luf; juga sebuah buku terkenal berjudul “Dictionary of Arabic Printed Books” ditulis oleh Yusuf Alian Sarkis, seorang Kristen Orthodox Koptik Mesir. Dan, hampir semua Kitab Kuning yang dipakai Pesantren-pesantren di Indonesia diterbitkan oleh Percetakan Kristen di Libanon.

Anehnya, orang Kristen Indonesia yang karena dorongan “ideology pseudo-Biblikal” biasanya membabi buta membela Israel dalam kasus konflik Israel – Arab Palestina. Mereka tidak sadar, bahwa dengan sikapnya tersebut, indirectly, mereka menyetujui ribuan orang Kristen Arab harus dibantai oleh orang Israel dalam “konflik politik” itu (dan sama sekali bukan “konflik antar agama”). Sebab orang Kristen Arab Palestina itu berjumlah 27% sedangkan orang Israel yang menjadi Kristen hanya 3,2%.



Mencium tangan imam setelah ibadah Khidmat al-Quddus (Liturgi Suci). Umat mencium tangan imam adalah tradisi rasuliyah yang masih ada di seluruh Gereja Orthodox di dunia.



Jemaah perempuan yang berkerudung waktu beribadah (I Kor. 11:5,13), bersembahyang dengan menadahkan tangan dalam Liturgi Suci (Khidmat al-Quddus), maupun sembahyang harian (sholat) dalam sebuah Gereja Orthodox Assyrian Timur (pre-Kalsedonian), Irak. Suatu cara sembahyang yang tetap terpelihara di Gereja-Gereja Orthodox lainnya.

Juga orang Kristen Indonesia tidak sadar, ketika perang Amerika dan Irak pada tahun 1990-an. Negara Amerika, polisi sombong dunia itu telah menghantam dan menghancurkan komunitas Kristen Irak. Sebuah perkampungan Kristen Irak dimana Taman Eden beserta Adam dan Hawa, kehidupan manusia pertama itu bermula dan tempat dimana Abraham, Bapa orang beriman itu berasal.

Alkitab memberitahu kita, bahwa peranan bangsa Arab dalam mempersembahkan “emas dan kemenyan” (Yes. 60:6-7). Ini cocok dengan persembahan orang Majus (Arab), yaitu: kemenyan, emas dan mur (Mat. 2:1,11). Menurut kesaksian Injil, Yesus berkarya di “Galilea, daerah bangsa-bangsa” yang pada abad pertama adalah tempat berbaurnya suku-suku bangsa Asyur dan Arab. Di wilayah Kaisarea Filipi (sekarang Banias), tempat dimana Yesus menyatakan ke-Mesiasan-Nya dihuni oleh 50% suku Arab Iturea. Juga, pada saat Pentakosta (Kis. 2:9-11), pada tahun 33 M, Roh Allah tinggal di dalam hati orang-orang Arab. Semua itu terjadi, jauh ketika suku bangsa Eropa dan Amerika masih primitif dan pemuja berhala.

Kekristenan Timur telah berkembang dengan sangat maju sekali dengan Sekolah-sekolah Theologinya dan pusat kota-kota intelektualnya serta karya-karya theologinya sementara kota-kota Eropa dan Amerika seperti London, Hamburg, Amsterdam, New York, Chicago masih belum ada dan masih berupa hutan belantara yang lebat dan penduduknya masih pagan/pemuja berhala.

IV. DARI MISI KEKRISTENAN TIMUR YANG SEMITIK–HELENISTIK MENJANGKAU BANGSA-BANGSA DUNIA

Lokasi utama dunia Orthodox masa kini adalah di Yunani, Rusia, Eropa Timur dan Timur-Tengah. Sebagai contoh, di Yunani hampir semua orang yang mengaku beragama Kristen adalah umat Orthodox. Juga di Rusia dan Eropa Timur, sebagian besar dari umat Kristen di sana adalah Orthodox, dan jumlahnya bila dibandingkan dengan umat Katolik dan Protestan adalah sangat besar sekali.

Lagi pula tidak semua orang yang tinggal di Israel, Libanon, Syria dan negara-negara lain di Timur Tengah adalah penganut agama Yahudi ataupun Islam. Hal ini mungkin mengagetkan anda, tapi sebagian besar dari mereka justru adalah umat Kristen yang saleh yaitu umat Kristen Orthodox, yang telah menghidupi iman mereka selama 2000 tahun di tanah sejati Kekristenan tersebut dan tempat berawalnya Kekristenan.

Perlu juga direnungi dan dicamkan bahwa Kekristenan adalah agama Timur. Kekristenan berasal dari Timur. Jika kita ingin melihat Kekristenan pada bentuknya yang asli dan murni, belajarlah dari Kekristenan Timur. Lihatlah Alkitab dan Tradisi Gereja, mulai dari Negara-negara yang diceritakan seperti Israel, Mesir, Syria, Yunani, Persia, Babilonia adalah Negara-negara Timur. Juga Raja-rajanya, Nabi-nabinya, Rasul-rasulnya, orang-orangnya adalah masyarakat Timur. Juga budaya-budayanya adalah Semitik dan Helenis yang merupakan budaya timur. Data tersebut menyimpulkan bahwa Kekristenan Timur merupakan asal mula Kekristenan, sementara wilayah Kekristenan Barat adalah daerah tempat tujuan misi dari Kekristenan Timur.

Diantara Gereja-Gereja Orthodox yang ada sejak berabad-abad silam, bahkan sejak masa para Rasul di Timur-Dekat24, Timur-Tengah25, Afrika dan Eropa Timur ini adalah: Gereja Orthodox Byzantium, Turki (Patriarkhat Konstantinopel), Gereja Orthodox Yunani, Gereja Orthodox Syria Barat (Patriarkhat Damaskus (Monofisit) dan Patriarkhat Antiokhia (Kalsedonian), Gereja Orthodox Syria Timur (Gereja Orthodox Assyria Timur atau Gereja Nestorian), Gereja Orthodox Koptik (Patriarkhat Kairo - Monofisit), di Mesir, Gereja Orthodox Patriarkhat Alexandria, Mesir (Kalsedonian), Gereja Orthodox Yerusalem, di Palestina (Patriarkhat Yerusalem), Gereja Apostolik Armenia (Gereja Gregorian - Monofisit), Gereja Orthodox Tewahedo26, Ethiopia, Afrika, Gereja Orthodox Tewahedo Eritrea, Afrika (ke-2 Gereja Orthodox Afrika ini adalah Monofisit), Gereja Orthodox India, juga dikenal sebagai Gereja Orthodox Syria Malankara (Monofisit), Gereja Maronit (Gereja Monoteletis, yang berada di bawah yurisdiksi Kepausan Roma), Gereja-Gereja Orthodox Slavonika27, misal: Gereja Orthodox Rusia (Patriarkhat Moskow dan Seluruh Rusia), Gereja Orthodox Patriarkhat Serbia, Gereja Orthodox Patriarkhat Rumania, Gereja Orthodox Purba Georgia, dan lain-lain.

Dari tempat-tempat ini pula iman Orthodox telah menyebar ke berbagai Negara lain. Sebagai contoh, St. Kyrillos (826 – 869) dan St. Methodios (815 – 885), Rasul Bangsa Slavia, yang diutus sebagai missionaris untuk bangsa-bangsa Slavia oleh St. Photius I Agung (858 – 867, 877 – 886), Patriarkh Kontantinopel pertama yang memulai suatu karya penyebaran Injil dalam skala yang sangat besar diantara bangsa-bangsa Slavia. Karya sebenarnya dari 2 bersaudara itu dimulai pada tahun 863. Pertama-tama mereka mengarang suatu alfabet yang cocok dengan bahasa Slavonika. Di dalam terjemahan-terjemahan Alkitab dan buku-buku ibadah, mereka menggunakan bahasa Slavonika dialek Makedonia yang digunakan orang-orang Slavia di sekitar Tesalonika. Dengan demikian bahasa Slavonika dialek Makedonia menjadi bahasa Slavonika Gereja yang tetap tinggal sampai saat ini menjadi bahasa liturgis Gereja Orthodox Rusia dan beberapa Gereja Orthodox Slavonika yang lain. yang dikenal juga sebagai “Church Slavonic language” (“Церковнославянский язык”) atau “bahasa Slavonika Gereja”.

Penggerak utama untuk kekeristenan Rusia adalah salah satu pemimpin-pemimpin yang sangat luar biasa untuk sejarah Rusia. Tsar St. Vladimir, yang Sama Seperti Seorang Rasul (980 – 1015) menjadi pemimpin pada tahun 980, tetapi posisi ini tidak menjadikannya kehilangan jatidiri sebagai seorang Kristen yang benar. Ia memutuskan dan menginginkan suatu agama negara untuk Rusia-Kiev, persis seperti bangsa-bangsa tetangganya dan kekaisaran Byzantium. Semenjak Kiev menpunyai minat seperti itu, para missionari dari Yudaisme, Islam dan negara-negara Latin banyak melakukan karya misi ke negaranya. Tetapi Vladimir masih mempunyai kesangsian terhadap para missionari itu. Akhirnya ia mengirimkan sekelompok utusan para penasehat pada masing-masing agama itu, untuk mengetahui bagaimana mereka sesungguhnya menyembah di negara-negara asal agama-agama itu sendiri. Ketika para utusan dan penasehat yang diutus ke Konstantinopel, Kekaisaran Byzantiumitu kembali ke Kiev, mereka mengatakan tentang tata ibadah Liturgi Suci di Gereja Katedral Aghia Sophia sebagai: “Kami tidak mengetahui apakah kami ada di atas bumi atau di dalam sorga”. Sebagai hasil, Vladimir sendiri mengunjungi Konstantinopel dan dibaptis di sana pada tahun 987 dan pada tahun 988 beribu-ribu bangsa Kiev dibaptis di sungai Dnieper. Para missionari dikirim ke luar – ke penjuru bangsa. Seluruh Rusia menjadi Kristen Orthodox.

Pada akhir tahun 1700-an, penginjil-penginjil dari Rusia melakukan perjalanan dengan kapal dan juga kayak untuk menyebarkan Kekristenan Orthodox pada penduduk di kepulauan Aleut dan penduduk Eskimo di Alaska, Amerika. Missionaris terbesar di antara para missionari Orthodox dari abad 19 adalah St. Innosentius (Yohanes Veniaminov), Rasul Kekristenan Orthodox Amerika (Alaska) dan Episkop pertama Gereja Orthodox Rusia yang tinggal di Amerika (1840). Patut pula dicatat karya misi dari St. Nikolay Kasatkin († 1912), pendiri dari Gereja Orthodox Jepang. Setelah memperoleh kebebasan sejati, Gereja Orthodox Rusia menetapkan untuk membangkitan kembali karya-karya misinya.

Kesetiaan pada perintah Gereja mula-mula dan meneruskan misi para Rasul, Gereja Rusia sejak dulu mengemban kesaksian Kristus “bahkan sampai ke ujung bumi“ (Kis. 18), menyebarkan kabar baik dari Sang Firman Hidup. Prestasi misionaris Gereja Orthodox Rusia dan cakupan karya pendidikannya tersebar dari Polandia dan Baltik di Barat, sampai Alaska dan California di Timur, dari Murmansk dan Kamchatka di Utara dan Laut Hitam, Kaukasus, Timur Tengah dan China Selatan, semuanya memerlukan spiritualitas, materi dan sumber daya manusia. Nama-nama missionaris Rusia ditempatkan secara pantas di antara missionaris-missionaris agung Kekristenan. Cukup disebutkan di sini nama St. Stefanus dari Perm, St. Triphon dari Pechenga dan para monakhos/rahib dari apa yang dikenal sebagai monasteri Rusia Thebaid – Valamo dan Solovki, seperti St. Nikolay, yang sama dengan para Rasul, Arkhiepiskop/ Uskup Agung Jepang, St. Innosentius, Rasul Amerika, Arkhimandrit Makary Glukharev, Rasul Altai. Dan masih banyak lagi karya misi yang dilakukan oleh Gereja Orthodox Rusia ke penjuru dunia.



Gereja Haghia Sophia (Aya Sofya), di Istambul, Turki, komplek berumur 1.500
tahun yang selama berabad-abad adalah Gereja dan pusat Kekristenan Orthodox



Katedral St. Basilius yang Bodoh bagi Kristus, Moskow, Rusia

Yang paling spektakuler dalam seluruh sejarah penginjilan, adalah yang dilakukan oleh Gereja Orthodox-Assyria yang pada abad ke-7 telah melakukan penyiaran Injil hingga ke negeri Tiongkok dan Sumatera. Pada masa Kekhalifahan Islam Abbasiyah di Baghdad, Gereja ini mencapai puncak keemasannya sebagai Gereja yang paling luas wilayah daerah pekabaran Injilnya. Pimpinan Gereja ini adalah bergelar Katolikos-Patriarkh, sementara ini dijabat oleh Mar Dinkha IV yang berkedudukan di Baghdad, Irak, tetapi sekarang oleh masalah politik dipindahkan ke Chicago, USA. Di abad ke-11 di istana Kaisar Cina telah ada perwakilan Uskup Agung Gereja Assyria yang namanya dalam ejaan Cina disebut A Lo-pen (David/Daud). Mereka terkenal juga oleh pengetahuan di dunia medis dan filsafat, sehingga gampang berasimilasi dengan penduduk yang didatanginya. Kadang-kadang Gereja Assyria diasosiasikan dengan Gereja Nestorian, yaitu yang melangsungkan ajaran Nestorius, Patriarkh Konstantinopel yang dipecat tahun 431 M, walaupun data paling akhir tidak sepakat dengan dugaan ini.

Ketika Marcopolo, pengembara Italia yang terkenal itu berkelana hingga ke Tiongkok, ia sempat singgah dalam perjalanan pulangnya di kota Fansur atau daerah Barus Sumatera Utara sekarang. Di sana ia mengenali sekelompok masyarakat Kristen keturunan pedagang dari Arab dan Persia yang merayakan ibadah Minggu dan juga memiliki sebuah Katedral bernama Bunda Maryam Tak Bercela. Sayangnya komunitas ini punah sebelum berakar kepada penduduk pribumi. Dari laporan Marcopolo inilah maka ketika utusan-utusan Paus Innocentius III (1198 – 1216) singgah di Barus, pimpinannya menawarkan memberikan pelayanan Ekaristi kepada mereka, sehingga dalam tarikh awal abad ke-13 itulah yang dihitung Gereja Katolik diIndonesia sebagai tarikh awal masuknya Kekristenan Katolik di Indonesia.

Penyebab utama mengapa Kekristenan Orthodox kurang dikenal di Amerika adalah karena sebagian besar orang yang tinggal di Amerika berasal dari Eropa Barat, bukan dari Yunani, Rusia atau Timur Tengah. Baru hingga akhir tahun 1800-an para imigran dari negara-negara tersebut mulai berdatangan dalam jumlah besar dan membawa iman Orthodox bersamanya. Karenanya Gereja-gereja Orthodox di Amerika yang sudah ada dari dulu hingga saat ini hanya dikenal dalam masyarakat suku ataupun etnik tertentu saja. Namun data statistik terbaru (sejak tahun 2001) di Amerika menyimpulkan bahwa perkembangan Gereja Orthodox di Amerika adalah yang paling tertinggi. Hal ini dimulai ketika pada tahun 1987, ketika sekelompok pemimpin (para pendeta) Protestan Injili (dan pemimpin-pemimpin teras Campus Crusade for Christ – LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswanya Amerika, diantara mereka bisa disebutkan: Rev. Peter Gilquist, Rev. Gordon Walker, Rev. Marc Dunaway dll yang kini semuanya menjadi imam-imam Orthodox) bersama umatnya, setelah mempelajari iman Orthodox lebih dari 10 tahun, secara resmi diterima kembali dalam rangkulan Gereja Orthodox sebagai paroikia-paroikia di bawah yurisdiksi Gereja Orthodox Antiokhia.

Hal ini bisa dipahami untuk kasus di Indonesia dikarenakan selama ini bentuk Kekristenan yang ada di Indonesia dan diketahui oleh masyarakat adalah hanya dalam bentuk Kekristenan Barat dimana Kristen Roma Katolik dibawa dan diperkenalkan oleh penjajah Portugis dan Kristen Protestan dibawa dan diperkenalkan oleh penjajah Belanda dan Pentakosta serta Karismatik dibawa oleh penginjil berjas dan berdasi dari Amerika. Selama ini umat non-Kristen di Indonesia selalu mencap agama Kristen sebagai agama “Londo” atau agama Barat dan orang Kristen di Indonesiapun mengamini hal ini bahwa agama Kristen adalah agama Barat. Sehingga ketika Gereja Orthodox hadir di Indonesia dengan membawa warna agama dan budaya Timur maka yang terjadi adalah kejutan budaya dan iman bagi orang Kristen dan non-Kristen di Indonesia.


Pada tanggal 20 Maret 2001, diadakan Pertemuan Pertama untuk Dialog antara Gereja Orthodox Rusia (Eastern Orthodox) dengan Gereja-Gereja Oriental Orthodox: Gereja Koptik, Syria dan Armenia di Moskow,suatu pertemuan dan dialog yang membahas kerjasama di antara Gereja-Gereja Orthodox, wujud kesatuan Gereja.
Karena iman Orthodox dianut oleh sebagian besar negara-negara di wilayah “Timur” tersebut, maka sering pula iman ini disebut sebagai “Orthodox Timur”. Hal ini memang adalah sebutan yang kurang menguntungkan dan agak rancu. Iman Orthodox bukan hanya suatu tradisi budaya atau keetnisan saja, juga bukan suatu bentuk “ketimuran” dari Gereja Roma Katolik sebagaimana anggapan orang Protestan. Gereja Orthodox adalah Gereja yang tertua dalam Kekristenan, dengan penyembahan yang Alkitabiah, dengan cara hidupnya yang menyejarah dan merupakan suatu kelanjutan yang terkait erat dengan Gereja mula-mula yang disebutkan dalam kitab Kisah Para Rasul 11:26b.

Dalam sejarah pertumbuhannya, Gereja Orthodox banyak mengalami penderitaan, suatu Gereja para Martir yang tetap bertahan dan menjaga kesatuannya. Tidak pernah ada yang namanya Reformasi Protestan di Timur, tidak pernah ada yang namanya perpecahan menjadi ribuan denominasi berbeda-beda. Perbedaan nama wilayah yang ada dalam Gereja Orthodox, seperti Rusia, Yunani, dan Antiokhia tidak berarti ada perbedaan dalam iman, ibadah atau susunan. Nama itu adalah menandakan letak geografis dan ekspresi budaya dari iman yang sama, yaitu iman Orthodox yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.

Kekristenan Orthodox bukan hanya suatu cabang dari pohon Gereja tetapi adalah merupakan batang pohon utama dari Gereja, yaitu Gereja Kristen yang sebenarnya. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan St. Paulus sang Rasul kepada Uskup Timotius: “Jemaat (Gereja) dari Allah yang hidup, TIANG PENOPANG DAN DASAR KEBENARAN” (I Timotius 3:15).

LAMPIRAN :

1. PARADOKS GEREJA ORTHODOX

Oh, Gereja Orthodox yang aneh, begitu miskin dan begitu lemah,

pada saat yang bersamaan begitu tradisional namun begitu bebasnya,

begitu kuno namun demikian begitu hidup,

begitu realistik namun begitu mistika secara pribadi,

Gereja di mana mutiara yang tak ternilai dari Injil itu

dipelihara dengan mulianya,

kadang-kadang di bawah lapisan debu,

Gereja yang sering tertutupi tidak dapat berbuat apapun,

namun demikian mengetahui,

sebagaimana tidak diketahui oleh yang lain,

bagaimana menyanyikan sukacita Paskah.

[ Romo Arkhimandrit Lev Gillet “Rahib dari Gereja Timur” – (1893 – 1980) ]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN