Selasa, 09 Juni 2009

Baptisan para Rasul



Baptisan Para Rasul
Baptisan yang mana para rasul menumpangkan tangan kepada mereka dan Roh Kudus kemudian turun atas mereka. Apakah dibaptis dalam nama Tuhan Yesus belum sempurna dan harus ada tumpang tangan dari Rasul untuk supaya ada Roh Kudus.

Mengenai hal ini mengutip dua pasal dari Kisah Rasul 8 dan 19. 1) Kisah Rasul 8:12-17 :” Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan. Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi. Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus
belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus”. 2) Kisah Rasul 19:1-6: “ Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus." Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "Dengan baptisan Yohanes." Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis
dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.”

Setelah melihat konteksnya secara utuh dari kisah yang ada itu, marilah kita bahas. Pertama dari Kisah orang Samaria . Orang-orang Samaria ini tadinya mengikuti Simon si Ahli Sihir ( Simon Magus). Lalu Filipus mengabarkan Injil disitu. Filipus bukan termasuk jajaran para Rasul, namun salah satu “diakon” yang ditahbiskan para Rasul di Yerusalem ( Kisah Rasul 6:1-7). Memang dalam Kisah 6:1-7 ini gelar Filipus dan 6 orang lainnya tak disebutkan,
namun karena mereka ditahbis bagi membantu para Rasul untuk “melayani meja” atau “diakonein trapezais / diakonein trapezais “ ( Kisah 6:2) maka secara tradisional mereka dinyatakan sebagai diakon. Kita ketahui bahwa mereka adalah “diakon”, karena kata yang diterjemahkan sebagai “melayani” dalam ayat ini dalam bahasa
asli Yunaninya adalah “diakonein / diakonein”, dari situlah kita dapatkan kata “diakonos / diakonos” atau “diaken” ( I Timotius 3:8). Padahal dalam Matius 28:16, 19 yang diperintahkan oleh Sang Kristus untuk membaptiskan segenap bangsa itu adalah “ksebelas murid” yaitu para Rasul dua belas minus Yudas Iskariot. Kedudukan Yudas Iskariot yang mati gantung diri (Matius 27:5) dan ketika ada gempa bumi saat Kristus wafat itu terjatuh dari pohon
, sehingga “tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar” itu ( Kisah Rasul 1:18) digantikan oleh Rasul Matias ( Kisah 1:16-26).


Selanjutnya Sri Baginda Junjungan kita mengajarkan “Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” ( Yohanes 3:5) . Sejak jaman purba Gereja Rasuliah memahami ayat ini sebagai menunjuk kepada baptisan Dasarnya adalah demikian. Pada saat Hari Raya Pentakosta Rasul Petrus mengajarkan kepada ribuan oarng yang mendengarkan kotbahnya:” Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu
masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka (“kai / kai = dan, lalu, maka) kamu akan menerima karunia Roh Kudus “ ( Kisah 2:38). Jadi menurut ayat ini baptisan itu dikaitkan dengan dengan Roh Kudus. Penerimaan Roh Kudus itu sebagai lanjutan atau akibat dari Baptisan itu. Demikian juga
dalam Efesus 2:25-26 dikatakan:” ….Kristus telah mengasihi jemaat (ekklesia / ekklesia = Gereja ) dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman ( “rhmati / rheemati ” = kata-kata.) Yaitu “kata-kata” yang diucapkan olleh Presbyter pada orang yang bersangkutan, pada saat dibaptiskan, yang berbunyi “Hamba Allah……( sebut namanya) dibaptiskan dalam nama Sang Bapa (diselam) , dan Sang Putra (diselam) , serta Sang Roh Kudus ( diselam).Amin”. Jadi Gereja disucikan dengan “pemandian oleh air” yaitu baptisan dan dan kata-kata ucapan saat dibaptiskan. Dan pemandian dengan air ini dinyatakan sebagai “kelahiran baru”, sebagaimana yang dikatakan :”… Dia telah menyelamatkan kita…..karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” ( Titus 3:5). Pemandian oleh air yang dikatakan dalam Efesus 5:26 itu , disebut sebagai
“pemandian kelahiran kembali “ disini. Padahal Sri Baginda Yesus Kristus mengajarkan tentang “dilahirkan oleh air”. Dan pemandian dengan air, atau pemandian kelahiran kemabli ini, terkait dengan “pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus”, sedangkan Rasul Petrus dalam Kisah Rasul 2:38 diatas mengatakan “dibaptis …..maka (“kai / kai = dan, lalu, maka) …..menerima karunia Roh Kudus ”. Maka jelaslah kalau begitu yang dimaksud lahir “kembali” oleh air itu adalah menunjuk kepada “baptisan”. Karena menurut Rasul Petrus orang yang dibaptis berdampak ( “maka”) akan menerima “karunia Roh Kudus” (thn dwrean tou Agiou Pneumatos / teen doorean tou Aghiou Pnevmatos” = hadiah Roh Kudus, yaitu Roh Kudus itu sendiri diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai “hadiah”
(“to dwro/ to dooro ”, sehingga disebut “thn dwrean/ teen doorean” ) . Jadi bukan menunjuk “karunia-karunia” akibat karya Roh Kudus, misalnya mukjizat, nubuat, atau glossolalia/ bahasa lidah) , sedangkan menurut Rasul Paulus
“pemandian kelahiran kembali” atau “pemandian dengan air” itu bersamaan dengan “pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”, maka jelaslah apa yang dimaksud dengan lahir baru “oleh air dan oleh Roh Kudus” itu, yaitu menunjuk kepada “baptisan”. Bahwa penerimaan Roh Kudus itu terkait dengan baptisan itu juga dapat kita pelajari dari perjumpaan Rasul Paulus dengan murid-murid di Efesus dalam Kisah 19:1-6 yang telah kita kutip diatas. Di Efesus Rasul Paulus bertemu “beberapa orang murid” ( Kisah 19: 1). Murid siapakah ini? Kisah 19:3 menjelaskan bahwa mereka dibaptis dengan “Baptisan Yohanes” atau “Mikweh/Mikwah”. Jadi mereka belum menjadi Kristen. Dalam pertemuan itu yang dipertanyakan Rasul Paulus kepada mereka adalah demikian:“ Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi
percaya?" ( Kisah Rasul 19:2). Dengan demikian jelas penerimaan Roh Kudus itu terjadi ketika seorang menjadi percaya. Namun kata murid-murid Yohanes itu:” Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.". Mengapa mereka belum pernah pernah mendengar ada Roh Kudus, karena mereka bukan Kristen, dan belum pernah dibaptis secara Kristen, karena Yohanes tidak pernah mengajarkan bahwa beliau itu yang akan mengaruniakan Roh Kudus melalui baptisan yang dilakukan tetapi “Ia yang datang kemudian dari padaku ….Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” ( Matius 3:11). Jadi Roh Kudus bukan fokus pengajaran Nabi Yohanes, karena beliau sendiri tidak mengalaminya, sampai kedatangan Sang Kristus akibat dari kematian dan kebangkitanNya. Yang segenap peristiwa ini Nabi Yohanes tidak ikut mengalami. Selanjutnya Rasul Paulus mengatakan demikian:” Lalu kata Paulus
kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis? “ ( Kisah Rasul 19:3). Dengan pertanyaan ini jelas kita lihat bahwa Rasul Paulus mengkaitkan penerimaan Roh Kudus dengan “ketika menjadi percaya”, dan “ketika menjadi percaya” itu dengan “baptisan”. Jadi penerimaan Roh Kudus itu terkait dengan baptisan. Lahir baru itu oleh “air” dalam baptisan, dan oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita sebagai “hadiah” dari Allah bagi melakukan “pembaharuan” di dalam kita.


Bahwa baptisan yang dilakukan Nabi Yohanes adalah bukan baptisan Kristen, dijelaskan:
"Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat ( yaitu telah bertobat dan menyesal dari dosa-dosa mereka dalam konteks keyakinan Agama Yahudi, , lalu melakukan upacara pemabasuhan atau mikweh untuk menyatakan diri mereka telah bertobat sebagaimana yang dituntut oleh Agama Yahudi, sehingga baptisannya itu disebut sebagai baptisan ”sebagai tanda pertobatan” ( Matius 3:11) jadi tidak menyatukan mereka dengan kematian dan kebangkitan Kristus, oleh karena itu hanya dikatakan:” Yohanes membaptis dengan air” (Kisah 1:5) serta tak membuat mereka menerima “Roh Kudus” sebagai “hadiah” dari Allah) , dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus. ( Dengan demikian baptisan Yohanes adalah suatu persiapan bagi kedatangan Mesias, seperti juga yang dilakukan para Nabi Perjanjian Lama lainnya. Baerarti Yohanes masih dalam lingkup Perjanjian Lama, tetapi sudah bertemu dengan Perjanjian Baru, hanya belum masuk ke dalam Perjanjian baru itu sendiri.Yohanes merupakan Nabi Perjanjian Lama yang terakhir yang mempersiapkan kedatangan Mesias yang dijanjikan para Nabi sebelumnya, dan menjadi “Bentara” bagi Mesias itu.)” (Kisah Rasul 19:4). Oleh karena sungguh masuk akal kalau hal yang berikut ini terjadi :”Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka
dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.” ( Kisah 19:5 ), karena baru kali inilah mereka dimanunggalkan denganKristus, sebab baru kali inilah mereka ini menjadi Kristen. Pada saat inilah mereka dilahirkan kembali oleh air. Namun karena syarat lahir kembali itu adalah oleh air dan Roh, maka langkah berikutnya terjadi yaitu :”Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.” (Kisah Rasul 19:6). Penerimaan Roh Kudus pada saat peristiwa baptisan sesudah penyelaman ke dalam air dengan penumpangan tangan inilah yang dalam Gereja Orthodox disebut sebagai “Sakramen Krisma”, atau “Sakramen Pengurapan”, dan tetap dilakukan sampai kini. Hal yang sama pula terjadi dengan Filipus. Ia bukan Rasul, jadi secara jabatan ia tak mendapat tugas untuk melaksanakan “Sakramen Baptisan +
Krisma/Pengurapan” ini. Karena sebagai diakon tugasnya adalah untuk “melayani meja” yaitu membantu Rasul. Jadi diaken tak boleh mengambil tugas dan hak rasul. Namun karena situasi di Samaria itu darurat maka diaken boleh melakukan baptisan darurat ( sampai sekarang dalam Gereja Orthodoxpun dipraktekkan demikian) , tetapi tidak boleh melakukan “Sakramen Pengurapan” yaitu “penumpangan tangan bagi menerima Roh Kudus”, menunggu sampai seorang Rasul (kini dilakukan Presbyter) datang, persis sama yang dilakukan Filipus, dimana prang-orang Samaria itu “memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan “ oleh diaken Filipus, tetapi oleh Filipus “mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus” saja, tanpa diberi “Sakramen Krisma/Pengurapan’ karena itu bukan tugas dan haknya. Jadi jelas mengapa dikatakan “Sebab Roh Kudus belum turun di
atas seorang pun di antara mereka “, karena Filipus memang tidak dapat melakukan Sakramen Pengurapan/ Krisma itu pada mereka. Barulah ketika “Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. ….. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus “.

Penerimaan Roh Kudus dengan penumpangan tangan ini disebut “Krisma/Pengurapan” pada saat Baptisan ini, karena dikatakan dalam II Korintus 1:21-22:” Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan
Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.” Menurut ayat ini Allah itulah yang memberikan memberikan Roh Kudus-Nya ke dalam hati kita, dan dari apa yang telah kita bahas diatas kita sudah tahu bahwa pemberian Roh Kudus itu terkait dengan Baptisan melalui “penumpangan tangan” . Disini pemberian Roh Kudus itu terkait dengan “mengurapi” (“ crisas / khrisas” dari sinilah kita dapatkan kata “crisma / khrisma”) dan “memeteraikan” ( “sfragisamenos / sfragisamenos”). Mengenai “pengurapan” atau “Krisma” ini dikatakan oleh I Yohanes 2:27 ”Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan (“ to crisma / to khrisma”) yang telah kamu terima dari pada-Nya”. Kapan kita menerima “khrisma/pengurapan”? Pada saat kita menerima Roh Kudus. Kapan kita
menerima Roh Kudus? Pada saat ditumpangi tangan. Kapan kita ditumpangi tangan? Langsung sesudah diselamkan ke dalam air pada saat baptisan. Itulah sebabnya “penumpangan tangan” bagi menerima Roh Kudus pada saat baptisan sesudah diselamkan ke dalam air itu disebut “Sakramen Krisma”. Dalam Perjanjian Lama orang menerima pengurapan bagi menerima Roh Kudus itu dengan disiram minyak dikepalanya, sebagaimana yang tertulis:”Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud.” ( I Samuel 16:13). Praktek “pengurapan dengan minyak” bagi kesembuhan itu dipraktekkan dalam Gereja Rasuliah, sebagaimana yang dikatakan:” mereka (para rasul)
mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka” ( Markus 6:13), juga “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat ( para presbyter/romo Gereja) , supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.” ( Yakobus 5:14 ), dan praktek ini tetap dilaksanakan Gereja Orthodox sampai kini. Dengan demikian karena bentuk asli pengurapan bagi menerima Roh
Kudus itu adalah dengan mengolesi dengan minyak, damnpara para Rasul juga mempraktellan pemngolesan minyak, maka sejak jaman purba dalam Gereja Rasuliah “Sakramen Krisma’ itu digabung antara “penumpangan tangan” dan “pengurapan dengan minyak” ini, praktek yang tetap dilakukan Gereja Orthodox sampai kini. Karena penerimaan Roh Kudus dengan penumpangan tangan dan pengolesan minyak itu disebut juga “memeteraikan” ( Efesus 1:13), maka pada saat “presbyter” mengoleskan minyak itu dia mengucapkan: ” Meterai Karunia Roh Kudus”, dan disambut segenap umat dengan ucapan “Amin” atau “Termeterai”. Dengan demikian mengekspresikan apa yang dikatakan baik dalam II Korintus 1:21-222, Efesus 1:13 maupun Kisah Rasul 2:38.



Bagaimana “baptisan” (to baptisma /to baptisma = penyelaman, dari kata baptizw / baptizoo = aku menyelam, aku mencelup) itu merupakan kelahiran baru, dan bagaimana pada saat baptisan itu kita menerima Roh Kudus?

Roma 6:3-4 mengatakan demikian :”Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus (ebaptisqhmen en cristw / ebaptistheemen en Khristoo =kita diselamkan di dalam Kristus, artinya berada menyatu dengan Kristus itu), telah dibaptis dalam kematian-Nya (eis ton qanaton autou / eis ton thanaton avtou = masuk ke dalam (eis) kematian-Nya, artinya kita masuk bersatu di dalam tubuh kemanusiaan Kristus yang mati itu) ?Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia (“sunetafhmen...autw” / synetafeemen….autoo = “tafos/tafos”= kuburan, “sun/ syn = bersama dengan, se-, “..hmen / eemen = kita”. “Kita sepenguburan dengan-Nya”, “kita bersama-kubur dengan Dia”) oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” . Dengan melihat apa yang terdapat dalam bahasa aslinya dalam ayat-ayat ini, maka kita memahami bahwa pada saat kita dibaptis keita “manunggal dengan Kristus” karena kita “berada dalam” ( en /en) Kristus. Ini disebabkan dalam baptrisan itu kita “masuk ke dalam” ( “eis/ eis”) kematianNya atau Tubuh Jasmani-Nya yang mati, dan berada bersama-sama dengan Dia sekuburan. Dengan demikian saat ini manusianya yang lama mati bersama Kristus , ikut terkubur, Juga “sama seperti” Dia yang bangkit, kita juga memiliki hidup baru, yaitu hidup kebangkitan itu, sehingga karena manusia lama kita telah ikut mati dan terkubur, yang muncul dari air itu adalah manusia yang baru, bayi rohani baru, yaitu orang yang baru lahir, orang yang lahir kembali oleh air baptisan, dan oleh kuasa Roh Kudus. Jadi kita manunggal dengan Kristus karena kita masuk ke dalam Tubuh KematianNya, dan ke KuburanNya dalam panungggalan dengan TubuhNya yang mati u tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan genta itu, dimana manusia kita yang lama ikut mati, sehingga ketika Dia bangkit kita sama seperti Dia, ikut terbangkitkan, dengan demikian manusia kita yang baru itu lahir. Ini semua terjadi oleh iman, melalui misteri karya Roh Kudus. Inilah yang dimaksud dengan kelahiran kembali/ kelahiran baru oleh air dan Roh itu. Oleh karena itu kolam baptisan itu adalah “kuburan” bagi manusia lama kita, namun juga “rahim” bagi manusia baru kita. Namun Sakramen bukanlah “ilmu sihir” ( “magic”) bahwa orang yang dibaptis otomatis akan tetap bertumbuh dalam iman bagi mencapai kesucian sehingga mencapai hasil akhir keselamatan. Sada kalanya orang sudah dibaptis malah tidak mengerti makna rahmat baptisan yang mereka terima, menjadi mundur dan ada juga yang murtad ( Ibrani 6: 4-6). Baptisan barulah pintu awal keselamatan, dan sesudah itu kita harus mengikuti perintah:”..tetaplah kerjakan ( “work out” = olah-tumbuh, bukan “work for” = berusaha untuk mendapatkan) keselamatanmu dengan takut dan gentar” ( Filipi 2:12), serta “mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui” ( Kolose 3:10), dan “marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”( II Korintus 7: 1b). Keselamatan itu 100 % dari Allah, namun yang harus mengolah dan menumbuhkan, itu 100 % dari kemauan manusia yang ditopang oleh kuasa Allah yang juga 100 % itu. Inilah yang disebut “synergia”. Dan inilah yang dikatakan dalam kelanjutan ayat dari Filipi 2:12 ……tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,….. itu: ”karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” ( Filipi 2:13). Memang kita diperintahkan untuk mengerjakan (mengolah-tumbuhkan) keselamatan kita, namun sebenarnya Allah sendiri yang menciptakan “kemauan” maupun “pekerjaan” yang kita hasilkan dalam hati kita.

Dalam Gereja Orthodox “Sakramen” itu disebut sebagai “Mystirion” atau Misteri, karena apa yang nampak dimata secara jasmani, berbeda dengan apa yang terjadi dalam realita roh. Yang nampak jasmani dalam baptisan adalah tubuh orang masuk ke dalam air, yang terjadi dalam realita roh adalah orang itu masuk manunggal dalam kematian dan penguburan Kristus, yang nampak secara jasmani tubuh orang keluar dari air, yang terjadi dalam realita roh adalah orang itu ikut dalam kebangkitan Kristus. Yang nampak secara jasmani tubuh orang menyelam ke dalam air, yang terjadi dalam realita roh, orang itu masuk ke dalam Tubuh Kemanusiaan Sang Kristus. Demikian juga dengan sakramen-sakramen yang lain, prinsip pemahaman yang sama itu yang terjadi. Yang dirasa dan nampak secara jasmani adalah roti dan anggur, tetapi yang diterima secara realita roh adalah Tubuh dan Darah Kristus, dan seterusnya. Ini terjadi karena prinsip Inkarnasi, dimana yang nampak kelihatan adalah Tubuh Manusia seorang Yahudi anak Maryam, namun yang sebenarnya ada dalam realita Roh adalah Sabda Allah sendiri yang menjadi manusia. Karena dalam Tubuh kemanusiaan Kristus inilah Roh Kudus bersemayam (Yohanes 1: 33) secara tak terbatas (Yohanes 3: 34), sehingga kalau kita manunggal dengan Sang Kristus maka kita memnerima Roh yangbersemayam di dalam-Nya itu. Terutama hal ini terjadi sesudah kebangkitanNya, dimana “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, ….Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah ( yaitu naik ke sorga serta duduk di sebelah kanan Allah) dan menerima Roh Kudus ( yaitu Roh Kudus itu disalurkan Bapa kepada Kristus) yang dijanjikan itu,maka” melalui Kristus ini Roh Kudus itu “ dicurahkan-Nya” (Kisah Rasul 2:32-33) kepada manusia. Dengan demikian oleh manunggal dengan Kristus kita menerima Roh Kudus, dan akibat menerima Roh Kudus, kita manunggal dengan Sang Kristus. Kita mengalami Roh Kudus dalam Kristus, dan kita mengalami Kristus, melalui kuasa Roh Kudus.

Ada suatu pertanyaan muncul tentang Pembaptisan. "Kemudian untuk saya pribadi, Saya dahulu dibaptis di gereja Protestan yaitu gereja Kristen Kalam Kudus,bagaimana status baptisan tersebut,apakah saya nantinya harus dibaptis kembali? Karena menurut pemahaman
katekisasi sebelum dibaptis,yaitu pada saat saya dibaptis,Roh Kudus sudah masuk dan tinggal di dalam hati. Apakah itu pemahaman tidak Alkitabiah? Karena didalam Alkitab, harus ada tumpang tangan dari Rasul.

Jawaban dari pertanyaan tersebut: Jika sudah membaca apa yang terulis diatas maka anda bisa menilai sendiri, apakah baptisan anda itu sesuai dengan Alkitab, apakah baptisan anda itu Rasuliah. Keabsahan suatu sakramen hanya berlaku jikalau itu dilakukanleh para Rasul, karena para Rasul itulah yang diperintahkan melakukan baptisan, seperti yang telah kita bahas diatas. Karena para Rasul sudah tidak ada, maka pengganti lanjut mereka itulah yang yang secara sah dapat memberikan
Sakarmen itu. Lalu siapakah pengganti lanjut para Rasul itu? Baca keterangan di bawah ini sehubungan dengan pertanyaan anda apakah “pendeta “ itu bisa dianggap Rasul.

Dalam Gereja Orthodox menurut aturan yang tertulis yang ketat semua mereka yang belum pernah dibaptis secara Rasuliah, kalau bergabung ke dalam Gereja Orthodox, harus disatukan dengan mata rantai Rasuliah itu melalui baptisan kalau mau utuh pengalamannya. Namun ada juga dispensasi tertentu untuk mereka yang telah dibaptiskan atas Nama Tritunggal dan mempunyai pemahaman pembaptisan mirip Gereja Orthodox, mereka boleh diterima dengan baptisannya yang dilakukan di Gereja sebelumnya diakui, melalui pengesahan dengan Sakramen Krisma. Namun menurut hemat Romo, supaya nantinya setelah makin mengerti iman Orthodox tidak
menyesal, karena ingin dibaptis sudah tidak bisa sebab sudah jadi Orthodox, sebaiknya semua yang menggabung dalam Gereja Orthodox mengalami baptisan yang benar-benar Rasuliah ini, jangan hanya setengah-setengah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

HARAP MENCANTUMKAN NAMA, EMAIL(HP/TLPN RMH). WAJIB DICANTUMKAN